Chapter 6 : Coin
Cerita ini punya Krisgi ya Chingu~ No Copast or Plagiat yang diganti nama. Kalau ada yang repost tanpa izin bantu lapor ya Chingu
Cast:
Oh Sehun as Park Sehun
Xi Luhan as Kim Luhan
Byun Baekhyun as Byun Baekhyun
Paek Chanyeol as Park Chanyeol
Kim Yerim as Park Yeri
And others (Find Yourself)
.
Main Pairing:
Hunhan
Chanbaek
.
Genre: .
Rating:
T
Sinopsis:
"Kami pergi dari rumah itu karena kau meninggalkan kami, tapi aku berjanji. Aku janji akan mendapatkan rumah itu kembali dan menjaga apa yang sudah kau tinggal. Dan kumohon tak usah kembali"
-Park Sehun-
"Aku memang terlihat idiot tertawa dan bertingkah sok imut seperti katamu, tapi aku melakukan ini hanya untuk Ibuku jadi jangan salah paham"
-Park Yeri-
"Kau terlihat bahagia saat di cafe, apa tidak bisa tertawa seperti itu disini?"
-Kim Luhan-
Happy Reading
Ngiiiiiing
'Tes...tes...'
"Yaaaak! Semuanya segera baris! Cepat-cepat!"
Seluruh murid di aula menutup telinga mereka. Seorang guru tua berambut botak itu berkeliling dengan sebuah toa memperjelas suaranya yang luar biasa hancur yang bisa membuat manusia yang mendengar ikut botak sepertinya.
Sehun menghampiri Yeri yang berdiri disamping panggung menunggu disuruh naik keatas. Yeri hanya berdiri tenang. Sebentar lagi dia akan jadi pusat perhatian, tapi ia terlalu tenang untuk itu.
"Yeri-ah, katakan pada oppa, apa kau benar-benar sudah menyiapkan pidatomu?" Tanya Sehun cemas.
Yeri segera membalik badannya mendengar suara oppa kesayangan. Senyum lebarnya menyambut Sehun yang berwajah sangat datar itu.
"Aku masih ingat apa yang kukatakan di SMP, "
"Tapi kau tahu nama sekolah ini kan? Jangan salah sebut nama,"
"Aku tidak bodoh, oppa,"
Ucap Yeri sambil memukul pelan lengan Sehun. Wajahnya tetap tersenyum lebar seperti sedang bercanda. Entah kenapa Sehun merasa lain, merasakan hawa aneh ini lagi.
"Aku tahu," lirih Sehun.
"Hm?"
Yeri menatap kakaknya. Ia tidak terlalu mendengar cicitan kakaknya, tapi melihat wajah kakaknya ia mengerti. Yeri tersenyum memeluk sedikit lengan Sehun dan tersenyum.
"Aku baik-baik saja, Oppa! Jangan khawatir,"
"Kau memang selalu baik-baik saja, Yeri-ah,"
Sehun mulai tersenyum. Ya ini salahnya. Seharusnya ia diam dan tak berekspresi sehingga adiknya tidak tahu apa yang ia pikirkan. Sehun tidak mau menambah beban Yeri, tidak untuk adik kecilnya.
"PARK SEHUN!"
Suara toa kembali terdengar. Sehun dan Yeri refleks menutup telinganya. Yong-Saem si Botak, mendekatkan toa-nya ke Sehun. Membuat banyak fans Sehun semakin kesal.
"Bisa kan benda itu dibuang?"
"Berisik dan mengganggu, menyebalkan!"
"Si botak! Beraninya dia membuat telinga Sehun-ku sakit!"
Yong-Saem yang mendengar kritikan mulai berbalik dan menatap muridnya satu persatu.
"DIAAAAAM!"
Masih dengar toa-nya. Para guru yang lain pun mulai terganggu dan risih. Yeri segera maju ke depan Yong-Saem dengan senyum andalannya.
"Songsaengniiim... telinga Yeri sakit karena suaranya terlalu keras,"
Walaupun tidak ber-aegyo, tapi ingatlah! Dia Park Yeri, yang setiap gerak geriknya terlihat lucu dan menggemaskan. Yong-Saem segera menurunkan toa-nya.
"Ah... Maafkann Saem, hem... Park Yeri,"
Yeri membungkuk sambil tersenyum. Oh... tahukah kalian keadaan murid dan guru yang menonton? Bayangkan saja jika seorang fangirl/fanboy yang tiba-tiba ditatap oleh idolanya, pasti kejang-kejang, pingsan, dan sebagian kritis. Inilah yang terjadi saat ini di aula.
"Baiklah, Park Sehun segera ke barisanmu..."
"DAN KAU!"
Semua berbalik kearah belakang Sehun. Seorang gadis cantik berambut panjang baru saja masuk dengan ragu-ragu langsung terkejut mendengar suara orang tua botak yang kini menunjuk dirinya.
"S...sa...saya?"
"Iya, kamu. Kelas satu sudah berani terlambat, gimana waktu jadi senior? Cepat baris disana,"
"T...tapi saya..."
"Cepaaaaat!"
Tidak mau semakin ditatap dalam oleh orang-orang, gadis itu mulai berjalan disusul Sehun di belakangnya hendak ke barisannya.
"Disini barisan kelas satu,"
Sehun menunjuk barisan dimana para siswi sedang menatapnya dengan memegang jantung mereka yang hampir copot.
"Ah... te... terima Kasih, ta..tapi aku..."
"Apa kalian masih mau bicara?!"
Sehun mengangkat kepalanya sebentar dan kembali berjalan kearah barisannya. Meninggalkan gadis yang masih bingung itu sendiri di tempatnya. Mulai melakukan kegiatan mereka.
"Park Yeri, cantik sekali!"
"Tadi pagi aku sangat iri karna dia berjalan disamping Sehun, tapi ternyata Yeri adiknya,"
"Iya, pantas. Pintar, cantik, menggemaskan lagi,"
Banyak sekali kicauan yang menyambut Yeri di Cheonwon. Bahkan beberapa kakak kelas sengaja melewati koridor kelas 1 untuk mencari incaran baru yang masih polos.
"Ah! Maafkan aku,"
Suara gadis yang jatuh karena ditambrak mengalihkan perhatian Sehun dan Yeri yang sedang bertukar bekal. Gadis itu jatuh dan minta maaf sedangkan yang menabrak masih berdiri tegap dan dengan santainya melenggang pergi.
"Eonnie, tidak apa-apa?" Tanya Yeri sambil menjulurkan tangannya.
Gadis itu menerima tangan Yeri dan berdiri perlahan. Entah karena dia jatuh cukup keras atau hal lain, Yeri bisa melihat gadis di depannya meringis. Gadis itu membersihkan rok-nya dan tersenyum.
"Eonnie, tadi yang terlambat tadi kan? Kelas eonnie dimana? "
Yeri ingat ketika ia membujuk Yong-Saem dan gadis itu datang dengan wajah polosnya membuat Yeri iba.
"Sebenarnya aku kelas 2. Aku ini murid pindahan,"
"Aaaah! Eonnie di kelas apa?"
Tanya Yeri. Gadis itu menyerahkan sebuah kartu dan Yeri membacanya teliti, sebuah kartu murid baru.
"Kim Luhan eonni?"
Gadis itu-Kim Luhan mengangguk.
"Kelas 2-A, eonnie ada di lantai 2 kelasnya,"
Tiba-tiba kertas ditangan Yeri diambil. Sehun membacanya dan kembali mengangkatnya. Perlahan. Jantung Luhan seperti mau copot saja. Wajah Sehun terlalu tampan untuk menjadi murid biasa, tidak! Luhan yakin Sehun bukan sekedar murid biasa.
"...na"
"Eonnie!"
Luhan kembali ke alam sadarnya ketika Yeri membuat suara nyaring. Ia baru sadar dari memuja wajah tampan di depannya.
"Kataku, Ini kelasku. Kau mau kesana bersamaku?
Seketika pipi Luhan memerah. Bersama? Bersama dengan Sehun? Dia mau mengantarku ke kelas?aku? Dan dia?
Ayolah Luhan, Sehun itu teman sekelasmu. Pastilah dia tetap akan kesana walaupun tidak bersamamu.
"Tapi kurasa kau tetap harus ke ruang guru, aku akan mengantarmu,"
Sementara Luhan kembali memantung tak bernyawa, Yeri menarik tangan Sehun dan membuat Sehun hampir oleng ke belakang.
"Oppa belum ke kelas sama sekali. Nanti tidak dapat tempat duduk,"
"Aku tak masalah duduk dimanapun. Ayo...hm...Luhan,"
"Eh... eh iya, terima Kasih,"
Luhan merasa akan segera mengidap penyakit jantung sekarang. Jantungnya tak bisa berhenti berdetak. Bahkan ia tidak bisa mendengar dengan jelas ajaran guru di depannya.
'Aku akan gila'
"Luhan, kau baik-baik saja?"
Luhan tersingkap ketika wajah Sehun semakin dekat menatapnya.
Hampir setengah jam yang lalu, Sehun mengantarnya ke ruang guru dan membuat mereka bertiga masuk ke kelas bersama. Kelas sangat ricuh ketika hampir semua siswi sengaja mengosongkan sebelah kursinya untuk Sehun, sehingga beberapa murid yang lain tidak bisa duduk. Kelas yang semakin ricuh karena kehadiran Sehun membuat guru melakukan undian.
Dan inilah hasilnya sekarang. Dengan doa kilat, janji dan sumpah pada Dewi fortuna serta sang pencipta, membuat Luhan mendapat jackpot hari ini. Dia duduk di kursi paling belakang dekat dengan jendela, dan yang terpenting DISAMPING SEHUN!
Sehingga saat pelajaran dimulai, Luhan yang mau tak mau harus menatap papan tulis harus dihadapkan dengan side-figure seorang Park Sehun yang pastinya membuatnya gila. Sangat tampan.
"Aku baik- baik saja, maaf,"
"Tak masalah, jika kau butuh sesuatu, akan akan berusaha membantu, "
Luhan bersorak girang dalam hati. Walaupun wajah Sehun datar, tapi ia bersumpah. Wajah Sehun adalah yang tertampan di dunia dan banyaaaaaak yang tidak bisa luhan katakan.
"Terima kasih,"
"Ah...Sehun-ssi,"
Luhan dengan ragu mengangkat tangannya untuk meraih tangan Sehun. Sehun baru saja mau keluar langsung berhenti menatap gadis yang masih terduduk.
"Ada apa?"
Luhan bisa merasakan hawa membunuh yanng menusuknya. Astaga, ia akan gila sebentar lagi.
"T...tidak jadi,"
Perlahan Luhan melepas tangannya dari lengan Sehun. Sehun menghela nafasnya dan duduk kembali ke bangkunya menatap Luhan yang tertunduk.
"Luhan... keluar dari kelas ini, kau ke kiri, turunlah ke lantai satu, kau ingat kelas Yeri, tadi?"
Luhan mengangkat kepalanya. Ia masih bingung dengan ucapan Sehun. Tapi, ya ia masih mengingatnya jadi ia menganggukkan kepalanya.
"Bagus. Dari arah tangga sebelum ke kelas Yeri tadi ada lorong dengan cat yang warnanya lebih muda dari yang lain. berjalanlah kesana. Disana kau akan melihat banyak orang mengantri. Disana kantinnya,"
Luhan terpaku melihat Sehun yang masih membuat denah bayangan dari tangannya. Bagaimana dia tahu? Saat Luhan sama sekali tidak bicara apapun tentang kantin.
"Aku harus ke ruang OSIS, jadi aku tidak bisa mengantarmu, maaf. Tolong katakan pada Yeri jika ia kemari,"
"Yo! Park Sehun!"
Dari arah pintu, seorang laki-laki melambaikan tangan kearah Sehun. Sehun menatap Luhan sebentar dalam diam dan Luhan bisa merasakannya. Tatapannya seakan terkunci.
'Kau akan baik-baik saja'
Tatapan Sehun seolah mengatakan hal itu. Membuat Luhan merasa tenang.
Sehun mengalihkan pandangannya dan pergi kearah pintu. Mengabaikan bisikan para siswi yang kegirangan.
"Aneh,"
Luhan disambut pulang oleh beberapa maid di rumahnya yang besar. Ia selalu merasa nyaman disini entah kenapa. Dari jauh, ia melihat Ibunya berjalan kearahnya. Menarik Luhan duduk.
"Bagaimana sekolah?"
Ibunya- Kim Yixing, mengelus surai lembut anaknya. Sesekali turun mengusap pundak Putri satu-satunya itu.
"Ada hal menyenangkan dan tidak menyenangkan pastinya,"
"Apa kau betah disana?"
Luhan memiringkan sedikit kepalanya seperti sedang berpikir. Bibirnya mengembarkan senyum manis.
"Sangat!"
Yixing terkejut dengan anggukan dan suara putrinya yang mantap. Seolah-olah Luhan memang betah disana. Yixing tersenyum dan kembali mengelus surai putrinya.
"Nanti ceritakan saat Daddy pulang. Sekarang istirahatlah,"
Luhan mencium pipi Ibunya dan berjalan kearah tangga. Membuka pintu kamarnya. Nuansa pink langsung terlihat. Wallpaper hello kitty dan barang-barang yang hampir semua hello kitty.
Luhan meletakkan tasnya. Ia berjalan kearah gorden untuk menutupnya karena ia akan ganti baju. Tangannya berhenti saat ia melihat seseorang menatap rumahnya.
Matanya merasa tidak asing. Saat sadar Luhan membulatkan matanya.
"S...Sehun?"
.
.
.
TBC
•PESAN KRISGI•
Jangan lupa Review ya. Oiya, mian kalau banyak typo dan kalimatnya berantakan. Aku bikin tiga cerita waktu lagi transit di Malaysia 10 jam. ㅋㅋㅋㅋ
Tapi udah ku teliti kilat waktu sampai Korea, aku bahkan langsung beli kartu seharga 500ribuan lho, jadi tetap dukung karyaku ya, karena aku mengusahakan yang terbaik untuk semua reader-nim, hehe
.
Nanti mungkin aku agak lama update nya, karena aku lagi pulang kampung jadi banyak saudaraku yang lama nggak ketemu. Hehe. Tapi di chapter depan Kriagi usahain buat jawab pertanyaan para reader-nim, hehe
.
Dukung dua karyaku lainnya ya...
감사함니다 친구들.
.
Aku juga bikin Video Preview sebagai pengganti tulisan Next Chapter, menurutku itu lebih gampang dan lebih menarik. Yang mau lihat bisa lihat di sns-ku (maklum sebelumnya nggak paham, jadi baru) instagram/wattpad: pudichakris. Youtube: Krisgi Pudicha
