Chapter 3 : Losing
Cerita ini punya Krisgi ya Chingu~ No Copast or Plagiat yang diganti nama. Kalau ada yang repost tanpa izin bantu lapor ya Chingu
Cast:
Oh Sehun as Park Sehun
Xi Luhan as Kim Luhan
Byun Baekhyun as Byun Baekhyun
Paek Chanyeol as Park Chanyeol
Kim Yerim as Park Yeri
And others (Find Yourself)
.
Main Pairing:
.
Genre: .
Rating:
T
—
Sinopsis:
"Kami pergi dari rumah itu karena kau meninggalkan kami, tapi aku berjanji. Aku janji akan mendapatkan rumah itu kembali dan menjaga apa yang sudah kau tinggal. Dan kumohon tak usah kembali"
-Park Sehun-
"Aku memang terlihat idiot tertawa dan bertingkah sok imut seperti katamu, tapi aku melakukan ini hanya untuk Ibuku jadi jangan salah paham"
-Park Yeri-
"Kau terlihat bahagia saat di cafe, apa tidak bisa tertawa seperti itu disini?"
-Kim Luhan-
Happy Reading
Suara heels nya mendominasi lorong sunyi itu. Kedua tangannya menggandeng tangan mungil yang Setia menemaninya.
Wanita berpakaian rapi dibelakangnya terus mengelus pundaknya.
"Mari kita selesaikan ini,"
Namja berpakaian rapi dengan senyum tulusnya berhenti di depan itu. Baekhyun menghembuskan nafasnya dan sedikit berjongkok.
"Sehun... Yeri... kalian yakin mau ikut eomma masuk?"
Kedua itu langsung mengangguk. Walau sering dianggap belum mengerti keadaan, tapi mereka sangat mengerti. Mungkin jika beruntung mereka bisa bertemu appa mereka untuk terakhir kalinya.
"Karena kami kekuatan eomma,"
Baekhyun tersenyum mendengar ucapan Putra sulungnya. Dielusnya rambut hitam lembut itu dengan penuh Kasih sayang. Disampingnya Yeri juga tersenyum menggemaskan. Pipi gembulnya mengundang untuk dicubit. Wajahnya semakin lucu karena tatanan rambut kucir duanya.
Baekhyun kembali berdiri dan memberikan gandengan tangan kedua anaknya pada Kyungsoo.
"Maaf aku merepotkan kalian berdua. Kau dan Jongin. Pasti Tao ak..."
"Sttt... Baek! Kami sahabatmu, kami pasti menolongmu. Masalah Tao dia malah senang selama ini didatangi Sehun dan Yeri saat sidang-sidang sebelumnya."
Tangan Kyungsoo mengelus kedua kepala mungil yang kini ada di kedua sisinya.
"Dan pagi ini aku hampir kehilangan wajah tampanku ketika Tao merengek untuk ikut karena Sehun."
Jongin mengelusi wajahnya dan berhenti ketika mata kelereng Kyungsoo menatapnya tajam. Baekhyun yang memandang keduanya masih sama seperti waktu SMA hanya bisa terkekeh. Sudah lebih dari 10 tahun, namun perasaan mereka masih sama. Tidak seperti Chanyeol dan dirinya.
"Sudah, Baek. Aku masuk dulu. Kau dan Jongin juga segeralah masuk!"
Baekhyun tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Tangan kecil Yeri dengan imut melambai kearah eomma-nya saat Kyungsoo membawanya masuk ke tempat duduk pengamat.
"Ini janjiku, Baek. Kita pasti akan memenangkan hak asuh itu dan semua akan selesai. Kau tidak akan sakit lagi,"
Ucapan Jongin membuat Baekhyun membalikkan badannya lagi. Ia tersenyum lembut seakan bersyukur memiliki teman sangat baik dan rela membantunya. Ia tidak bekerja dan uang penghasilan Chanyeol sebelumnya pas-pasan. Ia tidak punya tabungan atau Harta lainnya selain rumah besar peninggalan Ayah dan Ibunya. Sebenarnya ia sangat khawatir karena harus menyewa pengacara, namun sahabatnya, Jongin rela membantu tanpa upah. Sebenarnya Baekhyun merasa tidak enak, tapi keluarga Kim itu hanya meminta Baekhyun membuatkan roti sebagai bayaran.
"Aku juga yakin, Jongin. Karena itu pasti harapan Chanyeol. Ia ingin pergi dari kami."
Jongin memandang sahabat cantiknya itu sendu. Mengingat betapa brengsek-nya Chanyeol membuatnya ingin cepat membebaskan Baekhyun dari orang egois itu.
"Sudahlah, Baek. Ayo masuk!"
"Dengan ini hak asuh dari Park Sehun dan Park Yeri, sepenuhnya jatuh ke tangan Nyonya Byun Baekhyun. Tuan Park Chanyeol memiliki kewajiban untuk memberikan nafkah setiap bulannya untuk waktu yang dintentukan..."
"Dan dengan ini juga, Tuan Park Chanyeol dan Nyonya Byun Baekhyun telah resmi bercerai. Dengan begini sidang perceraian ini sudah berakhir."
'Tok..tok..."
Palu hakim menandakan berakhirnya semua ujian ini. Chanyeol menatap Baekhyun yang masih menatap kedepan dari kursinya. Ada sesuatu yang membuat Chanyeol merasa sakit saat Baekhyun menghela nafasnya lega. Seperti inilah yang diinginkan Baekhyun.
Baekhyun berdiri dan menyalami hakim serta seluruh orang yang membantu jalannya persidangan. Tatapannya bertemu dengan manik Chanyeol yang juga menatapnya. Ia membungkukkan badannya pada mantan suami yang telah 10 tahun menikah dengannya.
"Eomma!"
Suara cempreng tapi terdengar ceria itu mengalihkan pandangan keduanya. Yeri masih dari tempat duduk, bersama Kyungsoo dan Sehun tersenyum manis sambil melambaikan tangannya. Baekhyun segera berjalan menuju malaikatnya itu.
"Malaikat-malaikatku sangat baik. Mereka bersikap baik selama persidangan. Aku bangga pada mereka."
Bibir Baekhyun menyentuh pipi Yeri dan Sehun bergantian. Senyum diwajah kedua anaknya itu terus memberinya kekuatan. Tiba-tiba wajah Yeri berubah datar, seperti kakaknya. Menyadari perubahan itu, Baekhyun membalikkan tubuhnya. Chanyeol berdiri dibelakangnya.
"Sehun-ah Yeri-ah... boleh appa pinjam eomma sebentar?"
Yeri dan Sehun hanya diam saja. Sehun menutup matanya seperti tidak mendengar apapun. Yeri mengalihkan wajahnya dan tertawa pada Kyungsoo. Melihat hal itu, hati Chanyeol sangat sakit. Bahkan kini dia diambaikan oleh anak-anaknya sendiri.
"Mari ikut saya, Tuan Park,"
Baekhyun tersenyum tipis dan berjalan di depan Chanyeol. Sekali lagi ada perasaan sedih di hati namja itu. Wanitanya yang sudah 15 tahun bersamanya itu begitu sopan terhadapnya. Seperti saat wanita itu sedang berhadapan dengan orang lain. Ya... orang lain.
Mereka berhenti tidak jauh dari ruang persidangan. Baekhyun membalikkan badannya dan dengan segera Chanyeol menyodorkan sebuah kartu.
"Ini kartu debit. Mungkin kita tidak bisa bertemu untuk beberapa waktu, jadi aku akan memenuhi kewajibanku lewat kartu ini. Kau bisa me..."
"Terima Kasih, Tuan Park. Sata permisi."
Baekhyun menerima kartu itu dan meninggalkan Chanyeol. Bukan karena apa-apa, hanya melihat wajah Chanyeol membuatnya sesak. Rasa kecewa dan marah selalu melingkupinya.
Baekhyun berjalan sampai melihat kedua anaknya tersenyum kearahnya. Yeri kecil bahkan sangat semangat dan melompat-lompat. Baekhyun segera menggandeng kedua tangan itu dan berjalan pergi bersama Jongin dan Kyungsoo.
"Ini keputusanku..."
Baekhyun menatap kartu di depannya dengan ragu. Dia masih gengsi untuk menggunakannya walaupun Chanyeol pun entah tahu atau tidak.
Baekhyun sadar, dia tidak punya pekerjaan dan kebutuhannya akan selalu meningkat mengingat anaknya masih kecil. Dia memikirkan untuk menjual rumahnya, satu-satunya peninggalan orang tuanya. Tapi disinilah semua kenangan terkumpul. Entah dengan orang tuanya, Chanyeol, maupun anak-anaknya. Ada perasaan tidak rela dihatinya. Sehingga dia memutuskan untuk menggadaikan rumahnya untuk sementara waktu. Hutang keluarga diam-diam sudah dibayar Chanyeol dan itu menjadikan alasan kuat untuk tidak menggunakan kartu dari Chanyeol. Ia tidak ingin di cap memanfaatkan Chanyeol sekarang. Karena keputusan inilah kini dia duduk berhadapan dengan mata kelereng yang menatapnya tajam.
"Aku tetap tidak setuju, Baek!"
Pendirian Kyungsoo masih sama. Dia akan membantu Baekhyun dan dia tidak setuju Baekhyun menjual rumahnya. Ia terus mendesak Baekhyun untuk menerima bantuannya karena Kyungsoo juga setuju untuk tidak menggunakan uang Chanyeol.
"Kami bisa tinggal di rumah yang lebih kecil. Rumah ini terlalu besar."
"Aku tidak mempersalahkan ukuran rumah ataupun yang lainnya, tapi baek... inilah satu-satu pemberian orangtuamu."
"Kau benar... tapi aku tidak punya pilihan lain. Aku harus bangkit. Aku tidak bisa menjaga kan diriku bekerja. Jika aku harus menunggu untuk kerja dulu, anak-anakku akan lagi Yeri juga harus masuk ke sekolah dasar, aku pasti butuh banyak uang unt..."
"Dan kau masih punya kami. Ayolah aku sudah membujukmu berulang kali untuk menerima bantuaku, tapi kau selalu menolak."
Baekhyun tersenyum dan menjulurkan tangannya mengelus tangan mungil sahabatnya. Ia pandang sekelilingnya. Rumah ini adalah bagian dari hidupnya dan sangat berarti baginya.
"Kyung... mengertilah. Ini keputusanku."
Kyungsoo kembali mendesah kecewa. Temannya ini memang keras kepala.
"Apapun yang terjadi, Baek! Jangan ragu untuk meminta bantuanku."
Baekhyun kembali tersenyum menatap sahabatnya dan mengangguk.
Sehun dan Yeri baru saja selesai belajar dan memasukkan bukunya. Dengan hati-hati Baekhyun membuka kamar mereka. Semenjak hari itu, mereka memilih tidur di ruangan yang sama.
"Sehun... Yeri... eomma mau bicara sayang, bisa?"
Kedua anak itu menangguk. Mereka mengikuti eomma mereka keruang keluarga dan duduk berhadapan. Baekhyun menghela nafasnya sebelum bicara.
"Sehun dan Yeri... menurut kalian tinggal di rumah ini bagaimana?" Tanya Baekhyun hati-hati.
"Terlalu besar, eomma!" Yeri mempoutkan bibirnya.
"Membersihkannya juga pasti capek. padahal tidak semua ruangan kita pakai,"lanjut Sehun.
Baekhyun merasa aneh dengan sikap anaknya tapi juga merasa lega. Mungkin ini akan lebih mudah untuknya membujuk anaknya.
"Kalau begitu anak-anak. Eomma sebenarnya juga berpikir hal yang sama. Jadi bagaimana kalau kita pindah?" Tanya Baekhyun.
"Kita pindah ke gedung yang besar dan tinggal di bagian kecil gedung itu. Seperti apartemen Tao. Kita akan lebih dekat dan tidak capek membersihkannya. Nanti Tao dan Sehun bisa sering main dengan Tao."
Baekhyun menatap kedua anaknya hati-hati. Mencoba menebak reaksi anak-anaknya. Mereka hanya diam membuat Baekhyun merasa bersalah. Mereka pasti kehilangan Taman untuk bermain dan juga kamar yang dari lahir mereka tempati.
"Tapi jika Sehun atau Yeri keberatan, kita bisa te..."
"Call!"
Kedua suara itu bebarengan. Mereka tersenyum kearah Baekhyun dengan wajah semangat.
"Kapan kita pindah eomma? Apa kamarnya berwarna pink?"
"Aku juga mau begitu sampai di rumah baru, aku akan memilih kamar duluan."
Ucap mereka berdua dengan semangat. Baekhyun menghela nafas lega. Mereka memang malaikatnya. Baekhyun tersenyum kearah Sehun dan Yeri.
"Boleh. Nanti kita cari rumahnya bersama. Yang Sehun suka dan Yeri suka. Bagaimana?"
"Asiiik!"
"Sekarang kalian tidur dulu, besok kita susun rencana kita, oke?"
Yeri dan Sehun mengangguk semangat. Mereka turun dari kursi diikuti Baekhyun dibelakangnya. Baekhyun mengantar anak-anaknya sikat gigi dan bersiap tidur. Mereka langsung merebahkan badannya dan Baekhyun mencium kedua dahi anaknya. Tidaa butuh waktu lama mereka tertidur. Baekhyun keluar dan menutup pintunya. Begitu terdengar pintu tertutup, ada sepasang mata yang membuka matanya. Ia mengelus rambut panjang adiknya dengan lembut.
"Gomawo, Yeri-ah"
"Ne, Oppa"
.
.
TBC
Hai Chingu
Lanjut Perkenalan:
Jadi seperti yang aku bilang di Chapter sebelumnya, aku ini punya dua kewarganegaraan, dan kenapa?
Jadi appa itu orang indo dan eomma orang korea, keduanya menikah tanpa ada yang pindah kewarganegaraan. Seperti yang kita tau. Baik korea maupun indo menganut ius sanguinis, padahal aku itu keturunan dua Negara, tapi karena appa aku orang Indonesia jadilah aku warga Indonesia dan punya ktp, tapi karena eommaku anak tunggal (aku juga) dan kita sebagai marga Kim harus ada garis keturunannya (aku juga nggak begitu paham) jadi aku juga dicatatkan jadi warga korea, begitulah, sungguh bersejarah.
Yang depan aku nggak tau mau ngomongin apa tentang aku, yang pengen tanya boleh kok nanti aku jawab
Sekian
.
Makasih buat semua yang udah baca dan nge-Review. Seneng deh dapat sambutan baik dari para reader-nim. Aku pengen bales satu-satu, tapi belum sempat, hehe.
Oiya, buat yang pengen cepat-cepat next Chapter, sebenernya aku ini repost dari karyaku di Wattpad yang sekarang udah stay di Chapter 6, dan untuk ditata masuk ke ffn, butuh waktu, hehehe
Tapi aku usahain bisa masukin semua Chapter maksimal besok pagi, jadi malam ini kalian mungkin bakal dapat notif bekali-kali. hehe doain ya.
Aku juga bikin Video Preview sebagai pengganti tulisan Next Chapter, menurutku itu lebih gampang dan lebih menarik. Yang mau lihat bisa lihat di sns-ku (maklum sebelumnya nggak paham, jadi baru) instagram/wattpad: pudichakris. Youtube: Krisgi Pudicha
.
Terus dukung Krisgi ya biar semakin semangat, hehe. Jangan lupa Review yaa. Saranghaeyo reader-nim
