Feeling?

Naruto © Masashi Kishimoto

.

.

.

WARN: Jika ada kemiripan cerita, dan alur. Itu hanyalah unsur ketidak sengajaan. Karena fict ini asli karangan saya. ;-)

TYPO/GAJE/OOC/EYDancur.

Kabar pernikahan sang pahlawan desa dengan putri dari klan Hyuga sudah tersebar bebas di Konoha. Pernikahan yang diselenggarakan tepat pada musim semi itu, menjadi kebahagiaan seluruh warga desa Konoha, serta desa-desa tetangga. Kini semua tengah disibukkan dengan mencari hadiah pernikahan yang tepat untuk Naruto dan Hinata. Tak terkecuali para ninja Konoha 11. Termasuk team Guy. Mereka secara langsung mendapat misi rahasia itu dari Hokage, mengingat pernikahan Naruto dan Hinata sangatlah istimewa.

.

.

.

Mentari mulai menunjukkan sisinya pagi itu. Cuaca yang cerah dan segar. Cocok untuk mencari sebuah hadiah pernikahan untuk Naruto dan Hinata. Langkah kakinya yang ringan, menapak pada jalanan Konoha yang pagi itu lumayan ramai. Sebuah lengkung di bibirnya mulai naik ke atas, menandakan suasana hatinya yang cerah. Gadis dengan cepolan rambutnya itu, menoleh ke arah sosok pemuda yang tengah menyender pada sebuah dinding bangunan tak jauh dari rumahnya. Langkahnya berjalan mendekat, menghampiri pemuda Hyuga yang bersedekap ditengah lamunannya.

"Neji? Kau sudah menunggu lama?"

Tenten menepuk pundak Neji, menyadarkan pemuda itu dari lamunannya. Neji tersenyum sembari mengangguk ringan.

"Kita pergi sekarang?"

"Baiklah,"

Hari ini, Tenten memang berencana mencari hadiah pernikahan bersama dengan Neji. Sebenarnya Neji lah yang mengajak Tenten pergi bersama. Pemuda itu beralasan jika dirinya tidak pandai memilih sebuah hadiah dan pasti akan membutuhkan saran dari Tenten nantinya. Dan jujur saja, Tenten senang mendengar perkataan Neji.

Mereka berjalan menuju ke sebuah toko souvenir, barangkali mereka mendapatkan sesuatu yang menarik di sana.

"Lihat ini, Neji. Baguskan?" Tenten menunjukkan sebuah bingkai foto antik dengan pernik bunga di setiap tepinya. Menyodorkan bingkai foto itu pada Neji.

"Aku yakin, Hinata akan senang mendapatkannya," lanjutnya. Neji mengerutkan alisnya tidak suka.

"Kurasa itu terlalu biasa, Tenten. Bisa kau tunjukkan yang lainnya?"

"Yah, baiklah. Tunggu sebentar,"

Tenten kembali meninggalkan Neji. memilih-milih kira-kira benda apa yang akan disukai Neji. Dari jauh Neji memperhatikan, ia memutar bola matanya ikut mencari. Sejenak, matanya terhenti pada sebuah liontin dengan bandul limas bewarna lavender. Keningnya berkerut, sebelum akhirnya berjalan mendekati liontin yang terpajang di sebuah patung leher. Tangannya terulur hendak meraih benda itu. Tapi-

"Pilihan bagus Neji. Liontin yang sangat indah. Tapi, apa kau yakin dengan itu? Lihatlah berapa besar harganya. Tapi jangan pedulikan itu, maksudku Hinata pasti akan menyukai dan bahkan pasti akan lolos pemilihan. Apa kau mau aku menyuruh mereka membungkusnya?"

"Tidak, aku tidak ingin ini sebagai hadiah pernikahan. Apa kau dapat sesuatu yang lain?"

Tenten mendesah pelan. Sepertinya selera Neji sangat tinggi, mengingat dia adalah bagian Klan terkaya di Konoha.

.

.

.

.

"Bagaimana Neji, masih tidak ada yang cocok untuk mu?" tanya Tenten yang mulai kelelahan. Sudah hampir 3 jam mereka berkeliling, serta sudah puluhan toko mereka masuki tanpa membeli apapun. Dan bahkan tidak ada satupun yang menarik perhatian Neji semenjak tadi. Neji menyadari jika temannya itu mulai kelelahan.

"Apa kau lapar? Kita bisa mampir ke Ichiraku, terlebih dahulu," Tenten menatap Neji dengan tatapan pasrah.

"Yaya, terserah kau saja. Aku sudah berjanji akan menemanimu hari ini. Jadi terserah kau saja," ucap Tenten mengibaskan tangannya didepan wajah. Sementara Neji hanya terkekeh melihat sikap Tenten.

"Baiklah, ayo."

"Neji-san?" panggil seseorang tiba-tiba. Pemuda yang namanya dipanggil pun membalikkan badannya, menatap seseorang yang memanggilnya.

"Anda...?" Neji menyipitkan matanya, berusaha mengingat sosok di depannya yang sepertinya pernah berjumpa dengannya di suatu tempat.

"Aku Shion, dari desa Kincir. Apa kau melupakan ku?" Gadis bernama Shion itu melempar senyumnya ke arah Neji dan Tenten. Sebelum mata Neji membulat seketika.

"Aa, Shion-sama. Senang bertemu dengan mu lagi," Neji berojigi di depan Shion. Sementara Tenten menarik lengan baju Neji, memberi tatapan seolah bertanya.

"Aa, perkenalkan Tenten. Ini Shion-sama. Dia adalah seorang Miko dari desa Kincir. Kau ingat ketika aku dan Naruto pergi menjalankan misi ke desa Kincir, demi melindungi sang Miko 'kan?"

Tenten menerawang, sebelum akhirnya mengangguk ragu. Ia ikut berojigi sembari melempar senyum. Mungkin hanya perasaannya saja, atau Neji memang terlihat senang dengan pertemuannya dengan si Miko itu. Dapat dilihat dari wajah pemuda itu, serta senyum yang masih menghiashi wajah Neji. Senyumnya yang manis yang bahkan nyaris tak pernah di tunjukkan pada siapapun, selain dirinya. Perasaan tidak enak tiba-tiba di rasakan oleh Tenten.

"Dan, Shion-sama, dia adalah Tenten. Teman satu timku," kata Neji memperkenalkan.

"Senang bertemu dengan mu, Shion-sama," ujar Tenten berusaha tersenyum tulus.

"Aku juga," Shion memperhatikan Tenten sejenak, kemudian tersenyum.

"Ngomong-ngomong bagaimana kabar Naruto-kun?"

"Dia baik-baik saja, selain itu dia justru tengah sibuk mempersiapkan pernikahannya," kata Neji, Shion terlihat terkejut sebelum akhirnya tersenyum manis. Mereka terlihat begitu akrab di mata Tenten. Atau sekali lagi ini hanyalah perasaan Tenten saja.

"Begitukah?"

"Iya. Dan kami tengah mencari hadiah untuk pernikahan nya." Neji membalas sembari mempertahankan senyumnya. Mengabaikan gadis disampingnya yang tengah menatapnya sendu.

"Hadiah ya? Hm... Neji-san, boleh aku ikut denganmu. Maksudnya, sepertinya aku juga aku ingin memberikannya hadiah. Dia sudah banyak menolongku, dan menyadarkanku dulu. Bisakah kau membantuku sekali lagi?"

Tenten mengangkat wajahnya terkejut dengan perkataan Shion, sedikit dalam hatinya menolak jika Shion juga akan ikut bersamanya. Ia menoleh ke arah Neji yang justru tersenyum tidak keberatan. Mungkin memang benar. Mereka terlihat sangat dekat tanpa Tenten sadari. Dan entahlah, Tenten tidak mengerti mengapa dirinya keberatan dengan itu semua. Mungkin diamnya ia, adalah yang terbaik saat ini. Ia memalingkan wajahnya, pasrah dengan keputusan Neji.

"Baiklah, saya senang anda mau ikut bersama kami. Iya 'kan, Tenten?"

"T-tentu saja," jawabnya gugup.

"Tapi, Neji. Bisakah kita pergi ke Ichiraku, seperti katamu tadi? Aku lapar," bisik Tenten, membuat Neji tersenyum ringan.

"Baiklah. Aa, Shion-sama. Apa anda ingin ikut makan siang bersama kami?"

"Tentu saja. Kebetulan, aku juga sudah lapar," jawab Shion, menyetujui ajakan Neji.

Tenten menghela napasnya panjang, berusaha mengendalikan dirinya sendiri. Ia memandang Neji yang berjalan beriringan dengan Shion. Sementara dirinya mengekor dibelakang Neji. Mereka berdua mengobrol, seolah tengah melepas rindu setelah lama tidak bertemu. Bukankah mereka terlihat terlalu akrab? Perasaan tidak nyaman ini terasa aneh, dan menganggunya. Tenten merasa dirinya ingin pergi dari hadapan kedua manusia yang berjalan di depannya. Tapi, kenapa? Apa yang salah hingga Tenten merasa kurang menyukai sang Miko cantik itu.

.

.

.

.

"Konnichiwa!" seru Tenten begitu masuk ke kedai ramen Ichiraku.

"Selamat datang," sambut Ayame, membuat Tenten nyengir kuda.

"Lee, kau disini?" tanya Tenten duduk di samping pemuda berambut bob itu.

"Yosh, Tenten, Neji, dan..." Lee menghentikan perkataannya. Dirinya sibuk mengamati sang Miko.

"Dia, Shion-sama, Lee. Kami pernah bertemu ketika menjalankan sebuah misi," jelas Neji ikut duduk di disamping tenten. Lee beranjak dari duduknya dan menjabat tangan Shion bersemangat.

"Senang bertemu denganmu Shion-sama. Teman Neji adalah temanku juga," ucapnya berbinar.

"Lee! Bersikaplah sopan," tegur Neji.

"Konnichiwa! Ehh? Team Guy sedang disini semua ya?" tanya Ino di susul Shikamaru yang langsung duduk disamping Lee.

"Yosh!" jawab Lee, sementara Neji dan Tenten hanya mengangguk setuju.

"Waah. Tapi, siapa yang disamping Neji?"

Ino menyeringai sembari memajukan wajahnya ke arah Shion.

"Dia sangat cantik, dan manis," lanjut Ino, membuat Shion merasa bingung.

"Aku, Shion dari desa Kincir," jawabnya gagap karena ditatap sangat dekat oleh Ino.

Tenten yang memperhatikan hanya bisa menundukkan wajahnya. Ia tidak mengerti tentang perasaan aneh yang sedari tadi membuatnya terganggu. Yang jelas, ia sedikit kesal setiap kali melihat Neji menunjukkan senyumnya pada Shion.

"Apa kau bersamanya sekarang, Neji?" tanya Ino iseng, membuat semua yang berada di situ memandang Ino terkejut.

"Apa? Apa yang kukatakan salah?"

"Aa, bukan. Kami hanya..."

"Yah, sulit memang untuk mengatakannya, Neji. Tapi, jujurlah pada kami," tambah Lee ikut-ikutan. Neji segera mengibaskan tangannya didepan wajah sembari menggeleng.

"Bukan-bukan! Kalian salah mengerti. Tidak seperti itu, Lee!" Neji memandang Lee dengan tatapan tajam. Lee hanya menggidikkan bahunya tanda tak mengerti isyarat dari Neji.

"Mendokusai, nee. Aku mau makan, bukannya mendengarkan rumor," ujar Shikamaru yang tengah menopang wajahnya dengan tangan kanannya. Yang segera dipukul oleh Ino.

"Yosh, aku pesan ramen seperti biasa, Ayame. Bisa cepat sedikit, aku sangat lapar," teriak Tenten, membuat semua menatapnya. Tenten terdiam, sementara semuanya ikut memesan tanpa memusingkan perilaku aneh yang ditunjukkan Tenten.

"Hey, tidak perlu berteriak begitu," timpal Shikamaru, Tenten terdiam, tidak mempedulikan Shikamaru yang merasa terganggu dengannya.

'Bersama? Cantik? Akrab? Kenapa aku bersikap seaneh ini?' batinnya masih menundukkan wajahnya.

'Aku tidak mengerti sama sekali. Bahkan aku tidak bisa memahami diriku sendiri. Apa yang salah hingga aku merasakan hal aneh. Kenapa dadaku terasa sesak. Memandangnya membuat ku terluka. Kenapa? Apa yang salah dengan Miko itu, hingga aku berusaha menepis kehadirannya yang mengangguku. Kenapa dia menggangguku padahal dia tidak berbuat apapun? Kami-sama, apa aku sakit? Hingga tidak bisa berpikir jernih, serta bersikap normal?' Tenten menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia memejamkan matanya, mengusir hal yang aneh di pikirannya. Tenten terkejut, ketika Neji menepuk pundaknya. Ia menoleh kearah Neji yang tengah menatap nya cemas.

"Ada apa? Kau baik-baik saja?" Tanya Neji membuat Tenten memandangnya lekat.

'Perasaan itu, muncul kembali,' batinnya, Neji memandangnya heran. Iris coklatnya memandang kedalam Mata lavender Neji. Mata mereka bertemu untuk sepersekian detik. Tenten terbuai dengan pesona itu, dan kesulitan untuk menarik dirinya sendiri. Ia tidak bisa mengalihkan matanya pada hal lain, seolah manik lembayung muda itu telah menguncinya untuk tetap memandangnya.

'Aku menyukainya? Mungkinkah?'

"Tenten?"

'Apa perasaan ini berarti bahwa aku...'

"Tenten!?"

"Eh? Gomen ne," jawabnya memalingkan wajahnya secepat mungkin. Ia mengambil uang di saku celananya yang akhirnya diletakkan diatas meja.

"A-aku sudah selesai. Aku pergi dulu, Neji. Jaa mina!"

Buru-buru Tenten bergegas beranjak dari tempat duduknya, berniat meninggalkan tempat itu sebelum tangan Neji meraih lengan nya.

"Kau bahkan belum menyentuh ramen mu, Tenten."

Neji memperhatikan ramen yang bahkan belum tersentuh di atas meja serta Tenten bergantian. Tangan kanannya masih ia gunakan untuk menahan lengan Tenten yang tampak gugup.

"Aku baru ingat sesuatu, dan harus segera pergi,"

"Tapi, bukankah kau yang bilang jika kau sangat lapar,"

"Eeh! E-etto?"

"Dan, kau sudah berjanji menemaniku mencari hadiah pernikahan untuk Naruto hari ini 'kan?"

Tenten tertunduk, ia menghela napas dibarengi dengan tangannya yang melepas tangan Neji dari lengannya. Tatapannya berubah menjadi sendu.

"Gomen, Neji. Aku ada urusan yang lebih penting. Selain itu, kau bisa mengatasinya bersama dengan Shion-sama." Tenten mengangkat bibirnya ke atas. membuat sebuah senyum simpul yang justru mengakibatkan kerutan muncul di dahi Neji.

'Lebih penting?' batin Neji bingung.

"Sudah ya, aku pergi dulu. Jaa mina!" Tenten melambaikan tangannya sembari tersenyum. Melangkahkan kakinya meninggalkan kedai ramen itu.

"Oiy Neji. Apa ada yang aneh denganmu? Tidak biasanya kau menahan Tenten dengan alasan sepele seperti itu," tanya Ino mengerutkan dahinya, sembari menatap Neji yang masih memperhatikan kepergian Tenten.

"Benar, Tenten-san bahkan berkata, bahwa kita bisa mengatasi ini," tambah Shion. Neji menghela napas sebelum akhirnya tersenyum setuju.

"Baik semuanya, ayo kita makan! Itadakimasu!" seru Lee, mulai menyumpit ramen di hadapannya dengan buas.

.

.

.

.

Tenten menatap langkah kakinya yang berjalan perlahan. Senja mulai timbul, bahkan pantulan cahayanya yang bewarna orange terlihat jelas melalui danau yang terlihat tenang dan damai. Berbeda dengan hatinya yang sedari tadi membuncah tak karuan. Tenten tak mengerti dengan dirinya sendiri. Untuk mendefinisikan apa yang ia rasakan saja serasa sangat sulit. Perasaan bergejolak di dalam hatinya membuatnya merasa kesal. Ia mendesah pelan, melemparkan pandangannya ke arah danau yang tampak bewarna jingga yang di akibatkan oleh pantulan mentari yang mulai turun.

"Tenten?"

Tenten terpaku ketika suara yang sangat dikenalnya masuk melalui indera pendengarnya. Ia merasa ragu bahkan untuk menatap ke arah pemuda pemilik suara bariton itu. Ia menoleh ke arah Neji. menghadap tepat di depan Neji.

'Aku menyukai Neji.'

'Kenyataan bahwa aku menyukainya adalah hal yang selama ini mengangguku,'

'Dan seberapa keraspun aku menepisnya. Aku selalu melihat Neji, terus menerus dan selalu berulang. Seolah memang hanya Neji lah yang ada di dalam otak dan hatiku. Tapi, kenapa? Kenapa harus Neji? Kenapa aku harus merasa sakit? Kenyataan bahwa Neji adalah seorang Hyuga membuatku terluka. Aku... tidak seharusnya menyukainya 'kan?'

"Kau jadi sering melamun, dan mengacuhkanku begitu. Apa yang kau pikirkan jauh lebih penting daripada menjawab sapaan dariku, tenten?"

Tenten mendongakkan wajahnya menatap Neji. Matanya membulat seakan tak percaya dengan yang dikatakan oleh Neji. Hatinya bergetar, tubuhnya serasa menengang. Sungguh Tenten tidak mengerti, bagaimana dirinya bisa merasa lumpuh, hanya melalui tatapan mata Neji yang tajam dan tegas itu. Mungkin dirinya sudah terlalu jauh terlena, dan tidak tau caranya untuk kembali. Bagiamana Neji mulai membuatnya gila hanya ketika mata mereka tak sengaja bertemu. Tentu saja, itu tidak adil bagi Tenten bukan?

.

.

.

.

To Be Continue...

.

Author kembali dengan cerita yang sedikit dipaksakan sebenarnya. Hehehe

Awalnya ingin saya buat jadi one-shoot. Tapi karena kepanjangan jadi saya buat two-shoot. Semoga aja jadi gak aneh ya.

So review, and wait second chapternya ya!

Big thank's for read and review! ;-)