Chapter 12 : Coin

Cerita ini punya Krisgi ya Chingu~ No Copast or Plagiat yang diganti nama kecuali dengan izin Krisgi secara langsung. Kalau ada yang repost tanpa izin bantu lapor ya Chingu

Cast:

Oh Sehun as Park Sehun

Xi Luhan as Kim Luhan

Byun Baekhyun as Byun Baekhyun

Paek Chanyeol as Park Chanyeol

Kim Yerim as Park Yeri

And others (Find Yourself)

.

Main Pairing:

Hunhan

Chanbaek

.

Genre: .

Rating:

T

Sinopsis:

"Kami pergi dari rumah itu karena kau meninggalkan kami, tapi aku berjanji. Aku janji akan mendapatkan rumah itu kembali dan menjaga apa yang sudah kau tinggal. Dan kumohon tak usah kembali"

-Park Sehun-

"Aku memang terlihat idiot tertawa dan bertingkah sok imut seperti katamu, tapi aku melakukan ini hanya untuk Ibuku jadi jangan salah paham"

-Park Yeri-

"Kau terlihat bahagia saat di cafe, apa tidak bisa tertawa seperti itu disini?"

-Kim Luhan-

Happy Reading

'GREEEKK...GREEKKKKK'

"Luhan Sayang! Bangun nak!"

Ibu Luhan terus memanggil Luhan sambil mendorong ranjang luhan masuk ruang operasi. Sehun, Yeri, dan Tao juga ikut mendorong kasur Luhan. Semuanya panik berusaha membangunkan Luhan. Luhan terlihat sangat pucat terbaring disana.

"Serahkan padaku,"

Dokter Kim segera masuk ke ruang operasi dengan para staff nya untuk menyelamatkan Luhan. Setelah pintu tertutup semua mendesah frustasi. Tao masih menatap kosong ruang operasi yang baru saja ditutup. Bagaimana tidak? Luhan pingsan setelah menggenggam tangannya sangat erat. Ia sangat kaget dan takut jika terjadi sesuatu pada sunbaenimnya, Ia adalah orang yang paling merasa bersalah.

"Sehun! Yeri!"

Tiba-tiba Baekhyun datang sambil berlari. Tadinya ia ingin menjemput Sehun dan Yeri di sekolah untuk mengajaknya pergi, tapi pihak sekolah bilang mereka ke rumah sakit. Dengan perasaan khawatir, tanpa mendengarkan penjelasan lebih lanjut, baekhyun langsung melesat pergi.

"Sudah kubilang, mereka tidak apa-apa,"

Kedatangan orang itu membuat Sehun dan Yeri menjadi bungkam dan memusatkan perhatian kesana. Tao yang juga melihat Chanyeol langsung membungkam mulutnya dengan tangan, tidak percaya musuh besar Yeri dan Sehun ada disini.

Sedangkan Baekhyun berlari memeluk kedua anaknya dengan erat. Chanyeol mengikuti Baekhyun di belakang, membuat suasana semakin dingin antara Sehun dan dirinya. Chanyeol hanya diam melihat tatapan dingin putranya itu. Jujur Sehun sedang berada disuasana yang buruk karena Tao, lalu Luhan pingsan, dan sekarang Chanyeol ada di depannya.

"Apa yang kalian lakukan disini? Membuat eomma khawatir saja,"

Ucap Baekhyun sambil mengusap wajah anaknya dengan wajah khawatir. Sehun dan Yeri hanya diam, begitu pula dengan Tao. Baekhyun melirik ke kursi panjang. Disana duduk perempuan yang sangat ia kenal. Tanpa memperdulikan sekitarnya, wanita itu terus berdoa. Baekhyun mendatanginya. Mengelus pundak wanita itu berusaha menenangkannya. Ibu Luhan terkejut dan mengangkat kepalanya. Begitu melihat Baekhyun, wanita itu langsung memeluk Baekhyun dengan erat sambil menangis.

"Baekhyun-ah... hiks... aku tidak sanggup lagi... aku tidak sanggup jika aku harus kehilangan putriku lagi! Ini terjadi lagi, Baekhyun-ah! Hiks... aku lengah! Karena semua baik-baik saja, aku lengah!"

"sudahlah, eonnie. Luhan pasti baik-baik saja,"

"Hiks... Aku takut Baek... Aku takut! Setiap melihatnya aku selalu takut. Aku takut jantungnya sakit jika ia kelelahan, aku takut dia tiba-tiba pendarahan ketika ia jatuh. Aku bahkan takut setiap melihatnya tidur, takut tiba-tiba ia tidak bernafas!"

Baekhyun terus memeluk dan berusaha menenangkankan Yixing. Baekhyun bersyukur karena ia datang kemari, karena pasti ini sangat berat bagi Yixing. Suaminya berbisnis di Kanada. Sekarangpun Kris dan keluarganya juga sedang ada urusan di Kanada, ya walaupun mereka semua pasti sudah diudara kembali kemari.

Entah apa yang terjadi, Yeri memberanikan diri melirik Chanyeol. Namja tinggi itu berdiri diam memandang kedua orang itu. Apakah Chanyeol ikut merasakan kesedihan dan ketakutan Ibu Luhan, takut kehilangan?

"Akupun juga..."

Baekhyun mengangkat sedikit kepalanya sehingga ia bisa menatap namja yang menatapnya sendu.

"Aku juga takut kehilangan... orang yang kucintai,"

Chanyeol menunduk, merasa bersalah? Seperti ia akan mengalami kesalahan dimasa lalu lagi? Meninggalkan Baekhyun dan anak-anaknya lagi?

"Tapi aku yakin, mereka akan berusaha," Chanyeol mengangkat kepalanya.

"Tidak ada orang yang mau meninggalkan orang yang kita cintai, jadi pasti mereka akan berusaha untuk tidak meninggalkan kalian,"

Baekhyun berkaca-kaca mendengar ucapan Chanyeol. Ya, mungkin seperti Chanyeol, dengan cara yang berbeda, pasti Luhan tidak ingin pergi. Pasti ia ingin lebih lama berkumpul dengan orang-orang yang ia cintai.

Disisi lain, Yeri terus berusaha menenangkan Sehun yang mulai terbakar emosi karena ucapan Chanyeol. Yeri berusaha menatap mata kakaknya dengan tatapan memohon. Sehun tidak terima ketika Chanyeol mengatakan bahwa 'Tidak ada orang yang mau meninggalkan orang yang kita cintai' , lalu dulu apa yang namja itu lakukan dulu? Apa Chanyeol tidak pernah mencintainya, Yeri, bahkan Ibunya?

Beberapa jam berlalu dengan sunyi. Mereka semua enggan berpindah dari tempatnya. Yixing sudah mulai tenang dan bersandar di pundak Baekhyun. Batinnya sudah sangat lemas karena kekhawatiran yang tidak pernah berhenti.

'Krieeet'

Dokter Kim keluar dari ruang operasi. Wanita itu melepas sapu tangan serta maskernya. Melihat Yixing yang bahkan tidak sanggup berdiri lagi, Dokter Kim mendekatinya. Wajah Ibu Luhan itu terlihat bahwa wanita itu sangat lelah.

"Yixing..."

Dokter Kim merendahkan tubuhnya di depan Yixing. Ia mengelus lembut tangan Yixing berusaha menenangkan wanita itu.

"Luhan kelela..."

"tolong katakan jujur, Minseok-ah," Yixing menegakkan tubuhnya,"aku akan menerimanya,"

Minseok menghela nafasnya panjang. Ia tidak yakin sanggup memberitahu Yixing tentang keadaan Luhan, tapi hal ini tidak boleh ditutupi. Wanita ini adalah Ibu Luhan. Yang selama hidup Luhan terus mengkhawatirkan keadaan gadis itu.

"Mari kita cari pendonornya sekali lagi, kita berusaha lebih kuat untuk mencarinya. Aku akan bi-"

"Apa yang terjadi?" tubuh Yixing menegang mendengar pernyataan Dokter Kim.

"Aku sudah memasang alat bantu untuk membantu jantungnya memompa darah, tapi..."

Minseok sekali lagi menghela nafas. Raut kekhawatiran di wajah Yixing semakin jelas. Wanita itu terus mengelus dadanya sambil berdoa dalam hati.

"Pembuluh darahnya, tidak kuat lagi. Mereka bisa pecah sewaktu-waktu, tidak bisa menyeimbangkan mesin..."

'BRAAAK!'

"Apa yang akan terjadi padanya jika mesin itu dimatikan?"

Semua menatap Sehun yang baru saja menendang tempat sampah. Entah kenapa perasaan namja itu campur aduk mendengar kondisi Luhan. Ia bahkan tidak tahu bahwa Luhan sakit separah itu . Luhan selalu menolak memberi tahu Sehun, hanya tersenyum di depannya dan selalu tertawa. Ia juga selalu berkata baik-baik saja saat Sehun merasa ada yang aneh pada gadis itu.

"Alat itu membantu Luhan untuk memompa darahnya, karena jantungnya hampir tidak berfungsi. Jadi aku yakin kau tahu apa yang akan terjadi jika aku melepas alatnya."

"Ahjumma!"

"Bukankah kau dokter hebat?! Kenapa kau tidak bisa menyelamatkan Luhan? Kau sudah belajar bertahun-tahun bahkan di luar negeri!"

"Ya, Park Sehun!" bentak Chanyeol.

"Jangan sebut namaku dengan namamu yang menjijikan itu!" Sehun balas membentak dengan tatapan tak kalah tajam dari Chanyeol.

"Sehun!"

"Eomma jangan selalu membela orang ini! Dia meninggalkan kita untuk kebahagiaanya sendiri!"

Baekhyun melebarkan matanya. Ia tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dan yang sekarang ia lihat. Ini bukan Sehun putranya.

"Oppa!" Yeri kembali menggenggam tangan Sehun, tapi Sehun menghempaskannya, sehingga tubuh kecil Yeri terbentur tembok. Tao langsung membantu Yeri yang jatuh. Gadis itu mengelus pundak Yeri karena gadis itu kesakitan.

"Sehun! Cukup!" teriak Baekhyun.

"Oppa, kau ini kenapa?"

Tao menganggkat kepalanya menatap Sehun. Tangannya masih mengelus pundak Yeri yang Tao yakin terbentur sangat keras, karena tao bisa m

endengarnya. Ia bahkan tahu gadis ini sedang menggigit bibir bawahnya menahan tangis.

"kenapa katamu?" Tanya Sehun sinis.

Sehun menarik tangan Tao yang secara otomatis membuat Yeri kembali terbentur. Sehun memaksa Tao berdiri dan menatapnya tajam.

"Ini semua salahmu Tao!"

Tao sangat takut melihat ekspresi wajah Sehun. Sedetikpun ia belum pernah melihatnya, membuat tao benar-benar yakin bahwa yang di depannya ini bukan Oppa yang selalu melindunginya selama ini. Tao menguatkan hatinya, dan menghempas tangan Sehun dari pergelangannya.

"Apa yang kulakukan?!"

Walaupun takut, tao tetap berusaha untuk berani. Gadis itu balas menatap Sehun, hatinya gemetar menahan takut.

"Masih bertanya? KARENA KAU, LUHAN SEPERTI INI TAO!"

Sehun mencengkram erat pundak Tao dengan amarah.

"Kau sangat egois! Kau membuatnya mengejarmu hanya karena keegoisanmu. Kau tidak peduli dengan orang lain dan hanya terpaku pada keegoisanmu sendiri! KAU SELALU BEGITU! TAK PEDULI ORANG LAIN!"

"Sehun hentikan," Chanyeol mulai mendekat.

"Tak tahukah kau sikapmu itu KEKANAK-KANAKAN! TAHUKAH ITU SANGAT MEREPOTKAN! Berhentilah bersikap seperti hanya ada dirimu di dunia ini."

"Sehun, Appa bilang berhenti!"

"Kau yang berhenti! Jangan ganggu hidupku, kau tak berhak. Jangan menyebut dirimu Appa ku karena sudah lama aku tidak punya appa!"

Chanyeol terpaku diam merasakan hal aneh dalam dirinya.

"Dan kau! Selalu menjadi beban dan ti..."

'PLAAAK!'

Sehun langsung memegang pipinya. Dihadapannya kini Baekhyun berdiri sambil mengatur nafas. Wajahnya sangat merah menahan marah. Mata kecilnya yang biasanya cantik dan lembut menatap orang, kini melotot lebar penuh amarah. Bisa terlihat disudut mata wanita itu, air mata tertahan untuk keluar.

Sehun membelalakkan matanya. Menyadari kesalahan yang ia perbuat barusan. Ia menatap matanya Ibunya sendu.

"eomma, maafkan aku. Aku hanya takut kehilangan Luhan,"

"Dengan menyakiti kami?" Tanya Yeri.

Sehun mengalihkan pandangannya. Adiknya masih terduduk sambil mengelus tangannya, dan menatapnya sendu. Sehun kembali mengusak rambutnya. Menyadari bahwa ia baru saja melukai fisik adiknya dan tentu juga hatinya.

"A...aku..."

"Eomma Paham,"

Sehun kembali mengalihkan pandangannya pada Ibunya. Baekhyun masih manatap tepat di mata Sehun.

"Eomma paham! Sangat paham! Eomma tahu kau sangat sayang pada Luhan dan tidak ingin kehilangan dia, tapi kau tidak punya hak untuk melampiaskannya ke orang lain!"

Baekhyun kembali mengigit bibirnya, berusaha menahan tangisannya. Sedangkan Sehun benar-benar merasa bersalah. Bahkan Ibunya saat ditinggal Appanya tidak semenyedihkan ini , membuat Sehun paham bahwa ia mengecewakan Baekhyun lebih dari yang Appanya perbuat.

"eomma tidak ingin membandingkannya, tapi eomma yakin Luhan pun setuju. Ia tidak mau melihatmu seperti ini karena kau bisa kehilangan Adikmu! Appamu! Kau bahkan juga akan ke..."

"Tidak perlu Ahjumma,"

Semua perhatian kini teralih pada Tao yang sedari tadi diam mematung. Gadis itu mengangkat kepalanya, terlihat wajah datar, tapi menyedikan. bahkan siapapun yang melihat akan kasihan padanya.

"Oppa tidak akan merasa kehilanganku, karena aku hanya beban untuknya."

Tao menatap Sehun. Walaupun wajah gadis itu tidak menangis, tapi wajah datarnya itu bahkan lebih menyedihkan daripada jika ia menangis.

"Aku melepasmu Oppa, aku tidak ingin jadi bebanmu," Tao melangkah pergi.

"Eonnie!"

"AKKHH!"

'BRUUUKK!'

"CHANYEOL!/APPA!"

.ooo.

Chanyeol terbaring lemah di kamar rumah sakit. Wajahnya sangat pucat dan terlihat lelah. Baekhyun terus menunggu di depan ruangan sampai Chanyeol selesai di periksa. Yeri berusaha menenangkan Eommanya.

Sehun yang seharusnya disini, memilih untuk pergi entah kemana. Untuk pertama kalinya Yeri sangat kecewa dengan kakaknya.

"Baek..."

Dokter keluar dari ruangan Chanyeol. Baekhyun mengangguk mengerti dan melepas tangan Yeri yang masih mengelus pundaknya. Digenggamnya tangan itu dengan lembut.

"Sayang, eomma akan bicara dengan dokter, bisa temani appa dulu?"

Yeri mengangguk. Baekhyun tersenyum dan pergi mengikuti Dokter Choi. Yeri melangkahkan kakinya menuju ruangan appanya. Dengan ragu ia masuk ke ruangan itu. Yeri bisa melihat appanya terbaring lemah.

Matanya sudah terbuka. Chanyeol melihat Yeri langsung berusaha duduk, Yeri kaget sehingga berlari kearah Ayahnya untuk membantunya.

"Jangan mendadak bangun, appa!"

Chanyeol tersenyum lemah. Hatinya senang karena putri kecilnya kembali memanggilnya appa. Panggilan yang ia tidak pernah inginkan selain dari kedua anaknya ini. Yeri berdiri menatap Chanyeol. Appanya terlihat sangat menyedihkan. Pucat dan lemah.

"Appa tidak apa-apa?"

Chanyeol menatap Yeri sebentar lalu kembali tersenyum. Kembali hatinya sangat bahagia mengetahui malaikat kecilnya masih peduli padanya.

"Ya, karena Yeri disini. Kekuatan appa sudah kembali,"

"Appa, aku serius,"

"Appa juga,"

Chanyeol tersenyum menatap yeri yang masih setia berdiri di tempatnya. Kepalanya terasa sakit membuatnya meringis sebentar. Yeri panik langsung mengelus kepala appanya yang kesakitan. Setelah satu menit, rasa sakit itu sedikit mereda membuat Chanyeol menghela nafas.

"Tuh kan! Appa tidak baik-baik saja,"

Chanyeol menutup matanya berusaha menetralnya nafasnya. Detak jantungnya berdebar cepat sebagai efek sakit kepala yang bukan main tadi. Setelah dirasa lebih tenang, Chanyeol kembali menatap Yeri sambil tersenyum.

"Mungkin karena Appa lama jauh dari sumber kekuatan appa, jadi appa terlihat sakit dan lemah."

Yeri diam saja, tapi raut wajahnya berubah.

"Bukankah dari dulu appa selalu bilang Yeri adalah sumber kekuatan appa? Mungkin karena appa jauh dari Yeri terlalu lama, appa jadi seperti ini. jadi Yeri jangan jauh-jauh dari appa lagi ne,"

Kalimat Chanyeol memang terdengar putus-putus karena namja itu masih merasa lemas, tapi Yeri masih bisa mendengar semua. Gadis itu masih paham dengan apa yang dikatakan Appanya, dan kalimat itu membuatnya sedih. Bahwa bukan hanya dirinya yang kehilangan, tapi Appanya juga merasa kehilangan dirinya.

Tanpa sadar air mata itupun keluar. Air mata yang sudah ditahannya bertahun-tahun. Air mata yang bahkan tidak ia keluarkan saat sedang bicara dengan sehun. Air mata yang mengatakan bahwa,

'aku rindu appa,'

Chanyeol menatap putrinya dengan rasa bersalah. Chanyeol selalu mengawasi putrinya ini, dan Yeri selalu terlihat kuat. Terakhir Yeri hanya menangis di hari dimana Chanyeol meninggalkan mereka.

"Yeri... dengarkan appa,"

Yeri menghapus air matanya dan duduk mendekat kearah Chanyeol. Chanyeol ikut mengusap air mata Yeri dan tersenyum.

"Ada banyak hal di dunia ini yang tidak boleh kita mengerti, dan memang kita tidak boleh mengerti semuanya. Hanya Tuhan yang tahu,"

Yeri menatap mata Ayahnya. Binar itu masih ada disana. Mata dimana selalu tersenyum saat pulang dari setumpuk pekerjaan. Mata saat bermain dengannya dan Sehun. Appa nya tidak berubah.

"Seperti aku... tidak mengerti kenapa appa meninggalkan kami?"

Chanyeol menghela nafasnya dan kembali tersenyum lembut. Ya. Yerinya masih tetap Yeri. Walaupun tumbuh menjadi gadis yang kuat, dia tetap Yeri. Yeri yang selalu berusaha terlihat manja demi orang-orang yang dia sayangi, supaya mereka tetap sayang padanya dan menjadi kekuatan untuknya.

"Itu bukan rahasia Tuhan, hanya appa yang merahasiakannya,"

Chanyeol mengusap kembali kepalanya Yeri dengan Kasih sayang. Senyumnya tidak pernah pudar dari wajahnya.

"Dan Yeri pasti bisa memahaminya,"

.ooo.

"Bukankah eomma memperbolehkan Luhan tinggal disana sampai dia sembuh?"

Sehun baru pulang dari sekolah dan masih berseragam, tapi sudah dipanggil duduk oleh Baekhyun. Yeri juga duduk di samping oppanya, sebenarnya gadis itu masih kikuk karena kejadian dirumah sakit karena kakaknya.

"Tapi kita akan pindah kesana bersama appa setelah dia keluar dari rumah sakit, sewa mereka juga sudah berakhir. Lagipula orangtua Luhan mau membawa Luhan kembali ke Kanada,"

"Tapi Luhan ingin disini!"

Yeri hanya duduk diam. Ingin rasanya dia menarik tangan kakaknya seperti dulu untuk menahan emosi namja itu, tapi Yeri masih sangat kesal dengan kakaknya. Sehingga gadis itu memilih diam.

Baekhyun menatap Sehun. Mata namja itu terdapat kilat Baekhyun heran, sejak kapan putranya menjadi emosian seperti sekarang.

"Sehun... kita akan melakukan hal yang menurut semua baik. Menurut orangtua Luhan, lebih baik mereka pindah ke Kanada, dan menurut eomma, appa lebih baik tinggal dengan kita,"

Baekhyun terdiam sebentar lalu menghela nafas.

"Eomma dan appa memutuskan untuk menikah lagi,"

Bagai pukulan telak untuk Sehun. Saat dia sedang emosi, kini Ibunya memberi kenyataan bahwa sumber emosi lain datang?

"Eomma tidak menanyakan pendapat kami?"

"Karena eomma rasa kalian sudah cukup dewasa untuk memahami perasaan eomma dan appa,"

Sehun menatap eommanya yang terdiam di tempat duduknya. Baekhyun sudah tidak lagi menatap Sehun, karena jika menatap anaknya terus, Baekhyun merasa semakin tidak mengenalnya. Sehun semakin lama seperti orang lain, bukan Sehun putranya.

"Lalu... eomma anggap apa kami selama ini?"

Baekhyun menoleh menatap Sehun yang sudah berdiri.

"Sudah dari dulu kami memahami eomma dan appa. Kami memahami apa yang seharusnya anak kecil seperti kami tidak pahami. Kami..."

"Jangan sebut kami,"

Semuanya menoleh kearah Yeri. Setelah lama mendengarkan pembicaraan kakak dan Ibunya, Yeri semakin tidak betah. Ia memang yang paling muda disini, tapi ia yang paling tidak terikat perasaan, jadi ia yang masih bisa berpikir lebih jernih.

"Kenapa oppa membawaku dalam keegoisan oppa sendiri? Jika oppa tidak suka, jika oppa selama ini memahami, jika oppa selama ini sudah merasa dewasa, itu oppa sendiri. Aku hanya magnae yang diam dan menurut,"

Sehun menatap Yeri tidak percaya. Adik yang selalu memihaknya, adik yang selalu berada satu perasaan dengannya kini menyerangnya.

"Yeri! Apa kamu mau Eomma menikah lagi dengan Park Chanyeol itu?"

"Sehun! Kau..."

"DIA APPAKU!"

Baekhyun baru saja mau meluapkan emosinya karena ketidaksopanan Sehun, tapi Yeri sudah berdiri dan balik membentak Sehun.

"Orang yang kau sebut Park Chanyeol itu... Appaku Oppa,"

Mata Yeri mulai berkaca-kaca menatap kakaknya.

"Dia appa yang bangun pagi-pagi dan pulang malam untuk menyediakan makan untukku. Dia appa yang menggunakan waktu tidur dan liburnya untuk membuatku tertawa. Dia appa..."

Yeri memutus ucapannya. Air matanya turun mengingat segalanya. Kecewa pada dirinya sendiri yang sempat membenci Ayahnya karena satu alasan, padahal ia memiliki ribuan alasan untuk menyayangi ayahnya lagi dan lagi. Yeri menutup wajahnya dengan jari mungilnya. Ia bahkan tidak sanggup bicara lagi. Baekhyun mendekati putrinya dan mengelus pundaknya. Merasa diberi kekuatan, Yeri menangkat kepalanya.

"Mungkin... hiks... dulu eomma memang dijadikan mantan istri, tapi aku... hiks..."

"Aku...hiks.. tidak pernah menjadi mantan anak untuk appa,"

Sehun berdiri diam membatu disana. Apapun perkataan Yeri yang berkaitan dengan Appanya, bukankah itu juga berlaku untuk dirinya? Dia juga anaknya.

"JIka oppa tidak ingin mantan suami eomma kembali..."

"Maka biarkan aku, gadis kecil yang tidak bisa melakukan apapun, mendapat appaku kembali, oppa,"

Yeri kembali menutup wajahnya dengan tangannya. Tangisannya semakin tidak bisa dihentikan. Ada perasaan lega di dalam hatinya, bahwa keinginannya yang tulus sudah ia ucapkan.

"Maka jangan terperangkap dengan keegoisanmu sendiri, Sehun-ssi,"

Semua menatap kearah pintu, mendengat suara gadis yang mereka kenal akrab. terlihat Tao baru saja masuk dengan seorang berpawakan tua.

"Maaf, ahjumma. Appa memintaku mengantar beliau kesini,"

Kakek Park dengan setelan jasnya berjalan mendekat kearah mereka. Yeri masih tidak peduli dengan keadaan terus menutup wajahnya dengan tangan.

"Semua keturunan Park pasti sangat dingin dan tajam," Kakek Park semakin mendekati Yeri disana bersama baekhyun.

"Tapi mulai dari appamu bertemu dengan eommamu, keturunan Park memiliki hati,"

Kakek Park meraih tangan Yeri dan menariknya sehingga wajah gadis itu terlihat. Wajahnya sangat merah karena air matanya.

"Matamu selalu mengingatkanku pada Chanyeol dimana ia mendobrak pintu kantorku dan memilih kalian daripada aku, tapi wajahmu hari ini mengingatkanku pada Chanyeol yang putus asa dihari ia meninggalkan kalian,"

Kakek Park sedikit merendahkan tubuhnya agar bisa menatap Yeri langsung dimata gadis kecil yang sebenarnya adalah cucunya itu.

"Jika kau... memberiku sebuah pelukan, maka aku akan mengembalikan Appamu,"

Tanpa menunggu lama lagi, Yeri langsung memeluk Kakek Park erat. Dalam hati kakek Park sangat senang. Sudah lama ia tidak mendapat pelukan dari Chanyeol yang tidak pernah memeluknya setelah Ibunya meninggal saat ia kecil. Bahkan cucu-cucunya belum pernah sekalipun beliau memeluknya.

Melihat adegan di depannya membuat Sehun merasa aneh dalam dirinya. Sehun membalikkan badannya dan berjalan keluar.

"Jika kau..."

Sehun berhenti ketika berpapasan dengan Tao. Gadis yang sudah lama tidak berada di sekelilingnya. Jujur Sehun sangat merindukan Tao, tapi gadis ini terlihat sangat dingin. Bahkan Tao tidak ingin melihat Sehun.

"Lebih memilih Luhan daripada keluargamu, seharusnya kau membawanya pergi seperti yang Chanyeol Ahjusshi lakukan. Bukan merengek meminta hal yang bukan punyamu karena kau tahu kau tidak punya apa-apa. Rumah itu bukan milikmu,"

Sehun terpaku mendengar kalimat Tao, tapi sedikitpun gadis itu tidak bergerak atau bahkan meliriknya. Sehun kembali melangkahkah kakinya keluar dari rumah itu. Dengan menyedihkan.

.ooo.

Sehun melangkahkan kakinya dengan lesu. Tidak! Ia tidak boleh seperti ini. ia tidak boleh terlihat putus asa di depan Luhan, ia harus menyemangati gadis itu, bukan Luhan yang menyemangatinya. Sehun menghela nafasnya dan membuka pintu perlahan. Luhan ada disana, terbaring lemah dengan banyak alat menempel padanya. Wendy menatap Sehun dan menggerakkan jarinya di depan bibirya lalu berjalan mendekati Sehun dan menariknya keluar.

"Dia baru saja bisa tidur, tadi nafasnya sempat berhenti saat tidur jadi kami melarangnya tidur beberapa jam sampai pernafasannya normal lagi,"

Jelas Wendy ketika mereka sampai di luar. Sehun mengacak rambutnya frustasi. Apa yang ia miliki sekarang? Keluarganya bahkan membencinya dan kini Luhan? Apakah Luhan juga akan meninggalkannya.

"Sehun..."

"Apa kau sudah tahu bagaimana caranya Luhan sembuh?"

Wendy mengelus pundak Sehun. Wajahnya terlihat sangat frustasi, entah apa Wendy tidak tahu. Wendy memang mendengar tentang pertengkaran di rumah sakit yang melibatkan Tao, tapi Wendy tidak tahu apapun yang melibatkan Sehun dan keluarganya.

"Masalahnya semua di jantung Luhan. Dia kesulitan bernafas karena supply oksigen yang ada dalam darah tidak bisa mengalir dengan baik. Paru-parunya baik, tapi jantungnya tidak. Kita harus mencari donor,"

"Apa sudah ditemukan?"

Wendy menggeleng. Sehun kembali menggerang frustasi. Namja itu membalikkan badan menatap pintu ruangan Luhan. Disana terdapat kaca yang bisa terlihat Luhan berbaring disana. Alisnya terkadang bergerak gelisah, namun beberapa detik kemudian kembali normal.

"Sebenarnya... aku tidak ingin bilang ini, tapi memang pendonor untuk Luhan sangat sulit. Darah, Rhesus, dan lain-lain. Kemarin aku tidak sengaja mendengar Aunty Yixing dan Dokter Kim bicara tentang contoh orang yang cocok,"

Sehun langsung membalikkan badannya. Menatap Wendy yang berwajah gelisah dengan matanya yang membuka lebar. Tangan besarnya menggenggam pundak Wendy dan mengguncangnya.

"Siapa?! Katakan siapa?"

Wendy menghela nafasnya.

"Yeri,"

Bagai tersambar petir, Sehun menerima kenyataan ini. selama sepuluh tahun lebih mereka tidak pernah menemukan orang yang bisa mendonorkan jantungnya untuk Luhan, tapi saat ketemu, orang itu adalah orang yang sangat berarti di hidup Sehun. Sehun melepas tangannya dari pundak Wendy dan kembali mengusak rambutnya.

"Kau yakin? Hanya Yeri?"

Wendy menggangguk.

"Aku? Bagaimana denganku? Apa aku tidak bisa? Yeri adikku, mungkin aku juga punya kesempatan menolong Luhan,"

"Kau ini bicara apa, Sehun!"

Sehun memegang pundak Wendy dan mencengkramnya erat. Wendy belum pernah melihat Sehun yang dingin dan tenang itu menjadi semengerikan ini. Wendy memundurkan tubuhnya sedikit, tapi Sehun menahannya. Sehun mendekatkan wajahnya ke Wendy.

"Jika aku hidup, aku membutuhkannya. Lebih baik aku membiarkan jantungku hidup bersamanya, kami masih bisa bersama. Tapi jika dia yang pergi, aku tidak memiliki apapun untuk bersamanya,"

Wendy terdiam. Menatap tepat di bola mata Sehun membuatnya merinding. Wendy menghela nafasnya dan berusaha tenang. Dengan pelan, ia meraih tangan Sehun di pundaknya dan menggenggamnya.

"Kau tidak bisa, ada hal dalam dirimu yang tidak cocok dengannya."

Sehun menutup matanya dan menghela nafasnya kasar. Mengusak rambutnya sampai berantakan. Melihat Sehun bertambah frustasi membuat Wendy menyesal telah mengatakan hal itu padanya.

"T-tapi kita masih punya waktu mencarinya. Kita akan mencarinya,"

Wendy berusaha mengelus pundak Sehun, tapi namja itu menggedikkan bahunya menolak Wendy. Ia sangat frustasi. Menatap Luhan yang tidur dengan banyak alat yang menempel pada tubuhnya membuatnya merasa sakit.

Sehun kembali masuk ke ruangan Luhan. Hatinya ikut meringis kesakitan melihat keadaan Luhan. Diwajahnya terpasang alat bantu pernafasan. Di dada kirinya terdapat corong alat bantu pompa darah untuk membantu jantungnya bekerja. Di hampir semua jarinya, terdapat jepitan untuk mengecek detak dan aliran darahnya.

Sehun mengangkat tangannya mengelus rambut Luhan. Teringat olehnya rambut itu berkibar cantik dengan senyum di wajah gadis itu ketika bersamanya.

"Luhan... apa kau merasa nyaman? Maaf aku tidak tahu bagaimana caranya membuatmu lebih nyaman. Tapi kau selalu bilang merasa nyaman di sampingku kan? Jadi aku akan terus di sampingmu,"

Sehun masih terus mengelus rambut Luhan. Sentuhannya benar-benar menyiratkan kasih sayang. Entah sejak kapan, tapi Sehun sangat takut kehilangan Luhan. Bahkan Sehun takut belum sempat mengakuinya pada Luhan, gadis itu pergi meninggalkannya.

"Aku akan membuatmu bebas, berada disini. Aku akan berjuang disini, dan pastikan kau berjuang disana. Mari kita berjuang bersama,"

Sehun merendahkan tubuhnya bertumpu dengan lututnya. Tangannya berpindah menggengam tangan Luhan yang penuh dengan selang infus dan menciumnya.

"Sayang, bangunlah. Aku membutuhkanmu."

Flashback

"Aku suka rumah ini,"

Setelah pingsan kemarin, Sehun mendatangi Luhan hari ini. Mengecek keadaan gadis yang kini menarik perhatiannya. Mereka berdua duduk di Taman belakang dengan angin sepoi-sepoi. Tidak jauh di belakang mereka, ada suster yang siap siaga untuk Luhan.

"Rumah?"

"Iya, rumahmu,"

Sehun mengalihkan pandangannya ke Luhan. Bisa ia lihat rambut panjang gadis cantik itu berkibar menambah kecantikannya.

"Aku hidup di rumah sakit dari umurku 4 tahun..."

Mengingat kenangan pahit itu, Luhan hanya bisa tersenyum. Hari dimana ia sedang berlari dan bermain dengan teman-temannya di Taman kanak-kanak, tiba-tiba dadanya sangat sakit, dan mulai hari itulah mimpi buruknya dimulai.

"Dad membuatkan sebuah rumah mirip istana padaku, tapi setelah aku sakit, rumah itu terlihat seperti rumah sakit. Banyak peralatan yang sewaktu-waktu bisa dipasang ke tubuhku,"

Sehun hanya menatap Luhan diam. Berusaha menjadi pendengar yang baik untuk gadis itu. Mengingat semalam gadis itu juga menjadi pendengar baik untuknya.

"Aku ingin pergi ke tempat yang jauh dari sana. Sebuah rumah dengan Taman dan sekolah dan banyak hal lainnya,"

Luhan mengalihkan pandangannya. Senyum masih terlihat di wajahnya ketika mata berbinar itu bertemu dengan mata Sehun. Seperti ada kilatan diantara mereka berdua yang membuat mereka merasa aneh. Luhan berdehem dan mengalihkan pandangannya, begitu pula Sehun.

"Jadi kau memilih disini?"

Luhan menggeleng sambil tersenyum.

"Aku hanya bilang pada Paman tentang keinginanku, dan Paman yang memilihkannya,"

Sehun mengangguk mengerti walaupun tidak terlihat oleh Luhan, karena gadis itu masih menatap taman.

"Pertama kali kesini, aku sangat senang karena akhirnya aku bebas. Paman mengatakan padaku bahwa aku bisa tinggal disini selama yang aku mau, tapi aku tahu dari pembicaraan paman dan Dad, kalau rumah ini disewa 10 tahun. Apa kau tahu artinya?"

Sehun menggeleng dan Luhan menerawang keatas.

"Artinya mereka tidak berpikir bahwa... aku akan hidup lebih dari sepuluh tahun."

Sehun terdiam namun gadis itu masih saja tersenyum. Disamping Luhan ada selang infus yang sekali-kali Luhan singkirkan karena merasa risih.

"Dokter selalu bilang pada orangtuaku, bahwa aku mungkin hanya hidup sampai umur 12 tahun, tapi aku masih hidup sampai sekarang, hehe."

Luhan memalingkan wajahnya menatap Sehun sambil tersenyum. Sehun mengangkat tangannya mengelus rambut Luhan. Luhan menutup matanya. Merasakan betapa nyamannya sentuhan Sehun.

"Sebenarnya kau sakit apa?" Tanya Sehun.

"Rahasia,"

Jawab Luhan masih menutup matanya. Masih merasakan nyamannya tangan Sehun.

"Biarkan aku merahasiakannya darimu. Ini bukan rahasia Tuhan jadi aku yakin kau bisa mengerti. Aku hanya tidak ingin mengingatnya, berharap aku lupa dengan penyakit ini."

"baiklah,"

Luhan membuka matanya menatap Sehun. Raut wajah Sehun menjadi berbeda membuat Luhan merasa bersalah. Bukan Luhan tidak ingin memberitahunya. Tapi alasannya itu. Ia ingin melupakan bahwa ia memiliki penyakit yang tidak bisa sembuh. Ia tidak ingin Sehun kasihan padanya lalu menjadi beban Sehun.

"Tapi... apa kau merasa tidak nyaman? Mungkin aku bisa membantumu jika kau merasa tidak nyaman dan-"

"Tetaplah disisiku, Sehun-ah," putus Luhan,"berada di dekatmu membuatku nyaman,"

Ucapan Luhan membuat Sehun sedikit salah tingkah. Namja itu berdehem lalu meluruskan pandangannya ke depan, tidak menatap Luhan. Luhan hanya terkekeh kecil melihat si dingin Park Sehun juga bisa salah tingkah.

"Kau juga."

Luhan mendongakkan kepalanya. Sehun masih menatap ke depan tanpa melihat Luhan.

"Jika hanya aku yang disisimu tidak adil kan? Jadi kau juga harus berada disisiku."

Kini giliran Luhan yang salah tingkah. Wajah Luhan memerah, jantungnya berdegup kencang membuat alatnya berbunyi. Sehun langsung mengalihkan pandanganntya ke Luhan. Suster di belakangnya langsung mendekati Luhan.

"Aku hanya gugup! Aku tidak apa-apa!"

Suster itu tersenyum dan kembali ke tempatnya. Sehun tersenyum jahil melihat wajah Luhan yang semerah apel? Tomat? Pokoknya yang paling merah.

"Kau bilang nyaman di sampingku, tapi kenapa kau gugup?"

Nada menggoda Sehun membuat Luhan semakin merah dan mendaratkan jitakan ke kepala Sehun. Sehun mengelus kepalanya akibat kekerasan rumah tangga (?) yang Luhan lakukan. Luhan menetralkan nafasnya dengan berdeham berkali-kali.

"Hei, Sehun!"

"Hm?"

Sehun kembali menghadap Luhan.

"Bolehkan aku tinggal disini lebih lama? Kau tahu kontrak kami sudah hampir habis. Aku hanya tidak ingin dibawa pergi sebelum melihat secara langsung bayangan yang datang membangunkanku dari koma,"

"Kau pernah koma?!"

"Sehun! Bisakah kau hanya jawab boleh atau tidak?"

Walaupun penasaran, tapi Sehun menghormati Luhan. Luhan pati tidak menginginkan untuk mengingat kenangan buruk di masa lalu.

"Tentu. Aku akan bicara pada Ibuku, lagipula aku tidak buru-buru tinggal disini,"

"Tapi Tao bilang, alasan kenapa kau selalu berhenti di depan rumah ini, karena kau menunggu untuk tinggal disini lagi,"

Sehun terdiam. Benar juga. Sehun selalu berjanji pada dirinya sendiri untuk merebut apa yang menjadi kebahagiaannya dulu tanpa Ayahnya, tapi sejak bertemu Luhan, Sehun seperti lupa tujuan awalnya.

"Tidak. Kau hanya harus berusaha untuk tetap sembuh atau orang tuamu akan menyeretmu pergi,"

"Tentu! Aku akan selalu berusaha! Jika aku tidak berusaha, maka bukan orang tuaku yang menyeretku pergi, tapi Tuhan."

Flashback End

.ooo.

Sehun melangkahkan kakinya menuju lift. Ia sudah puas hari ini melihat Luhan dan sekarang ia khawatir kembali ke rumah. Ia takut dengan keadaan yang terjadi sebelum ia pergi menemui Luhan tadi.

'Druuuk... BRAK!'

"YAK!"

Sehun mendengar suara berisik dari kamar yang ia lewati tidak sengaja melihat kacanya. Disana ada Kris yang sedang membantu seseorang yang terjatuh. Di lantainya banyak darah berceceran dan Sehun membulatkan matanya ketika melihat namja yang diangkat Kris. Park Chanyeol ayahnya. Chanyeol terlihat sayu dan mulutnya terdapat bekas bewarna merah. Sehun tidak bisa membayangkan jika Ayahnya baru saja muntah darah. Ingin rasanya ia membuka pintu dan menolongnya, tapi ada perasaan aneh dalam diri Sehun jika masuk, sehingga ia memilih menunggu di luar.

Tidak lama, ia bisa melihat dokter dan suster berlari masuk ke dalam. Membuat Sehun tambah gugup tentang apa yang terjadi pada Ayahnya.

"Sehun?"

Sehun membuyarkan lamunannya melihat Kris berada di depannya. Chanyeol harus diperiksa sehingga Kris keluar. Sehun hanya diam dan Kris menggerakkan kepalanya menunjuk ruangan Chanyeol.

"Apa kau ingin menjenguk Ayahmu?"

Sehun menggeleng. Kris menghela nafasnya. Sebenarnya Kris sudah mendengar cerita super complicated itu yang membuat Kris ingin tertawa karena sikap kekanak-kanakan berbagai pihak. Tapi kris urung karena jika ia yang berada di masalah itu, Kris pasti akan memilih tidur dan melupakan semuanya.

'ting!'

Suara lift terbuka dan langkah kaki terburu-buru masuk. Baekhyun dan Yeri terlihat berjalan kearah mereka. Melihat Sehun, Baekhyun langsung membalikkan pundak Sehun.

"Sehun! Kemana saja kau? Kenapa tidak memberitahu eomma, eomma sangat khawatir,"

Sehun mengedipkan matanya berulang kali. Ia pikir Ibunya masih marah dengan perilaku dari Sehun tadi siang. Sehun melirik kearah Yeri, tapi Yeri sama sekali tidak melihatnya.

"Hei, Baekhyun. Lebih baik kau dan Yeri menunggu dokter disini."

Baekhyun langsung mengalihkan pandangannya ke Kris.

"Benar! Bagaimana keadaannya?"

"Saat dia drop tadi aku meneleponmu dan lima belas menit kemudian ia muntah darah."

Baekhyun menutup mulutnya tidak percaya. Ia melihat Chanyeol dari kaca dengan harap-harap cemas. Yeri juga berusaha melihat bagaimana keadaan Chanyeol. Sehun terdiam melihat Ibu dan Adiknya begitu mengkhawatirkan Ayahnya, walaupun di dalam lupuk hatinya ia juga mengkhawatirkan Ayahnya.

"Apa sudah cukup memandang mereka? Aku ingin bicara denganmu."

Sehun mengalihkan pandangannya ke Kris. Melihat Kris berjalan pergi, Sehun mengikutinya. Tanpa pembicaraan apapun mereka pergi masuk ke lift dan keatap. Udara menyentuh kulitnya membuatnya sedikit bisa bernafas lega, entah kenapa.

"keluarkan semua emosimu disini, lalu kita bicara," ucap Kris.

"Aku tidak punya emosi untuk di keluarkan."

Kris membalik tubuhnya dan menatap Sehun yang masih terus menatp ke depan. Perlahan namja itu mendekati Sehun.

"Kau yakin?"

Sehun diam saja tanpa menjawab. Kris mengerti sekarang yang dimaksud Baekhyun. Biasanya anak ini akan tetap bersikap sopan pada orang yang lebih tua, tapi sekarang Sehun berdiri menatap dingin Kris tanpa memperdulikan apa yang Kris katakan. Kris membalik badannya dan berjalan ke pagar batas atap. Menghirup udara disana. Sehun berjalan mengikutinya dan berdiri di sampingnya.

"Jika aku adalah seorang anak laki-laki pertama yang harus bertanggung jawab pada Ibu dan adik perempuanku setelah Ayahku pergi tanpa kabar, aku pasti memendam kesedihan dan berusaha terlihat kuat."

Sehun terdiam.

"Dan jika setelah sekian tahun orang yang sebenarnya kusayangi itu kembali membuat perjuanganku sia-sia, bahkan Ibu dan adikku tidak memihakku. Ditambah orang yang paling kubenci mulai berdamai dengan keluargaku, aku pasti sangat emosi."

Sehun mulai mengalihkan pandangannya ke Kris.

"Dan jika... orang yang kucintai sedang berjuang melawan penyakitnya ditengah kondisiku itu, maka aku pasti sangat frustasi."

Kris berpaling menatap Sehun yang kini juga menatapnya.

"Kudengar kau bertengkar dengan banyak orang karena Luhan," Tanya Kris.

Sehun mengalihkan pandangannya ke depan lagi.

"Aku tidak peduli apa yang orang lain lihat dariku, tapi aku tetap akan melindunginya."

"Walaupun nanti mereka membencimu? Seperti yang Tao lakukan?"

Sehun menutup matanya dan menghela nafas panjang. Ia membalikkan badannya. Kris sempat terkejut melihat mata tajam itu menatap matanya. Bahkan kliennya bertahun-tahun tidak ada yang berani. Kris memasang wajah seriusnya juga dan tatapan tajam, tapi hal itu tidak membuat Sehun bergeming.

"Aku sudah berjanji untuk berada disisinya dan dia disisiku. Aku tidak akan membiarkan dia pergi sebelum memenuhi keinginannya itu walaupun banyak menentang,"

"Jika akupun menentangnya? orang yang sudah membawa Luhan kesini sampai ia bertemu denganmu? Jika aku menjauhkan Luhan darimu karena aku tidak suka hubungan kalian?"

Tatapan Kris tajam, namun Sehun tidak kalah tajam. Dalam hatinya ia tahu bahwa darah Park juga mengalir di tubuh Sehun.

"Aku akan membawanya pergi,"

Sehun teringat kalimat Tao sebelum ia meninggalkan rumahnya tadi siang. Mungkin Ibunya atau bahkan orang tua Luhan menganggap bahwa lebih baik Luhan dan Sehun saling berpisah agar mereka tidak banyak menentang lagi. Jika begitu, seperti Ayahnya, ia akan membawa Luhan pergi dan bertanggung jawab.

"Walaupun kalian semua akan membenciku, aku akan tetap membawanya jika ia memilihku. Aku rela memusuhi semua orang di dunia untuknya..."

Kris sedikit mengernyit.

"Sebesar itulah aku membutuhkannya,"

.

.

.

TBC

.

.

PESAN KRISGI

Halo semua, Krisgi kembali lagi setelah sekian lama. Mungkin beberapa dari reader-nim yang sudah membuka wattpad sudah membaca cerita ini, tapi belum yang membaca lewat

Pertama-tama Krisgi minta maaf karena menghilang tanpa pamit terlebih dahulu, padahal dulu Krisgi sudah berjanji tidak akan Hiatus. Namun keadaan terduga membuat Krisgi tidak bisa menepati janji. Untuk itu Krisgi mohon maaf.

Krisgi sudah kembali ke Seoul dan bekerja jadi mencari waktu untuk menulis cukup susah dan beberapa hari yang lalu ketika Krisgi melihat Laptop dan mengenang masa lalu membuat Krisgi ingin menulis lagi.

Karena itulah sekarang Krisgi akan mulai menulis lagi. Mohon dukungan dari Reader-nim semua. Sebagai langkah awal Krisgi akan menulis House Chapter 13 : Lime

Terima kasih sudah menunggu karya Krisgi dan mendukung Krisgi