SUMMER : CIEL
[BTS VKOOK/TAEKOOK]
—Taehyung mulai mempertanyakan keputusannya saat mengajak Jungkook tinggal bersamanya. Ia merasakan siksaan yang menyenangkan. Dan itu semakin menjadi-jadi karena selama musim panas ini ia akan selalu merasakan feromon Jungkook dimanapun dan kapanpun. —
[ The 2nd of Four Season Series]
•
•
•
"Ahh... akhirnya selesai"
Taehyung meraih gelas lemonade yang masih tersisa setengah. Langsung meneguk dari bibir gelas bukan sedotan lagi. Taehyung menghempaskan tubuhnya di kursi depan Jungkook. Bukan main terkejutnya ia saat Jungkook menatapnya tajam begitu ia membuka matanya. Taehyung gelagapan.
"E-Eh! Jungkook, kau marah aku menghabiskan lemonade mu? Astaga, aku akan menggantinya. Jangan marah padaku!"
Taehyung semakin panik saat Jungkook tidak bereaksi apapun. Ia hanya belum melepaskan matanya dari Taehyung. Demi apa, Jungkook tidak akan marah hanya karena itu kan.
"Kau!"
Taehyung menunjuk dirinya sendiri. Dasar bodoh! Jelas jari telunjuk mengarah padanya.
"Dasar penguntit! Mesum! Cabul!"
Taehyung mengangkat alisnya tinggi. Jelas tidak paham dengan tuduhan sepihak Jungkook padanya. Taehyung tidak melakukan apa-apa yang membuatnya pantas disebut seperti itu. Taehyung tidak mesum. Dia juga tidak cabul. Astaga, apa ini?!
Jungkook lalu mendorong kamera Taehyung mendekat. Masih dengan ekspresi garang, ia menunjuk-nunjuk kamera itu tanpa suara.
Aha! Taehyung paham sekarang.
"Kau melihatnya?"
Taehyung mengulas senyum miring yang tampan. Ia menumpukan dagunya di lipatan jemarinya. Mengerling pada Jungkook yang mulai melunakkan ekspresinya.
"Sejak kapan?"
Jungkook menjilat bibir bawahnya yang kering. Itu tidak lepas dari pengamatan si marga Kim. Ia malah menjadi fokus pada belah merah itu. Taehyung, kau sudah terlihat mesum sekarang.
"Sejak kau melewatiku tanpa menoleh sedikit pun. Sejak kau berjalan santai seorang diri dengan cone eskrim. Sejak kau memainkan lidah nakalmu dengan bibirmu yang basah"
Taehyung menaikkan matanya menjadi bersitatap dengan mata jernih Jungkook.
"Dasar mesum!"
Taehyung tertawa penuh sementara Jungkook menyembunyikan wajahnya di balik buku menu. Ini menarik. Ini pertama kalinya Taehyung melihat Jungkook begitu malu. Biasanya pemuda bergigi kelinci itu tidak punya malu sama sekali. Gembar-gembur sana sini. Dia mana peduli dengan kehadiran orang lain. Yang penting dia senang, karena kita hidup hanya sekali. Itu yang dikatakan Jungkook saat Taehyung bertanya kala itu.
"Jungkookie, ayo pergi"
"Tapi ini?"
"Sudah dibayar. Ayo cepat"
Jungkook menurut, mengikuti Taehyung sedikit tergesa.
"Memang mau kemana? Hyung mau bekerja dimana lagi?"
Taehyung memutar tubuhnya lalu menarik lengan Jungkook. Hampir saja Jungkook terjatuh karena tarikan tak terduga seperti itu. Taehyung tersenyum kotak, terlihat tidak bersalah sama sekali.
"Sudah kubatalkan. Jadi Jungkook, ayo kencan!"
.
—oOo—
.
Jungkook tidak henti-hentinya mengumpati si ungu tak ingat umur itu. Dikira Jungkook itu apa sampai kencan di Lotte, lalu membelikannya permen kapas berwarna merah muda menggelikan. Jungkook itu bukan perempuan, ya tuhan. Jungkook juga bukan anak kecil sampai diseret-seret ke tempat seperti ini. Mungkin Taehyung terlalu banyak menonton drama picisan dan membaca novel roman hingga mengira Jungkook akan luluh dengan mengajaknya ke tempat seperti ini.
Jungkook mencomot sedikit permen kapasnya lalu memasukkannya ke dalam mulut Taehyung. Si Stalker itu tidak keberatan sama sekali. Ia menerima dengan senang hati tanpa sadar bahwa dia lah yang diumpati Jungkook sedari tadi.
Taehyung itu sok romantis sekali.
"Sebenarnya kenapa harus ketempat ini, hyung? Mataku geli melihat mereka-mereka itu"
Jungkook menunjuk muda mudi yang berlalu lalang di depan mereka. Bergandengan tangan dengan tatapan penuh cinta.
"Kau iri dengan mereka? Ingin aku melakukan itu juga?"
Persetan dengan Kim Taehyung. Dia itu salah paham!
Jungkook mendengus kesal lalu akhirnya tanpa sadar melahap permen kapasnya langsung tanpa mencomotnya terlebih dahulu. Jungkook mengernyit sedikit saat merasakan manis yang meleleh di dalam mulutnya. Terlalu manis. Dan ia tidak suka. Tapi ia tetap memakannya karena Taehyung sudah membelikan—walaupun ia tidak minta—. Ibunya di Busan selalu bilang jangan buang-buang makanan.
"Hyung, apa yang kita lakukan sekarang?"
Jungkook membuang sisa permennya ke tempat sampah dekat bangku yang mereka duduki. Jungkook mengelap jemarinya dengan santai menggunakan pakaiannya.
"Menurutmu apa?"
Taehyung berinisiatif membersihkan sekitar bibir Jungkook yang menyisakan permen yang lengket menggunakan lengan kemejanya.
"Mana aku tahu! Aku belum pernah berkencan sebelumnya"
Taehyung menghentikan kegiatannya sejenak, mencari kepastian di kedua obsidian Jungkook yang berbinar cerah seperti biasa. Ia lalu mengulum senyum miring setelah memastikan Jungkook benar-benar mengatakan itu tanpa unsur kebohongan.
"Yahh,, aku selalu memberi setidaknya satu ciuman pada teman kencanku"
Taehyung sudah selesai. Ia kembali memposisikan dirinya duduk santai menyandarkan bahu. Tidak lupa mengerling dengan sebelah mata pada Jungkook yang kini mematung. Oh, itu tidak lama. Karena setelahnya Jungkook menarik kulit lengannya sembari berteriak tertahan.
"DASAR MESUM!"
.
—oOo—
.
Dan disinilah keduanya berakhir setelah berkendara setidaknya 30 menit lamanya. Oh, jangan lupakan Jungkook yang menghimpit dirinya ke pintu sedari tadi. Ya tuhan, Taehyung bukan om-om pedo cabul yang sedang menculik seorang bocah. Taehyung tidak berani mengeluh lagi. Karena sekali ia mencoba berbuat demikian, kepala benar-benar menjadi samsak dadakan si Jeon itu. Dan itu sungguh sangat tidak nikmat.
Jungkook melipat kakinya setelah menerima sekaleng caramel frappe dingin dari Taehyung. Taehyung ikut duduk di samping Jungkook dengan sekaleng lowfat cola yang sudah ia buka. Taehyung menahan tubuhnya dengan tumpuan tangan kanan dan mengangkat kaki kiri berpijak pada mobilnya.
Tidak ada suara yang dikeluarkan keduanya. Hanya desiran pelan air dan suara serangga yang sesekali terdengar. Jungkook meletakkan kaleng minumannya di samping, lalu meregangkan otot tubuhnya yang terasa lelah.
"Aku baru tahu ada tempat seperti ini"
Taehyung sedikit menoleh kemudian mengangguk kecil, entah apa maksudnya.
"Sesekali bepergianlah 'sedikit lebih jauh' , bukannya hanya tempat-tempat mainstream di Seoul.
Jungkook mendelik tajam. Menahan diri untuk tidak melempar kaleng frappe yang belum habis sepenuhnya tepat di dahi si Tak Tahu Diri itu.
"Lihat siapa yang berbicara. Seseorang yang mengajak kencan ke Lotte. Bagus sekali"
Itu sindiran ironi tentu saja. Taehyung yang sadar hanya tertawa sembari mengacak poni hitam Jungkook.
"Yahh, kupikir kau suka tempat seperti itu. Ternyata kau suka tempat sepi seperti hm?"
Taehyung menarik sebelah bibirnya dengan alis naik turun. Jungkook balas tertawa kecil lalu menjitak dahi Taehyung begitu kuat hingga si pemilik dahi berteriak kuat. berlebihan.
"Hyung berteriak juga tidak akan ada yang dengar"
Taehyung lantas memanyunkan bibirnya mengingat fakta yang Jungkook katakan barusan benar adanya. Taehyung melempar kaleng colanya jauh-jauh lalu menjatuhkan kepalanya di paha Jungkook. Memamerkan cengiran bodohnya saat Jungkook menatapnya penuh tanya.
Sungguh, sangat sulit membuat pemuda kelinci itu blushing. Bertingkah malu-malu saja sangat jarang. Tapi itulah yang membuat Taehyung begitu menyukai Jungkook-nya. Mereka tidak perlu ucapan cinta setiap saat, flirting setiap saat—Ah, yang satu itu hanya berlaku untuk Jungkook karena Taehyung sangat suka menggoda Jungkook setiap ada kesempatan—, mereka sudah mengerti satu sama lain. Hanya butuh satu kedipan mata untuk tahu bagaimana perasaan keduanya.
Jungkook mengangkat sebelah tangannya menghalau cahaya matahari yang mengintip di balik dedaunan yang membuat Taehyung semakin menyipitkan matanya. Jungkook kembali meneguk frappe nya. Taehyung mengangkat lengannya, mengusap sudut-sudut bibir Jungkook hingga ke dagunya.
"Dasar anak kecil"
Jungkook mencibir,"Ini namanya seksi. Hyung tahu seksi?"
Taehyung terkekeh pelan lalu menurunkan lengannya. Menutup kedua matanya, kode untuk Jungkook agar menurunkan tangannya juga. Jungkook melakukannya karena ia juga lelah mengangkat tangannya guna menghalangi cahaya menyakiti mata Taehyung.
"Jungkook, menyanyilah untukku"
"Eh?"
"Menyanyi, sayang... aku selalu dengar kau menyanyi saat mandi"
"Tidak mau"
Taehyung menangkup pipi Jungkook, membawanya sedikit menunduk.
"Suaraku tidak bagus hyung"
"Benarkah? Jungkook, kau tidak takut di bawa hantu hutan ini karena berbohong?"
Jungkook memutar bola matanya lalu mencubit pelan lengan Taehyung yang terpampang jelas. Kemejanya sudah ia lepas dan diikat melingkar pinggangnya, jadi Taehyung hanya mengenakan kaus sleeveless saja sekarang.
"Tidak ada hantu. Aku bukan anak kecil yang bisa ditakuti seperti itu! aku akan menyanyi, tapi hanya sekali saja."
Taehyung tersenyum singkat sebagai tanda setuju. Ia kembali menurunkan kedua tangannya.
"I came to win, to fight, to conquer, to thrive
I came to win, to survive, to prosper, to rise
To fly
To fly—"
"Tunggu, tunggu"
Taehyung sontak membuka matanya dan Jungkook memberikan tatapan kesalnya.
"Kenapa harus Nicky Minaj? Aku jadi tidak bisa konsen memikirkannya"
Jungkook menarik poni Taehyung dengan kuat.
"Kau harus ganti otak sepertinya. Iya, aku ganti. Jangan menyela lagi"
"The stars lean down to kiss you
And I lie awake and miss you
Pour me a heavy dose of atmosphere
'Cause I'll doze off safe and soundly
But I'll miss your arms around me
I'd send a postcard to you, dear
'Cause I wish you were here—"
"Tapi Jungkook, kita tidak berpisah sama sekali"
gigi-gigi Jungkook menggesek satu sama lain.
"Aku tidak mau lanjut lagi"
Taehyung tertawa keras setelahnya. Apa yang lucu disini?
"Astaga, aku bercanda, Dear.. jangan marah begitu"
"Jangan menyela lagi!"
Taehyung mengangguk patuh kali ini.
"I'll watch the night turn light blue
But it's not the same without you
Because it takes two to whisper quietly
The silence isn't so bad
'Till I look at my hands and feel sad
'Cause the spaces between my fingers
Are right where yours fit perfectly
I'll find repose in new ways
Though I haven't slept in two days
'Cause cold nostalgia chills me to the bone
But drenched in vanilla twilight
I'll sit on the front porch all night
Waist deep in thought because when
I think of you I don't feel so alone
I don't feel so alone
I don't feel so alone
As many times as I blink
I'll think of you tonight
Tonight, tonight, tonight...
I'll think of you tonight
When violet eyes get brighter
And heavy wings grow lighter
I'll taste the sky and feel alive again
And I'll forget the world that I knew
But I swear I won't forget you
Oh if my voice could reach back through the past
I'd whisper in your ear:
"Oh darling, I wish you were here"
Jungkook melirik Taehyung setelah menyelesaikan nyanyiannya. Well, dia cukup terkejut melihat si bebal satu itu tidak tertidur atau setidaknya memejamkan matanya sekalipun. Jungkook biasanya menengarkan lagu ini jika sulit tidur di malam hari.
Di luar perkiraan, Taehyung malah menatapnya dengan ekspresi yang sulit di baca. Tatapannya lurus pada Jungkook.
"Apa nyanyianku aneh?"
"Tidak. Hanya saja kau menyanyikannya seperti merasakannya. Jungkook, kau sedang jatuh cinta? Merindukan seseorang?"
"Astaga hyung, itu hanya lagu. Jangan terlalu serius"
Taehyung tidak membalas. Ia memilih memejamkan matanya kini. Jungkook mengangkat wajahnya kembali, menghirup limpahan oksigen bersih di sekeliling mereka. Memang benar ini sangat sepi. Hanya kicauan burung dan serangga yang sesekali terdengar. Jemari Jungkook telaten memainkan rambut ungu pucat Taehyung. Ia ikut memejamkan matanya sembari tersenyum puas. Ia suka tempat ini.
Mereka seakan berada di hutan. Rasanya menyenangkan melihat pohon-pohon menjulang tinggi yang tumbuh subur dan lebat di sepanjang jalan. Mereka memutuskan berhenti di salah satu sisi jalan dan itulah yang mereka lakukan sekarang, beristirahat.
Langit cerah musim panas melengkapi semuanya, menjadikannya lebih menyenangkan. Jungkook mengayunkan kakinya yang menggantung di sisi mobil. Ngomong-ngomong keduanya tengah berada di atas mobil Taehyung. Jungkook menarik pelan pipi Taehyung. Kedua ibu jarinya iseng menyentuh sudut-sudut bibir Taehyung. Perlahan ia membuka bibir bawahnya, memperlihatkan gigi-gigi Taehyung. Jungkook tertawa geli melihat yang ia lakukan sendiri. Ujung jemarinya menyentuh sebuah titik mole di hidung Taehyung. Entah kenapa menurutnya itu lucu sekali.
Jungkook merogoh saku kiri celananya, mengeluarkan sebuah karet dari sana. Jungkook selalu membawa karet kecil di sakunya. Rambutnya memang lumayan panjang, bahkan poninya sudah menyentuh kelopak matanya. Itu sebabnya ia selalu membawa karet untuk mengikat poninya yang terkadang memang mengganggu. Ingatkan Jungkook untuk memotong rambutnya setelah ini.
Jungkook mengambil sejumput rambut yang di cat ungu pucat milik si Kim. Dengan telaten ia mengikat rambut itu hingga benar-benar tidak ada yang menyentuh dahinya, sepenuhnya memamerkan dahi kecoklatan Taehyung yang mempesona.
Jungkook mengusap perlahan kulit wajah Taehyung dari dahi hingga dagunya. Taehyung sudah tertidur sepertinya hingga sentuhan-sentuhan ringan Jungkook tidak mengganggunya sama sekali.
Jungkook membungkukkan tubuhnya, mengecup lembut kening Taehyung. Hanya kecupan singkat dan ringan. Masih dengan jarak yang pendek, ia mengusap alis Taehyung yang terpahat begitu elok.
Ia tak henti-hentinya mengucapkan, "Aigoo... aegi-ya gyeowo~" dengan senyum mengembang di bibirnya. Jika Taehyung melihatnya, sudah dipastikan pemuda AB itu akan mimisan detik itu juga.
»»»
Taehyung mengerutkan keningnya sebelum membuka kelopak matanya. Objek pertama yang ia lihat adalah rahang Jungkook. taehyung mengulurkan sebelah tangannya, menjepit dagu seseorang yang ia klaim sebagai miliknya itu dengan telunjuk dan ibu jarinya. Jungkook tentu saja menjadi menoleh padanya.
"Siang, Bunny"
Jungkook membalas dengan bola mata yang berotasi dan cebikan bibirnya.
"Ini sudah sore, Moron"
Taehyung terkekeh geli lalu mendudukkan dirinya di sebelah Jungkook. ia merangkul bahu Jungkook dengan lengan kanannya, sedikit menekan hingga Jungkook menjadi bersandar di bahunya.
"Tae?"
"Hm?"
"Kau yakin kau sudah sepenuhnya sadar? Kau mabuk?"
Taehyung membalas tatapan Jungkook dengan kedipan mata. Ia menarik pipi kanan Jungkook gemas.
"Tentu saja sudah. Kau pasti lelah, jadi istirahatlah sebelum kita pulang"
Jungkook berdecih pelan walaupun pada akhirnya ia memposisikan dirinya senyaman mungkin pada bahu Taehyung. Lengannya bahkan sudah melingkari tubuh Taehyung. Memejamkan kedua matanya kala Taehyung memberikan kecupan semanis permen di pucuk kepalanya.
"Dasar tsundere.."
Well, ini memang kencan pertama yang melenceng jauh sekali dari yang Taehyung rencanakan. Siapa sangka sosok menggemaskan berkedok pemuda sok manly itu ternyata tidak suka kencan yang ala pasangan-pasangan pada umumnya.
Apapun itu, tidak masalah karena yang sesungguhnya Kim Taehyung inginkan hanyalah Jeon Jungkook. Tidak peduli cangkang seperti apa yang digunakannya, hanya Taehyung yang tahu bagaimana isi cangkang itu sebenarnya. Karena Jungkook bahkan jauh lebih manis dari gula-gula termanis yang pernah ada. Bukannya Taehyung tidak sadar apa yang dilakukan Jungkook tadi. Dia sadar semuanya. Dan hanya dia yang boleh menerimakan perlakuan Jungkook yang seperti itu. Memangnya harus hanya dia.
Oh, apakah Taehyung terdengar sangat egois sekarang?
Oh, lalu Taehyung peduli sebagaimana egoisnya dia?
Tentu saja tidak.
.
.
.
.
.
Chapter ini done kkkk...
Aku nulis yang ini benar-benar mendalam banget, serius. Aku sampe ngebayangin aku itu Jungkook aaaaaaaaa!
(1) Series ini bakal lebih banyak make sudut pandang penceritaan dari sisinya Kuki.
(2) Untuk 'Obsessed', aku belum bisa lanjut. I have no feel and no idea untuk nextnya...tiba-tiba ilang semua entah kemana.. ya aku mau hiatusin itu dulu, semoga aja dapat feel lagi jadi ngga bakal sampe discontinue :"
(3) Lagu yang dinyanyiin kuki itu Owl City - Vanilla Twilight. Dan itu emang lagu lullaby buat aku pribadi
(4) Story yang lain masih dalam proses berhubung karena semua terjadi di luar perkiraan aku :'
(5) Next Story adalah 'WHO?" udah kelar tapi masih aku edit lagi kkk
(6) HAPPY BIRTHDAY SAYANGKU SOONYOUNG!
.
.
