Chapter 9 : Recall
Link Preview:
watch?v=7ThHbNCj9UI
Special Thanks to:
[Cicifu][Asmaul][Arifahohse][Babybyun][JunaOh][heegi][misslah][Seravin509][wenjun][keripikbalado][Ramyoon][OSH46][KaiNieris][chanbaek00]
Cerita ini punya Krisgi ya Chingu~ No Copast or Plagiat yang diganti nama. Kalau ada yang repost tanpa izin bantu lapor ya Chingu
Cast:
Oh Sehun as Park Sehun
Xi Luhan as Kim Luhan
Byun Baekhyun as Byun Baekhyun
Paek Chanyeol as Park Chanyeol
Kim Yerim as Park Yeri
And others (Find Yourself)
.
Main Pairing:
Hunhan
Chanbaek
.
Genre: .
Rating:
T
Sinopsis:
"Kami pergi dari rumah itu karena kau meninggalkan kami, tapi aku berjanji. Aku janji akan mendapatkan rumah itu kembali dan menjaga apa yang sudah kau tinggal. Dan kumohon tak usah kembali"
-Park Sehun-
"Aku memang terlihat idiot tertawa dan bertingkah sok imut seperti katamu, tapi aku melakukan ini hanya untuk Ibuku jadi jangan salah paham"
-Park Yeri-
"Kau terlihat bahagia saat di cafe, apa tidak bisa tertawa seperti itu disini?"
-Kim Luhan-
Happy Reading
"Silahkan masuk,"
Luhan merentangkan tangannya untuk mempersilahkan Yeri dan Sehun masuk. Tadinya Sehun sendiri yang akan ke rumah Luhan, tapi setelah mengatakan niatnya pada Yeri, gadis itu langsung minta izin ikut pada Luhan dan yang pasti disetujui dengan syarat gadis mungil itu mau dicubit pipinya oleh Luhan.
"Ya ampun, Luhan! Siapa ini?"
Ibu Luhan menyambut bersama dengan seorang wanita berseragam jas dokter.
"Minseok ahjumma?"
Ucap Yeri dan Sehun bersamaan. Tidak percaya bisa melihat sahabat Ibunya sekaligus Ibu dari sahabat Sehun, Jonghyun yang selalu bikin onar itu. Terkadang Sehun heran kenapa anak dari seorang hakim dan dokter, bisa menjadi tidak waras seperti Jonghyun. Keahlian satu-satunya yang menurun dari orangtuanya hanya suaranya yang merdu.
"Ah! Yeri, Sehun. Kalian sedang apa disini?"
"Siapa mereka?" Tanya Ibu Luhan lagi.
"Mereka ini anak Baekhyun,"
Jelas Bibi Minseok. Melihat anggukan mengerti Ibu Luhan, Sehun dan Yeri berkesimpulan bahwa. Orang ini mengenal ibunya. Ya walaupun tidak heran karena Ibu Luhan menyewa rumah mereka.
"Aku tidak tahu kalau anak Baekhyun bersekolah di tempat yang sama seperti putriku,Kukira hanya anakmu saja dan anak Kris,"
"anak dokter Kim juga sekolah di tempatku?"
tanya Luhan ikut dalam pembicaraan. Ia merasa tidak pernah bertemu dengan orang yang terlihat seperti anak dokter Kim di sekolahnya.
"Ya begitulah, dan hari ini Ayahnya menelponku jika ia sedang berada di sekolah Putraku mengurus beberapa hal seperti biasa,"
Jelas dokter Kim sambil menggedikkan bahunya. Sehun dan Yeri pun juga ikut-ikutan mengedikkan bahu mengingat seorang Kim Jonghyun yang pembuat masalah itu. Untung orangtuanya sangat baik kalau tidak mungkin Jonghyun sudah tinggal nama saja sudah lama.
Dengan itu dokter Kim pamit pulang tanpa mengatakan apapun atau maksud kedatangannya yang ditanyakan oleh Sehun tadi. Juga setelah memperkenalkan Sehun dan Yeri kepada ibunya, Luhan segera mengajak kedua orang itu naik ke lantai atas.
Baik Sehun maupun Yeri merasa jantungnya berdetak cepat. Sudah hampir 10 tahun mereka tidak menginjakkan kaki di rumah yang menyimpan banyak kenangan ini, apalagi sekarang mereka akan menuju ke kamar dimana biasanya mereka tidur di waktu mereka masih kecil.
"nah ini kamarku," ucap Luhan sambil membuka pintu
Yeri terdiam ketika Luhan membuka pintu. Bisa ia lihat kamarnya dulu masih sama. Wallpaper berwarna pink bergaris muda dan tua masih terpasang Di dindingnya. Wallpaper yang dipasang oleh ayahnya ketika ayahnya mendapat bonus sebuah wallpaper gratis dari salah satu tempat kerja ayahnya.
Tapi dulu wallpaper-nya tidak penuh seperti sekarang. Dulu hanya bagian tembok kanan saja. Yeri lega Luhan tidak mengganti wallpapernya dan malah menambahkan dengan motif yang sama. Ia tahu dari adanya bekas cap tangan kecil saat dulu Yeri ikut menempel wallpaper itu bersama ayahnya. Tangannya terkena lem dan melekat pada dinding tembok itu. Bekasnya tidak bisa hilang. Dalam diam Yeri terkekeh kecil mengingat kenangan itu.
"Eonnie, boleh aku masuk,"
Luhan tersenyum dan mengangguk. Yeri melangkahkan kaki kecilnya masuk ke kamar Luhan, kamarnya dulu dan terduduk di kasur Luhan. Saat Luhan akan masuk, Sehun segera menarik tangan gadis itu.
"Apa kau keberatan jika meninggalkan adikku di kamarmu? Kurasa dia sedang bernostalgia," bisik Sehun.
Luhan hanya mengangguk pelan. Bukan karena dia mengerti Yeri, tapi karena jantungnya yang tidak karuan karena Sehun menggandeng tangannya.
"Boleh aku lihat kamar sebelah? Aku ingin melihat kamarku dulu," ucap Sehun dengan nada biasa sekarang.
Luhan mengangguk, masih berusaha mengontrol detak jantungnya. Ia menjulurkan tangan yang tidak digandeng oleh Sehun sebagai tanda untuk meminta Sehun memimpin. Tetap sambil menggandeng tangan Luhan, Sehun mulai berjalan kearah kamarnya dulu.
Disisi lain, Yeri duduk diam menatap Wallpaper bagian kanan itu. Tangannya mengepal di pahanya. Menghela nafas panjang dan menutup matanya.
Flashback
"Surprise!"
Yeri yang sedang membantu Baekhyun membuat pesanan Kimchi kaget tiba-tiba diangkat oleh tangan besar Ayahnya. Namun saat ia sudah seperti terbang, ia terkekeh.
Chanyeol menurunkan bidadari kecilnya itu dan menunjukkan apa yang dibawanya.
"Ja! Hadiah untuk Yeri yang juara melukis,"
Yeri terbelalak takjub. Ia melihat sebuah gulungan Wallpaper berwarna pink yang ia idam-idamkan. Ia ingin kamarnya berwarna pink, bermotif garis seperti kamar barbie yang di tontonnya.
Sehun yang baru saja datang dari mengambil air juga terkejut melihat gulungan wallpaper. Tidak menyangka Ayahnya akan pulang membawa barang mahal.
"Memang tidak cukup untuk seluruh kamar Yeri, tapi sebagian dulu kan nanti bisa dapat lagi. Kata bos Appa, jika appa kerja lebih baik lagi, nanti appa akan diberi bonus wallpaper lagi, jadi Yeri harus berdoa semoga bos appa tetap baik pada appa-"
"Untuk Sehun, nanti kalau Sehun juara satu lagi, appa juga akan bawakan wallpaper untuk Sehun, ne?"
Yeri memeluk Ayahnya dan disusul oleh Sehun. Baekhyun yang tidak mau ketinggalanpun ikut memeluk keluarga kecilnya sampai Chanyeol terjengkang ke belakang. Mereka semua tertawa bersama.
"Ayo kita pasang sekarang, Yeri-ah"
Yeri bangkit menatap gulungan itu dan baskom Ibunya. Perasaan semangat dan rasa ingin segera melihat wallpaper di kamarnya dihalangi oleh perasaan ragu dimana ia harus membantu ibunya.
"Sudah, Yeri pasang wallpaper dengan appa, membantu eomma dilanjutkan nanti,"
"Iya, Yeri-ah. Lagipula ada Oppa," tambah Sehun.
Melihat semua terlihat baik, Chanyeol segera bangkit dan menggendong Yeri. Di perjalanan keatas, Yeri terus cekikikan karena digoda Ayahnya.
Sesampainya di kamar, mereka bersiap. Chanyeol membawa lem sisa dari proyek bangunan tempat bekerjanya tadi siang. Ia sudah minta izin untuk memintanya, dan karena Chanyeol yang selalu sopan, bosnya pun mengizinkannya. Toh itu hanya sisa.
Mereka bahu membahu mengelem tembok bagian yang Yeri pilih. Untuk yang paling atas, Yeri naik ke pundak Chanyeol. Masih dipenuhi tawa di ruangan itu.
"Appa!"
Yeri berteriak ketika Chanyeol tidak sengaja mengenai Yeri saat mengangkat kursi. Tubuh kecil Yeri membuat Chanyeol tidak melihat gadis kecil itu. Yeri terjerembab ke depan , namun tangan kecilnya dengan cepat menumpu tembok.
"AH!"
Yeri merasakan hal yang aneh pada tangannya. Ia baru ingat tangannya terkena lem, dan itu membekas pada Wallpapernya. Yeri menatap bekas tangan itu diam. Akhirnya ia memiliki wallpaper, tapi karena kecerobohannya, wallpaper itu jadi berbekas.
Chanyeol melihat Yeri diam langsung mendekati putrinya.
"Wah, Yeri sudah mengecap tangan duluan,"
"Maa..."
"Padahal appa ingin eomma dan Sehun Oppa melihat ketika Yeri mengecap tangan,"
Yeri terdiam. Ia membalikkan badannya kearah appanya yang tersenyum lebar, mirip dengan senyumannya.
"Ini sebagai tanda kalau Yeri yang menempel wallpaper ini. Yeri -lah yang berhak, seperti di TV, orang akan mengecapkan tangan pada karyanya kan?"
Yeri mengangguk. Memahami bahwa wallpaper ini memang miliknya. Ia tersenyum. Ya. Nanti Yeri akan ingat bagian ini. Dimana dia tertawa bersama appa nya menempel wallpaper.
Bahkan setelah mereka selesai, Yeri tetap duduk di kasur kecilnya menatap tembok kanan kamarnya. Cantik dan Bagus. Ia berjanji dalam dirinya, bahwa dia akan memenangkan banyak lomba agar bisa menghabiskan waktu bersama appanya lagi.
Flashback end
Sehun melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Kamarnya dulu kini menjadi ruang perpustakaan dan belajar Luhan. Tidak seperti dulu, Sehun melihat temboknya sudah dilapisi Wallpaper.
"Dulu..."
Luhan terlonjak di belakang Sehun saat namja itu tiba-tiba bersuara. Tapi untunglah Sehun tidak melihatnya. Namja tinggi itu terus melihat seluruh ruangan.
"Ayahku bilang padaku, kalau nanti aku bisa peringkat satu lagi, Ayah akan membawakan wallpaper untukku,"
Dari belakang, Luhan bisa merasakan hawa sedih dari Sehun. Sehun terus berjalan sampai ke meja Luhan.
"Dulu mejaku juga disini. Disini aku belajar dan mengahabiskan banyak waktuku untuk membaca,"
"Kau pasti sangat pintar dulu. Kau suka belajar?"
Sehun menggeleng. Senyum tipis terlukis di wajahnya. Dalam pikirannya. Mana ada anak kecil yang suka belajar? Sehun duduk di kursi dan menarik kursi lainnya mendekat.
"Mau dengar ceritaku?" Tawar Sehun.
Bagaimana reaksi Luhan? Hampir saja gadis itu pingsan melihat senyum sehun yang sangat... tampan? Luhan mengangguk dan menarik kursinya, duduk di sebelah Sehun.
"Dulu rumah ini... isinya hanya tawa. Walaupun kami punya rumah besar, tapi hidup kami tidak mewah. Ibu hanya dirumah, menerima pesanan masakan seperti kimchi atau yang lain, dan Ayahku-"
"Dia bekerja keras,"
Luhan bisa melihat senyum tipis Sehun yang kelihatan menyakitkan. Sehun memejamkan matanya. Sedang mengingat masa bahagia keluarga kecil mereka.
"Aku... bahkan tidak tahu seberapa banyak pekerjaan Ayahku. Di pagi buta, Ayah akan mengantar susu sekalian bubur yang orang pesan pada Ibu setiap pagi. Setelah sarapan, Ayah akan pergi ke supermarket untuk bekerja, sedangkan Ibu mengantarku dan Yeri,"
Sehun menerawang keatas lalu mengalihkan pandangannya ke Luhan. Gadis itu diam mendengarkan. Berusaha menjadi pendengar yang baik untuk Sehun.
"Lalu setelah pulang dari supermarket, Ayah akan bekerja sebagai tukang di toko Wallpaper. Jika Ayah dapat shift malam di supermarket, paginya Ayah akan ke proyek bagunan, menjadi salah satu kuli tambahan, lalu ke toko wallpaper, lalu bekerja di supermarket sampai pagi. Tidur sekitar 2 jam lalu mengantar susu dan bubur lagi, sambil menunggu shift nya,"
Sehun memejamkan matanya. Ia tidak tahu kenapa ia tiba-tiba bercerita pada Luhan yang bahkan lama bertemu dengannya. Tapi Sehun merasa nyaman. Luhan diam mendengarkan dengan tenang, bahkan ekspresinya seperti ikut merasakan apa Sehun rasakan.
"Tapi walaupun pekerjaan Ayahku banyak, tapi pekerjaanya hanya part time, jadi gajinya juga tidak full. Ayah punya tanggungan hutang untuk usahanya yang bangkrut karena orang yang jahat pada kami. Sekolahku dan Yeri juga sangat mahal. Ayah bilang padaku, jika aku sekolah di tempat yang Bagus, aku akan pintar, anak pintar akan dapat beasiswa, dan jika aku bisa mendapat beasiswa, itu akan sangat meringankan beban Ayahku."
Flashback
Hari minggu bagi anak-anak adalah hari dimana mereka bisa tidur sampai siang, tapi tidak dengan Sehun. Anak ini sudah memakai jaket hangat dan celana panjangnya. Topinya ia tarik sampai telinga. Walaupun bangun di pagi buta, tapi sama seperti anak-anak lain , Sehun selalu menantikan hari Minggu.
Saat ia keluar kamar, Sehun sudah melihat kotak penuh dengan termos bubur.
"Sehun mau ikut ayah lagi?"
Tanya Baekhyun begitu melihat putranya rapi. Sehun kecil mengangguk sambil tersenyum.
"Wah, appa beruntung sekali ne, appa tidak perlu turun dari sepeda,"
Chanyeol menyambut Sehun. Chanyeol mengangkat keranjang bubur ke sepedanya. Sehun yang sudah cukup tinggi, naik di belakang ayahnya. Jika bersama Sehun, Chanyeol akan membawa koran sekalian untuk diantar. Keranjang Susu akan dipangku Sehun, buburnya ia letakkan di depan. Dan korannya akan ia sampirkan dengan tas. Kalau sendirian, Chanyeol akan berkonsentrasi penuh pada botol susu agar tidak pecah, tapi karena ada Sehun, ia jadi bisa dengan tenang mengayuh sepedanya.
Chanyeol tidak perlu turun karena Sehun akan menggantikannya. Anak itu akan berlari memberi pesanan sang pemilik rumah dan berbalik kembali ke Chanyeol sambil tersenyum.
Mereka berdua selalu bercanda di sepanjang perjalanan, membuat waktu hanya khusus antar lelaki.
"Appa! "
"Hn?"
"Appa apa tidak capek setiap hari bangun pagi dan pulang malam?"
"Lho, bukannya hampir semua Ayah seperti itu. Berangkat pagi pulang malam,"
Ucap Chanyeol sambil mengayuh sepedanya. Jika sudah sampai ke rumah pemesan, Sehun akan turun dan obrolan mereka langsung lanjut setelah Sehun naik.
"Tapi pekerjaan appa berat. Appa harus mengangkat banyak barang, berat-berat, "
Chanyeol terkekeh setelah Sehun menyuarakan pendapatnya. Terselip rasa bangga dan senang bahwa anaknya peduli padanya.
"Sehun mau membandingkan Appa dengan Ayah teman Sehun di sekolah? Yang hanya duduk di kantor? Tentu berbeda-"
"Sehun lihat sendiri kan? Ayah mereka gendut karena tidak bergerak di kantor, tapi appa? Badan appa berotot dan appa sangat kuat. Appa juga tampan. Bukankah begini lebih baik? Dapat olahraga gratis,"
Jawab Chanyeol sambil dengan kekehannya. Selalu seperti itu. Chanyeol selalu tertawa dan tersenyum ketika bersama keluarga kecilnya, karena memang ia bahagia. Tidak ada kebohongan. Semua terasa lebih ringan dan menyenangkan. Karena keluarga mereka yang harmonis.
"Sehun hanya takut. Takut kalau appa hanya memaksakan diri karena Sehun sekolah di tempat mahal,"
Chanyeol tertegun dan diam sesaat walaupun kakinya tetap mengayuh sepeda.
"Memang Sehun tahu darimana kalau sekolah Sehun mahal?" Tanya Chanyeol.
"Kemarin... saat melihat bekal Sehun, Siwon bilang bagaimana bisa Sehun sekolah di sekolah mahal seperti itu,"
Jawab Sehun polos. Sehun masih berumur 5 tahun dan masih di Taman kanak-kanak, jadi jawaban yang keluar darinya khas polos anak kecil.
"Lalu? Sehun jawab apa? Apa Sehun marah?"
Sehun menggeleng. Walaupun tidak melihat, tapi chanyeol bisa merasakan kepala putranya menggeleng.
"Tidak. Sehun bilang karena appa bekerja keras. Tapi Sehun sedih,"
"Kenapa? Karena makanan Siwon lebih enak?"
"Tidak! Masakan eomma yang terbaik. Bekal mereka rasanya selalu sama karena mereka beli, tapi bekal Sehun eomma yang masak,"
"Lalu? Kenapa sehun sedih?"
"Karena Sehun takut, appa sebenarnya capek karena Sehun sekolah di tempat mahal,"
Chanyeol menghela nafasnya. Rasa prihatin dalam dirinya kembali menyeruak. Dimana anakanya yang harusnya tenang dan menikmati masa bermainnya, harus memikirkan keadaan Ayahnya, bahkan Chanyeol sering membayangkan bagaimana perasaan Sehun ketika teman-teman nya mengejeknya.
"Apa Sehun tahu investasi? Seperti kalau kita menabung, nantinya kalau kita kumpulkan terus akan jadi banyak kan?"
Sehun mengangguk yang kembali bisa dirasakan Chanyeol.
"Kalau Sehun sekolah di tempat yang Bagus. Sehun bisa dapat ilmu yang banyak dan cepat pintar. Kalau Sehun pintar nanti Sehun akan sukses dan bisa membantu Appa dan Eomma-"
"Lagipula kalau Sehun khawatir, sekarang Sehun belajar yang pintar. Nanti kalau sudah sekolah dasar saat kelas empat kan Sehun bisa dapat beasiswa kalau jadi yang paling pintar, nanti Sehun bisa sekolah gratis, seperti appa dulu,"
"Jadi Sehun bisa sekolah gratis?"
Chanyeol tersenyum dengan pertanyaan polos putranya.
"Sebenarnya kalau Sehun pintar, Sehun akan dapat uang, jadi uang itu akan dipakai untuk membayar sekolah. Bukankah keren kalau Sehun bisa bayar sekolah sendiri?"
"Yehet! Kalau gitu Sehun akan belajar yang rajin dan dapat beasiswa. Appa bisa duduk manis dan istirahat,"
"Tentu. Appa tunggu! Ini janji antar lelaki,"
"Janji!"
Teriak Sehun yang bersorak kegirangan membuat sepeda mereka bergoyang hebat walaupun tidak jatuh. Ayah dan anak ini tersenyum dan kembali tertawa bersama
Flashback end
"Sebenarnya aku tidak suka belajar, tapi berada di rumah dan membaca buku akan membuatku lebih cepat membantu Ayahku daripada mendengar teman-temanku pamer,"
Luhan, entah apa yang dipikirkan gadis itu, ia menjulurkan tangannya meraih tangan sehun. Mengelusnya lembut dengan kedua tangannya. Sehun yang kaget dengan pergerakan Luhan masih terdiam. Matanya terkunci pada mata rusa Luhan yang menatap sendu kearahnya.
"Kau adalah anak yang baik, Sehun-ah,"
Ya. Ia adalah anak yang baik. Sehun menutup matanya dan menghela nafasnya panjang. Seakan ada beberapa beban yang terangkat dari pundaknya.
"Terima Kasih lu...LUHAN!"
"Bagaimana rencanamu, Park?"
Seorang laki-laki tinggi berjalan keluar dari kursinya. Berjalan kearah jendela yang memberikan pemandangan khas kota metropolitan.
"Kudengar Ayahku kembali menemui mereka, "
"Ya, sebenarnya hanya anak-anakmu. Ayahmu masih bersikukuh untuk memasukkan mereka sebagai penerus keluarga Park,"
Namja yang menghadap jendela itu tersenyum sinis.
"Dulu mereka tidak diakui, sekarang malah dikejar-kejar, "
"Ya... dan yang jelas mereka menolak mentah-mentah. Dan aku masih kaget dengan Yeri kecil. Ia terlihat sangat manis setiap saat, tapi saat bertemu dengan ayahmu kemarin, tatapan matanya sangat tajam,"
Namja tinggi itu berpaling dan tersenyum kearah lawan bicaranya. Ia melangkahkan kakinya menuju sofa di mana lawan bicaranya duduk sambil meminum kopinya.
"Bahkan aku yakin mereka juga kaget. Setelah penolakan mentah-mentah 2 tahun yang lalu, orang itu kembali menganggu mereka,"
"Dan aku benci kenyataan bahwa saat itu aku berhutang Budi pada naga China itu,"
Si tamu menghentikan acara minumnya untuk tertawa. Mengingat ternyata temannya memang tidak pernah berubah, selalu posesif dan cemburuan.
"Apa kau akan menemui mereka?"
"Tentu, waktuku tidak banyak,"
Orang itu terdiam. Hening. Ya, mereka harus bergerak cepat atau usaha mereka hanya akan sia-sia.
"Hei, Jongin. Apa kau sudah mengurus semuanya? Aku tidak ingin ada kecacatan saat bertemu mereka,"
Pria yang diajak bicara, Jongin, meletakkan cangkir kopinya yang kosong ke meja.
"Tentu, kau bisa percaya padaku. Bahkan Kyungsoo selalu mengingatkanku, ah! Lelah,"
"Hm... kau membicarakan Kyungsoo, membuatku semakin merindukannya,"
"Kau merindukan istriku?"
Ucap Jongin dengan nada meninggi.
"Untuk apa aku merindukan wanita galak seperti Kyungsoo,"
"Ya, dan mengerikan,"
Mereka berdua terkekeh. Menghadap satu sama lain seperti jaman dulu. Disaat mereka masih bebas bermain, selalu ada wanita yang mengingatkan mereka untuk kembali ke jalan yang lurus.
Jongin menatap lawan bicaranya yang tiba-tiba berhenti tertawa. Orang itu menghela nafasnya panjang walaupun bibirnya melukiskan senyum gipis, tapi Jongin yakin namja itu sedang tidak baik-baik saja.
"Chanyeol?"
Chanyeol mendongakkan kepanya. Tersenyum tipis kearah Jongin. Tangannya memainkan apa yang terpasang di punggung tangannya.
"Tapi Baekhyun memintaku menunggu sebentar lagi,"
.
.
.
TBC
SESI JAWAB REVIEW:
KaiNieris
R: Makin kemari makin banyak aja hal yang bikin penasaran.
Tadi Baekhyun nelpon siapa? Chanyeol, kah?
Aku senang author nerima saran aku, semoga kedepannya makin bagus lagi.
Keep writing..
A: hehe, step by ste 스타일 ㅋㅋ. Di Chapter ini sudah terjawab kan? Hehe. Kriagi senang dikasih saran, dukung terus ya supaya jadi lebih baik, gomawoyo
Ramyoon
R:iseng2 berhadiah yak~ buka ffn ternyata udah di update hihi! Ibunya Luhan yang teriak kemarin di kamar lulu belum terjawab._. Luhan kenapa disana ya kira-kira.-. Terus orang yang manggil Yeri di sekolah juga makanya Yeri jd marah pulang dari ketemu Kris itu belum tau siapa._. huhu..
Kakaknya buka onlineshop? Yeaaaaaaa! nanti di cek ah kali aja ada yang ditaksir jd bisa pesen deh huhu
A: Gomawo karena udah nungguin, di Chapter ini ada makna tersiratnya lho, jadi pertanyaannya bisa terjawab kan? Online shop untuk mengisi waktu luang, karena aku pakai make up dari negeriku sendiri, dan aku nggak selalu pulang kesana, jadi biat shipping nya lebih murah aku jual sekalian, boleh-boleh dipesan 🐙🐙
Asmaul
R : Yeri orang nya keras ya, jangan sampek yeri benci sama baekhyun,,,, baek ngomong sama siapa?
Next chingu, makasih id ig nya,, udah aku add
A: pada dasarnya, Yeri terlalu sayang sama keluarganya, jadi dia berusaha untuk kebahagiaan bersama, da Yeri nggak akan benci
Baekhyun, karena Yeri pun nggak bisa benci sama Chanyeol juga. Baekhyun ngomong sama... udah terjawab kan di Chapter ini? Gomawo nanti kirim dm buat ngobrol, gimawo review nya
Arifahohse
R: next n fast update ...
A: gomawo~ diusahakan ne~
OSH46
R:whaa makin penasarann... lanjut lanjutt hihih
A:Ne~ gomawoyo review nya 😄
Heegi
Q: eehh baru review, ehhh udh dilanjut, hehe kelamaan gak buka internet sihhh..
ehh luhan sakit apa?
jgan blng luhan sakit parah, jgn donk, kan ksihan luhannn!
trus luhan kok gak tau wendy sepupunya?
baekhyun ngomong sama siapa tuh?
bikin penasaran?
next secepatnya ya thor, diTUNGGU
R: Luhan sakit apa ya...Luhan sakit nggam ya? hehe stay tuned. Karena Wendy selalu berperan sebagai mata-mata, kekeke. Baekhyun ngomong sama orang yang udah dijawab di Chapter ini. Diusahakan ne~
Heegi
R:lahhh kenapa tuh luhan 'Tes'?
syukurrr wendy sama sehun gak ada perasaan apaapa! huhhhh
baekhyun masih blm bisa lupain papih cahyo yah, sabar ya mihhhh..
thor pengen moment hunhan, kapan moment hunhannya?
next scpatnya ya thor :-D
A: disini ada makna tersirat, udah terjawab kan? Hehe, iya Sehun sama Wendy pure teman, karena Kris selalu memberi izin ke Wendy untuk merebut Yoona asal Wendy mau menjaga Sehun sama Yeri.
Iya kan? Krisgi juga kalau punya pacar bertahun-tahun pasti susah nglupain, apalagi mereka membagi susah senang bersama. Moment Hunhannya step by step, nanti Sehun punya banyak pikiran, kasihan. Gomawo udah mereview dan diusahakan secepatnya ne,
Wenjun
R: serius baru pertama review dibales sebenernya aku ini dulu silent riders gitu, bukan ga ngehargain cuma ga ngerti aja waktu itu ga punya acc ffn bingung reviewnya hehe.
eh iya btw ini hunhan on point atau sehun-yeri nih?
sehun yerinya banyakin yaaa, kusenang baca sehu jadi kakak gini
lanjut terus plis jangan tiba2 ada capslock [HIATUS] ugh benci banget kalo udah liat gini
p.s : wordnya banyakin ya biar air matanya kejer #banyakmau
hehe fighting!
A: aku senang bisa keep in touch sama para reader-nim, hehe. Gapapa yang penting sekarang sudah berubah dan Krisgi senang banget di review terus, hehe. Problematikanya berat di keluarga park, tapi nanti Luhan ikut keseret juga. Dan pokoknya, kalau reader-nim rajin me-review yang jadi Sumber semangat Krisgi, HIATUS nggak akan ada, hehe. Krisgi bahkan bawa hp indo biar tetep bisa update di korea. Untuk panjang wordnya, udah Krisgi usahain, kurang panjangkan? Oiya, kejer apa artinya ya, hehe? Deras kah? Tetap saja gomawoyo dukungannya.
Keripik Balado
R:Next noona~
A: Ne, Gomawoyo ~
Pesan Krisgi
Hi, Chingu~ gimana kabarnya. Disini Krisgi sangat baik -baik saja, hehe. Gimana ceritanya? Puaskah? Atau masih ada yang kurang? Ini Krisgi udah mulai membuka jawaban beberapa pertanyaan dari Chingu deul, masalahnya mulai kebuka nih, hehe, dan berusaha maksimal untuk memanjangkan ceritanya, semoga kalian suka.
.
Oiya seperti kata Krisgi kemarin, rencananya Fanfiction ini mau sampai sekitar 15 Chapter, tapi kalau responnya kurang Bagus, mau Krisgi selesaikan di Chapter 10 aja, yang berarti next Chapter. Jadi tolong Review nya supaya Krisgi tahu pendapat para reader-nim. Walaupun konfliknya masih belum semua, tapi Krisgi nggak semangat kalau nggak di dukung.
.
Sekian Chapter kali ini, semoga para reader-nim suka. Segala bentuk masukan akan Krisgi terima dengan baik. Gomawoyo
Jangan lupa Reviewnya ya~ jangan jadi silent reader please biar aku tahu pendapat kalian tentang karyaku. Gomawoyo.
Untuk yang mau ngecheck preview sebelum Fanfictionnya update, bisa lihat di sns ku pudichakris atau channel youtube aku Krisgi Pudicha
Tetap selalu Krisgi berterima Kasih pada Reader-nim yang mau membaca, vote, dan comment. itu jadi semangat Krisgi untuk terus menulis. Gomawoyo
Sekian dulu ya, see you on Next Chapter.
