Annyeong Haseo ~
IoriNara imnida
HyungLine stan and NamJin, YoonJin, YoonSeok, YoonMin and VKook shipper imnidaaaaaa ~
Bangap sumnida ^^
.
.
Seokjin terbangun karena suara ribut dari luar kamarnya. Segera ia mengumpulkan kesadaran, dan dengan badan yang terasa sangat letih entah mengapa, pemuda cantik itu melangkah menuju dapurnya. Ia yakin suara-suara itu berasal dari sana.
"Yoongi! Astaga! Apa yang kau lakukan?!"pekik Seokjin mendapati Yoongi yang terlihat sedang berperang melawan minyak goreng yang meletup-letup tak karuan. Ia tergopoh menyusul Yoongi, cepat-cepat mematikan kompor dan tak lupa melayangkan pukulan ke pucuk kepala Yoongi.
"Kau ingin membakar apartemenku hha?!"kesal Seokjin.
"Em, aku hanya ingin membuatkanmu sarapan,"Yoongi menggaruk-garuk rahangnya. Sedikit kecewa melihat telur dadarnya dibuang begitu saja oleh Seokjin ke tong sampah.
"Sejak kapan kau ingin 'membuatkanku sarapan'." Desah Seokjin, "heol! Apa kau sedang deman- ani, ketika kepalamu luka parahpun kau tidak pernah seperti ini kan,"gerutunya mengambil alih dapur, dengan telaten membersihkan kekacauan yang telah diciptakan Yoongi sejak pagi buta tadi.
"Eee, kupikir kau kecapekan, dan masih butuh banyak istirahat, makanya-"
"Hha? Mesti banyak isirahat segala? Memangnya aku kenapa?"
Yoongi terdiam. Ia perhatikan baik-baik bagaimana mimik wajah seorang Seokjin, "kau tidak ingat apa yang sudah terjadi padamu tadi malam?"
"Tadi malam?"
"Ne. Setelah aku tiba-tiba menelponmu."
Seokjin mengernyit, melempar tatapan bingung ke arah Yoongi yang kini sudah duduk manis di meja makan -tak ingin mengganggu Seokjin, "kau menelponku?"
"Benar kan, Tuan,"celetuk Hoseok, "sepertinya ingatan Kim Seokjin dihapus."
"Kau,"tampak Yoongi berpikir dulu sebelum melanjutkan perkataannya.
"Apa?"tanya Seokjin menunggu Yoongi, ia sudah selesai membersihkan dapur. Berniat ke kamar mandi, untuk setelahnya mulai menyiapkan sarapan mereka berdua.
"Ani,"geleng Yoongi, "nah, apa sore nanti kau ada acara, Jin?"
"Sore nanti? Hmmm. Opseo. Wae?"
"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat."
"Ke mana?"
"Ke tempat Yoseob-hyung."
"Yoseob-hyung? Apa terjadi sesuatu?"
"Well, nanti kau akan tahu sendiri."
"Ou, okay."
Seokjin mengangguk-angguk, merasa tak ada lagi yang ingin Yoongi sampaikan ia mulai melangkah menuju kamar.
"A, Jin."
"Ne?"
"Plester di ceruk lehermu itu-"
Seokjin langsung refleks meraba ceruk lehernya, "eh, kapan-"
"Aku yang memakaikannya, tadi pagi kau kena gigitan serangga."
"Ou, ne. Gomawo."
.
.
WINGS by IoriNara
Cast :
Kim Seokjin as Kim Seokjin (?)
Min Yoongi as Min Yoongi (Hunter)
Kim Namjoon as Mammon / Rapmon (Demon)
Jeon Jungkook as Jeon Jungkook (?)
Kim Taehyung as Kim Taehyung (?)
Park Jimin as Jimin (Devil)
Jung Hoseok as Jhope / Hoseok (Guardian)
Genre :
AU, BoysLove, Supernarutal, Fantasy
Rate :
T to M
Pair :
Not clarify yet. But refer to Namjin, YoonJin, YoonMin and VKook as center.
Happy Reading ^^
Warning! Typo(s)
.
.
"Em, sudah tak ada lagi meja kosong, apa aku boleh bergabung denganmu?"
Jemari Jungkook yang sedari tadi bergerak-gerak meraba huruf braile terhenti, pemuda bergigi kelinci itu tersenyum ramah dan mengangguk, "silahkan, Taehyungsshi."
Taehyung, dengan nampan berisi segelas coffee latte dingin dan puding tiramisu, duduk di seberang Jungkook. Ia tersenyum senang dan mulai menyantap pudingnya dengan sangat perlahan seraya tak berhenti memandangi Jungkook.
"Omong-omong umurmu berapa?"tanya Taehyung membuka pembicaraan.
"19 tahun, anda sendiri?"
"23 tahun, aku mahasiswa tahun akhir Universitas Seoul, jurusan filsafat. Dan mulai sekarang kau bisa memanggilku 'hyung' saja."
"Eh? Tapi-"
"Kita belum terlalu kenal?"sela Taehyung, "kita bisa saling mengenal lebih jauh mulai sekarang kan. Kegiatanmu apa?"
Jungkook menghela napas dan berusaha tersenyum setulus mungkin. Merah menyala yang memenuhi setiap inci tubuh Taehyung tak dapat ia pungkiri membuatnya merasa tak nyaman. Pembunuh berdarah dingin sekalipun, tak pernah Jungkook jumpai memiliki gambaran merah sepekat dan sepenuh ini.
"Apa kau bersekolah? Ou... maksudku sekolah khusus barangkali?"tanya Taehyung lagi.
"Sejak aku buta, aku hanya belajar di rumah. Appa dan para hyung yang mengajariku. Mengenai kegiatanku, emm, kakak iparku adalah pemilik toko herbal, aku sering membantu di sana. Dan jika aku sedang senggang, seperti yang anda lihat."
Taehyung mengangguk-angguk. Dan cukup peka terhadap sikap Jungkook yang semakin canggung. Dan sepertinya juga tahu, bahwa Jungkook sadar ia berbohong. Meski tidak bisa melihat, Jungkook yakin hanya ada beberapa pengunjung di sini. Berarti alasan Taehyung-
"Maaf, aku berdalih bahwa meja penuh hehe,"kekeh Taehyung, mengakui kebohongan kecilnya tadi, "tapi, sejak kemarin-kemarin kau sadar bahwa aku sengaja mendekatimu kan. Jadi seharusnya kau tidak perlu sekaku itu."
"Sekecil apapun, kebohongan tetaplah dosa, Taehyungsshi. Anda bisa jujur dari awal kan, bukannya memakai alasan yang lain agar dapat duduk di sini."
Terdiam sejenak, Taehyung lalu tersenyum cukup lebar, "sudah kuduga, kau termasuk orang-orang yang berhati malaikat."
"Eh?"
"Ani yo. Nah, apa hari Minggu besok kau sibuk-"
"Untuk apa anda mendekati saya?"
Jungkook menutup novelnya. Gurat wajah yang tegas ia lempar kepada pemuda di hadapannya. Bagi Jungkook, dirinya bukanlah seseorang yang terlihat menarik dalam waktu singkat. Mereka baru bertemu secara tidak sengaja seminggu yang lalu, jadi kenapa Taehyung sudah secara terang-terangan mendekatinya.
"Kau suka membaca novel kan,"balas Taehyung tetap bersikap santai, "apa tidak suka yang genre-nya percintaan? Perlu kau tahu 'jatuh cinta pada pandangan pertama' ternyata benar-benar ada lho."
"Taehyungsshi."
"Aku serius. Sumpah. Aku-"
"Ne, Taehyungsshi. Aku percaya,"sela Jungkook sehalus mungkin, mendapati merah di diri Taehyung tidak bergejolak sedikitpun. Berarti pemuda berkulit tan itu memang jujur perkataannya. Dalam penglihatan Jungkook, seseorang yang sedang melakukan dosa maka merah pada diri mereka akan menyala lebih terang, "tapi-"
"Please,"ungkap Taehyung, memohon dengan sungguh-sungguh, "beri aku kesempatan, ya. Setidaknya biarkan aku menjadi temanmu."
Anak bungsu keluarga Jeon itu memanglah seorang penyayang yang berhati lembut. Jadi ia tersenyum, lebih tulus kali ini, mengabulkan permintaan pemuda yang mulai detik ini mau tak mau harus ia usahakan agar terlihat sebagai orang biasa dalam pikirannya.
Walaupun bagi Jungkook, tidak sewajarnya dia memiliki urusan dengan seorang pendosa besar.
.
.
2nd Sin: Begin
.
.
"Mammon..."desis sosok itu menahan amarah. Sedang iblis yang ia tatapi itu hanya terkekeh tanpa rasa bersalah.
"Sudah baik aku tidak menghabisimu kan. Dan hei! Mammon itu kuno sekali, panggil aku Rapmon."
Rapmon, sang iblis bermata hijau itu melayang-layang rendah mengelilingi area rerumputan liar dekat bangunan bekas pabrik pinggiran kota Seoul. Ia bergerak ke kana kemari, namun ekor matanya tetap tertuju pada sosok yang berdiri tegap memijak tanah, "kau sendiri yang salah, tidak menutupi rencana brilianmu itu dengan apik. Ah! Atau akunya yang terlalu pintar ya? Haha. Aku adalah Raja Ketamakan, man. Jika menyangkut hal seperti itu, tentu aku-"
"Kau tahu jika kau yang melaksanakan rencana ini, maka Lucifer akan lebih mudah menyadarinya."
"Well, iya juga sih,"Rapmon sok-sok mencebik, dan lawan bicaranya tahu benar bahwa dia bermain-main, "tapi justru karena itu semakin seru kan,"serunya kemudian, dengan penuh semangat. Merentangkan lebar-lebar sayap gelap dan kedua tangannya, menengadah ke langit malam.
"Sang Lucifer, Iblis terkuat,"teriaknya lantang, "ditakhlukkan oleh anaknya sendiri, The Lord of Greed! Rapmon!"
Kata-kata itu diucapkan penuh arti, bak pemain musikal yang benar-benar menjiwai. Namun sayangnya sang penonton hanya bergeming dengan wajah dingin dan senyuman miring.
"I'll get 'him' first,"pungkas sosok di hadapan Rapmon, bergerak pergi dari tempatnya berdiri sedari tadi, "kelemahan Lucifer itu, hanya aku yang bisa mengendalikannya."
"Who says?"celetuk Rapmon, "kita sama-sama belum menemukannya kan. Mau bertaruh?"
"Sesama iblis tak perlu bertaruh. Kau hanya perlu bersiap, agar dapat lolos dari kegelapan Lucifer."
#### ####
"Kau kenapa sih?"Seokjin jadi semakin bingung melihat sikap Yoongi. Sejak pria itu menjemputnya dari kampus, hingga sampai di sini, di parkiran sebuah toko berbaliho 'Yang's', Seokjin dapati teman sepermainan berkulit pucat-nya itu tidak hanya mendecak tak suka tapi juga diikuti helaan napas berat beberapa kali.
"Kau yang mengajakku kan, kenapa malah kau yang terlihat sangat letih dan keberatan di sini?"keluh Seokjin, melipat tangan di depan dada setelah melepas seltbetnya. Melihat Yoongi, menunggu penjelasan.
Tidak hanya penjelasan akan sikap Yoongi sepanjang perjalanan, tetapi juga alasan Yoongi mengajaknya kemari, ke tempat yang ia ketahui sebagai toko herbal milik Yang Yoseob.
Sosok di sebelah Seokjin mendesah panjang- lagi. Masih mengunci mulutnya, ia hanya memandang wajah Seokjin seolah-olah ada hal yang menganggu pikirannya.
"Hei, ada apa?"Seokjin agak melunak dibuatnya, ia mengelus lengan Yoongi yang terbungkus kemeja kotak hitam putih, "apa terjadi sesuatu? Apa Yoseob-hyung baik-baik saja?"
"Aku-"
"Wae?"
"Aku merasa ada sesuatu yang tak beres, Jin. Sepertinya kau sedang diincar oleh makhluk kegelapan. Dan juga, akhir-akhir ini kau terlihat menyembunyikan sesuatu dariku. Aku, aku- sejak tadi sebenarnya memikirkan Jungkook. Kau ingat Jungkook kan, aku ingin meminta bantuannya, namun aku tak ingin merepotkannya. Tapi aku sudah tidak punya pilihan lain lagi, Jin. Hanya Jungkook yang bisa memastikan semuanya. Tapi aku berjanji pada diri ini, aku bersumpah tak akan pernah memanfaatkan kutukan pada mata Jungkook. Tapi aku juga tak ingin terlambat menyadari sesuatu pada dirimu. Karena itu aku mendecak dan mengeluh sepanjang perjalanan. Nah! Mudah kan. Tinggal bilang begitu saja kok repot."
Ingin rasanya Yoongi mengumpat kasar pada Hoseok yang barusan sok-sok mewakili pemikirannya. Meski Seokjin tidak mendengarnya, well justru karena Seokjin tidak mendengarnya makanya penjelasan Hoseok terasa mendikte dan mengejek secara bersamaan. Yoongi jadi kesal mendengarnya.
"Yoon?"
"Ani,"senyum Yoongi, "aku mengajakmu ke sini karena luka serangga yang tadi pagi aku katakan."
Mulut Seokjin membulat. Kemudian memeriksa lehernya melalui kaca spion depan, "kau melarangku membuka plesternya. Dan kini, bukannya ke dokter tapi malah membawaku ke sini,"herannya, kemudian memandangi Yoongi, "Yoseob-hyung itu... Yoon, plis. Apa yang sebenarnya terjadi? Astaga! Apa aku yang-"
"Gwaenchana,"sela Yoongi halus, "ini sama sekali tidak menyangkut duniaku. Tidak ada apa-apa, Jin,"terangnya, "aku membawamu ke sini karena Yoseob-hyung itu, meskipun cenayang, dia tetap bisa mengobati luka orang biasa sepertimu. Menurutku lebih baik obat-obatan herbal dibanding kimia."
Seokjin mengangguk-angguk paham. Lalu mengikuti Yoongi yang bergerak keluar mobil, memasuki bangunan bergaya China Klasik.
.
"Annyeong haseo,"sapa Seokjin sopan, membungkuk hormat.
Yoseob yang baru saja menaruh cerek berisi teh daun melati tersenyum manis, "wah, jadi ini ya 'Seokjin' itu,"liriknya jahil ke arah Yoongi sembari menuangkan minuman hangat itu ke tiga cangkir di atas meja, di ruang belakang toko, tempat Yoseob biasa menerima tamu yang tidak biasa atau kenalan yang sangat dekat.
Yoongi hanya menarik bibir pura-pura tidak mengerti akan maksud godaan Yoseob. Yoseob jadi semakin ingin mempermainkannya.
"Annyeong, Seokjin,"balas Yoseob, ikut duduk bersama dua pemuda yang lebih muda darinya itu, "Yoongi sering sekali menceritakan tentangmu. Aku bahkan hapal beberapa hal, makanan kesukaanmu cheese cake di Cafe By G. di seberang apartemenmu kan."
"Ou,"angguk Seokjin takjub, "ne... tidak biasanya Yoongi banyak cerita mengenai seseorang."
"Aiiiiih,"senyum Yoseob semakin lebar, memukul lembut bahu Seokjin, "kita tentu akan berbeda jika menyangkut orang yang kita-"
"Ehm,"interupsi Yoongi, "Hyung, aku ke sini karena mencari obat untuk Seokjin, sudah bisa kau ambilkan?"
"Cih,"decak Yoseob sok-sok kesal, namun kemudian dengan telaten memperhatikan Seokjin. Ia memperbaiki kacamatanya setelah melepas pelan-pelan plester yang menempel di ceruk leher Seokjin seharian ini. Mengerut sama, satu kali ia melirik kepada Yoongi, kemudian menyentuh jejak kemerahan di kulit putih bersih itu.
Beberapa lama tampak berpikir, akhirnya Yoseob berdiri tegak, tersenyum kepada Seokjin, "sepertinya tak ada yang perlu dikhawatirkan, aku akan menyiapkan salap tumbuhan,"tukasnya, "Yoongi, bisa bantu aku?"
"Ne."
"Seokjin tunggu di sini sebentar ya."
"Ne..."
.
"Dia belum pernah diganggu sekalipun kan?"desah Yoseob, dengan ligat mencari-cari sesuatu di rak buku, "dia human kan, Yoon. Mustahil seorang manusia biasa tiba-tiba berurusan dengan yang seperti itu. Jejak itu, terlihat seperti kissmark. Kissmark yang penuh dengan aura kegelapan yang begitu kuat. Aish, di mana buku itu. Apa tertinggal di Roma ya. Well, untuk sekarang kita akan memberitahu Jungkook."
"Hyung."
"Seungchol sedang menjemput Jungkook, tapi aku akan menelponnya agar mereka cepat datang kemari."
"Hyung."
"Sebentar-"
Yoongi meraih handphone Yoseob. Memutuskan panggilan yang barusan disambung. Ia menatap lamat manik coklat di balik kacamata bingkai hitam itu, "tak bisakah hanya Hyung saja yang memastikannya? Aku tak ingin melibatkan Jungkook."
"Aku tidak merasakan apa-apa pada Seokjin, Yoon. Hanya jejak di lehernya saja yang bisa aku selidiki. Kita butuh bantuan Jungkook, jika memang perlu menelusuri sosok Seokjin secara pasti. Kau sendiri tahu kan, human -dan bahkan banyak dari kitapun- tidak mungkin berurusan dengan petinggi iblis. Jangan sampai semuanya terlambat, kita tidak tahu apa yang bisa saja terjadi- hei..."
Yoongi bergeming, tampak keraguan yang menyelimutinya sedari tadi belum memudar sedikitpun. Jauh dilubuk hatinya yang terdalam, Seokjin adalah sebuah prioritas di atas segalanya, namun kutukan Jungkook-
"Sampai kapan kau merasa bersalah hm?"tanya Yoseob, nadanya lembut dan menenangkan, Mengusap-usap kepala Yoongi penuh sayang, seperti yang biasa ia lakukan kepada Jungkook dan juga Seungchol, karena Yoongi juga termasuk dongsaeng kesayangannya, "Yoon... jangan bilang kau tidak sadar bahwa Jungkook sendiri tidak pernah menyesal dengan kutukannya itu. Aku yakin Jungkook malah senang dapat membantumu. Perlu kau tahu, sebenarnya dia sangat ingin agar kau memperlakukannya seperti Seungchol. Dia sedikit iri lho, ketika kau seenaknya kepada Seungchol sedangkan kepada Jungkook kau terlalu menjaga perasaannya."
"Aku tidak-"kata-kata Yoongi tercekat ditenggorokan. Menggigit bibir, mengenang kejadian empat tahun silam. Di mana karena dirinya, seorang Jungkook kelihangan penglihatannya.
"Tuan..."Hoseok memeluk Yoongi, salah satu cara guardian untuk menguatkan batin majikannya. Mengalungi leher Yoongi dari belakang. Bergumam halus dan begitu lembut, menimbulkan ketenangan pada jiwa Yoongi secara perlahan.
"Nah,"desah Yoongi, "Hyung tidak usah mengatakan apapun, biar aku sendiri yang memintanya kepada Jungkook."
"Yup."
.
.
The Eye.
Kutukan yang dimiliki oleh Jungkook. Akibat darah iblis yang terpecik tepat mengenai bola matanya. Ia buta, terhadap benda mati. Dan dapat melihat makhluk hidup namun secara tidak biasa.
Stigma -noda.
Julukan itu yang cenayang dan exorcist sepakati, untuk 'warna' yang Jungkook lihat dari apa yang bisa pandangannya tangkap.
Tak ada yang luput dari penglihatan Jungkook selama itu bukanlah benda tak bernyawa. Makhluk gaib, makhluk kegelapan yang bahkan tak dapat cenayang kelas tertinggi rasakan, dapat dilihat oleh Jungkook.
Itu yang membuat alis Yoongi, Yoseob, Seungchol menukik tajam mendengar kata-kata Jungkook barusan.
"Aku tidak melihat apa-apa,"ulang Jungkook, ia sendiripun merasa sangat heran dan mulai bingung, "aku tak melihat apa-apa, Hyung."
"Tak mungkin,"kata Yoseob, memegang lembut kedua bahu Jungkook, "Kookie, dia ada di depanmu sekarang, mustahil kau tidak bisa melihatnya."
Jungkook semakin menautkan alisnya. Sedang Seokjin melempar tatapan tanya kepada Yoongi.
Lalu Hoseok, dengan tersendat bergumam kepada Tuannya, "Tuan, Kim Seokjin tidak berasal dari earthlife."
.
.
TBC
.
.
Gamsahamnidaaaaaaaa
Udah baca sampai sini ^^
Semoga dapat menghibur ^^
Aku seneng bgt ada review ^^ Gamsahamnida ~
See You Next Chapter "3rd Sin : Lie"
Balasan Review :
LittleDevil94 : Banzai buat JunSeooobbbb! Aku juga suka Beast soalnya hehe. Jin diapain ya? Ditandai mungkin ya. Haha. Well, guardian Junhyung itu bukan siapa2 kok, Hobie lesu karena sesama guardian tahu apa yang akan terjadi pada Tuan guardian lainnya melalui guardian itu sendiri. So, Hobie tahu kalo sesuatu akan terjadi pada Junhyung, padahal Yoongi kayanya nyaman sama dia.
Park RinHyun-Uchiha : Yep, Rapmon kayanya. Nah, Yoongi itu kayanya suka deh sama Seokjin. Semangat!
TokkiUsagikk : Ne! Ditunggu yaaaa ~ Next Chapter LIe nih, berarti besar kemungkina YoonMin bakalan muncul hohohoho Semangat!
guardiansshi : NEEEEE!
dewiaisyah : Punya NamJin sepertinya kkkkkk Semangat!
cluekey6800 : Hmhmhmhmhm Mengenai couple, mari sama-sama kita nantikan hehe ~ JIMIN UKE! Dia itu uke! Haru uke kkkk
Mrs J : Apakah skrg tbc nya diwaktu yg tepat? Hehe. Couple ntar makin jelas kok berat ke mana, tapi biar seru tentunya dibikin agak timpang tindih dulu haha. Maap ya, kelamaan update, lagi sibuk bgt. Semoga masih menantikannya ^^
gneiss02 : Malam2 bikinnya, tetiba aja, sama namjoon kayanya hoho
zizi'd exo : Huwaaaaa, jinjja? Aduh, bakal aku perbaik ke depannya. Gamsahamnida ^^
.
.
IoriNara, 26 November 2016
