Chapter 13 : Lime

Cerita ini punya Krisgi ya Chingu~ No Copast or Plagiat yang diganti nama kecuali dengan izin Krisgi secara langsung. Kalau ada yang repost tanpa izin bantu lapor ya Chingu


Cast:

Oh Sehun as Park Sehun

Xi Luhan as Kim Luhan

Byun Baekhyun as Byun Baekhyun

Paek Chanyeol as Park Chanyeol

Kim Yerim as Park Yeri

And others (Find Yourself)

.

Main Pairing:

Hunhan

Chanbaek

.

Genre: .

Rating:

T


Sinopsis:

"Kami pergi dari rumah itu karena kau meninggalkan kami, tapi aku berjanji. Aku janji akan mendapatkan rumah itu kembali dan menjaga apa yang sudah kau tinggal. Dan kumohon tak usah kembali"

-Park Sehun-

"Aku memang terlihat idiot tertawa dan bertingkah sok imut seperti katamu, tapi aku melakukan ini hanya untuk Ibuku jadi jangan salah paham"

-Park Yeri-

"Kau terlihat bahagia saat di cafe, apa tidak bisa tertawa seperti itu disini?"

-Kim Luhan-


Happy Reading


"Chan?"

Baekhyun membuka pintu , namun namja yang dicarinya tidak berada diatas kasur. Ia berjalan perlahan kearah kasur. Dilihatnya putri kecilnya tertidur disana, menggantikan appa nya yang seharusnya terbaring disana.

"Baekhyun?"

Baekhyun berbalik kearah kamar mandi. Terlihat disana Chanyeol baru saja keluar sambil menyeret tiang infusnya. Baekhyun segera berlari kearah Chanyeol dan membantu namja itu menarik tiang dan membawanya kearah sofa.

Baekhyun mendudukkan dirinya disebelah Chanyeol. Namja itu kemudian menarik kepala Baekhyun untuk bersandar di pelukannya. Awalnya Baekhyun menolak karena Chanyeol masih sakit, namun Chanyeol menahan kepala Baekhyun sehingga Baekhyun kembali diam.

Jujur Baekhyun sangat merindukan suasana seperti ini. Semenjak Chanyeol meninggalkannya 10 tahun lalu, ia tidak memiliki tempat bersandar lagi. Sempat rasa frustasi Baekhyun rasakan saat Chanyeol tidak disisinya, namun mengingat bagaimana Chanyeol menemuinya di pesawat dan menjelaskan semuanya membuatnya lebih kuat.

"Dia tidak kemari?"

Baekhyun sedikir mendongakkan kepalanya. Sesaat mereka saling bertatapan, namun Baekhyun membenarkan kepalanya lagi kembali seperti semula.

"Aku hampir tidak mengenalinya. Dia terasa seperti orang lain sekarang, bukan Sehun anakku yang dulu,"

Baekhyun menghela nafas diakhir kalimatnya. Chanyeol tersenyu tipis dan mengusap lembut rambut Baekhyun. Baekhyun kembali membenarkan sandarannya, elusan rambut Chanyeol sangat menenangkan.

"kau harus memahaminya. Tidak semudah itu dia memaafkanku. Bagaimana beban dan tanggungjawab yang dia bawa saat Ayahnya pergi meninggalkannya. Dia harus menjaga Ibu dan adiknya,"

Chanyeol kembali mengingat wajah Sehun saat pertemuannya kembali setelah 10 tahun beberapa hari yang lalu. Di depan ruang operasi dengan tatapan yang sangat tajam. Chanyeol tahu tatapan itu sangat, mengingat ia juga pernah memberikan tatapan itu pada Ayahnya. Mengingat kenangan sengit bersama ayahnya membuatnya terkekeh kecil. Jadi begini perasaan ayahnya saat dulu ia mendobrak pintu kantornya dan menghancurkan ruang kerja ayahnya? Sangat memalukan.

"kenapa tertawa?"

"Aku hanya teringat masa lalu, sungguh membahagiakan,"

Baekhyun bisa melihat senyum tipis penuh kesedihan dari Chanyeol. Matanya juga terlihat sangat menyedihkan membuat Baekhyun juga ikut bersedih. Baekhyun mengangkat kepalanya dari pelukan Chanyeol dan kini mereka bisa saling menatap satu sama lain.

"Ayo kita mulai dari awal lagi. Keluarga kecil kita di rumah itu. Kali ini kita akan bahagia,"

Baekhyun meraih tangan Chanyeol dan mengusapnya perlahan. Matanya tidak bersinar lagi membuat Chanyeol merasa bersalah. Perlahan Chanyeol melepaskan genggaman tangan Baekhyun dan memeluknya. Pelukan yang tidak erat, namun penuh dengan kasih sayang.

Ceklek

"Oh… mungkinkah aku mengganggu?"

Chanyeol dan baekhyun beralih kearah pintu. Disana berdiri namja berambut pirang dengan senyum menggodanya. Namja itu kemudian berjalan kearah kasur dan melihat Yeri tertidur disana. Perlahan tangannya mengelus lembut rambut gadis itu.

"ada apa, Kris?" Tanya Chanyeol.

Kris masih mengelus rambut Yeri yang masih tertidur dan tersenyum.

"Hebat sekali. Mata, hidung, bibirnya, sangat mirip denganmu. Satu-satunya hal yang membuatnya mirip Baekhyun adalah tubuhnya yang pendek,"

"YA! Oppa!"

Baekhyun berteriak karena tidak terima dengan kata 'pendek' yang diucapkan Kris, namun wanita itu segera menutup mulutnya ketika menyadari bahwa putrinya masih tidur disana. Baekhyun terus menatap tajam Kris yang membuat namja itu terkekeh diperjalannya duduk di sofa depan Chanyeol dan Baekhyun.

"Aku ingin bicara serius, tapi mungkinkah disini?"

"Tak apa, lagipula aku belum bisa keluar jauh. Yeri juga tertidur."

Kris mendudukkan dirinya di sofa dan tersenyum tipis.

"Kalian benar. Yeri pasti sangat lelah sampai ia tertidur,"

Kini para orang dewasa ini membenarkan posisi duduknya. Kris sesekali melirik kearah kasur namun kembali tersenyum walaupun sambil menghela nafas. Namja itu meletakkan amplop yang dibawanya. Baekhyun segera membukanya. Terdapat nama Yeri disana membuatnya menautkan alisnya.

"Apa ini?"

Kris tersenyum dan mengambil kembali amplop dari tangan Baekhyun dan meletakkannya kembali keatas meja.

"Sebelum itu, aku ingin membicarakan tentang Sehun."

Mendengar nama Sehun membuat Baekhyun dan Chanyeol mengalihkan pandangannya dari amplop ke Kris.

"Aku bertemu dengannya di depan kamarmu sebelum Baekhyun datang tadi. Kurasa ia ingin melihatmu namun egonya itu… dasar anak-anak,"

Kris terkekeh sebentar namun kembali melanjutkan kalimatnya.

"aku membawanya keatap dan bicara dengannya. Sebenarnya mengingatnya membuatku muak karena aku seperti bicara dengan dinding, anak itu terlalu datar dan dingin,"

"ya… padahal dulu dia adalah anak yang hangat. Pikirannya sedang kacau," jawab Baekhyun.

"Ya, itulah yang kukatakan padanya. Anak laki-laki pertama yang harus bertanggungjawab pada Ibu dan adiknya setelah Ayahnya pergi. Hidup dengan membenci Ayahnya, namun ketika Ayahnya kembali, Ibu dan Adiknya menerima dengan lapang dada seperti Ayahnya tidak pernah membuat kesalahan sedangkan dirinya masih bergelut dengan rasa benci,"

"Oppa!"

Baekhyun melirik kearah Chanyeol. Kata-kata Kris pasti sedikit banyak melukai perasaan namja yang dicintainya itu.

"Sudahlah, Baekhyun. Memang seperti itu,"

Chanyeol terkekeh kecil. Sebenarnya ia tidak terlalu mengambil hati atas ucapan Kris karena ia tahu style berbicara namja itu yang aneh dan melibatkan candaaan.

"Namun, ada hal yang membuatku tertarik," ucap Kris.

Kris yang tadinya menunduk memainkan tangannya di meja mengangkat sedikit kepalanya. Terlihat salah satu alisnya dinaikkan.

"aku membicarakan tentangmu dia terlihat tenang, tapi ketika aku membicarakan Luhan dia sedikit menakutkan. Apa kau ingat kata-katamu saat kau mendobrak pintu Presdir Park?"

Chanyeol menyatukan alisnya, begitu juga Baekhyun. Bagaimana Kris mengetahui kejadian 18 tahun yang lalu yang bahkan Baekhyun tidak tahu? Seenarnya Baekhyun tahu bahwa Chanyeol mendobrak kantor ayahnya, namun ia tidak tahu secara jelas karena Jongin hanya menceritakan sedikit dan wanita itu tidak berani mengungkitnya di depan Chanyeol.

Melihat kernyitan di dahi pasangan di depannya, Kris mengangkat kepalanya dan terkekeh pelan.

"Oh… ayolah. Siapa yang tidak tahu berita hancurnya keluarga Park? Dan aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri saat kami akan rapat disana,"

Terkadang Baekhyun ingin melempar sepatunya setiap kali bicara dengan Kris. Namja itu ketika bicara selalu main-main dan menggunakan bahasa yang sembarangan.

"Oppa jika kau bi-"

"Seperti itulah yang ia katakan padaku,"

Baekhyun baru saja mau memerahi Kris ketika namja itu memotong kalimatnya. Chanyeol diam namun wajahnya terlihat serius.

"Jujur saja, Park. Aku bukannya ingin jadi pemeran antagonis seperti di drama konyol itu, tapi kami memang harus membawa Luhan. Dalam waktu satu minggu kami akan membawa Luhan ke Kanada tentu dengan alat khusus dan tentu ada konsekuensinya."

"Apa itu?" Tanya Chanyeol

"Jika alat yang dipasang pada tubuh Luhan tidak tahan dengan tekanan udara dalam pesawat, tentu alat itu akan berhenti dan… kau tahu apa jika jantungnya tidak berdetak?"

BRAAAK!

Sebelum sadar dari keterkejutannya, kerah Kris sudah ditarik membuat Kris mau tak mau berdiri. Barulah ketika ia berdiri, ia membulatkan matanya melihat siapa yang di depannya. Hanya sebentar dan kemudian menghela nafas.

"Sudah kukatakan untuk membiarkannya disini! Kau sudah tahu konsekuensinya tapi tetap memaksanya pergi?! Paman macam apa kau?"

"YA!SEHUN!"

Baekhyun kini berdiri berusaha melepaskan cengkraman Sehun di kerah Kris, namun tidak bisa. Cengkraman itu begitu kuat dan penuh dengan amarah.

"Sebenarnya kau ini apa bocah? Setiap ada pembicaraan tentang Luhan kau tiba-tiba muncul dan emosi. Apa kau punya antenna yang bisa mendeteksi apapun tentang Luhan?"

Kris sedikit menyunggingkan senyum dan itu membuat Sehun sedikit emosi. Cengkramannya semakin kuat dan usaha Baekhyun melerainya semakin mustahil.

"Jangan mengalihkan pembicaraan! Kalian pikir aku akan membiarkan kalian membawa Luhan dengan konsekuensi seperti itu? Kau pikir kau siapa me-"

"Aku pamannya, dan akulah yang membawanya kesini bocah,"

Tatapan Kris berubah dan tangannya mulai melepas paksa tangan Sehun dari kerahnya. Namja itu me-relaks-an lehernya yang baru saja di tarik Sehun.

"Dan kau hanya anak kecil yang terus melibatkan perasaanmu yang labil itu. Kau bisa membahayakan orang-orang yang kau sayangi dengan kelabilan itu, dude. Kau bahkan jauh lebih parah daripada Ayahmu,"

"Jangan bandingkan aku dengan dia!"

Kris bisa melihat tatapan Sehun yang semakin terbakar emosi. Baekhyun tidak bisa melakukan apapun menoleh melihat putrinya sudah duduk di ranjang entah sejak kapan. Wanita itu berjalan mendekati Yeri dan memeluknya. Berusaha menenangkan putri kecilnya. Sedangkan Chanyeol tetap duduk di tempatnya. Tubuhnya masih sangat lemah.

"lalu kau bisa apa bocah? Kau ingin membawanya kabur? Oh, hell dengarkan aku."

Kris melangkah dan memajukan tubuhnya mendekati Sehun. Disejajarkan tatapannya dengan Sehun dan menatapnya tajam.

"Ketika Ayahmu membawa Ibumu pergi, Ibu dalam keadaan sangat sehat. Dan pada saat itu Ayahmu sudah bisa bertanggungjawab karena Ayahmu sudah bekerja, tapi lihatlah kau sekarang,"

Kris menatap Sehun dengan tatapan remeh.

"Kau yang masih kelas 2 SMA yang masih belum tahu bagaimana kerasnya dunia ingin membawa seorang gadis yang sakit berat dengan usia bertahan satu bulan?"

Mata Sehun membola mendengar ucapan Kris. Kris menjauhkan tubuhnya dan bergerak mundur sedikit.

"Satu… bulan?" ulang Sehun.

"kau pikir kami mengambil tindakan untuk membawa Luhan semudah itu? Tentu tidak,"

Sehun kembali menatap Kris yang mendudukkan dirinya di punggung sofa. Namja pirang itu melipat kedua tangannya di depan dada.

"Dokter mengatakan pada kami bahwa batas terbaik Luhan bisa bertahan adalah satu bulan dan bisa kurang dari itu. Alat khusus untuk Luhan barusaja jadi dan berada di kanada, untuk membawanya kesini butuh waktu sekitar 3 minggu dan persiapan pemasangan sekitar satu bulan. Tentu kami tidak bisa hanya menunggu tanpa berbuat apapun, bukan? Alat itu sudah siap digunakan disana, jadi kami harus membawanya pergi,"

"Tapi kami tidak bisa menundanya lebih lama. Jika menundanya, kekuatan Luhan akan semakin lemah, kemungkinan dia selamat diperjalanan ke Kanada semakin kecil, untuk itu selagi dia masih cukup kuat, kami akan membawanya pergi."

Tanpa terasa air mata Baekhyun turun. Ia tidak tahu Luhan sakit separah itu. Ia membayangkan bagaimana perasaan Yixing menghadapi cobaan lewat putrid kecinya yang tak salah apapun.

"Pasti… ada cara lain," cicit Sehun.

"Ya, kau benar! Tentu ada cara lain. Operasi donor jantung,"

Kris berdiri dan melangkah kearah meja. Diambilnya amplop dari meja dan mengangkatnya.

"Disini ada data satu-satunya orang yang cocok mendonorkan jantungnya untuk Luhan setelah kami mencari 10 tahun, tentu kami tidak bisa mendapatkannya"

Sehun merasa déjà vu dengan kata-kata Kris. Seperti pernah mendengarnya, namun pikirannya yang gelisah membuatnya tidak mengingat apapun.

"Aku akan membantu! Aku akan berusaha mendapatkan donor jantung itu, katakan padaku dan aku yang akan membujuk mereka,"

Semua di ruangan sempat kaget dengan ucapan Sehun. Seakan-akan namja itu sangat menyayangi Luhan dan terlihat sangat frustasi.

"Kau bodoh? Dia masih hidup dan tentu tidak akan memberikan jantungnya. Dan lagi, apa kau akan membunuh adikmu sendiri hanya demi cintamu pada Luhan?"

Semua tercengang mendengar kalimat terakhir Kris. Kris mengeluarkan isi berkasnya dan berjalan mendekati Chanyeol. Chanyeol menerima kertas itu dan membulatkan matanya ketika melihat apa yang tertulis di kertas.

"Aku tidak tahu bagaimana Dokter Kim mendapatkannya, tapi hanya Park Yeri satu-satunya yang cocok dengan Luhan selama 10 tahun. Dan kami mengatakan bahwa mustahil melakukan operasi sehingga mengambil keputusan berat ini,"

Seketika Sehun ingat. Iya, benar! Wendy sudah memberitahunya. Entah mengapa ada rasa bersalah pada Yeri karena ia barusaja menunjukkan kesungguhannya untuk mendapat donor itu.

Sehun berbalik kearah ranjang. Disana Yeri dipelukan Ibunya tersentak. Tentu ia takut mendengar ucapan Kris. Seakan-akan hidup dan mati seseorang ada di tangannya. Begitu Sehun menatapnya, mata bulat itu melebar.

"Yeri-ah…"

"Tidak! Aku tidak mau! Apa Oppa benar-benar akan mengorbankanku hanya untuk Kim Luhan itu?! Apa yang gadis itu lakukan untuk menggodamu sehingga membuat keluarga kita berantakan?! Tao Eonnie pergi dan oppa bahkan akan berusaha membujukku untuk memberikan jantungku?!"

"Yeri! Luhan tidak menggodaku dan dia bukan penghancur!"

Entah kenapa emosi Sehun kembali terpancing ketika mendengar Yeri. Niat awalnya untuk menenangkan adiknya hilang seketika. Sehun merasa tidak terima mendengar Yeri menjelek-jelekan Luhan.

Melihat tatapan Sehun yang begitu menusuk membuat Yeri semakin bergetar. Baekhyun hampir membantak Sehun ketika ia mendengar Yeri terisak.

"APPA! Hiks"

Chanyeol segera bangkit dan mendekati Yeri. Dengar perlahan sambil membawa tiang infusnya ia menggantikan Baekhyun memeluk Yeri. Gadis itu langsung memeluk erat Ayahnya tanpa sedikitpun melirik kearah Sehun yang masih menatapnya tajam.

"Akulah yang bersalah disini. Maafkan aku karena bocah ini memancing emosiku d-"

"Biarkan kami menyelesaikannya, Oppa. Terima kasih sudah berkunjung,"

Kris mengangguk dan kembali memasukkan berkasnya. Merasa bersalah meningkalkan suasana canggung didalamnya.

Pintu ruangan tertutup terdengar. Baekhyun berjalan kearah Sehun.

PLAK!

Sehun langsung menyentuh pipinya yang panas karena tamparan Baekhyun.

"Sekali lagi, Paek Sehun. Kau mengecewakan eomma! APA EOMMA SALAH MENDIDIKMU?!"

Tatapan tajam Baekhyun membuat Sehun membolakan matanya. Chanyeol ingin melerai mereka, namun jika ia ikut berteriak, ia takut Yeri akan semakin terguncang.

"Mencengkram dan membentak orang yang lebih tua darimuadalah tindakan yang sangat tidak sopan! Kau bahkan membuat adikmu ketakutan,"

"Aku memang bersalah karena tindakanku yang tak sopan, tapi aku tak bermaksud menakuti Yeri. Ia menjelek-jelekan Luhan. Mengatakan bahwa Luhan adalah penggoda dan penghancur. Apa aku b-"

"Buktikan!" potong Baekhyun.

"Buktikan bahwa Luhan bukan penggoda maupun penghancur karena sepengelihatan eomma, dia alasanmu berubah menjadi rusak seperti sekarang,"

"Apa eomma juga menyalahkan Luhan karena hal ini? Apa eomma juga menyalahkanku? Apa aku tidak memiliki satu orangpun dipihakku?"

Sehun berucap lirih pada Baekhyun. Tatapan matanya terlihat penuh dengan kesedihan. Sebenarnya Baekhyun tahu betapa tertekannya Sehun, tapi ia tida bisa membiarkan putranya melanggar batas.

"Lalu… apakan eomma tidak bisa mendapatkan keluarga yang harmonis lagi? Dengan anak laki-laki yang menyayangi dan melindungi keluarganya?"

Sehun terdiam. Satu menit. Dan sehun meninggalkan ruangan.

Baekhyun menghela nafasnya dan menyeka sedikit air matanya. Ia membalikkan tubuhnya melihat Yeri yang masih ada dipelukan Chanyeol.

"Semua akan baik-baik saja."


.000.


Chanyeol berjalan keluar beranda kamar rawatnya. Menghirup udara segar mungkin akan membantu menenangkan pikirannya. Tangan kirinya setia menarik tiang infus bersamanya.

Langit Seoul terlihat cerah pagi ini. Aroma embun dan udara pagi menyapa Chanyeol. Membuat namja itu menutup matanya. Menghirup banyak udara kemudian menghelanya kasar.

Chanyeol teringat pembicaraan kemarin bersama Kris. Mengenai putra dan putrinya. Ia tidak menyangka keadaan semakin sulit. Ia kira setelah diberi cobaan bertubi-tubi, kini saatnya ia bahagia, namun mungkin belum saatnya. Seakan-akan tuganya belum selesai.

"Apa… kau sangat menyukai gadis itu? Apa perasaanmu seperti perasaanku dulu?"

Flashback

"Katakan pada ketua kalian yang terhormat itu, aku ingin menemuinya sekarang."

Ucap Chanyeol final. Setelah menembus banyak penjaga akhirnya sekarang ia berdiri di lantai paling atas kantor pusat Grup Horald yang sangat berkuasa di Korea.

Gadis dibelakang receptionist terlihat sangat takut melihat pewaris dari tempatnya bekerja. Tidak berani menatap Chanyeol.

"Ma…maafkan saya Tuan Muda, ta…tapi ketua sedang rapat da-"

"Aku tidak peduli!"

Chanyeol segera berjalan meninggalkan gadis itu. Para penjaga berusaha menahan Chanyeol, tapi tidak berhasil. Siapa yang bisa menghalangi Park Chanyeol yang sedang dalam keadaan murka seperti sekarang? Oh tentu saja lebih baik kalian menyingkir.

BRAAAKK!

Dengan tatapan nyalangnya, Chanyeol membuka pintu ruang rapat kasar. Tuan Park menatap anaknya datar. Chanyeol tidak peduli dengan orang-orang yang berada disini. Siapa yang peduli sopan santun di depan rekan bisnis yang menurut Chanyeol hanya penjilat yang menjijikan disaat seperti ini.

"Kurasa rapat kali ini cukup sampai disini. Aku memiliki agenda yang mendadak kali ini,"

Suasana sangat mencengkam ketika dua generasi Park bertatapan. Tidak ada yang bisa mengalahkan tatapan mematikan dari keturunan keluarga Park. Satu persatu rekan bisnis keluar dari ruang rapat dengan canggung. Tuan Park berjalan melewati Chanyeol menuju kantornya yang diikuti Chanyeol.

"tinggalkan kami,"

Ucap Tuan Park pada sekretarisnya. namja itu menunduk hormat dan menutup pintu ruangan perlahan.

"Jadi?"

Chanyeol menghela nafasnya kasar mendengar suara Ayahnya. Dengan kasar ia membanting berkas yang ada di tangannya.

"Apa maksud anda melakukan hal ini?!"

Suara Chanyeol sarat akan emosi. Tuan Park melirik sekilas berkas yang dilempar putra satu-satunya. Beliau mengangkat satu alisnya dan kemudian menunjukkan gelagat mengerti. Dengan tenang Tuan Park duduk di sofa.

"Duduklah dulu,"

"Kau… kau menghancurkan keluarga Baekhyun! Aku tidak tahu kau bermain kotor seperti ini untuk menjauhkanku dari Baekhyun,"

Chanyeol masih berusaha mengontrol emosinya walaupun siapapun yang melihat pasti tahu, Chanyeol sedang dalam emosi tingkat tinggi.

"Bukankah aku sudah mengatakannya padamu? Kau memiliki pilihan tapi kau tidak bijaksana dalam memilihnya. Kau hanya perlu meninggalkan gadis penggoda itu dan kembali ke rumah. Tempatmu adalah diatas bersama Appa tidak menjadi pengemis bersama gadis penggoda itu,"

Chanyeol mengepalkan tangannya kuat di samping tubuhnya. Ingin rasanya namja itu meraih sesuatu dan melemparnya kearah Tuan Park yang membuatnya kesal.

"Saat aku keluar dari rumah terkutuk itu sudah kukatakan pada anda! Hubungan kita berakhir dan jangan menggangguku juga keluargaku,"

"Lalu? Apa kau tidak menganggap appamu ini keluargamu?"

Tuan Park menatap remeh Chanyeol. Namja itu diam menggertakan giginya kemudian tersenyum sinis.

"Bukankah keluarga harusnya saling melindungi?" Tanya Chanyeol.

"Itulah yang sedang kulakukan untukmu, melindungimu dari gadis penggoda itu,"

"DENGAN MEMBUNUH CALON CUCUMU?!"

Mata Chanyeol kembali menyala. Kakinya menendang sofa di depannya sampai terbalik. Tuan Park sedikit terkesikap dengan kelakuan Chanyeol, namun kembali memasang wajah merendahkannya.

"Aku dengar dari Kyungsoo bahwa Baekhyun hampir mengalami kecelakaan dengan plat mobil kantor ini,"

"lalu kau menuduhku yang melakukannya?"

Chanyeol menatap tidak percaya wajah Tuan Park yang datar. Tidak percaya bahwa ia adalah keturunan dari namja tak punya hati itu.

"Demi Tuhan! Jika kau masih menggapku anakmu, Baekhyun sedang mengandung Anakku! Cucumu! Dan kau ingin membunuhnya?! Tidak cukupkah anda membuat keluarga Baekhyun bangkrut?"

Tuan Park berdiri dari kursinya. Menatap Chanyeol tetap dengan datar. Kepalanya mengangguk perlahan dan serigaian tercetak diwajah tegasnya. Kakinya melangkah mendekati Chanyeol.

"Jadi ini alasannya? Gadis penggoda murahan itu memberimu anak sehingga kau membelanya mati-matian? Memalukan,"

Tuan Park menatap remeh Chanyeol. Menghina Chanyeol dengan ekspresi wajahnya membuat Chanyeol benar-benar ingin membunuhnya.

"Dia bukan gadis penggoda atau apapun. Dia istriku. Dia adalah istriku yang sah! Dan anak itu adalah hadiah yang Tuhan berikan setelah pernikahan kami. Jadi jangan pernah menyebutnya penggoda ataupun murahan!"

Tawa Tuan Park terdengar di ruangan ini. Chanyeol merasa kesabarannya semakin diuji. Tuan Park berjalan kebelakang meja kerjanya dan duduk disana.

"aku tidak pernah mengakui gadis murahan itu sebagai menantuku dan aku tidak sudi mendapat cucu yang berasal dari gadis tidak tahu diri seperti dia. Aku membantu keluarganya dulu dari mafia, tapi dengan tidak tahu dirinya dia menggoda anakku. Wanita tidak tahu diri."

Habis sudah kesabaran Chanyeol. Namja itu mengangkat kakinya dan menghentakannya dengan keras diatas meja kaca yang langsung terdengar suara pecahan yang sangat keras. Tuan Park langsung berdiri dari tempat duduknya dengan mata terbuka lebar. Matanya menatap kaki Chanyeol yang mengeluarkan darah.

"Cha-"

"aku benar-benar bersumpah aku hampir saja membunuhmu jika aku tidak mengingat bagaimana aku ada di dunia ini!"

Chanyeol tidak peduli dengan luka yang ada di kakinya. Tuan Park berusaha kembali tenang ketika pintu terbuka. Muncul wajah sekretarisnya disana.

"Pergilah obati lukamu-"

"Aku kemari hanya untuk menyampaikan bahwa hubungan kita berakhir dan aku tidak akan segan-segan jika anda menyentuh keluargaku lagi," ucap Chanyeol dingin.

Ketika Chanyeol hendak berbalik, sebuah benda menghantam dahinya. Tuan Park melempar gelas kearah Chanyeol dan tepat mengenai dahinya. Sekretaris Tuan Park hanya bisa mematung di depan pintu melihat ketuanya emosi.

"TIDAK SADARKAH KAU APPA SEDANG MELINDUNGIMU?!"

"Tidak bisakah kau menghargai appa yang ingin melindungimu. Kuakui aku tak bisa melindungi istriku untuk itu aku berusaha keras untuk melindungi anakku,"

Chanyeol menunduk. Tangannya menyentuh dahinya yang mengeluarkan darah cukup banyak. Perlahan kepalanya diangkat. Tuan Park kembali membulatkan matanya melihat wajah putranya. Bukan hanya karena darah, tapi mata putranya. Terlihat air mata terbendung disana berusaha untuk tidak jatuh. Mata Chanyeol menatap mata Tuan Park dengan kecewa dan sarat dengan kesedihan.

"Aku tidak perlu dilindungi, aku ingin melindungi. Aku ingin bahagia karena bisa melindungi orang yang sangat kucintai-"

"Aku sangat mencintai Baekhyun dan aku ingin anda tahu itu."

Chanyeol membalikkan badannya. Berjalan menuju pintu keluar ruangan yang sudah sangat berantakan dan penuh kekacauan ini.

"Park Chanyeol! Jika kau berani melangkah keluar dari ruangan ini aku akan menjamin kesengsaraanmu. Aku tidak akan membiarkanmu mendapat kerja dimanapun dan hidup menderita,"

Chanyeol masih melangkahkan kakinya keluar tak peduli dengan ucapan Tuan Park. Walaupun Chanyeol tahu kekuasaan Ayahnya, tapi sedikitpun dia tidak takut dan ragu keluar dari ruangan menjijikan ini.

"Dan kau pikir aku akan diam saja pada gadis tidak tahu diri itu? Aku akan membuatnya hancur dengan cara yang tidak bisa kau bayangkan!"

Langkah Chanyeol terhenti. Tuan Park melihat itu tersenyum puas. Beliau kembali menegakkan tubuhnya dengan sombong menatap punggung Chanyeol.

"Bagaimana? Kau lebih aman dan bahagia disini. Dunia akan memujamu dan berada di dalam kekuasaanmu,"

Chanyeol tersenyum sinis membuat sekretaris Tuan Park yang ada di depannya terkejut.

"Aku akan terus membawa Baekhyun pergi dari anda. Selama ia memilihku, maka aku akan membawanya pergi dan melindunginya. Aku tidak membutuhkan dunia yang memujaku. Aku bahkan tidak takut dunia membenci dan memusuhiku. Aku bersedia memusuhi siapapun di dunia ini untuk bersamanya-"

Chanyeol berbalik. Tatapan matanya yang tajam mengejutkan Tuan Park. Tatapan itu sangat menusuk dan membuat orang gentar, bahkan orang yang paling berkuasa seperti beliau. Tuan Park tidak bisa menyembunyikan guncangannya menatap mata itu.

"Sebesar itulah… aku membutuhkannya,"

Chanyeol kembali berbalik dan melangkahkan kakinya keluar. Para karyawan terkejut dengan keadaan Chanyeol yang berantakan dan penuh luka, namun tidak ada yang berani mendekat atau menatapnya lebih lama. Tidak setelah melihat mata yang akan menghantarkan mimpi buruk mereka.

Flashback end

Chanyeol menghela nafasnya kasar. Mungkin ini karmanya ketika ia melawan Ayahnya, sehingga Sehun juga menjadi sangat sulit seperti dirinya.

Chanyeol tidak pernah menyesal atas kejadian itu. Karena berkat kejadian itu, ia bisa memiliki keluarga dan hidup bahagia dengan Baekhyun walaupun tidak lama. Tapi saat ini ia akan mengulanginya lagi. Masa-masa indah bersama keluarga kecilnya.

"Hari itu aku bersumpah untuk mengantarkan anak-anakku sendiri menuju cinta yang mereka pilih. Tapi mengapa itu begitu sulit?"

"Kau tidak boleh memikirkan banyak hal Chan,"

Chanyeol berbalik. Di dekat kasurnya berdiri orang yang ia percayai.

"Bagaimana dengan gadis bernama Luhan itu?" Tanya Chanyeol.

"Ah… kau pasti memikirkannya karena Sehun? Kau tahu aku sedikit kesusahan memeriksa Luhan pagi ini karena putra posesif mu itu,"

Dengan nada bercanda membuat keduanya tertawa. Chanyeol merasa sedikit terhibur karena candaan Minseok.

"Noona, apa menurutmu Sehun sangat menyukai Luhan?"

Chanyeol berjalan masuk perlahan. Minseok yang melihat itu langsung berjalan cepat membantu namja yang sudah ia anggap adik sendiri membawa tiang infusnya.

"Siapapun yang melihat pasti tahu. Walaupun Kris selalu berkata bahwa perasaan Sehun masih labil, tapi aku rasa Sehun tulus ingin melindungi Luhan,"

Minseok tersenyum sambil membantu Chanyeol duduk di sofa.

"Ya begitulah pria. Akan merasa bahagia ketika berhasil melindungi orang yang kita cintai. Membuat kita merasa berguna menjadi sandaran orang lain," ucap Chanyeol.

"Ya, kau benar. Aku bahkan berpikir akan ada cerita Chanyeol dan Baekhyun edisi kedua,"

Minseok medudukan dirinya di sofa sebrang Chanyeol setelah mengambil minuman dari kulkas untuk keduanya.

"tapi aku serius ingin memisahkan mereka sementara waktu. Aku ingin Sehun bisa merelakan Luhan agar Luhan bisa sembuh. Aku ingin Sehun menunggu sebentar sampai Luhan kuat kembali. Aku mengatakan hal ini pada Sehun dan dia mengerti. Tapi entah kenapa ia tahu resiko Luhan menaiki pesawat dan bersikeras membuat Luhan tetap tinggal. Ini menyulitkan kami,"

Walau dengan sedikit nada bercanda, tapi sarat akan penekanan. Chanyeol menghela nafasnya dan meminum minuman yang dibawa Minseok.

"Aku ingin putraku bahagia, tapi aku tak tahu apa yang harus kulakukan,"

Minseok sedikit merasa bersalah pada Chanyeol, tapi tidak ada yang bisa mereka lakukan. Mereka kembali minum minumannya masing-masing. Chanyeol menghentikan acara minumnya setelah teringat sesuatu.

"Noona aku ingin bertanya sesuatu,"

Minseok mengehentikan acara minumnya dan menatap Chanyeol.

"Bagaimana Noona tahu bahwa jantung Yeri bisa cocok dengan Luhan?"

Minseok membulatkan matanya. Kris! Ia harus menjejalkan sesuatu ke mulutnya agar tidak menyebar rahasia kemana-mana.

"Chanyeol, bukan maksudku untuk me-"

"Noona tak apa, jawab saja,"

Minseok menghela nafasnya.

"Aku hanya putus asa dan membuatku melihat data full check up siapapun yang kupunya. Bahkan milik anakku dan aku sangat terkejut saat milik Yeri cocok dengan Luhan. Tapi bukan berarti aku akan bertingkah gila mengambil jantung Yeri dan memberikannya pada pasienku,"

"aku tahu, noona. Aku tidak berpikiran sempit tentangmu,"

Chanyeol sedikit tertawa melihat wajah Minseok yang menegang. Ia tahu pasti Noona-nya itu merasa tidak enak padanya.

"Bagaimana dengan milik Sehun?" Tanya Chanyeol.

"Inilah hal paling kusyukuri tahun ini. Dimana milik Sehun tidak cocok dengan Luhan. Jika cocok kemungkinan besar Sehun akan memaksakan diri untuk memberikan jantungnya bukan?"

Mereka berdua kini tertawa. Memang benar dan kenyataan itu membuat mereka tertawa dengan kesedihan. Chanyeol terdiam pertama.

"Noona apa kau tahu betapa hebatnya gen yang kuberikan ke anak-anakku?"

"Apa maksudmu? Kau ingin pamer bahwa anak-anakmu sangat mirip padamu? Kasihan Baekhyun jika kau ingin tahu,"

Mereka tertawa sebentar dan Chanyeol menatap Minseok serius. Minseok merasa ia harus pergi dari sini setelah merasakan suasana yang tidak mengenakkan.

"Noona, kumohon tolong aku,"


.000.


Sehun terus menatap Luhan yang terbaring lemah di tempat tidurnya. Mengusap rambut gadis itu dengan penuh kasih sayang. Luhan menatap Sehun dengan tatapan sayu. Tubuhnya benar-benar lemah. Sesekali gadis itu menutup matanya merasakan kenyamanan dari elusan Sehun di rambutnya.

"Kau akan baik-baik saja. Aku sudah menepati janjiku untuk berada disisimu, jadi kau juga harus menepati janjimu untuk berada di sisiku,"

Sehun dapat melihat Luhan yang mengangguk kecil dan tersenyum tipis. Walaupun berupa senyuman, jujur Sehun sangat tidak tega melihatnya. Terlalu lemah dan terlihat kesakitan. Membuat hati namja itu semakin sakit.

"Apa… mereka akan membawaku pergi?"

Luhan bertanya dengan suara yang sangat lirih, tapi Sehun masih bisa mendengarnya. Sehun kini menggenggam kedua tangan Luhan dan tersenyum.

"Aku tidak akan membiarkan mereka membawamu pergi,"

Sehun mengusap lembut tangan Luhan dan menciumnya. Menyalurkan semua perasaannya pada gadis yang berada di depannya.

"Aku ingin pergi,"

Kalimat Luhan membuat Sehun membulatkan matanya. Meletakkan kembali tangan Luhan di kasur dan menatap mata gadis itu.

"Ap-"

"Bukankah ini kesempatanku untuk sembuh? Dokter Kim berkata aku bisa kembali kemari ketika aku sudah sehat lagi,"

"Tapi Luhan, penerbangan sangat beresiko untukmu. Kau pikir bisa sampai di Kanada dengan jantung yang masih berdetak?"

Tangan lemah Luhan berusaha meraih pipi Sehun. Rahang tegas yang sangat Luhan sukai, begitu tampan. Dengan lembut Luhan mengelus pipi Sehun.

"Bahkan jantungku masih berdetak lebih dari 10 tahun walaupun mereka mengatakan aku tidak akan hidup lama. Aku kuat Sehun, karena ada dirimu, aku semakin kuat,"

Sehun menutup matanya. Ia berpikir keras. Apakah lebih baik membiarkan Luhan pergi dengan segala macam resiko?

Sehun kembali menatap mata Luhan. Disana tatapan memohon yang selalu membuat Sehun kalah kembali muncul. Sehun ingin tegas mengatakan tidak, tapi apa dia benar punya hak untuk itu sementara Luhan sendiri ingin pergi? Sehun menghela nafasnya kasar.

"Kalau begitu biarkan aku ikut denganmu ke Kanada. Aku akan menemanimu di pesawat,"

Sehun menggenggam tangan Luhan di pipinya dan mengusapnya pelan.

"Tidak. Aku ingin kau tetap disini dan menungguku. Dengan menungguku kau pasti akan lebih merindukanku nantinya," ucap Luhan sambil terkekeh.

"Tap-"

"Hanya berjanjilah untuk menungguku dan merindukanku," putus Luhan.

Sehun kembali menutup matanya. Merasakan tangan lembut Luhan di pipinya. Tangan Sehun menurunkan tangan Luhan dan menggenggamnya. Kembali menciumnya.

"Aku akan sangat merindukanmu,"

Luhan tersenyum mendengar Sehun. Walaupun dengan berat hati, Sehun akhirnya memutuskan untuk tetap membiarkan Luhan ke Kanada. Mereka saling melempar senyum dengan mata yang terkunci satu sama lain.

"Sehun-ah,"

"Hm?"

"Aku mencintaimu,"

Wajah Luhan langsung memerah karena pengakuannya. Disisi lain Sehun menegang mendengar kalimat Luhan. Ia terus menatap mata Luhan tidak percaya membuat Luhan semakin malu dan mengalihkan pandangannya.

Luhan merasa gelisah karena tidak mendapat respon dari Sehun. Apa ia ditolak? Apa seharusnya gadis itu tidak mengakuinya? Tapi Luhan tidak mampu lagi menyembunyikan perasaannya pada Sehun.

Tangan Luhan terasa hampa. Luhan menyadari Sehun melepas genggaman tangannya segera berbalik kearah Sehun. Namun tanpa di duganya wajah Sehun tepat di depan wajahnya. Mata tajam itu mengunci mata Luhan.

'Chu'

Sehun mencium Luhan, hanya menciumnya dengan mengalirkan seluruh perasaannya pada gadis itu. Luhan sangat terkejut dengan perlakuan Sehun namun kemudian ia menutup matanya. Merasakan nyaman sentuhan bibir Sehun diatas bibirnya. Tanpa gerakan sedikitpun yang membuat Luhan merasa bahwa Sehun mengirimkan perasaan yang luar biasa padanya.

Sehun mengangkat kepalanya, memutus ciuman mereka dan menatap wajah cantik Luhan. Mata Luhan perlahan terbuka dan langsung dihadapkan dengan mata Sehun yang menatapnya. Tangan Sehun mengelus lembut wajah Luhan dan namja itu kembali mengecup bibir Luhan. Hanya sebentar dan mengangkatnya kembali.

"Aku sangat mencintaimu,"

Hati Sehun merasa lega sudah mengutarakan apa yang selama ini terpendam. Dua sejoli ini masih saling menatap. Sehun tersenyum pada Luhan, senyuman yang membuat jantungnya yang lemah kembali berdetak sangat cepat. Senyuman yang sangat tampan.

"terima kasih sudah datang ke kehidupanku. Kau adalah bagian yang paling aku syukuri berada di hidupku,"

Luhan tersenyum. Senyuman yang sangat cantik. Senyuman penuh kebahagiaan. Luhan merasa bahwa ia sudah bahagia dan tidak akan menyesal jika ia meninggal saat ini juga. Tapi Luhan menepis pikiran itu karena ia akanbisa merasakan kebahagiaan yang lebih dengan Sehun jika ia hidup.

Sehun menjauhkan tubuhnya dan kembali duduk di kursi yang berada di samping kasur Luhan. Dua orang yang baru saja saling menyatakan cinta ini hanya saling menatap dan tersenyum satu sama lain.


.000.


Gadis berambut hitam ini terus berjalan di lorong rumah sakit. Ia membawa bunga ditangannya dan melangkahkan kakinya menuju ke sebuah kamar. Gadis pirang disampingnya terus berusaha menyetarakan langkah kaki yang lebih tinggi.

Mereka berdua sampai di depan sebuah kamar. Gadis berambut hitam itu menghela nafasnya dan masuk ke dalam. Ia sempat terkejut melihat pemandangan yang ia lihat namun kemudian tersenyum. Perlahan ia melangkahkan kakinya menuju meja di dekat kasur.

"Cepatlah sembuh dan berbahagialah kalian,"

Dengan langkah hati-hati gadis itu keluar. Masih ada satu bucket bunga lagi ditangannya yang berarti kunjungannya belum berakhir.

"Tao, bagaimana mereka,"

Wendy sedang mengikat rambut pirangnya tinggi. Gadis itu berdiri lumayan jauh dari kamar yang tadi dimasuki Tao.

"Maaf, aku tiba-tiba mual. Luhan pasti memakai obat itu lagi. Dari kecil aku tidak bisa menjenguk Luhan karena bau obat itu membuatku mual,"

Wajah Wendy memang terlihat pucat. Tao tahu Wendy pasti baru saja muntah sehingga gadis itu mengikat rambutnya. Jaga-jaga jika ia mual lagi.

"Sekarang aku mengeti bagaimana perasaan mereka. Aku merasa bersalah karena sempat bersikap egois tapi aku dengan tulus menginginkan kebahagiaan mereka,"

"Apa Sehun ada di dalam?" Tanya Wendy.

"Ya, tertidur sambil berpegangan tangan,"

Tao tersenyum dan kembali melangkah. Wendy merasa lega karena mungkin akhirnya Tao bisa dekat kembali dengan Sehun serta Luhan. Wendy mengikuti langkah kaki Tao menuju lift. Kurang dari satu menit mereka sudah berada di lantai yang menjadi tujuan mereka.

"Apa kau tahu beliau sakit apa?"

Wendy sempat terkejut ketika melihat Tao berhenti tepat di depan lift. Gadis itu berjalan ke depan Tao menatapnya polos dan menggeleng.

"mungkin ini adalah penyesalan terbesar dalam keluarga Park,"


.000.


Sudah seminggu setelah hari dimana Sehun dan Luhan menyatakan perasaannya. Kali ini Sehun akan mengantarkan Luhan ke bandara untuk pergi ke Kanada. Walaupun Sehun dan Kris masih tidak terlalu akur, namun Kris membiarkan Sehun mengantar Luhan ke Bandara nanti.

Sementara itu Minseok mempersiapkan berkasnya. Tentu dia akan ikut Luhan ke Kanada untuk sementara waktu dan berdoa agar putra dan suaminya tidak menimbulkan masalah ketika ia pergi.

"Dokter Kim,"

Minseok berpaling kearah pintu. Disana berdiri Suster Jang dari bagian laboratorium.

"Ah… suster Jang. Ada apa?"

"Ini data yang anda minta. Hasil laporan Tuan Park Chanyeol,"

Suster Jang memberikan amplop putih besar pada Minseok. Wanita itu berterima kasih dan duduk di kursinya setelah suster Jang keluar dari ruangannya. Wanita itu sangat was-was. Ia takut menghadapi hasil yang ada ditangannya. Ia takut… hal itu akan terjadi.

Minseok memberanikan diri membuka amplop itu. Membacanya dengan perlahan dan meletakkannya kembali di meja. Wajahnya terlihat sangat shock dan pucat.

"Ini tidak mungkin terjadi,"

"Apa yang tidak mungkin?"

Minseok segera mengalihkan pandangannya. Disana berdiri Kris dengan berkas ditangan namja itu. Minseok kaget dan berusaha meraih kertas itu dari Kris, namun terlambat. Namja itu terlanjur mengetahui isinya.

"i..ini?"

Sama seperti Minseok, Kris juga terkejut melihat isi berkas itu. Berharap bahwa ini hanya bualan karena Kris sudah menebak apa yang akan terjadi nantinya.

"Kris… aku akan membunuhmu jika memberitahu hal ini pada orang lain," ancam Minseok.

"Tentu, akupun tidak akan membuat hidupmu tenang jika kau menjalankan prosedur ini,"

Kris membanting berkasnya di meja. Memijat kepalanya yang entah masalah apalagi yang akan ia hadapi.


.000.


Sehun masuk ke dalam kamar Luhan setelah mengetok pintu. Disana ada orang tua Luhan yang membereskan barang-barang. Luhan duduk dikasur tersenyum menyambut Sehun. Melihat putrinya yang sepertinya tidak ingin diganggu, orang tua Luhan keluar ruangan yang membuat Luhan berteriak karena godaan orang tuanya. Sehun mendekat dan pipi Luhan semakin merah.

"Kau baik-baik saja? Apa kau sudah siap untuk pergi?"

Luhan tersenyum lalu mengangguk. Sehun mengangkat tangannya untuk membelai rambut Luhan. Kembali dua sejoli ini saling bertatapan dengan senyum diwajah mereka.

"Aku sangat senang, apalagi mendapat bunga dari Tao. Ini membuatku sangat bahagia,"

Luhan memandangi vas yang terdapat bunga Lily diatasnya. Setelah bangun dari tidurnya seminggu yang lalu, ia melihat bunga pemberian Tao. Luhan merasa sangat bahagia karena Tao peduli padanya.

"Tolong sampaikan rasa terima kasihku padanya,"

Sehun mengangguk dan kembali mengusap rambut Luhan. Sehun melihat sekeliling, tapi sejak masuk ke rumah sakit ia tidak melihat gadis berambut pirang yang selalu di dekat Luhan.

"Dimana Wendy?"

"Ah! Wendy tidak bisa kemari. Kamar ini bau obat yang membuatnya mual, jadi ia akan menemuiku di bawah nanti."

Sehun mengangguk paham dan kembali tersenyum pada Luhan. Luhan yang tadinya tersenyum tiba-tiba teringat sesuatu. Senyumnya hilang dan diganti dengan wajah serius.

"Sehun aku ingin mengatakan sesuatu,"

"Jika kau ingin mengatakan bahwa kau mencintaiku dan akan merindukanku, aku sudah tahu itu."

'bugh'

Luhan melepar bantalnya kearah Sehun dan membuat namja itu tertawa melihat wajah cemberut Luhan.

"Sehun! Aku serius!"

"Baiklah, sayang. Ada apa?"

Pertanyaan lembut Sehun dan panggilan yang tidak Luhan duga membuat pipi gadis itu memerah, namun Luhan berusaha menetralisirnya. Ia harus mengatakan ini pada Sehun.

"Sehun, kau tahukan bahwa kau sudah membawa dan memiliki hatiku?"

Luhan berbicara dengan wajah serius, namun kalimatnya membuat Sehun tak bisa menahan tawanya. Dan lagi, Sehun mendapat cubitan penuh cinta dari Luhan. Luhan kembali memasang wajah serius.

"Bawalah hatiku dan berbahagialah,"

"Aku menger-"

"Walaupun aku tidak bisa membuka mataku lagi,"

Sehun membulatkan matanya pada kalimat terakhir Luhan. Ia ingin perkataan Luhan hanya bercanda tapi wajah gadis itu sangat serius dan terpancar kesedihan.

"Apa maksudmu?"

"Sehun aku bersumpah padamu aku akan berjuang keras untuk kembali padamu. Ini hanya seandainya… seandainya Tuhan lebih menginginkan aku berada disisinya, aku ingin kau tetap bahagia dengan hatiku yang kau bawa. Menemukan cinta baru dan jangan takut karena hatiku selalu bersamamamu,"

"Luhan! Aku ti-"

"Kumohon Sehun! Kumohon hanya dengarkan aku kali ini. Aku tidak ingin menangis, aku ingin tertawa sehingga aku semangat. Kumohon berjanjilah,"

Luhan menatap Sehun dengan mata yang berkaca-kaca. Membuat namja itu kembali menjadi frustasi.

"Anggaplah ini sebagai permintaan terakhirku,"

.

.

.

.


TBC


.

.

.


Pesan Krisgi

Akhirnya setelah sekian lama, Krisgi kembali menulis lagi. Terima kasih atas dukungan kalian semua. Bekat dukungan dan semangat Reader-nim, Krisgi bisa menyelesaikan House chapter 13 : Lime ini.

Krisgi tidak bisa menjanjikan kapan Krisgi akan Update House karena Krisgi juga ingin Update cerita yang lain, tapi Krisgi janji akan tetap Update secepatnya. Untuk kalian yang ingin cerita selanjutnya dalam House atau member masukan sangat diperbolehkan.

Dimohon untuk Vote, Comment, dan Review dari Reader-nim. Kalimat pendukung dari reader-nim adalah semangat untuk Krisgi.

Juga ada yang bertanya ke Krisgi lewat pesan pribadi Krisgi jawab juga disini karena banyak menyakan hal yang sama:

Q : Krisgi lebih suka dipanggil dengan Soojeong, Eonnie, Noona, atau Krisgi?

A : sebenarnya Krisgi lebih suka dipanggil Soojeong, tapi karena mungkin sulit untuk chingudeul disini, jadi panggil Krisgi juga tak masalah. Untuk eonnie atau Noona, mungkin sudah rahasia umum jika yeoja tida suka diungkit umurnya, jadi sebisa mungkin jika tidak lebih tua dari Krisgi panggil nama. Krisgi terkadang sedih apalagi kalau dipanggil Noona, entah kenapa.

Q : Krisgi benar sekolah di SOPA?

A : Sebenarnya Krisgi sudah lulus dari SOPA, Broadcasting Major angkatan 2014. Tapi karena keluarga, Krisgi kuliah bisnis dan melupakan cita-cita broadcasting

Q : Boleh tahu instagram, line, atau kakao pribadi Krisgi?

A : Untuk saat ini maafkan Krisgi tidak bisa membagi SNS pribadi. Untuk yang ingin mengobrol dengan Kriagi bisa melalui DM instagram khusus reader-nim ( pudichakris), Comment, Review, atau pesan pribadi Wattpad maupun , dengan senang hati Krisgi menunggu ajakan komunikasi reader-nim.

Q : Umur Krisgi?

A : Hiks TvT kalau berkomunikasi dengan yeoja Korean seperti Krisgi hindari pertanyaan umur, berat badan, dan tinggi ya Chingudeul. Walaupun Krisgi tidak terlalu senditif dengan hal itu, tapi mungkin suatu saat nanti Krisgi bisa tertular Chingu Krisgi disini yang sensitive dengan hal itu. Jadi Krisgi kelahiran tahun 1995, bisa tebak umurnya kan?

Sekian, terima kasih sudah mendukung dan menunggu karya Krisgi.