Karena kalian pengen aku UP juga di sini, jadi aku UP ya tapi mian gak secepat aku update di wattpad. Yang mau lebih dulu baca ch terbaru bisa follow wattpad = kiemaw
###2###
Kadang, kedatangan seseorang di masa lalu bukan untuk membawa kembali serpihan yang hancur. - Jinyoung.
###2###
Seuisai rekaman individual yang kini sedang menjadi pertimbangan di antara para pelatih, waktu istirahat masih tersisa beberapa menit lagi yang dimanfaatkan trainee lain untuk mengenal satu sama lain, mengobrol dan juga berlatih bersama.
Tidak dengan Jinyoung.
Satu tatapan diam-diam tertuju pada namja bersurai cokelat lewat ekor matanya.
Mereka duduk agak berjauhan.
Dalam hatinya terus mengucap suatu hal yang terdengar mengagumkan tapi diselimuti rasa kesal.
Park Jihoon.
Di lihat dari mata manapun, seseorang yang tersebut namanya adalah seseorang yang amat ambisius.
Dengar-dengar Jihoon bahkan sudah mempersiapkan senjata mematikan sesudah kedipan mata yang kini sukses melekat pada dirinya dengan sebutan wink boy.
Jakunnya naik turun, entah kenapa melihat Jihoon membuat emosi Jinyoung tak menentu.
Kini bukan lagi tatapan sekilas, Jinyoung bahkan menatap lekat-lekat.
Emosi yang berkecamuk tak menggerakkan hatinya untuk fokus berlatih pada kelas dance hari ini.
Apapun hasilnya, Jinyoung sudah tak lagi berharap lebih.
Berbeda dengan Jihoon yang amat menunjukan kemajuan.
Jinyoung mengalihkan pandangan, tak lagi menatap Jihoon yang membuatnya iri. Memang sepertinya dia hanya layak untuk menatap ke bawah.
Menghela napas lalu membuang kembali harapan yang terkikis.
"Jinyoung. "
Mati.
Jinyoung mati.
Jinyoung ingin mati sekarang.
Tanpa menoleh ke Sumber suara saja Jinyoung sudah tahu siapa orang yang menyapanya. Suara yang amat sangat ia kenal yang kemarin menyapanya di ruang latihan.
Tapi semakin dia berharap mati, jantungnya semakin berdetak cepat.
Kumohon jangan lagi.
"Gwaenchana? ".
Jinyoung mengangguk masih menatap lantai.
Jihoon pindah posisi ke hadapan Jinyoung, bersila di depannya agar dapat melihat wajah Jinyoung lebih jelas walaupun terhalang surai hitamnya yang panjang terurai.
"Bagaimana hasil penampilan individuku? " Jihoon bertanya penuh semangat. Entah kenapa rasanya sangat puas dengan apa yang telah diusahakannya.
Tapi berbeda di mata jinyoung, Jihoon seakan sedang mengecilkannya.
"Hyung begitu ambisius ya. " Akhirnya Jinyoung mengangkat wajah.
Bukan untuk memberi senyuman tulus atau suatu balasan yang hangat, ia justru memberikan senyuman tipis meremehkan.
Balasan yang membuat Jihoon menghilangkan sisi cerianya.
Memangnya salah jika dia berambisi kuat? Semua trainee di sini juga sama.
Tatapan tajam itu menghujam ke dalam mata Jihoon. Sorotan yang seakan dapat membunuhnya perlahan-lahan.
Beberapa detik terlewati hanya untuk saling bertatapan menyiratkan aura permusuhan, setelah menghantarkan energi yang membuat Jihoon merasakan nyeri, Jinyoung pergi menjauh dari tempat duduknya tadi meninggalkan Jihoon.
Saat itupula Jihoon merasakan ada yang aneh.
Jinyoung terlihat amat membencinya.
Ternyata kejadian semalam bukan karena mantan kekasihnya yang memang tak ingin diganggu latihan, tapi karena dia tak mengharapkan kedatangannya.
Aku tak akan membiarkanmu lolos lagi di lain waktu.
Batin Jihoon penuh kesakitan selagi Jinyoung melangkah pergi menjauh.
###2###
Brak
Tubuh Jihoon tersungkur ke belakang, punggungnya beradu pada dinding keras yang membuatnya meringis kesakitan.
Jinyoung mendekat beberapa langkah, sedikit mengurung Jihoon.
Ekspresinya mengeras, napasnya sedikit bergemuruh menahan emosi.
"Jangan pernah mengajakku berbicara lagi! " Ucap Jinyoung datar. Jinyoung tak pernah berbicara keras, tapi di balik itu semua tersimpan energi kuat yang sebenarnya berdampak hebat.
Jihoon mendorong bahu Jinyoung untuk menjauh.
"Apa masalahmu? "
Di keheningan malam yang terkontaminasi dengan cekcokan mereka. Seperti biasa, semua trainee sedang beristirahat dengan suasana yang berbeda, ada yang mendapat kesempatan tidur dengan neyenyak karena video indiviual mereka berhasil lolos ke level lebih atas ada juga yang malah turun level.
Begitu pula Jihoon yang berhasil naik level berbeda dengan Jinyoung yang turun jauh.
Jujur saja Jihoon kasihan melihat Jinyoung. Dia terlihat kesepian, memikirkan awalnya mereka berada di kelas yang sama, setidaknya Jihoon bisa melihat perkembangan namja itu. Tapi ambisiusnya juga tak mungkin di kesampingkan untuk tidak menyabet level A.
Dan kini mereka berdua pisah kelas.
Jihoon hanya khawatir mental Jinyoung drop. Jadi setelah kelas usai ia merencanakan untuk pergi ke ruang latihan di malam hari untuk melihat Jinyoung yang mungkin sedang berlatih seperti hari kemarin. Dan ternyata benar, keberadaan Jinyoung terlihat di sana.
Tapi tak ada yang tahu niat baiknya justru dinilai buruk oleh Jinyoung.
"Pergi! "
Jihoon tertawa pelan.
"Aku tahu bahkan kau sendiri merasa kesepian bukan?"
Kembali membuat Jinyoung semakin memanas, meski dia tak punya teman tapi tak perlu sedikitpun perhatian palsu dari Jihoon.
Jinyoung kembali mendorong Jihoon hingga lagi-lagi meringis kesakitan karena punggungnya beradu dinding.
Jinyoung tak bisa lagi mengontrol emosi, menghimpit dan memegang rahang Jihoon begitu keras memaksa Jihoon menatap langsung ke wajahnya yang terlihat sangat menyeramkan sekarang.
"A—ahhs shh.. " Jihoon mendesis sakit, cengkraman kuat Jinyoung dari tubuhnya yang kecil benar-benar tak membuktikan bahwa kekuatannya juga kecil.
Matanya tak sengaja melihat bibir Jihoon yang tersisa tint pink tipis.
Pikirannya buyar dan entah kenapa masa-masa lalu muncul. Saat dia pernah menciumnya singkat hanya untuk merasakan bagaimana sensasinya.
Semakin mengingat momen itu semakin dia tak ingin melihat Jihoon.
Menyerah dengan keadaan.
"Kumohon, hyung. Pergilah, jangan menghampiriku lagi. Jangan mengajakku berbicara. " Jihoon yang semula ketakutan, sedikit melunak mendengar tuturan halus dari Jinyoung.
Jinyoung lelah jika harus dirundung memori lama. Bagaimanapun juga dia tak secuek yang terlihat. Hatinya masih berfungsi untuk merasakan sakit.
Tapi dibanding memikirkan emosi Jinyoung, ada yang lebih paling disyukuri dari situasi sekarang, karena beruntung bagi mereka tak ada satupun kamera di ruang latihan ini yang menyala.
###2###
Meski tak membawa serpihan yang tak lagi lengkap, percayalah, aku datang untuk memberi warna harimu. - Jihoon.
###
TBC
Butuh review dari kalian~ demi apapun aku masih kurang PD nulis FF selain VKook, tapi aku suka banget sama couole winkdeep juga^^ semoga kalian suka^^
####THX buat yg udah review di CH1#####
summerpixxie: iya ini bersambung shay :) makasih udah review~
vayazz: iya :' dia yg dingin tuh punya daya tarik tersendiri uhhh bikin gregetttt. Makasih review nya ya~
Chikuma Aihara: terlalu amat sakit ngeliat jihoon tuh jadi jutek gitudeh. Makasih review nya ya~
: bayangin aja gimana tuh ya rasanya nano nano haha. Makasih review nya ya~
Bae815: iya shay~ aku bakal up di sini juga kok tp gak secepet di wattpad hihi mian. Makasih review nya ya~
Ung-a: duh sumpah aku ngerasain rasanya hp kita gak kompatibel :( tenang ya aku bakal up di sini juga :) Makasih review nya ya~
hyunelf13: winkdeep lopelope. Makasih review nya ya~
hongjoshit: yoshhh! Makasih review nya ya~
naiseuji: iyhihiww aku juga suka jinyoung yg deep gitu makanya aku ga ganti sifatnya yg di awal2 masuk pd itu kan dia gak percaya dri gitu ya. Makasih review nya ya~
mingyoukes: sangat sangat nyesek :( cie baver haha. Makasih review nya ya~
