Aku melihatmu berdiri di sana, membeku. Menatap seseorang dengan pandangan terluka, suara deburan ombak seakan ikut menghantam hatimu.
..sakit.
Kau masih membiarkan gadis berjilbab di hadapanmu itu bicara, wajahmu yang biasanya datar itu menggambarkan kekecewaan yang dalam.
Aku dengar gadis itu telah menetapkan pilihannya untuk meninggalkanmu dan memilih laki-laki lain.
Kau tetap bergeming, hingga gadis yang aku tahu sebagai kekasihmu itu pergi begitu saja dengan tangis di matanya. Meninggalkanmu sendirian di tengah hamparan pasir yang tersapu ombak dengan perlahan.
Aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan, dan menimbang keputusanku untuk menghampirimu atau tetap diam di sini.
.
.
.
Boboiboy © Animonsta - Story By Drazilla
Genre Hurt/Comfort, Drama
Rate T
Warning(s) : AU, ONE-SHOT!, Typos & Pairing
.
.
.
Kau duduk di hamparan pasir putih itu, memandang lurus ke depan dengan tatapan kosong. Kau bahkan tak mencoba menghindari air laut yang pasang surut menghampiri kedua kakimu.
kuberanikan diri untuk menepuk bahumu dengan lembut.
"Ying..?"
Ujarmu sedikit terkejut mendapati keberadaanku, walau ekspresi wajahmu masih sama. Aku hanya tersenyum lalu menjatuhkan diriku tepat di sampingmu.
Hening.
Hanya suara deburan ombak dan kicauan burung laut yang menjadi pengisi latar belakang. Kau masih bergeming.
Kejadian beberapa menit yang lalu masih membekas di ingatanmu. Tentu saja, itu menyakitkan. Jadi kuputuskan untuk menemanimu dalam keheningan, memberikanmu waktu untuk berdiam diri dan merenung.
Tapi aku tidak akan membiarkanmu sendirian.
"Kau.. tahu aku ada di sini? Bagaimana?"
Tanyamu tiba-tiba, tanpa mengalihkan perhatian dari hamparan laut biru dan cahaya senja yang merekah di langit. Aku sedikit tersenyum mendengar pertanyaanmu itu. Aku tahu, kau tak akan mengingatnya.
Ya, tentu saja. Pikiranmu masih dipenuhi dengan sosok gadis itu. Dan aku memakluminya.
Beberapa jam yang lalu, kau memintaku untuk bertemu dengan kekasihmu, dan mengenalkanku sebagai sahabatmu.
Di sini. Di tepi pantai tempat kesukaanmu.
"Aku hanya sedang berjalan-jalan. Dan tak sengaja melihatmu di sini."
Jawabku berdusta, Meski sebenarnya aku sangat ingin mengejek sifat pelupamu itu, tapi ku urungkan niatku. Tentu, akan kulakukan lain kali.
"Kau melihatnya?"
Tanyamu lagi. Yang kau maksud itu pasti kekasihmu-ralat mantan kekasihmu tadi. Dan ya, kali ini ku anggukan kepalaku.
Kau menghembuskan nafasmu dalam dan berat.
"Kau benar Ying, ternyata perasaannya padaku tidaklah sama. Dia tidak menginginkanku." Ujarmu dengan kecewa dan mulai bercerita.
Aku putuskan tuk menyimak dan mendengar keluh kesahmu dengan sabar.
Kau itu pemuda dingin yang pantang mengeluarkan isi hatinya. Tapi sekarang, aku tahu kau benar-benar terluka.
Kau bercerita bahwa kekasihmu pergi demi laki-laki lain. Meninggalkanmu begitu saja yang sudah menemaninya selama lima bulan terakhir.
Aku tahu Hali, kau benar-benar mencintainya dengan tulus. Meskipun dulu kau tak pernah membicarakan perasaanmu, aku bisa melihatnya dari sorot matamu.
"Aku harus pergi." Kau melirik jam tanganmu sekilas. Sebelum kau kembali berbicara, aku mengangguk.
"Pulanglah. Kurasa tak baik membiarkan orang yang baru saja patah hari berdiam diri terus di sini dan melakukan hal bodoh." Ujarku sembari tersenyum jahil ke arahmu.
"Sial, kau pikir aku akan melakukan itu?" Jawabmu sedikit kesal, tapi aku tahu itu hanya canda.
Sebelum kau pergi, aku sempat memberikanmu kata-kata penyemangat yang hanya kau balas dengan mengacak puncak kepalaku seraya tersenyum, lalu pergi.
Sekarang aku sendirian, tak bergeming dari tempatku. Memandang matahari yang mulai tenggelam, merampas cahaya senja yang begitu indah.
Tiba-tiba sekelebat ingatan melintas di benakku.
Ah ya.. lagi-lagi aku mengingatnya.
Saat kau menyatakan cinta padaku di tempat ini tiga tahun lalu, adalah hari yang benar-benar indah.
Dan semuanya berakhir, ketika kau memutuskan untuk melepaskan hatiku demi perempuan itu.
Kau tahu? Saat itu aku benar-benar terluka dan merutuki diriku sendiri yang telah membuang dua tahun waktuku denganmu.
Ya, aku hancur. Aku tahu rasanya dicampakkan begitu saja. Aku tahu rasanya digantikan oleh orang lain.
Aku tahu perasaanmu, Hali.
Tapi ternyata sejauh apa pun kita terpisah, aku lagi-lagi kembali ke sisimu.
Namun kali ini, sebagai seorang sahabat.
Aku tak bisa mengelak kenyataan bahwa perasaan ini masih sangat nyata, perasaan hangat masih aku rasakan setiap kali kita bersama.
Rasa cinta itu belum hilang untukmu.
Tapi tak apa, aku senang. Hanya dengan berada di sisimu sebagai seorang teman. Mendengar kisahmu tentang gadis itu, memberikanmu semangat, dan menawarkan bahu untuk bersandar.
Meski tentu saja aku terluka.
Tak apa Hali, aku akan melakukan apa pun. Agar sudut bibirmu terangkat, agar wajah datarmu berubah menjadi senyuman manis yang selalu kusuka.
Karena pada akhirnya, sedalam apapun kau melukaiku, membuangku dan menyia-nyiakanku, rasa itu akan tetap ada.
Aku bangkit dari tempatku duduk dan mulai berjalan, menyusuri pasir hangat ditemani sisa cahaya yang meredup.
Halilintar, aku rela jatuh berkali-kali. Hanya untuk jatuh cinta padamu. Lagi, dan lagi.
.
.
.
Fin.
Argh lagi-lagi bikin cerita mellow kayak gini. Entah kenapa kalau lagi galau, yang keluar dari otakku itu yang beginian /lempar meja
Terima kasih udah baca! Jangan lupa review! ^^
