###

Sebelumnya mau nanya dulu, kan kalo di Wattpad aku update oneshot winkdeep, kira2 di sini ada yg mau baca oneshotnya juga ga?

###

6

Dua namja yang asik tertawa bersama, tak ada topik yang lucu, hanya saja menjahili satu orang yang bersebrangan dengan mereka berdua terasa sangat menggoda, karena raut wajahnya yang terlampau serius dan aura yang gelap.

Terlebih, Guanlin pernah tertarik dengan namja itu, hanya tertarik biasa, tidak lebih karena sejak awal melihat karakter trainee itu yang terlihat unik.

"Hentikan, Guanlin. Kau akan membuatnya marah. "

Guanlin kembali menggelitik tubuh berisi Jihoon, Jihoon yang tak kuasa menahan geli, tubuhnya menggelinjang seraya terkikik ngakak.

Keduanya sama-sama terlihat senang, tertawa lepas dan sangat dekat.

"Marah? Marah seperti apa? Cemburu? Hyung terlalu kelebihan percaya diri jika merasa seperti itu. "

Satu lagi orang yang mengetahui hubungan lama antara Jinyoung dan Jihoon, dialah Guanlin. Jika Jinyoung mempercayakan Daehwi sebagai tempat penyimpan kunci dari kotak rahasianya, Jihoon mempercayakan Guanlin sebagai teman curhatnya.

Dan akhirnya mereka berduapun berhenti. Jihoon mengatur napas tersengal-sengal.

"Sudah kubilang kan, dia itu orang yang menyembunyikan semuanya lewat ekspresi. "

"Tapi ekspresi Jinyoung hyung selalu sama, murung. Apa yang bisa dinilai dari ekspresinya?"

Karena hanya Jihoon yang mengetahui bagaimana Jinyoung sebenarnya.

Lewat tatapan matanya sebenrnya sudah terlihat jelas. Walaupun tatapan itu selalu terlihat sama, tetapi di setiap tatapannya menyiratkan arti berbeda.

Dan Jihoon yakin, sekarang ini Jinyoung pasti sangat cemburu melihat kedekatan mereka berdua, dia hanya mengalihkan rasa cemburunya dengan mengobrol bersama Daehwi.

Dan seketika teriakan tak jelas melengking menggema di ruangan latihan ini.

"Jih—"

"—Jihhhooonnhn hnnyunhg, jjnnhjinyounh hnhyunh cemmnhmvmuuru"

"Nah kan? " Jihoon menatap Guanlin.

Jangan kira mereka berdua tak mendengar, meski tak jelas tapi dapat ditangkap seluruh kata-katanya. Karena fokus Jihoon dan Guanlin juga pada Jinyoung dan Daehwi, lain hal dengan trainee lain yang sibuk dengan kegiatan mereka sendiri.

Guanlin mendorong bahu Jihoon seraya terkikik. "Mungkin kita memang cocok terlihat menjadi sepasang kekasih. " canda Guanlin menghadiahkan tatapan malas dari Jihoon. Jihoon meleletkan lidahnya.

###

Akhir pekan ini, semua trainee diberikan kesempatan untuk keluar dari area asrama, ada yang memakai kesempatan tersebut dengan pulang ke rumah, dan ada juga meluangkan waktu yang tak tersisa banyak itu hanya untuk pergi ke pusat kota sekedar refreshing.

Ketika satu langkah baru saja keluar dari pintu, satu hembusan tanpa terasa berat berhembus menikmati kebebasan dunia kuar.

"Sampai jumpa nanti, hyung. "

Darhwi melambaikan tangan perpisahan dengan Jinyoung ketika jalur yang berbeda akan menghantarkan mereka ke tujuan yang tak searah.

Jinyoung tersenyum lalu melangkahkan kakinya menjauhi Daehwi yang kini mulai menghilang menaiki bus.

Arah tujuannya sekarang adalah stasiun kereta bawah tanah.

Berjalan sendiri tanpa pengawalan, tapi masih dirasa cukup aman, tapi tak jarang terasa ada jepretan kamera mengintai.

Tak apa, itu tak menganggu selama mereka tak berusaha mendapatkan lebih.

Kini dua kakinya sudah menapak di dalam kereta, dan banyak orang mulai masuk. Penumpang yang ramai membuatnya tak kebagian kursi.

Akhirnya Jinyoung memilih berdiri di dekat pintu.

Kereta mulai berangkat, selama di perjalanan, ponsel yang semula tak menampilkan notifikasi apa-apa tiba-tiba bergetar.

Satu chat berisi foto masuk.

Belum sempat Jinyoung melihat profile nya, ia lebih dulu terkejut karena isi fotonya.

(Sebenernya kalo di Wattpad ini ada fotonya, cuma aku gak bisa upload di ffn, mian) *bayangin aja Jinyoung lg berdiri di dalem kereta ngebelakangin Jihun:v

Tanpa menunggu waktu yang lama matanya tersorot pada profil yang baru saja mengirim foto itu.

Jihoon hyung

Ya, tertulis nama yang tak asing baginya tapi sangat asing mampir ke dalam notifikasi ponselnya.

Keringat panas terasa mengalir, AC subway seakan tak berfungsi. Demi apapun dia tak sanggup melihat ke belakang.

Dia tak ingin matanya mendapati sosok itu.

Tak mungkin dia berada dalam satu kereta denganku.

Beralih pada namja yang diduga sebagai tersangka pemotretan diam-diam. Jihoon duduk santai, matanya pun tak segan terus menatap belakang Jinyoung. Di balik masker yang menutupi hidung juga bibirnya, terpatri senyuman senang. Dia semakin yakin, kapanpun dan dimanapun mereka berdua berada, meski keadaan terus mencoba memisahkan, tapi waktu tak akan pernah sudi sampai kapanpun. Terbukti, karena setiap sekon yang berdetik selalu berpihak kepadanya.

Jihoon menunggu berapa lama lagi, diri Jinyoung akan sanggup terus membelakangi tanpa ada rasa keinginan untuk menoleh barang beberapa derajat. Setelah beberapa menit terlewati di dalam kereta yang tak merubah suasana apapun, akhirnya pada pemberhentian pertama Jihoon mencoba mengganti takdir yang a hampir akan berbuah pahit, dia mengejar langkah Jinyoung tergesa-gesa.

Entah apa yang Jinyoung rasakan saat ini, sejujurnya dia memang masih sering mengingat Jihoon, tapi setiap kali melihat namja dengan feromon berlebihan itu dia selalu merasa sakit.

Hingga pada batasnya. Dia tak lagi bisa terus menghindar.

"Aku tahu, hyung mengikutiku. "

Nekat Jinyoung berbicara.

Meski pemberhentian kereta mereka sama, tapi ada perasaan kuat yang mengatakan bahwa Jihoon sedang mengikutinya, itulah yang membuat Jinyoung sangat yakin berbicara seperti itu.

Jinyoung berbalik, menatap dalam namja yang terutup sebagian wajahnya dengan masker hitam.

"Jinyoung, bisakah kau ikut denganku sebentar saja? " tawar Jihoon sedikit ragu.

###

Sepanjang cerita tentang hal-hal yang telah dilaluinya, termasuk waktu dimana mereka sering menghabiskan waktu bersama telah terdengar lewat bibir Jihoon, tapi tak ada satupun kata yang Jinyoung jawab.

Hanya tatapan kosong yang tertuju ke depan tanpa melihat manik Jihoon yang begitu senang menceritakan itu semua.

Balkon kamar Jihoon, destinasi mereka sekarang.

Alasan di balik Jinyoung benar-benar tak bisa mengatakan apapun.

Tempat inilah, salah satunya saksi dimana tawa mereka terbang bersama angin siang, sore hingga berganti malam.

Sapaan eomma Jihoon yang dulu terlampau baik, hingga beberapa puluh menit lalu masih menyikapi hal yang sama saat menyambut kedatangan anaknya yang membawa teman lama dan tak disangka bertemu di acara yang sama.

"Sekarang giliranmu yang bercerita. "

Ujar Jihoon bersemangat.

Bercerita?

Jinyoung disuruh bercerita?

Sewaras apa Jihoon hingga menyuruhnya bercerita?

Cerita Jinyoung dipenuhi dengan kesedihan. Terdengar kejam sekali Jihoon menyuruhnya bercerita tentang masa lalu mereka.

Diam, Jinyoung tanpa peduli hanya diam mengatupkan bibir rapat.

Jihoon menepuk pundak Jinyoung yang bersebelahan dengannya, menggeser duduknya hingga merapat dekat dan bahu mereka saling bersentuhan.

"Ayolah, apa hanya di depan Daehwi dan trainee lain kau bisa tertawa sedangkan denganku kau hanya menampilkan ekspresi seperti ini? " niatnya bergurau dan mencairkan sedikit suasana yang terasa sangat panas.

"Kenapa tiba-tiba membawa nama Daehwi? "

Tanpa sadar Jihoon sudah membuka kartu, dia sering memerhatikan Jinyoung yang sering bercanda dengan Daehwi.

Jihoon diam sejenak. "Jinyoung.."

"Apa—apa kau masih membenciku? "

Lelah karena sikap Jinyoung akhirnya menyuruh paksa mental Jihoon yang tak begitu kuat. Tapi mau bagaimana lagi, dia harus mengatakan semua. Tanpa ada celah sedikitpun.

Jinyoung mencengkram tangan Jihoon yang berada di pundaknya. Sangat keras hingga membuat sedikit memar samar.

Matanya tajam menguliti Jihoon habis-habisan. Tak peduli ringisan kecil yang mulai terdengar, dengan raut wajah keaskitan.

"Sejahat itukah kau, hyung? Masih bisa kau bertanya seperti itu? "

Jinyoung lebih keras mencengkram tangan yang sudah benar memerah.

Jihoon tak bisa berbuat apa-apa, dia hanya terus mendesis.

Pada akhirnya Jinyoung menyentakkan kasar tangan yang melemas itu. Ia kembali menyadarkan akal sehatnya, terus menghembuskan napas dan kembali menghela dalam-dalam, ia sadar sudah sangat sering dirinya memberikan memar kecil pada Jihoon.

Menyadari kehadirannya di sini adalah sesuatu yang salah, Jinyoung memutuskan keluar jika saja kerah bajunya tak ditarik paksa oleh Jihoon hingga mengeliminasi jarak keduanya.

Napas Jihoon berhembus menerpa wajah Jinyoung.

Tangannya yang kesakitan gemetar di kerah baju Jinyoung.

Matanya yang selalu menyiratkan binar manis berubah kilat tajam dan memerah menahan sakit.

"KAU YANG JAHAT, JINYOUNG! KAU YANG JAHAT! DENGAR BAIK-BAIK!" Jihoon berhenti mengatur napas sejenak."—aku... Aku—aku memutuskanmu karena aku—aku tak ingin menjadi penghalang mimpimu. "

"Kau selalu berpikir aku adalah seseorang yang ambisius, aku adalah seseorang yang tak menghargai hubungan kita saat itu dan aku tahu kau menganggap seolah aku lebih memilih impianku dibanding dirimu."

"Asal kau tahu, tak ada aturan dimana trainee tak boleh memiliki hubungan spesial di agensiku. Jadi satu-satunya alasan kenapa aku mengakhiri semua karena—" Napasnya tercekat kembali. Dia harus kuat memberi tahu semua kebenaran yang sudah di simpan selama ini. "—karena aku ingin kau melupakanku sejenak hingga aku bisa melihatmu menjadi seorang trainee seperti diriku, anggap aku meninggalkanmu untuk memberi waktu mengejar semua keinginanmu. tapi ternyata kau tidak lagi melupakanku 'sejenak' kau benar-benar menghilangkanku untuk selamanya. "

Jihoon tak malu menumpahkan air matanya tepat di depan kedua mata Jinyoung yang tak bisa diartikan apa-apa.

Wajahnya masih sama, hanya sedikit guratan bibir yang tak lagi menampilkan keangkuhan.

Sedikit demi sedikit ekspresinya berubah sendu. Meski melihat Jihoon menangis tapi tak membuatnya ingin melerai air mata itu, dia tetap diam karena terlalu terkejut.

Dia tak menyangka alasan inilah yang ternyata menjadi penyebab putusnya mereka.

Seketika rasa bersalah menyeruak di dalam dirinya. Hatinya seolah berteriak sendiri 'kau yang jahat Jinyoung! '

###

TBC

Review ya shay biar cemumut~ btw makasih juga yg udah review di ch sebelumnya ^^

Di wattpad udh di UP sampe chapter 8 btw.