.
.
.
Desclaimer: Member EXO sepenuhnya milik Tuhan YME, saya hanya meminjam nama dan karakternya saja.
Story by Slinyswie
Cast: Do Kyungsoo, Kim jongin (Kai), etc.
Warning: Gaje, Typo(s), Yaoi inside, and Absurd
.
.
.
Happy Reading
Prang
Gawat. Apa aku baru saja menyenggol sesuatu?
.
.
.
Brak
"Lewat sini,"
Jongin menurut dengan orang yang menarik tangannya menjauh dari tempat itu. Awalnya ada sedikit perlawanan dari Jongin karena ia tak tahu sama sekali dengan siapa ia kini. Namun, setelah melihat keadaan yag tak memungkinkan, Jongin tak mau ambil pusing berdebat dengan orang yang masih memegang tangannya sambil berlari ini. Seseorang yang tidak dikenal Jongin.
Seseorang itu terus saja berlari membawa Jongin. Hingga tak terasa lorong tempat mereka berada tadi pun sudah terlewati. Kini mereka berada dilorong selanjutnya disekolah itu.
Jongin yang bingung hanya menurut, sampai seseorang itu berhenti disebuah ruang. Sebuah tempat yang cukup gelap dan Jongin sendiri menyebutnya dengan ruang minim cahaya. Tunggu, minim cahaya?
"Ssst," orang itu membungkam mulut Jongin dengan satu tangannya yang bebas dan satunya lagi dimulutnya sendiri, mengode Jongin untuk tetap diam. Jongin lagi-lagi hanya menurut.
"Sial, kemana mereka pergi. Padahal larinya tadi ke arah sini,"
"Hyung! Sudahlah, tidak usah dikejar lagi. Lebih baik kita pergi dari sini."
Setelah itu, suara derap kaki yang menjauh membuat lega Jongin dan seseorang itu. Beberapa detik mereka saling pandang, lalu dengan gugupnya seseorang itu tersadar dan reflek menjauh dari Jongin. Karena sebenarnya jarak mereka sangatlah minim.
Seketika suasana canggung tercipta diantara mereka. Orang tadi sudah menyibukkan dirinya dengan terus bergerak gelisah. Sedangkan Jongin malah melempar tatapan curiganya pada orang tersebut.
"K-kenapa menatapku seperti itu?" orang itu bersuara juga setelah menyadari tatapan Jongin.
"Ah, kau pasti bingung kenapa aku membawamu kesini?" Melihat Jongin tetap diam ia pun kembali melanjutkan perkataannya, "Perkenalkan, namaku Taemin. Aku juga sekolah disini."
Jongin tetap pada posisinya. Orang itu, Taemin. Terpaksa harus berujar kembali.
"Biar kujelaskan. Ketika aku ingin pulang, aku tak sengaja melihatmu. Lumayan lama aku berada dibelakangmu, sampai kau memecahkan vas bunga yang ada disana. Kau terlihat sangat ketakutan dan gelisah. Jadi, aku berinisiatif untuk membawamu kesini."
"Apa itu benar?" nada bicara Jongin terdengar dingin dan menusuk.
"Apa?" jawab Taemin. Dengan pertanyaan semacam itu, sama saja artinya Jongin tak percaya dengan semua yang dikatakan Taemin barusan.
"Kau benar-benar berniat menolongku atau ingin menculikku?" kini Jongin melangkah mendekat.
"Hah, menculik?! Yang benar saja," Rasanya Taemin ingin tertawa mendengar ocehan Jongin yang sudah kelewatan.
"Sebenarnya aku tidak ingin menuduhmu. Tapi," Jongin menatap lekat pada sosok Taemin didepannya.
"Kau menuduhku. Kau tak percaya semua yang ku katakan. Aku menolongmu, hanya itu. Tidak ada maksud apapun, apalagi berniat menculikmu."
Jongin mendekatkan wajahnya pada Taemin. Mencari sesuatu dibalik mata itu, "Um, apa aku harus percaya begitu saja denganmu?" Taemin terbelalak, tak percaya dengan yang baru ia dengar dari mulut Jongin.
"Buktikan padaku, agar aku bisa mempercayaimu." lanjut Jongin.
"Kau masih tak percaya?"
"Tentu."
Taemin seketika frustasi. "Astaga,"
"Kenapa? Apa aku salah? Aku hanya ingin memastikan apakah kau tidak memiliki niatan buruk terhadapku, hanya itu." jawab Jongin santai
"Kau masih belum mengerti juga ternyata."
"Memang. Maka dari itu, kau harus membuatku mengerti."
"K-kau," tunjuk Taemin. Jongin masih pada ekspresinya. Taemin sepertinya harus memutar otak untuk menghadapi Jongin. Ia harus memikirkan kata-kata yang benar, sebelum mengeluarkannya dari mulut hanya untuk membuat Jongin paham akan situasi yang terjadi.
"Baiklah. Apa kau terluka?"
"Sejauh ini belum,"
Apa maksudnya dengan belum? "Kau selamat, bodoh."
"Untuk saat ini kurasa begitu."
Oh ya ampun. "Aku tidak melakukan apapun padamu bukan?"
"Tadi kau membekap mulutku."
"K-kau! Selain bodoh, tak tahu caranya berterima kasih juga, ya." Taemin kembali menunjuk Jongin kini tepat didepan wajahnya lalu pergi begitu saja. Sedangkan Jongin tetap mempertanyakan alasan Taemin membantunya sampai ia benar-benar menghilang dibalik pintu ruang tempat itu.
Seketika Jongin terdiam menyadari sesuatu, "Aish, sialan. Aku ada dimana."
.
.
.
"Silahkan isi formulir kalian. Setelah selesai, serahkan kembali pada sunbae-sunbae disana." tunjuk Suho selaku juru bicara kearah Lay, Jongdae, Luhan, dan Baekhyun yang sekarang berada dibelakang seluruh murid baru. Ia kemudian tersenyum dan berlalu dari tempatnya berdiri. Sebelum itu ia berkedip pada anggotanya, mengisyaratkan mereka untuk melanjutkan kegiatan yang sedang berlangsung.
Dengan serempak semua murid mulai sibuk dengan formulirnya masing-masing. Tidak ada lagi kebisingan, semua fokus pada apa yang sedang mereka kerjakan.
"Kemana saja kau? Aku tak bisa menemukanmu dimanapun. Jika satu menit saja kau terlambat, mereka yang berdiri disana pasti akan menghukummu." bisik Sehun pada Jongin geram. Jongin sendiri sedang mengatur nafasnya yang tersengal.
"Aku tahu, bodoh. Aku lama karena tadi sempat tersesat," sahutnya.
"Pelankan sedikit suaramu, Jongin." Sehun berujar setelah melihat reaksi beberapa orang yang ada didekat mereka. "Aigoo, lihatlah, akibat keegoisanmu kau tersesat, Jongin. Ck, padahal aku jelas-jelas mau menemanimu tadi,"
Jongin melirik tajam kearah Sehun, "Lalu kita tersesat bersama? Begitu?"
"Yak, itu tidak akan terjadi-"
"Kalian berdua! Apa kalian sudah selesai?" teriak Jongdae dari belakang.
Sehun maupun Jongin otomatis berhenti berdebat. Kembali ke posisi semula dan memilih membuka lembar formulir yang belum tersentuh sedikitpun diatas meja.
"Kalau saja dia bukan sunbae-ku, akan ku pastikan dia menyesali perkataannya." Jongin samar-samar bisa mendengar gumaman Sehun. Tak ingin repot dengan itu, Jongin memilih untuk mengambil formulir yang telah tersedia didepannya.
Mulai dari lembar pertama lalu berpindah kelembar selanjutnya. Seperti tak ada niat untuk mengisi Jongin memain-mainkan pena ditangan yang satu lagi. Sekedar melihat-lihat sampai pergerakan tangan itu berhenti disatu lembar. Jongin mulai terlihat serius, membaca setiap baris tulisan pada lembar tersebut. Beberapa rangkai kata berhasil menyita perhatiannya. Jongin tampak berpikir lalu perlahan pena yang dimainkan tadi telah berada diatas kolom pada lembar itu.
"Kelas Dance," ujar Sehun membuat Jongin terlonjak kaget. "Kau memilihnya? Kelas dance?"
Sehun berbinar. Jongin memutar bola matanya jengah. Entah apa yang ada dipikiran Jongin, namun kini ia sudah beralih ke lembar berikut formulir itu.
"Jangan bilang kau memilih kelas ini, Jongin." Lanjut Sehun, lagi.
Namun, terlambat. Jongin sudah mencontreng dikolom pada lembar ini. Meski tetap diam, Jongin seakan menjawab setiap pertanyaan Sehun dengan gerakannya.
"Aish, kau membuatku kecewa. Ku kira kau memilih kelas dance, sama sepertiku." Sehun mendengus lalu melipat kedua tangan didepan dada. Tanpa menyadari Jongin tengah tersenyum miris.
"Kau sudah selesai?" ucapnya.
"Tentu. Aku sudah menyelesaikannya tepat saat kau membolak-balik kertas formulirmu. Heh, setidaknya kalau kau tak berminat jangan terlalu diperlihatkan, Jongin. Kau sangat mudah ditebak,"
Kening Jongin mengkerut. Apa maksudnya? Bagaimana bisa dia tahu? Ini bukan yang pertama kali Sehun bisa membaca raut wajah dan juga pikiran Jongin.
"Aku memiliki mata yang benar-benar jeli, Jongin. Jadi, berhati-hatilah ketika ingin berekspresi didepanku." Sehun menyeringai sambil meraih formulir ditangan Jongin. Kemudian tertawa tertahan dan Jongin bisa melihat itu.
Sialan kau Sehun
Basket? Kau jelas ingin memilih kelas yang sama sepertiku Jongin. Tapi entah mengapa kau malah memilih kelas ini. Apapun itu, aku yakin ada sesuatu dibalik tingkahmu. Aku akan segera mengetahuinya, cepat atau lambat.
.
.
.
"APA?! HILANG?!"
Teriak serentak para anggota osis menggema diruang sekretariat. Suho nampak memijat pangkal hidungnya sementara semua mata terbelalak. Beberapa jam yang lalu setelah semua murid baru dipulangkan Suho memberitahu para anggotanya bahwa formulir yang baru saja mereka kumpulkan dan ia simpan dinakas lenyap entah kemana.
"Kau sudah memeriksanya dengan benar?" Baekhyun mulai mengobrak-abrik meja Suho.
"Hyung, kau yakin menaruhnya disini?" kini giliran Kyungsoo panik.
"Apa yang harus kita lakukan? Kalau formulir itu benar-benar hilang, kita semua pasti akan-"
"Jangan banyak bicara, Jongdae." potong Lay yang sama seperti Baekhyun, mengobrak-abrik mejanya sendiri. "Lebih baik kau bantu mencari. Aku yakin formulirnya hanya terselip disuatu tempat dalam ruangan ini."
Luhan mengangguk membenarkan perkataan Lay. Ia mulai ikut mencari disetiap sudut ruang yang ada. Jongdae sendiri hanya menurut.
"Percuma. Aku sudah mencarinya dimana-mana, bahkan disetiap tempat yang telah kukunjungi hari ini." Perkataan Suho berhasil membuat mereka terdiam. Kini perhatian tertuju padanya.
"Hyung," rengek Kyungsoo.
"Kita bicarakan ini nanti lagi. Sekarang pulanglah. Kalian semua harus beristirahat, besok kita akan bertugas kembali."
"Yak! Suho!"
"Aku akan mengurus ini, Baekhyun. Aku yang bertanggung jawab atas semuanya. Percayalah padaku," ucap Suho sambil memegang bahu Baekhyun. Baekhyun bisa merasakan Suho berusaha menenangkannya disaat Suho sendiri tidak terlihat baik. Semua pada akhirnya menuruti Suho. Meski agak kesal dengan sikap Suho yang selalu ingin menyelesaikan segalanya seorang diri.
Mungkin akan lebih baik begitu. Mengigat bagaimana sikap Suho, sedikit membuat mereka yakin. Suho tak pernah main-main dengan perkataannya, ia adalah sosok pemimpin yang dapat dipercaya. Ingin melawan pun percuma, karena ia bukanlah sembarang orang yang bisa dibujuk oleh siapapun. Kemampuan Suho dalam hal-hal seperti ini seharusnya tak perlu diragukan.
"Baiklah. Tapi, kalau kau butuh bantuan, jangan sungkan untuk menghubungi kami."
"Hyung, kami semua percaya padamu. Ingat itu," ucap Kyungsoo yang sekarang digotong Jongdae dan Baekhyun keluar dari ruangan. "Jangan lupa kabari kami juga, hyung." teriaknya untuk yang terakhir kali sebelum benar-benar menghilang.
Semua orang telah pergi, kecuali Lay yang tetap pada posisinya.
"Aku tak akan pergi. Jadi kumohon jangan paksa aku," Lay lebih dulu berujar sebelum Suho membuka mulutnya.
.
.
.
Gelak tawa terdengar memenuhi salah satu kamar di kediaman keluarga Wu. Pelakunya sendiri adalah Kris, anak tertua dari keluarga ini. Ia tidak bisa berhenti tertawa sejak mendengar sahabat karibnya bercerita perihal perasaannya. Siapa lagi kalau bukan Chanyeol. Mereka sedang duduk dikursi yang terletak dikamar ini. Chanyeol hanya merengut menyaksikan tingkah Kris. Ketika ia mulai serius berbicara, maka Kris akan mentertawainya.
"Itulah sebab kenapa aku tak ingin memberitahumu masalah ini. Huh, kau selalu saja menganggap lelucon pengakuanku "
Kris masih tertawa, "Hei, aku tak bisa menahannya. Seorang Park Chanyeol, jatuh cinta. Bukankah itu lucu?"
"Apanya yang lucu? Ah, aku menyesal sekarang."
Kris berhenti tertawa melihat Chanyeol merajuk, "Eyy, kau tahu, karenamu aku dicap sebagai sahabat tak dianggap oleh Kyungsoo. Dengarkan, SAHABAT TAK DIANGGAP. Membiarkanku mengetahui semuanya dari orang lain, apa itu tak keterlaluan."
Dasar, dia sampai mengatakannya dua kali. "Itu salahmu sendiri, Kris. Kau tak pernah menganggap serius perkataanku."
"Baiklah," Kris mendengus, "Ceritakan padaku lebih banyak. Maka aku akan membantumu."
Chanyeol sumringah, Kris tersenyum tipis. Chanyeol mulai menceritakan segalanya, berawal dari pertemuannya dengan Baekhyun sampai ia merasa mulai menyukai lelaki mungil itu. Bagaimana seorang Baekhyun telah mencuri hatinya dengan senyum manis, selalu ceria disetiap waktu yang mempertemukan mereka, hingga Chanyeol sendiri binggung kapan kiranya ia mulai menyukai sosok Baekhyun. Semua terasa begitu tiba-tiba untuk Chanyeol dan itu sukses membuat Chanyeol hilang kendali akan hatinya. Menjadikan ia bodoh ketika berhadapan dengan Baekhyun dan,
"Berisik!"
"Kyungsoo-ah," Kris terkejut dengan kedatangan adiknya. Chanyeol menjadi murung setelah sempat terkejut beberapa saat.
"Bisakah kau ketuk pintu dulu sebelum masuk, Kyungsoo. Aku sedang membicarakan hal penting dengan Kris."
"Berisik, kalian berisik! Aku tak bisa belajar karena suara kalian." Kyungsoo berteriak. Kris tercengang, raut wajah Kyungsoo tampak tak baik dimatanya.
"Kyung," Kris melangkah mendekati adik satu-satunya.
"Apa yang terjadi, Kyung. Kau,"
"Hyung, formulir yang berisi data para murid baru hilang."
"Apa?! Hilang?!" Teriak Chanyeol dari belakang. Kyungsoo mengangguk, wajahnya berubah muram.
Kris menautkan alisnya, "Kenapa bisa hilang? Setahuku, data penting seperti itu pasti berada ditempat yang penting pula. Dengan kata lain, tempatnya tidak sembarang orang bisa tahu apalagi masuki. Lalu, bagaimana bisa kecurian?"
Kyungsoo mendengus, "Hyung, aku tidak bilang ini sebuah curian. Semua orang juga tahu, kalau tempat itu tak bisa dimasuki sembarang orang."
"Kalau bukan dicuri, lalu apa Kyung? Sebuah kecerobohan yang kalian lakukan, begitu?"
"Tentu saja tidak. Kami tak akan sebodoh itu, hyung. Ini adalah pertama kalinya kami kehilangan hal yang menjadi tugas serta tanggung jawab kami. Apalagi orang yang memegang itu adalah Suho-hyung. Hal seperti yang hyung maksud, sangat tak mungkin terjadi menurutku." jelas Kyungsoo setengah jengkel.
"Tsk, Kau sangat mempercayainya, ya. Jangan terlalu berlebihan Kyungsoo-ah. Bahkan seorang pendeta pun bisa melakukan kesalahan."
"Apa maksud hyung?"
"Bukan apa-apa." balas Kris.
"Suho ada dimana sekarang? Apa dia baik-baik saja?" sela Chanyeol tepat ditengah-tengah Kris dan Kyungsoo.
"Pastinya tidak, meski wajah yang ia perlihatkan berbanding terbalik dengan kenyataannya." jawab Kyungsoo.
Kris tersenyum meremehkan, "Jadi, kau ingin membantunya, Kyung?" Kyungsoo mengangguk mantap.
Chanyeol mengambil alih pembicaraan, "Aish, Menurutmu kami harus diam saja dengan masalah ini. Kalau sampai formulir itu tidak ditemukan, maka habislah kita. Terutama Suho, ia pasti akan lebih banyak menderita karena ini. Posisinya akan terancam, atau lebih parahnya dia-"
Pletak. "Jangan bicara yang tidak-tidak bodoh." Jitak Kyungsoo tepat dikepala Chanyeol.
Kris mengangguk mengerti, "Sebaiknya kalian bergegas, akan bahaya, 'kan kalau sampai kalian terlambat." lanjutnya seraya pergi. Meninggalkan Kyungsoo dan Chanyeol didepan kamarnya.
.
.
.
Seorang guru fisika sedang mengajar diruang kelas, tapi apa yang anak didiknya lakukan malah saling berbisik satu sama lain. Setiap kata yang keluar dari sang guru seakan-akan tak mereka dengar pada saat ini. Mereka terlalu larut dalam sebuah pembicaraan.
"Apa formulirnya sudah ditemukan?" bisik Jongdae pada Lay yang ada didepan tempatnya duduk.
"Belum. Kita bicarakan itu nanti, yang penting adalah bagaimana caranya menghadapi kepala sekolah jika ia bertanya mengenai formulir itu pada kita." sahut Lay lirih, pandangannya masih ke papan tulis didepan. Namun fokusnya telah menguap kemana-mana.
"Jangan khawatirkan masalah kepala sekolah. Aku sudah menanganinya sebelum ia bertanya. Fokuslah pada mencari formulir bersama Suho. Aku bisa mengalihkan perhatian si tua itu, tenang saja." Jongdae tersenyum penuh arti.
"Seperti yang diharapkan, kau yang terbaik, Jongdae." Lay tersenyum dan beralih pada Jongdae dibelakangnya. Jongdae menyambut senyuman Lay dengan senyum angkuhnya.
Tanpa sadar pembicaraan mereka telah disimak oleh seseorang dipojok sebelah kanan mereka. Seorang itu menyeringai disela-sela kegiatannya menulis, "Heh, sudah kuduga mereka belum menemukannya." lalu beralih pada kedua sosok Lay dan Jongdae. "Aku akan lihat, sampai kapan kalian bisa mencari sesuatu yang telah hilang itu."
"Semuanya mohon perhatian." seluruh murid yang ada diruang kelas itu menatap sang guru tak terkecuali Lay, Jongdae, dan seseorang tadi.
"Hari ini kalian kedatangan teman baru. Siapakah dia kalian akan lihat sebentar lagi. Hei, masuklah," ucap sang guru sambil melambaikan tangan pada sosok dibalik pintu.
Sosok itu mulai melangkah, meski agak gemetar ia beranikan diri untuk tetap masuk. Sosoknya sudah bisa dilihat semua orang yang ada diruang itu, selain wajah. Karena ia yang menunduk, bahkan saat sampai pada meja guru pun sosok itu tetap menunduk.
Sang guru mempersilahkan ia untuk mulai memperkenalkan diri. Ia lalu mengangguk paham. Semua perhatian tertuju padanya kini, sadar atau tidak tangannya telah basah karena keringat dingin.
"Halo. Aku Xiumin, pindahan dari China. Senang bertemu kalian," Akhirnya. Sosok yang ternyata bernama Xiumin itu tersenyum manis. Membuat separuh murid berteriak kagum. Xiumin bersumpah, jika guru itu tak segera menyuruhnya untuk duduk maka bisa dipastikan ia akan pingsan. Senyumnya masih mengembang bahkan ketika ia dipersilahkan untuk memilih tempat duduk. Xiumin melirik satu persatu kursi disana, ada yang kosong. Xiumin berteriak senang dalam hati, lalu segera bergegas menuju kursi itu.
"Maaf, tapi kursi ini ada yang menempati. Hanya saja, ia tak masuk hari ini karena suatu hal. Jadi, silahkan cari tempat lain." ujar orang yang tak lain adalah Jongdae.
Xiumin mengangguk mendengar itu, ia berniat ke kursi kosong satunya, namun lagi-lagi ditahan oleh Jongdae, "Yang itu juga. Kalau kau duduk disitu, kau akan menyesal. Karena pemiliknya sangat hebat dalam hal beladiri." kini Jongdae tersenyum aneh ke arah Xiumin.
Xiumin mulai bingung sekarang, tidak ada tempat lagi selain dua tempat itu. Lalu dimana kiranya ia harus duduk. Tak mungkin, kan, Xiumin duduk dilantai. Lama ia berdiri memandangi seisi ruangan. Namun, satupun tak ada yang mengerti akan maksud pandangannya. Mereka hanya terfokus pada papan tulis didepan. Kembali Xiumin melihat sosok Jongdae yang sedang menulis-nulis sesuatu dibukunya. Dengan pertimbangan matang dalam hati, Xiumin mulai memberanikan untuk bertanya,
"Apa aku boleh duduk disampingmu? Kau duduk sendiri dan disini sudah tak ada tempat lagi. Ku mohon," Xiumin memasang senyum terbaiknya.
"Silahkan. Kebetulan aku duduk sendiri," jawab Jongdae cepat. Tak lupa pula ia tersenyum. Xiumin tentu senang, ia langsung mendudukan diri disamping Jongdae.
"Ada udang dibalik batu." Lay bergumam lirih.
.
.
.
"Ah, aku lelah sekali." ucap Baekhyun sambil merengangkan otot-otot tubuh.
"Suho, apa yang harus kita lakukan sekarang?" ujar Jongdae menanyai. Mereka kini berada dikantin sekolah setelah bel berbunyi beberapa saat lalu.
Suho tak menjawab, ia diam sambil menyesap milkshake miliknya.
"Aku dan juga Chanyeol telah mencoba mencari. Diseluruh tempat yang telah Suho-hyung dan Chanyeol datangi kemarin. Tapi, kami tetap tak menemukan apapun." sahut Kyungsoo dengan wajah murungnya.
"Apa mungkin formulir itu dicuri?" tambah Baekhyun.
"Dicuri?!" sahut semuanya.
"Memang ada kemungkinan, sih. Tapi, apa mungkin itu terjadi?" jawab Kyungsoo mengigat Kris juga pernah berkata begitu.
"Kurasa tidak. Apa untungnya mereka mencuri formulir itu? Dan untuk alasan apa mereka mencurinya?" ujar Lay.
"Benar. Kita tak punya musuh atau semacamnya. Lagipula dicuri sangatlah tak mungkin mengingat formulir itu hilang saat semua murid diliburkan. Hanya ada murid baru dan juga kita saat itu. Jadi-"
"Suho-hyung, tidak memiliki musuh atau apapun, kan, disekolah? Hyung yakin, tak ada satupun orang yang dapat kita curigai?" Jongdae terlihat kesal karena ucapannya dipotong oleh Kyungsoo. Semua memaklumi kebiasan Kyungsoo itu.
Suho nampak berpikir, "Entahlah. Seingatku aku tak punya, namun kita tak akan pernah tahu pikiran seseorang. Bisa saja ada orang yang tak suka padaku lalu melakukan hal ini. Itu kemungkinan yang wajar terjadi,"
Lay terkejut mendengar penjelasan Suho, "Jadi menurutmu formulir itu benar telah dicuri?"
"Ada kemungkinan seperti itu. Selama ini kita hanya terfokus pada mencari sesuatu yang hilang, tanpa melihat kemungkinan yang bisa saja terjadi."
"Baiklah, sepertinya tidak ada waktu untuk sekedar bersantai sekarang." lanjut Suho sambil meremas gelas milkshake ditangannya.
.
.
.
Setelah bel dibunyikan, para murid disekolah bergegas untuk segera pulang ke rumah masing-masing. Koridor nampak ramai dengan banyaknya murid yang berjalan. Namun itu tak berlaku untuk Xiumin. Ia masih setia duduk disalah satu kursi diluar kelas. Melihat orang yang berlalu lalang bersama teman masing-masing membuatnya sedikit terusik. Tentu saja, dengan statusnya yang menjadi anak baru disekolah tidaklah mudah untuk mendapatkan seorang teman. Bukan tak bisa menyesuaikan diri, Xiumin hanya tak sempat berpikir untuk itu saat pikirannya sedang dipenuhi oleh suatu hal. Suatu hal yang amat sangat penting.
Selain pindah sekolah Xiumin juga pindah rumah. Ia sengaja kabur karena menghindari keinginan orang tuanya. Menurut Xiumin sendiri, keinginan orang tuanya itu lebih ke kata paksaan baginya. Bagaimana tidak, diusianya yang masih muda, orang tuanya diam-diam telah menjodohkan Xiumin dengan orang yang bahkan tak pernah Xiumin tahu bentuk rupanya. Xiumin tak menyangka kedua orang tuanya tega melakukan itu padanya. Meski dijanjikan mereka akan dinikahkan setelah Xiumin lulus sekolah, tetap saja Xiumin tak bisa menerima. Ia merasa belum siap akan itu, bahkan tak pernah terbesit sedikitpun diotak Xiumin mengenai pernikahan.
Mengigat itu membuat Xiumin tambah pusing. Ia kini menjepit pangkal hidungnya lalu memejamkan mata sambil bersandar dikepala kursi. Mencoba mencari jalan keluar dari masalahnya.
"Sial. Aku harus kemana? Uang yang kubawa tak akan cukup untuk menyewa sebuah rumah. Untuk makan saja belum tentu cukup. Ah, coba saja kalau aku memiliki kenalan atau semacamnya disini."
"Hei, kau."
Xiumin terperanjat. Matanya menangkap sosok Jongdae dari kejauhan. Jongdae berlari mendekat, Xiumin masih menatapnya.
Apa ia baru saja memanggilku? Xiumin mengedar pandangan keseluruh penjuru koridor. Kosong. Tak ada orang lain selain ia dan Jongdae.
"Apa yang kau lakukan disini?"
Xiumin sekarang sadar. Jongdae memang berbicara dengannya. Namun, ia masih diam.
"Sedang menunggu jemputan seseorang, ya?"
"Bukan begitu. Aku," Xiumin bingung harus menjawab apa. Jongdae menunggu Xiumin melanjutkan perkataannya.
"Tak punya tempat tinggal." lanjutnya menunduk.
Jongdae terkejut lalu setelah beberapa saat terdiam ia berkata, "Kau bisa ikut bersamaku. Kebetulan aku tinggal sendiri. Apa kau mau?"
Detik itu juga Xiumin terbelalak atas tawaran yang diberikan Jongdae.
.
.
.
"Kau gila, Jongdae."
"Boleh kita berkenalan? Siapa namamu?"
"Jongin, Kyungsoo-sunbae datang."
.
.
.
Catatan:
Lama? tentu. Ku tahu aku salah, huhu. Padahal ngak ada yang nanya-_-. Yang udah review terima kasih banyak atas waktunya. Dan aku rasa ngak ada yang perlu dibalas, karena reviewnya sekedar nyuruh buat lanjut, hehe. Maaf juga kalau ada yang tak suka dengan pengulangan kata di fict ini. Udahlah itu aja, sampai jumpa di chap selanjutnya.
Salam,
Slinyswie
