Annyeong Haseo...
Adakah yang masih menunggu ff ini? Kalau ada, aku benar-benar berterima kasih serta minta maaf karena kelamaan update. Maaf bgt ya... Karena byk hal lah pokoknya TTvTT
Nah, pasti udah pada lupa ama ceritanya ya. Jadi aku ceritain intinya aja ya, em,
intinya sejauh ini, si yun ama si jin temen sepermainan, si yun hunter si jin orang biasa a.k.a human. Nah, masalah dimulai dgn kecurigaan si yun kalo si jin nyembunyiin sesuatu dari dia dan ditambah si jin pernah pingsan -yg belum tahu alasannya kenapa- dgn jejak kissmark di leher yg diduga hasil perbuatan makhluk kegelapan selevel Petinggi Iblis. Masalah makin rumit ketika si yun yakin kalo si jin bisa ngeliat Hosek a.k.a guardian nya yungi yg sejatinya cuman bisa diliat sama Tuhan dan yungi sendiri.
Trus si yun bawa jin ke Yang's, tempatnya Yoseob a.k.a cenayang [istri-nya junhyung, hunter yg ngelatih yungi pas di vatikan] untuk cari tau apa yg sebenarnya terjadi dan siapa sebenarnya jin.
Di sisi lain, ada taetae yg lagi pdkt sama kookie [adik junhyung]. taetae itu ramah, baik dan sopan tp bagi penglihatan kookie yg punya kutukan The Eye, taetae itu seseorang yg memiliki warna dosa yg paling pekat yg pernah kookie liat. Kookie agak canggung, namun dia berusaha menerima taetae yg kepengen temenan sama dia.
Dan, di sisi lain juga. Ada Rapmon a.k.a Mammon [salah satu 7 komandan Iblis, anak Lucifer si raja iblis] yg punya rencana untuk merebut kekuasan ayahnya. Dia mendatangi earthlife dgn maksud terselubung yg belum diketahui -krn Petinggi Iblis sangat jarang sekali memasuki ataupun mencampuri earthlife-.
Begitulah... hehe
Trus ada Jimin, setan yg dijadiin human oleh yungi. cerita selengkapnya ttg mereka ada di chapter ini.
O, ya. Maaf juga ya kalo sejauh ini alurnya berantakan dan ngebingungin, maaf ya. Mulai chapter ini dan seterusnya aku usahain bikin plot juga alur yg bisa dimengerti dan dinikmati.
Semoga masih bisa menghibur ^^
Wings by IoriNara
Cast:
Kim Seokjin as Kim Seokjin (?)
Min Yoongi as Min Yoongi (Hunter)
Kim Namjoon as Mammon/Rapmon (Demon)
Jeon Jungkook as Jeon Jungkook (Cenayang)
Kim Taehyung as Kim Taehyung (?)
Park Jimin as Jimin (Devil)
Jung Hoseok as Jhope/Hoseok (Guardian)
AU! BoysLove! Supernatural! Fantasy!
WARNING! TYPO (S)
Happy Reading ~
"Kau bilang apa?"Yoongi bergumam pelan untuk guardiannya.
"Kim Seokjin tidak berasal dari earthlife, Tuan,"jawab Hoseok, "tak ada satupun makhluk yang terlewat dari penglihatan Jungkook. Kecuali- kecuali... astaga... saya pikir 'makhluk itu' hanyalah..."
"Bicara yang jelas, Hoseok."
Yoongi tidak sengaja meninggikan suara, membuat semua yang ada di ruangan itu serentak menoleh ke arahnya. Termasuk Jungkook, yang kemudian berkata, "Hyung, apa yang guardian-mu katakan?"
Dan Yoongi tidak sempat menjawab pertanyaan Jungkook karena Seokjin ternyata sudah lebih dulu bergerak menarik lengannya, membawa mereka berdua keluar dari ruangan.
"Plis, Yoon,"ucap Seokjin bersungguh-sungguh, "apa yang sebenarnya terjadi hm? Apa ada yang salah denganku? Apa yang kalian bicarakan dari tadi? Ada apa sebenarnya?"tanyanya benar- benar menuntut sebuah penjelasan jujur.
Yoongi menggigit bibirnya, masih enggan untuk berterus terang. Kemudian pertanyataan itu malah Hoseok yang menjawabnya, "aku akan mewakili Tuan Yoongi untuk menjelaskan semuanya. Tapi sebelum itu kuharap kau juga mau berterus terang."
Sontak Yoongi dan Seokjin terdiam.
Mata Yoongi membulat lebar memandangi Hoseok dengan heran. Sedang Seokjin menghela napas panjang, dan membalas tatapan Hoseok dengan tenang.
"Sejak kapan kau bisa melihat dan mendengarku?"tanya Hoseok.
"Sekitar seminggu yang lalu,"jawab Seokjin.
"Astaga, jadi benar akhir-akhir ini kau beberapa kali melihat ke arah Hoseok?"timpal Yoongi memegang kedua bahu Seokjin begitu erat, "jangan bilang justru kau yang menyembunyikan sesuatu dariku, Jin."
Seokjin sedikit menunduk dan membasahi bibirnya, "Yoon, sebenarnya..."
Handphone Yoongi berbunyi menandakan panggilan masuk. Tentu saja sama sekali tidak ia pedulikan, baginya pembicaraan penting dengan Seokjin adalah prioritas di atas prio-
"Tolong diangkat Tuan,"ucap Hoseok, "keluarga Yoon sedang membutuhkan pertolongan anda. Lebih cepat lebih baik, sepertinya anak mereka terlibat masalah dengan makhluk kegelapan."
Well, Seokjin adalah prioritas di atas prioritas. Namun Yoongi masih memiliki sisi kemanusiaan terhadap yang lain jadi ia menghela napas panjang dan berkata penuh penekanan seraya memandang tepat di kedua mata teman sepermainan itu.
"Dengar, Jin,"kata Yoongi masih memegangi kedua bahu Seokjin, "aku akan mengurus ini secepatnya. Tapi jika aku tidak kembali lewat tengah malam, kau menginap di sini saja ya- Plis, dengarkan aku, okay. Di sini jauh lebih aman daripada sendirian di apartemenmu. Kita akan bicara lagi besok."
"Un..."
"Baiklah. Setelah mengangkat telpon dan sebelum pergi, aku akan bicara dengan Yoseob-hyung. Pokoknya kau jangan ke mana-mana sebelum aku kembali, okay?"
"Ne."
#### ####
Tubuh Yoon Junghan yang semula melangkah riang hendak memasuki sebuah klub malam murah di kawasan Yeoksam tiba-tiba ditarik paksa dan dihempaskan ke dinding gang kecil yang begitu lembab.
"Sampai kapan kau terus berbuat ulah hha!?"
Junghan- atau sebut saja Jimin karena setan itulah yang kini menguasai tubuh anak tunggal keluarga Yoon tersebut- berwajah pura-pura bingung. Matanya bahkan sok-sok mencari tahu 'apa' gerangan yang barusan menarik tubuhnya.
"Aku serius, Jimin." Sungjae mendesis jengah, "apa kau tidak mendengar kabar bahwa Tuan Besar Mammon mendatangi earthlife heoh."
Jimin membuang napas. Lalu menatap Sungjae dengan pandangan simpatik dibuat-buat.
"Oh. Aku takut sekali, Sungjaeku yang manis. Apa yang harusnya aku lakukan? Bagaimana ini?Apa aku akan diberi hukuman yang berat atas keisengan kecil ini hm?"
"Kau-"
"Apa beliau repot-repot datang ke sini hanya untuk menghukum anak buahnya yang ingin bersenang-senang? Oh, Lucifer yang Agung. Sejak kapan para Komandan Iblis sudi mengurusi hamba rendahan seperti kita heoh."
"Ck. Iya, iya. Mana mungkin beliau peduli dengan keonaran para setan selevel kita, tapi beliau tahu bahwa ada setan kecil sepertimu yang suka berbuat ulah. Beliau memang ada maksud lain datang ke sini namun jika ada waktu luang atau sebut saja sekalian lewat, bisa saja kau dihukum olehnya kan."
"Waaah! Kalau memang begitu, aku senang dengan atasan yang peduli terhadap bawahannya. Dan aku yakin jika kami benar-benar bertemu langung beliau bukannya menghukumku, tapi malah memberiku jabatan layak di neraka sana. Ayolah, Sungjae ~ Setan itu memang seperti ini kan, dia akan memuji perbuatanku."
"Ya, berbuat jahat dan menjerumuskan manusia ke dalam lautan dosa. Dan tidak, jika membahayakan diri sendiri. Sah-sah saja merasuki manusia, asalkan semua berjalan mulus. Tapi untuk kasusmu, selalu saja mengundang bahaya, Jiminie."
Jimin mengerucutkan bibirnya. Melempar wajah merajuk, "duh, padahal sudah terlanjur dirasuki. Klub malamnya juga tinggal beberapa langkah-"
"Okay,"potong Sungjae kesal,"Demi Raja Diraja Lucifer, kali ini aku benar-benar tidak akan membantumu jika kau terkena masalah. Aku bersumpah, Jimin. Selamat tinggal!"
Sungjae mengibaskan sepasang sayap hitamnya dengan kesal. Berlalu pergi ke arah langit malam, meninggalkan Jimin yang masih saja bersikap acuh dan tidak khawatir sedikitpun.
"Annyeong~"lambai Jimin tersenyum manis. Ia lalu kembali melangkah menuju Klub Malam Sangchae, tujuannya untuk bersenang-senang malam minggu ini.
#### ####
"Di sana Tuan,"tunjuk Hoseok pada salah satu sosok di antara kerumunan masa yang memenuhi lantai dansa. Yoongi menyipit sebentar seraya meneliti dan menimang-nimang.
"Setan biasa?"tanyanya mulai mendekati objek tunjukan Hoseok.
"Yup,"angguk Hoseok, "setan kelas bawah dan jika diibaratkan dengan manusia, umurnya masih sepantaran Jungkook -atau lebih muda lagi. Dia sama sekali tidak berbahaya-"
"Pertahanannya sama dengan nol. Heol,"desah Yoongi, "meski mudah dibasmi, sebenarnya aku paling malas berurusan dengan yang sejenis mereka memang tak seberapa, tapi karena dilakukan terus menerus mereka menjadi manja dan mulai bersikap layaknya manusia. Bandel, merepotkan, kadang sok-sok mengiba ketika terdesak, tak mau menurut dan tentunya tak bisa dijadikan objek percobaan."
"Omong-omong, bagaimana dengan rencana anda?"
"Well..."
"Kurasa dia cocok, Tuan. Kesampingkan 'kerepotan' yang akan anda dapatkan setelah ritual selesai, karena justru setan yang seperti itu yang mudah dikelabui bukan."
"Benar juga sih."
"Apalagi untuk sementara ini sepertinya makhluk kegelapan akan jarang mencari masalah. Meski dari pihak kami hanya Tuan Raphael dan aku saja yang tahu, aku yakin berita kedatangan Mammon ke earthlife sudah menyebar di antara sesama mereka. Akan sangat sulit mencari tumbal untuk saat ini. Dan kebetulan sekali Yoon Junghan terkena masalah seperti ini. Kita bisa memanfaatkan kesempatan ini, Tuan."
Yoongi mengangguk-angguk. Untuk setelahnya menghela napas panjang dan memperbaiki mimik wajahnya yang biasa terlihat dingin dan tanpa perasaan menjadi seringaian tampan dan penggoda.
"Sendirian, Manis?"bisik Yoongi dibuat berat dan begitu rendah.
.
.
3rd Sin : Lie Part. 2
.
.
Sosok yang tiba-tiba dirangkul Yoongi dari belakang terkesiap kaget, namun langsung berbalik dan tersenyum manis. Ia bahkan dengan nyamannya mengalungkan sepasang lengannya pada leher Yoongi.
Kepalanya dimiringkan, tak lupa berbicara dengan nada manja yang terkesan manis namun sensual, "jika kau tak keberatan, aku suka permainan yang kasar, Tuan Tampan."
-flashback end-
"Yoongisshi gamsahamnida, gamsahamnida, gamsahamnida..."Gikwang tak henti-hentinya berterima kasih dan memanjatkan puji syukur begitu pintu rumahnya diketuk dan setelah dibuka menampakkan Junghan, anak satu-satunya, tengah digendong belakang oleh Yoongi.
Kini ia sibuk mengelus surai kehitaman Junghan yang tertidur pulas di atas tempat tidur- Doojoon langsung mengambil alih Junghan dari Yoongi dan menggendongnya sampai kamar- sembari tersenyum lembut dan menyudahi tangisan penuh khawatirnya sejak sepuluh menit lalu.
Berdiri di samping Gikwang yang duduk di tepian ranjang, Doojoon, kepala keluarga Yoon, yang semula memijit-mijit pelan bahu sang istri kini bergerak keluar kamar, mengantar Yoongi sampai pintu depan.
"Kami benar-benar berterima kasih, Yoongisshi,"ucap Doojoon benar-benar tulus, "jika Sabtu depan kau ada waktu, kami akan sangat senang kau meluangkannya untuk makan malam bersama kami."
"Ou, ne... jika saya tidak sibuk, saya akan menghubungi anda Mr. Yoon."
Pemilik rumah kontrakan Yoongi itu tersenyum, "atau kapanpun jika kau senggang. Sudah lama kau tidak bergabung bersama kami. Junghan sudah menganggapmu sebagai Hyung-nya sendiri."
"Well, kalau begitu saya akan berusaha untuk tidak sibuk dalam minggu ini."
"Haha. Baiklah, sekali lagi terima kasih."
"Kalau begitu saya permisi, jangan lupa pada hal-hal yang saya sarankan tadi."
"Ne, akan selalu saya ingat. Sekali lagi, gamsahamnida, Yoongisshi. Sampai jumpa."
Yoongi membungkuk pamit, lalu bergegas memasuki mobil. Sekitar belasan menit setelah itu, setelah mobilnya menjauh dari perumahan warga dan mulai melaju di jalanan sepi, Yoongi menepikannya. Keluar dari mobil kemudian menggendong Jimin untuk dipindahkan ke bangku samping sopir yang sebelumnya ditempati oleh Junghan.
Kali ini tak ada perlawanan apa-apa dari Jimin, bukan karena cara menggendong Yoongi yang kini jauh lebih sopan dari sebelumnya yaitu ala bridal melainkan karena dirinya sudah tak berani lagi untuk sekedar berucap tanpa diperintah, sejak Yoongi menunjukkan kemarahannya.
"Tadi anda benar-benar kasar sekali, Tuan,"desah Hoseok setelah Yoongi kembali melajukan Chevrolet Impala 1967-nya dengan kecepatan sedang. Mengungkit kejadian tak lazim sebelum mereka pergi ke rumah keluarga Yoon, di mana Yoongi menjadi sosok mengerikan di mata Jimin.
Yoongi melirik Hoseok dari spion depan, guardiannya itu memilih duduk sebagai penumpang, tidak terbang melayang di samping mobil Yoongi seperti biasanya, "dia sendiri yang memancingku, Hoseok-a,"elaknya tak ingin disalahkan. Menurutnya tindakan Jimin -meludahi wajahnya- benar-benar kelewatan.
"Well, memang wajar jika anda marah. Tapi apa anda tahu, emosi marah anda tidak seperti yang biasanya. Maksudku, anda memanglah tipikal namja berdarah panas, namun tidak pernah membiarkan diri berlarut-larut dalam kemarahan. Tapi tadi, yang ada anda tidak mencoba meredakannya malah terlihat senang dan sengaja menambah-nambahkannya."
"Really?Aku tidak merasa begitu."
"Nyatanya memang begitu, Tuan."
"Ou..."
"Dan perlu anda ketahui, Tuan,"ucap Hoseok lebih serius, "bahwa tadi anda mengeluarkan aura menakutkan selevel panggilan iblis di neraka."
"Hha?"
"Sepertinya itu sudah mulai muncul."
"Itu?"
"Kekuatan tambahan yang kau dapatkan dari ritual tadi malam."
"Heol. Daebak!"
"Bukan saatnya merasa bangga, Tuan,"tekan Hoseok, "melihat karakter anda, dan mengingat kejadian tadi, sepertinya kekuatan itu sangat sulit untuk anda kontrol. Dan bisa saja membuat anda lepas kendali."
"Ck."
"Berarti mulai sekarang anda harus belajar mengendalikan emosi dulu, Tuan. Tugas pertama anda untuk saat ini adalah belajar menenangkan diri."
"What the f-"
"Eits! Dimulai dari hal kecil dulu, Tuan. Barangkali anda perlu membiasakan diri untuk tidak sembarang berkata kasar."
"Heol."
"O, ya. Sebaiknya anda juga menjelaskan perihal saya kepada Jimin, dia akan bingung melihat anda bicara sendiri ataupun kepada siapa anda berbicara."
Yoongi beralih sebentar dari jalan raya untuk melihat sekilas ke arah sampingnya. Tubuh mungil berbalut selimut itu masih sesekali gemetar dan air mata masih setetes dua tetes membasahi pipi merahnya. Membuat Yoongi jadi sedikit malas melontarkan kata.
Si Hunter keluarga Min memilih tidak mengucapkan apa-apa lagi, mengundang sang guardian untuk membungkam mulutnya juga. Suasana tetap hening hingga mereka sampai di parkiran rumah Yoongi.
"Apa rencana anda, Tuan?"tanya Hoseok.
"Kita akan kembali ke tempat Yoseob-hyung setelah mengurus bocah ini."
#### ####
"Tidak bisa tidur, Seokjinsshi?"
Seokjin langsung menoleh ke sumber suara. Ada Yoseob yang bergabung bersamanya menuju balkon sembari menyodorkan secangkir teh herbal. Pria itu juga memiliki minuman hangat untuk dirinya sendiri, Seokjin menyimpulkan itu sebuah kopi atau sejenisnya.
"Memikirkan Yoongi?"tanya Yoseob tersenyum penuh arti kepada Seokjin.
Seokjin yang sempat bergumam pelan 'gamsahamnida' untuk teh herbalnya, dan menyeruput sedikit-sedikit balas tersenyum namun terlihat sedih, "un..."angguknya kemudian menatap nanar langit malam yang hanya berisikan bulan tanpa bintang.
"Dia akan baik-baik saja."
"Kuharap begitu."
"Apa kau selalu begini setiap kali Yoongi bertugas?"
Keheningan melanda sesaat. Angin malam menyapa kedua namja yang seharusnya kini telah memasuki alam mimpi seperti Seungcheol dan Jungkook di kamar sebelah. Yoseob awalnya memang sudah mulai tertidur, namun dirinya adalah seseorang yang sangat sensitif dengan keadaan hati orang-orang di sekitarnya. Dan gejolak kecemasan yang kian pekat yang ia rasakan dari Kim Seokjin membuatnya ikut terbangun, memeriksa kasur lipat di samping tempat tidurnya lalu memutuskan untuk meracik minuman hangat ketika mendapati ternyata Seokjin tengah berdiri membungkus diri dengan selimut tebal di balkon luar kamarnya.
"Maaf jika pertanyaanku lancang,"Seokjin akhirnya bersuara sembari menatap lamat kedua mata Yoseob, "apa kalian dipaksa melakukan semua ini? Maksudku, aku belum bisa mengerti kenapa kalian mau repot-repot bertaruh nyawa seperti ini."
"Manusia memiliki takdirnya masing-masing, Seokjinsshi,"senyum Yoseob, "kami yang terlahir sebagai non-human, sudah ditakdirkan untuk menjaga keseimbangan earthlife dari makhluk kegelapan dan lainnya. Dan perlu kau tahu, bahwa sebenarnya kami bangga dengan takdir kami tersebut. Tidak bisa dinilai secara 'dipaksa atau tidak' karena nyatanya kami bahkan semakin senang ketika kami semakin berguna dan menjalankan tugas dengan sangat baik. Kami berdedikasi karena kami memang berbesar hati, kami rela bertaruh nyawa karna kami memang berbangga diri, kami melakukan semampu yang kami bisa karena kami memang ingin melindungi semua hal yang kami sayangi."
Usapan lembut menyapa bahu kiri Seokjin. Sebuah senyuman lembut juga dilemparkan kepadanya. Ia hanya membalas dengan menunduk lesu serta ekspresi khawatir yang tak membaik. Seokjin sebenarnya sudah mengerti benar hal yang disampaikan Yoseob barusan, belasan tahun ia mengenal Yoongi tentu ia pahami betul bagaimana dunia teman sepermainannya itu. Hanya saja, pemahaman-nya terkadang kalah dengan rasa khawatir setiap kali Yoongi berpamitan untuk mengurusi dunia nya tersebut.
"Apa kau pernah melihat peri, Seokjinsshi?"
"Eh?"
Yoseob menggerakkan tangan di bagian bahunya, lalu sesosok makhluk mungil bercahaya redup, berwujud seperti kucing namun memiliki sayap kecil di punggungnya serta dua tanduk di kepalanya perlahan terlihat oleh Seokjin.
"Namanya Kirara,"ucap Yoseob mengelus-ngelus makhluk berwarna keperakan itu, "Junhyung memberikannya kepadaku sebagai hadiah pertunangan kami."
Kirara, yang duduk di bahu Yoseob menggoyang-goyangkan ekornya. Ia kemudian terbang melayang ke arah Seokjin setelah Yoseob membisikkan sesuatu kepada peri hutan itu.
"Dia jinak dan sangat manis,"sambung Yoseob, melihat Seokjin bersikap kagok ketika Kirara mengusap-usapkan kepalanya di kaki Seokjin, "kau tahu apa yang terjadi dengan Junghyung kan?"
"Ou... ne..."angguk Seokjin canggung, "Yoongi sudah pernah menceritakannya,"sambungnya mulai bisa terbiasa dan tersenyum kepada Kirara.
"Aku sempat gila karena kehilangan dirinya, Seokjin. Namun jika mengingat bagaimana ia tersenyum disaat detik-detik terakhir hidupnya, bagaimana ia dengan bangga telah menjalankan tugasnya, bagaimana ia bersyukur bahwa ia mampu melindungi orang-orang di sekelilingnya, aku bisa merelakan kepergiannya. Maaf, aku bukan bermaksud agar kau berhenti mencemaskan Yoongi dan rela-rela saja dengan kemungkinan terburuk yang memang ada, hanya saja aku ingin kau-"
"Ne, Yoseob-hyung." Seokjin tersenyum manis, kini Kirara sudah ada dalam pelukannya, "aku mengerti. Terima kasih untuk teh-nya dan terima kasih karena telah mengingatkanku untuk kembali mempercayai Yoongi."
Yoseob seharusnya ikut tersenyum membalas Seokjin, Kirara seharusnya bergelut manja dalam rangkulan Seokjin, suasana seharusnya sudah mulai nyaman di mana kecemasan Seokjin mulai mencair.
Namun yang ada, yang nyatanya terjadi.
Sosok sehitam gelap malam perlahan muncul di hadapan Seokjin tepat setelah Kirara terkesiap kaget dan menghilang, serta Yoseob tiba-tiba ambruk tak sadarkan diri.
#### ####
Yoongi mengambil asal satu stel pakaian dari lemari dinding kamarnya. Melempar T-shirt hitam, boxer hitam dan jins hitam itu ke arah tempat tidurnya di mana Jimin ia dudukkan di sana dengan sangat hati-hati beberapa saat lalu.
"Kau bisa pakai sendiri kan,"kata Yoongi dingin beranjak ke sofa coklat di sudut ruangan lalu meraih handphone dari saku jaketnya. Ia hendak menelpon Seokjin, namun yang ada perhatiannya lebih tertarik pada gelagat Jimin yang sedang susah payah melaksanakan suruhannya, sekedar memakai baju.
Jimin mula-mula menyibak selimut putih tebal motel yang sejak dua jam lalu setia membungkus tubuh polosnya. Kemudian mencoba berdiri namun gagal -tubuhnya benar-benar terasa lemah- jadi ia duduk di tepian ranjang. Menyarungkan t-shirt hitam dari kepala sampai itu menutupi tubuh bagian atasnya, lalu meloloskan sepasang kaki berisinya ke dalam boxer dan juga jins hitam.
Semua dilakukan Jimin dengan gerakan lambat, sangat lambat. Mengingat keduanya tangannya bahkan belum bisa digerakkan secara normal. Dan semua itu ia lakukan dengan kepala tertekuk takut serta bibir tebal merah merona yang dikulum digigit bergantian. Ketakutannya bertambah-tambah ketika menyadari Yoongi jelas-jelas mematai setiap gerak-geriknya.
"Terpesona, Tuan?"celetuk Hoseok membuyarkan fokus atensi Yoongi.
"Mworago?"
"Lihat,"Hoseok terbang melayang mendekati Jimin, "wajahnya termasuk ke dalam kategori manis menggemaskan. Hidungnya mungil, bibirnya begitu ranum dan kemerahan. Dan ingat, bisa dibilang ia baru terlahir sebagai manusia. Jadi sepasang mata indah ini masih bersih dan sangat polos, serta kulitnya masih sehalus dan selembut kulit bayi,"paparnya lengkap dengan sepasang tangan yang menunjuk-nunjuk pada beberapa bagian tubuh Jimin yang dimaksudkan.
Yoongi di sisi sana-pun menyesuaikan lirikan matanya pada setiap arahan tangan Hoseok -yeah, tak ia pungkiri visual Jimin memang menarik untuk dilihat.
"Body line-nya, Tuan,"tambah Hoseok, kini tangannya bergerak membentuk sebuah pola di udara, "gitar spanyol ~"siulnya bak seorang mucikari yang tengah memamerkan si kupu-kupu malamnya yang paling indah dan berkelas. Dan ucapan final-nya jelas-jelas ingin dibenarkan oleh Yoongi, yaitu, "malah tidak wajar jika anda tidak terpesona, Tuan."
Membuat Yoongi terdiam beberapa saat, namun cepat-cepat ia berdehem dan mengalihkan pembicaraan, "apa yang kau rasakan, Bocah? Maksudku secara fisik."
Jimin sempat berjengit kaget. Tersentak menahan napas begitu mendengar suara berat Yoongi yang bagi pendengarannya masih terdengar menakutkan. Berat dan dingin. Sama sekali tidak bersahabat. Tanpa perasaan serta penuh intimidasi.
"Ou...em... hamba..."gagap Jimin melirik Yoongi hanya satu kali saja, ia belum berani melakukan lebih dari itu. Selebihnya pandangannya jatuh pada jemari yang saling terkait erat satu sama lain, "se- sebelum itu, ap- apa hamba boleh berbaring, Master? A- atau sekedar menyandar barang kali..."
Yoongi mengerjap dua kali, setelahnya memijit pangkal hidung dan menghela napas panjang, "apa aku yang menyuruhmu memanggilku begitu?"desahnya merasa bersalah.
"Ne..."
"Okay, anggap saja itu tak pernah terjadi. Mulai sekarang kau cukup memanggilku 'Yoongi-hyung' saja dan pakai kata ganti 'aku' untuk menyebut dirimu sendiri."
Kepala Jimin terangkat dan berani menatap ke arah Yoongi, "Yoongi-hyung?"
"Nah, begitu lebih baik. Dan satu lagi, kau tidak perlu meminta izin untuk sekedar berbaring, menyandar atau apalah. Lakukan saja apa yang membuatmu nyaman selama masih aktifitas biasa. Mengerti?"
"Un..."
"Jadi apa yang kau rasakan?"
"Ou, aku, badanku benar-benar lemas. Tanganku bahkan belum terlalu bebas untuk digerakkan,"ucap Jimin setelah menyamankan posisinya, setengah berbaring menyandar pada kepala ranjang.
"Apa ada yang sakit?"
Jimin menggeleng, "hanya tidak bertenaga saja. Tapi-"
"Tapi?"
Sepasang tangan Jimin mengusap-usap perutnya, "aku tidak tahu apa ini disebut 'sakit' atau bukan. Yang jelas perutku-"
Sebuah suara muncul dari perut Jimin. Sontak saja Yoongi mendengus dan tertawa kecil, sedang Jimin mengerjap-ngerjap bingung namun kemudian menyadari sesuatu.
"Oh! Jadi ini ya, yang namanya lapar versi manusia,"ujarnya polos menatap Yoongi yang sudah beranjak dari duduknya.
"Ne,"angguk Yoongi tersenyum sisa-sisa dari kekehan-nya barusan, "kau sudah tidak asing lagi dengan makanan kami kan. Ngomong-ngomong hanya ada ramyeon di sini."
-TBC-
Gamsahamnidaaaaaaa~~~~
Makasih bgt yang masih selera untuk baca ff ini, thanks banget ya.
Btw, aku lagi dikejar waktu, so dichapter depan aku balas reviewnya ya.
Once again gamsahamnida ~
.
.
IoriNara, 29 Juni 2017
