KHUSUS YANG BACA DI FFN AKU KASIH UP BONUS 2 CH (4&5)
###4###
Hari kian hari berlalu begitu mengalir. Terasa tak terasa sebenarnya, tapi jika mengingat rasa sakit dan kelelahan yang mereka terima akan terasa sangat amat pelan waktu yang berjalan.
Jinyoung yang pendiam, cuek dan tak percaya diri?
Pudar seiring waktu yang mengubahnya menjadi namja penuh semangat.
Tak lagi pemurung seperti awal mula menjadi trainee di acara survival ini.
Tapi bukan berarti dia bisa sepenuhnya welcome, masih ada sedikit rasa canggung untuk berinteraksi satu sama lain, terlebih jika kepercayaan dirinya mulai turun.
Beruntung tak selalu aura hitam yang menguasainya, malaikat di samping kanan masih sudi memberikan arahan untuk menggerakkannya agar dapat terbuka satu sama lain dan hasilnya ia bisa berteman dekat dengan salah satu trainee dari agensi berlatar belakang hip hop.
Sejak trainee bernama Lee Daehwi memilihnya sebagai salah satu member bentukannya sendiri.
Tim sangat kuat.
Bagaimana tidak, di dalamnya terdapat trainee paling berpengaruh.
Tak ada yang perlu diragukan ketika melihat wajah si trainee itu. Wajah penuh pesona.
Usahanya untuk menghindar setidaknya mengambil jarak dari Jihoon tak berarti apa-apa. Karena saat itu Daehwi seakan menjadi sosok tritagonis di antara keduanya yang kembali bersatu lewat kelompok yang sekarang sedang berlatih keras membawakan lagu hits dari salah satu boyband terkenal.
Jam-jam terakhir menikmati kesibukan mereka sebelum panggung sebenernya menggetarkan mental mereka.
Kilas balik saat pertama kali mereka berunding untuk memilih center juga leader dan posisi lain.
Jinyoung sudah memastikan ketika mulut Jihoon berpendapat bahwa dirinya bisa pas mengisi posisi sebagai center.
Apa yang bisa dilakukan Jinyoung saat itu?
Jinyoung tak banyak berkomentar dan hanya mengikuti alur yang mereka buat, dia bukan seorang Jihoon yang bisa mempengaruhi keadaan grup.
Dan beberapa hari selanjutnya setelah hari pertama latihan, interaksi keduanya kembali mengalir walau bisa dibilang berantakan, katakanlah antara keduanya tak lagi bisa serasi sebagai partner.
Tapi mereka hanya memperlihatkan 'keakraban' yang terlampau akrab disraat hanya ada mereka berdua.
Dan sebisa mungkin tak ada kamera yang mengintai.
"Bae Jinyoung, bahkan sekeras apapun kau mencoba menjauh, selama kita ada di sini harapanmu tak akan pernah bisa terjadi. "
Jihoon menyeringai.
Hell, siapa yang menyangka?
Jihoon yang di depan kamera dan terlihat di layar amat manis penuh aegyo, tapi tak memperlihatkan sisi tajam yang ia perlihatkan saat ini.
Ingat!
Hanya di hadapan Jinyoung dan tak segan memanggil Jinyoung dengan marga, tidak seperti biasanya.
Suaranya pelan seakan berbisik, di ruangan sempit untuk latihan vokal individu, mereka berdua saling menyapukan energi masing-masing.
Jihoon sigap menahan tangan Jinyoung ketika akan memegang gagang pintu.
"Pengecut. "
Jinyoung selalu lari darinya.
Sebutan yang sangat amat tak pantas Jinyoung terima, karena menurut Jinyoung dia bukanlah seorang pengecut melainkan seseorang yang tak mau menjadi bodoh karena terjebak dalam jeratan lain.
Dia lari bukan karena ingin menghindar, tapi bisakah Jihoon berpikir bahwa membuang kenangan tak semudah melupakan momen itu begitu saja.
Yang membuatnya berat memang hanya kenangan.
Jihoon bisa saja pergi darinya, dan Jinyoung membiarkan. Tapi tidak dengan kenangan, karena kenangan bersama orang yang kau anggap paling 'seseorang' akan selalu bersarang dalam memori.
"Hyung—" Jinyoung melepaskan pegangan Jihoon, kembali berhadapan langsung dengan manik Jihoon yang selalu berbinar di layar.
"Jika hyung terus memaksaku untuk terus mengingat kejadian itu. Baiklah, aku akan mengingatkannya untukmu. "
Jihoon tersenyum menyeringai.
Perlahan ia gapai lengan kurus Jinyoung yang kosong.
Terasa harapan yang sama pada genggamannya, menjadi orang terpilih yang layak masuk 11 besar nanti.
Perlahan penuh buaian, Jihoon membelainya. Refleks tanpa berpikir lagi Jinyoung memejamkan mata, jakunnya naik turun amat susah menelan saliva yang terasa mengganjal di tenggorokan.
"Berapa lama kita tak berpegangan tangan seperti ini? "
Jinyoung membuka mata tepat saat itu yang membuat hatinya berdetak tak karuan, bukan lagi seringai, bukan lagi nada cemoohan yang ia dapat. Senyum manis Jihoon terukir jelas dan tergambar nyata.
Dulu, Jihoon sering sekali menghadiahkan senyuman manis, saat pagi buta masih berkuasa, Jihoon selalu datang dengan senyuman itu seakan menyambut hari barunya untuk pergi ke sekolah bersama, meski sekolah mereka berbeda.
Melihat senyumannya saja sudah sangat bahagia, tapi Jinyoung selalu ingin melihat raut kekesalan Jihoon, sengaja dia tak beranjak dari kasur sebelum Jihoon melompat ke kasurnya membangunkan dia dengan guncangan ala pelukan beruang.
Jelas sangat sakit mengingat kebiasaan mereka dulu jika memakasakan menghubungkan kenangan lama dengan situasi hubungan mereka sekarang.
Jinyoung menjawab sinis.
"Bahkan aku tak sudi untuk mengingatnya. "
"Karena terlalu sakit? "
Jawab Jihoon sangat mudah. Inilah yang selalu Jinyoung pikirkan dua kali sebelum merespon manisnya seakan terdapat maksud tersembunyi, seperti ingin kembali menggores hati yang masih menyisakan guratan.
Tapi untuk kali ini Jinyoung harus pintar-pintar memutar otak membalas jawaban lebih cerdik dan mulai sekarang lari dari Jihoon bukan sesuatu yang bisa dibilang bijak.
Karena sepertinya Jihoon harus merasakan perkataan yang sama pedasnya.
"Ani, " Jinyoung menggeleng dengan senyuman, senyuman palsu yang terlihat tak memberatkan beban apapun pada dirinya. "Karena itu tak penting untukku. " lanjutnya.
Nyatanya perkataan Jinyoung yang penus dusta, sejujurnya dia amat sakit jika memaksa harus mengingatnya kembali.
"Bertemanlah. Bertemanlah denganku jika kau menganggap semuanya tak lagi penting. Masa lalu sekarang tak berarti apa-apa bukan? Jadilah sama seperti trainee lain, jalin pertemanan yang baik. Jangan seperti ini. " pinta Jihoon semakin erat menggenggam tangan hangat itu.
"Jangan munafik. "
Setiap perkataan Jinyoung selalu diikuti senyuman mengejek, penuh celaan dan merendahkan Jihoon. "Berpikirlah bahwa sejak pertama menginjakkan kaki hyung di sini, semua arah yang mengitarimu adalah saingan. Semuanya saingan bukan?" Jinyoung terkekeh.
"Kau terlalu tenggelam dalam duniamu sendiri, Jinyoung. "
"Dan kau terlalu tenggelam dengan ambisimu! " cela Jinyoung cepat sesudah Jihoon menyelesaikan perkataannya yang bahkan belum menarik helaan napas.
Keduanya terdiam. Napas Jinyoung memburu tak lagi bisa berhadapan dengan Jihoon, ia menarik kasar tangan yang berada dalam genggamn mantan kekasihnya.
Tapi Jihoon tak membiarkan lepas begitu saja, tubuh yang lebih pendek tak juga menyulitkan dia untuk menggapai tubuh Jinyoung dalam dekapan.
Erat dan sangat dalam.
Seakan tak rela membiarkan namja itu lolos.
Semuanya, dalam dekapan, seakan menjadi pembaca memori yang amat baik.
Ketika pelukan yang saling menguatkan kini menjadi pelukan tak ternilai apapun.
Dan bukan keinginannya ketika kristal bening mengalir tanpa mau bertahan lebih lama.
Segera dia tepis dengan jarinya sendiri, dia tak ingin Jinyoung tahu bahwa dirinya sedang menangis meraskan bagaimana sakitnya menahan keinginan untuk kembali seperti dulu yang tidaklah semudah itu.
Di baliknya, tanpa Jihoon sadari, Jinyoung pun mengeluarkan air mata yang sama. Air mata yang sama menyesakkan.
Karena Jinyoung yakini, sesakit apapun Jihoon, dirinyalah yang amat lebih merasakan sakit.
Apa aku berhasil berpura-pura jahat dengan bertanya 'Karena terlalu sakit?' karena sebenernya aku hanya ingin mendengar jawaban mu, jawaban yang bilang bahwa kau benar-benar sakit, itu akan menjadi jawaban terjahat yang paling aku sukai, karena membuktikan bahwa kau benar-benar tak menginginkan kepergiaanku saat itu.
Dan tanpa mereka berdua sadari sebenarnya keduanya telah sama-sama menguatkan. Meski dengan cara yang bertolak belakang.
###
5
Sider a.k.a SILENT READER pls segera tobat :v
Aku gak bikin FF ini buat kalian para sider ;)
####
"Kurus, seperti anak kekurangan gizi."
Sindir Jihoon.
Jihoon masih dengan seribu satu cara membujuk namja yang terbaring sedikit agak lemah di ranjang agar mau menyuap potongan buah yang sedang disodorkannya.
Apel, pilihan paling akhir karena tak ada makanan yang lebih menyehatkan di sini selain minuman susu setelah menimbang-nimbang apa yang harus ia beri kepada Jinyoung ketika mendengar namja itu sempat pingsan saat pelajaran sejarah sedang berlangsung. Mungkin hanya kantuk, pikir temannya saat melihat Jinyoung membenamkan kepala di atas meja tapi ternyata suhu badannya jauh di atas normal.
Dan bertanya bagaimana Jihoon bisa tahu keberadaan Jinyoung? Demi apapun ia hanya tak sengaja mengunjungi ruang kesehatan untuk meminta obat sakit kepala dan ternyata malah bertemu dengan kekasihnya.
Dan Jihoon seakan percaya kedua dari mereka terhubung dengan ikatan tak kasat, seperti sebuah telepati.
"Pendek. " mata Jihoon membulat mendengar cemoohan Jinyoung yang selalu dilontarkan kepada dirinya.
"Leher panjang. "
"So' populer."
"So' jutek. "
"Gendut— "
Ejekan tadi menjadi kata terakhir sebelum mulut Jinyoung disumpal paksa oleh potongan apel yang sedari tadi tak sabar ingin Jihoon masukan ke dalam mulut Jinyoung.
"Tak bisakah kau diam saja? "
Bentak Jihoon kesal, kata 'gendut' seakan menjadi kutukan baginya.
Dan akhirnya Jinyoung menuruti keinginan Jihoon, ia mulai mengunyah apel itu.
Apel yang manis.
"Ucapkan terimakasih! "
Kekasihnya ini perlu diajarkan beberapa ungkapan ekspresi, termasuk ekspresi untuk mengucapkan terimakasih. sedang sakit saja tak terlihat kesakitan.
Bahkan dia yang pening sedikit saja sudah mengeluh amat gila.
"Aku tak menyuruh hyung ke sini. "
Bahu Jihoon kembali turun, kekasihnya yang selalu menguji kesabaran dengan tingkah yang kelewat masa bodoh.
"Memang, bukan ragamu tapi batinmu yang menyuruhku kemari. "
"Tapi kurasa aku memanggil kekasihku yang baik, bukan kekasih yang cerewet. "
Helaan napas terdengar begitu kentara, Jihoon mencoba melepaskannya perlahan dan kemudian satu senyuman lebar terpasang dibuat-buat.
"Kuperingatkan, aku sudah cukup sabar menanganimu! " dan akhirnya Jihoon meledak-ledak, satu potong apel kembali dipaksa masuk ke dalam mulut Jinyoung.
"Sabar apanya? Tidak ada sabar seperti ini. "
"Ah jinjja... " Jihoon menyerah merespon perkataan Jinyoung. Entah harus sesabar apa tenggelam di atas kasur dekat lengan Jinyoung .
Jinyoung itu namja yang bisa dibilang pendiam tapi terkadang dia menghabiskan banyak waktu hanya untuk mengejeknya.
Tapi, dibalik pendiamnya ada sesuatu dari dirinya yang berbeda yang bisa saja keluar kapanpun tanpa mengenal kondisi dan situasi apapun.
Jadikanlah sekarang ini sebagai contoh, Jihoon yang sedikit kesal merespon sikap menyebalkan Jinyoung sukses mereda begitu cepat saat jari-jari panjang dan sedikit kecil terasa menyentuh surai halusnya, meski sedikit diacak, tapi tidak membuat Jihoon merasa risih, inilah sisi lain Jinyoung yang dapat membuatnya luluh.
"Terimakasih, hyung. "
Barulah setelah kalimat permintaan terimakasih itu lolos dari bibir Jinyoung yang sejak tadi hanya mengeluarkan kata-kata ejekan, Jihoon mengangkat kepalanya dan menatap Jinyoung lembut.
Ucapan terimakasih saja sudah membuatnya sangat senang tanpa pusing-pusing memikirkan raut wajah Jinyoung yang terlampau datar.
"Jadi kau sudah merasa bahwa aku kekasih yang baik? "
"Tidak. "
Jihoon gusar, sesungguhnya ia mempertanyakan jenis makhluk apa namja di dekatnya yang berstatus sebagai kekasihnya ini.
Dia memutar bola mata malas.
"—tidak salah lagi. " lanjut Jinyoung.
Heol... Bawa Jihoon ke rumah sakit sekarang juga! Rasanya detak jantung tak terasa berdetak melihat Jinyoung yang seperti ini, tersenyum begitu tulus dengan ucapan yang membuatnya seakan terbang tak tentu arah.
###
Sekelebat bayang.
Hanya kilasan klise lama yang tak sengaja terputar dalam otaknya. Kadang Jinyoung berpikir, apakah Jihoon juga sering memutar kaset lama mereka?
Terlalu banyak kenangan, terlalu banyak janji yang mereka berdua buat.
Tapi terlalu banyak juga kesakitan yang mereka berdua terima.
Pelukan erat yang semalam seakan menjadi sisa kesedihannya.
Dan saat itu juga, Jinyoung seakan mendapat peneguhan.
Apa aku terlalu bodoh membiarkan dia pergi begitu saja?
Di sisi lain, Jihoon yang masih sibuk dengan makanan menu spesial yang sengaja diberikan wakil produser nasional, BoA untuk menjadi penyemangat bagi semua trainee. Tapi sesekali ekor matanya seakan mendapati ada sepasang mata yang sedang mengintai pergeranakannya.
Urung niatnya saat ingin memastikan, saat ia menyadari bahwa orang itu adalah Jinyoung, meski tak nampak jelas karena tak melihat keseluruhan sosok namja bernama Bae Jinyoung dengan begitu jelas.
###
"Akhiri hubungan ini. Itu yang aku inginkan. Aku terlalu sibuk meluangkan waktu bersama lagi." Jihoon menatap ragu pemuda yang lebih tinggi di hadapannya. Saliva yang enggan tertelan mudah membuat ia terlihat gugup.
Jinyoung tak menyangka akan berakhir seperti ini, dia mengizinkan Jihoon untuk mendaftar menjadi trainee bukan berarti Jihoon harus memutuskannya juga.
Jinyoung tetaplah Jinyoung, segentir apapun masalah yang datang mencoba menyulitkannya tapi ekspresi lain selain tak memasang ekspresi sekalipun tak pernah terlihat dengan mudah.
Mungkin bisa dikatakan, bacalah hatinya bukan rupanya.
Tapi Jihoon tak ingin ambil pusing, dia hanya ingin mengakhiri semuanya termasuk masalah yang sejak dulu selalu menghantuinya agar dapat terselesaikan sekarang juga.
Setelah berminggu-minggu Jihoon tak memberi kabar sama sekali, bahkan saat mereka saling menyalangkan tatapan satu sama lain saat bertemu tak sengaja di sekolah, tak ada yang mulai bertegur sapa.
Tentu saja Jinyoung menyadari adanya perbedaan, terlebih Jihoon yang biasanya selalu pecicilan.
Pernah suatu hari Jinyoung mencoba mengunjungi rumah Jihoon, tapi penghuni rumah mengatakan Jihoon tak ada di rumah. Dan Jinyoung yakin itu hanya omong kosong seketika melihat bayangan Jihoon mengintip di balik tirai jendela kamar milik di lantai atas.
Dan sekarang di bawah sinar elegi, di depan rumah Jinyoung, dimana Jihoon kembali mengajak Jinyoung untuk bertemu kembali namun semuanya berjalan tidak sesuai harapan Jinyoung. Yang mana ia membayangkan mereka berdua akan kembali menjalani hubungan seperti biasa.
"Aku memang jarang mengekspresikan semua perasaanku, tapi kau tahu, hyung, aku bukan tipe orang yang akan selalu mencurahkan semuanya segamblang yang kau inginkan. " suara Jinyoung terdengar berat. Menatap Jihoon dengan pandangan sulit ditebak.
"Aku memang masa bodoh, tapi asal hyung tahu, setiap kali aku bersikap manis, saat itulah aku mencoba keras untuk bisa menjadi namja yang pengertian. " lanjut Jinyoung, barulah suaranya sedikit bergetar, pandangan yang ksoong kini berubah sendu bahkan terlihat gumpalan kecil setitik dua titik air mata di kelopak matanya yang bisa langsung mengalir.
Semuanya sia-sia, penjelasan apapun tentang dirinya yang berharap bisa dimengerti Jihoon nyatanya tak dihiraukan.
Kedua kaki ringkih yang menopangnya bisa kapan saja terjatuh jika ia tak menguatkan hatinya sendiri, pandangan kabur melihat kepergian Jihoon, meninggalkan sakit yang amat luar biasa.
Ini pertama kalinya, dan dia tertawa.
"Park Jihoon sialan. "
Mendesis tajam dengan seringaian. Giginya bergemurutuk keras.
Perasaan semula sakit, lebih sakit lagi ketika dia mengingat beberapa hal lalu.
Jinyoung yang memaksakan untuk bertindak manis, jauh dari sifat aslinya.
Jinyoung yang selalu memberikan perhatian lebih jika jihoon sedang marah.
Dan terpenting...
Jinyoung yang menyerah dengan impiannya.
Semua telah berlalu jauh sebelum Jihoon pernah mengatakan impian yang sama.
Yang pernah ia katakan dulu "Lupakan soal keinginanku, hyung. Itu tak akan pernah terjadi. "
Menjadi seorang penyanyi adalah keinginan terbesar Jinyoung yang pernah ia utarakan kepada Jihoon sebelum Jihoon mengatakan impiannya terlebih dahulu.
Suatu hari dimana dia pernah ditawarkan menjadi trainee di salah satu agensi, perasaan tak menyangka yang serasa ingin ia terima sirna saat membaca beberapa peraturan.
Tapi salah satu dari sekian banyak rules agensi itu yang diperuntukkan kepada trainee tidaklah semudah yang harus dijalankan dengan serius.
Yang memberatkan adalah ketika ia membaca satu rules penuh tantangan yang sepertinya tak akan pernah bisa dia penuhi.
Tidak sedang menjalani suatu hubungan spesial dengan siapapun.
Dan seketika ia mengingat Jihoon, kekasihnya yang terasa melebihi apapun, tanpa pikir panjang Jinyoung menolaknya.
Jinyoung bisa saja mencari agensi lain yang tak memberatkan kehidupan pribadi, tapi sejak tawaran dari agensi itu dia mulai terfokus hanya kepada Jihoon seorang tak ada hal lain bahkan mimpinya sekalipun.
Karena dia juga berpikir menjadi traine tidaklah semudah yang ia pikirkan, hanya bersama Jihoon saja terasa seperti mengejar mimpinya.
Mungkin karena kasus yang sama juga jihoon memutuskan hubungan, mungkin agensi Jihoon sama-sama mengeluarkan peraturan yang sama seperti yang pernah Jinyoung alami, tapi Jihoon sepertinya lebih memilih cita-cita dibanding Jinyoung.
Jihoon begitu ambisius.
Seketika dirinya merasa bodoh.
Aku memperjuangkan orang yang salah.
###
Sudah lebih dari beberapa minggu para trainee tinggal di asrama.
Banyak trainee yang sudah tersisih, tak termasuk Jinyoung yang masih belum mengerti kenapa produser nasional menginginkannya tetap berada di sini.
Tapi syukurlah, para pendukung di luar sana dapat bersabar menunggu bakat trainee bernama Bae Jinyoung yang sedikit lambat berkembang. Itu dulu, saat baru saja menjadi trainee, sekarang sudah berubah seiring berjalan waktu.
"OMO?! " Lengkingan suara Daehwi terdengar nyaring, Jinyoung meringis sambil menutup telinga kananya.
Mereka sedang duduk bersama di sela waktu istirahat seusai latihan.
"Tenanglah sedikit. "
"Tenang bagaimana? Aku baru saja mendengar rahasia terbesar yang pernah ada. " Ucap Daehwi berlebihan.
Pandangan Daehwi beralih kepada namja bersurai cokelat ke orangean yang sedang bercengkrama dengan Guanlin.
Jakunnya turun-naik tajam karena dirinya benar-benar terkejut.
"Lalu bagaimana bisa kalian berdua ada di sini? "
Kembali bertanya setelah Jinyoung bercerita tentang masalahnya dengan Jihoon di masa lalu. Karena Jinyoung pikir, Daehwi bisa menjadi teman curhat yang abaik.
"Aku tak pernah menyangka kami berdua akan bertemu di sini, aku masuk menjadi trainee c9 awalnya karena ingin melupakan Jihoon dan kembali fokus dengan cita-citaku. Tapi sial, aku malah dipaksa mengingat Jihoon sialan itu lagi di sini. "
"Hyung tak boleh menyebut Jihoon hyung dengan sebutan kasar seperti itu. " mencoba memperingati Jinyoung yang kembali memanas mengingat masa lalunya.
"Coba kau bayangkan, kurang lebih setahun aku mencoba menghilangkan namja ambisius itu, tapi dengan mudahnya Tuhan mengembalikan ingatan itu lagi. " jawab Jinyoung tanpa peduli peringatan Daehwi.
"Dan dia masih sama, ambisiusnya sangat kuat, mencoba mencari perhatian dengan sikap manisnya. "
Entahlah, Daehwi hanya bisa mendengar, tak bisa berkomentar apa-apa, apalagi memihak salah satunya, karena Jihoon juga salah satu trainee yang akrab dengannya.
"Lihat si Lai Guanlin itu, apa kau tak merasa dia terlalu dekat dengan Jihoon? "
Keduanya menatap dua namja yang kini tertawa lepas.
Guanlin yang merangkul Jihoon.
Tapi bukan pemandangan itu yang menjadi titik fokus Daehwi, dia terfokus pada perkataan Jinyoung. Sedikit agak terkejut.
"Aah.. Hyung cemburu ya? " Daehwi nyengir menggoda Jinyoung.
Mata Jinyoung membulat dengan hakiman Daehwi.
"Jih—" Jinyoung membekap mulut Daewhi saat melihat gelagat bocah itu yang terlihat akan memanggil Jihoon.
"Jihhhooonnhn hnnyunhg, jjnnhjinyounh hnhyunh cemmnhmvmuuru—" untunglah tak ada yang mendengar jelas ucapan mematikan Daehwi yang terdengar seperti meracau tak jelas di dalam bekaman tangan Jinyoung.
TBC
Mind to review?
Makasih yg rajin2 review di ch sebelumnya :*
Sekali lagi
Aku gak bikin FF ini buat kalian para sider ;)
