Inget yaaaa aku gak bikin FF ini untuk sider :p

YASSS AKHIRNYA DI WATTPAD FOR YOU UDAH END.

CHAPTER 7&8

7

Dalam dekapan yang dalam, mengalirkan semua perasaan yang tersimpan dalam benaknya, entah perasaan apa. Semuanya tercampur aduk.

Hingga sampai detik ini, senang, sedih, tawa, air mata sudah terlewati.

Jihoon tersenyum kilas, matanya terpejam. Semilir angin lewat pintu balkon kamar yang dibiarkan terbuka seolah menjadi alasan bahwa Jinyoung harus tetap memeluknya erat.

Jihoon menyandarkan kepala pada pundak Jinyoung, duduk bersebelahan tanpa ada keinginan menatap. Bukan apa-apa, Jinyoung begitupula Jihoon takut jika tak ada kesanggupan untuk melihat kristal bening kembali memupuk di kedua mata.

Di saat Jihoon mengatakan semua kebenaran, di saat itulah Jinyoung merasa paling berdosa. Dia yang dulu selalu berpikir jelek apapun yang berhubungan dengan Jihoon semenjak dirinya ditinggal pergi begitu saja.

Terasa tak ada harga diri yang masih tersimpan agar menjadi kekuatan untuk berhadapan dengan Jihoon.

Jihoon sangatlah baik.

Dia yang ceria, dia yang easy going, dia yang tak pernah lelah dengan apapun di depan kamera. Semuanya bukanlah kedok belaka, Jihoon tetaplah namja yang sama di belakang mata yang menatap dia lewat layar kaca.

"Jangan marah lagi, ne. " setiap kali bibirnya mengucap, pasti senyuman kilas tak akan lewat.

Jihoon selalu tersenyum lembut.

Senyuman yang membuatnya semakin merasa bersalah.

Jangan marah lagi?

Jinyoung meringis dalam hati.

Dia memang tak lagi marah kepada Jihoon, tak ada alasan baginya untuk membenci namja bermarga Park itu.

Tapi, ada beribu-ribu alasan untuk membenci dirinya sendiri.

"Hyung egois. " Jihoon mendongak melihat wajah Jinyoung yang juga menatapnya agak menunduk.

Jihoon terdiam sendu, haruskah Jinyoung kembali mengatainya lagi. Berapa banyak cerita kebenaran yang harus ia sampaikan, bahkan setelah semuanya telah dijabarkan, Jinyoung masih tak ingin mengerti.

"Appo! " Jinyoung meringis pedih, cubitan kecil tiba-tiba menyerang perutnya.

Ia melotot ke atah Jihoon yang sedang cemberut kesal. "Terus katakan aku egois! Kalau aku tak meninggalkanmu, mungkin kau tak bisa mengejar keinginanmu! " teriak Jihoon begitu nyaring.

"Shuuut! " Jinyoung meraih kembali kepala Jihoon mendekapnya tenggelam di badannya yang lebih kecil dari Jihoon. Mengusap surai cokelat itu begitu lembut. Menenangkan emosi yang sengaja Jinyoung pancing. Dia hanya ingin bermain-main dengan Jihoon tak ada maksud serius untuk menyindir.

"Aku hanya bercanda, hyung. " Dan untuk pertama kalinya, setelah sekian lama waktu memisahkan mereka dengan jarak yang tak sudi mempertemukan mereka dengan senyuman kini Jinyoung kembali memerlihatkan guratan lebar pada bibir tipisnya. Dia tersenyum amat senang, tak ada beban apapun. Satu tangannya mendekap pundak Jihoon dari samping, mempertemukan sisi kepala mereka berdua.

Sangat dekat.

Tak ada jarak seperti yang lalu.

Jihoon tak lagi bisa berpikir apapun selain tak menyangka bahwa waktu seperti ini akan datang juga.

"Aku—aku... Maafkan aku. " Jinyoung berbisik di telinga Jihoon. Terpaan napas yang menyentuh helaian rambutnya begitu terasa menusuk. Jihoon memejamkan mata.

Jihoon sangat merindukannya.

Merindukan sosok Jinyoung yang seperti ini.

###

"OMO?! " Jinyoung menutup telinga rapat-rapat. Memejamkan mata tak tahan dengan lengkingan keras menggema di kamar asrama yang tersisa 2 orang terjaga dari penghuni lainnya yang sudah terjebak di dalam bunga tidur.

"Kenapa kau selalu berteriak 'omo' setiap aku bercerita? " Jinyoung menjambak satu helai rambut Daehwi.

Ini adalah waktu dimana Jinyoung membuka kotak rahasianya, bercerita apa yang sudah terlewati 2 hari lalu.

Jinyoung bercerita mengenal situasi dan kondisi terlebih dahulu, dimana trainee lain tak lagi terjaga dan kamera tak sedang menyala.

"Cerita hyung selalu penuh dengan kejutan! " Daehwi masih tetap dengan ekspresi tercengang.

"Ah sudahlah, aku ingin tidur. Sana turun! " Jinyoung mendorong tubuh Daehwi agar beranjak dari ranjangnya.

"Tunggu dulu! " Daehwi menjaga keseimbangan tubuhnya agar tak terdorong jatuh. Ia menahan tangan Jinyoung untuk meminta penjelasan lebih.

"Jadi... Sekarang kalian berdua—"

"Ani. " padahal belum sempat Daehwi mengutarakan perkataan yang lengkap, Jinyoung sudah menjawab terlebih dahulu dan kembali mendorong Daehwi.

"Sanaaa pergi! aku ingin tidur. "

"Aish, apa-apaan hyung yang memanggilku ke sini, hyung juga yang mengusirku. "

"Aku sudah selesai bercerita. "

Daehwi memutar bola mata malas. Ia beranjak dari ranjang Jinyoung kembali ke ranjang miliknya sendiri.

"Hyung macam apa kau. " mendesis pelan hingga terdengar seperti bisikan kecil yang mustahil jika Jinyoung dapat mendengarnya.

"Ya! Aku dengar. " Tapi ternyata Jinyoung mendengar suara itu mampir ke gendang telinga meski pelan, ia melempar bantal kecilnya, mengenai tengkuk belakang Daehwi.

Kesal dengan hyungnya, Daehwi memungut bantal itu, menoleh ke belakang mendapati Jinyoung yang kembali akan tertidur, tak memberikan kesempatan tidur lebih awal, Daehwi menghadiahkan kembali lemparan bantal itu.

"YA! " Jinyoung berteriak hendak mengejar Daehwi yang sudah terlebih dahulu berlari menaiki ranjangnya yang berada di atas.

Dari atas Daehwi berbicara. "Anggap sebagai ucapan selamat malam dariku. " Satu cengiran lebar menjadi interaksi terakhir mereka di malam itu.

###

"Ini bukan apelku. Makan saja. "

Ketika kelas berakhir, Satu buah apel menjadi bahan pertanyaan. Buah berbentuk hati berwarna merah pekat itu tergelatak dekat tas kecil milik Jihoon yang di dalamnya berisikan air mineral, sisir, dan tint miliknya.

Tapi ia tak mengingat pernah membawa apel. Jadi bukan salahnya ketika ia mengatakan bahwa apel itu memang betul-betul bukan miliknya dan mengiyakan permintaan Guanlin yang ingin memakan apel segar itu.

Lain pendapat di pihak yang bersebrangan yang diketahui sebagai pemilik apel tersebut.

Niat ingin memberi Jihoon apel malah berujung kesal.
Terlebih mendengar Daehwi tertawa keras melihat kejadian tadi, satu hal yang paling membuatnya ingin tertawa adalah melihat raut wajah Jinyoung yang patut dikasihani.

"Kasihan sekali hyung. "

"Berisik! "

"Siap-siap saja Guanlin berlangganan toilet. "
Seakan menjadi sumpah serapah agar Guanlin sakit perut karena Jinyoung tak sudi apelnya dimakan oleh namja yang terus berdekatan dengan Jihoon.
Dalam hati Jinyoung berkata 'dia lupa. '

Dulu Jihoon pernah memberinya apel dengan paksa saat Jinyoung merasakan tak enak badan di ruang kesehatan sekolah saat itu.

Sudah berlalu cukup lama, wajar saja Jihoon tak mengingat momen itu.

Padahal Jinyoung ingin menghubungkan kenangan dulu dengan sekarang.

Jinyoung ingin menyampaikan perasaannya lewat satu buah apel yang mengartikan perasaannya masih membara.

Tapi sepertinya Jihoon tak mengerti.

Ketika kepercayaan dirinya menurun, saat itulah kedua pandangannya melekat pada lantai. Menunduk dalam tanpa memperdulikan senggolan tangan Daehwi pada sikunya. Memberikan kode adanya kedatangan seseorang.

"Hyung. " Daehwi bersuara, memanggil Jinyoung agar mengangkat wajahnya.

"Apa? Kau mau apel juga?! "Bentak Jinyoung hingga Daehwi mengernyitkan wajahnya karena terkena sedikit cipratan air liur Jinyoung.

"YA AMPUN! " Daehwi mengusap wajahnya.

"Apel? " Barulah saat suara itu terdengar, Jinyoung menatap ke depan dimana Jihoon sudah berdiri sejak tadi.

Jinyoung saling bertatapan mata dengan Jihoon, sedangkan Daehwi hanya bisa menatap dengan pandangan bodoh. 'Kenapa hidup Jinyoung hyung ribet sekali, mengutarakan perasaan saja harus dengan apel. '

"Oh ya ampun, kalian berdua ingin apel itu? Apelnya sudah di makan Guanlin." Jihoon tertawa kecil tanpa rasa bersalah. Tatapan nanar Jinyoung yang bukan berartikan kecewa karena apelnya dimakan Guanlin, melainkan karena Jihoon tak peka bahwa apel itu sebenarnya milik Jinyoung untuk dirinya.

'Oh ya Tuhan, tolong berikan kesabaran untuk Jinyoung hyung. '

Setelah mengucap dalam hati, Daehwi kembali tertawa lebih hebat dari sebelumnya.

Jihoon menatap bingung melihat tingkah aneh Daehwi. Sedangkan Jinyoung melontarkan tatapan jengkel seolah ingin merobek bibir Daehwi yang terus menertawakannya.

###

8

Ini pertama kali.

Pertama kalinya, Jinyoung maupun Jihoon tak segera bergegas pulang ke rumah setelah pelajaran di sekolah berakhir selain untuk menghadiri club.

Bel tanda pulang seakan menjadi tanda bahwa waktu mereka berdua baru saja di mulai.

Jinyoung melipat lengan seragam yang panjang hingga sampai ke siku, menegak satu tegukan cairan isotonic dari botol yang baru saja ia beli seraya menunggu kedatangan seseorang, bersandar pada pagar perpustakaan umum kota.

Sudah hampir 15 menit tapi Jihoon, namja yang ditunggunya tak datang juga.

Hari ini, dimana Jinyoung akan jujur pada dirinya sendiri. Dan pengakuannya harus disaksikan langsung oleh Jihoon.

Tak bisa menahan garis senyum tipis kala Jihoon datang sambil berlari-lari dati arah halte pemberhentian bus.
Langkah demi langkah membawanya hingga tepat berada di hadapan Jinyoung. Keringat bercucuran pada pelipis Jihoon yang turun mengalir ke bawah.

Ingin sekali Jinyoung seka, tapi sebisa mungkin ia tahan untuk tidak melakukan macam-macam.

"Maaf aku terlambat. Aku tahu kau akan memaafkanku." Jihoon berucap penuh percaya diri.

Jinyoung masih diam.
Memerhatiakn sosok namja manis penuh daya tarik.

"Baiklah, kita pergi sekarang. " Tarikan pada tangan Jihoon tiba-tiba terasa berat, Jihoon menahan tenaga Jinyoung agar berhenti.

"Aku haus. " Jihoon merampas botol yang ada pada tangan Jinyoung yang satunya. Membuka tutup botol yang segera mengeluarkan tumpahan air sejuk yang menyegarkan tenggorokan keringnya. Jinyoung tak bisa memasang raut apa-apa kecuali raut datar yang di dalamnya penuh dengan tanda tanya.

Bukankah itu ciuman secara tak langsung?

Jihoon bernapas lega setelah meneguk isi botol yang kini hampir habis karenanya.

"Jadi, kau mau ajak aku kemana? "

###

Terlalu banyak pengeluaran hanya untuk transportasi hingga sampai ke tempat ini. Tempat dataran tinggi yang menampilkan pemandangan kilauan lampu kota terhampar Indah.
Di sekelilingnya, kunang-kunang menemani waktu mereka berdua, tiba pukul 5 sore beristirahat sejenak di kedai kecil, hanya sekedar memesan makanan kecil lalu berjalan-jalan mencari pemandangan dan angin segar hingga jam tepat menunjukan pukul 7 malam.

Udara dingin seolah menyuruh Jinyoung melakukan lebih. Tapi tak ada keberanian, bahkan untuk mengucapkan satu kalimat yang sudah dipersiapkan sejak lama tak kunjung keluar.

Jinyoung membelakangi pemandangan, bersender pada pagar bambu, menatap Jihoon di sampingnya yang duduk di atas pagar bambu menyapu seluruh hamparan pemandangan kota yang terlihat keren, matanya penuh kilatan takjub.
Dan Jihoon sangat senang bisa berada di sini meski udara malam tak bisa membohongi dirinya sendiri kalau ia begitu kedinginan, terlihat bagaimana badannya sesekali bergetar.

Terlalu fokus dengan apa yang ada di hadapannya, tak menyadari ada 2 tatap mata melekat pada dirinya, memerhatikan gerak-gerik yang amat disukai oleh orang itu.

Mata Jinyoung seketika lepas dari tatapan lemat memerhatikan Jihoon, dia menatap ke atas.

"Hyung. "

"Um? " Jihoon menoleh menatap Jinyoung yang sedang mengadahkan kepala ke atas.

"Aku—aku hanya akan mengatakannya sekali. Tak ada pengulangan dan tak ada pertanyaan. "

Jihoon yang semula mengayunkan kaki mendadak berhenti mendengar Jinyoung berucap seperti itu.

Sepertinya ini akan menjadi pembicaraan yang serius walaupun setiap Jinyoung berbicara memang selalu terselip nada yang begitu dalam sehingga terdengar tak sedang bermain-main.

Dengan satu tarikan napas menggerakkan diri Jinyoung untuk berkata.

"Aku menyukaimu. " Dan inilah kalimat tersulit yang sebenarnya sejak dulu sudah tersimpan rapi di dalam hati, namun sepertinya Jihoon tak nampak terkejut dia masih asyik dengan kesibukannya mencari objeck yang lebih Indah dari satu gedung ke gedung lainnya.

Setelah beberapa detik terlewati tanpa ada suara yang memecah suasana.

Barulah Jinyoung kembali bersuara. "Kenapa hyung hanya diam? "

"Karena aku sudah tahu. " tanpa pikir panjang Jihoon menjawab.
Semudah itukah Jihoon menjawab?
Jinyoung baru saja jujur dengan dirinya sendiri, dan sudah berani mengambil risiko untuk kemudian jujur pada namja yang kini sedang bersamanya, yang kini berkedudukan atassegala penentu hidupnya untuk sekarang ini.

"Maaf. " Seketika Jinyoung meminta maaf sesaat mengetahui bahwa jihoon tak punya perasaan yang sama.

"Untuk? "

"Lupakan. "

"Apanya? "

"Perasaanku. "

"Tapi aku tak bisa melupakan perasaanku. " Jinyoung menoleh menatap 2 manik Jihoon yang terlihat jernih meski di malam hari.

"Mak—maksud hyung? "

"Tidak ada maksud apa-apa. " Jihoon terkekeh. "Um.. omong-omong aku kedinginan. " Seakan Jihoon ingin segera pergi dari tempat ini. Jinyoung tahu suasana yang semulai damai rusak seketika saat pernyataan Cintanya yang membuat Jihoon seperti risih.

"Baiklah kita pulang. "

"Pulang dengan satu pelukan perpisahan? Bagaimana? "

Perpisahan? Ya... Mungkin setelah ini Jihoon tak ingin bertemu Jinyoung lagi.

"Perpisahan untuk malam yang memberikan kita suasana Bagus. Dan kau telah merusak pertemanan kita. Bagus sekali bukan? " Tanpa ada seringai ataupun nada sinis semakin membuat Jinyoung merasa tak lagi berguna hanya sekedar menatap Jihoon tepat di matanya. Jihoon seakan mengolok-olok.

Tak Bagus sama sekali.

"Maaf—maafkan aku. "Jinyoung kembali mengucap maaf.

"Wae? Aku serius. Tak bisakah kau memberiku pelukan? Kau sudah merusak pertemanan kita dan menganggantikannya dengan tali yang lebih kuat dari sekedar berteman bukan? Aku kekasihmu mulai sekarang. " Jihoon dan Jinyoung berbeda, Jihoon tak pernah kikuk dalam bertindak, sedangkan Jinyoung kebalikannya. Jihoon menjawab seakan tak ada yang mampu membebaninya.

Tapi Jinyoung bersyukur, setidaknya Jihoon bisa mengerti bagaimana dirinya yang tak punya banyak kepercayaan diri. Tapi sialnya Jinyoung, sepertinya di masa yang sedang menunggu untuk datang, Jihoon punya banyak jebakan usil yang selalu sukses membuatnya hampir mati. Karena sebelumnya Jinyoung mengira ia akan ditolak lewat nada biasa namun sukses menohok ulu hatinya.

"Jadi, bisakah kau berikan aku pelukan? " Jihoon semakin menjadi melihat tingkah Jinyoung yang terlampau kikuk.

Dasar, Park Jihoon penggoda.

Dalam hati Jinyoung tertawa.

Perlahan penuh keyakinan, Jinyoung tak lagi bersender pada pagar bambu, dia mendekat, berdiri di belakang Jihoon yang sedikit lebih tinggi karena ia masih duduk di atas pagar bambu.

Waktu seakan sedang menghitung momen disaat Jinyoung mulai melingkarkan kedua tangan pada perut Jihoon. Tanpa Jinyoung tahu, Jihoon menyimpulkan senyuman hangat, semakin lebar senyumannya saat pelukan itu semakin erat pula.

Jinyoung menyimpan dagunya pada pundak Jihoon, menumpahkan segala letih yang ia rasakan hingga sekarang, tak mudah menyimpan perasaan cinta yang ditimbun terlalu dalam.

Memejamkan mata menikmati semilir angin malam yang kembali menyuruhnya untuk memeluk Jihoon lebih erat.

"Jangan menyesal sudah menerimaku. " Dan diam-diam Jinyoung mencoba menyesap aroma leher Jihoon.

TBC

*BTW CH INI KILAS BALIK WKT BAEJIN NEMBAK JIHUN.

Big thanks to kim naya, bbypop , Park RinHyun-Uchiha, Alphadreiz, vayazz, guest, Sattriaananta, foxykuki. THX REVIEWNYA, THX FOR BEING NICE READERS :'