Secret Melody
Chapter 2
Oh Sehun, Park Chanyeol, Kim Jungmo, Zhou Mi, Kim Jong In, Kris, Jay Kim.
EXOTRAXSJM Fict
Mature Content : Drugs, Smoking, Alcohol, Homophobic.
Disclaimer: This fict are belong mine. Characters are belong theirs mine.
Notes : FF Ini mengandung unsur serta muatan konten-konten dewasa. Dimohon yang berada di bawah umur untuk tidak membaca- atau jika nekat membaca, maka gunakan kebijakan dalam membaca cerita yang saya tulis ini.
Bukan untuk di contoh / di praktek-kan di kehidupan nyata.
DON'T BE SILENT READER
.
.
Pria berbalut jas abu-abu melangkah tergesa dengan tangan menenteng tas kerja, sesekali melirik arloji yang bertengger pada pergelangan kirinya. Netra setajam mata pisau itu bergerak gelisah dari tempatnya. Keringat dingin mulai timbul menginfasi leher serta kening yang beberapa kali berusaha ia seka dengan sapu tangan yang di genggamnya.
'Wu Yifan, ini gawat!' seseorang menyembul dari jendela mobil yang beberapa detik lalu terparkir di depan pria bernama Wu Yifan itu.
'Ada apa-'
'Nanti saja, yang penting naiklah dulu.'
Pria belasteran Korea – Amerika itu memotong, bergeser mempersilahkan Yifan masuk seraya meletakkan tas kerjanya di tengah-tengah.
'Song Qian dalam bahaya-'
'Seseorang juga tadi menelpon ku-'
Yifan menyela, ia tahu apa yang akan disampaikan pria disampingnya pasti sama seperti dengan berita dari seseorang yang menelponnya beberapa menit lalu.
'Jay hyung bisakah aku menitipkan Shixun padamu?' matanya mencari celah jawaban. Pria berdarah Amerika itu mengangguk.
'Tentu, Shixun juga putraku-' Yifan mengambil tangan Jay seraya menyalaminya beberapa kali, kentara sekali ia sungguh berterimakasih kepada Jay yang menanggapinya dengan sedikit canggung, karena Yifan yang di kenalnya adalah Yifan yang tegas, berkarisma serta memiliki harga diri tinggi. Tapi untuk kali ini, Yifan merendah, meminta bantuan kepada Jay rekan bisnisnya di Korea.
'Xiexie ni, xiexie ni, Gege,' ujar Yifan berulang kali masih menyalami serta mengguncang-guncang tangan dalam genggamannya itu. Yang disalami hanya membalas dengan senyuman.
.
.
"Sehun-" Jungmo berhenti di depan pintu kamar pemuda delapan belas tahun itu, niat hati ingin mengetuk ia melah menyimpan tanganya di dalam saku denim hitamnya.
"Aku tidak mau makan!" Sehun berteriak dari dalam kamar.
"Aku tidak mau makan dengan orang yang membenciku!" Jungmo menghela nafas. Sehun terlalu kekanakan, fikirnya. Ia berbalik meninggalkan kamar Sehun. Menuruni tangga, merapikan makanan yang disusunnya di atas meja kemudian memasukkannya ke dalam kulkas.
"Hyung- Jungmo hyung?" Sehun bangkit dari tempat tidurnya, mendekati pintu seraya ber-sikap tiarap di depan pintu, melihat apakah Jungmo masih bertahan di depan pintu atau sudah meninggalkannya. Jawabannya, Sehun tak melihat kaki Jungmo atau apapun yang bergerak di depan pintu kamarnya, ia mengangkat kepalanya mendongak keatas bernafas lega, namun di detik berikutnya…
Tubuh Sehun terjungkal, memegangi keningnya yang berdenyut nyeri seraya menatap sengit kearah Jungmo yang menahan tawa hampir meledak melihat pemandangan di hadapannya.
"Jungmo sialan!" Buru-buru Sehun mengkatupkan bibirnya merutuki mulut kurang ajarnya yang berbicara sembarangan.
"Salah sendiri mengintip di balik pintu-"
Jungmo menatap datar kearah Sehun, tangannya menggenggam dua buah botol susu pisang yang terlihat menggiurkan.
"Kalau di depan pintu namanya bukan mengintip ta-"
Lagi, Sehun mengatupkan bibirnya yang keceplosan mengakui dirinya sedang mengintip. Dan sialnya dia tak bisa menyembunyikan semburat merah yang tercipta pada pipi kanan kirinya.
"Maksudku itu-"
"Tidak jadi ngambeknya?" Sekarang Jungmo berjongkok di hadapan Sehun. Meletakkan satu botol susu pisang diatas kepala Sehun dan merosot sampai mendarat pada pangkuan pemuda pucat di hadapannya.
"K-kenapa kau memberikan ini?" Sehun mengambil susu pisang itu seraya mengacungkannya di depan wajah Jungmo.
"Maaf soal tadi, aku smoking weed dan ya… ngelantur tidak bisa mencegah-" Sehun tidak peduli, dia menunjukkan wajah masamnya.
"Kau memang membenciku!"
"Biasanya orang ngefly itu pasti mengatakan hal yang jujur dari lubuk hatinya. Aku tau kau membenciku. Lagipula aku ini siapa? Kau hanya orang yang kebetulan kasihan padaku karena aku tak memiliki siapa-siapa dan memungut ku karena aku gelandang-"
"Mph-"
Sehun tidak terlalu bodoh untuk tidak mengetahui apa yang sedang ia rasakan, jelas saja ia faham apa yang sedang terjadi. Bibir kissable itu menempel tepat di belahan bibir ranumnya yang amatiran. Matanya bergerak gelisah ketika bibir diatasnya bergerak melumat, sedikit menghisapnya sebelum benar-benar melepaskan. Untuk beberapa detik Sehun berubah menjadi idiot untuk mencerna tindakan illegal tersebut. Sialnya kupu-kupu dalam perut Sehun berkata lain dan ingin membawanya terbang sebagai imbalannya.
"Berhenti mengoceh." Jungmo berdiri, menyesap susu pisang ditangannya seraya membalikan badan, melangkah sampai ambang pintu.
"Kalau tidak mau makan, setidaknya minum susu itu." Sedetik kemudian Sehun tak dapat melihat punggung kekar yang terhalang oleh pintu bercat putih di hadapannya.
"Yang tadi itu… apa?" Mengerjapkan mata berkali-kali sebelum ia tersadar kemudian memeluk susu pisangnya dengan girang.
"Dia menciumku?"
"Sungguh?"
"Aku sedang tidak mimpi kan?" Sehun tau pertanyaan retoris itu sungguh tak berguna, tetapi dia hanya mencoba memastikan yang terjadi tadi adalah kenyataan yang tidak boleh ia lupakan begitu saja.
"Ha?! Dicium! Astaga!"
Sehun berguling diatas kasur, memeluk erat susu pisang itu seraya memejamkan matanya, terlambat untuk menyadari bahwa ciuman pertamanya dicuri oleh Jungmo kakak angkatnya.
"Ti-tidak! Aku belum tidur, ini bukan mimpi! Oh Tuhan, apa-apaan ini?" bukan hanya semburat merah, tetapi wajah Sehun benar-benar merah sekarang. Dan Sehun merasa kurang ajar karena sekarang fantasi-fantasi liar mulai menggrayangi otaknya.
.
.
"Punyamu kecil sekali," Sehun mencibir Jongin yang mengelus miliknya memicing kearah Sehun.
"Lihat nih, punyaku besar, mulus lagi, pfttt punyamu itu apa?"
"Sialan, gini-gini kalo dihisap enak tau!"
Jongin balik mencibir, Sehun memutar tangannya pada milik Jongin seraya menjejali milik Jongin kedalam mulutnya, menjepitnya diantara belahan bibir ranumnya. Walaupun masih delapan belas tahun, bukan berarti Sehun anak polos yang hanya menghadapi pelajaran atau bergaul seperti anak SMA pada umumnya, Sehun tetaplah anak SMA yang hidup penuh dengan petualangan.
"Gimana? Enak kan?"
"Lumayan sih, enak juga, tapi agak asam." Jongin kembali memicing,
"Tapi tetap dihisap, dasar munafik,"
"Tapi marijuana-nya kebanyakan goblok! Harusnya dua banding satu aja. Lu mau bikin gua ngefly di pelajaran Kibum Ssaem?"
Masih menghisap joint di tangannya, Sehun mendelik tajam kearah Jongin yang berkeksperimen gila-gilaan dengan marijuana yang baru ditemukannya.
"Anjir! Udah ngambil start segala komentarin joint bikinan gua lagi! Iya sih joint lu mulus, lebih manusiawi dari punya gua, tapi itu gak menjamin lebih enak dari punya gua kan?"
Jongin yang lebih senang di panggil Kai mengambil joint karya Sehun seraya memantiknya dengan korek api, dia menghisapnya dengan kuat, menghembuskan asapnya bebas keudara. Dua anak adam itu begitu menikmati pesta marijuana di atap gedung sekolah tanpa takut diketahui atau di pergoki murid lain atau staff sekolah. Toh kalaupun meraka ketahuan, semuanya akan aman dengan uang sogokan dari kantong tebal Jongin yang memang anak dari salah satu donatur sekolah tempat mereka belajar.
"Ngomong-ngomong soal hyung mu itu…" Jongin – ralat, Kai menatap penuh selidik kearahnya.
"Jungmo hyung?" Sehun menghentikan hisapannya, memicing kearah Kai yang sedang menghembuskan asap itu perlahan-lahan.
"Apa dia benar-benar memberikan marijuana ini padamu? Atau kau mencuri salah satu paket miliknya? Serius dia gak sadar atau dia memberikan ini setalah puas menidurimu? Hahah."
"Brengsek! Gini-gini dia gak pernah menyentuhku tau!" Sehun berhenti menghisap seraya menghembuskan asapnya keudara. Tidak pernah menyentuh selain menciumku tempo hari, bisiknya dalam hati.
"Jadi kesimpulannya?"
Kai yang masih menunggu jawaban menaikkan sebelah alisnya, bergaya seperti orang penting sambil menghisap joint di tangannya dengan dramatis menghembuskan asapnya slow motion.
Sehun mengernyit geli melihatnya, fantasi anak SMA memang liar ya...
"Aku mencuri salah satu paketnya," Sehun menjeda, menunggu reaksi Kai,
"hebat kan?" melanjutkan dengan bangga tindakan ilegalnya itu bisa saja membawa bencana untuknya.
"Ah sial!" Kai berhenti menghisap. Berdiri sejajar menghadap Sehun seraya menatap langit yang semakin terik.
"Apa kalian sering pesta?" Sehun terbahak-bahak seraya memandang Kai seakan bertanya
Are you Kidding me?
Jawabannya tentu saja tidak pernah, sudah tersentuh marijuana, Kai semakin bodoh saja.
"Well, Jongin- "
"Kai! Kim Kai!" Sengit menyela, Kai tidak pernah suka dengan nama aslinya, bahkan nametag yang terpasang pada kemeja seragamnya menggunakan nama Kim Kai yang kadang membuat guru yang mengabsen namanya menggeleng heran atau mengomel dalam hati setiap mereka menyebut Kim Jongin, dan dia akan selalu menyela sambil menunjuk nametag-nya, mengeja nama pada nametag itu agar guru yang mengabsen mengikuti ejaannya. Kim yang aneh…
"Baiklah Kai, paketnya aku titipkan padamu, jangan sampai hilang, nanti ajak Baekhyun atau Jongdae untuk pesta marijuana di Exodus, mengerti?"
Sehun mengerling seraya meninggalkan Kai seorang diri, hisapan terakhir sebelum akhirnya ia menjatuhkan joint seraya menggilasnya dengan sepatu dan berkahir dengan Sehun yang menutup pintu atap sekolah dengan santai.
Kai masih menghabiskan hisapan-hisapan terakhir sebelum sesuatu menyadarkannya.
"Dasar bedebah sialan! Sehun Oh keluarkan aku dari sini!" Jongin berusaha membuka pintu atap yang terkunci otomatis dari dalam. Ia berusaha menarik pintu itu namun hasilnya nihil. Percuma saja kalau dia meminta tolong, dan orang-orang akan menghampirinya, kemudian bertanya apa yang dia lakukan disini? Kenapa sampai terkunci di atap sekolah? Dan apa yang dia bawa? Walaupun bisa diselesaikan atas nama besar Orang Tuanya, tetap saja efeknya akan menjadi besar untuk Kai, dan juga Sehun mungkin…
Pintu itu tidak boleh di tutup dari luar, dan Sehun menutupnya entah sengaja atau memang tidak tau bahwa pintu itu sudah tak berfungsi dengan baik, satu-satunya jalan harus ada orang dari dalam sekolah membuka pintu atap itu dan ia bisa keluar dengan cepat. Tetapi murid gila mana yang mau main-main keatap selain dia dan geng anehnya?
.
.
"Sehun, ada waktu sebentar?" Sehun mengangkat kepala sedikit pening, efek marijuana hasil uji coba Kai yang berlebihan. Pria tampan itu menatap Sehun sedikit khawatir.
"Ah, jeosonghamnida, ssaem, ada, tentu saja ada." Sebisa mungkin Sehun terlihat baik-baik saja di hadapan ssaem-nya kali ini. Kibum tersenyum. Mungkin efek tiga minggu lagi semester akhir, anak-anak berlomba-lomba belajar dengan giat agar mereka naik kelas seperti yang Sehun lakukan sekarang.
"Aku ada perlu denganmu, temui aku di ruang guru setelah pelajaran berakhir, bagaimana?" Sehun mengangguk setuju.
"Tapi ssaem, aku mau ke toilet dulu." Kibum terkekeh mendengar ujaran polos Sehun yang seperti anak TK kepadanya, teman-temannya pun menghadiahi Sehun dengan sorakan bahkan ada yang melempar penghapus karet kearahnya.
"Tentu, tentu kau boleh ke toilet, Sehun, tidak perlu meminta izin dariku." Setelahnya, Kibum menyudahi pelajaran hari itu seraya keluar dari kelas menuju ruang guru yang letaknya tak begitu jauh dari kelas 2 – E.
.
.
.
"Oh Sehun?"
Chanyeol menatap Sehun yang sedang mencuci muka mengusak matanya beberapa kali sebelum bercermin hampir terperanjat menemukan bayangan Chanyeol berefleksi dihadapannya.
"Sialan, bikin kaget saja."
Sehun mengumpat, Chanyeol terkekeh mendekati punggung Sehun dan menghimpitnya. Sehun tentu saja tidak suka dengan hal seperti ini, terlebih keadaanya di toilet sekolah, siapa saja bisa masuk dan salah faham melihat mereka dengan keadaan seperti ini.
"Akan ku tunjukkan sesuatu yang menarik untukmu,"
Chanyeol merogoh saku celananya, memberikan sesuatu yang menarik untuk Sehun, dan terbukti, hal itu benar-benar menarik perhatian Sehun.
"Kita bisa bernegosiasi kok."
Chanyeol tersenyum lebar melihat refleksi Sehun pada cermin yang menapilkan sosok Sehun yang memiliki kulit pucat semakin pucat ketika melihat sesuatu yang Chanyeol tunjukkan.
"Aku bisa saja memberikannya kepada hyungmu atau…" Chanyeol masih tersenyum lebar melihat Sehun yang mendadak frustasi di depannya.
"Sebenarnya apa maumu?"
Suara itu lantang terdengar, namun ia bisa merasakan getaran dari suara yang Sehun keluarkan, kentara sekali perasaan takut, khawatir, gelisah semuanya bercampur aduk disana, dan Chanyeol hanya terkekeh melihatnya.
"Di Exodus nanti malam?" Chanyeol bertanya pada Sehun.
"Temui aku di salah satu VIP Room, jangan menghidar, kau akan tahu akibatnya."
Sehun menghela nafas kasar, tangannya meremat ujung washtafle membiarkan keran yang masih mengalirkan air dari tempatnya. Dia nampak berfikir keras. Netranya bertemu dengan netra Chanyeol yang bertatapan melalui cermin, ia mengangguk setuju sebelum akhirnya meninggalkan Chanyeol yang tersenyum puas di belakangnya.
.
.
"Index prestasimu menurun." Kibum tampak khawatir meneliti nilai-nilai Sehun yang akhir-akhir ini menurun drastis. Walaupun Sehun kurang menguasai IPA, tapi dia tidak pernah meorosot dari angka delapan. Atau paling tidak Sehun tidak pernah bergeser dari lima besar peraih juara umum sekolah.
"Apa ada masalah?"
Kibum mengamati Sehun yang sedang meneliti nilai-nilainya yang merosot.
"Tidak, sebenarnya aku memang agak kurang – ummm maksudku, akhir-akhir ini aku sering tidak mengulang pelajaran."
Pria itu jelas menampakan raut kecewa kepada Sehun. Dugaannya dikelas tadi terpatahkan tentang anak-anak yang belajar hingga larut demi mengejar prestasi, tetapi Sehun nampaknya bukan diantara salah satunya.
"Jeosonghamnida." Sehun merundukan kepalanya meminta maaf. Kibum mengibaskan tangan mengusir kecanggungan.
"Maksudku, apa ada sesuatu yang menekanmu sampai kau sulit belajar?" Kibum mendesak, kentara sekali.
"Tidak sih, aku hanya dalam frase… bosan belajar, mungkin?" Sehun tidak tau dia bertanya kepada Kibum atau kepada dirinya sendiri.
"Ya, itu wajar sih untuk anak muda sepertimu, tapi Sehun, saya mohon untuk tetap pada performamu yang stabil, oke? Saya tidak mau kehilangan satu murid unggul di sekolah ini hanya karena bosan belajar. Itu alasan orang malas."
Tidak biasanya, Kibum berbicara banyak kepada murid, setau Sehun dia adalah guru yang paling irit bercengkrama kepada murid bahkan teman sejawatnya sebagai guru.
"Hanya itu yang ingin ku sampaikan kepadamu, Sehun."
Kibum menutup buku berisi index prestasi milik Sehun seraya meletakannya di tempat Buku Index Prestasi Murid yang berjajar rapi pada yang rak yang berdiri kokoh di belakang kursi yang Kibum duduki.
Sehun berdiri dari kursinya seraya mengambil ranselnya, berpamitan kepada Kibum seraya membungkuk sebelum benar-benar meninggalkan ruangan guru tersebut.
"Oh ya, Sehun…" Sehun berhenti, menoleh kepada Kibum yang tersenyum.
"Sampaikan salamku pada kakakmu, Kim Jungmo." Sehun mengangguk seraya meneruskan langkah, tetapi langkahnya terhenti ketika ia menoleh kearah kaca jendela ruang guru yang menampilkan Kibum sedang membereskan berkas. Sehun berfikir sekeras mungkin sungguh, ia tak bisa mengabaikan hal ini begitu saja…
'Darimana Kibum ssaem mengenal Jungmo hyung?'
.
.
.
"Akhirnya…" Chanyeol tersenyum puas mendapati Sehun berdiri di ambang pintu, mendapati teman-teman Chanyeol yang segera menyerbu kearah dia berdiri membuat kekhawatiran Sehun melonjak tajam.
"Apa yang mau kalian laku-"
"kan?" Sehun melongo tak percaya ketika mereka malah tak berbuat apa-apa selain mendorong Sehun semakin kedalam seraya menutup pintu bertuliskan VIP membuat Sehun terjebak bersama Chanyeol dalam ruangan itu hanya berdua saja.
"Duduklah-" Sehun menurut, ia duduk di bangku bermotif spiral berwarna merah terang berlawanan dengan poisisi Chanyeol duduk sekarang.
"Apa maumu?" Chanyeol menyesap martini di tangannya melirik Sehun dibalik gelas berisi martini itu seraya menyesapnya lagi sampai habis.
"Bersenang-senanglah dulu, Sehun…" Chanyeol menuangkan anggur merah kedalam gelas di hadapan Sehun, mengisyaratkan Sehun untuk meminumnya menggunakan dagu.
Jika kalian bertanya-tanya bagaimana anak-anak SMA bisa masuk kedalam klub malam super rahasia ini, jawabannya adalah…
Exodus adalah klub malam dimana tidak memiliki aturan tertulis untuk usia pengunjung. Siapa saja bisa memasuki klub malam ini dengan cuma-cuma, syaratnya hanya satu. Merahasiakan keberadaan tempat ini dan tak banyak bicara soal klub malam ini kecuali orang-orang itu dapat dipercaya. Exodus bahkan memiliki forum khusus dalam Deep Web yang jarang orang awam bisa mengaksesnya, hanya orang-orang tertentu yang bisa memasuki Deep Web tanpa pengaman. Salah satunya Jongdae, hacker handal yang mampu menembus Deep Web tanpa pengaman dan berakhir baik-baik saja, tidak seperti rumor yang beredar, pengakses tanpa pengaman akan di buru mafia seluruh dunia. Nyatanya Jongdae dengan segala keahliannya mampu menembus Deep Web dan menemukan surga dunia di Seoul yang sangat tersembunyi. Disinilah surga itu… Exodus.
Jika kalian membayangkan klub malam yang berdiri megah di tengah-tengah kota. Jawabannya salah besar. Exodus berada di pemukiman warga menengah kebawah. Dengan Design mirip seperti gereja tua tak terurus, orang-orang awam pasti berfikir gereja tua itu berhantu. Tetapi pengelola merawatnya dengan baik sehingga tidak menimbulkan kecurigaan warga setempat sama sekali bahwa bangunan itu sejatinya adalah sarang bagi orang-orang yang mencari tujuan kenikmatan duniawi semata.
"Ada penjual, ada pembeli kan, Sehun?" Chanyeol memilin anggur dalam wadah berlapis perak di hadapannya, memasukan anggur itu bulat-bulat kedalam mulutnya.
"Aku tidak pernah menjual apapun kepadamu." Sehun mengabaikan wine di depannya.
"Well, itu sih terserah. Aku tinggal menyebar video pesta marijuana-mu dengan Jongin dan kalian akan di depak dari sekolah, tidak ada sekolah yang akan menerima siswa dengan kasus marijuana. Faham? Dude?"
"Hapus video itu, Park Sialan!"
"Beri aku imbalan!"
Sehun berdiri, menghampiri Chanyeol menyambar kerah kemeja yang dipakai Chanyeol seraya menatapnya dengan bengis. Chanyeol terkekeh, tak bergeming dari posisinya. Sehun tampak begitu kusut dimatanya. Dan Chanyeol sangat menyukai pemandangan itu.
"Calm down baby," Bibir Chanyeol tersungging.
"Apa yang kau inginkan?" Sehun melepas cengkramannya.
"Kau fikir apalagi?"
Telunjuk Chanyeol menelusuri wajah mulus Sehun, memperhatikan setiap lekuk wajah Sehun yang terpahat dengan sempurna. Sumpah demi wajah seindah porselen di hadapannya. Chanyeol bersumpah akan bertekuk lutut menyembah keindahan Sehun jika dia wanita. Wanita beraura Dewi Yunani yang membuatnya pasrah bersujud.
Matanya masih menelurusi lekuk wajah Sehun, dan jemarinya berhenti mencubit hidung bangir itu dengan gemas.
"Tentu saja menghabiskan satu malam yang panas denganmu."
"Bedebah sialan! Aku tidak seperti yang kau bayangkan! Aku bukan pelacur yang bisa kau sewa hanya untuk satu malam!"
"Jadi kau ingin menghabiskan malam panas bersamaku setiap waktu? Baiklah, aku tidak keberatan kok."
Sehun menggeram, tangannya bersiap melayangkan tinjuan sebelum suara berat itu menginterupsinya.
"Oh Sehun!" Tangan Sehun melemas, tanpa menatap dia tahu siapa pemilik suara itu. Pandangan netra Pria di ambang pintu itu sulit diartikan.
"Pulang, sekarang!"
Titahnya, dan Sehun menurut, meninggalkan Chanyeol yang tak beranjak dari posisinya. Pria itu jelas menatap Chanyeol dengan pandangan mengintimidasi.
"Kau…" Jungmo menatapnya dari ambang pintu, dan Chanyeol tertunduk di buatnya.
Langkah kaki itu menginterupsinya, menyadarkannya bahwa dia tidak baik-baik saja.
"Park Chanyeol," Netra monolidnya bergerak menilai. Kemudian bersiul menggoda.
"Kau tau ini belum berakhir, jangan memantik api jika tidak ingin terbakar." Setelah itu, Jungmo meninggalkan Chanyeol yang membeku sambil meraih pundak Sehun dan merangkulnya.
"Kau harus menjelaskannya setelah ini." Sehun membeku mendengar ucapan itu, sementara tangan yang beralih memeluk pinggul Sehun kini semakin erat memeluknya, membawanya menuju keluar dari surga dunia Exodus menuju neraka yang tak pernah Sehun bayangkan.
Sehun hanya bocah polos yang tersihir gemerlapnya dunia.
TBC
.
Hallo kkk Akhirnya bisa update lagi.
.
Buat yang masih malu-malu buat nunjukin diri, ayo dong tunjukkan diri kalian. Aduh Bikez deh/? Yang baca FF ini Statistiknya lebih dari 114 readers, yang nongol Cuma 4 orang yang 110-nya kemana ya? Mungkin pembaca gaib kali ya *enggak deng becanda. Walaupun gak ninggalin jejak, aku bisa lihat loh pengungjung FF ini ada berapa banyakkk kkk.
.
Gak usah malu, saya gak gigit kok ~CMIW~
.
.
Mau balas Review dulu disini ya sekalian kita ngobrol2 :v
1.
"Sehun kasian banget ya hidupnya?"
Ya begitulah Sehun selalu tersakiti setiap jadi Uke. Karma does Exist, dia kan bangsat kalo jadi Seme wakakak
2.
"Bisa gak ya Sehun ama Chanyeol jadian?"
Ya tunggu ajalah perkembangannya xD
3.
"Jungmo? Yang di Viewable itu?"
Tepat sekali! Hahaha Yup itu Kim Jungmo, gitarisnya TRAX Band dari SME kok… Dan gak banyak momen sama Sehun, tapi pas di Viewable itu sweet aja gitu litany Sehun dengan malu-malu kucingnya, Jungmo yang pasrah aja mengalah demi EXO L xD
4.
Aku juga suka Sehun jadi Uke xD Suka banget kalo dia jadi pihak yang menerima/? Pokoknya Kalau ngeliat Sehun sama Trio Bangsat, aura anak manjanya langsung keluar xD
Oke deh~ See you di chapter selanjutnya…
Jangan lupa untuk tinggalin jejak yaaa~
