Disclaimer 'NARUTO'
Belong to
MASASHI KISHIMOTO
Story belong to
JJ Ichiro
.
.
.
.
.
.
.
.
Warning! Ooc, typo, alur berantakan, eyd diragukan dan kesalahan lainnya mohon dimaafkan.
.
.
.
.
.
.
.
.
Uchiha Sasuke x Haruno Sakura
.
.
.
.
.
.
.
.
Selamat Membaca ^^
.
.
.
.
.
Uchiha Sasuke menyunggingkan senyumnya melihat tingkah putri kecilnya yang sepertinya terlihat kesusahan mengikat selembar kertas pada ranting daun bambu di halaman rumah mereka. Ayah satu putri itu pun mendekatinya.
"Sedang apa? " ujarnya mengusap surai hitam Sarada.
Sarada menoleh kemudian mengerucutkan bibirnya. "Susah, lengan Sara tidak sampai pada bambu. " keluhnya lucu. Sasuke tersenyum geli, kemudian melirik kertas berwarna merah yang putrinya pegang.
"Memang apa yang akan kamu lakukan dengan kertas itu? " tanya Sasuke. Dari tadi Ia memang penasaran dengan apa yang sedang dilakukan putrinya yang tampak kesusahan dengan tubuh kecilnya yang berjinjit dan lengannya yang menjulur ke ranting daun bambu yang tak sampai.
Sarada tampak berpikir sebelum menjawab. "Mama bilang hari ini perayaan Tanabata Matsuri untuk membuat beberapa permintaan ke surga. Tadi, Mama memberi Sara tanzaku untuk menulis permohonan dan nanti diikat pada daun bambu. " paparnya riang. Sasuke tampak berpikir kemudian mengangguk pelan. "Ah, begitu yaa ... pantas saja, ini kan, bulan ke tujuh. " pikirnya.
"Apa yang Sara tulis di kertas permohonan itu? " lanjut Sasuke. Sarada menatap kertasnya sekilas kemudian mencoba menutupinya dengan lengannya. "Rahasia. "
Sasuke mendengus. Putrinya ini lucu sekali, dia belum masuk sekolah tapi sudah percaya diri menuliskan permohonan di kertas dan Sasuke berpikir pasti Sakura lah yang mengajari putrinya menulis dan membaca karena Sasuke kerap kali mendengar putrinya menghafal angka dan huruf. Ah, Ia jadi penasaran apa yang putrinya itu tulis.
"Papa, ayo bantu Sara mengikat tanzaku ini di ranting daun bambu. " rengek gadis kecil itu. Tanpa berkata lagi Sasuke mengangkat tubuh putrinya dan meletakkannya di bahu kekarnya.
"Wah, sampai di daun bambunya. Sara akan mengikatnya sekarang! " serunya senang begitu Ia bisa menyentuh daun bambu dengan mudahnya karena bantuan Sasuke. Sasuke tertawa kecil mendengarnya.
"Beritahu Papa apa yang kamu tulis sayang, " ujar Sasuke.
"Rahasia. " kata Sarada sembari mengikat kertas tersebut pada daun bambu.
"Hey, Papa kan, ingin tau. " kata Sasuke penasaran.
"Tidak boleh, "
.
.
.
.
.
"Wah, putri Mama cantik sekali, "
Sarada tersipu malu mendengar pujian dari sang Mama melihat pantulan dirinya di cermin dengan yukata warna merah motif daun momiji. Sakura menambahkan hiasan rambut bunga di surai hitam putrinya yang menambah kesan manis.
"Nah, selesai. " kata Sakura yang tampak puas dengan penampilan manis putrinya beryukata merah. Sarada tampak memperhatikan penampilannya dengan kagum sebelum netra hitamnya menangkap pantulan Sasuke lewat kaca besar di depannya. "Papa jadi ikut kan,? " katanya.
Sakura berjengit dan segera menoleh ke belakang dimana Ia menemukan Sasuke yang tengah sibuk dengan ponselnya. Jujur Sakura ta tahu kapan Sasuke pulang yang setaunya sore tadi Sasuke hanya berkata Ia akan keluar menemui rekannya. Ah, mungkin karena Sakura terlalu sibuk menyiapkan yukata Sarada jadi tak menyadari kepulangan Sasuke tadi, pikirnya.
Sasuke mengangguk sembari menampilkan senyum tipisnya. "Ya. "
Sarada berseru senang, "Yeiy! Kita berangkat sekarang bagaimana? " ajaknya menatap Sakura yang tampak sedikit terkejut. Sakura melirik Sasuke dan Sarada bergantian dengan gugup. Wanita itu tak tahu jika Sasuke akan ikut, karena rencananya hari ini Ia dan Sarada saja yang akan melihat festival Tanabata di pusat kota karena Sasuke juga tak mengatakan apapun padanya. Lagipula suaminya itu tak begitu suka mengikuti perayaan, itu sebabnya Sakura terkejut begitu Sasuke bersedia ikut melihat festival.
"Ma, kenapa Mama diam? " Sarada menggoyangkan lengan Sakura yang seketika membuat lamunan Sakura buyar. Wanita itu menatap putri kecilnya yang menatapnya bingung dengan diamnya.
"Y-ya. Kita berangkat sekarang. " ujar Sakura sedikit gugup. Ia pun meraih telapak tangan Sarada dan menggandengnya. Gadis kecil berusia 4th itu tersenyum senang kemudian mulai melangkah bersama Sakura mendekati Sasuke yang berdiri dekat sofa ruang tamu.
Sasuke memasukkan ponsel di saku celananya saat Sakura dan Sarada menghampirinya. "Ayo berangkat, "
Pria itu menoleh dan memperhatikan penampilan Sakura yang tampak berbeda memakai yukata berwarna biru muda dengan motif bunga Sakura kecil, wajahnya yang dipoles dengan riasan tipis namun menawan membuatnya tampak begitu 'cantik' pikirnya yang Sasuke tangkap saat melihat penampilan Sakura. Berbeda dengannya yang hanya memakai celana jeans panjang dan kardingan abu-abu dengan dalaman kaos putih polos. Pria itu tampak memperhatikan Sakura lama. Menyadari itu, Sasuke segera mengalihkan perhatiannya kemudian berdehem.
"Ehem. " kemudian memilih berjalan lebih dulu. Sakura tak ambil pusing dan segera menyusul di belakangnya bersama Sarada.
-Terpesona dengan penampilan istrimu eh, Sasuke?
.
.
.
Malam ini adalah festival bintang atau tanabata Matsuri. Pada festival ini digunakan daun bambu yang disebut 'sasa' karena dipercaya sebagai tempat tinggal para leluhur. Dimeriahkan dengan cara menulis sebuah permohonan di atas tanzaku, atau kertas warna-warni yang ujung atasnya ada tali kecil untuk diikat pada ranting daun bambu.
Pusat kota tampak meriah dengan ciri khas hiasan Tanabata raksasa. Sarada bahkan berdecak kagum menatap hiasan Tanabata raksasa yang dipenuhi hiasan tanzaku, rumbai-rumbai, burung bangau dari kertas lipat dan beberapa hiasan dari plastik.
Mereka mampir ke berbagai stand yang berjejer turut serta memeriahkan. Seperti stand aksesoris yang menyediakan berbagai macam pernak-pernik seperti gantungan kunci, hiasan dinding dan lain-lain. Di sini Sarada merengek minta dibelikan gantungan kunci bebek berbulu yang bisa berbunyi.
Lanjut ke stand permainan, Sarada memilih memancing balon air bersama Sakura. Kemudian permainan tangkap ikan menggunakan seperti ciduk berbentuk lingkaran dengan tengahnya yang terbuat dari bahan kertas yang sayangnya ikan yang berhasil Sarada tangkap berhasil lolos. Sakura turut membantu menangkap namun begitu masuk kertas yang menampung ikan tersebut jebol. Sasuke tertawa kecil melihatnya, Ia pun turut ambil bagian dengan sekali tangkap langsung berhasil mendapat ikannya. Yang seketika membuat Sarada dan Sakura berdecak kagum. Sarada juga menunjuk stand menembak dengan Sasuke yang memainkannya dan mendapatkan boneka kelinci karena berhasil menembak semuanya.
Lelah memainkan permainan, mereka pergi ke stand makanan dan minuman. Mereka duduk di kursi panjang dekat air mancur sembari menunggu kembang api. Sarada duduk di tengah memakan taiyaki, kue berbentuk ikan yang di dalamnya diisi dengan pasta kacang merah. Tangan satunya memegang choco banana, jajanan dari pisang yang dicelup ke dalam saus strawberry. Sakura memilih takoyaki yang disajikan berbeda. Permukaannya garing dan kering, tidak terasa lembek-lembek dan disgunting seperti belum matang. Sementara Sasuke memilih cumi panggang dengan saus khas yang meresap ke dalam cumi-cumi. Mereka tampak menikmati makanan dengan nikmat.
Syuuuttt! Duar!
Sarada memekik kaget dan segera mendongak menatap ke atas langit dimana kembang api tampak begitu cantik. "Itu kembang api! " serunya menunjuk langit yang penuh dengan warna-warni kembang api.
"Sepertinya kembang apinya sudah mulai. " ujar Sasuke.
Syuuut Duar!
"Cantik, " gumam Sakura menatap keindahan kembang api berbentuk hati dari kecil sampai yang terbesar.
Sarada memegang ujung baju Sasuke membuat sang ayah menoleh. "Papa, mereka sedang apa? "
Sasuke mengikuti arah pandangan putrinya yang seketika itu juga Ia arahkan telapak tangannya untuk menutupi mata Sarada. "Jangan lihat. " katanya. Sasuke mendengus sebal, putrinya itu melihat sepasang kekasih yang saling berciuman di bawah kembang api. Tanabata memang tak disia-siakan oleh para sepasang kekasih untuk datang, tapi itu tidak baik dipandang oleh putrinya yang masih sangat polos.
Iris hitam Sasuke bergulir menatap Sakura yang spertinya juga menyadari apa yang Sarada tatap. "Kita pindah tempat. " katanya yang mendapat anggukan dari Sakura. Sasuke meraih tubuh kecil putrinya dan menggendongnya. Sakura mengemasi sampah makanan mereka dan membuangnya di bak sampah. Baru saja Ia akan menyusul Sasuke, kaki yang beralaskan geta itu tersandung akar pohon dan hampir saja membuatnya jatuh tersungkur jika saja Ia tak berpegangan pada tiang lampu.
Sakura merasakan nyeri di telapak kakinya. Ia pun menunduk untuk melihatnya, kemudian terkejut melihat pecahan beling yang menancap pada telapak kakinya. Wanita itu menatap ke depan dimana Sasuke dan Sarada berada jauh darinya. Tanpa membuang waktu, Sakura mencabut pecahan beling di telapak kakinya itu dengan hati-hati. Membuangnya di bak sampah, lantas memakai sendalnya yang sempat terlepas kemudian berlari kecil menyusul Sasuke.
Wanita itu mengatur napasnya begitu sampai di belakang Sasuke dan mengimbangi langkahnya dengan Sasuke. Beberapa menit kemudian kakinya kembali merasakan nyeri yang lama kelamaan membuat kakinya pegal. Sakura pun terpaksa menghentikan langkahnya kemudian menunduk untuk melihat kondisi kakinya. Iris hijau teduhnya sukses melebar kala melihat darah yang mengalir di telapak kakinya. Sakura menatap ke depan dan ingin memanggil Sasuke namun Ia urungkan melihat Sasuke yang tengah asik bercanda dengan Sarada.
Sakura kembali menunduk dan meremas yukatanya dengan gugup. Ia menatap miris kakinya dan matanya tampak berkaca-kaca. Apa yang harus Ia lakukan? Sasuke semakin jauh darinya, Sakura berpikir biarlah Sarada bersama Sasuke dan mungkin Ia akan pergi ke klinik untuk mengobati kakinya. Sakura mengangguk dengan pemikirannya. Ia pun merogoh tas kecilnya dan meraih tisu. Disekanya dengan hati-hati darah yang keluar membuatnya seketika merasakan perih.
"Kaki Mama berdarah! " Sakura segera mendongak dan menemukan Sasuke dan Sarada yang berdiri di depannya.
Sasuke menurunkan Sarada dan mendekati Sakura. "Apa yang terjadi? " katanya dengan raut khawatir. Rasanya Sakura ingin menangis saat Sasuke mendekat dan menyentuh kakinya. Wanita itu tak mengatakan apapun dan hanya menggigit bibirnya gelisah.
"Tunggu di sini, aku pergi sebentar. " Pria itu berdiri dan berlari menjauhinya. Sakura menahan lengan Sarada yang hendak menyusul Sasuke.
Beberapa menit kemudian Sasuke datang, berlari kecil membawa kantung plastik bening. Ayah dari Uchiha Sarada itu mengeluarkan isi dari kantung yang dibawanya kemudian berjongkok di depan Sakura dengan salah-satu lututnya yang menyentuh pada tanah. Lengannya terulur meraih kaki Sakura yang terluka dan meletakkannya di paha.
"A-Aku tidak apa-apa, " Sakura menarik kembali kakinya namun ditahan oleh Sasuke. Ia pun menyerah dan terdiam menatap Sasuke yang mengobatinya dengan sangat hati-hati. Wanita itu meringis merasakan perih yang luar biasa kala Sasuke mensterilkan lukanya dengan alkohol. 'Hey, itu sakiiiittt sekali! ' batinnya menjerit.
Ekspresi Pria itu begitu dingin, membuatnya sulit untuk menebak apa yang dipikirkan suaminya itu.
"Kenapa bisa sampai seperti ini, " gumam Sasuke pelan nyaris tak terdengar di pendengaran Sakura. Tangan Sasuke dengan telaten membalut luka di kaki Sakura menggunakan perban. Sesekali iris hitamnya bergerilya mencari sosok sang putri kecilnya yang tak berada di sampingnya.
"Sarada jangan ke sana! " ujarnya yang seketika membuat Sarada mengurungkan niatnya menghampiri penjual balon. Gadis kecil beryukata merah itu menghampiri Sasuke dan melingkarkan lengannya di leher sang ayah dari belakang. "Sara mau balon, " badan kecilnya bergelayut manja di punggung Sasuke.
Sasuke meliriknya sebentar, "Tidak sekarang ya, "
Sarada melepaskan pelukannya kemudian menghampiri Sakura. "Kaki Mama sakit ya? " tanyanya dengan mimik lucu. Iris hitamnya memperhatikan tangan Sasuke yang membalut luka Sakura. Sakura hanya tersenyum tipis menanggapi pertanyaan putrinya dengan raut yang kentara sekali menahan sakit.
"Kita ke rumah sakit sekarang. " putus Sasuke ketika Ia selesai membalut luka Sakura kemudian berdiri.
Sakura mendongak, semilir angin malam menerbangkan anak rambutnya yang menjuntai menggelitik pipi putihnya. "Tak apa, aku baik-baik saja. Tak perlu ke rumah sakit. "
Sasuke menatap Sakura intens. "Kau terus saja berkata tidak apa-apa, tapi luka kakimu tak baik-baik saja. " Iris hitam Sasuke menatap Sakura lama. Pria itu memang sedikit khawatir saat melihat luka di kaki Sakura yang Ia lihat cukup lebar hingga darah yang keluar lumayan banyak.
Sakura menundukkan wajahnya menghindari tatapan Sasuke. Ada apa ini? Apa Sasuke mengkhawatirkannya? Jika iya, apakah itu artinya pria itu mulai membuka hatinya lagi untuknya?
Helaan napas keluar dari bibir Sasuke. Setelahnya pria itu menatap putrinya. "Ayo Sarada, Papa gendong. Kita ke rumah sakit sekarang! " ucapnya yang diakhiri dengan lirikan yang mengarah pada Sakura. Pria itu merendahkan tubuhnya untuk meraih tubuh putrinya kemudian menggendongnya.
Sakura mulai berdiri dengan hati-hati diiringi ringisan pelan di bibirnya. Nyeri di kakinya semakin sakit saja membuatnya kesulitan untuk bergerak.
"Ayo! "
Sakura menatap diam uluran tangan Sasuke di depannya.
"Pegang tanganku supaya kau tidak kesulitan untuk berjalan. " sambung Sasuke. Sakura merasakan hatinya menghangat mendengar penuturan Sasuke. Dengan ragu-ragu Ia mengulurkan tangannya menyentuh telapak tangan Sasuke.
Tap.
Desiran aneh menyusup ke relung hatinya Sakura saat telapak tangan besar Sasuke menggenggamnya. Telapak tangan Sasuke terasa hangat mengenggang tangannya membuatnya merasa nyaman. Ini pertama kalinya mereka melakukan kontak fisik pasca peristiwa itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
Mereka tiba di rumah setelah sebelumnya dari rumah sakit, bersamaan dengan turunnya hujan yang mengguyur kota Tokyo. Si kecil Sarada yang sudah berganti dengan baju tidurnya tampak menatap rintik hujan dari jendela dengan bertopang dagu. Sementara di sampingnya, tampak Sasuke yang tengah menonton acara tv.
"Sedih ya ... " Sasuke menolehkan kepalanya menatap sang putri.
"Sedih kenapa? " tanyanya bingung. Ia teringat Sakura yang tengah beristirahat di kamar karena sepulang dari rumah sakit Sasuke memang menyuruhnya untuk beristirahat saja. Istrinya itu mendapat jahitan di kakinya setelah dokter memeriksa dan melihat robekan di kaki Sakura cukup lebar. Sasuke berpikir mungkin putrinya sedih karena melihat Sakura sakit.
Sarada beringsut duduk di samping Sasuke dengan kedua lututnya yang Ia tekuk. "Pasti Orihime tak bisa bertemu Hikoboshi. "
"Hn? " Sasuke tak mengerti dengan apa yang putrinya katakan.
"Mama pernah bercerita, jika dimalam Tanabata hujan, itu adalah air mata Orihime dan Hikoboshi yang tidak bisa bertemu. Huwaaa sedih, "
Sasuke mendengus mendengarnya. Astaga, jadi ini yang putrinya pikirkan setelah berlama-lama menatap hujan di luar sana. "Itu kan legenda. " gumam Sasuke.
Sarada menoleh kemudian mengerucutkan bibirnya lucu. "Tapi tetap saja, pasti di sana putri sedang menangis sedih. "
Sasuke mematikan tv begitu tak ada acara yang menarik. "Mungkin hujan di luar sana bukan hanya air mata Orihime saja, tapi air mata Mamamu juga yang menahan sakit di kakinya. " kemudian terkekeh dengan pemikiran konyolnya.
Sarada berjengit kemudian mendekatkan badannya ke badan Sasuke. "Papa benar, Mama pasti menangis karena sakit di kakinya. Ayo temani Mama! " Sasuke menghentikan kekehannya dan terdiam. Sungguh tadi Ia hanya asal bicara bukan maksud membuat khawatir putrinya sekarang.
.
Begitu Sasuke dan Sarada memasuki kamar, dilihatnya Sakura yang terbaring di ranjang dengan mata tertutup. Sarada melangkah cepat menaiki ranjang dan duduk di samping Sakura. "Mama ... " ucapnya sedih menatap Sakura yang seketika membuat wanita bersurai pink itu membuka kedua matanya.
"Kamu membangunkannya. " kata Sasuke seraya menutup pintu kamar.
"Kaki Mama masih sakit, ya? " Sakura tersenyum simpul. "Sudah agak mendingan. "
Netra hitam sang putri menatap jendela kamar yang tertutupi gorden warna pastel sesaat. "Sara tidur di sini ya ... Sara temani Mama biar Mama tidak sedih. " katanya polos.
"Mama tidak bersedih. "
"Di luar masih hujan, kata Papa- "
"Ehem! " ucapan Sarada terhenti kala Sasuke berdehem keras seraya melangkah menghampiri sofa dan mendudukinya.
"Apa ... " kata Sakura penasaran menatap Sarada.
Baru saja Sarada akan mengatakan namun Sasuke lebih dulu bersua. "Lebih baik Sara tidur. "
Sarada memberengut mendengarnya. Sakura yang mengerti, meraih tubuh putrinya untuk tidur di sampingnya dan putrinya menurut. Tubuh kecil Sarada merapat ke badan Sakura dengan salah satu lengannya memeluk perut Sakura. "Ma, " panggil Sarada pelan.
Sakura menunduk. "Hm? "
"Hujannya belum berhenti. Kata Papa, hujan yang turun bukan air mata Orihime saja tapi air mata Mama yang menahan sakit juga. Mama jangan sedih ya, kan, ada Sara di sini. " kata Sarada dengan raut khawatirnya.
Sakura tertawa kecil mendengar perkataan polos putrinya. Ia pun menggerakkan lengannya untuk memeluk Sarada. "Itu tidak benar. Sebenarnya luka di kaki Mama memang sakit, tapi sekarang sudah agak mendingan setelah minum obat. Sara tak perlu khawatir karna Mama baik-baik saja. "
"Benar, Ma? " tanyanya dengan kepalanya yang mendongak. Sakura mengangguk dengan senyumnya. "Iya sayang. " mendengarnya, Sarada perlahan menampilkan senyumnya. "Sara sayang Mama, "
"Mama juga. Sekarang Sara-chan tidur ya ... " Sarada mengangguk kemudian memejamkan kedua matanya.
Diam-diam Sasuke tersenyum tipis mendengarnya, di balik majalah otomotif yang sepertinya tak benar-benar Sasuke baca. Dengan ini putrinya tak merasa khawatir lagi. Sasuke juga sempat menyayangkan luka sobekan di kaki Sakura karena pecahan beling. Ia juga khawatir melihat wajah kesakitan Sakura saat dokter menjahit kakinya.
.
.
.
.
.
Paginya, seperti biasa Sakura berkutat di dapur menyiapkan sarapan. Meski kakinya masih sakit, Ia tak mau bermalas-malasan dan menelantarkan tugasnya sebagai seorang istri. Tak lama, netra hijaunya menatap Sasuke yang telah rapi dengan jas kantornya menuruni tangga.
"Selamat pagi. " sapa Sakura. Sasuke melirik, kemudian mengangguk dengan gumaman khasnya.
"Duduklah! Aku sudah siapkan sarapan. " Sasuke berhenti dan menatap Sakura, sebelum dirinya melangkah menghampiri meja makan. Sakura segera meraih piring dan meletakkan omelette rice di atasnya kemudian menghidangkannya di depan Sasuke begitu pria itu sudah duduk.
Sakura menatap khawatir Sasuke yang menatap diam sarapannya. Apa? Ada apa? Apa Sasuke tak menyukai makanannya? Batinnya bertanya khawatir.
"A-apa kau tidak suka makanannya? " tanya Sakura hati-hati.
Sasuke tergerak lengannya untuk meraih sendok seraya bergumam. "Tidak. Hanya saja ... seharusnya kau tak perlu melakukan ini. "
Hati Sakura tercubit mendengarnya. Usahanya menjadi sia-sia tak ada artinya mendengar kata yang terlontar dari mulut Sasuke. Wanita itu mencoba menyabarkan hatinya. Batinnya bersedih, Ia sudah berusaha menjadi istri yang baik namun sikap suaminya yang membuat semua usahanya menjadi sia-sia. Jujur, Sakura merindukan suaminya yang dulu. Sosok Uchiha Sasuke yang selalu menunggu di meja makan saat Ia tengah menyiapkan sarapan. Ia merasa kehilangan sosok suaminya dari diri Sasuke dan semua itu karenanya. Ia lah yang membuat sosok suami yang hangat lenyap seketika.
"Kalau tidak suka, tidak usah dimakan. Maafkan aku, " ucap Sakura dengan bibir bergetar. Wanita itu segera mengusap air matanya yang tiba-tiba tumpah tanpa Ia sadari. Ia menjauh dari Sasuke menuju bak cuci piring. Mencoba menyibukkan dirinya dengan mencuci piring yang sebenarnya sudah bersih. Ia tak ingin berada di dekat Sasuke sekarang, begitu menyesakkan.
"Bukan itu maksudku. "
Sakura mencoba mengabaikan apa yang Sasuke katakan. Ia hanya tak mengerti dengan Sasuke. Semalam, Pria itu memperhatikannya dan tampak khawatir padanya dan sekarang, Dia kembali bersikap dingin padanya.
"Aku hanya khawatir dengan kondisi luka di kakimu. Dokter bilang kau tidak boleh banyak bergerak karena jahitan. "
Sakura hampir saja menjatuhkan piring yang sedang Ia cuci mendengar apa yang keluar dari bibir Sasuke. Apa lagi sekarang? Sakura tak salah dengar kan,? Apa itu artinya Sasuke benar-benar mengkhawatirkannya?
"Selamat pagi! "
Keduanya kompak menoleh menatap siapa gerangan tamu yang sudah datang pagi-pagi. Dan muncullah sosok Konan dengan senyum sumringah bergabung di meja makan.
Sakura mematikan kran air. "Kakak ipar, selamat pagi. " sapa Sakura. Konan tersenyum, mendekat ke arah Sakura untuk memberikan pelukan hangat dan mencium pipi kanan dan kiri Sakura. "Aku tidak menganggu kan,? "
"Kau datang terlalu pagi. " cibir Sasuke. Konan mendengus. Sakura melirik Sasuke yang tampak tenang memakan sarapannya.
"Adik ipar, kudengar kamu sakit? " tanya Konan membuat Sakura menoleh.
Sakura tersenyum tipis. "Ya. Tapi sekarang sudah baikan. Memang Kaka tau dari mana? " tanya balik Sakura. Konan sempat melirik Sasuke sesaat sebelum kembali menatap Sakura. "Ah, ada seseorang yang memberitahuku. " kata Konan dengan diakhiri tawanya yang sedikit aneh.
Sakura menatap Sasuke saat Konan beberapa kali melirik pria itu yang sama sekali tak menggubris. Sakura tersentak. 'Apa Sasuke yang memberitahu Konan? Tapi, untuk apa? ' batinnya bertanya.
Mengerti arti tatapan Sakura, Konan segera mencari-cari alasan. Istri dari Uchiha Itachi itu menutup mulutnya dengan sebelah tangannya seraya tertawa. "Tadi, Aku baru saja menginap di rumah temanku yang tak jauh dari rumah kalian. Jadi, sekalian mampir saja. Lagi pula Aku juga merindukan Sara-chan, mana dia? " netra Konan bergerak mencari sosok keponakannya yang dari tadi tak terlihat.
"Masih tidur. " jawab Sasuke datar. Konan mengangguk. Lengan wanita itu terulur meraih buah jeruk di meja makan dan mengupasnya.
"Aku sudah selesai. " gumam pelan Sasuke begitu Ia selesai dengan sarapannya kemudian beranjak dari meja makan. Sakura menoleh, diliriknya piring Sasuke yang sudah kosong tak tersisa. Sakura tertegun, Ia merasakan hatinya menghangat melihat sarapan yang Ia buat sudah Sasuke habiskan. Tak seperti hari-hari biasanya yang kadang kala pria itu mengacuhkan sarapannya, hari ini Sasuke menghabiskan sarapannya. Sakura tersenyum tipis melihatnya kemudian menyusul Sasuke untuk mengantar.
"Hati-hati. " kata Sakura.
"Aa. Aku berangkat. " Sakura mengangguk.
"Tunggu dulu adik ipar. " Konan datang menghampiri Sasuke yang hampir memasuki mobilnya.
"Ada apa? " tanya Sasuke.
Konan menggelengkan kepalanya menatap Sakura dan Sasuke bergantian. "Astaga, kenapa kalian sekaku ini?! "
"Hah? " kata keduanya bingung. Sasuke menatap Sakura begitu pun sebaliknya.
Konan memasukkan jeruk yang sudah Ia kupas kulit arinya ke dalam mulutnya. Mengunyahnya cepat kemudian menelannya. "Mana ciuman penyemangatnya? Bukankah Istri selalu memberi ciuman untuk suami sebelum berangkat kerja, " kata Konan dengan senyum jailnya. Keduanya kompak mengalihkan pandangannya.
Konan tertawa melihatnya. "Kalian malu ya, karena ada Aku di sini? Ya, baiklah. " Konan melangkah menghampiri Sakura, meraih lengan Sakura dan membawanya mendekat ke arah Sasuke. "Kakak, apa yang kamu lakukan? " gumam Sakura gugup. Rona merah muda menghiasi pipi Sakura.
"Aku tidak akan lihat! " Konan membalikkan badannya seraya melipat kedua lengannya di dada. Sakura melirik Sasuke yang mengalihkan pandangannya dengan raut datarnya. Sakura sudah menduga pria itu pasti malas melakukan itu padanya.
Sakura pun melirik Konan. "Kakak, ini sudah siang. Sasuke-kun pasti akan terlambat. "
Konan mendengus kemudian membalikkan badannya menatap Sakura. "Kenapa? Kamu tidak berani melakukannya, Sakura? "
Sakura terkejut. "Eh?! Bu-bukan. "
Sasuke gemas sendiri mendengarnya, sebenarnya apa sih yang Konan inginkan. Benar-benar menganggunya. Sasuke melirik jam tangannya sekilas kemudian melarikan pandangannya menatap Sakura yang tampak gugup. Menghela napas pelan, Ia pun mendekat ke arah Sakura dan sedikit merendahkan tubuhnya untuk mencium Sakura singkat.
Cup.
Tubuh Sakura menegang.
Konan tampak menyunggingkan senyum puasnya.
"Puas?! " kata Sasuke datar menatap Konan, kemudian langsung memasuki mobilnya. Detik berikutnya mobil Sasuke melaju.
"Puas sekali sayang. Ah, tapi kurang! Harusnya di bibir bukan di pipi! " teriak Konan. Sebenarnya ini hanya akal-akalannya Konan saja karena Konan sangat tahu kondisi rumah tangga Sasuke dan Sakura yang tak seperti dulu pasca peristiwa itu. Makanya, Ia iseng agar keduanya kembali harmonis seperti dulu bukannya kaku seperti tadi.
Sakura sendiri berusaha menenangkan debaran jantungnya yang tiba-tiba menggila. Ia benar-benar terkejut ketika Sasuke menciumnya. Ia bahkan tak menyangka Sasuke melakukannya. Entahlah Sakura bingung bagaimana menjelaskannya, yang pasti Ia merasa ribuan kupu-kupu terbang mengelilinginya.
.
.
.
Tbc
Special thanks
suket alang alang, kakikuda, Jamurlumutan462, guest, lightflower22, zarachan, Yanti Sakura Cherry, Kirara967, chan-chan, , Q Lenka, Hanzura96.
Dan kalian semua yg sudah fav maupun fol terima kasih ^^
Salam manis,
JJ Ichiro
