Disclaimer 'NARUTO'

Belong to

MASASHI KISHIMOTO

Story belong to

JJ Ichiro

.

.

.

.

.

.

.

.

WARNING! Ooc, typo, alur berantakan, eyd diragukan dan kesalahan lainnya mohon dimaafkan.

.

.

.

.

.

Uchiha Sasuke x Haruno Sakura

.

.

.

.

.

.

.

.

Don't like? Don't Read!

.

.

.

.

.

.

.

.

Sakura menoleh begitu pintu kamar terbuka, menampakkan Sasuke dengan raut lelahnya memasuki kamar. Sakura yang saat itu sedang melipat pakaian di ranjang menghentikan sejenak kegiatannya untuk menyapa.

"Selamat datang. " sapa Sakura menampilkan senyum simpulnya. Pria itu melirik sembari menutup kembali pintu kamar.

"Hn. " gumam rendah Sasuke seraya mengangguk. Pria itu menghampiri meja dan meletakkan tas kantornya di sana. Dilepasnya jas kantornya dan meletakkannya di sofa.

"Sepi sekali, dimana Sarada? " lengan kekarnya mengeluarkan kemeja yang dipakainya kemudian menatap pantulan dirinya di cermin.

"Kak Konan membawanya ke rumah Ibu. Dia bilang Ibu dan Ayah merindukan Sarada, tak apa kan? " ujar Sakura lembut.

"Aa. " angguk Sasuke. Ia pun melarikan lengannya untuk melepas dasi, melipatnya asal dan menyimpannya di laci meja.

Sakura membawa dan meletakkan pakaian yang sudah Ia lipat rapi di lemari. Diliriknya Sasuke yang tengah melepas kancing-kancing kemeja. Ia pun perlahan mendekat. Dengan tarikan napas dan menghembuskannya pelan, Ia menggerakkan lengannya untuk menyentuh lengan Sasuke.

"Apa mau kusiapkan air hangat? "

Di luar perkiraannya, Pria itu berjengit kaget dan segera menoleh. Iris hitamnya menatap tangan Sakura yang masih bertengger di bahu kekarnya yang langsung Sasuke tepis pelan.

"Tidak perlu. " ujarnya dingin dan langsung memunggungi Sakura.

Wanita itu tersentak sesaat kemudian menatap punggung pria itu hampa. Sakura merasakan hatinya yang semula menghangat menjadi beku seketika. Sakura menguatkan hatinya. Entah mengapa perasaan terluka ketika Sasuke mengabaikannya kembali terlintas di benaknya. Ia menggelengkan kepalanya cepat mengusir pikiran negatifnya. Tak menyerah, wanita itu kembali menampilkan senyumannya seraya bersua, "Apa kusiapkan saja makan malammu, pasti kamu lapar kan,? "

"Aku sudah makan. " jawab Sasuke cepat seraya berjalan menghampiri kamar mandi.

Sakura terdiam, senyumnya menghilang dan berganti dengan pandangan sedihnya. Ia meremas busana rumahnya kuat. Kenapa? Kenapa suaminya berubah dingin lagi padanya setelah beberapa hari sejak Ia sakit pria itu begitu memperhatikannya, dan sekarang, pria itu kembali dingin padanya. Wanita itu mengingat-ingat apa yang Ia lakukan hingga membua Sasuke kembali bersikap dingin padanya namun rasanya Ia tak mendapati dirinya melakukan kesalahan hingga pria itu bersikap dingin lagi padanya.

Sakura tak mengerti, Sasuke begitu sulit untuk dipahami. Pria itu bertingkah seenaknya. Secepat itu pria itu memperhatikannya dan secepat itu pula pria itu bersikap dingin lagi padanya. Rasa sesak menyelingkupi hati Sakura. Iris hijau teduhnya mulai memanas.

"Kenapa? "

Langkah Sasuke terhenti di depan pintu kamar mandi, namun pria itu tak menoleh.

Iris hijau Sakura menatap Sasuke dengan berkaca-kaca. "Kanapa kau seperti ini?! "

Sasuke sempat terdiam sesaat kemudian menghela napas pelan dan menoleh menatap Sakura datar. "Apa ... apa yang terjadi? " tanyanya balik.

Sakura mengepalkan sebelah tangannya di samping pahanya. Bulir air matanya perlahan turun. "Aku, Aku mencintaimu. Aku ingin dirimu yang dulu, bersamamu. " lirihnya.

Sasuke terdiam, Ia tak mengerti apa yang Sakura katakan. Dan hanya menatap Sakura dengan pandangan tak terbaca.

Sakura mengalihkan pandangannya. "Tapi sepertinya itu hanya bagian dari masa lalu. Kau berubah, kau bukan Sasuke yang kukenal. "

"Ada apa denganmu?! " potong Sasuke cepat. Tatapannya begitu tajam menatap Sakura masih dengan raut datarnya. Ia benar-benar tak mengerti apa yang sebenarnya Sakura katakan.

Sakura melirik melalui ujung matanya. Ekspresi wajahnya berubah datar. "Kau sakit karenaku, kau belum bisa melupakan peristiwa itu kan?! " ujarnya dingin.

Sasuke terkesip mendengarnya. Kini Ia mengerti arah pembicaraan Sakura. Pria itu memandang Sakura dalam, dengan raut tak terbacanya. "Kenapa kau tiba-tiba membahas hal ini lagi, bukankah kita sepakat untuk tidak membahasnya? " ujarnya dingin.

"Itu karena kau memberiku harapan, untuk kemudian kau hempaskan aku dengan kebohonganmu, " sentak Sakura.

Sasuke memicingkan matanya. "Kebohongan katamu? Kebohongan yang mana?! Bukankah aku sudah memaafkanmu?! " kesal Sasuke.

"Kau memang sudah memaafkanku tapi tidak dengan HATIMU " teriak Sakura. Keluar sudah apa yang ada dalam pikirannya selama ini. Kepalan tangan Sakura menguat. Bulir-bulir air matanya kembali mengalir. Ia sudah tak tahan lagi dengan sikap Sasuke padanya.

Tubuh Sasuke menegang. Pria itu terdiam tak mampu berkata apapun. Raut keterkejutan tampak jelas di wajah Sasuke meski sesaat. Pria itu masih berdiri di tempatnya tanpa berusaha membela diri atau pun menjelaskan.

Hening menyelimuti keduanya yang kali ini terasa menyakitkan. Hanya terdengan isakan Sakura yang terdengar lirih.

Wanita itu mengusap air matanya kasar seraya bergumam lirih, "Aku tau hatimu belum bisa menerimaku kan, "

"Setahun sudah sejak peristiwa itu berlalu. Aku pikir semuanya akan kembali seperti dulu, nyatanya tidak. Awalnya aku biasa saja, namun lama-kelamaan aku menyadari sikapmu yang berbeda padaku. Kau tidak lagi tersenyum padaku, tidak lagi memperhatikanku. Kamu mengabaikanku. " ucapnya pilu.

Sasuke bungkam dengan pemikirannya. Semua yang ingin Ia katakan menguap entah kemana. Detak jantung Sasuke berdebar kencang dan rasa sesak yang tiba-tiba Ia rasakan. Terlalu sulit baginya untuk berucap yang nyatanya apa yang Sakura katakan memang benar. Sasuke tahu, hatinya belum bisa menerima Sakura. Perselingkuhan Sakura membuat hatinya terluka perih. Bayang-bayang Sakura dan Sai kerap kali mengusiknya, membuat luka yang berusaha Ia kubur kembali mencuat dalam skala yang lebih besar.

"Aku tersenyum seakan tak ada yang salah, berbicara seakan baik-baik saja, dan berpura-pura kalau aku tidak sakit. Dan yang kaulakukan cuma bisa membuat hatiku semakin sakit dengan sikap diammu itu. " Sakura menatap Sasuke nyalang. "Bahkan ... untuk menyentuhku, kau pun enggan. Sebegitu menjijikannya diriku bagimu, suamiku, "

Sasuke meliriknya tajam, sebelah tangannya tampak mengepal. Entah kenapa perkataan Sakura barusan terdengar menjengkelkan. Iris hitam pekatnya menatap Sakura dari bawah sampai atas. Detik berikutnya pria itu melangkah cepat menghampiri Sakura.

Sebenarnya Sakura merasa takut melihat tatapan dingin Sasuke padanya, wanita itu memundurkan langkahnya ketika Sasuke berada semakin dekat dengannya. Memegang kedua bahu Sakura dan mendorongnya jatuh ke ranjang mereka bersamaan dengan Sasuke yang menindih tubuh Sakura.

"Apa yang kaulakukan! " Sakura terkejut sekaligus takut dengan perlakuan Sasuke dan mencoba melawan namun Sasuke dengan segera menahan kedua pergelangan tangan Sakura di samping kanan dan kiri kepala wanita itu. Tatapan Sasuke begitu tajam dan dingin menusuk iris hijau teduh Sakura, membuat nyali Sakura menciut menyelami netra hitam Sasuke.

"Kau bilang aku enggan menyentuhmu kan, kalau begitu biarkan aku menyentuhmu sekarang! " Sakura gelagapan mendengarnya, Ia bergerak gelisah kala Sasuke mendekatkan wajahnya. Bukan ini yang Sakura inginkan, bukan ini.

Bibir Sakura mengatup rapat seraya menutup kedua matanya takut ketika wajah Sasuke semakin mendekat. Tepat ketika hidung keduanya bersinggungan, gerakan Sasuke terhenti. Ia tatap wajah Sakura cukup lama sebelum ditutupnya kedua mata Sasuke, tampak rahang pria itu mengeras. Bayang-bayang Sakura dan Sai kembali berseliweran di otaknya, membuka luka yang berusaha Ia kubur dalam-dalam. Ia benci, Ia tidak suka, hatinya seketika menjerit kala membayangkannya.

Tak tahan lagi, Sasuke membuka kedua matanya, melepaskan cengkramannya di pergelangan tangan Sakura, lantas beranjak dari tubuh Sakura. Merasakan gerakan Sasuke yang menjauhinya, membuat Sakura membuka kedua matanya bingung dan mendudukkan tubuhnya. Dilihatnya Sasuke yang melangkah mendekati lemari pakaian, meraih asal pakaiannya dan memakainya cepat kemudian melangkah menghampiri pintu kamar.

Sakura meringis melihatnya, air matanya kembali menggenang di pelupuk matanya. Wanita itu menunduk sedih, Ia tak ingin Sasuke pergi, Sakura membutuhkan penjelasan pria itu segera bukan diabaikan kembali seperti ini.

"Berhenti! " teriak Sakura. Terlepas bagaimana nanti nasib rumah tangganya, yang terpenting sekarang ialah penjelasan dari Sasuke.

Sasuke terhenti tepat ketika pintu kamar terbuka namun pria itu tak menoleh.

"Kenapa? Kenapa harus seperti ini?! Aku butuh penjelasan darimu Sasuke! " jeritnya.

" ... "

" ... "

" ... "

Tak tahan dengan diamnya Sasuke, Sakura berdiri melangkah cepat menghampiri Sasuke dan memeluk tubuh tegap Sasuke dari belakang. Seraya terisak, didekapnya dengan erat tubuh Sasuke. "Aku mencintaimu ... " lirihnya.

"Katakan ... katakan apa yang harus kulakukan agar kamu memaafkanku, menerimaku seperti dulu lagi, " sambungnya yang sarat akan keputusasaan.

Sasuke terdiam cukup lama, sebelum tangannya bergerak untuk memegang kedua tangan Sakura yang melingkar di perutnya, melepaskan dengan pelan kemudian membalikkan badannya menatap Sakura. "Aku ... tak mengerti dengan diriku hingga seperti ini terhadapmu. " katanya pelan. Iris hitamnya tampak meredup.

Ada jeda sejenak dari Sasuke sebelum Ia kembali melanjutkan perkataannya. "Tapi, perlu kau tau, aku tidak membencimu. Bahkan saat peristiwa itu terkuak aku tak merasa aku membecimu, melainkan ... kecewa. "

Sakura menunduk sedih dengan bulir air matanya yang mengalir.

"Untuk saat ini, aku tak bisa berbuat apa yang kamu mau. Maaf. " setelahnya Sasuke berbalik dan berlalu dari hadapan Sakura. Sakura mengangkat wajahnya, menatap punggung Sasuke putus asa.

"Aku tidak mau! Aku sakit jika kau memperlakukanku seperti ini! " teriak Sakura. Wanita itu benar-benar sudah muak dengan sikap Sasuke yang terus saja mengabaikannya, Ia ingin semuanya jelas.

Sasuke berbalik dan balas berteriak dengan luapan emosinya. "Aku tidak bisa! Kaupikir aku tidak sakit?! Bukan hanya kau saja yang sakit tapi aku pun! " Sakura terdiam.

Sasuke mengatur napasnya yang sedikit memburu dan mencoba menenangkan dirinya. Diusapnya dengan pelan wajahnya agar sedikit lebih tenang. Ia menarik napas dalam dan menghembuskannya pelan. "Tentang apa yang menjadi masalah diantara kita, itu salahku. "

Sakura menatapnya dengan pandangan bertanya.

"Benar apa yang kaukatakan. Memang aku sudah memaafkan kesalahanmu tapi tidak dengan hatiku. Masalahnya ada pada diriku yang belum bisa menerimamu. "

Hati Sakura merasa tercubit mendengarnya, wanita itu tak menyangka luka yang Ia torehkan di hati Sasuke sebegitu pedihnya hingga pria yang menjadi suaminya itu sulit untuk menerimanya kembali. Sakura tertawa miris. Ia merutuki pemikirannya barusan, tentu saja sangat sulit memaafkan dan menerima orang yang sudah mengkhianati janji suci pernikahan.

"Aku sedang melawan diriku sendiri dari bayang-bayang kalian berdua. Memang aku tak pernah tau apa yang kalian lakukan di belakangku. Tapi, setidaknya aku bisa berimajinasi membayangkan kelakuan kotor kalian. Kau tau, hatiku sakit setiap kali membayangkannya. " iris hitam Sasuke tampak berkaca-kaca, pria itu mengalihkan pandangannya.

Ingatan pria itu berputar dimana Sasuke menangis setiap kali membayangkan kelakuan Sai dan Sakura di belakangnya. Ia tak pernah menyangka dibalik kehidupan rumah tangganya yang bisa dibilang bahagia berubah menjadi perih yang Ia rasakan. Meski berulang kali Sakura mengatakan, wanita itu terpakasa melakukan itu karena mendapat tekanan, namun tetap saja luka yang sudah ditorehkan akan sulit untuk disembuhkan.

Sakura membekap mulutnya dengan punggung tangannya, meredam isakannya yang kali ini terasa begitu menyakitkan. Apa yang selama ini Ia rasakan benar jika Sasuke belum bisa menerimanya kembali. Sakura begitu menyesal, Ia sudah mengkhianati kepercayaan Sasuke, melukai hati pria yang begitu tulus mencintainya. Kalau saja waktu itu Sakura tak menerima kembali untuk bekerja di tempat Sai, mungkin ini semua tak akan terjadi dan kehidupan rumah tangganya bersama Sasuke baik-baik saja.

Melihat tak ada satu kata pun yang keluar dari bibir Sakura, Sasuke pun memilih berlalu dari hadapan Sakura. Kali ini Sakura tak mencegah, wanita itu membiarkan Sasuke pergi karena Sakura tahu, tak ada artinya lagi wanita itu mencegah suaminya pergi.

Sakura terduduk di lantai, memegang dadanya seraya terisak. Hancur sudah hatinya, tak ada harapan lagi untuknya mengambil hati Sasuke kembali.

.

.

.

Dalam gelapnya malam, Sasuke memacu mobilnya kencang beruntung jalan yang Ia lewati terbilang sepi. Ia merasakan sesak yang luar biasa di hatinya, membuatnya tak bisa berpikir tenang. Kilasan memori peristiwa itu memenuhi pikirannya ditambah wajah tangis Sakura membuatnya menggeram kesal. Dengan cepat Ia menepikan mobilnya. Diusapnya wajah yang seringkali menampilkan wajah datarnya itu dengan gusar.

Brak!

Ia memukul stir mobilnya kesal kemudian menumpukan kedua lengannya di stir mobil. Wajahnya tertunduk, tersembunyi di lipatan tangannya. Matanya perlahan terpejam, mencoba menenangkan dirinya.

Menit berikutnya cairan mening tampak keluar dari mata Sasuke yang terpejam, menuruni pipi tirusnya. Bibirnya tampak bergetar.

Sasuke menangis. Runtuh sudah pertahanannya, tak dapat Ia pungkiri bahwa hatinya begitu perih Ia rasakan. Selalu berakhir seperti ini setelah dengan seenaknya bayang-bayang itu menguasai otaknya, membuatnya terpuruk dalam jurang kesakitan.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Hari demi hari pun berlalu ...

Tampak Uchiha Sarada yang duduk dengan menyanggah kedua tangannya di dagu. Diabaikannya adonan kecil di depannya yang sudah tak berbentuk dan memilih memperhatikan Sakura yang sibuk membersihkan peralatan memasak. Pasangan Ibu dan anak itu baru saja selesai membuat kue bersama dalam bentuk karakter boneka yang lucu-lucu. Sebenarnya ini juga bagian dari percobaannya membuat menu baru untuk cafe yang baru saja Ia buka beberapa bulan yang lalu.

Berhenti bekerja bukan berarti Sakura tak melakukan apapun selain mengurus Sarada dan menjadi Ibu rumah tangga. Wanita yang identik dengan surai pinknya itu mencoba membuka usaha cafe kecil-kecilan untuk kegiatan sampingannya dengan menggandeng Tenten, wanita keturunan China yang juga salah-satu sahabatnya.

Sakura mengelap meja dari remah-remah bahan adonan. Diliriknya sang putri yang ternyata tengah memperhatikannya dengan kedua tangannya yang menyanggah pada dagunya. Sakura menghentikan gerakannya sejenak kemudian memiringkan wajahnya menatap Sarada. "Hmm? "

Sarada berjengit melepaskan sanggahan lengannya di dagu, kemudian menggelengkan kepalanya lucu. Sakura mengerjapkan matanya sesaat kemudian tersenyum. Ia pun melanjutkan kembali kegiatannya.

Kikikkan rendah keluar dari bibir Sakura saat tak sengaja menatap adonan Sarada yang tak terbentuk hanya dikepal-kepal saja. "Apa yang kamu buat Sara-chan? "

Sarada mengikuti arah pandang Sakura kemudian mengerucutkan bibirnya imut. "Sara-chan tidak bisa buat kue seperti yang Mama buat. "

Sakura mengusap surai hitam putrinya. "Tak apa sayang. Tadi kan, Sara-chan dan Mama sudah buat bersama-sama. " hibur Sakura. Sarada pun mengangguk. Sakura tersenyum simpul kemudian membersihkan adonan Sarada yang tak terbentuk dan mengelap meja kembali.

"Kuenya masih belum jadi ya Ma? " tanya Sarada.

Sakura menoleh kemudian mengangguk. "Ya sayang. Baru saja kuenya masuk oven, kita tunggu sampai mengembang setelah itu baru kita hias. " ujarnya seraya menata mangkok berisi toping untuk menghias kue.

"Tapi Sara tenang saja, Mama sudah siapkan kue yang sudah jadi dan tinggal dihias. " sambung Sakura. Wanita itu menghampiri oven yang lain dan mengeluarkan kue yang sudah jadi dan meletakkannya di meja. Sakura mulai menghiasnya dengan toping yang sudah Ia siapkan dengan Sarada yang asik mencomot permen warna-warni.

"Mama ... "

"Hm? "

Sarada mencolek saus kacang dan memasukkannya di mulut kecilnya, kemudian memperhatikan Sakura yang tengah membuat mata pada kue berbentuk kepala panda. "Kapan Papa pulang? " ujarnya pelan.

Sakura sempat menghentikan gerakannya, kemudian menatap diam putrinya.

Sarada menghela napas pelan kemudian melipat kedua lengannya di meja. "Apa Papa sudah tidak sayang Sara lagi ya? " ujarnya murung.

Menyadari wajah murung putrinya, Sakura pun menghentikan kegiatannya. Dipeluknya sayang kepala putrinya dengan sesekali mengusap surai hitamnya. "Kenapa Sara-chan berkata seperti itu? Bukankah Papa sangat menyayangi Sara-chan, "

"Tapi sekarang Sara tak pernah melihat Papa. Papa tak pernah pulang, " gumamnya sedih.

Sakura menengkannya. "Pekerjaan Papa di kantor sangat banyak, mungkin itu sebabnya Papa belum pulang. Sara-chan jangan bersedih, pasti Papa pulang. " hiburnya.

"Sara-chan rindu Papa, "

Sakura tertegun mendengarnya. Ia sangat mengerti kerinduan yang sangat dirasakan sang putri pada Sasuke. Dua bulan sudah pria itu tak menginjakkan kakinya di rumah pasca pertengkaran mereka malam itu. Ia sudah mencoba menghubungi Sasuke dengan alasan Sarada yang terus saja menanyai keberadaan Sasuke, namun nomor Sasuke tak bisa dihubungi. Ia baru mendapat kabar dari Sasuke ketika mengunjungi kantor Sasuke bahwa Sasuke melakukan kunjungan bisnisnya di Barcelona.

Tapi, di balik itu semua Sakura tahu tak pulangnya Sasuke bukan hanya karena alasan pekerjaannya tapi juga menghindarinya. Karena Sakura tahu, pria itu selalu menyelesaikan kunjungan bisnisnya singkat tak pernah sampai berlama-lama, bahkan pria itu tak mengabarinya.

Sakura menguatkan hatinya. Hubungannya dengan Sasuke semakin tak mendapat kemajuan saja. Ia pun juga tak lagi memikirkan pertengkaran mereka waktu itu. Satu yang Ia tangkap dari perkataan Sasuke waktu itu ialah Sasuke masih belum bisa menerimanya meski peristiwa itu sudah setaun berlalu. Luka yang sudah Sakura torehkan di hati Sasuke begitu dalam. Dan Sakura cukup sadar diri untuk tidak memaksa Sasuke kembali menerimanya. Bagaimana pun juga, seseorang yang sudah menghianati pasangan akan sulit untuk kembal menerima seperti dulu. Tak ada manusia yang sempurna, begitu pun suaminya yang hanya manusia biasa.

Sakura sudah memikirkannya matang-matang bahwa kini Ia menyerah. Menyerah dengan perasaannya. Sakura sudah tak peduli lagi tentang perasaannya, sekarang yang terpenting ialah Sarada. Bahkan Sakura siap, jikalau suatu saat suaminya memilih berpisah dengan kemungkinan buruknya Sakura akan kehilangan hak asuh Sarada yang sudah pasti akan direbut Sasuke.

Sakura hanya menunduk sedih seraya mengusap sayang surai hitam putrinya. Jika hal itu benar terjadi, Sakura berjanji Ia juga akan memperjuangkan hak asuh putrinya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Barcelona, Spain 11.45 PM

Bunyi toaster mengalihkan perhatian Itachi. Pria bersurai hitam panjang diikat itu meletakkan ponselnya kemudian mengangkat roti dari pemanggang dan meletakkannya di piring.

Sejenak, diliriknya Sasuke yang masih asik menikmati suasana kota Barcelona di balkon apartemennya, sebelum dirinya menuang minyak zaitun pada roti kemudian mengolesnya dengan saus tomat segar. Setelahnya, kakak dari Uchiha Sasuke itu membawa dua piring roti ke balkon.

"Pa amb tomaquet, " gumam Itachi seraya meletakkan roti panggang tersebut di meja samping Sasuke.

Sasuke menoleh kemudian mengangguk. "Aa. " diliriknya sejenak Pa amb tomaquet, roti tawar yang diolesi buah tomat buatan Itachi. Itachi mendekat, berdiri di samping Sasuke, ikut menikmati keindahan kota Barcelona di malam hari.

Barcelona merupakan sebuah kota metropolis, a Roman city, memiliki keindahan arsitektur yang menakjubkan, tata kota yang baik, rapi dan teratur. Adalah kota kedua terbesar di Spanyol, setelah Madrid. Hal yang mengundang decak kagum adalah meski sebuah kota metropolis, traffic di jalan-jalan terbilang teratur. Bahkan tidak terlihat kemacetan-kemacetan di jalan raya.

Barcelona memiliki iklim Mediteranea, sehingga meski winter times tiba, masih cukup nyaman baik untuk dikunjungi atau pun ditinggali, karena tidak begitu dingin. Pada spring times, temperatur dan iklim juga cukup bersahabat.

Saat siang, semuanya nampak hiruk pikuk penuh kesibukan, namun ketika malam menjelang kota bermandikan cahaya yang mempesona bertabur warna-warni lampu di malam hari. Sungguh indah.

"Minggu depan Aku akan kembali ke Jepang. " gumam Itachi memecah keheningan diantara kakak dan adik tersebut. Sasuke meliriknya sebentar, kemudian menyibukkan dirinya dengan kamera yang menggantung di lehernya, tanpa berniat menyahut.

Helaan napas keluar dari bibir Itachi, iris hitam kakak Sasuke itu menatap kerlipan bintang di langit malam. "Aku merindukan istriku, sedang apa Konan di sana? Dia terus saja mengomel kapan aku pulang, kapan aku pulang. Dia tidak tau pekerjaanku di sini begitu padat. " dengusnya.

Sasuke hanya diam mendengarkan, netra hitamnya tampak asik menikmati potret dalam kameranya.

Menyadari tak mendapat sahutan dari Sasuke, Itachi menoleh. Pria itu melongokkan kepalanya melihat potret dalam kamera tersebut. Bibirnya seketika menyunggingkan sebuah senyum simpul melihat potret tersebut. "Sarada-chan dan juga Sakura-chan. Sepertinya kau mengambilnya diam-diam. "

Sasuke menoleh. "Hn. Begitulah, "

"Putrimu tampak manis dengan yukata merahnya, Sakura juga cantik. Tanabata kah? " tebak Itachi melihat potret Sarada dan Sakura yang tersenyum ketika mendapatkan boneka kelinci dari si penjual karena berhasil memenangkan permainan.

"Aa. " gumam Sasuke dengan senyum tipisnya. Kemudian melihat foto-foto yang lain. Diam-diam Itachi memperhatikan raut wajah Sasuke. Tak ingin mengganggunya, Ia pun memilih duduk di kursi sembari menikmati pa amb tomaquet.

"Makanlah, keburu dingin. " kata Itachi setelah cukup lama menikmati rotinya sendiri. Sasuke menurut dan bergabung di meja.

"Aku sedang malas pergi keluar, jadi kubuatkan yang ada saja. " jelas Itachi. Sasuke mengangguk, tanpa berkata lagi Ia pun menikmati makanannya.

Rasanya enak, Ia suka. Sasuke teringat saat pertama kali menikmati roti khas Barcelona yang Ia kira hanya roti biasa yang diolesi saus tomat. Namun setelah mencobanya, Ia begitu menyukai rasanya yang berbeda dari roti yang biasa Sasuke makan. Pa amb tomaquet merupakan roti tawar yang tebal dan asin dituangi minyak zaitun hingga basah, lalu diolesi tomat segar hingga roti itu tampak basah dan lembek. Tak sia-sia Sasuke mengantri panjang waktu itu, hanya untuk mendapatkan Pa amb tomaquet yang rasanya begitu lezat.

Itachi melipat kedua lengannya di dada, memperhatikan Sasuke yang begitu tenang menikmati rotinya. Biasanya Sasuke menikmati pa am tomaquet di pagi hari saat sarapan, dikarenakan Itachi yang sedang malas pergi keluar dan hanya ada bahan itulah yang bisa Itachi buat untuk mengisi perut kosongnya.

"Kapan kau akan kembali ... " gumaman rendah Itachi membuat gerakan mengunyah Sasuke terhenti seraya menatap Itachi. Namun hanya sesaat karena setelahnya, Sasuke merendahkan wajahnya menatap piring berisikan roti panggang dengan raut tak terbacanya.

Itachi menghela napas seraya menutup kedua matanya sesaat kemudian membukanya. "Tiga bulan sudah kau di sini yang bisa dikatakan cukup lama untuk orang sepertimu. Urusanmu di sini sudah selesai dua bulan yang lalu kan?" Sasuke menatap Itachi cepat.

"Tak penting aku tau dari mana, " sambung Itachi santai yang menyadari raut wajah Sasuke seolah berkata 'Kau tau dari mana'

Itachi menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi seraya mengalihkan pandangannya menatap langit malam. "Aneh saja melihatmu berlama-lama di sini, sedangkan urusan bisnismu sudah selesai sejak awal. "

Sasuke memicingkan matanya tajam. "Kau mengusirku?! " katanya sensitif. Diletakkannya roti yang baru beberapa Ia gigit di piring. Mendadak Sasuke jadi tak selera dengan santapannya, padahal pa amb tomaquet termasuk menu favoritnya.

Itachi meliriknya sebentar kemudian tertawa. "Oh ayolah, kau tau aku tak akan pernah berpikir seperti itu. " Sasuke buang muka, lantas berdiri berkacak pinggang membelakangi Itachi.

"Apa terjadi sesuatu antara kau dan ... Sakura? " tubuh Sasuke sedikit menegang saat nama Sakura muncul meski hanya sesaat dan itu tertangkap oleh penglihatan Itachi meski Sasuke mampu menutupinya dengan baik.

"Tidak terjadi apapun diantara kami. " gumam Sasuke.

Itachi mengerti. Ia pun lantas berdiri, menatap Sasuke yang masih memunggunginya. "Kau masih belum bisa memaafkan kesalahannya dan kalian bertengkar? "

Sasuke membalikkan badannya dan menatap tajam Itachi. "Jangan asal bicara jika tak tau! " geramnya.

"Konan tau tentang hubungan kalian yang kini menjadi kaku setelah peristiwa itu, dan dia menceritakannya padaku! " balas Itachi cepat tak kalah tajam.

"Aku memang tak tahu sekaku apa hubungan kalian, tapi ... melihatmu sekarang membuatku percaya dengan apa yang Konan katakan padaku. " sambungnya. Pasalnya, saat Itachi mendapati Sasuke mendatangi apartmennya Itachi pikir itu karena sebuah bisnis. Namun Itachi menyadari ada yang lain, karena beberapa kali Ia mendapati Sasuke sering melamun dengan pandangan kosongnya.

Sasuke terdiam. Damn! Konan, tentu saja kakak iparnya itu tau karena dia pernah menjadi saksi saat peristiwa itu terjadi dan apa sekarang? Bahkan Konan diam-diam menyadari hubungannya dengan Sakura yang tak seperti dulu, terkesan kaku tak ada kehangatan.

Sasuke menghela napas berat. "Aku sudah memaafkannya, asal kau tau. "

"Kau memaafkannya, tapi belum bisa menerimanya. Apaan tuh? Itu sama saja kau menyakiti hatinya. "

Sasuke meliriknya tajam. "Aku! ... " perkataannya menggantung, serasa tenggorokannya seakan kian menyempit hingga Ia tak mampu membalas perkataan Itachi. Ia pun mengalihkan pandangannya kesal. Sasuke tak bisa mengelak karena perkataan Itachi memang benar.

Hening diantara mereka, hingga Sasuke memutuskan memunggungi Itachi lagi. Menyanggah kedua lengannya pada railing pembatas balkon dengan sedikit menyondongkan badannya. Banyak yang terpikirkan di otak Sasuke, namun dia sendiri bingung harus bagaimana.

Itachi menghela napas pelan melihat Sasuke yang terdiam cukup lama. "Apa maumu? "

" ... "

" ... "

"Aku ... tak mengerti dengan diriku sendiri. Perasaanku begitu campur aduk tak karuan jika membahasnya. Hubunganku dengan Sakura memang tak berjalan baik seperti dulu. Sesuatu dalam diriku terus saja mendorong untuk tidak memaafkan seseorang yang sudah berkhianat. " Iris hitamnya memandang hampa keindahan malam Barcelona.

"Dan berakhir dengan kau yang mengabaikannya, karena kau merasa tertekan dengan perasaan itu semua. " sambung Itachi seraya berdiri di samping Sasuke.

Sasuke tak menjawab, sekali lagi Ia membenarkan perkataan Itachi. Tak hanya Konan, Itachi pun mampu merespon apa yang terjadi dengannya cepat.

Ditatapnya wajah sang adik dari samping. "Bagaimana jika Sarada tau? Putrimu akan bingung dengan sikap kalian. "

Sasuke meliriknya sebentar. "Akal sehatku masih berfungsi. Bagaimana pun kacaunya pikiran dan perasaanku, aku tak pernah menunjukkannya di depan putriku. "

Itachi bersyukur mendengarnya. Setidaknya Sarada tak menjadi korban dari sikap kedua orangtuanya.

Itachi memasukkan sebelah tangannya di saku celananya. Selalu menyenangkan menikmati kota Barcelona dari balkon. Karena dari tempatnya berdiri Ia bisa melihat Torre Agbar. Menara indah yang menjadi ikon Barcelona abad ini. Keindahannya makin terasa di malam hari.

"Butuh waktu untuk memaafkan, dan lebih banyak waktu melupakan. Meski mulut mengatakan maaf tapi hati tak bisa bohong dan selalu mengingat penghianatan itu, bukan begitu adikku? " ujar Itachi tanpa menoleh.

Raut wajah Sasuke tampak menegang. Pria itu tak menjawab perkataan Itachi.

"Menerima adalah hal pertama yang kau butuhkan sebelum memasuki tahap memaafkan. Bukan menerima dalam artian memaklumi tindakan perselingkuhan yang dilakukannya, melainkan menerima kenyataan bahwa semua manusia bisa melakukan kesalahan, termasuk dirimu sendiri. Tidak ada manusia yang sempurna termasuk dirimu sendiri. " Itachi menautkan kedua tangannya pada railing pembatas balkon sebelum kembali melanjutkan perkataannya.

"Namun, memaafkan tentunya bukan proses instan. Karena manusia bukan hanya memiliki hati, tapi juga otak. Hatimu mungkin sudah siap untuk memaafkannya, tapi otakmu terlanjur menyimpan memori tersebut dan terus aktif membayangi pikiranmu. Akibatnya niat untuk memaafkan surut kembali. "

Sasuke tertegun, apa yang dikatakan Itachi seperti apa yang tengah Ia alami. Berada dalam keterpurukan dan rasa sakit yang tak pernah hilang. Memaafkan adalah proses di hati, sedangkan melupakan adalah proses di otak. Yang dibutuhkannya adalah keniatan yang kuat memaafkan dan menerima dengan tulus. Sedangkan melupakan bisa menyusul kemudian. Bukankah ada pepatah 'Waktu akan menyembuhkan luka?'

Itachi menoleh menatap Sasuke. "Kalau memang kau berniat mempertahankan pernikahanmu, memaafkan mutlak diperlukan. Karena memaafkan adalah sebuah pembebasan bagi hati dan jiwa. Kupikir, Sakura melakukannya bukan karena keinginannya seperti apa yang orang-orang lakukan ketika mereka berselingkuh. Istrimu melakukannya karena berada dalam tekanan dari pria itu yang tergila-gila dengan Sakura. "

Rahang Sasuke mengeras meengingat pria yang sejatinya tak ingin Ia dengar lagi, pria yang sudah merusak rumah tangganya dengan Sakura. Sasuke muak dan marah. Ia pikir Sai adalah sosok yang baik untuk Sakura karena sikapnya yang begitu bersahabat dengan Sakura. Tak disangka diam-diam Sai menaruh hati dan tergila-gila dengan istrinya. Ingin rasanya Sasuke memukulinya, seperti apa yang biasanya para pria lakukan jika ketenangan sebuah hubungan terusik oleh orang lain yang mencoba merusaknya. Tapi Uchiha Sasuke memilih dengan logikanya ketimbang membuang-buang tenaga, karena Ia tahu itu sama saja Ia melakukan tindakan bodoh.

Tap.

Itachi menepuk bahu adiknya, untuk menguatkannya. "Jika kau masih memiliki sedikit ruang di hatimu untuk Sakura, cobalah untuk menjalani prosesnya dengan ikhlas. Setiap kali otakmu memutar kembali film basi itu, pikirkan apa yang membuat dirimu pertama kali menyukai sosok istrimu. Tentang kalian berdua. Jangan mengungkit-ungkit peristiwa itu di depannya. "

Sasuke menoleh sesaat kemudian menundukkan wajahnya. Mendadak memori dirinya dan Sakura berputar di otaknya. Saat pertama kalinya Sasuke bertemu dengan Sakura, lewat sebuah kucing yang tampak kesakitan ingin melahirkan. Sasuke ingat saat itu Sakura panik, menyeretnya dan memaksanya untuk membantu si kucing melahirakan padahal saat itu Sasuke kesiangan dan ada ujian pagi. Sasuke menurut, kemudian membawa kucing tersebut ke dokter hewan terdekat. Dari situ hubungan mereka mulai terjalin.

Itachi terdiam cukup lama, memperhatikan raut wajah Sasuke yang tak bisa Ia lihat. "Namun, bila itu semua tak bisa membuatmu memaafkan dan menerimanya kembali ... lebih baik berhentilah menyiksa diri. Mungkin bercerai adalah langkah yang terbaik. Karena sering kali terjadi setelah bercerai seseorang justru mulai bisa memaafkan dan menerima pasangannya. "

Tubuh Sasuke menegang seketika dan Itachi tahu itu. Sasuke kembali menatap Itachi, namun kali dengan pandangan tak terbacanya. Ia merasakan sesak di relung hatinya. Bayangan wajah menangis Sakura memenuhi otaknya membuatnya merasakan perasaan bersalah.

Ting tong ... Ting tong

Bunyi bel mengalihkan perhatian Itachi. "Sepertinya Kisame sudah datang. " gumamnya seraya masuk ke dalam.

Tak lama, Itachi kembali membawa orange juice. "Maaf aku lupa memberimu ini. " ujarnya meletakkan minuman di meja. Sasuke tak menjawab hanya memperhatikan Itachi yang tengah membereskan meja.

"Sejujurnya ... Aku tak ingin berpisah dengannya. Tapi hatiku tak bisa yang dia torehkan di hatiku terlalu dalam. " ucapnya sendu.

Itachi menarik napas dan menghembuskannya pelan. Ia mengerti apa yang tengah dirasakan adiknya. Sasuke tengah mati-matian melawan dirinya sendiri dari bayang-bayang perselingkuhan tersebut. Dan Itachi tahu itu tidaklah mudah. Dalam hati Itachi berdo'a agar kehidupan rumah tangga adiknya kembali seperti dulu.

"Jangan menghakimi seseorang karena masa lalunya, Sasuke. Setiap orang pasti pernah salah. Dan setiap orang pasti belajar dari kesalahannya. " Itachi melangkahkan kakinya berdiri di depan Sasuke.

"Tak ada yang bisa mengatasi persoalan ini kecuali dirimu sendiri. Yang bisa kulakukan sekarang hanya memberimu nasehat dan saran. Pikirkan dan renungkan baik-baik. Aku percaya kau mampu mengambil keputusan yang baik dan keluar dari kungkungan rasa kecewa yang menghimpitmu selama ini. "

Itachi menampilkan senyumnya, diulurkannya sebelah lengannya untuk menepuk kepala Sasuke. Setelahnya Itachi kembali menghampiri meja, mengambil piringnya yang sudah kosong. "Aku ada janji dengan Kisame. Jangan lupa minum orange juice nya. Aku tak memberimu kopi kali ini karena yang kau butuhkan sekarang adalah istirahat yang cukup. Aku pergi. " setelahnya Itachi berlalu dari hadapan Sasuke.

Sasuke beringsut duduk di kursi. Hening melanda pasca kepergian Itachi. Ia memandang kosong roti panggang buatan Itachi yang mungkin sudah tak hangat lagi. Dan malam itu Ia gunakan untuk merenung.

.

.

.

.

.

Tbc

Yakkkk :v Sasukenya lagi bimbang dengan perasaannya. Hayolo Sas keputusan apa yang bakal kamu ambil? Berpisah atau Bertahan?

Buat kalian semua yang sudah review, fav, fol makasih sekali, ^_^

Special thanks

Charlotte Puff, coalacolacola, zarachan, 1, poshtwatt, lightflower22, Mustika447, , uchihana rin, Nurulita as Lita-san, Dyn Adr, chiko akira, guest, Yanti Sakura Cherry, Kirara967, kakikuda, Desta Soo, Jamurlumutan462, shirazen, Frizca A, uchiha della.

Sampai jumpa di chap depan ^^

Salam manis dari saya,

JJ Ichiro.