Secret Melody
Chapter 3
Oh Sehun, Park Chanyeol, Kim Jungmo, Zhou Mi, Kim Jong In, Kris, Jay Kim.
EXO TRAX SJM Fict
Mature Content : Drugs, Smoking, Alcohol, Homophobic.
Disclaimer: This fict are belong mine. Characters are belong theirs mine.
Notes : Episode ini banyak episode flashback dulu ya teman-teman ^~
Bukan untuk di contoh / di praktek-kan di kehidupan nyata.
DON'T BE SILENT READER
.
.
"Apa maksudmu dengan menitipkannya? Bukankah dia masih terlalu kecil untuk tahu semuanya?"
Wanita berdarah Tiongkok itu menatap gusar kepada suaminya yang masih berdarah campuran kanada-tiongkok dalam dirinya. Netra bulatnya bergerak tak pasti mencari-cari jawaban dari pria jangkung dihadapannya.
"Ini sudah keputusanku, setidaknya jika aku mati, kau dan dia masih ada kemungkinan aman dari incaran mereka."
Tak puas, itu yang dia dapatkan dari jawaban suaminya. Membicarakan kematian, sepertinya Yifan tidak sadar telah membuat wanita dihadapannya berfikir Yifan tidak mencintainya bahkan tak menganggap penting buah hatinya. Seperti kematiannya akan baik-baik saja bagi wanita itu.
"Apa kau gila? Aku tidak masalah jika kau akan menitipkanku di tempat paling terpencil sekalipun, tatapi dia…"
Ya, diantara Yifan dan Istrinya, masih ada seorang anak kecil berusia delapan tahun enam bulan yang sedang menyaksikan perdebatan itu.
"Aku akan memberinya pengertian, tenang saja."
Kemudian helaan nafas berat terdengar, usakan rambut yang terdengar kasar memicu wanita itu semakin tak yakin dengan pertimbangan suaminya.
"… bagaimana jika mereka mengendus keberadaan kami? Bagaimana jika… aku saja yang pergi? Kau harus melindunginya bagaimanapun caranya. Aku percaya dan yakin kau pasti bisa!"
"Tapi… aku-"
Sorot tajam dari netra obsidian itu meredup.
"Apa kau setega itu kepada kami?"
Dia tahu ini terlalu menuntut, tetapi dia butuh jawaban yang mampu melegakan hatinya, setidaknya buat dia percaya dengan semua keputusan suaminya.
"Tapi kau sedang mengandung bayi kita"
Suara Yifan melemah, memberikan tatapan memohon kepada sang istri.
"Impas kan? Kau membawa sulung, aku membawa bungsu. Bagaimana?"
Ternyata wanita itu masih belum mau mengalah, ia ingin semuanya terlindungi, tapi sepertinya Yifan tidak mengerti, atau Yifan memiliki keputusan lain?
"Song Qian~"
Yifan merajuk seperti anak kecil, menenggelamkan kepadala diatas bahu sang istri, memeluk wanita itu dari samping seraya memendam wajahnya pada ceruk leher sang istri. Kalau sudah begini, Qian yakin Yifan pasti memilik alasan kuat yang dia sendiri tidak perlu tahu, dan dia mengerti akan keputusan itu. Ia menatap dalam merespon panggilan suaminya. Kemudian mengangguk seraya mengelus rambut suaminya dengan senyum tipis melengkung dari bibirnya, kemudian mengecup rambut itu dengan gemas.
"Baiklah." Dan Yifan tersenyum mendengarnya.
.
.
"Heh Sehun, kenapa jalanmu seperti anak ayam begitu?"
Sehun mendelik tajam ketika indera pendengarannya menangkap warna suara pemiliki telinga lebar dengan bibir yang tersungging keatas seolah menatapnya dengan pandangan remeh.
"Pasti habis one night stand dengan pria yang menolongnya tadi malam."
Salah seorang teman Chanyeol menimpali. Sehun menarik nafas berat, ini bukan saatnya untuk merontokkan gigi-gigi kakak kelas di hadapannya. Dia seorang anak salah satu Donatur sekolah ini, yang mensponsori seragam olahraga serta alat-alat olahraga untuk sekolah yang sedang menampungnya untuk mengecam pendidikan, tidak… Sehun sudah membuat satu masalah di sekolah, dan dia tidak ingin menambah daftar masalah lain dalam dirinya.
"Tidak bodoh! Sehun kan memang budaknya Kim Jungmo, pasti setiap malam dia melayani tuannya seperti kucing kelaparan hahaha"
Dan satu lagi siapa yang tidak kenal dengan kakak kelas super tampan tapi penuh dengan masalah ini, dia anak Kepala Sekolah dan itu membuatnya bangga melakukan bullying disini, mau sebanyak apapun kasusnya, dia akan selalu dilindungi. Dan yang di bully pun sesegera mungkin akan di depak dari sekolah ini.
"Diam kalian berdua!"
Chanyeol menatap sengit kearah dua temannya. Tapi itu tak mengurangi rasa terintimidasi dari kedua temannya. Chanyeol bukan siapa-siapa disini, hanya mantan ketua Osis serta peraih Medali Emas saat Olimpiade Matematika ketika duduk dibangku kelas dua sekitar beberapa bulan lalu.
Kepopulerannya membuat semua orang ingin ikut kedalam lingkarannya. Pintar, sexy, berkarisma, memiliki jabatan paling tinggi diantara siswa lainnya, memiliki paras tampan, pewaris sebuah perusahaan teknologi di Korea. Siapa yang tidak ingin memiliki link dengan keluarganya? Itulah sebabnya, dua orang yang berada di samping kanan kirinya ini mau saja dijadikan kacung oleh Chanyeol, agar orang tua mereka mendapatkan koneksi untuk bekerja sama dengan perusahaan keluarga Chanyeol.
Sedangkan Sehun?
"Pergi dari hadapanku Chanyeol!"
Didunia ini memang selalu ada pengecualian. Salah satunya Sehun yang sama sekali tidak tertarik dengan embel-embel yang dibawa Chanyeol. Toh Sehun memang tidak mempedulikan setiap embel-embel yang di bawa oleh siswa lain. Asalkan dia bisa sekolah saja itu sudah cukup.
"Mau ku bantu?"
Chanyeol mengulurkan tangannya, menatap Sehun dengan serius.
"PERGI DARI HADAPANKU SEKARANG!"
Menepis tangan itu dengan keras seraya meneriaki pemuda itu dengan sengit. Sehun sangat bersifat defense.
"Wow! Santai saja sayang, aku hanya berniat membantumu kok."
Chanyeol dengan cirri khasnya berusaha merayu Sehun untuk menerima uluran tangannya sekali lagi. Dia benar-benar ingin membantu Sehun kok, tidak bermaksud apa-apa, tapi Sehun malah meninggalkannya dengan langkah sedikit tertatih sambil memegangi pinggangnya seraya meringis membuat telinga Chanyeol linu mendengarnya.
Chanyeol panik ketika melihat langkah kaki itu sedikit limbung, dia meneriaki Sehun untuk membuat pemuda itu berhenti. Tapi Sehun yang keras kepala terus melangkah tak mempedulikan Chanyeol yang dengan kepanikannya menyuruh dua temannya untuk menyusul Sehun yang kemudian ambruk di depan kelas, membuat seisi kelas heboh melihat Sehun tersungkur lemah. Dengan segera Chanyeol berlari, mengangkat tubuh Sehun dengan suhu badan yang panas menuju UKS.
"Sial, merepotkan saja!"
.
.
.
"Kenapa aku ada disini?"
Setelah membuat Chanyeol membolos di jam ke tiga setelah Istirahat tadi dan membuatnya menunggu Sehun dengan gusar di UKS, sekarang Sehun bertanya-tanya setelah sadar ala-ala sinetron yang sering di tonton keluarganya dengan pertanyaan familiar seperti itu. Chanyeol sungguh ingin menelan Sehun hidup-hidup. Dasar anak Drama!
"Pria Brengsek itu berbuat apa kepadamu?"
Sehun meneguk liur, menatap Chanyeol sengit.
"Tidak ada."
"Sehun, jangan berbohong"
Chanyeol mendekatkan posisinya, duduk di bangsal yang sama dengan posisi Sehun menyandarkan punggungnya pada bantal sebagai sandaran.
"Berapa lama dia menidurimu?"
Chanyeol menatap Sehun dengan penasaran, garis wajah Sehun berubah mengeras.
"Dia tidak pernah meniduriku, berhenti berfikir bahwa aku ini jalangnya!"
"Lalu kenapa dengan kakimu?"
Chanyeol menolehkan pandangannya pada kaki Sehun yang terlihat di perban, kemudian menunjuk punggung Sehun yang juga diberikan salep khusus luka bakar oleh petugas UKS tadi.
"Bukan apa-apa."
Sehun memalingkan pandangan, sial sekali jendelanya tertutup tirai.
"Kakimu lecet! Seperti di rantai, kalian mempraktekan BDSM?"
Untung saja Sehun menemukan objek yang tepat. Ia melempar wajah Chanyeol dengan mangkuk stainless bekas kompresan. Kemudian menatap wajah Chanyeol yang kebingungan dengan datar.
"Kenapa kau lakukan ini pada wajahku?"
Chanyeol merebut selimut yang di kenakan Sehun untuk membersihkan air yang membasahi wajahnya sampai ke dada.
"Kau selalu bertanya berapa kali dia meniduriku, dan dengan kurang ajarnya membahas BDSM kepadaku, kau fikir aku ini apa?"
Sehun meremas seprei bangsal dengan geram, menatap Chanyeol menuntut menarik kata-katanya. Sumpah demi apapun, posisinya dengan Jungmo hanya sekedar adik kakak angkat, tidak lebih dari itu seperti yang dituduhkan Chanyeol padanya. Kendati memang benar Jungmo pernah menciumnya, tapi hal itu tidak berlanjut kepada hal-hal hina seperti yang Chanyeol tuduhkan padanya.
Memang Sehun termasuk anak nakal dengan pergaulannya bersama Jong In dan teman-temannya dengan usianya yang masih remaja telah mengenal Narkotika dan Club Malam, tetapi untuk Sex, sungguh Sehun belum mau menyerahkan keperjakaannya kepada siapapun. Baik dia yang menjadi Dominan maupun Submisiv.
"Well, dari yang ku dengar…"
"Kau hanya mendengar dari katanya! Dia tidak seburuk itu! Bahkan jika dia memang jahat padaku, dia sudah membunuhku sejak dulu!"
Oh, Comeon… Sekarang Sehun sudah memegang bantal dan siap melempar benda empuk itu kapan saja. Chanyeol turun dari bangsal kemudian mengangkat tangannya seperti menyerahkan diri.
"Sehun, aku kan hanya bercanda, kenapa kau sensitif sekali?"
Sekarang bantal itu benar-benar menyentuh tubuh Chanyeol beserta selimut yang Sehun bentuk seperti buntalan kemudian melempar Chanyeol sekali lagi untuk mengusir Chanyeol yang masih bertahan memunguti bantal serta selimut yang berserakan di lantai.
"Bercanda macam apa yang merendahkan status orang lain, Park Chanyeol? Pergi dari sini! Aku muak melihatmu!"
Chanyeol dengan hati-hati mengembalikan bantal serta selimut ke dekat kaki Sehun, mundur secara perlahan sambil bergumam memohon permintaan maaf kepada Sehun.
"Pergi!"
Sehun mengambil bantal itu kembali, mengangkatnya tinggi-tinggi bersiap melemparnya lagi kepada Chanyeol.
"Sehun, maafkan aku…"
"KELUAR!"
Habis sudah, Sehun melempar bantal itu dengan keras tepat mengenai wajah Chanyeol yang kemudian bantal itu malah dipeluk oleh Chanyeol, keluar dari UKS sambil memeluk bantal itu dengan keringat yang berhasil membuat wajahnya berminyak. Chanyeol lupa bahwa yang sedang di peluknya adalah bantal milik UKS dengan sarung lambang UKS Sekolah tercetak disana.
"Chanyeol sunbae-nim mohon kembalikan bantalnyaaa…."
.
.
"Aku pulang…" Sehun mengetuk pintu rumah, melongok dari jendela memastikan dirumah itu masih ada orang. Sehun menghela nafas berat sambil memegangi tasnya. Pintu terbuka, menampakkan seorang pria bertubuh jangkung menyambutnya dari dalam.
"Zhou Mi bilang kau tidak masuk kelasnya lagi."
Lagi, baru pulang sekolah Jungmo sudah mengintrogasinya. Lagipula sebenarnya darimana sih hyung-nya ini mendapatkan laporan-laporan dari guru-guru yang mengajarnya di sekolah? Jungmo seperti memiliki kekuasaan disana. Tapi kekuasaan macam apa? Bahkan Sehun baru ingat, sepertinya Laoshi-nya yang bernama Zhou Mi itu cukup dekat dengan Jungmo, mengingat beberapa kali Jungmo mengatakan "Zhou Mi bilang…" tanpa embel-embel Pak Zhou Mi, atau Zhou Mi Laoshi, atau Zhou Mi Ssaem. Dan soal Kibum yang menitipkan salam kepadanya, bagaimana ia menyampaikannya? Sehun bingung, menundukkan kepalanya melewati Jungmo seraya masuk kedalam ruang tamu lengkap dengan furniturnya.
"Aku tadi ada di UKS kok, pingsan kata yang menolongku." Sehun menyerahkan resep obat dari petugas UKS yang harus di belinya di Apotek terdekat, karena obat dari UKS hanya diberikan untuk ukuran satu hari minum saja.
"Begitu. Yasudah, cepat istirahat."
Tangan kokoh itu menerima resep obat, menelitinya dengan cermat kemudian mengantongi resep obat itu pada saku jaket kulitnya.
"Baiklah, tapi hyung tolong be-"
Sehun yang hendak naik keatas kemudian menoleh, menginterupsi Jungmo untuk segera membelikan obat dari resep yang diterimanya dari UKS. Tapi bukan Jungmo namanya kalau dia tidak memotong ucapan Sehun sebelum selesai diutarakan.
"Aku tahu, tidak usah cerewet."
Sehun mengangguk, sebelum akhirnya menaiki tangga, kemudian berhenti, menoleh kepada Jungmo yang masih berdiri di ruang tamu sambil memainkan ponselnya dengan serius.
"Terimakasih…" gumamnya pelan sebelum benar-benar pergi meninggalkan lantai satu menuju lantai dua untuk beristirahat dikamarnya.
.
.
.
"Maaf."
Sehun menoleh ketika tangan itu berhenti mengolesi salep luka bakar pada punggungnya yang memerah. Memang judul salepnya luka bakar, tapi Sehun tidak benar-benar di bakar kok, dia hanya mengalami memar-memar pada punggungnya akibat hukuman yang kemarin baru saja dia dapatkan dari Jungmo akibat mencuri salah satu paket ganjanya, dan membiarkan dirinya sendiri untuk mencicipi benda haram tersebut.
Jungmo sudah berusaha keras untuk tidak membiarkan Sehun menyentuh benda-benda seperti itu, tapi toh kalau Sehun sendiri yang bandel, Jungmo hanya bisa memberikan efek jera yang sedikit keras kepada Sehun. Ya bagi Jungmo memecut punggung Sehun bukan hal yang terlalu berlebihan, mengingat ia tahu bagaimana cara memecut yang benar. Jauh sebelum itu, Jungmo pernah mengalami masa-masa dimana ia harus lumpuh berbulan-bulan karena didikan militer yang diberikan seseorang padanya. Toh akhirnya dia bisa berjalan kembali.
Jungmo bukan tidak kasihan kepada Sehun, tapi didikan militer yang melekat pada dirinya membuat dia harus mendidik Sehun seperti itu juga untuk membuat Sehun tetap pada urusan sekolah saja. Toh usianya masih terlalu dini untuk masuk kedalam lingkaran hitam tersebut.
"Tidak apa-apa, aku pantas mendapatkannya."
Sehun menyunggingkan senyum, berharap Jungmo tak mengomel seperti biasa.
"Jangan membuatku marah, ini yang terakhir."
Setelah itu Jungmo kembali melanjutkan mengolesi salep pada luka ditubuh Sehun yang sedikit keungunan, ada bagian yang lecet disana. Dan Jungmo bisa mendengar Sehun meringis ketika kulit telunjuknya bertemu dengan luka tersebut.
"Hyung, sebenarnya aku ini darimana? Kau mengadopsiku dari panti asuhan atau mengadopsiku dari orang tuaku? Apa aku ini berasal dari keluarga tidak mampu? Kalau iya, dimana orang tuaku sekarang? Oh ya hyung, kenapa hyung tidak mengganti namaku menjadi Kim Sehun saja seperti margamu?"
"Sudah bicaranya? Cepatlah tidur."
"Kenapa tidak menjawab pertanyaanku?"
Sehun merengut sebal setelah memakai kembali kausnya.
"Pertanyaanmu terlalu banyak. Jangan nakal. Cepat tidur."
"Baiklah. Selamat tidur hyung."
Sehun masih sangat penasaran, dan kesal karena tidak mendapatkan jawaban.
"Hyung, kau tidak membenciku dengan sungguh-sungguh kan?"
Jungmo beranjak dari tempat tidur Sehun, meletakkan salep serta obat-obat yang lain kedalam laci pada nakas di samping tempat tidurnya. Ia melangkah menuju pintu kemudian mematikan lampu utama kamar itu tanpa menoleh lagi kearah Sehun yang menunggu jawaban dari pertanyaanya. Tapi Sehun harus merasa kecewa setelah jawaban yang dikeluarkan Jungmo hanya sebatas ucapan selamat tidur.
"Selamat tidur, Oh Sehun."
Sungguh… Sehun ingin sekali tahu asal usul dirinya yang sebenarnya.
'Panti Asuhan, ya?" Pria itu tersungging sebelum akhirnya menenggelamkan diri pada bak mandi berukuran besar didalam kamarnya.
.
.
"hey kim!"
Seorang anak laki-laki menyapa anak laki-laki seusianya dengan tatapan 'jangan menggangguku' sambil meresponnya dengan gumaman pelan.
"Suster Jeo membuatkan kami pudding, kenapa kau tak mengambil jatahmu?"
"…"
"hey, ayolah, makan sedikit saja, dari kemarin kau tak makan apapun kan?"
Anak itu menyuapi pudding cokelat kedalam mulutnya. Menatap penasaran anak yang di panggil Kim itu.
"Kau tidak bisu kan?"
"..."
"Baiklah, aku akan ambilkan pudding bagianmu, bagaimana?"
Sungguh baik anak itu, tetapi ketika anak itu hendak mengambil pudding, suara anak bernama Kim itu menginterupsi, lebih tepatnya melarang untuk mengambilkan pudding jatahnya.
"Tidak usah."
"Kenapa? Kau tidak lapar?"
"Banyak tanya-"
"Suster Jeooooooo! Kim tidak mau makan pudding buatanmuuuu"
Suster Jeo, gadis cantik dengan paras bak bidadari menghampiri dua anak laki-laki itu, kemudian duduk di tengah-tengahnya seraya memperhatikan mereka satu persatu. Yang satu membuat Suster Jeo gemas, yang satu membuat suster Jeo mengerutkan kening heran.
"Kenapa tidak mau makan pudding buatan suster? Aku sedih loh ada yang tidak suka pudding buatanku, mau suster suapi?"
Setelah mempertimbangkan, akhirnya Suster Jeo mengambil tindakan, merajuk seperti gadis tersakiti sambil merangkul bahu anak itu sambil meliriknya.
"Tidak, terimakasih-"
"Kibum, tinggalkan kami berdua, kamu tidak keberatan kan?"
Kibum mengangguk, seraya berlari kecil meninggalkan Suster Jeo dengan anak irit bicara itu.
"Oh ya, siapa namamu? Kau baru datang tadi malam kan? Kau berasal darimana?"
Suster Jeo sangat penasaran dengan anak itu. raut wajahnya tegas, matanya bulat dengan garis monolid, bibirnya berisi kontras dengan pipinya yang tirus.
"Kim. Kim Jungmo"
"Kim Jungmo ya… wah kau memiliki nama yang bagus. Setahuku Jungmo artinya natural, dan satu lagi apa ya?"
Suster Jeo bukanlah orang yang pandai bicara, tetapi dia tidak suka melihat anak-anak murung dan memikirkan hal-hal yang membuat beban otaknya meningkat. Ia ingin anak-anak hidup dengan normal sesuai porsinya. Tetapi terkadang orang dewasa justru malah tidak mengerti dunia anak-anak. Fikiran, fantasi, hal-hal yang menjadi pertanyaan mereka. Maka dari itu terkadang untuk mendekati anak-anak dengan tipe seperti Jungmo butuh sedikit usaha untuk merangkulnya.
"Pure,"
"Ah benar. Pure! Orang tuamu pandai memberi nama."
Kemudian suster cantik itu mengangkat piring berisi pudding cokelat lengkap dengan vla didalamnya. Aroma cokelat yang menggugah selera itu mampu membuat orang lapar seketika. Begitupun dengan Suster Jeo sang pembuat pudding yang berusaha menelan keinginannya untuk mencicipi pudding buatannya sendiri.
"ya, terima kasih."
"Oh ya, kau akan menyesal jika tidak mencicipi pudding buatanku lho! Ayo buka mulutmu…"
Kebetulan sekali, Suster Jeo belum memakan pudding jatahnya, jadi dia menawarkan pudding itu untuk Jungmo, walaupun sebenarnya dia juga dalam posisi kelaparan, tapi toh merawat anak-anak dan memberikan mereka perhatian seperti ibu telah menjadi pilihan hidupnya. Suster Jeo rela tidak makan asal anak-anak tidak kelaparan. Masih ada makan siang, dia masih sanggup menahannya sampai jam makan siang tiba. Kalau beruntung dia akan menemuka sisa pudding buatannya didapur, jika saja tidak ada yang serakah mengambil jatah lebih.
"Aku tidak lapar suster."
"Kim, dengarkan aku baik-baik. Jika kau tidak mau makan sedikit saja, kau akan sakit. Maka Tuhan akan sedih melihat umatnya sakit…"
Difikir-fikir suster Jeo adalah suster yang keras kepala dan pemaksa. Tetapi caranya memaksa dengan gaya cute-nya membuat siapapun akan luluh dengannya. Lihat saja…
"Tapi suster-"
"Ayo buka mulutmu… Aaaa~"
Benar kan? Suster Jeo sangat pemaksa dan siapapun tidak sanggup melawannya. Bahkan Jungmo yang sama keras kepaalanya dengan Suster Jeo pun akhirnya membuka mulut dan menerima pudding yang disuapi oleh suster Jeo dengan sedikit terpaksa dan melahapnya malu-malu.
"pintar!"
Puji Suster Jeo sambil mengusak rambut Jungmo.
"enak!"
Jungmo refleks berseru.
"Aku bersumpah kau tidak akan menyesal!"
"Aku mau lagi~"
Akhirnya tidak perlu memaksa, Jungmo bahkan minta lagi dengan bersemangat. Suster Jeo bersuka rela menyuapi Jungmo pudding itu sampai setengah dari porsinya.
"Ayo habiskan…"
'suster jeo sangat cantik'
"Aku tau, pasti kau sedang mengatakan kalau aku ini cantik, iya kan?"
Suster Jeo melirik Jungmo dengan jahil.
"Tidak"
Ada semburat merah di pipi Jungmo, kenapa suster Jeo bisa tahu?
'Kau seperti malaikat'
"Aku tahu, pasti kau bilang aku seperti malaikat, iya kan?"
Sial, ketahuan lagi.
"tidak juga"
'kau seperti ibuku'
"Kau bisa menganggapku ibu."
Mengerikan, Suster Jeo tahu semua yang difikirkannya. Sebenarnya siapa Suster Jeo ini?
"Bagiku hanya ada satu ibu di dunia ini"
"Seo Jeo Hyun, bisakah kau kesini sebentar?"
Ah, Kepala Panti Asuhan memanggil. Wanita itu memberikan satu suapan lagi sampai piringnya benar-benar kosong seraya berdiri dan menatap Jungmo yang menatapnya seolah tak ingin ditinggalkan.
"Aku harus pergi."
Suster Jeo tersenyum.
'jangan pergi, jangan tinggalkan aku.'
"Aku akan menemanimu lagi nanti"
Kemudian beralih mencubit pipi Jungmo dengan gemas.
'cepatlah kembali'
"Ya, terimakasih suster"
Meremat ujung baju yang dikenakannya. Jungmo menatap punggung Suster Jeo dengan pandangan sendu.
.
.
.
"Sehun, bagaimana dengan kakimu? Sudah baikan?" Jongin menatap Sehun dengan cemas. Diantara dua puluh delapan Siswa di dalam kelas ini. Hanya tiga orang yang menyambut Sehun dan menuntun Sehun untuk menuju tempat duduknya. Bahkan Baekhyun rela mengganti tempat duduknya dengan Sehun agar Sehun tidak perlu kepanasan saat pelajaran berlangsung nanti.
"Thanks guys." Sehun tersenyum tipis.
"Sehun, kau benar-benar tidak apa-apa?" Sehun menatap Jongin kemudian mengangguk.
"Tidak apa-apa Kai" Dan pemuda tan itu tersenyum girang, Sehun memanggilnya Kai. Itu terdengar keren, tapi Baekhyun menunjukkan ekspresi ingin muntah saat mendengarnya.
"Hell ya! Kai? Jongin? Kai? lelucon apa yang sedang kalian buat?" dan Baekhyun tersungging melihat ekspresi Breakdowndari Jongin yang dibuat-buat.
"Hey, kebetulan sarapanku lebih. Dan tinggal kau yang belum mencicipi sarapan buatanku. Ayo pilih. Ini roti isi pisang dan susu, ini roti isi selai nanas dan ini roti isi keju dan susu-"
"Tidak Luhan, terimakasih." Luhan merengut mendapat penolakan dari Sehun padahal ia semangat sekali memamerkan kotak makan berisi roti dengan macam-macam isi didalamnya.
"Aku sudah sarapan, mungkin untuk nanti siang saja?"
Sehun sungguh tidak bermaksud menolak apalagi membuat Luhan tersinggung. Tapi dia memang sudah sarapan dengan menu yang sama, lebih berat malah. Sandwich isi bacon dengan keju serta daun salada dan timun di dalamnya, tak lupa diberikan banyak saus, Sehun memang penikmat makanan pedas.
…Tapi diluar dugaan, justru Luhan tersenyum girang ketika Sehun memberikan opsi lain.
"Iya benar! Untuk nanti siang saja!"
Jongin berseru girang. Padahal dia tidak ditawari sama sekali. Toh dia sudah mengambil jatah lebih dahulu.
"Dasar otak gratisan! Kau kan sudah dapat jatah, ini untuk Sehun!"
Baekhyun menunjukan ekspresi 'jangan membuat Luhan marah', Jongin benar-benar tidak peka!
"Tapi aku mau lagi Luhan!"
Jongin merajuk. Apapun itu, kalau sudah menyangkut makanan, Jongin rela merajuk seperti ini kepada siapapun, termasuk Luhan teman satu kelasnya.
"Tidak! Ini untuk Sehun, berhenti merajuk, itu terlihat menjijikan!"
Luhan segera menutup kotak bekalnya dan menyembunyikannya di belakang punggungnya.
"Benar! Kau menjijikan Jongin!"
Baekhyun menimpali, muak dengan sikap Jongin yang kekanakan. Dia kan anak dari Donatur Sekolah ini. Otomatis dari keluarga kaya, tapi Jongin akan selalu berusaha untuk makanan gratis.
"Kai! Kim Kai!"
Protes Kai tak mau kalah. Dua makhluk pendek itu menatap Jongin dengan pandangan sulit diartikan.
"Sudah-sudah! Kalian ribut sekali." Sehun tertawa, berusaha melerai ketiga temannya yang semakin membuat suasana kelas semakin gaduh.
"Nanti Istirahat kita makan dikantin bersama. kebetulan aku bawa bekal." Sehun mengeluarkan kotak bekal dari dalam tasnya. Menunya sama, tapi milik Sehun lebih mewah isinya.
"Wah! Baiklah! Cepatlah Istirahat tiba!" Jongin bersimpuh dihadapan Sehun, seperti orang gila.
"Hell ya! Enyah kau Kim Jongin! Pelajaran satu satu belum dimulai," Luhan menjitak kepala Jongin dengan kotak bekal di tangannya.
"Sehun Oh…" Keempat pemuda itu menoleh kearah sumber suara. Mendapati Chanyeol sendirian bersandar pada ambang pintu tanpa menghalangi siswa lain yang keluar masuk kelas.
"Shit, dia mau apalagi?" Jongin berdesis. Menegakkan diri membuat dinding perlindungan untuk Sehun, begitupun dengan Baekhyun dan Luhan refleks membuat dinding pembatas untuk Sehun.
"Wow! Santai… aku hanya ingin berbincang dengannya kok." Kemudian Chanyeol melangkah, mendekati meja yang Sehun tempati, melerai dinding yang dibuat ketiga teman Sehun dengan mudah.
"Untuk permintaan maafku soal kemarin." Meletakkan kotak bekal diatas meja, tersenyum tipis kepada Sehun kemudian pergi meninggalkan kelas diiringi dengan dering bell sekolah tanda semua siswa/i untuk memulai pelajaran pertama. Empat anak adam itu refleks menunjukkan pandangan pada punggung besar pemuda jangkung tersebut dengan pandangan bertanya-tanya.
"Sehun, biar aku yang ambil. Kali saja ini racun di dalamnya!" Jongin segera mengambil kotak bekal diatas meja, kemudian menelitinya sangat serius.
"Iya benar! Untuk Jongin saja, toh kalau Jongin yang keracunan juga tidak apa-apa." Baekhyun menimpali. Luhan terkikik mendengarnya seraya memasukan kotak bekal kedalam tasnya.
"Baekhyun sialan! Kau ingin sekali aku mati, huh?"
Sehun termenung melewati lelucon-lelucon aneh yang dilontarkan teman-temannya, menerawang figur Chanyeol yang beberapa menit lalu tersenyum kepadanya.
"Sial, aku tidak gila kan?" pekiknya membuat seisi kelas tertuju padanya.
"Kau tidak gila Oh Sehun, tapi kalau kau melamun terus seperti itu sampai tak menyadari kedatanganku, kau benar-benar akan gila nanti." Seisi kelas tertawa. Irene, guru wanita paling cantik itu menatap Sehun memicing, menggeleng-gelengkan kepalanya dengan heran.
"Anak muda jaman sekarang…" ujarnya kemudian memulai pelajaran.
To be Continued~
Halloooo kembali lagi dengan Evekun disini.
Gimana Ceritanya? Makin gak jelas ya kkk
Oh Ya untuk yang Tanya Sehun sama siapa sih? Jungmo atau Chanyeol? Tunggu aja kelanjutannya ya.
Mau balas Review dulu yaaa
ohwillis : Hayo ada apa ya? Kkk
ChanLoveHun : sama Chan gak yaa? Liat aja deh nanti Kkk
Secute : Leh ugha ya sama Om Jungmo, dia sudah biasa dijadiin selingan di FF2 lain xD
Chanmama : Aduh greget bagian mana nih? Iyaa Jungmo gitarisnya TRAX xD
Xxx : Sehun emang nakal kok xD
shimmy kokobop: Aduh inspirasi ya? Dari mana ya? Dari MV Embrace One Soul punya TRAX. Tentang mafia-mafia gitu kan, terus jadi pengen deh buat FF tentang Mafia xD
dini : Maunya sama Chanyeol atau Jungmo? xD
psycho4pcyosh : Ini CHanhun nya udah banyak belum? xD
parksehunakim: Hayo bingunggg xD Jangan bingung ya, ntar malah ngeblank loh. xD
Dan makasih ya untuk yang udah review. Kkk ditunggu review Chapter ini ya… Aku suka banget bacain review dari kalian. Soalnya bikin aku makin semangat untuk lanjutin FF nya.
See you~
