Disclaimer

'Naruto'

Belong to

'Masashi Kishimoto'

Story JJ Ichiro

.

.

.

.

.

.

.

.

Warning! Ooc, typo, alur berantakan, eyd diragukan dan kesalahan lainnya mohon dimaafkan.

.

.

.

.

.

.

.

.

Uchiha Sasuke x Haruno Sakura

.

.

.

.

.

.

.

DILARANG COPY PASTE!

Tolong hargai karya saya! Jangan asal comot tanpa ijin dan tanpa mencantumkan sumbernya!

.

.

.

.

.

.

Don't like? Don't read!

.

.

.

.

.

Sakura baru saja selesai dari acara mandinya. Wanita itu keluar dari kamar mandi dengan handuk yang menutupi tubuh polosnya sampai paha, melangkah menghampiri lemari pakaiannya dan meraih beberapa potong pakaiannya dari sana. Helaan napas keluar dari bibir Sakura, Ia baru bisa menyempatkan mandi karena dari tadi Ia sibuk mengurus Sarada yang sedang demam tinggi, tapi untunglah panasnya sudah turun setelah Sakura meminumkannya obat.

Wanita itu melepaskan handuk yang melilit tubuhnya, diraihnya celana dalamnya yang kemudian Ia pakai. Tetes-tetes air yang jatuh dari ujung rambut basahnya membuat Sakura dengan segera meraih handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya.

Cklek'

Iris hijau teduhnya bergulir menatap ke arah pintu kamar yang terbuka, menampilkan sosok Uchiha Sasuke dengan balutan jas biru tua, berdiri menatapnya dengan pandangan kaku. Sakura menatapnya dengan dahi berkerut saat pria itu memalingkan wajahnya ke samping setelah beberapa saat iris mereka saling bertemu tatap.

Sakura melambatkan gerakan menggosok rambut basahnya. Detik berikutnya Ia tersentak kaget menyadari keadaan tubuhnya yang masihlah polos dibagian atas, hanya celana dalamnya yang melekat menutupi bagian intim bawahya. Sakura menoleh cepat menatap Sasuke yang masih memalingkan wajahnya. Raut wajah Sakura memerah seketika. Dengan gerakan cepat wanita itu meraih handuknya dan melilitkannya di tubuhnya.

Sakura membalikkan tubuhnya memunggungi Sasuke dengan kedua tangannya memegang erat ujung simpul handuknya. "Bi-bisakah kaukeluar dulu? " ucapnya gugup.

Sasuke melirik melalui ujung matanya. Tanpa berkata apapun pria itu keluar dari kamar.

Grep.

Sakura menghela napas berat seiring iris hijaunya menatap pintu yang tertutup. "Ya Tuhan, apa yang terjadi barusan? Kenapa aku tak menyadari kehadirannya. Dia kembali, dia kembali. Bagaimana ini ... " netra hijau teduhnya bergerak-gerak gelisah. Wajahnya merah padam mengingat kejadian barusan, sungguh Ia malu bercampur kaget saat netra hitam suaminya menatap dirinya dengan keadaan tubuhnya yang polos menyisahkan celana dalamnya saja. Dan bodohnya Sakura baru menyadari keadaanya yang belum memakai pakaiannya saat Ia merasakan semilir angin yang menerpa kulitnya.

"Sial! "

.

.

Sasuke menyandarkan tubuhnya di tembok samping pintu kamar. Kedua lengannya terlipat di dada dengan kedua netra hitamnya yang menutup. Namun itu tak lama, karena netra hitamnya kembali terbuka. Salah-satu lengannya terulur untuk mengusap wajahnya yang terlihat kaku. Bayang-bayang tubuh polos Sakura berseliweran nakal di otaknya. Tubuh putih polos itu, gerakan tangan Sakura yang terlihat sensual di matanya saat menggosok rambut basahnya, seiring dengan kedua payudara Sakura yang bergerak-gerak gemas akibat gerakan tangan Sakura. Kulit putih Sakura, paha mulus Sakura yang terpampang jelas di matanya membuat sesuatu dalam dirinya bergejolak hebat.

Damn!

Kenapa Ia jadi berpikir mesum hanya dengan menatap tubuh polos istrinya.

Cklek!

Sasuke menoleh cepat begitu pintu kamar terbuka menampilkan Sakura dengan busana rumahnya. Iris mereka bertemu tatap. Wajah kaku Sasuke dan wajah gelisah bercampur bingung Sakura. Keduanya diam membisu. Langkah Sakura sempat terhenti menatap diam Sasuke dengan kerutan samar di dahinya, sebelum wanita itu memilih melewatinya tanpa berkata apapun.

Sasuke menghela napas kasar menatap punggung Sakura.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sakura mendudukkan dirinya di kursi dekat ranjang Sarada dimana putrinya itu tengah tertidur dengan napas yang teratur. Ibu satu putri itu memperhatikan raut wajah damai Sarada saat tidur. Wanita itu menghela napas lega setelah mengecek suhu badan Sarada yang sudah mulai menurun. Kedua tangan Sakura terulur untuk menggenggam telapak tangan putrinya. "Cepat sembuh ya sayang, " gumamnya.

"Ehem. "

Sakura menolehkan kepalanya begitu mendengar deheman, dan menemukan Sasuke yang perlahan menghampirinya dengan salah-satu tangannya tersembunyi di saku celananya, berdiri di sampingnya.

Melihat pria itu, seketika membuat Sakura mengalihkan perhatiannya mengingat kejadian di kamar yang menurut Sakura memalukan. Bisa-bisanya pria itu masuk saat Ia tengah mengganti pakaiannya.

"Sayang sekali, padahal aku ingin mengajaknya keluar. " suara berat Sasuke membuat Sakura menatapnya sekilas kemudian melarikan pandangannya menatap Sarada.

"Dia sakit. " ucap Sakura pelan.

Raut kekhawatiran tampak di wajah tampan Sasuke. "Sakit? ... kalau begitu kita bawa Sarada ke rumah sakit sekarang. " Sasuke sudah akan meraih tubuh putrinya ketika Sakura menahan lengannya.

"Aku sudah membawanya ke dokter. Tak perlu khawatir, dokter bilang hanya demam. " cegah Sakura seraya melepaskan tangannya di lengan Sasuke.

Sasuke menegakkan badannya lagi kemudian menatap Sarada. "Bagaimana keadaannya sekarang? " tanyanya.

"Demamnya sudah turun setelah aku meminumkannya sirup penurun panas. " Sakura menarik napas dan menghembuskannya perlahan. "Rasanya pagi tadi aku melihatnya bermain bersama temannya dengan riang. Sorenya, aku melarangnya mandi dengan air dingin karena menyadari suhu badannya yang mulai menghangat. Aku khawatir dan panik saat melihatnya tertidur di sofa seraya mengigau tentang dirimu, dan kusadari bahwa Sarada demam tinggi yang langsung saja kubawa ke dokter. " cerita Sakura menatap sendu Sarada.

Rasa bersalah menyelimuti hati Sasuke. Ia sadar kepergiannya ke Barcelona pastilah membuat sang putri merindukannya. Apalagi Ia pergi dalam waktu lama, tiga bulan. Tiga bulan tak bertemu Sarada, sudah pasti Sasuke juga sangat merindukan putrinya.

Hening diantara keduanya. Jujur Sakura tidak suka dalam situasi hening seperti ini namun Ia cukup malas untuk memulai sebuah obrolan yang pada akhirnya tak ditanggapi oleh Sasuke. Sakura pun memilih diam.

"Maaf. " Sakura berjengit sesaat mendengar suara berat Sasuke memecah keheningan di antara mereka.

"Untuk yang tadi, aku tidak sengaja. " sambungnya. Rona merah muda kembali menghiasi pipi putih Sakura begitu Ia paham maksud perkataan Sasuke. Pria itu meminta maaf karena menerobos masuk kamar mereka dimana Sakura sedang tak berpakaian karena sehabis mandi.

"Tidak bisakah kau mengetuk pintunya terlebih dahulu?! " sindir Sakura antara kesal bercampur malu.

Sasuke memutar bola matanya bosan. "Untuk apa aku mengetuk kamarku sendiri, biasanya juga langsung masuk. Lagipula, biasanya juga kau memakai bajumu di kamar mandi. "

"I-itu ... " Sakura kehabisan kata-kata. Ia merutuki dirinya sendiri, benar biasanya juga Sakura akan mengganti bajunya di kamar mandi. Namun karena Ia sibuk mengurus Sarada, Ia kelupaan membawa baju gantinya ke kamar mandi dan memilih menggantinya di kamar saja. Lagipula Ia pikir Sasuke juga tak ada di sini, jadi tak masalah.

"Aku sibuk mengurus Sarada yang demam, buru-buru masuk kamar mandi hingga lupa bawa baju ganti. Dan, kenapa juga kau datang tiba-tiba begini. " bela Sakura masih dengan semburat merahnya.

"Pekerjaanku di Barcelona sudah selesai tentu saja aku pulang. " jawabnya enteng.

"Masalahnya kau masuk diam-diam, mengagetkanku. Seperti pencuri saja, " Sasuke mendengus tak percaya. "Pencuri? Kau saja yang tak mendengar suara bel saat aku memencetnya dengan membabi buta. Aku lewat pintu samping yang terbuka karena pintu depan yang terkunci. "

Sakura mengerucutkan bibirnya. "Tetap saja, itu membuatku malu karena kau yang tiba-tiba menerobos masuk. "

Sasuke menatapnya tak percaya. "Malu? Kau bertingkah seperti layaknya gadis perawan. Aku sudah melihat tubuhmu begitu juga dirimu, bahkan kita pernah melakukannya. "

Sakura mendengus sebal seraya menundukkan wajahnya, menyembunyikan rona merah akut yang menjalar di pipinya.

"Mama, " suara erangan Sarada membuat keduanya menoleh. Sakura mencondongkan tubuhnya agar lebih dekat dengan Sarada. "Sudah bangun, " sapanya yang diakhiri ciuman kasih di pipi putih Sarada.

Iris hitam putri Sasuke itu menatap sayu Sakura seraya mengangguk. "Dimana papa? " gumamnya. Sakura menelengkan wajahnya ke arah Sasuke yang berdiri di sampingnya. Sasuke mendekat, merendahkan badannya dengan menumpukan kedua lengannnya di samping ranjang yang Sarada tiduri.

"Papa di sini sayang, apa masih sakit? " ucap Sasuke dengan senyum tipisnya. Sakura menahan napasnya saat lengannya bersentuhan dengan lengan Sasuke, membuatnya menggeser sedikit tubuhnya ke samping. Entah kenapa setiap kali terjadi kontak fisik dengan Sasuke, memberikan efek yang luar biasa untuk tubuhnya. Ada perasaan canggung yang menyusup ke relung hati Sakura, padahal dulu biasa-biasa saja.

"Papa ... " haru Sarada. Sasuke tertawa kecil menatap wajah polos putrinya yang terlihat berkaca-kaca menatapnya. Ia pun mendekatkan wajahnya mencium kening dan pipi putrinya. Sarada mengulurkan lengannya memeluk leher sang ayah dengan penuh kerinduan. "Kenapa papa baru pulang?! " protesnya lucu.

Sakura menatap lembut keduanya. Tak ingin menganggu, Sakura pun beringsut mundur.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Tidak bisa, " gumam rendah Sakura, mengapit ponsel flipnya diantara pipi dan pundaknya. Kedua lengannya tampak sibuk memilah beberapa gaun malam yang tergantung rapi di lemarinya.

Wanita itu tengah bertelepon ria dengan Ino, sahabatnya. Ino mengajak Sakura mencari gaun untuk dipakainya di acara pesta ulang tahun putra pertama Naruto dan Hinata. Terdengar gerutuan kecil Ino di seberang telpon mendengar jawaban dari Sakura yang tidak bisa menemaninya.

Sakura menghela napas pelan, kemudian meraih dua gaun berwarna pastel dan hijau muda dari lemari. Iris hijau teduhnya sempat melirik Sasuke yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang dada dan hanya memakai boxer biru tua. Tetes-tetes air yang jatuh dari rambut basahnya mengalir menuruni dada bidangnya yang terbentuk, saat sebelah tangannya mengusap rambut basahnya dengan handuk kecil.

Tanpa sadar Sakura menelan salivanya susah. Betapa dulu Ia sempat menikmati tubuh atletis itu. 'Damn! Sasuke terlihat begitu mengggoda. ' ringis Sakura.

"JIDAT! "

Sakura memekik kaget hingga salah-satu gaun yang Ia pegang terjatuh. Cepat-cepat Sakura meraih ponsel flipnya dan menjauhkannya. 'Sial, suara Ino benar-benar memekakkan telinga.' gerutunya sebal. Dari seberang telpon Ino mengomel karena Sakura mengabaikan perkataannya. Sakura mendengus sebal dan mengatakan bahwa Ino tak perlu berteriak. Wanita itu juga merutuki dirinya sendiri karena asik memandangi tubuh Sasuke hingga tak mendengar apa yang Ino katakan.

Sakura memungut gaunnya yang terjatuh dan membawanya ke ranjang seraya mendudukkan dirinya di sana. Tampaknya Ino mulai tenang kembali dan menanyakan alasan Sakura tak bisa ikut ke butik.

"Kan sudah kubilang, Sarada baru saja sembuh dari sakitnya. Aku tak bisa meninggalkannya. Kalian pergilah, " ucapnya seraya memperhatikan salah-satu gaunnya.

"Suruh suamimu untuk menjaga Sarada sebentar. Ayolah, kita sudah jarang pergi bersama cari baju untuk pesta kan? " kata Ino di seberang telpon.

Iris hijau Sakura melirik Sasuke yang tengah sibuk menata surai hitamnya dengan jemarinya, di depan cermin meja riasnya. "Sepertinya tidak. Dia baru saja tiba dari Spain tiga hari lalu. " ujarnya pelan.

Terdengar helaan napas pasrah dari seberang telpon disusul dengan suara lemah Ino yang mencoba mengerti. "Baiklah. Apa boleh buat, aku pergi dengan yang lain. " Sakura mengangguk. "Aa. " tak lama sambungan telepon pun terputus.

Ting!

1 e-mail masuk yang Sakura lihat dari Tenten yang menanyakan janji bertemu di butik langganan mereka, yang langsung Sakura balas bahwa Ia tidak bisa ikut.

Asik berkutat dengan ponselnya, hingga Ia merasakan derap langkah kaki yang mendekat, membuatnya mengangkat wajahnya ke depan. Napasnya terasa tercekat begitu dilihatnya Sasuke melangkah menghampirinya. Netra hijau teduhnya bergerak gelisah bersamaan detak jantungnya yang menggila saat Sasuke semakin mendekat padanya. "A-apa yang kaulakukan, " gugupnya seraya memundurkan kepalanya ketika pria itu merendahkan tubuhnya.

Sasuke menatapnya diam untuk beberapa saat, hingga suara beratnya memecah keheningan diantara mereka. "Mau ambil baju. Itu baju aku kamu duduki. "

Sakura terkesip kemudian menoleh pada ranjang yang Ia duduki, dan benar saja Ia menduduki baju Sasuke. Wanita itu pun langsung berdiri dan menunduk malu. "Maaf. " cicitnya.

Sasuke melirik dengan smirk andalannya, sebelum tangannya terulur meraih bajunya. Mengibaskannya sesaat kemudian memakainya. Langkah tegasnya kembali menghampiri meja rias Sakura, menatap pantulan dirinya di cermin.

Sakura menghela napas berat, Ia mencoba menormalkan detak jantungnya yang berdetak kencang. Astaga, apa yang Ia pikirkan? Mengira Sasuke mau menciumnya yang ternyata hanya mengambil baju yang Ia duduki. Sakura segera merutuki dirinya sendiri karena berpikir yang tidak-tidak. Hubungannya dengan Sasuke saja masih kaku, mana mungkin Sasuke mau melakukan itu.

Menggelengkan kepalanya cepat, Ia pun beralih meraih kedua gaunnya yang tergeletak, membawanya ke lemari pakaiannya. Sejenak, Ia pandangi kedua gaunnya. "Sepertinya aku lupa, beberapa gaunku di sini terlalu besar karena kupakai saat mengandung Sarada, " desahnya pelan.

"Tentu saja kebesaran. Dadamu yang kecil juga tidak akan terlihat jika kaumemakainya. " sahut Sasuke tanpa menoleh.

Telinga Sakura seakan panas mendengarnya. Ia menjadi sensitif saat tiba-tiba Sasuke menyinggung soal dadanya. "Aku dengar itu. " desis Sakura.

"Bagus kau tau, " ucapnya seraya menoleh menatap Sakura. "Cari baju yang lain, yang pas di tubuhmu. Atau, jika kau tetap memakai baju itu tidak apa-apa. Mungkin kau bisa menambahkan kaos kaki atau apa agar dadamu terlihat bagus, " kekehnya.

Cukup sudah. Sakura benar-benar tersinggung. Kesal, Ia pun melangkah lebar menghampiri Sasuke. Meraih lengan Sasuke cepat dan meletakkannya tepat di dadanya. "Ini, rasakan ini! Dadaku memang kecil, tapi setidaknya ini pas di genggamanmu kan, "

Sasuke terperangah, sungguh tadi Ia hanya bercanda saja. Netra hitamnya menatap Sakura dan tanggannya yang bertengger manis di dada Sakura bergantian. "Y-ya, sangat pas di genggamanku. " gugupnya.

Sadar dengan apa yang baru saja Ia lakukan, Sakura segera menyentak tangan Sasuke kasar kemudian menunduk malu. "Sial, apa yang baru saja kulakukan, " Sakuta tak berani menatap Sasuke. Tak ingin berlama-lama di depan pria itu, Ia pun beranjak keluar membuka pintu kamar dan menutupnya dengan keras.

.

Sakura berjongkok dengan memegang kedua pipinya yang merona. "Ya Tuhan, bisa-bisanya aku melakukan hal itu di depannya. Aku kesal dengan ucapannya yang menyinggung dadaku. Aku tau dadaku kecil, tak perlu menyinggungnya begitu. " Sakura juga merutuki tindakan konyolnya barusan, seharusnya Ia tak perlu melakukan itu. Tapi mau bagaimana lagi Ia sudah terlanjur kesal tadi dengan Sasuke.

Dengan pelan Sakura mengarahkan telapak tangannya memegang dada kirinya. Sebenarnya dadanya tidak begitu kecil, volumenya bertambah sejak Ia mengandung ditambah Ia aktif menyusui Sarada. Tapi entah kenapa Sasuke malah menyinggungnya. Membuat moodnya buruk seketika.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

'Happy birthday to you ... '

'Happy birthday to you ... '

'Happy birthday dear Boruto ... '

'Happy brirthday to you ... '

Bocah laki-laki berjas hitam dengan pita kupu-kupu itu tampak antusias menatap kue berbentuk bola dengan lilin-lilin kecil berjumlah 5 yang menyala. Hinata, sang ibunda tampak menuntun putra sulungnya untuk meniup lilinnya. Dengan patuh putra pasangan Uzumaki Naruto dan Uzumaki Hinata itu meniupnya.

'Fuuuh ... '

Tepuk tangan meriah para tamu mengiringi padamnya lilin-lilin tersebut. Boruto tampak begitu senang, salah-satu jarinya terulur untuk mencolek kue berkrim coklat membuat para tamu yang menatapnya tersenyum geli dengan tingkah laku putra sulung Naruto.

"Terima kasih untuk kalian yang sudah datang di acara ulang tahun putra pertama kami, Uzumaki Boruto. Sebuah kebahagian bagi kami bisa merayakan bersama-sama. Harapanku sebagai ayah untuk putraku, selalu diberi kesehatan, menjadi anak yang pintar dan membanggakan, do'aku selalu mengiringi setiap langkahmu untuk tercapainya cita-citamu kelak, " Naruto menatap Hinata dan memberikan mikrofon pada sang istri.

"Selamat ulang tahun sayang, inilah seutas do'a yang dapat kami berikan sebagai orangtuamu. Semoga Tuhan menjadikanmu insan yang berguna. Kami menyayangimu. " Nyonya Uzumaki itu mencium pipi Boruto sayang.

"Papa, Sara juga mau ulang tahun seperti Boruto, " Sasuke menatap Sarada dalam gendongannya, netra hitam putrinya menatap Sasuke lucu.

Gemas, Sasuke memberikan ciuman singkat di hidung mungil putrinya. "Nanti Papa pikirkan ya, lagi pula ulang tahunmu juga masih jauh. " Sarada mengerucutkan bibirnya. "Apa tidak bisa sekarang atau besok ya? "

Sasuke tertawa kecil kemudian mengecup pipi kiri Sarada gemas. "Tunggu tanggal ulang tahun kamu sayang. " Sarada menghela napas pelan dengan wajah murungnya sebelum kembali menatap Sasuke. "Janji ya? " Sasuke mengangguk dengan senyum kecilnya. Sarada tersenyum kemudian memeluk leher Sasuke, meletakkan dagunya di bahu Sasuke.

"Minum dulu sayang, " Sakura datang membawa botol air minum seraya membukanya. Sarada mengangkat kepalanya menatap Sakura begitu juga Sasuke. "Mama lama sekali, " keluh sang putri.

"Iya, maaf. " kata Sakura seraya mengarahkan botol air minum yang sudah Ia buka ke mulut Sarada yang langsung putrinya minum.

Acara ulang tahun putra sulung Naruto berlangsung meriah dengan kehadiran dua maskot musang Kurama dan Kyuubi yang siap menghibur anak-anak. Banyak tamu yang datang selain tamu penting juga sahabat-sahabat Naruto dan Hinata.

Istri Uchiha Sasuke mungkin satu-satunya yang tampil dengan busana sederhana namun elegan. Wanita yang identik dengan surai pink tersebut tampil dengan dress brokat biru dongker selutut, berlengan sampai batas siku. Dengan pita yang senada dengan bahannya melingkar di pinggang, sebuah gelang silver yang melingkar di pergelangan kirinya, serta tas tangan yang Ia bawa.

"Ho! Sakura-san! " suara melengking dari seorang pria berjas hijau mentereng menginterupsi Sakura yang saat itu tengah berbincang bersama Ino, Tenten, dan Karui. Tak lama suara derap langkah cepat menghampiri Sakura dan teman-temannya.

Sakura memperhatikan cukup lama sosok pria di depannya dengan gaya rambut mangkok, senyum yang memperlihatkan gigi putih menterengnya, siapa lagi kalau bukan, "Lee-san? " teman semasa kuliah yang sangat menyukai dan mengejar-ngejar Sakura.

Lee terkejut dan menampikan raut harunya. "Astaga, Sakura-san masih mengenalku? " Sakura mengangguk.

"Terima kasih Sakura-san! " Ia membungkukkan badannya di depan Sakura dengan semangatnya.

Ino, Tenten, dan Karui yang memperhatikan tingkah Lee hanya memutar bola matanya bosan. "Berlebihan. " cibir Ino dan Tenten bersamaan.

"Tak perlu seperti itu Lee-san, " kata Sakura dengan senyum tak enaknya melihat Lee yang membungkukkan badan di depannya.

Lee menegakkan badannya lagi dan menatap Sakura dengan penuh haru. "Aku hanya tak menyangka bisa bertemu denganmu lagi Sakura-san. "

Iris biru Ino melirik pelayan dengan berbagai minuman di nampan, Ia pun mengangkat tangannya membuat sang pelayan menghampirinya. "Silahkan Nyoya, " ujarnya ramah. Ino meraih minuman berwarna biru karena memang minumannya yang sudah habis. Pelayan tersebut menundukkan wajahnya singkat kemudian berlalu. Langkah pelayan tersebut terhenti saat anak-anak kecil berlarian di depannya, hingga Ia mendapat dorongan yang kuat dari belakang membuat tubuhnya limbung menabrak punggung Lee.

Mendapat dorongan di belakangnya membuat Lee juga ikut terdorong ke depan. Sakura dengan reflek segera menahan tubuh Lee agar tak terjatuh. Namun di samping itu Sakura juga merasakan sesuatu yang lembut dan kenyal menempel di sudut bibirnya. Membuat Ino, Tenten dan Karui melongo melihatnya. Dengan kurang ajarnya bibir Lee menempel di sudut bibir Sakura.

"Ehem! " mendengar deheman keras dari pria di samping Sakura membuat Lee segera menyingkir dari Sakura. Raut wajahnya begitu terkejut dan seketika memerah malu. "Sa-Sa-Sakura-san, " gagapnya.

"Maafkan saya tuan. " sang pelayan membungkukkan badannya kepada Lee dan segera membersihkan tumpahan air di punggung Lee, namun pria berjas hijau mentereng itu mengabaikannya.

"Ba-barusan tadi, Aku-A-Aku ... Aku tak se-sengaja menci-ci-ci-cium Sa-Sa, "

Bruk'

Belum sempat menyelesaikan ucapannya Lee pingsan membuat semuanya menatap Lee terkejut. "Lee! "

"Lee-san, kau tidak apa-apa? " Sasuke segera menahan lengan Sakura yang hendak menghampiri Lee yang pingsan membuat gerakan Sakura terhenti dan menatap tanya Sasuke.

"Kau mau apa? " tanya Sasuke.

"Tentu saja menolongnya, dia pingsan. " jawab Sakura.

Sasuke mendengus. "Tidak perlu. Kita pulang sekarang. " ucapnya tegas.

Sakura menatapnya bingung. "Loh, acaranya juga belum selesai, "

Sasuke menatapnya jengkel. "Kau tidak lihat putri kita tidur? Lebih baik pulang, aku tak mau Sarada kedinginan karena terlalu lama di sini. " Sakura melirik Sarada yang memang jatuh tertidur di bahu Sasuke. Tak lama Ia merasa lengannya tertarik. Sasuke menggenggam tangan Sakura berjalan melewati para tamu.

"Loh Sas, mau kemana? " langkah mereka terhenti saat Naruto menghampirinya.

"Sarada tidur, kami pamit pulang ya ... " jawab Sasuke seraya melirik putrinya yang tertidur. Netra biru Naruto menatap Sarada.

"Kalau begitu taruh di dalam saja, masih ada kamar kosong ko, di dalam rumah kami. " saran Naruto.

"Tidak, terima kasih. Kami mau pulang saja. " Tak ingin memaksa sang sahabat, Naruto pun mengerti. "Baiklah. Terima kasih kalian sudah mau datang. " Iris birunya menatap Sasuke dan Sakura bergantian.

Sasuke mengangguk kemudian melanjutkan langkahnya. "Kami pamit pulang Naruto. " ujar Sakura yang ditanggapi dengan senyum tipis dari Naruto.

Sakura merasakan aura tak mengenakan saat dirinya sudah duduk di kursi mobil dengan Sarada yang ada di pangkuannya. Entah kenapa raut wajah Sasuke lebih dingin tak seperti biasanya membuat nyali Sakura menciut untuk mencairkan suasana yang tak mengenakkan. Andai saja putrinya tidak tertidur, mungkin bisa mencairkan suasana. Hanya terdengar suara deru mesin mobil yang melintas.

Hingga mereka sampai di rumah pun tak ada percakapan yang berarti. "Aku masih ada urusan di luar. Masuklah dulu, " kata Sasuke datar setelah membantu membukakan pintu mobil Sakura yang terlihat kesusahan menggendong Sarada yang tertidur. Sakura mengangguk mengerti dan melangkah masuk ke dalam rumah.

"Ada apa dengannya, " resah Sakura begitu memasuki rumah.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Dua minggu sudah setelah menghadiri ulang tahun Boruto sikap Sasuke kepadanya tetap sama malah terkesan menghindarinya. Sasuke hanya pulang untuk mandi dan berganti baju setelah itu pergi lagi tanpa bertegur sapa dengannya, mungkin hanya sesekali dengan Sarada, menemani putrinya bermain di taman selebihnya lebih menghabiskan waktunya di luar. Sakura tak ambil pusing karena memang sikap Sasuke juga seperti itu biasanya, tapi menurut Sakura kali ini terlihat lebih dingin entah kenapa.

Iris hijau teduh Sakura menatap Sasuke dengan pakaian santai tengah menonton acara tv. Mereka hanya berdua di rumah karena Sarada pergi jalan-jalan bersama Konan dan Itachi. Memang pernikahan Konan-Itachi belum dikaruniai anak untuk itu mereka sering kali mengajak Sarada jalan-jalan bersama. Sakura berpikir sejenak, mungkin inilah saatnya Ia berbicara dengan Sasuke. Menarik napas dan menghembuskannya pelan, Sakura mengangguk singkat seraya menghampiri ruang tv.

"Bisa kita bicara, "

Sasuke mengalihkan perhatiannya menatap Sakura di seberang tempat duduknya. Pria itu menatap Sakura cukup lama, sebelum Ia menganggukkan kepalanya. Sakura menghela napas lega kemudian mengangguk singkat dan membalikkan badannya, mengkodekan Sasuke untuk mengikutinya. Sasuke mematikan layar tv kemudian berdiri menyusul Sakura yang terhenti di meja makan, menyuruh Sasuke untuk duduk.

Sakura menuangkan teh hangat di cangkir dan meletakkannya di depan Sasuke. "Minumlah! Aku tak memberi gula karena aku tau kamu tidak suka manis. " ujarnya.

Sakura mendudukkan dirinya di kursi dan memperhatikan Sasuke yang mulai menyesap teh hangat buatannya dengan tenang.

"Apa yang ingin kau bicarakan. " gumaman dari Sasuke membuat Sakura sedikit tegang. Wanita itu tampak mengatur napasnya, menarik napas dalam dan menghembusakannya perlahan. Kedua tangannya saling bertautan di meja seraya irisnya menatap gelisah Sasuke.

"Aku ingin kita bercerai. " suara Sakura memecah keheningan diantara mereka setelah terdiam cukup lama. Iris hijau Sakura memperhatikan Sasuke yang tidak melakukan suatu gerakan apapun. Sasuke hanya menunduk memperhatikan cangkir tehnya yang sepertinya lebih menarik perhatian pria itu.

Tak mendapat respon berarti dari Sasuke membuat Sakura hanya bisa mendesah pasrah. Kenapa pria itu terdiam, kenapa tak membalas perkataannya. Apa yang sebenarnya Sasuke pikirkan sekarang?

Helaan napas keluar dari bibir Sasuke sebelum netra hitamnya menatap Sakura. "Apa alasanmu bercerai denganku. " ucapnya setelah sekian lama terdiam.

Wanita itu menatapnya sesaat kemudian mengalihkan pandangannya yang tampak berkaca-kaca. Tubuhnya tampak bergetar, dengan lirih Ia berucap. "Bukankah jelas sudah tidak ada lagi kecocokkan diantara kita? Kehidupan rumah tangga kita berubah dan aku tidak bisa menjalani kehidupan rumah tangga seperti ini. Kupikir kau tau maksudku. "

Sebenarnya tak mudah bagi Sakura untuk bisa mengatakannya. Sejujurnya hatinya berat untuk mengatakan 'cerai' namun sebelum ini wanita itu telah memikirkannya matang-matang karena Sakura tak bisa terus-terusan menjalani rumah tangga yang sama-sama membuat keduanya tersakiti. Sakura mengerti dan wanita itu pun tak bisa memaksa Sasuke untuk kembali padanya. Meski dalam hati Sakura masih mengharapkannya. Mengharapkan rumah tangganya kembali meski terlihat mustahil.

"Kita berdua sama-sama tau bahwa kau ... mungkin bisa memaafkanku tapi hatimu sulit untuk menerimaku. Aku tidak bisa memaksa perasaanmu untuk menerimaku, tapi aku juga tidak bisa menjalani rumah tangga dalam keadaan seperti ini. Kau menghindariku. Perkataanmu waktu itu juga terdengar ambigu yang bisa kusimpulkan tak ada niatan untukmu untuk memperbaiki keadaan. " Sakura terdiam sejenak untuk mengambil napas.

Sasuke menangkap dengan jelas iris hijau teduh Sakura yang berkaca-kaca, nada bergetar Sakura saat wanita itu berujar. Dan betapa wanita di depannya menahan air matanya untuk tidak lolos.

"Aku akui aku bersalah karena memang sikapku lah yang membuat kehidupan rumah tangga kita berubah. Setahun ini aku mecoba memperbaiki hidupku dan melupakan kejadian buruk itu, tapi sikap diammu selama ini membuat perjuangnku sia-sia. Aku juga manusia Sasuke, yang tak bisa kauperlakukan seperti ini. Hatiku sakit setiap kali kau abaikan. Kupikir inilah jalan yang terbaik untuk kita karena aku tak ingin kau bertambah sakit karenaku. "

Tes'

Tes'

Tes'

Lolos sudah air mata yang Sakura pertahankan. Wanita itu segera mengusapnya cepat seraya mengalihkan pandangannya. Ia merasakan sesak yang luar biasa di hatinya hingga membuatnya tak bisa lagi menahan air matanya yang perlahan muncul dari mata indahnya.

Sasuke tahu Sakura menangis, namun dirinya cukup pengecut untuk sekedar memegang tangan wanitanya dan menguatkan. Pria dengan keegoisannya itu lebih memilih menunduk dengan diamnya. Sasuke juga tak mengerti dengan dirinya, kenapa dirinya tak bisa melakukan itu.

" ... "

" ... "

" ... "

" ... "

Cukup lama mereka terdiam dengan pikiran mereka masing-masing. Sakura juga gemas sendiri karena tak ada kata yang terlontar dari bibir Sasuke. Juga air matanya yang sialnya keluar terus-menerus membuatnya tak bisa berlama-lama di depan Sasuke. Ayolah, Ia menunggu respon Sasuke, kenapa pria itu selalu diam.

Tak tahan dengan diamnya mereka, Sakura pun menatap Sasuke dengan jejak air matanya. "Mungkin itu saja yang ingin kubicarakan denganmu. Aku tunggu keputusanmu. " Sakura berdiri dan perlahan menjauhi Sasuke.

"Baiklah kita bercerai. "

Langkah Sakura terhenti saat akan menaiki tangga. Hatinya seketika mencelos mendengarnya. Bulir air matanya kembali menetes. Dengan tangan bergetar Sakura mengusapnya kemudian membalikkan badannya menatap Sasuke yang berdiri dari duduknya, menatapnya.

Sakura mengangguk pelan. "Aku akan urus berkasnya minggu depan. Aku tau kau sibuk jadi biar aku yang mengurusnya. " setelahnya Ia memilih membalikkan badannya dan melanjutkan langkahnya.

Tak bisa Sakura pungkiri bahwa wanita itu begitu sedih. Hatinya begitu sakit luar biasa.

"Sakura bodoh, dasar bodoh. Memang apa yang kauharapkan darinya. Aku membuatnya terluka begitu dalam sudah tentu inilah resiko yang kudapat. Tidak ada manusia yang bisa menerima kembali seseorang yang sudah berkhianat. Mungkin dia memaafkanmu, tapi untuk kembali bersama jelas itu tidak mungkin. " ujarnya dengan bibir bergetar seraya mengusap air matanya. Mungkin inilah jalan terbaik untuk keduanya, agar tak ada lagi yang tersakiti.

"Ya Tuhan ... " desah pasrah Sakura.

.

.

.

.

.

"Kadang, karena tak ingin menyakiti perasaan seseorang, kamu penuhi apa yang dia inginkan. Dan tanpa kamu sadari, dirimu lah yang akhirnya terluka. "

Tbc.

Kayane setelah ini sy bakalan sibuk, jadi nggak janji bisa update di hari biasanya. Tapi liat nanti kalau senggang sy bakalan update :)

Salam,

JJ Ichiro.