Chapter 14 : Sick
Cerita ini punya Krisgi ya Chingu~ No Copast or Plagiat yang diganti nama kecuali dengan izin Krisgi secara langsung. Kalau ada yang repost tanpa izin bantu lapor ya Chingu
Cast:
Oh Sehun as Park Sehun
Xi Luhan as Kim Luhan
Byun Baekhyun as Byun Baekhyun
Paek Chanyeol as Park Chanyeol
Kim Yerim as Park Yeri
And others (Find Yourself)
.
Main Pairing:
Hunhan
Chanbaek
.
Genre: .
Rating:
T
Sinopsis:
"Kami pergi dari rumah itu karena kau meninggalkan kami, tapi aku berjanji. Aku janji akan mendapatkan rumah itu kembali dan menjaga apa yang sudah kau tinggal. Dan kumohon tak usah kembali"
-Park Sehun-
"Aku memang terlihat idiot tertawa dan bertingkah sok imut seperti katamu, tapi aku melakukan ini hanya untuk Ibuku jadi jangan salah paham"
-Park Yeri-
"Kau terlihat bahagia saat di cafe, apa tidak bisa tertawa seperti itu disini?"
-Kim Luhan-
Happy Reading
"Sial, kita tidak bisa berangkat sekarang,"
Kris mematikan ponselnya. Baru saja ia mendapat telepon dari anak buahnya di Bandara bahwa semua penerbangan dibatalkan. Cuaca sangat buruk diluar, hujan beserta angin kencang. Semua orang dihimbau untuk tidak menggunakan jalan saat ini.
Junmyeon memeluk istrinya berusaha menenangkan wanita itu. Minseok menatap kearah kamar Luhan dimana gadis itu menunggu kabar diluar. Ia mengeluarkan buku catatannya.
"Apa besok pagi kita bisa berangkat?" Tanya Minseok.
"Aku belum tahu. Sial!"
Kris menendang tempat sampah di dekatnya. Junmyeon berusaha menenangkan kakak iparnya itu namun Kris tetap berdecih. Yixing melepas pelukan Junmyeon dan masuk ke kamar Luhan. Wanita itu hendak mengabari Luhan bahwa keberangkatannya ditunda. Setelah Yixing masuk ke kamar Luhan, Minseok mendekati Kris dan Junmyeon.
"Apapun yang terjadi, kita harus berangkat besok pagi. Obat itu hanya bertahan tiga hari dan kami sudah menyuntikkannya ke Luhan tadi. Ia tidak bisa minum obat itu lagi atau ginjalnya bisa rusak,"
Kris kembali berdecih kesal. Obat itu adalah temuan Minseok yang membantu ketahanan Jantung Luhan. Luhan pernah memakai obat itu saat gadis itu sekarat dan obat itu yang membuat Wendy tidak bisa menahan mualnya di dekat Luhan. Obat itu sangat keras sehingga menjadi option terakhir dan tidak boleh digunakn lagi sebelum 6 bulan berlalu.
Karena jantung Luhan perlu kekuatan menghadapi tekanan udara, maka Minseok memberikannya lagi. Namun tanpa di duga, mereka tidak bisa terbang hari ini. Jika mereka tidak bisa terbang besok pagi, maka efek obat itu akan menghilang diperjalanan menuju Kanada mengingat jarak yang cukup jauh. Hal ini memberikan resiko tinggi pada Luhan yang bisa berakhir dengan jantungnya yang tidak kuat berdetak lagi.
"Aku bersumpah kita terbang besok pagi!"
Kris masih sangat kesal. Junmyeon memang sangat kecewa karena nyawa putrinya sekarang seperti menggantung pada benang tipis. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya keluarga mereka jika Luhan meninggalkan mereka.
Setelah menghela nafas, Junmyeon bergabung dengan Yixing masuk ke kamar Luhan. Pintu tertutup dan meninggalkan Kris bersama Minseok. Kris menyenderkantubuhnya pada dinding dan menatap Minseok tajam.
"Aku ingin bicara,"
"Dan kuyakin ini bukan tentang Luhan,"
Minseok berjalan meninggalkan ruangan Luhan mengajak Kris pergi dari tempat itu. Kris mengikuti Minseok dari belakang.
"Aku bersumpah akan melihatnya depan mata kepalaku sendiri bagaimana berkas itu musnah,"
.000.
Sehun berdiri dan memegang gagang pintu ragu. Ia sudah berdiri di depan kamar Chanyeol, namun rasanya sangat berat membuka pintu itu.
Beberapa waktu lalu, Sehun pamit pada Luhan ke kamar mandi. Namun setelah keluar dari kamar Luhan, ia bertemu dengan Ibunya. Baekhyun meminta Sehun untuk menemui Chanyeol. Tentu Sehun menolaknya mentah-mentah. Namun hal yang tidak diduga Sehun terjadi. Baekhyun berlutut di depannya dan memohon pada Sehun.
Sebenearnya Sehun sudah sadar ketika melihat wajah memerah Ibunya. Ia tahu Ibunya baru saja menangis. Tidak tega Ibunya sampai berlutut memohon padanya, kini Sehun berdiri di depan kamar Chanyeol dan berniat menemuinya.
"Minggir, nak!"
Sehun berpaling ketika seorang Dokter dan banyak perawat datang kearahnya. Dengan segera mereka membuka pintu. Belum sempat Sehun tersadar dari keterkejutannya, ia melihat hal yang membuatnya membulatkan matanya.
Kasur putih Ayahnya yang penuh darah. Chanyeol tergeletak di samping kasur dengan tangan menggenggam alat pemanggil. Para perawat mengangkat Chanyeol ke kasurnya dan melepas kunci kasur. Dengan segera mereka membawa Chanyeol keluar dari ruangan. Sehun yang panik tentu berlari mengikuti para perawat itu. Jujur ia sangat takut terjadi sesuatu pada Ayahnya.
Sehun terus berlari membantu para perawat mendorong kasur Ayahnya. Ia bisa melihat wajah Chanyeol yang sangat pucat dan sisa darah di wajah dan bajunya. Jantung Sehun berdetak sangat keras dengan segala ketakutan. Sehun menghentikan langkahnya ketika para perawat mencegah Sehun masuk ke ruang ICU.
Sehun berdiri mematung melihat pintu itu tertutup. Seluruh tubuhnya seperti membeku tak bisa digerakkan. Namja itu bahkan tidak bisa berpikir apapun.
"Hei, Bocah! Apa yang kau lakukan disini?"
Kris baru saja ingin menjenguk Chanyeol, namun belum sampai ia melihat Sehun berdiri dengan ekspresi yang menurut Kris sangat jelek di depan ruang ICU.
"Hei, kau kenapa berdiri disini?"
Tidak mendapat jawaban, Kris semakin mendekati Sehun dan berdiri di depannya.
"Hei, apa sekarang kau jadi bi-"
Kris menghentikan kalimatnya ketika melihat baju bagian bawah Sehun terlihat noda darah. Kris segera mencengkram pundak Sehun.
"Katakan padaku, siapa yang ada di dalam?"
Sehun masih diam mematung. Matanya menatap mata Kris, namun bibirnya tidak bisa digerakkan.
"JAWAB AKU BOCAH!"
"A…Appa…"
Great! Kris langsung melepas cengkram tangannya di pundak Sehun. Namja itu segera mengelurkan ponsel dari saku celananya. Entah kenapa hari ini banyak berita buruk yang menimpanya. Kris sampai berpikir bahwa cuaca buruk ini adalah pertanda, tapi namja itu segera menggelengkan kepalanya.
Setelah menghubungi Baekhyun, Kris kembali menatap Sehun. Anak itu masih berada di tempatnya dan itu membuat Kris semakin ingin memfoto wajah aneh Sehun sekarang. Namja itu menghela nafas, sekarang bukan saatnya bercanda.
"Kemarin dan duduklah,"
Tanpa persetujuan Sehun, Kris menarik Sehun dan mendudukkannya di kursi. Kris segera bangkit meninggalkan Sehun sendiri menuju mesin minuman. Memasukkan uangnya dan mengambil minuman kaleng itu. Kris kembali pada Sehun yang menunduk.
"Tenangkan dirimu dan minumlah,"
Kris meletakkan minuman kaleng itu ke genggaman tangan Sehun. Sehun hanya melihatnya tanpa berminat meminumnya. Pikirannya masih dipenuhi wajah Ayahnya. Wajah yang terlihat lelah dan kesakitan.
"A..Apa yang tidak kuketahui? Appa… apa dia sakit parah?"
Kris mengalihkan pandangannya kearah Sehun. Namja itu menyandarkan bahunya ke sandaran kursi dan meminum minumannya.
"Itulah kenapa aku memintamu melihat sekelilingmu. Dipikiranmu hanya ada Luhan dan kau tidak melihat Ayahmu sendiri,"
Mendengar nama Luhan, Sehun segera mengangkat kepalanya dan menatap Kris.
"Bagaimana dengan Luhan? Bukannya kalian berangkat ke Kanada hari ini? Kenapa kau masih disini?"
"Hei, Bocah! Kau baru saja mematung karena Ayahmu dan jadi panic karena Luhan?! Aku tak percaya ini. Kau bahkan bicara tak sopan padaku,"
Kris meninggikan suaranya menatap Sehun tajam. Oh, Great! Dimatanya Sehun hanya seorang bocah egois yang labil, dan ia yakin hal itu tak akan berubah.
"Jawab saja!"
"Cuaca buruk kami tak bisa membawanya. Luhan baik-baik saja, kami akan berangkat besok pagi. Apa kau puas?!"
Sehun kembali menunduk dan menghela nafas lega. Ia sempat khawatir jika terjadi sesuatu pada Luhan.
Kris melihat gelagat Sehun hanya bisa menghela nafas kasar. Kris mendongakkan kepalanya menatap langit-langit rumah sakit yang putih bersih.
"Ini adalah pertanyaan klasik. Ketika kau melihat Ayahmu dan Luhan akan ditabrak bus dan kau hanya bisa mendorong satu orang untuk kau selamatkan-"
Sehun mengangkat kepalanya dan menatap Kris. Namja pirang itu menurunkan kepalanya dan beralih menatap Sehun yang menatapnya dengan tatapan sulit.
"Siapa yang akan kau selamatkan? Ayahmu atau Luhan?"
Kris menatap Sehun yang terdiam. Kris tetap melayani tatapan Sehun yang sepertinya terkunci padanya. Sehun menatap Kris dengan tatapan tidak percaya. Bagaimana ia menjawab pertanyaan Kris, itu membuatnya sangat sakit.
"A…"
"Oppa!"
Belum selesai Sehun dengan kalimatnya, tedengar suara yang mengintrupsi. Mereka mengalihkan pandangan kearah suara itu. Baekhyun dan Yeri berlari kearah mereka. Dari gerakannya, mereka pasti berlari.
"Apa yang terjadi?"
Suara Baekhyun sarat dengan kepanikan. Wanita itu menggenggam lengan Kris kuat menuntut jawaban.
"Aku belum tahu. Yang kutahu adalah aku melihat bocah ini dengan ekspresi idiotnya dan dia memberitahuku bahwa Chanyeol di dalam. Jadi aku menghubungimu. Dokter belum keluar,"
Baekhyun mengalihkan pandangannya ke Sehun. Jujur ia baru sadar bahwa Sehun juga ada disana. Tangan kecil Baekhyun beralih mencengkram lengan Sehun.
"Sehun, ada apa dengan Appa?"
Baekhyun menatap Sehun, tapi Sehun diam saja. Namja itu bingung harus menjawab apa. Ia bisa merasakan kekhawatiran eommanya dari kuatnya remasan tangan di lengannya. Wajahnya juga masih tersisa air mata.
"A…Aku tidak tahu. Aku…berdiri didepan pintu, dokter…perawat…"
"Baekhyun, dia juga pasti terkejut,"
Baekhyun menoleh sebentar pada Kris lalu kembali menatap Sehun. Baekhyun melepas cengkraman tangannya dan beralih memeluk Sehun. Sehun sempat terkejut namun kemudian ia kembali relaks tanpa membalas pelukan eommanya.
"Appa… pasti baik-baik saja kan?"
"Tentu, ia namja yang kuat. Kita harus percaya kekuatan Appa."
Baekhyun mengelus lembut punggung tegap Sehun. Menenangkan putranya. Tak lama kemudian Baekhyun melepaskan pelukannya. Menatap Sehun sambil mengusap wajah Sehun penuh kelembutan. Sehun bisa melihat air mata Ibunya yang kembali menetes.
"Kalian sangat mirip," ucap Baekhyun sambil tersenyum.
Menyadari matanya kembali meneteskan airmata, Baekhyun segera menghapusnya. Ia menarik Sehun untuk duduk kemudian berbalik kearah Yeri yang masih berdiri di tempatnya tadi. Baekhyun memeluk dan mengelus rambut Yeri kemudian membawa putrinya untuk duduk.
Kris kembali berdiri dan berjalan kearah mesin minuman lagi. Mengambil minuman untuk Baekhyun dan Yeri. Kris bisa merasakan hawa suram diantara mereka bertiga. Kris selalu mendengar bahwa Baekhyun akan kuat demi anak-anaknya jika nanti anak-anaknya tahu keadaan Chanyeol yang sebenarnya, tapi Kris juga tahu, bahwa keadaan Chanyeol juga cobaan berat untuk wanita itu.
Kris berjalan kearah tempat duduk itu dan memberikan minumnya. Bergabung duduk disana tanpa mengatakan apapun. Kris mengeluarkan ponselnya. Mengetik pesan pada seseorang.
.000.
Luhan mendengus kesal. Ia sangat bosan di kamar sendirian. Biasanya Sehun datang dan menemaninya sampai ia lelah dan tertidur. Kenapa Sehun tidak datang? Apa Sehun tidak tahu penerbangan Luhan ditunda? Luhan kembali mendengus.
"Aku sangaaaaaat Bosaaaaaaaaan!" teriak Luhan.
Benar-benar Luhan tak bisa melakukan apapun. Ia tidak bisa dekat-dekat dengan alat elektronik. Ia juga tidak bisa sembarang bergerak dan jalan-jalan karena mesin yang masih terpasang di tubuhnya.
"Ada apa, sayang?"
Yixing yang mendengar teriakan Luhan dari Luhan segera masuk. Wanita itu menitipkan ponselnya pada Junmyeon dan masuk ke ruangan Luhan. Senyum manis terpatri di wajahnya. Tangan lembutnya mengusap surai rambut Luhan dengan kasih sayang.
"Mom! Kenapa Sehun tidak datang? Apa Sehun belum tahu penerbanganku dibatalkan? Seharusnya di bertanya-tanya, bukankah dia mau mengatarku ke bandara?"
Yixing kembali tersenyum mendengar ocehan putrinya. Bibir Luhan mengerucut lucu membuat Yixing sangat gemas untuk tidak mencubitnya. Luhan mengaduh karena cubitan penuh kasih sayang Ibunya.
"Bukannya kau ingin membuat Sehun merindukanmu? Tapi kenapa belum apa-apa kau sudah merindukan Sehun duluan?"
Yixing memasang wajah menggodanya dan mencolek dagu putrinya. Hal itu membuat Luhan cemberut walaupun wajahnya memerah hebat.
"Aku tidak merindukannya!" Jawab Luhan tegas.
"Benarkaah?"
Yixing kembali menggoda Luhan dan wajahnya tersenyum. Ia ingin bisa lebih kama bercanda dengan Luhan seperti ini. Melihat bibirnya yang mengerucut, wajahnya yang memerah, ocehannya, senyumnya.
Yixing segera mengangkat kepalanya ketika ia merasa akan menangis lagi. Tidak! Ia harus kuat. Ia tidak ingin Luhan ikut bersedih melihat Ibunya sedih. Luhan melihat Ibunya mengangkat kepala hendak bertanya namun pintu terbuka membuat Luhan kembali menutup bibirnya.
"Yeobo, aku naik dulu. Kris barusaja menghubungiku. Katanya Chanyeol masuk ruang ICU,"
Junmyeon dengan hanya kepalanya yang menyembul dari balik pintu.
"Kenapa bisa begitu? Aku ikut, Baekhyun pasti tertekan,"
Yixing kembali menoleh kearah Luhan. Wanita itu meraih alat tombol pemanggil dan memberikannya ke tangan Luhan.
"Sayang, dengarkan Mom. Mom pergi menemui Ibu Sehun dulu, jika kau merasa tidak enak badan atau sesuatu, tekan tombol ini segera. Sekecil apapun rasa sakitnya, mengerti?"
Luhan yang bingung dengan sikap Ibunya hanya mengangguk. Yixing tersenyum dan mengelus rambut Luhan sebelum akhirnya keluar dari ruangan itu. Luhan menatap alat ditangannya.
"Chanyeol… bukankah itu nama Ayah Sehun? Apa beliau sakit?"
Luhan menggedikkan pundaknya dan hanya berdoa bahwa semua akan baik-baik saja. Setelah itu terdiam. Rasa bosannya kembali. Luhan mulai mengambil buku gambar di mejanya. Luhan mulai menggambar. Mengambar gambaran sesuatu seperti suasana hatinya sekarang. Luhan terdiam beberapa saat melihat gambarannya. Luhan menggambar rumah. Rumah yang ia tinggali sekarang.
"Apa aku sangat ingin pulang?" monolognya sendiri.
Selain rumah, Luhan menggambar tamannya. Entah apa yang dipikirannya, Luhan juga terkejut saat ia menggambar dua orang duduk di bangku taman. Seperti saat ia meminta Sehun disisinya di waktu yang lalu. Mengingat itu wajah Luhan memerah. Bagaimana memikirkan bahwa sekarang mereka adalah sepasang kekasih.
Luhan terus menatap gambarnya sampai ia menyadari sesuatu. Senyum manis itu menghilang. Luhan kembali mengambil pensilnya lagi dan menggambar. Menambahkan alat bantu detak jantung, tiang infuse, dan selang pada tubuh gadis itu.
"Apa aku akan hidup seperti ini terus? Atau mungkin aku tidak akan hidup?"
Luhan mengelus gambarnya dengan perasaan sedih yang melingkupi hatinya. Gadis itu segera menggeleng kuat. Tidak! Ia tidak boleh pesimis. Ia tidak bisa menyerah karena janjinya pada Sehun. Luhan meyakinkan dirinya untuk terus berjuang hidup karena kini ia punya tujuan hidup. Berada disisi Sehun.
Luhan meletakkan kembali buku gambarnya di meja. Ia harus membangkitkan semangatnya lagi dan akhirnya Luhan memutuskan bernyanyi untuk mengusir kebosanannya. Suara indah itu terdengar diseluruh ruangan tanpa ada yang menengar selain Luhan. Gadis itu berusaha memilih lagu yang ceia agar semangatnya kembali muncul.
Entah sudah berapa menit ia bernyanyi dan hal itu membuatnya haus. Luhan meraih botol minum disampingnya dan meminum. Rasa lega karena tenggorokkannya kembali segar.
"Akh!"
Luhan memegangi dadanya. Sakit. Ia mengingat pesan Ibunya untuk memanggil perawat sekecil apapun sakitnya. Luhan beralih mencari alat pemanggil, namun alat itu terjatuh saat Luhan meraih botol minum tadi. Luhan berusaha meraih kabel sambil memegangi dadanya.
"Sedikit lagi…"
'Tshh'
Luhan berbalik dan membulatkan matanya. Selang penguhubung mesin dan jantungnya terputus. Luhan segera kembali berusaha meraih alat itu, namun jantungnya seakan berhenti. Luhan masih menjulurkan tangannya berusaha meraih alat pemanggil itu sampai akhirnya matanya tertutup.
.000.
Yixing merangkul pundak Baekhyun yang bersandar padanya. Dengan lembut tangannya mengelus lengan Baekhyun. Berusaha menenangkan wanita itu seperti apa yang Baekhyun lakukan padanya saat Luhan kritis waktu itu.
Setelah beberapa waktu, pintu ruang ICU terbuka. Semua langsung berdiri menyambut Dokter Go. Wanita itu menghela nafas melihat wajah kerabat yang menunggu hasil pemeriksaan Chanyeol. Tatapannya beralih ke Baekhyun yang menatapnya penuh harap cemas.
"Baekhyun aku ingin bicara denganmu-"
Lalu matanya beralih pada wanita yang memakai jas Dokter sepertinya.
"Dan denganmu Dokter Kim,"
Minseok awalnya bingung. Terdapat firasat aneh setelah melihat wajah serius kolega kerjanya. Go Ahra, Dokter Specialist Kanker yang menangani Chanyeol.
"Tidak bisakkah anda membicarakannya disini? Kami juga perlu tahu keadaan appa kami,"
Semua mata tertuju pada Sehun. Sehun dengan tatapan tajamnya berusaha meyakinkan sekelilingnya bahwa mereka juga perlu tahu keadaan Ayahnya.
"Kami memang anak kecil, tapi kami berhak tahu apa yang kalian sembunyikan karena itu menyangkut Appa kami. Kami tidak akan pernah mengerti jika kami tidak tahu apapun," lanjut Sehun.
"Appa pernah mengatakan padaku bahwa memang ada rahasia Tuhan yang tidak boleh kami ketahui, tapi rahasia appa yang meninggalkan kami bukanlah rahasia Tuhan. Kami pasti bisa memahaminya.
Sekilas Sehun menatap adiknya yang baru saja mendukungnya. Ia teringat kata-kata Luhan pada saat mereka di taman, bahwa rahasia yang ia miliki, ia yakin Sehun akan mengerti. Melihat adiknya yang kuat membuat Sehun semakin kuat. Ia mungkin harus membuka hati dan pikirannya untuk menerima bagaimana keadaan Ayahnya.
Dokter Go menghela nafas berat. Heran kenapa tidak ada satupun orang dewasa yang menasehati anak-anak itu. Tatapannya beraluh pada Baekhyun. Wanita cantik itu mengangguk dengan tatapan yang meyakinkan. Baekhyun percaya pada anak-anaknya dan memang mereka perlu tahu.
"Baiklah, sebelumya aku harap kalian tidak menyesal karena yang ingin aku katakana lebih penting dari sebelumnya-"
Dokter Go menatap kesekeliling. Tatapan mereka masih penuh keyakinan dan itu membuat Dokter Go kembali menghela nafas.
"Aku sudah mengatakannya pada Baekhyun beberapa hari yang lalu bahwa Kanker Otak Chanyeol sudah memasuki Stadium terakhir-"
Baik Sehun ataupun Yeri sama-sama melebarkan matanya. Yeri hampir terjungkal ke belakang kalau Oppanya tidak menahannya. Baekhyun mendengar berita itu sekali lagi hanya menutup matanya. berusaha untuk tetap kuat dan tabah.
"Tentu chemotheraphy tidak akan cukup dan ini saat-saat penting untuk Chanyeol. Ia sedang berada diambang antara hidup dan mati. Aku sudah bicara dengan Chanyeol, tapi namja bodoh it uterus menolak. Ia bilang akan melakukan operasi setelah mendapat kabar dari Dokter Kim Minseok. Aku tidak tahu apa kabar itu, jadi aku ingin menanyakan padanya,"
Semua mata akhirnya menatap Minseok. Minseok bisa melihat wajah Baekhyun yang memerah, Yeri yang sudah mengeluarkan air matanya, dan Sehun yang memasang wajah menyedihkan. Minseok menghela nafas berat. Apa ia harus mengatakannya disini? Tentang permintaan tidak masuk akan Chanyeol?
"Apa harus? Aku tak mengira secepat ini," ucap Kris.
Akhirnya semua mata berbalik kearah Kris dengan tatapantidak percaya. Sebenarnya Kris merasa kasihan melihat wajah Minseok yang tertekan karena tatapan banyak orang.
"O…Oppa tahu? Oppa tidak memberitahuku?" Tanya Baekhyun sambil menutup mulutnya.
"Sebenarnya baik Minseok ataupun aku, kami baru tahu hal ini tadi pagi. Aku tidak bisa mengatakannya karena dia mengancam akan membunuhku jika aku mengatakannya,"
"Ge! Jangan bercanda sekarang!" bentak Yixing.
"Aku bersungguh-sungguh. Lebih baik mungkin kau memberitahu mereka. Istri dan anak-anaknya mungkin perlu tahu," ucap Kris dengan tatapan serius.
"Bukankah kau juga mengancamku tidak akan membiarkan hidupku tenang?"
"Ayolah, Minseok. Kau harus mencermati kata-kataku tadi. Aku tidak akan membuat hidupmu tenang jika kau melakukan prosedur itu, jika kau memberitahukan orang lain, aku tidak akan melakukan apa-apa padamu,"
"PROSEDUR?!"
Suara keras Baekhyun membuat Minseok kembali menatap Baekhyun. Mata Baekhyun membulat dengan ekspresi tidak percaya. Wajahnya memberikan tuntutan pada Minseok untuk menjelaskan semuanya. Minseok melirik Sehun dan Yeri yang ada disana, juga Junmyeon dan Yixing. Ia menghela nafas putus asa.
"Beberapa hari yang lalu, Chanyeol memohon padaku satu hal. Walaupun aku menolaknya mentah-mentah, tapi namja itu tetap bersikeras bahkan memaksa laboratorium-"
"Laboratorium?!" ucap Baekhyun lagi tidak percaya.
"Baek, dengarkan Minseok sampai selesai,"
Baekhyun menatap Kris dan menghela nafasnya. Berusaha mentralkan deru nafasnya karena kepanikan akan kenyataan yang tidak ia ketahui.
"Ia memintaku mengecek kecocokan jantungnya dengan Luhan,"
Bagai tersambar petir yang sekarang terjadi di luar rumah sakit, semua orang membuka mata dan bibirnya lebar-lebar mengetahui permintaan Chanyeol. Dokter Go yang menanganinya pun juga menutup bibir dengan kedua tangannya tak percaya.
"Chanyeol percaya saat melihat hasil Yeri yang cocok dengan Luhan, ia pasti juga cocok karena Yeri memiliki gen dari Chanyeol. Dan pagi ini aku mendapat hasilnya-"
Semua menahan nafas menunggu kelanjutan Minseok. Seakan-akan ini adalah keputusan yang sangat menegangkan dan menjadi kenyataan yang sangat tidak mengenakkan. Baekhyun terus memegangi dadanya setia menatap Minseok.
"Cocok, itulah hasilnya."
Saat itu juga Baekhyun pingsan di tempatnya. Yeri berlari kearah Ibunya yang tiba-tiba jatuh pingsan. Sehun menatap Minseok tidak percaya. Kenyataan yang membuat Sehun ingin berteriak sekeras-kerasnya. Sehun tahu bahwa semua orang disini yakin, termasuk Ibunya, bahwa jika hasil ini sampai ke telinga Chanyeol, maka Chanyeol pasti akan mendonorkannya pada Luhan.
Seketika Sehun mengingat pertanyaan Kris tadi. Jika sudah begini, siapa yang harus ia pilih? Apa yang harus di korbankan? Apa dia hanya akan duduk diam melihat kenyataan?
Kris mengangkat tubuh Baekhyun sesegera mungkin bersama Yeri yang terus memanggil nama Ibunya, sedangkan Sehun masih berdiri disana. Kembali menjadi patung.
"Ini tidak mungkin,"
"Dokter Go menggeleng-gelengkan kepalanya. Matanya masih membulat tak percaya. Orang yang selalu semangat untuk sembuh dan berusaha kembali sehat, kini mempertaruhkan hidupnya demi orang lain.
'pip!pip!pip!'
Minseok mengambil alat komunikasi rumah sakit di sakunya. Minseok segera menekan tombol dan memaangnya ke telinganya. Seketika matanya membulat dan menutup kembali alat itu dan menatap Yixing serta Junmyeon.
"Luhan! Alat bantu detaknya lepas. Jantungnya sudah tidak berdetak lebih dari satu menit,"
Minseok berucap cepat dan berlari cepat menuju ke ruang operasi. Yixing hampir jatuh mendengar berita itu langsung disadarkan oleh Junmyeon. Mereka berdua mengikuti Minseok menuju ruang operasi.
Sehun disana berdiri tanpa melakukan apapun. Apa ini? Kedua orang yang ia sayangi, keduanya sedang berjuang melawan maut. Ia tak bisa bergerak. Pikirannya kacau. Sehun seperti ingin lompat dari gedung ini. Kenyataan ini membuat dadanya sangat sesak dan otaknya sangat sakit. Ini terlalu berat untuknya.
Sehun terkejut ketika tubuhnya ditarik paksa dan di dudukkan kembali ke kursi. Ia mengangkat kepalanya dan menatap Dokter Go.
"Kuharap kau tak menyesali apa yang ingin kauketahui, Park Sehun,"
Ahra duduk disamping sehun dan mengelus lengan Sehun, berusaha menanangkan namja itu yang terlihat masih sangat shock. Sebenarnya Ahra tahu cerita tentang Sehun dan Luhan, sehingga berita tadi pasti sangat berat bagi Sehun.
"Aku sudah merawat Ayahmu selama lebih dari sepuluh tahun Sehun, dan Chanyeol yang kukenal berusaha berjuang hidup demi keluarganya,"
Sehun mengalihkan pandangannya ke Ahra. Lebih dari sepuluh tahun? Itu berarti Ayahnya sudah sakit saat masih bersama mereka. Chanyeol sakit parah dan menyembunyikan hal ini begitu lama?
"Percayalah, Sehun. Alasan Chanyeol meninggalkan kalian karena Chanyeol sangat menyayangi kalian. Ia tidak ingin menjadi beban dan membuat kalian sedih,"
Sehun masih diam memikirkan kemungkinan yang tidak ingin ia ketahui. Ayahnya selalu bekerja keras hampir tidak tidur dan makan teratur agar keluarganya bisa hidup. Sehun meneteskan air matanya. memikirkan bagaimana sakitnya Chanyeol melawan penyakitnya disaat ia harus membanting tulang untuk keluarganya.
"I…Ini salahku. Aku tidak bisa membantu appa. Appa bekerja keras untuk kami dan aku tidak bisa melakukan apapun. Bahkan dengan bodohnya aku membencinya karena satu alasan padahal… aku memiliki beribu-ribu alasan untuk menyayanginya,"
Tangan sehun mengepal di pangkuannya. Menyadari betapa ia sangat egois membenci ayahnya tanpa mengetahui apa yang terjadi. Sehun sangat menyesal karena tidak menjenguk Ayahnya selama ini. Sehun merasa akan sangat menyesal sampai rasanya ingin bunuh diri jika tidak mendapat kesempatan lagi untuk bicara dengan ayahnya.
Ahra menatap Sehun ikut sedih. Wanita itu mengangkat tangannya untuk merangkul Sehun dan mengelus punggungnya. Berusaha menenangkan Sehun.
Mendapat perlakuan seperti itu dari Ahra, membuat Sehun tidak bisa membendung air matanya lagi. Ia terisak keras dengan penuh kesedihan. Siapapun yang melihat pasti tahu, betapa hancurnya namja itu sekarang. Dengan sabar ahra mengelus dan menenangkan Sehun.
Hingga beberapa menit kemudian Sehun mulai tenang. Ahra melihat minuman kaleng di kursi memberikannya pada Sehun. Minuman yang Kris berikan tadi padanya belum sama sekali ia buka.
"Nah, sekarang minumlah dan tenang. Aku akan menjaga Chanyeol disini. Jika kau ingin melihat Luhan, pergilah. Aku yakin kau khawatir padanya,"
Sehun kembali menatap Ahra. Hatinya kembali merasakan dilemma. Ia melihat pintu ruangan dimana Ayahnya berada.
"A…Aku…"
.000.
Flashback
Chanyeol membuka matanya. Ruangan serba putih menyambut pengelihatannya. Chanyeol menutup matanya pelan dan menghela nafasnya kasar.
"Kau sudah bangun, Park?"
Seorang berjas dokter datang mendekati Chanyeol. Yeoja itu mengangkat lengan Chanyeol dan menyuntikkan sesuatu yang membuat Chanyeol meringis sakit. Hanya sebentar dan gadis itu pergi kearah mejanya lagi.
"Kali ini apa?" Tanya Chanyeol.
Ahra menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Chanyeol. Selalu seperti itu. Apa dia tidak paham bagaimana kondisinya.
"Chanyeol, aku bersumpah pada diriku sendiri akan memberitahukannya pada Baekhyun jika kau masih bekerja di tempat bangunan itu. Jika aku tidak mengawasimu hari ini, kau bisa mati disana bodoh!"
Chanyeol kembali menghela nafas dan berusaha bangkit. Ruangan yang sangat ia kenal. Sudah setahun ia rajin mengunjungi tempat ini. Ahra kembali berjalan mendekati Chanyeol dan menarik bangku untuk duduk di sebelah kasur pasien.
"Chanyeol, kita tidak bisa menundanya lagi. Chemotheraphy. Kau harus melakukannya secepat mungkin prosedur nya,"
Ahra dengan lembut membujuk Chanyeol. Chanyeol sempat meringis sebentar karena sakit di kepalanya. Itu membuat Ahra sedikit khawatir, namun hanya sebentar.
"Bukankah prosedur itu tidak hanya dilakukan sekali? Biayanya sangat mahal sedangkan aku tak bisa membayarnya jika aku istirahat total di rumah sakit,"
"Bodoh!"
Chanyeol dan Ahra sama-sama menoleh kearah pintu. Disana berdiri Kim Minseok yang menatap Chanyeol dengan tatapan tajam. Chanyeol kembali menghela nafas dan menatap Ahra yang menggedikkan bahunya. Minseok jaln mendekati Chanyeol.
"Chan! Bukankah sudah kubilang kau tak perlu mengkhawatirkan masalah uang?!" bentak Minseok.
"Minseok benar. Aku sudah bilang berulang kali padamu. Kau ini bukan pasien rumah sakit ini, tapi adikku. Aku tidak akan menerima uang untuk merawat adikku,"
Chanyeol kembali menghela nafas. Kecerobohannya dulu pingsan saat hendak menemui Ahra sehingga Minseok juga tahu penyakitnya. Membuat Chanyeol harus terus mendengar nasehat bahkan ancaman dari Dokter jantung itu.
Penyakit Chanyeol? Setahun lalu Chanyeol bekerja luar biasa keras karena Sehun akan masuk ke sekolah dasar. Namja itu tidak peduli demam atau sakit yang menyerangnya. Ia selalu tersenyum pada keluarganya agar tidak terlalu khawatir.
Beban yang Chanyeol bawa, pekerjaan yang bertahun-tahun ia lakukan tanpa libur, tidur hanya 2-4 jam perhari, makan yang tak teratur, setres mengawali apa yang ia alami. Awalnya hanya sakit kepala biasa sampai akhirnya namja itu sering mimisan. Keputusan berat untuk pergi ke rumah sakit ia ambil.
Sebenarnya Chanyeol enggan ke rumah sakit karena biayanya pasti mahal. Namun ia menyadari jika sakitnya mulai bertambah parah, ia tidak boleh sakit parah karena ia adalah tulang punggung keluarga. Untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan akhirnya Chanyeol pergi ke rumah sakit.
Setelah berbagai pemeriksaan, Chanyeol bertemu Ahra. Sunbaenim masa SMA nya. Ahra sangat dekat dengan Baekhyun karena mereka berada dalam satu klub dan hal itu membuat Chanyeol juga dekat dengan Ahra. Awalnya Chanyeol menyambut hangat Ahra dan mengucapkan selamat karena Ahra sudah menjadi dokter, tapi melihat wajah Ahra yang sedih membuatnya bertanya-tanya. Setelah Ahra mengenalkan diri bahwa ia adalah Dokter Spesialis Kanker, pada saat itulah Chanyeol merasa dunianya runtuh. Ia…tahu apa hasil pemeriksaan itu.
Sejak hari itu tanpa sepengetahuan siapapun, Ahra selalu memaksa Chanyeol untuk melakukan prosedur Chemotheraphy, namun namja itu hanya bolak-balik rumah sakit untuk obat dan pemeriksaan sederhana. Alasannya sederhana, ia tak memiliki uang untuk itu. Sehun harus masuk sekolah dasar tahun ini dan Chanyeol merencanakan sekolah yang bagus untuk Sehun.
Sampai akhirnya Minseok juga tahu dan memarahi Chanyeol. Namja itu berlulut pada Minseok untuk merahasiakan hal ini. Walau dengan berat hati, Minseok memenuhi permintaannya itu.
"Noona-deul. Aku tidak bisa, jika seandainya hanya bergantung pada kalian masalah pengobatan, mungkin suatu hari aku bisa membayarnya ketika sehat, tapi keluargaku? Aku harus memastikan mereka makan dan tumbuh dengan sehat,"
MInseok dan Ahra mendesah kesal. Lagi-lagi alasan ini. Chanyeol selalu memberikan alasan tentang keluarganya. Walaupun Minseok bilang ia akan membantu Chanyeol, Chanyeol menolak. Itu akan sangat menyusahkan Minseok.
"Lalu mau sampai kapan kau seperti ini? Merahasiakan penyakitmu dari keluargamu," Minseok mulai marah lagi.
"Aku yakin, aku bisa bertahan. Aku akan bertahan sampai sumpahku untuk mengantar anak-anakku pada cinta yang mereka pilih terlaksana. Aku sendiri yang akan melihat mereka bahagia tanpa kehancuran dari orang tua itu,"
"Tapi kau! Dengan keadaanmu seperti ini kau pikir berapa tahu kau bisa bertahan? Sebelum kau melihat Sehun masuk SMP mungkin kau sudah sekarat!"
Chanyeol menutup matanya mendengar pernyataan Chanyeol. Ia… mengetahui kenyataan itu. Ia sudah memikirkannya, bahwa mungkin umurnya tidak lama lagi. Tubuhnya sudah tidak bisa diajak untuk bekerja sama lagi. Namja itu menghela nafasnya.
"Sebenarnya aku punya rencana yang sejak kemarin aku pikirkan, tapi itu membuatku harus pergi dari keluargaku-"
Chanyeol menatap Minseok dan Ahra. Kedua dokter spesialis itu menatap Chanyeol dengan bingung.
"Aku berpikir untuk kembali ke rumah Appa-ku,"
Kalimat itu membuat semuanya terkejut. Bahkan Ahra sempat mendengar bagaimana Chanyeol yang penuh kekayaan di SMA rela kehilangan segala demi Baekhyun. Chanyeol berjuang sekuat tenaga dengan otak cerdasnya membiayai sekolah dan hidupnya. Beasiswa dan menjadi pelayan toko.
"Apa kau gila?!" Tanya Ahra.
"Aku memang senang kau akan berbaikan dengan Ayahmu, tapi bagaimana jika beliau tidak bisa menerima Baekhyun dan anak-anak kalian?"
Raut wajah Minseok sangat khawatir. Chanyeol tersenyum kearahnya. Ia semakin memantapkan diri bahwa ini adalah pilihan terakhir dan terbaik yang ia miliki.
"Tentu aku akan meninggalkan mereka sementara, mungkin Appa akan menyuruhku bercerai dengan Baekhyun-"
"Tidak! Aku menolak ini!" ucap Minseok.
"Dengarkan aku. Aku akan baik-baik saja. Dengan kembali pada Appa-ku aku memiliki uang. Aku akan melakukan prosedur Chemotheraphy dan melakukan apapun supaya aku sembuh. Aku juga bisa menghidupi keluarga kecilku dengan uang itu. Setelah aku sembuh, aku akan kembali pada keluarga kecilku,"
Minseok and Ahra terlihat berpikir. Mungkin benar apa yang dipikirkan Chanyeol. Ahra sedikit terkejut dengan kerja otak Chanyeol yang bekerja dengan pintar walaupun diduduki oleh kanker.
"Bagaimana jika Baekhyun tidak mengizinkannya?" Tanya Minseok.
"Tentu Baekhyun tidak akan tahu. Kalian harus berjanji untuk merahasiakan ini dari siapapun,"
"Mereka bisa membencimu, Chan! Mereka akan mengira kau tidak bertanggungjawab,"
Chanyeol sudah memikirkan kalimat Ahra itu. Tentu mereka pasti marah dan kecewa jika Chanyeol meninggalkan mereka, tapi jika Chanyeol mengatakan sebenarnya, mereka tidak akan membiarkan Chanyeol dan rencananya.
"Saat aku sembuh dan kembali pada mereka, aku akan menjelaskan semunya. Mereka tidak perlu bersedih lagi saat mengetahui kenyataan itu karena aku sudah sembuh. Ini bukan rahasia Tuhan, jadi aku yakin mereka akan mengerti,"
Ahra dan Minseok sama-sama tidak tahu apa yang harus dikatakan lagi. Mereka yakin Chanyeol sudah memikirkan segalanya dengan matang. Yang bisa mereka lakukan hanya mendukung keputusan Chanyeol sekarang.
Chanyeol tersenyum puas melihat gelagat Ahra dan Minseok yang setuju. Chanyeol tersenyum dan menundukkan wajahnya.
"Aku… benar-benar ingin hidup,"
Flashback end
Chanyeol membuka matanya. Langit rumah sakit seperti yang ia lihat selama beberapa hari. Chanyeol berusaha bangkit dan itu membuat Baekhyun yang berada di sebelahnya terperanjat kaget. Baekhyun segera membantu Chanyeol duduk.
"Bagaimana perasaanmu?"
Senyum tulus Baekhyun membuat Chanyeol tersenyum juga. Chanyeol meringis ketika kepalanya sakit tiba-tiba. Jelas Baekhyun sangat kaget dan segera meraih tombol pemanggil perawat, tapi Chanyeol mencegahnya karena ini hanya sakit sebentar.
Chanyeol merasakan sesuatu yang aneh pada kepalanya. Melihat itu Baekhyun meraih tangan Chanyeol dan menggenggamnya.
"Apa sudah terlalu parah? Mereka tak bisa menyelamatkan rambutku lagi? Sependek apapun?"
Baekhyun menggigit bibirnya dan mengangguk pelan. Chanyeol kembali meraba rambutnya yang botak. Bagus! Dengan ini semua orang akan mengatainya tapi yang membuat Chanyeol sedih adalah anak-anak mereka yang pintar akan tahu hal yang sebenarnya.
"Apa aku sudah tidak tampan lagi? Apa cintamu padaku berkurang?" Tanya Chanyeol.
"Kau masih sangat tampan. Dan cintaku padamu tak akan pernah berkurang sekecil apapun sampai kapanpun,"
Baekhyun menekankan setiap akhir kata membuat Chanyeol tersenyum bangga. Bangga bahwa ia berjuang atas sesuatu yang juga memperjuangkannya. Tangannya beralih mengelus rambut Baekhyun dengan penuh kasih sayang.
"Appa!"
Chanyeol terkesikap mendengar suara Yeri dan sangat terkejut melihat Yeri berlari kearahnya sambil menangis. Dengan cepat Yeri memeluk Ayahnya dengan sangat erat. Chanyeol bisa mendengar isakan Yeri. Disini ia tahu, bahwa anak-anaknya sudah tahu.
Chanyeol melirik ke sebelah Baekhyun. Sehun berdiri disana dengan wajah datarnya. Menambah keyakinan Chanyeol bahwa anak-anaknya sudah tahu penyakitnya.
Tangannya terus berusaha menenangkan Yeri dengan bibir tersenyum kearah Sehun. Membuat Sehun muak melihatnya. Ayahnya yang selalu tersenyum menyembunyikan penyakit yang sewaktu-waktu bisa merenggut nyawanya.
"Yeri, apakah Oppa bisa bicara dengan Appa berdua?"
Baekhyun dan Chanyeol menatap Sehun tak mengerti. Sehun hanya memasang wajah yang sulit diartikan. Wajah datar yang benar-benar tak bisa dimengerti apa maksudnya. Chanyeol sedikit merasa tersedak ketika ia merasa Yeri memeluknya sangat erat sampai akhirnya gadis itu melepaskan pelukannya. Yeri menyentuh pipi Chanyeol dengan tangan kecilnya.
"Appa bisa bicara dengan Sehun Oppa dulu, lalu bicara dengan Yeri. Aku yakin Appa memiliki waktu yang sangat lama untuk berbicara dan berkumpul bersama kami lagi,"
Yeri mengusap pipi Chanyeol. Bisa Chanyeol lihat di pipi yang dulu sering ia cubit itu masih ada sisa-sisa air mata, namun bibirnya tersenyum. Chanyeol membalas Senyum Yeri. Yeri menarik eommanya keluar dari kamar. Menyisakan Sehun dan Chanyeol berdua disana.
Setelah pintu tertutup Chanyeol mengalihkan pandangannya pada Sehun. Ia tersenyum dan merentangkan tangannya. Sehun terdiam namun setelah itu ia mendekati Chanyeol. Merasakan pelukan Ayahnya yang sudah sangat lama tidak ia rasakan. Sekali lagi Chanyeol bisa merasakan pundaknya basah, Sehun menangis.
"Maafkan appa, Sehun. Maafkan appa yang meninggalkan kalian tanpa mengatakan apapun. Maafkan appa yang sudah mengecewakan kalian. Maafkan appa yang membuatmu harus memikul beban sebagai namja,"
Sehun menggeleng cepat dan tentu itu di rasakan oleh Chanyeol. Chanyeol terus mengusap punggung Sehun berusaha menenangkan putranya.
"Aku…hiks… aku yang harus minta maaf. Aku…hiks…aku egois dan hanya memikirkan diriku sendiri,"
Chanyeol mendorong Sehun untuk melepas pelukannya. Chanyeol bisa melihat bagaimana wajah Sehun yang penuh dengan air mata. Dengan segera Chanyeol menghapus air mata dari wajah tampan keturunannya.
"Aissh, kau ini namja Sehun. Bagaimana namja menangis begini. Kau akan malu jika Luhan melihatmu sekarang,"
Sehun terdiam. Topic tentang Luhan. Segera setelah Ibunya sadar, Kris meminta semua untuk merahasiakan kecocokan jantungnya dengan Luhan dan Sehun menyetujui itu. Ia terus akan berhati-hati jangan sampai keceplosan.
"Aku selalu… terlihat tampan didepannya," jawab Sehun.
"Berterimakasihlah pada Appa untuk hal itu,"
Sehun dan Chanyeol terkekeh pelan. Mereka berdua merindukan saling bicara satu sama lain. Sehun mendudukkan dirinya di kursi yang dipakai Baekhyun tadi. Menatap Ayahnya yang terus tersenyum padanya. Chanyeol sangat senang Sehun tidak marah lagi padanya.
Sehun menatap Chanyeol, sebenarnya ia tidak ingin merusak suasana haru diantara mereka, namun ada yang harus ia tanyakan.
"Kenapa appa meninggalkan kami? apa karena penyakit ini?"
Chanyeol sedikit terkejut dengan pertanyaan Sehun. Ia menatap Sehun dan kembali tersenyum. Wajah Sehun tidak datar dan dingin lagi, tapi polos. Seakan-akan pertanyaan ini dilontarkan oleh Sehun kecil. Chanyeol mengangkat kepalanya mengelus surai lembut Sehun.
"Begitulah,"
"Kami bisa menjaga dan merawat appa, kenapa appa meninggalkan kami dan merahasiakannya dari kami?"
Sehun belum puas dengan pertanyaan Chanyeol. Chanyeol terkekeh sebentar mendengar suara Sehun yang menuntut.
"Appa tidak bisa merepotkan kalian dan membuat kalian sedih setiap hari. Appa berpikir akan memanfaatkan uang kakek untuk sembuh dan kembali pada kalian lagi. Appa selalu berjuang keras untuk hidup. Appa memiliki tujuan hidup yang membuat Appa harus terus bertahan,"
"Apa itu?" Tanya Sehun.
"Melihatmu dan Yeri bahagia karena memilih cinta kalian,"
Sehun terdiam menatap Chanyeol yang terus tersenyum. Tangan Chanyeol kembali mengelus rambut Sehun.
"Appa dan eomma punya kisah cinta yang sangat sulit, tapi karena kami percaya pada cinta, kami bahagia. Appa ingin memastikan kalian tidak mengalami kisah cinta yang menyakitkan seperti appa dan bahagia dengan cinta yang kalian pilih,"
Sehun membenci dirinya yang sempat membenci Ayahnya. Selama ini Ayahnya berjuang hidup melawan penyakitnya hanya untuk melihat Sehun dan Yeri bahagia. Rasanya Sehun tidak ingin menemukan cintanya agar Ayahnya terus berjuang hidup lebih lama.
"Aku sangat menyayangi appa,"
"Aku lebih sayang pada appa!"
Suara nyaring itu membuat mereka berbalik kearah pintu. Yeri berlari kecil mendekati Chanyeol dan memeluknya erat. Baekhyun membantu Chanyeol melepas pelukan Yeri yang dirasa menyakitkan bagi Chanyeol.
"Kita akan bahagia lagi! Yeri, Appa, eomma, Oppa."
Chanyeol tersenyum mendengar suara putrinya. Tangannya bergerak meraih pinggang itu dan menggelitiknya. Yeri memberontak sambil tertawa. Ruangan itu penuh tawa seperti lebih dari sepuluh tahun lalu di rumah mereka yang berharga. Mereka akan memulai tawanya lagi bersama di rumah itu lagi.
.000.
Minseok terus melakukan prosedur operasi yang sulit. Terdapat 3 dokter yang berada disana. Setelah sigap melakukan pertolongan awal dan efek obat rahasia itu, jantung Luhan bisa berdetak walaupun lemah. Operasi kembali dilakukan untuk memasang alat bantu itu kembali.
Berbeda dengan operasi sebelumnya, operasi ini sangat sulit karena pembuluh darah Luhan sudah dijahit beberapa kali sehingga tidak kuat lagi. Mereka harus mencari tempat yang pas untuk membantu Luhan berdetak lagi jantungnya.
Segala kepanikan membuat orang dalam ruang operasi tidak melihat mata Luhan yang terbuka. Luhan kembali melihat sinar dan menyadari dimana ia berada. Terbangun dalam ruang operasi. Luhan tak bisa merasakan apapun karena biusnya. Jika mereka melihat mata Luhan yang terbuka, pasti mereka akan sangat terkejut. Bagaimana bisa pasien yang sedang menjalani operasi besar dan dibius total membuka matanya.
Luhan berpikir, bahwa Tuhan sedang memberinya kesempatan. Kesempatan untuk melihat dunia terakhir kalinya. Luhan merasa tubuhnya sudah tidak sanggup bertahan lebih lama. Ia menangis menyadari bahwa inilah akhir perjuangannya. Luhan bisa mendengar mesin yang menampilkan keadaan detak jantung Luhan dan itu terdengar sangat lemah.
"jika ini hari terakhirku, maka aku akan sangat berterima kasih atas semua kesempatan yang diberikan kepadaku,"
Luhan memikirkan dirinya saat masih kecil hanya diam di rumah sakit. Ia sangat bersyukur datang ke Korea dan tinggal di rumah yang sangat bagus. Luhan sangat senang bisa bercanda dengan teman-teman, dan yang paling membuatnya bahagia adalah pertemuannya dengan Sehun.
"Sehun aku sudah berusaha, kau pasti bisa merasakannya, kan? Aku mencintaimu,"
Tanpa ada yang tahu, air mata Luhan terjatuh dan gadis itu menutup matanya.
.
.
.
END
.
.
.
.
.
.
.
.
Bercanda
.
TBC
Pesan Krisgi :
Krisgi hanya bercanda ne. Masih TBC dan Krisgi akan update Chapter berikutnya secepatnya. Untuk semua yang mendoakan mereka happy ending, Krisgi akan berusaha mewujudkannya, tapi untuk yang berdoa agar semua hidup bahagia, Krisgi tidak bisa janji. Harus ada yang dikorbankan.
Di Chapter depan, Chanyeol akan mengutarakan keputusannya yang tentunya….Rahasia. Yang pasti Chanpter depan mungkin tak ada hal yang bisa bikin reader-nim tersenyum.
Oiya, Sebelumnya Krisgi mau minta maaf, rencana Krisgi mau update senin, tapi Calon Ibu Mertua (ehem) minta diantar mencari baju untuk kelulusan Calon Adik Ipar (hihihi) hari selasa kemarin, dan selasanya Krisgi harus menemani karena Calon Ayah mertua sedang tidak di Korea. Tapi Krisgi senang karena bisa flashback kehidupan SMA Krisgi. Sambil menunggu para fans bubar Krisgi ngobrol-ngobrol sama guru lama, kangenyaa. Oiya, Kalian tahu Umji Yeojachingu? Kemarin Krisgi dikenalin sama Adik Ipar, dia imuuuutttt banget, pipinya hampir kelepasan Krisgi cubit! Sayang dia masuk saat Krisgi lulus, kalau tidak, mungkin selama di sekolah Krisgi gigit terus dia kekeke. Maaf Krisgi malah ngelantur kemana-mana.
Krisgi bersyukur karena banyak Reader-nim yang mendukung dan menantikan karya Krisgi. Krisgi sangat senang respon kalian semua. Mohon Review, Vote, dan Comment nya ya.
Sampai jumpa di Chapter depan Chapter 15 : House
Terima Kasih Banyak
