Chapter 15 LAST CHAPTER : THE HOUSE

Cerita ini punya Krisgi ya Chingu~ No Copast or Plagiat yang diganti nama kecuali dengan izin Krisgi secara langsung. Kalau ada yang repost tanpa izin bantu lapor ya Chingu

Cast:

Oh Sehun as Park Sehun

Xi Luhan as Kim Luhan

Byun Baekhyun as Byun Baekhyun

Paek Chanyeol as Park Chanyeol

Kim Yerim as Park Yeri

And others (Find Yourself)

Main Pairing:

Hunhan

Chanbaek

Genre: Family.Romance.Drama.Hurt/Comfort.School life.Gs

Rating:

T

Sinopsis:

"Kami pergi dari rumah itu karena kau meninggalkan kami, tapi aku berjanji. Aku janji akan mendapatkan rumah itu kembali dan menjaga apa yang sudah kau tinggal. Dan kumohon tak usah kembali"

-Park Sehun-

"Aku memang terlihat idiot tertawa dan bertingkah sok imut seperti katamu, tapi aku melakukan ini hanya untuk Ibuku jadi jangan salah paham"

-Park Yeri-

"Kau terlihat bahagia saat di cafe, apa tidak bisa tertawa seperti itu disini?"

-Kim Luhan-

Happy Reading

Seorang namja berdiri di depan jendela lantai tertinggi di gedung itu. Tangannya dengan lihai melepas kancing dipergelangan tangannya. Merenggangkan seluruh tubuhnya dari rasa penat yang menganggunya ini sudah hari kelima namja itu tinggal di kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya.

'Park Sajjangnim.'

Begitulah papan yang tertulis di meja itu. Tidak hanya papan nama, meja itu penuh dengan figura yang tertata dengan baik walaupun terhalang oleh banyak berkas. Namja itu menghela nafas panjang. Apapun yang ada dipikirannya sangat berat.

Sebenarnya bukan karena pekerjaan yang menghalangi namja itu pulang ke rumah, tapi 'rumah' adalah tempat yang mengerikan untuknya. Penuh dengan hal yang membuatnya sesak hanya dengan selangkah masuk ke dalam pintunya. Banyak penyesalan dan kesalahan yang diambil.

"Hei, Tuan Park!"

Seorang namja tinggi tanpa permisi langsung masuk ke ruangan itu. Tak mengherankan mengingat itu selalu yang dilakukan.

"Apa yang kau lakukan disini Tuan Wu? Aku sedang sibuk."

Kris hanya menggedikkan pundaknya dan berjalan semakin masuk. Mengistirahatkan tubuhnya di sofa. Meletakkan kopi yang dibawanya ke meja dan juga meletakkan berkas yang membuat namja hanya menatap diam.

"Aku tahu kau sangat sibuk, Tuan Park. Tapi maaf saja aku harus menambah pekerjaanmu satu lagi untuk kerjasama kita."

"Tak masalah. Aku masih punya waktu untuk menyelesaikannya."

"Ya aku tahu karena kau terbiasa pulang 2 bulan sekali dari kantor ini padahal rumahmu hanya berjarak 1 jam darisini."

Namja itu hanya membiarkan Kris berbicara sesukanya dan mengabaikan namja itu. Tatapannya kembali pada pemandangan luar jendela.

"Aku sangat mengenalnya, dan aku yakin dia akan kecewa melihatmu seperti ini."

"Siapa yang maksud?"

Kris meminum kopinya. Menyandarkan kepalanya ke punggung sofa. Selalu seperti ini setiap kali ia ingin menjemput namja itu pulang.

"Jangan mengulangi kesalahan yang sama. Kanker otak itu juga karena pekerjaaan yang melelahkan seperti ini."

"Ini tidak melelahkan," jawab namja itu datar.

"Memang Park Chanyeol pernah terlihat lelah atau sedih ketika bekerja sangat keras dulu? Bukannya dia selalu tersenyum dan selalu mengatakan bahwa itu tidak melelahkan?"

Kris tahu namja itu sedang penutup matanya, menetralkan hati dan pikirannya. Membicarakan kehidupan di masa lalu adalah hal yang paling dihindari namja itu. Alasan utama namja itu enggan pulang ke rumah.

"Luhan juga pasti merindukanmu, Tuan Park. Pasti berat baginya jika melihatmu bersikap seperti ini."

Kris bisa melihat Sehun terdiam. Tak ada reaksi dari namja itu.

'dia sudah meninggal'

Sehun menutup matanya lagi. Kenangan yang membuatnya sangat sakit dan mengharuskannya kehilangan orang yang ia sayangi.

"Aku tahu. Aku tak boleh mengecewakannya lagi."

Sehun mengalihkan pandangannya dari jendela menatap Kris. Kris hanya bisa tersenyum tipis menanggapi omongan Sehun.

"Sudahlah, tak usah berlebihan. Pergilah ke club atau kemanapun. Kau masih muda dan butuh bersenang-senang! Kau bisa sakit menghirup udara kantor terus."

"Seperti Ayah yang sakit karena kebanyakan bekerja?" Sehun menatap remeh Kris.

Kris menghela nafas panjang. Namja itu berdiri melemparlkan berkas di meja.

"Aku sengaja kesini sendiri karena Ibumu memintaku melihatmu. Sudah 10 tahun dan kau malah semakin seperti batu."

Kris meraih jasnya dan segera memakainya. Namja itu membenarkan penampilannya dan berjalan pergi.

"Pergilah berkencan itu akan sedikit menghiburmu."

"Kau tahu kekasihku tidak bisa kuajak berkencan."

Kris berbalik memasang wajah sebal. Kembali menghela nafas.

"Cukup. Ini sudah 10 tahun, jangan memasang wajah seperti itu. Aku yakin Luhan akan membencinya jika ia tahu."

Sebelum mendengar kalimat menyebalkan dari Sehun lagi, Kris segera mempercepat langkah kakinya, namun segera berhenti lagi ketika ia teringat sesuatu.

"Segera pulanglah ada kejutan yang akan membuatmu bahagia di rumah."

Sehun membuka bibirnya...

"tentu saja bukan kebangkitan manusia seperti yang kau pikirkan."

Sehun menutup mulutnya dan tertawa ringan. Kris kembali berbalik dan segera menghilang dibalik pintu.

Kepergian Kris membuat Sehun bernafas sedikit lega. Walaupun ia masih menganggap Kris menyebalkan, tapi hanya dengan berbicara dengan Kris ia bisa merasa bebannya lebih terangkat.

Sehun menatap dua bingkai foto di mejanya. Foto keluarganya saat ia masih kecil dan bersama Ayahnya. Diangkatnya foto itu dengan senyum gentir di wajahnya.

"Appa..."

Sehun mengelus wajah Ayahnya dan menatap langit. Air mata... tidak. Sehun sudah lupa bagaimana rasanya menangis. Bagaimana kesedihan ketika ia kehilangan orang yang sangat ia cintai.

Sehun berbalik dan menatap layar komputernya. Wajah seorang gadis yang tesenyum dengan dress putih dengan rambutnya yang tertiup angin. Wajah yang sangat terlihat cantik dan tidak pernah berhenti membuat jantung Sehun berdebar.

Sehun meletakkan bingkai fotonya dan menatap kearah layar. Masih dengan berdiri di belakang kursinya ia tersenyum kecil.

"Sayang?"

"Apa kau marah jika aku lebih merindukan Appa-ku dari pada kau? Percayalah rasa cintaku padamu sangat besar."

Sehun kembali tersenyum. Butuh beberapa menit hingga namja itu puas melihat wajah Luhan di layar komputernya. Sehun kembali menatap keluar jendelanya dan kembali menatap kota Seoul yang terlihat kecil dari arah pandangnya. Menutup mata dan menghela nafasnya.

Flashback

Sehun sangat bahagia dengan berkumpulnya keluarganya dengan tawa. Chanyeol terus menggoda Yeri dan mereka terus berbincang. Namun tawa itu langsung lenyap oleh kalimat Tanya Chanyeol.

"Dimana Luhan? Bukankah ini saatnya kau memperkenalkan pacarmu pada Appa?"

Bagai tersambar petir, Sehun baru saja mengingatnya. Dimana saat penawaran Kris tadi, ia memilih untuk menunggu Chanyeol sampai Ayahnya sadar dan melupakan Luhan. Chanyeol yang peka menyadari bagaimana keadaan putranya yang tidak baik-baik saja. Namja itu langsung meraih tangan Sehun.

"Appa sudah tidak apa-apa. Pergilah dan temui dia. Dia membutuhkanmu."

Sehun menatap wajah Ayahnya. Ia tidak tega melihat wajah pucat itu tersenyum lemah. Rasa penyesalan terus menghantuinya.

"Appa akan baik-baik saja."

Dengan ragu Sehun akhirnya berjalan menjauh keluar ruangan. Baru saja ia hendak membuka pintu, suara Chanyeol menghentikannya.

"Sehun, berjanjilah pada Appa untuk menemukan kebahagiaanmu. Berbahagialah meski itu sulit."

Sehun terdiam menatap Ayahnya. Hatinya menjadi semakin berat untuk meninggalkan ruangan ini.

"Pergilah! Dan kau harus menepati janjimu untuk mengenalkan Luhan pada Appa!"

Sehun tersenyum tipis dan mengangguk. Ia meninggalkan ruangan itu meninggalkan tiga orang akhirnya terdiam.

"Yeri-ah... bisakah kau mengambilkan Appa kertas dan pena?"

Flashback End

"Tuan Park, maafkan saya yang lancing masuk kedalam. Saya sudah mengetok pintu dan saya datang untuk mengambil tugas yang harus saya kerjakan,"

Sehun hanya diam namun ia member gesture untuk mempersilahkan orang itu mengambil salah satu berkas di mejanya. Wanita itu dengan cepat mengambil berkas dan berbalik, sadar bahwa atasannya tidak suka ada orang terlalu lama diruangannya.

"Sekretaris Shin?"

Wanita itu terhenti ketika hendak membuka pintu dan berbalik. Sehun masih memegang bingkai ditangannya dan tanpa melihat wanita itu,

"aku akan pulang ke rumah."

Flashback

Sehun semakin gila. Ia merasa dunia ini sedang mempermainkannya.

"Ini benar-benar bukan kejadian yang bisa dijelaskan oleh medis. Kenyataan bahwa sebelumnya ia masih bernafas saat jantungnya sudah tak berdetak membuktikan betapa dia memang ingin hidup,"

Sehun ingin melesak masuk ke dalam. Ia berteriak dari luar ruangan memanggil nama gadis yang sudah ditunggunya.

"LUHAN! Kau berjanji padaku!"

Sehun terus berusaha memberontak, tiga perawat yang menahan Sehun sampai kewalahan menangani kekuatan dari namja itu.

"Kau bilang padaku untuk menunggumu! Kau bilang kau akan berusaha! KAU BILANG AKAN KEMBALI!"

'Bugh!'

Sehun tersungkur. Namja itu bisa merasakan darah yang mengalir dari bibirnya. Tanpa mendongak keatas, ia tahu siapa pelakunya tapi ia memilih diam. Kenapa? Karena tanpa sadar air matanya mulai keluar. Terlihat sangat menyedihkan.

"Luhan..."

"Mereka akan mengizinkanmu masuk jika kau bisa mengontrol emosimu. Sekarang berdiri dan ikut aku."

Sehun menghela nafasnya panjang dan menyeka air matanya. Kris membuka pintu kamar Luhan perlahan dan mendorong Sehun kedalam.

"Percayalah padanya. Jika kalian percaya dengan keajaiban, maka kalian harus percaya dengan kekuatan cinta."

Kris perlahan menutup pintu kamar itu. Membiarkan Sehun hanya berdua dengan Luhan. Dengan perasaan yang sangat hancur, Sehun harus bisa menerima kenyataan ketika melihat gadis itu terbaring lemah diatas kasur. Seluruh tubuh gadis itu terlihat sangat pucat seakan-akan sudah tidak ada lagi darah yang mengalir disana.

Perlahan Sehun meraih tangan Luhan, sangat dingin. Namja itu ingin mengatakan banyak hal pada Luhan, tapi bibirnya seakan dikunci.

"Luhan... apa kau kedinginan?"

Suara bergetar Sehun terdengar sangat menyedihkan dan sarat akan keputusasaan. Namja itu menggenggam erat satu tangan Luhan dan menggosoknya untuk menghangatkan tangan gadis itu. Sesekali namja itu mencium tangan dingin Luhan yang sudah sangat pucat.

"Kini aku tahu kenapa Luhan sangat berat untuk pergi."

Sehun menoleh sebentar. Dokter Minseok masuk kesana dan berdiri dengan menyandarkan punggungnya ke pintu.

"kau lihat semua alat itu?

Minseok tersenyum miris menyadari banyak sekali alat yang ia pasang pada Luhan. Alat pendeteksi jantungnya terlihat sangat lemah.

"Bisa jadi mereka bergerak bukan karena Luhan masih ada disini, tapi karena semua alat ini masih terpasang di tubuhnya."

Sehun langsung menggenggam tangan Luhan lebih erat. Ia tahu dan sangat sadar atas kenyataan itu. Kenyataan bahwa kehidupan Luhan mungkin sudah hilang dan hanya mesin ini yang membuat gadis itu seolah-olah masih hidup.

"Aku sudah bicara dengan orangtua Luhan. Kita tahu Luhan pasti sudah berusaha sangat keras dan sekarang ia pasti sangaaat lelah."

Sehun bisa merasakan airmatanya kembali mengalir dalam diam dan itu terlihat lebih menyedihkan daripada seseorang mengangis dengan keras. Menagis dalam diam artinya kau menahan emosi yang sangat besar dan kesedihan yang sangat mendalam.

"Orangtua Luhan sudah merelakan Luhan dan kami akan melepas semua alat yang terpasang pada Luhan. Kita akan membuat Luhan bisa istirahat dengan tenang."

Sehun terdiam dengan airmata yang tak bisa berhenti mengalir. Satu tangannya ia pindah untuk mengelus rambut Luhan. Memang benar, wajah Luhan terlihat sangat kelelahan. Sehun mengamati wajah Luhan dengan amat lekat.

"Kau sangat cantik, sangat indah."

Sehun memaksakan senyumnya menatap Luhan yang terus diam tanpa bergerak. Suara Sehun bergetar namun namja itu berusaha untuk tidak mengeluarkan isakannya.

"Aku bisa melihatnya, kau sudah berusaha sangat keras."

Sehun memindahkan tangannya lagi sehingga kini kedua telapak tangannya menggenggam tangan kecil Luhan.

"Orangtuamu sudah melepasmu sekarang dan sekarang aku diminta untuk melepasmu. Apa jika aku melepasmu kau akan benar-benar pergi? Jika kau pergi apakah kau akan bahagia?"

Sehun menggenggamnya erat dan sangat erat. Sangat erat seakan-akan jika ia melepas tangan itu, maka ia akan jatuh ke jurang yang sangat gelap dan dalam.

"Aku ingin melepasmu. Aku tidak suka melihatmu menderita seperti ini... Tidak..."

Sehun mencium tangan Luhan di genggamannya. Namja itu menutup matanya dan membiarkan air matanya membasahi tangan Luhan.

"Kumohon jangan pergi."

"Baekhyun..."

Chanyeol tersenyum lembut pada Baekhyun. Tangannya berusaha menggenggam tangan Baekhyun. Chanyeol tersenyum lega mengetahui bahwa Baekhyun memakai cincin pernikahan mereka. Baekhyun ikut menangkup tangan Chanyeol. Berusaha tersenyum.

"Aku ingin mengatakan sesuatu, tapi ini menggelikan."

Chanyeol tertawa lirih membuat Baekhyun bisa menyunggingkan senyumnya. Baekhyun mengelus tangan Chanyeol dan penuh kasih sayang.

"Baekhyun..."

"heum?"

Chanyeol terdiam sebentar dan menutup matanya. wajahnya terlihat ia sedang menahan sakit, tapi Baekhyun berusaha tenang. Berusaha untuk tetap tersenyum. Setelah beberapa saat Chanyeol kembali membuka matanya dan tersenyum. Sambil menggenggam tangan Baekhyun.

"Sedetikpun aku tidak pernah menyesal dengan apapun yang kita lalui. Keluarga yang kita bangun dan cinta yang kita miliki. Aku bahkan tidak menyesal meninggalkanmu dengan anak-anak dulu."

Chanyeol sedikit berdeham. Baekhyun tahu, Chanyeol sudah sulit untuk berbicara. Tubuhnya pasti sudah mati rasa karena sakit yang tidak bisa Baekhyun bayangkan.

"Kau satu-satunya wanita yang selalu membuatku takjub dan bangga. Aku senang melihatmu bertambah kuat dan mampu berjuang demi anak-anak kita. Dan..."

Chanyeol berusaha mengangkat tangannya mengelus rambut Baekhyun dengan penuh kasih sayang. Wajahnya tersenyum sangat lebar. Baekhyun membalas senyum Chanyeol masih dalam keterdiaman, karena ia tahu. Jika ia membuka mulutnya, maka sudah pasti itu isakan.

"Kuharap kau bisa melakukan hal sama kali ini."

Baekhyun menutup matanya. Tentu ia tahu apa yang dimaksud Chanyeol. Bahwa mungkin kali ini ia akan benar-benar sendirian. Chanyeol benar-benar akan meninggalkannya. Bahwa Chanyeol tidak akan kembali seperti apa yang terjadi dulu.

"Tentu, aku bisa melakukannya. Aku akan membuatmu bangga memiliki istri sepertiku."

Baekhyun tidak bisa berpikir bahwa ia akan sendirian. Anak-anaknya sudah besar dan ia berjanji untuk melihat anak-anaknya bahagia. Ia tidak akan menyerah. Chanyeol tersenyum dan kembali berusaha mengelus rambut Baekhyun.

"Ah... Baekhyun, apa aku bisa meminta sesuatu?"

"Katakan."

"Aku sangat lelah dan ingin tidur. Jadi aku ingin kau mengelus rambutku dan bernyanyi untukku,"

Baekhyun terkekeh pelan melihat wajah Chanyeol yang menampilkan ekspresi anak kecil yang menggemaskan.

"Kau manja sekali."

Sementara satu tangan mereka saling menggenggam, tangan kiri Baekhyun mendarat di kepala Chanyeol dan mulai mengelusnya lembut. Baekhyun mulai bernyanyi dan suaranya sangat lembut. Chanyeol tersenyum mendengar suara indah Baekhyun dan membuatnya sangat tenang untuk tidur.

Baeekhyun merasakan sesuatu dan membuat suaranya mulai bergetar. Chanyeol sudah tidak menggenggam tangannya, tapi Baekhyun terus menggenggamnya erat hingga lagunya berakhir. Baekhyun bangkit dan mencium kening Chanyeol.

"Selamat tidur, sayang. Kini kuharap kau bisa beristirahat dengan tenang tanpa kesakitan lagi."

"Aku mencintaimu."

"KALIAN PASTI BERCANDA!!"

Sehun terus memberontak memaksa masuk ke ruangan itu. Wajahnya memerah karena amarah. Ia yakin semua orang sedang bercanda dengannya sekarang.

Ia baru saja ke kamar mandi menenangkan dirinya namun dengan seenaknya mereka memberikan berita tidak masuk akal padanya.

"Kau harus merelakannya Sehun. Ia sudah meninggal."

Sehun langsung memukul Kris yang ada di depannya. Namja itu tanpa tahu malu memberikan berita yang membuatnya sangat kesal. Wajah Sehun sangat merah penuh dengan amarah.

"KAU BERCANDA! Aku akan membunuhmu jika kau bercanda seperti ini lagi!"

"PARK SEHUN!"

Sehun bisa mendengar suara Baekhyun dibelakangnya. Suara itu membuat tangis Sehun meledak. Namja itu kembali berlutut diluar ruangan.

"Kumohon jangan bawa dia pergi dariku. Masih banyak hal yang harus kami lakukan. Kumohon..."

Baekhyun kembali menangis melihat putranya. Memohon dengan keputusasaan yang tak mungkin terkabul.

"kumohon...kumohon! KUMOHON!"

"SEHUN!"

"Oh? Yeri?

Gadis mungil itu membalikkan tubuhnya. Senyumnya melebar melihat orang yang sangat ia rindukan. Yeri kemudian berlari menemui Sehun dan memeluknya secara tiba-tiba. Membuat namja itu hampir terjungkal kebelakang, namun yang terdengar hanyalah tawa diantara keduanya. Pelukan mereka menjadi semakin erat.

"Aku sangat merindukan Oppa!"

Yeri mengeratkan pelukannya sambil berusaha mengangkat Sehun yang tentu saja membuat semua orang di ruangan itu tertawa.

Yeri melepaskan pelukannya dan melirik kearah tangan Sehun.

"Oppa! Apa Oppa tahu aku akan pulang dan membelikanku bunga?"

Yeri berusaha meraih bunga mawar dari tangan Sehun. Namja itu segera menaikkan tangannya untuk mencegah Yeri meraih bunga itu. Kembali tawa terdengar di seluruh ruangan, terlebih setelah melihat wajah cemberut Yeri yang semakin lama malah semakin imut.

"Oppa akan membelikanmu nanti, ini untuk kekasih Oppa."

Sehun mencubit pipi Yeri gemas yang tentu saja membuat Yeri memukul lengan Sehun.

"Oppa! Hentikan! Aku bukan anak kecil lagi"

Sehun terkekeh dan mengelus rambut lembut adiknya. Namja itu melirik ke perut adiknya yang semakin membesar dari terakhir kali mereka bertemu.

"Apa Jonghyun memperlakukanmu dengan baik?"

Yeri memasang wajah masam dengan pertanyaan Sehun.

"Oppa! Dia bahkan tidak mau membelikanku bibimbab untuk bayi kami!"

"Ah! Yang benar saja bibimbab jam dua pagi."

"DIAM! Kau sudah tidak menyayangiku lagi! Kau tidak sayang pada anak kita!"

Sehun kembali terkekeh melihat Jonghyun, teman lamanya yang dulu sangat berandal dan sering membolos kini tunduk pada adiknya yang sangat lemah lembut. Yeri terlihat sangat menggemaskan ketika bertengkar dengan Jonghyun membuat Sehun khawatir pada temannya itu, mengingat Jonghyun akan segera mengurus dua anak kecil, istrinya dan anaknya.

"Akhirnya kau pulang,"

Sehun meninggalkan pasangan suami istri yang kini bertengkar dan berjalan memeluk Ibunya. Baekhyun membalas pelukan Sehun dan mengelus punggung namja itu dengan penuh kasih sayang.

"Apa Kris datang ke kantor?"

Baekhyun melepas pelukannya dan mengusap wajah putranya. Wanita itu bisa melihat guratan lelah di wajah anaknya dan hal itu membuatnya sedih, namun Baekhyun tetap berusaha tersenyum.

"Ya, kurasa orang itu memiliki banyak waktu luang."

"Mungkin Kris memang mencari kesibukan untuk melupakan bahwa putrid satu-satunya akan menikah minggu depan."

"Padahal orang itu selalu menyuruh Wendy untuk cepat menikah agar tidak mengganggunya dengan istrinya. Tapi sekarang Wendy akan menikah orang itu malah mempersulit keadaan."

Baekhyun terkekeh dan membuat Sehun ikut tertawa juga.

"Nah, tunggu sebentar Ibu akan memasakkan sesuatu."

"Ya, aku ingin menemui seseorang dulu."

Baekhyun hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Sehun. Namja itu segera berjalan menuju pintu samping rumahnya.

Sebuah nisan yang bersih berada disana. Terdapat bunga yang terletak disana dan terlihat baru, mungkin dari Yeri?

Sehun meletakkan salah satu bucket bungan yang ia bawa. Sehun tersenyum tipis melihat gundukan tanah disana. Ia tak perlu membersihkannya lagi karena ternyata sudah bersih.

"Hari ini genap 10 tahun kau meninggalkanku. Apa saja yang kau lakukan disana? Apa kau senang?"

Sehun tersenyum tipis sambil mengelus batu nisan diatasnya.

Flashback

"Sehun, dia meninggalkan surat untukmu"

Sehun yang masih berpakaian serba hitam menerima kertas itu. Ia berjalan menuju kamarnya dan melepas jasnya. Surat itu... entah kenapa ia tidak ingin membacanya. Mungkin akan menambah lukanya saat ini. Dengan ragu, Sehun membaca surat itu. Tulisannya hampir tidak bisa terbaca seakan penulisnya tidak bisa menggerakkan tangannya dengan benar.

'Sehun-ah, maafkan aku. Aku tidak bisa menepati janjiku dulu...'

'aku ingin melihatmu bahagia... aku ingin kau bahagia...'

'walaupun aku tidak ada.'

Sehun menahan nafasnya. Sesak didadanya semakin sulit untuk ia tahan. Perasaannya semakin sesak.

'kau harus tetap berbahagia. Berbahagialah untukku. Jadi aku bisa dengan tenang mengucapkan...'

'selamat tinggal... Saranghae...'

Sehun memeluk surat itu dan menangis sangat keras.

"Selamat tinggal..."

Flashback End

"Istirahatlah dengan tenang, aku sangat mencintaimu.."

"Appa.."

"Luhan?"

Sehun mendekati tempat Luhan berbaring disana. Sehun selalu berusaha menemui Luhan hanya untuk sekedar pembicaraan ringan. Berharap ada sebuah keajaiban dimana Luhan akan menjawabnya.

Sudah menjadi kebiasaannya sehari-hari Sehun selama 10 tahun terakhir berbicara sendirian tanpa ada jawaban yang ia terima. Ia terus berusaha tersenyum, seperti apa yang diminta Luhan.

"Aku..."

Sehun tidak bisa menahan lagi air matanya. Inilah yang membuatnya memilih kantor daripada rumah. Melihat Ayahnya dan Luhan yang tidak menyambutnya pulang. Melihat kedua orang yang ia cintai tidak melakukan aktivitas seperti manusia biasa. Tidak makan, minum, atau apapun walaupun ada yang berbeda.

"Oppa..."

Sehun membalikkan tubuhnya. Yeri berdiri disana denga raut wajah khawatir. Sehun berusaha tersenyum agar tidak membuat adiknya sedih, itu tidak baik untuk keponakannya kelak.

Sehun meletakkan bunga di tempat Luhan berbaring. Menutup matanya hanya untuk meminta sebuah keajaiban.

"Eonnie... Pasti akan segera sadar Oppa, ia tahu Oppa masih menunggunya."

Sehun tersenyum. Ia kembali menatap Luhan dan mengelus rambutnya. Mencium keningnya dengan perlahan. Ciuman lembut itu mengalirkan semua perasaan frustasi Sehun yang seakan berteriak.

'LUHAN BANGUNLAH! AKU SANGAT SANGAT MERINDUKANMU,'

"Kau benar, 10 tahun bukan waktu yang sebentar, tentu aku tidak akan menyerah begitu saja kan?"

Sehun kembali bangkit dan kini tangannya mengelus rambut Yeri dengan penuh kelembutan. Tangannya lalu mengelus perut Yeri yang sudah semakin besar tanpa berkata apapun.

"Ayo kita keluar."

Yeri mengangguk. Ia memeluk lengan kakaknya bersikap manja setiap ia sedang bersama kakaknya. Akhirnya pintu itu tertutup.

'bip...bip...bip...'

'srek'

Bunga pemberian Sehun bergeser dari posisinya. Sebuah tangan kecil bergerak dengan lemah. Perlahan matanya terbuka. Membiasakan cahaya yang sudah sangat lama tidak ia lihat. Dengan alat pernafasan yang menempel pada hidung dan bibirnya, ia menggumankan sebuah nama.

"Sehun..."

END

halo semuanya, Krisgi kembali. Mohon maaf karena membuat Reader-nim menunggu (walaupun mungkin tidak ada Readernim yang menunggu hehehehe).

Akhirnya satu Fanfiction Krsigi sudah ada yang sudah 'end' senang deh rasanya , terima kasih atas perhatian dan banyak cinta serta dukungan Reader-nim deul di Fanfiction 'House' ini.

tadinya Krisgi ingin membuat Final Chapter ini lebih berkonflik dan lebih klimaks lagi, namun Fanfiction ini Krisgi buat saat sedang sangat sibuknya mempersiapkan pernikahan dulu, sehingga banyak yang Krisgi hilangkan walaupun sebenarnya Krisgi punya waktu mengingat ditundanya update chapter i ni yang sangat lama, tapi Krisgi tidak bisa.

Krisgi harus suami 'ehem' pindah keMassachusetts karena kontrak kerjanya. Jadi Krisgi dan Hellen pindah ikut suami dan... Krisgi akan punya anak hehehehe jadi sangat sibuk. Senang sekali sudah usia 2 minggu doakan semuanya lancarnya.

Intinya Krisgi minta maaf karena Chapter terkahir ini tidak klimaks atau banyak hal yang kurang. Sebenernya ada Hidden Scene di setiap Chapter tapi nanti sajalah jika Readernim ingin akan Krisgi Update Hidden Scene nya.

Krisgi sangat senang dan berterima kasih atas partisipasinya dalam Fanfiction 'House' ini. Semoga menghibur.

Nantikan karya Krisgi yang lain ya

Annyeong!!!!!!