Yg punya akun wattpad silahkan cek ya, udh aku UP sampe CH 4 :)

###3###

"Kubilang diam, diam! "

Jihoon terkekeh mendengar jinyoung berkata keras. Sepertinya kesabaran Jinyoung mulai habis.

Entah untuk keberapa kali colekan pada dagunya terasa sangat menjengkelkan.

Pastikan menutup telinga jika mendengar teriakan menggelegar yang satu ini.

"Aaaa—aww.. Appo—" Jinyoung menerjang Jihoon yang duduk di sebelah, menggigit telinganya hingga mulai terlihat ruam merah.

Teriakan serta ringisan sakit dan tawa geli membuat Jihoon terjembab, tertidur di alas lantai sambil masih memegang telinganya yang belum terlepas dari gigitan. Jinyoung yang berada di atas tubuh Jihoon terus menerjang kesetanan.

Ini yang selalu Jinyoung lakukan untuk menghadapai tingkah usil Jihoon.

Dia tak keberatan dengan semua colekan yang membuatnya geli jika saja melakukannya di waktu yang pas.

Bagaimana dia tak kesal jika usahanya untuk tetap konsentrasi membaca semua teori yang ada pada buku tebal di hadapannya buyar begitu saja karena ulah kekasihnya.

"Hentikan, Jinyoung. " Tubuhnya melemas karena tertawa berlebihan, sungguh rasanya sangat geli.

Dan akhirnya Jinyoung menghentikan hukuman singkat mematikan yang sukses membuat Jihoon terkapar tak berdaya, satu tangannya memegang telinga kanan yang sedikit basah karena lelehan saliva Jinyoung dan satu tangannya lagi memengang perut yang kesakitan karena tawanya sendiri.

Niat Jinyoung menggoda lagi kekasihnya, berpura-pura akan menerjang kembali namun Jihoon sigap bangun dan mundur beberapa langkah dengan teriakan keras.

"Ampun... Ampun—am—phun.. ."

Napas Jihoon tersengal-sengal.

Jinyoung menyeringai namun beberapa jurus kemudian digantikan oleh tatapan memelas. "Hyung, ayolah... Jangan bermain-main, aku butuh waktu untuk fokus, besok tes pertama pelajaran matematika. "

Jinyoung kembali sibuk dengan buku-bukunya meninggalkan Jihoon yang memutuskan menyerah lalu berbaring di kasur empuk milik Jinyoung, menatap langit-langit kamar yang terasa hampa.

Rasa berat kembali menghantui, beban yang tak seberapa namun kalah oleh ketakutan yang luar biasa.

"Bae.. " Jinyoung terhenyak dengan panggilan itu. Satu hal yang perlu diketahui, panggilan 'bae' itu bukan panggilan asing.

'Bae Jinyoung' memang terdengar seperti memanggil marga tapi bagi Jihoon memanggil Bae adalah panggilan sayang untuk Jinyoung. Anggap saja dirinya seperti memanggil Jinyoung 'baby'.

Tapi jika Jihoon sudah memanggilnya dengan sebutan sayang itu berarti ada sesuatu yang ingin Jihoon utarakan.

Jinyoung menoleh sedikit ke belakang dimana Jihoon masih berbaring di atas ranjang.

"Aku ingin bertanya sesuatu. "

Diam sejenak memberi jeda untuk menghela napas.

"Bagaimana pendapatmu jika aku mendaftar menjadi trainee di salah satu agensi? "

Mendengar tuturan Jihoon membuat Jinyoung lega, dia kira Jihoon ingin berkata hal lain yang lebih penting, tapi ternyata hanya sebuah pertanyaan yang menyangkut keinginannya sejak kecil. Jihoon ingin sekali menjadi seseorang yang terkenal dan terjun ke dunia entertainment.

"Bagus. "

Jihoon memutar bola mata malas. Ya beginilah kekasihnya, tak ada ucapan yang lebih membuatnya sedikit bersemangat.

"Bagus. Ya Bagus, jawabanmu sangat bagus. "

Plak

Satu bantal kecil dilempar Jihoon mengenai tengkuk Jinyoung hingga kepalanya sedikit bergerak ke depan.

"Itukan yang hyung mau sejak dulu bukan? "

Karena Jinyoung tahu betul semua harapan kecil yang kini tumbuh besar pada seorang sunbae di sekolahnya, sunbae yang amat dia sayangi sejak pertama kali merasakan feromon bertebaran pada diri Jihoon.

"Kau benar-benar mengizinkan ku? "

Jinyoung tak lagi menjawab apa-apa, anggap semuanya selesai karena dia tak ingin terus diganggu Jihoon dan berakhir dengan remid pada tes pertamanya yang berlangsung esok hari.

Berbeda posisi dengan Jihoon yang masih merasakan gelisah. Meski sudah mendapat persetujuan, tapi entah mengapa ada sesuatu yang mengganjal.

Jihoon menggembungkan pipinya kemudian menghembuskan napas yang lagi-lagi terasa menyesakkan.

###

Beberapa waktu berlalu mengalir begitu cepat tanpa bisa diprediksi.

Jihoon benar-benar mendaftarkan diri menjadi trainee, dan dia telah resmi menyandang status trainee di salah satu agensi bernama Maroo ent.

Beberapa waktu pula telah terlewati dengan aktifitas baru yang akhir-akhir ini menjadi rutinitas kesibukannya sebagai trainee.

Latihan dan terus latihan.

Meski di awal masih dapat mengimbangi waktu antara kesibukannya di agensi dan waktu yang khusus diberikan untuk kekasihnya, tapi semua itu tidaklah mudah setelah jadwalnya semakin padat, terlebih di sekolah sedang menggencet dirinya dengan luapan tumpukan tugas.

Di sekolah pun dia jarang sekali mendapati kehadiran Jinyoung.

Hanya sesekali dirinya melihat Jinyoung sedang berada di lapangan pada saat jam pelajaran olahraga. Karena kebetulan antara kelas Jihoon dan Jinyoung memiliki jadwal pelajaran olaharaga yang sama.

Dan tak jarang keduanya saling memandang satu sama lain, mencuri-curi kehadiran dan mengulas senyum kecil yang tak dapat dilihat orang lain.

Sejak kesibukan yang membuat Jihoon sedikit agak keletihan, Jihoon seringkali lupa mengabarkan apapun yang selalu dia kabarkan kepada Jinyoung.

Kali ini, Jinyoung yang mengambil alih membuka percakapan diantara mereka berdua.

Terlihat sekali perubahannya, sedikit demi sedikit terasa jelas sosok hangat Jinyoung.

Jinyoung: tertidur lagi.

Permulaan yang menjadi alasan Jinyoung mengirim chat untuk Jihoon, sengaja ia pergi ke perpustakaan bukan untuk membaca atau mencari referensi, dia hanya ingin mengecek situasi dan kondisi kelas dimana Jihoon berada di dalamnya karena lokasi perpustakaan mengharuskannya melewati kelas Jihoon. Dan ternyata dia mendapati sosok Jihoon sedang menenggelamkan kepala diatas meja dengan kedua tangannya.

Jihoon: Lelah.

Jinyoung: sempatkan pergi ke kantin, hyung harus makan.

Jihoon: jemput aku 😘

Jinyoung: Tidak.

Jihoon: ;(

Jinyoung: pergilah ke kantin sendiri, sekarang! aku akan menjemput hyung sepulang sekolah nanti.

Jihoon: sepulang sekolah?

Jinyoung: Aku ingin mengajak hyung jalan-jalan.

Jihoon: jinjja? Ahh... Sini biar ku cium 😘

Jinyoung: kau terlalu sering mengirim emoticon '😘' tapi tak pernah melakukannya secara langsung.

Jihoon: aku akan memberimu ciuman asalkan penuhi apapun yang ingin ku beli nanti.

Canda Jihoon.

Jinyoung: tidak.

Belum sempat Jihoon membalas, Jinyoung kembali mengirim chat berbeda.

Jinyoung: karena akulah yang akan mencium hyung telebih dahulu.

Dan seketika wajah Jihoon memerah sendiri.

Kurang lebih seperti itulah perubahan Jinyoung yang membuat Jihoon tersipu, orang secuek Jinyoung ternyata bisa mesum juga ternyata. Apalagi jika sudah mengingat umur mereka berdua dimana Jihoon lebih tua daripada Jinyoung.

Jihoon: oh aku bahkan lupa berapa usiaku.

Sindir Jihoon sambil tertawa saat membalasnya.

TBC

ITU FLASHBAK YA GAES JANGAN SALAH TANGKAP. 😊

Review ya shay~

Makasih juga buat yang udh review di ch sebelumnya;)