WINGS by IoriNara
Cast :
Kim Seokjin as Kim Seokjin (?)
Min Yoongi as Min Yoongi (Hunter)
Kim Namjoon as Mammon / Rapmon (Demon)
Jeon Jungkook as Jeon Jungkook (?)
Kim Taehyung as Kim Taehyung (?)
Park Jimin as Jimin (Devil)
Jung Hoseok as Jhope / Hoseok (Guardian)
Genre :
AU, BoysLove, Supernarutal, Fantasy
Rate :
T to M
Pair :
Not clarify yet. But refer to Namjin, YoonJin, YoonMin and VKook as center.
Happy Reading ^^
Warning! Typo(s)
IoriNara
Jimin terbangun dari tidurnya. Badannya yang terbaring menyamping diregang kuat-kuat untuk setelahnya bergerak menuruni ranjang.
Baru saja sepasang kakinya memijak lantai kamar, kedua mata Jimin sontak membulat terbelalak. Dengan gamang ia meneliti sekujur tubuhnya, lalu pandangan kagetnya kembali jatuh pada sosok yang terbaring lemah di atas sofa di sudut ruangan. Pemandangan yang tadi membuat Jimin terkejut bukan main.
"Shit!"umpat Jimin segera berniat pergi dari ruangan itu. Namun tidak hanya sayapnya yang ternyata tidak bisa dikeluarkan, tubuhnya juga tiba-tiba ambruk akibat nyeri yang langsung menyerang pinggang serta kakinya.
"Ou, sudah bangun ya."
Sebuah suara berat terdengar, Jimin menoleh ke sumbernya. Seorang pria berkulit pucat baru saja keluar dari kamar mandi.
"Siapa kau sebenarnya, Brengsek!?"bentak Jimin penuh kebencian.
Si pucat tersenyum remeh mendekati Jimin, "aku yang seharusnya bertanya, Setan Keparat,"decaknya tak suka, berjongkok di depan Jimin, meraih kasar dagu Jimin, "oh, kau sudah bukan 'setan' lagi sejak tadi malam."
"Mwo? Apa yang-"
"Kau tahu berapa usia pemuda yang kau rasuki itu heoh,"desisnya tajam.
Jimin tak berniat menjawab. Ia sudah mengerti bahwa pria di hadapannya ini pastilah seseorang yang akan membahayakan dirinya, jadi ia bersikeras kabur meski tahu ada sesuatu yang salah pada tubuhnya.
Benar saja, sertamerta bangkit dan berusaha lari, Jimin langsung oleng dan si pucat yang juga sudah berdiri menangkapnya dengan sigap.
Tidak bermaksud menolong Jimin, mencegahpun tidak. Karena tanpa menahan Jiminpun, ia tahu pemuda manis itu belum bisa mengambil langkah walau beberapa. Ia hanya ingin sekedar menegaskan sesuatu kepada Jimin.
Merangkul pinggang Jimin kuat-kuat, berbisik tepat di telinganya, "Min Yoongi, keturunan Hunter murni. Panggil aku 'Master' mulai sekarang."
IoriNara
Annyeong Haseo...
Benar-benar minta maaf. Maaf banget ya. Maaf kelamaan update.
Karena kelamaan, makanya aku pikir udah ga da lagi yang nungguin ini wkwkkwwk but, ada dua review yang masuk kmaren2 ini. Aku jadi niat lagi buat lanjutin, gamsahamnida.
Dan ini cukup pendek, karena dokumen lama error, jadi aku ngetik ulang semuanya.
Semoga masih bisa menghibur ^^
Happy reading ~
IoriNara
"Ck. Apa aku tidak membawa baju cadangan heoh!"umpat Yoogi setelah memeriksa seluruh sudut mobilnya. Ia mengusak rambut kesal, lalu melangkah cepat kembali memasuki motel.
"Anda memang tidak pernah membawa baju cadangan, Tuan,"desah Hoseok geleng-geleng kepala, melayang rendah mengikuti Yoongi.
"Hha? Iya, ya? Well, kalau begitu."
Yoongi menarik bibirnya untuk sosok yang duduk menyandar di kepala ranjang. Pemuda manis yang tak berhenti mematainya dengan sangat tajam dan bernapas berat menahan amarah teramat besar.
Mendesah kasar, Yoongi bergegas mendekatinya. Tanpa mengatakan apapun, langsung mengangkat pemuda itu beserta selimut yang membungkus tubuh mungilnya. Menggendongnya di pundak kiri, seperti membawa karung.
"YA! BRENGSEK! APA YANG AKAN KAU LAKUKAN HHA!"pekik Jimin meronta-ronta. Dirinya yang hanya terbungkus selimut putih motel dengan sigap dibawa keluar kamar, hendak dimasukkan ke dalam bagasi Chevrolet Impala 1967 berwarna hitam namun pemiliknya terdiam sebentar setelah membuka kap belakang.
Yoongi melirik Hoseok.
"Benar, Tuan,"angguk Hoseok, mengerti benar pemikiran Yoongi, "sekarang dia sudah menjadi manusia, bahkan fisiknya masih jauh lebih lemah dari human dewasa. Karena bisa dibilang dia seperti bayi manusia yang baru dilahirkan. Membuatnya sakit, membuatnya semakin tidak berdaya hanya akan membuatmu semakin repot, Tuan. Jadi bersabarlah, untuk sementara waktu anda terpaksa memperlakukannya -memperlakukan tubuhnya dengan baik,"paparnya halus disertai senyuman canggung karena paham betul seorang Min Yoongi hanya bisa bersikap lemah lembut kepada dua orang di muka bumi ini, Kim Seokjin dan Jeon Jungkook.
Helaan napas panjang keluar dari mulut Yoongi, mulut yang sama sekali tak ada niat membalas umpatan demi umpatan yang sudah dikeluarkan Jimin sejak mereka melangkah menjauhi ranjang. Yoongi mengacuhkan semua itu, benar-benar seperti membawa karung.
Segera saja Yoongi begerak membuka pintu penumpang setelah mendengar peringatan dari Hoseok, menurunkan Jimin hati-hati lalu mengeratkan gulungan selimut pada tubuh polos Jimin baik-baik.
Jimin mengernyit heran dibuatnya, "apa-apaan kau!"kesalnya menepis tangan Yoongi, memilih menutupi tubuh telanjangnya dengan caranya sendiri.
"Ugh,"geram Yoongi memutar bola matanya jengah, "begitu tubuhmu sudah pulih, akan kubuat mulut brengsekmu itu-"
Sekucur air liur mengenai wajah Yoongi.
Jimin meludah kuat tepat pada sasarannya, pada wajah pria yang telah mengacaukan kehidupannya. Yang ia yakini untuk seterusnya pasti hanya akan memanfaatkan dan menyiksanya saja. Pria yang detik ini melap wajahnya kasar, dan secepat kilat menggenggam kedua pergelangan tangan Jimin-
"Tuan!"
-dan dengan kasar mendorong tubuh Jimin hingga berbaring di sepanjang bangku belakang.
Jimin meringis perih tatkala lima jemari Yoongi meremas kuat pergelangan tangannya, sedang lima jari Yoongi yang lain menekan kedua pipi Jimin tanpa ampun.
"Tuan, kendalikan diri anda. Dia hanya-"
"SHUT YOUR FUCKING MOUTH, JHOPE!"bentak Yoongi tanpa melihat ke arah Hoseok. Matanya menatap nyalang pada sosok yang ditindihnya. Deru napasnya terburu, Yoongi memanglah seseorang yang mudah naik pitam.
Hoseok baru saja akan memeluk Yoongi untuk meredakan amarah tuan-nya itu. Namun sesuatu seperti barrier berwarna gelap perlahan muncul mengukung tubuh Yoongi. Ia coba untuk mendekat, dan seolah tersengat listrik ketika menyentuh penghalang tersebut. Otaknya mulai berpikir keras, sembari tetap berusaha agar bisa memeluk tubuh tuan-nya.
"Dan kau bocah,"geram Yoongi. Kian ditekan kata-katanya, kian ditekan genggamannya, "aku tidak akan segan-segan menguliti setiap inci tubuhmu, lalu menyiraminya dengan asam, dan menambahkannya dengan bara panas sampai kau bisa mengerti apa artinya bersikap baik dan menurut. Berani kau bersikap seperti ini lagi, aku jamin hanya akan ada sakit dan perih yang selalu menyertaimu."
Air mata merembes keluar dari manik Jimin bersamaan dengan tubuhnya yang gemetar hebat karena ketakutan. Aura gelap yang begitu menyeramkan dapat ia rasakan dari pria yang kini menindih dan menatapnya tajam. Jimin tak pernah merasa takut sebegini besar, dia-pun bukanlah tipikal setan pemilik mental yang lemah- oh, barangkali karena sudah menjadi human sosok Yoongi yang sedang marah benar-benar mengerikan di matanya.
"Meski kau bukan lagi setan,"sambung Yoongi, "tapi aku tak segan-segan menyiksamu, bocah keparat."
"Ugh..."
Genggaman Yoongi mulai terasa panas. Kulit Jimin seakan-akan disentuh oleh bara api yang menyala. Kedua pipinya telah memerah dan juga basah, lalu tatapan memohon -benar-benar memelas- ia berikan agar Yoongi melepaskannya.
"Ma, maafkan aku..."lirih Jimin, "jebal... "
Yoongi terkesiap mendapati rintihan pilu dari Jimin itu. Suara gemetar yang mengemis kasih tiba-tiba saja mengingatkannya akan sesuatu.
Sesuatu yang pernah ia dengar sebelumnya, oleh seseorang yang sangat disayanginya. Mungkin karena itu Yoongi terdiam beberapa saat lalu mulai mereda emosinya.
Tepat ketika itu ponselnya berbunyi. Nada dering khusus untuk panggilan dari Seokjin. Cepat-cepat Yoongi bergerak melepas Jimin, meraih handphone di saku jaket dan menjawab panggilan setelah keluar dari mobil.
Hoseok langsung berhenti dari upaya 'menenangkan Yoongi'. Karena barrier gelap di sekeliling Yoongi seketika menghilang dan dapat ia rasakan emosi tuan-nya sudah mulai stabil. Lalu ia menatap prihatin pada Jimin yang tak kunjung bisa menghentikan getaran tubuhnya, "aigoo... terkadang bagi sebagian orang Yoongi yang diam saja sudah menakutkan lho, apalagi kalau sedang marah. Dan tadi- ah, kau kan tidak bisa melihat dan mendengarku."
"Yoongisshi, gamsahamnida, gamsahamnida, gamsahamnida..."Gikwang tak berhenti-berhenti mengucap terima kasih dan puji syukur begitu pintu rumahnya diketuk dan setelah dibuka menampakkan Junghan, anak satu-satunya, tengah digendong belakang oleh Yoongi.
Kini ia sibuk mengelus surai kehitaman Junghan yang tertidur pulas di atas tempat tidur- Doojoon langsung mengambil alih Junghan dari Yoongi dan menggendongnya sampai kamar- sembari tersenyum lembut dan menyudahi tangisan penuh khawatirnya sejak berjam lalu.
Berdiri di samping Gikwang yang duduk di tepian ranjang, Doojoon, kepala keluarga Yoon, yang semula memijit-mijit pelan bahu sang istri kini bergerak keluar kamar, mengantar Yoongi sampai pintu depan.
"Kami benar-benar berterima kasih, Yoongisshi,"ucap Doojoon, "jika Sabtu depan kau ada waktu, kami akan sangat senang kau meluangkannya untuk makan malam bersama kami."
"Ou, ne... jika saya tidak sibuk, saya akan menghubungi anda Mr. Yoon. Kalau begitu permisi, jangan lupa pada hal-hal yang saya sarankan tadi."
"Ne, akan selalu saya ingat. Sekali lagi, gamsahamnida, Yoongisshi. Sampai jumpa."
Yoongi membungkuk pamit, lalu bergegas memasuki mobil. Sekitar beberapa menit setelah itu, setelah mobilnya menjauh dari perumahan dan mulai melaju di jalanan sepi, Yoongi menepikannya. Keluar dari mobil, menggendong Jimin untuk dipindahkan ke bangku samping sopir yang sebelumnya ditempati oleh Junghan.
Kali ini tak ada perlawanan apa-apa dari Jimin, bukan karena cara menggendong Yoongi yang kini jauh lebih sopan dari sebelumnya yaitu ala bridal melainkan karena dirinya sudah tak berani lagi untuk sekedar berucap tanpa diperintah, sejak Yoongi menunjukkan amarahnya seperti tadi.
"Tadi anda benar-benar kasar sekali, Tuan,"desah Hoseok setelah Yoongi kembali melajukan mobilnya.
Yoongi melirik Hoseok dari spion depan, guardiannya itu memilih duduk sebagai penumpang, tidak terbang melayang di samping mobil Yoongi seperti biasanya.
"Dia sendiri yang memancingku, Hoseok-a."
"Dan perlu anda ketahui, Tuan,"ucap Hoseok lebih serius, "bahwa tadi anda mengeluarkan aura menakutkan selevel panggilan iblis di neraka."
"Hha?"
"Sepertinya itu sudah mulai muncul."
"Itu?"
"Kekuatan tambahan yang kau dapatkan dari ritual tadi malam."
"Heol. Daebak!"
"Bukan saatnya merasa bangga, Tuan,"tekan Hoseok, "melihat karakter anda, dan mengingat kejadian tadi, sepertinya kekuatan itu sangat sulit untuk anda kontrol. Dan bisa saja membuat anda lepas kendali."
"Ck."
"Berarti mulai sekarang anda harus belajar mengendalikan emosi dulu, Tuan. Tugas pertama anda untuk saat ini adalah belajar menenangkan diri."
"Fuck."
"Eits! Dimulai dari hal kecil, Tuan. Barangkali anda perlu membiasakan diri untuk tidak sembarang berkata kasar."
"Haaaah."
"O, ya. Sebaiknya anda juga menjelaskan perihal saya kepada Jimin, dia akan bingung melihat anda bicara sendiri ataupun kepada siapa anda berbicara."
Yoongi beralih sebentar dari jalan raya untuk melihat sekilas ke arah sampingnya. Tubuh mungil berbalut selimut itu masih sesekali gemetar dan air mata masih setetes dua tetes membasahi pipi merahnya.
Si Hunter keluarga Min memilih tidak mengucapkan apa-apa lagi, mengundang sang guardian untuk membungkam mulutnya juga. Suasana tetap hening hingga mereka sampai di parkiran apartemen Yoongi.
"Apa rencana anda, Tuan?"tanya Hoseok.
"Kita akan kembali ke tempat Yoseob-hyung, setelah mengurus bocah ini."
-flashback-
"Aku tidak melihat apa-apa,"ulang Jungkook, ia sendiripun merasa sangat heran dan mulai bingung, "aku tidak melihat apa-apa, Hyung."
"Tak mungkin,"kata Yoseob, memegang lembut kedua bahu Jungkook, "Kookie, dia ada di depanmu sekarang, mustahil kau tidak bisa melihatnya."
Jungkook semakin menautkan alisnya. Sedang Seokjin melempar tatapan tanya kepada Yoongi.
Lalu Hoseok, dengan tersendat bergumam kepada Tuannya, "Tuan, Kim Seokjn tidak berasal dari earthlife."
.
.
3rd Sin : Lie Part. 1
.
.
Eartlife.
Atau non-human menyebutnya sebagai kehidupan fana manusia yang masih hidup di dunia ini. Dan bagi human, mereka mengenalnya dengankehidupan manusia.
Human merupakan manusia biasa yang tidak memiliki kecondongan sedikitpun terhadap hal-hal berbau mistis, sedangkan non-human adalah sebaliknya. Manusia yang ditakdirkan memiliki sensifitas lebih terhadap dunia supernatural.
Non-human sendiri terbagi menjadi berbagai macam golongan yang tiga di antaranya yaitu Cenayang, Exorcist dan Hunter adalah yang terbesar. Cenayang, golongan yang memiliki keahlian tersendiri di mana keahlian itu juga bervariasi.
Cenayang memiliki kelebihan secara psikis, hal-hal yang dapat dirasakan cenayang belum tentu dapat dirasakan oleh yang lain, hal-hal yang dapat dilihat oleh cenayang belum tentu dapat dilihat oleh yang lain dan seterusnya yang berkaitan dengan indra seorang cenayang. Mereka bahkan dapat saling berkomunikasi dengan baik serta berteman dengan makhluk selain manusia. Namun setinggi apapun level seorang cenayang, mereka hanya mampu untuk sekedar mempertahankan diri dari makhluk kegelapan tanpa bisa memberi perlawanan yang berarti.
Jika dalam sebuah peperangan Cenayang bisa diibaratkan sebagai pemain belakang seperti ahli siasat, pengamat, tim medis dan sejenisnya maka Exorcist dan Hunter bisa diumpamakan sebagai prajurit atau penyerang.
Exorcist dibekali kekuatan untuk dapat membasmi makhluk kegelapan. Media utama mereka adalah rapalan mantra suci, namun seiring berjalannya waktu sudah banyak perombakan dalam kinerja para exorcist untuk mengikuti perkembangan zaman.
Berbeda dari exorcist yang hanya menyerang ketika makhluk kegelapan menimbulkan bahaya, serta memusnahkan jika keadaan sudah benar-benar terdesak, Hunter memdedikasikan diri untuk memburu makhluk kegelapan.
Dinilai membahayakan atau tidak, dinilai mengganggu atau tidak, makhluk kegelapan akan selalu diburu hunter untuk dimusnahkan tanpa bersisa, dibiarkan hidup-pun hanya untuk disiksa dan ujung-ujungnya akan tetap juga dimusnahkan. Juga, tak jarang exorcist melepaskan ataupun mengampuni makhluk kegelapan, sementara hunter dididik untuk tidak berbelas kasih sedikitpun pada makhluk tersebut.
Hunter pengguna senjata. Katakanlah exorcist pemain yang halus, maka hunter adalah pemain yang kasar jika dilihat dari apa yang mereka gunakan.
"Kau bilang apa?"Yoongi bergumam pelan untuk guardiannya.
"Kim Seokjin tidak berasal dari earthlife, Tuan,"ulang Hoseok, "tak ada satupun makhluk yang terlewat dari penglihatan Jungkook. Kecuali- kecuali... astaga... saya pikir 'makhluk itu' hanyalah..."
"Bicara yang jelas, Hoseok."
Yoongi tidak sengaja meninggikan suaranya, membuat semua yang ada di ruangan itu menoleh ke arahnya. Termasuk Jungkook, yang kemudian berkata, "Hyung, apa yang guardian-mu katakan?"
Dan Yoongi tidak sempat menjawab pertanyaan Jungkook karena Seokjin ternyata sudah bergerak menarik lengannya, membawa mereka berdua keluar dari ruangan.
"Plis, Yoon,"ucap Seokjin bersungguh-sungguh, "apa yang sebenarnya terjadi hm? Apa ada yang salah denganku?"
Yoongi menggigit bibirnya, masih enggan untuk berterus terang kepada Seokjin. Kemudian pertanyataan itu malah Hoseok yang menjawabnya, "aku akan mewakili Tuan Yoongi untuk menjelaskan semuanya. Tapi sebelum itu kuharap kau juga mau berterus terang."
Sontak Yoongi dan Seokjin terdiam.
Alis Yoongi menukik tajam, memandangi Hoseok dengan heran. Sedang Seokjin menghela napas panjang, dan membalas tatapan Hoseok dengan tenang.
"Sejak kapan kau bisa melihat dan mendengarku?"tanya Hoseok.
"Sekitar seminggu yang lalu,"jawab Seokjin.
"Astaga, jadi benar akhir-akhir ini kau beberapa kali melihat ke arah Hoseok, Jin?"timpal Yoongi memegang kedua bahu Seokjin begitu erat, "jangan bilang justru kau yang menyembunyikan sesuatu dariku, Jin."
Seokjin sedikit menunduk dan membasahi bibirnya, "Yoon, sebenarnya..."
-TBC-
Gamsahamnidaaaaaaa~
Bagi yang ngeluangin waktu untuk baca ff gaje ini wkwkkwkw
Jinjja, jinjja gamsahamnida ~
Maaf kalau pendek bgt ^^
Nah, balasan review ^^
kuki keke : YoonMin next chapter. Yup! Sesuai dgn yg aku bilangin sbelum2nya, kalo ff ini disesuaikan dgn tracklist album Wings-nya Bts hehehe. YoonJin vs NamJin. Well, mari sama2 kita nantikan hubungan mereka semua.
Nam0SuPD : Sori, ga bisa fast update. Whats wrong with Seokjin? Kita tunggu penjelasan dari Seokjin sendiri, serta pengetahuan dari Hoseok.
LittleDevil94 : JunSeob? Yeay! Aku juga suka Beast soalnya kkkkk di chapter ini juga muncul DooKwang hohoho. Taehyung and Namjoon? Mungkin akan terkuak di chapter Stigma...
Park RinHyun-Uchiha : Seokjin? Seokjin berasal dari... begitulah kkkkkk Semangat!
iPSyuu : Wuuuaaahh! Semoga ga tersesat lagi eh atau malah makin tersesat ya? Haha, sori kalau narasi dan alur aku ngebingungin ya.
zizi'd exo : Jhope? So, yg namanya guardian itu hanya bisa dilihat oleh Tuhan dan sesama guardian. Bahkan si Tuan guardian itu sendiri ga bisa ngeliat mereka. Kenapa si Yoongi bisa liat Jhope? Udah sempat disinggung kan ya, karena dia kena kutukan. Nanti di chapter First Love mungkin akan lebih jelas mengenai kutukan Yoongi. ^^
YellowMint : Seokjin? Kita simak chapter selanjutnya khekhekhe
cluekey6800 : WAAAHHH! MIAN KALAU PENULISAN FF INI NGEBINGUNGIN. MIAN MIAN MIAN HAHA. Moga makin ke sini, makin dapat dimengerti ^^
dewiaisyah : Seokjin diapain Namjoon ya? Haha. Yoongi ke Seokjin, well, udah keliatan kan kalo dia emang punya rasa k Seokjin. Semangat!
Mrs J : Sama-sama ^^ Seokjin itu yg jelas makhluk langka hohoho. Yep, Yoongi suka ama Seokjin, perhatian beda yah. Fighting!
Lawliet15 : Seokjin itu makhluk langka kkkk
Syuga YC : Duh, bikin kerutan di wajah yah, mian mian hehe. Semangat!
sekarzane : YoonJin... hmhmhhmhm ntar masing2 pairing dpt jatah kok, lgpula aku nulisnya YoonJin setelah NamJin, jadi bisa dibilang YoonJin itu pairing kedua lah... Semangat!
hanashiro kim : Gamsahamnida ~ Udah ngereview minta dilanjut... Thanks bgt, jadi tergerak buat ngetik lanjutannya hehe.
Once again, gamsahamnida ~
Deep bow, Iori Nara
3 Maret 2017
