Disclaimer 'NARUTO'
Belong to
Masashi Kishimoto
'Hurt Marriage' by JJ Ichiro.
.
.
.
.
.
.
.
.
Warning! Ooc, typo, alur berantakan, eyd diragukan dan kesalahan lainnya mohon dimaafkan.
DILARANG COPY PASTE!
Jangan asal comot tanpa persetujuan dan tanpa mencantumkan sumbernya!
.
.
.
.
.
.
.
.
TIDAK SUKA? TIDAK USAH BACA!
.
.
.
.
.
.
.
.
Uchiha Sasuke menatap diam berkas perceraian yang sama sekali belum Ia isi. Wanita yang masih berstatus istrinya itu menepati janjinya. Seminggu setelah pembicaraan mereka di meja makan, pagi tadi Sakura mendatanginya di kantor untuk menyerahkan berkas perceraian mereka yang harus Sasuke isi. Rasa sesak tiba-tiba menyelingkupi hati Sasuke.
Sebenarnya perceraian tak pernah terpikirkan Sasuke dalam waktu dekat sebelum pembicaraan mereka waktu itu. Pernah Sasuke memilih untuk berpisah tapi itu terjadi saat kasus Sakura terbongkar namun gagal karena putri mereka, dan setelahnya Ia tak pernah berpikir untuk bercerai dari Sakura.
Dan kenapa Ia menyetujui perceraian itu? Jawabannya ialah karena Sasuke kesal. Ia kesal saat Sakura tiba-tiba meminta cerai darinya. Harusnya Ia yang meminta cerai, bukan Sakura! Sebagian hatinya meminta untuk menolak, namun ego menguasainya hingga Ia menyetujui perceraian itu. Kini, pria itu bingung apa yang harus Ia lakukan. Sesuatu dalam dirinya merasa enggan untuk bercerai dengan wanita yang sudah memberinya satu orang putri.
Sejak saat itu juga Sakura tidak tidur di kamar mereka, melainkan memilih tidur bersama Sarada dan itu membuat sebagian dari dirinya merasa kekosongan tanpa kehadiran sosok Sakura yang biasa menempati sisi lain tempat tidurnya. Ia pikir Ia sudah terbiasa tidur dengan kehadiran Sakura di sampingnya. Sejauh ini meski hubungan mereka sama-sama kaku mereka tetap tidur satu ranjang tanpa adanya kontak fisik. Baru setelah mereka menyetujui perceraian, Sakura memilih tidur bersama Sarada.
Tok' tok' tok'
Lamunannya buyar mendengar ketukan pintu ruangannya. Iris hitam Sasuke bergulir menatap pintu. "Masuk! " seru Sasuke.
"Tamu anda sudah menunggu di ruang rapat. " ujar Sekretarisnya. Sasuke mengangguk. Menutup berkas percerainnya dan meletakkannya di laci meja, kemudian meraih dokumen dan melangkah keluar.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jam pun menunjukkan jam sembilan malam saat itu. Semilir angin malam menerbangkan surai hitam Sasuke, membuat pria itu untuk sejenak memejamkan matanya menikmati angin yang membelai wajahnya. Tubuh kekarnya sedikit membungkuk dengan kedua lengan yang bertumpu pada tembok jembatan.
"Sasuke, kah? " Merasakan kehadiran seseorang di sampingnya, mau tak mau membuat Sasuke membuka kedua matanya dan menoleh ke samping.
Ekspresi wajahnya berubah dingin dan rahangnya sedikit mengeras begitu melihat Sai yang berdiri di sampingnya, menatapnya dengan senyum menyebalkannya. Sasuke menatap tak percaya, bisa-bisanya Sai menampilkan senyum menjijikan itu setelah apa yang sudah pria itu lakukan pada rumah tangganya. Moodnya menjadi buruk seketika dengan kehadiran Sai.
"Lama tak bertemu Sasuke, tak kusangka kita bertemu secara kebetulan seperti ini. Bagaimana kabarmu? " tanyanya seraya mengeluarkan minuman kaleng dalam kantung kresek putih yang dibawanya dan menyodorkannya. Sasuke menunjukkan kopi yang dipegangnya tanpa menoleh.
"Seperti yang kaulihat. " kata Sasuke datar. Netra hitam Sasuke lebih tertarik menatap air sungai yang mengalir tenang di bawahnya. Kesialan baginya bertemu dengan Sai di jembatan ini. Niat awal ingin mendapat ketenangan, sirna sudah begitu mendapati orang yang sangat-sangat tidak ingin Ia lihat. Dasar pengganggu!
Sai membuka pengait minuman kaleng bersodanya kemudian menenggaknya sesaat. Ia mengikuti gaya Sasuke, menyanggah kedua lengannya di tembok jembatan.
"Bagaimana kabar Sakura? " suara berat Sai seketika membuat suasana hatinya memanas. Netra hitamnya bergulir menatap Sai tajam.
"Untuk apa kau menanyakannya?! Belum cukupkah apa yang sudah kaulakukan terhadap rumah tanggaku?! " Sasuke mencedih kemudian membuang muka. Pegangan pada gelas kopinya mengerat.
Sai tersenyum kecut mendengarnya. "Maaf. " gumamnya yang tak mendapat respon dari Sasuke. Tak ingin berlama-lama dengan Sai ditambah moodnya yang sudah kadung memburuk juga karena Sai, Sasuke memilih beranjak dari sana.
Namun, langkahnya terhenti saat Sai menahan lengan Sasuke. "Jangan seperti ini, apa yang ingin kau tau tentang aku dan Sakura akan kuberitau. "
Sasuke menoleh seraya menyentak lengan Sai. "Tak perlu. Itu sudah tak ada artinya lagi. "
Tubuh Sai sedikit menegang, pandangan matanya meredup. "Kalian ... berpisah? " ucapnya kelu.
Sasuke mendecih sinis. "Bukan urusanmu! " ucapnya seraya berlalu.
Sai terdiam. Pikirannya menjadi kalut sekarang. "Kalau begitu tolong jangan membencinya! " teriaknya.
Langkah Sasuke kembali terhenti namun pria itu tak menoleh.
"Ini semua salahku. Aku yang sudah membuat hidup kalian berantakan. Aku terima kalian berdua membenciku, tapi kumohon jangan membencinya. " pandangannya tampak meredup menatap punggung Sasuke yang membelakanginya.
"Kau benar. Aku memang sangat membencimu yang sudah membuat rumah tanggaku berantakan. Kalau saja waktu itu aku tak mengijinkannya kembali bekerja denganmu, mungkin sekarang kehidupan kami akan baik-baik saja. " ujarnya dingin. Ada jeda sejenak dari Sasuke, sebelum pria itu kembali melanjutkan perkataannya.
"Sayangnya, aku mengijinkannya yang pada akhirnya berujung berantakan pada rumah tanggaku. Kehidupan rumah tanggaku dengannya berubah saat itu juga. " pandangan Sasuke mengeras dengan salah-satu tangannya yang terkepal erat.
Semilir angin malam menerbangkan surai keduanya.
"Aku mencintainya. Dan entah sejak kapan perasaanku berubah menjadi obsesif padanya. Awalnya aku mencoba melupakan perasaanku padanya yang menyukaimu. Aku terbiasa dengannya yang menyapaku setiap pagi dan kebersamaan kecil kami, tanpa kusadari ada perasaan memiliki yang berlebih padanya, berusaha menguasainya agar sesuai dengan apa yang kuinginkan. " melihat Sasuke yang terdiam, Sai kembali melanjutkan perkataannya.
"Aku benci dan cemburu saat dia dengan antusiasnya menceritakan kondisi kehamilannya dan mengatakan bahwa dia bahagia hidup denganmu. Aku marah, membentakknya untuk tidak membicarakannmu saat aku tengah bersamanya. Dia mulai tak nyaman denganku dan aku benci itu. Puncaknya adalah saat dirinya memutuskan untuk resign, aku benar-benar tak rela dia pergi dari hidupku. Aku melakukan segala cara untuk mempertahankannya karena aku tak ingin dia meninggalkanku. "
"Aku semakin gencar menguasainya pasca kau mengijinkannya kembali ke perusahaanku yang kumanfaakan dengan sangat baik. Tapi, lagi-lagi aku marah dan cemburu saat dia lebih mementingkan bayinya dan dirimu. Aku ingin dia melakukan sesuai apa yang kuinginkan tanpa mau tau dia merasa sangat terkekang namun aku tak peduli. "
Rahang Sasuke mengeras dengan buku-buku jarinya yang memutih. Ia pun membalikkan badannya menatap Sai tajam. "Tak tahukah, kau begitu menjijikan?! dia seorang istri dan ibu tentu dia lebih mementingkan keluarga. " pria itu mencoba mengontrol emosinya.
Sai tersenyum miris. "Aku tau. Tapi aku tak peduli, rasa ingin memiliki berlebihku terhadapnya menggelapkan semua. Yang kuinginkan adalah dirinya melakukan apa yang kuinginkan. " geram, Sasuke melangkah dan mencengkram kerah kemeja Sai.
"Brengsek! "
Sai menutup kedua matanya, bersiap menerima pukulan dari Sasuke.
Srak'
Sai membuka kedua matanya saat Sasuke malah melepaskan cengkraman di kerah bajunya dengan kasar. Terlihat Sasuke membuang napas kasar seraya mengacak surai hitamnya gusar.
"Shit! Tak ada artinya meladeni orang sepertimu. " desisnya tajam kemudian berlalu.
Tap.
Sai menahan lengannya. Rahang Sasuke mengeras, Ia membalikkan badannya dan langsung melayangkan pukulan di wajah Sai.
Buk!
Sai jatuh tersungkur. Sasuke menatapnya benci dengan emosi yang meluap. Jujur, dari tadi Sasuke menahan emosinya agar tak menyerang Sai, namun pria itu memaksanya hingga Ia tidak bisa untuk tidak melayangkan pukulannya.
"Aku tak bisa sepenuhnya menyalahkanmu karena Sakura juga salah. Meski berulang kali dia mengatakan bahwa Ia terpaksa melakukannya karena berada dalam tekanan, tetap saja dia sudah terlanjur berkubang dalam lautan dosa. " geram Sasuke.
Sai menyeringai dalam kesakitannya. "Aku membenci diriku sendiri yang selalu kalah darimu. Kau ... mendapat tempat teristimewa di hatinya, sedangkan aku? Dia hanya menganggapku sebatas sahabatnya saja, padahal aku lebih dulu mengenalnya dibandingkan dirimu! "
Sasuke menatapnya remeh. "Jangan pura-pura bodoh, bukankah kau juga menikmatinya di belakangku?! Kutanya, seberapa sering kalian melakukan hal kotor itu?! "
Pandangan Sai berubah dingin, pria itu bahkan mengabaikan darah yang keluar di sudut bibirnya akibat pukulan Sasuke. "Seberapa sering? Menurutmu? Jika kubilang setiap hari kami melakukannya apa kau percaya? " tantangnya.
Rahang Sasuke kembali mengeras, netra hitamnya menatap tajam Sai. Ia benar-benar sudah muak mendengar kata yang terlontar dari bibir Sai. Tak ingin berlarut-larut, masih dengan emosi yang menguasainya, Sasuke memilih membalikkan badannya dan pergi dari sana. Emosinya semakin tersulut berada terlalu lama dengan pria itu.
Sai menatap tak suka Sasuke yang memilih pergi. Perlahan Sai beranjak berdiri dan menatap punggung Sasuke yang perlahan meninggalkannya. "Jika kubilang aku tak pernah menyentuhnya apa kau percaya? "
Sasuke memejamkan kedua matanya, pura-pura tak mendengar. Namun tak bisa dipungkiri bahwa hatinya begitu terluka. Ia menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan seraya membuka kembali kedua matanya. "Sepertinya mustahil. " ucapnya dingin. Tatapannya begitu dingin menembus jalanan sepi.
Netra hitam Sai memicing tajam menatap punggung Sasuke yang semakin menjauhinya. "Kau benar. Itu terdengar mustahil ... "
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Selamat pagi. "
"Pagi. " dahi Tenten berkerut menatap Sakura yang menyapanya seraya menuruni tangga cafe. Wanita bersurai coklat bercepol itu menatap jam di pergelangan tangannya sebelum kembali menatap Sakura. "Tumben sekali sudah sampai? " katanya heran.
Sakura menguap sebentar kemudian melirik Tenten. "Aku menginap. " ucapnya seraya menghampiri meja kasir.
Tenten mengaangguk kecil kemudian melanjutkan kegiatan mengelap kaca yang sebelumnya sempat terhenti. "Putrimu tidak mencarimu, semalam kau menginap di sini? " tanyanya tanpa menoleh.
Sakura kembali melirik kemudian menghela napas. "Kakak iparku mengajaknya berlibur, tau kan, mereka sangat menyayangi Sarada. Menganggapnya seperti putri mereka sendiri, ah ... aku jadi merindukan putri kecilku. " katanya pelan diakhir perkataannya.
Tenten berjalan mendekat, "Bagaimana dengan suamimu? "
Tubuh Sakura sedikit menegang, namun dengan cepat wanita itu menutupinya dengan sangat baik. "Dia ... sepertinya juga sibuk di kantor. "
Tenten mengerutkan keningnya. "Kok, sepertinya? "
Sakura menoleh gelagapan. "I-itu ... ada proyek baru yang harus dia tangani, " kilahnya.
Tenten mengangguk-angguk mengerti. "Kalian sama-sama sibuk yah, kupikir kesempataan bagus untuk kalian menghabiskan waktu bersama selagi Sarada berlibur bersama Itachi-san dan istrinya. " godanya.
Sakura mendengus kemudian mengalihkan perhatiannya. Tentu saja itu tidak mungkin. Sejak pembicaraan mereka di meja makan, keduanya seakan menjalani hidupnya masing-masing, sekalinya bertemu hanya sebatas menyapa tanpa adanya obrolan kecil.
Klining'
Bunyi lonceng yang bergoyang akibat gerakan pintu cafe membuat Sakura menolah kemudian membungkukkan badannya singkat. "Selamat datang, "
"Mama! "
Sakura menegakkan badannya dan senyum cerah terbit di bibir nya melihat Sarada datang bersama Itachi dan Konan.
"Yo! " sapa Itachi mengangkat sebelah tangannya.
"Astaga beberapa hari tidak melihatmu, Mama rindu sekali denganmu sayang, " Sakura mendekat dan merentangkan kedua tangannya. Sarada terkikik geli dalam gendongan Itachi.
Sakura mengerutkan keningnya seraya melipat kedua lengnnya di depan dada, pura-pura merajuk. "Oh, jadi Sara-chan tidak merindukan Mama ya? Yasudah, kalau begitu Mama juga tidak akan merindukan Sara lagi. "
Putri Sasuke itu memberengut lucu bercampur cemas menatap Sakura yang pura-pura merajuk membuang muka. Seketika kedua lengan Sarada terulur. "Mama ... Sara rindu Mama, tentu saja sangat-sangat merindukan Mama. " Sakura melirik, masih pura-pura merajuk. "Serius? "
Sarada mengangguk cepat. "Iya! Ayo dong peluk Sara, " bibirnya mengerucut lucu menunggu Sakura memeluknya, membuat Itachi yang melihatnya gemas sendiri dan langsung memberinya ciuman singkat di pipi Sarada.
Sakura menampilkan senyum tipisnya seraya mengulurkan kedua lengannya mengambil alih Sarada dalam gendongan Itachi. "Bercanda sayang. Bagaimana liburannya, hm? "
"Kami bersenang-senang, bukan begitu sayang? " ujar Konan menatap Sarada yang berada dalam gendongan Sakura.
Sarada mengangguk antusias, menatap Sakura dengan mata berbinar. "Kami naik kereta, jalan-jalan, naik bianglala yang tinggiiii ... sekali, Sara takut tapi paman memeluk Sara. Bertemu princess dan banyakkk ... sekali, " celotehnya panjang.
Sakura tertawa dan mengecup bibir putrinya singkat. "Sepertinya kamu memang sangat menikmatinya. " netra hijau Sakura menatap Itachi dan Konan.
"Ayo kak, duduk dulu. Mau minum apa? " tawarnya seraya melangkah menghampiri salah-satu meja yang kosong, di belakangnya Itachi dan Konan mengikutinya.
"Sayang sekali Sakura-chan, kami tidak bisa berlama-lama karena masih ada yang harus kami lakukan setelah ini. " ucap Konan dengan raut menyesalnya.
"Begitu yaa ... " gumam Sakura.
Itachi tersenyum tipis. "Lain kali kita bermain bersama lagi, ya ... " lengan Itachi terulur mengusap surai hitam Sarada membuat gadis kecil itu tersebut tersenyum kecil seraya mengangguk.
"Sampaikan salamku untuk Sasuke, " lanjut Itachi, netra hitamnya menatap Sakura yang sempat terdiam sesaat kemudian mengangguk kecil.
"Kalau begitu, kami pamit. " Konan mengecup pipi dan hidung Sarada kemudian mengusap bahu Sakura seraya tersenyum. Sakura mengangguk dan mengantar keduanya sampai pintu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Uchiha Sasuke mematut dirinya di depan cermin dengan kemeja biru mudanya yang pas di tubuh tegapnya. Ia berada di Suna selama sepekan ini dalam kunjungan peninjaun lokasi proyek terbarunya.
Bos properti itu mengatakan akan membangun apartemen yang dilengkapi kawasan perkantoran, perbelanjaan, dan rumah sakit. Dalam proyek ini, Uchiha Corp bekerja sama dengan perusahaan properti Shukaku Corp. Uchiha Corp dan Shukaku Corp berbagi kepemilikan saham 50:50. Proyek ini merupakan bagian ekspansi strategis Uchiha Corp di Sunagakure.
Dalam lawatannya ke Suna, Sasuke juga hendak pergi ke Iwagakure untuk survei tanah lokasi proyek berikutnya.
Tok tok tok
Sasuke menoleh menatap pintu kamar hotelnya. Malam ini Ia ada jamuan makan malam bersama bos Shukaku Corp sekaligus membahas tentang konsep proyek properti mereka. Setelah memastikan penampilannya sempurna, Ia pun meraih jam tangan putihnya dan memasangnya di pergelangan tangannya sebelum melangkah menghampiri pintu kamar hotel dan membukanya.
Cklek,
Dahinya sedikit berkerut mendapati Matsuri yang berdiri di depannya. Ia melirik jam di pergelangan tangannya. "Bukankah jamuan makan malamnya masih satu jam lagi? " ujarnya memastikan.
Wanita bersurai coklat pendek itu menampilkan senyum manisnya. "Aku tau. Hanya ingin menemuimu, apa tidak boleh? Sudah lama kita tidak bertemu. " Sasuke sempat terdiam sebentar, setelahnya pria itu mengangguk dan mempersilahkan Matsuri masuk.
Matsuri adalah teman satu fakultas di kampusnya dulu dan cukup dekat dengannya. Lama mereka tak bertemu, Sasuke cukup terkejut mendapati wanita yang mempunyai perangai lembut itu menjadi sekretaris dari bos properti Shukaku Corp. Tapi karena kunjungannya kali ini untuk membahas tentang peninjauan proyek, mereka belum sempat mengobrol banyak dan hanya sekedar bertanya kabar.
"Kau banyak berubah, Sasuke-kun. " ucap Matsuri mendudukkan dirinya di sofa kecil ketika Sasuke mempersilahkan duduk.
Sasuke melirik, "Hn. " gumamnya seraya mengangguk dan mendudukkan dirinya di sofa berseberangan dengan Matsuri.
"Mau minum? " tawar Sasuke, pria itu juga bingung sendiri ingin memulai pembicaraan dari mana padahal dulu mereka cukup dekat. Lagi pula Sasuke bukan tipe orang yang memulai pembicaraan terlebih dahulu, karena Sasuke berbicara jika dirasa itu penting.
Matsuri menggeleng kecil seraya tersenyum manis. Bibir tipisnya yang terpoles lipstik merah menambah kesan sensual dan menggoda. "Tidak perlu, aku hanya ingin mengobrol sedikit denganmu. Lagi pula setelah ini kita bertemu di jamuan makan malam. Kita masih ... berteman kan? "
Sasuke tersenyum tipis kemudian mengangguk kecil. "Tentu saja. "
Wanita itu kembali tersenyum, salah-satu tangannya terulur untuk menyelipkan surai coklatnya di belakang telinganya. "Syukurlah, aku senang mendengarnya. "
"Cukup terkejut melihatmu bergabung bersama Shukaku Corp. Kupikir kau ikut membantu perusahaan ayahmu di Ame. " kata Sasuke.
Matsuri tampak menunduk sesaat sebelum menatap netra hitam Sasuke. "Sudah ada kedua kakakku yang mengurus. Lagi pula, aku tak begitu suka tinggal di Ame. "
"Kau masih sama seperti dulu, pemikiranmu selalu berbeda dari kedua kakakmu. " lanjut Sasuke.
Drt ... Drt ... Drt ...
Getaran ponsel Sasuke di meja nakas menginterupsi keduanya. Sasuke menoleh menatap Matsuri. "Maaf, " gumamnya seraya bangkit dari duduknya dan menghampiri ponselnya. Matsuri mengangguk singkat. Memperhatikan Sasuke yang tengah berbicara entah dengan siapa di seberang sambungan ponselnya.
"Hn. Kau atur saja jadwalnya, "
" ... "
"Minggu depan kita sudah harus sampai di Iwa untuk survei tanah proyek kita selanjutnya. "
" ... "
"Aa. "
"Dari siapa? "
Sasuke menoleh dan terkesip saat Matsuri berdiri di belakangnya. "Juugo. Sekretarisku. " jawabnya singkat seraya mematikan sambungan ponselnya.
" ... "
"Sasuke-kun, " Sasuke melirik, menatapnya diam saat Matsuri mendekat dan merih kedua tangan Sasuke. Menggenggamnya.
Iris hitam Matsuri menatap kedua bola mata Sasuke dalam. "Apa kau ingat? kebersamaan yang dulu kita lewati bersama? Walau pun kau menganggapnya biasa, tapi aku bahagia. Aku bahagia bersamamu, "
Sasuke tak tahu harus berkata apa mendengar kata yang terlontar dari wanita bersurai coklat di depannya. Di samping itu pria itu juga risih saat tangan Matsuri mengenggam kedua tanggannya. Perlahan Sasuke mencoba melepaskan tautan tangannya, namun Matsuri dengan cepat menggenggamnya dengan erat.
"Kumohon jangan seperti ini. Kau tidak tau bagaimana perasaanku selama ini. Untuk itu, aku ingin mengungkapkan perasaan yang selama ini kutahan, dan melihatmu di sini, di depanku, kurasa aku tak bisa mehanan perasaan ini lebih lama lagi. "
Dahi Sasuke berkerut. "Kau bicara apa Matsuri? " ucap Sasuke yang semakin risih dengan sikap Matsuri. Wanita itu menatap Sasuke lama, menatapnya dengan pandangan sendunya.
"Aku mencintaimu. " gerakan tangan Sasuke yang berusaha melepaskan tautan tangannya terhenti. Netra hitamnya menatap Matsuri dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Berapa lama lagi perasaan ini harus kupendam? Perasaan yang telah lama kupendam di dalam hati sejak dulu dan kau tak pernah mencoba untuk membukanya. Apa kau tak sadar hal itu?! " ucapnya dengan bibir bergetar. Tampak iris hitam wanita itu mulai berkaca-kaca.
Sasuke tertegun mendengarnya. Namun setelahnya, pria itu menyunggingkan senyum tipisnya, membuat Matsuri menatapnya dengan semburat merah muda di kedua pipinya. Hal ini tak disia-siakan Sasuke untuk melepas tautan tangannya dalam genggaman Matsuri.
"Terima kasih Matsuri. " netra hitam Sasuke menatap Matsuri lembut.
"Kau salah jika mengira aku tak menyadari perasaanmu padaku. Aku tau kau menyukaiku. " raut keterkejutan tampak di wajah cantik Matsuri.
Sasuke mengulurkan lengannya mengusap surai coklat wanita itu. "Kau wanita yang baik. Aku suka kepribadianmu yang lembut, mengingatkanku akan sosok Ibuku. Aku menyayangimu, seperti seorang kakak yang menyayangi adiknya. Tapi, " Matsuri menatapnya bingung saat Sasuke menghentikan ucapannya, memandangnya dengan raut tak enaknya.
"Maaf, aku tak mempunyai perasaan yang sama, yang kau rasakan padaku. " raut wajah Matsuri berubah datar. Dengan segera wanita itu menepis lengan Sasuke di surai coklatnya dengan kasar.
"Aku benar-benar menginginkan dirimu! aku tak tahan lagi dengan perasaan yang telah lama kupendam. Aku benar-benar mencintaimu. Apa kau tak tau betapa tersiksanya perasanku selama ini! " bulir-bulir air mata jatuh menuruni pipi putih Matsuri. Wanita itu benar-benar menumpahkan segala perasaannya yang selama ini Ia pendam pada Sasuke. Berharap pria itu mengerti perasaannya.
"Kau jahat! Jahat! " dipukulnya dada Sasuke dengan sebelah lengannya.
"Kau tau perasaanku padamu selama ini, tapi kenapa kau tak mencoba membalas perasaanku, hah? Kenapa?! " sambung Matsuri terisak. Pukulannya di dada Sasuke semakin melemah namun wanita itu tak mau menghentikannya.
Sasuke menatapnya dengan pandangan bersalah. Sungguh Ia tak pernah menyangka wanita di depannya masih memendam rasa padanya sampai sekarang. Ia pikir Matsuri mampu melupakan perasaannya ketika Ia memutuskan menikah dengan Sakura, dan selesai. Namun, nyatanya wanita itu masihlah memendam perasaan padanya. Tapi, mau bagaimana lagi, Ia memang tak mempunyai perasaan apapun terhadap Matsuri.
Dengan pelan Sasuke meraih kepalan tangan Matsuri yang semakin lemah memukuli dadanya. Menggenggamnya. Iris hitam Sasuke menatap wajah Matsuri yang menunduk dengan raut bersalahnya. "Maafkan aku Matsuri, "
"Tidak adakah sedikit rasa di hatimu untukku Sasuke!? Aku tidak butuh maafmu, yang kubutuhkan adalan cintamu! " potong Matsuri. Kedua iris indahnya menatap Sasuke dengan buliran air matanya yang membuat Sasuke tak sanggup melihat betapa sakitnya wanita itu.
" ... "
"Tidak bisakah kau membalas perasaanku? Aku sakit Sasuke, sakit. " ucapnya pilu.
"Aku sudah menikah, Matsuri. Kau tau itu, bukan? Maaf, aku tak bisa membalas perasaanmu. " gumam Sasuke sendu. Pria itu berharap Matsuri mengerti perkataannya.
Matsuri mendecih tak suka. Wanita itu menatap Sasuke diam dengan pandangan tak terbacanya. "Oh, bagaimana mungkin aku bisa lupa bahwa kau ini sudah menikah. " ucap Matsuri seraya mengalihkan perhatiannya. Pandangan wanita itu menggelap dengan sebelah tangannya yang mengepal erat.
"Tapi ... kenapa kau tak mencoba apa yang sudah istrimu lakukan di belakangmu? " ucapnya ambigu.
Dahi Sasuke berkerut. "Maksudmu? " kata Sasuke tak mengerti.
Matsuri menatap Sasuke dalam. Menit berikutnya, kedua iris Sasuke melebar saat Matsuri tiba-tiba menanggalkan gaunnya. Meninggalkan bra berwarna peach yang senada dengan celana dalamnya. Tak sampai di situ, tanpa mengalihkan pandangannya dari Sasuke yang terkejut, kedua lengan wanita itu melepas pengait bra dan menanggalkannya, membuat tubuhnya polos seketika saat bra peach itu terjatuh begitu saja di lantai kamar hotel.
"A-apa yang kaulakukan Matsuri? cepat pakai bajumu! " serunya seraya memundurkan tubuhnya.
Wanita itu tersenyum tipis kemudian meraih tangan Sasuke dan meletakkannya tepat di payudara polosnya. "Istrimu menghianatimu kan? Kenapa kau tak coba untuk balik menghianatinya? Aku dengan senang hati akan membantumu. "
Bahu Sasuke menegang. Dengan cepat Sasuke menarik kemballi tangannya dari payudara Matsuri, membuat senyum Matsuri hilang seketika. Bagaimana mungkin Matsuri tau tentang masalah rumah tangganya? Sejak kasus Sakura dan Sai terbongkar, Ia sudah memastikan untuk merahasiakannya.
Suara tawa Matsuri membuanya menoleh.
"Apa kau begitu terkejut, aku mengetahui kebusukkan yang dilakukan oleh istrimu? " Sasuke memicingkan matanya.
"Apa kau juga terlibat dalam kasus istriku? " desis Sasuke tajam.
Matsuri mendengus. "Aku hanya mengetahui kasusnya, tanpa terlibat di dalamnya. Dan ... tak penting aku tau dari mana! " ucapnya tajam saat menyadari Sasuke yang akan menyela perkataannya. Sudah pasti pria itu akan mengatakan 'Kau tau dari mana? '
Sasuke terdiam. Raut wajahnya tampak begitu tegang. Ia pun membalikkan badannya memunggungi Matsuri. Pikirannya begitu kacau saat ini. Kenapa jadi membingungkan?
Grep'
Pria itu tersentak, ketika Matsuri memeluknya dari belakang.
"Aku mencintaimu. Untuk malam ini, sentuh aku Sasuke. Tak apa jika kau tak membalas perasaanku, tapi untuk malam ini ... ijinkan aku memilikimu setelah itu aku berjanji akan pergi dari kehidupanmu. " ucapnya memohon.
Sasuke tertegun sesaat, sebelum Ia melepas kedua lengan Matsuri yang memeluknya. Ia membalikkan badannya menatap kedua iris Matsuri dalam. "Hentikan, Matsuri. Ini tidak benar. Kenapa kau seperti ini? Kau tak seperti Matsuri yang kukenal dulu? "
Dahi Matsuri mengerut tak suka, menyebalkan sekali mendapat penolakan langsung dari pria yang begitu kau cintai. Ia wanita baik-baik, banyak pria di luar sana yang mengantri untuk mendapat balasan cintanya, namun Ia hanya menyukai Sasuke dan mempertahan perasaannya. Demi pria yang begitu Ia cintai, wanita itu rela menyerahkan dirinya seutuhnya untuk Sasuke, namun penolakan yang Ia dapatkan. Bahkan menurutnya, dirinya lebih rendah dari wanita murahan di luar sana.
Matsuri pun hanya bisa tersenyum miris. "Apa yang kurang dari diriku? Aku cantik, aku pintar dan aku kaya. Tapi kenapa kau juga tak bisa menerimaku, hah?! KENAPA! " tuntutnya.
Sasuke menghela napas berat seraya membuang muka. Raut wajahnya tampak begitu kacau. Sulit baginya membuat Matsuri mengerti. Perasaan wanita itu yang lama terpendam padanya sudah menggelapkan semuanya. Wanita yang dulu mampu mengontrol emosi dan pikirannya, kini tak mampu mengendalikan dirinya sendiri. Ia kehilangan sosok Matsuri yang dulu. Dan Sasuke tau, Ia sudah menyakiti wanita yang dulu sempat Ia kagumi karena peragai wanita itu yang lembut.
"Tolong, mengertilah Matsuri. Aku tidak bisa. Aku sudah menikah, dan kita sama-sama sudah mempunyai kehidupan kita masing-masing. Terima kasih karena sudah menyukaiku, dan ... maaf aku tak bisa membalas perasaanmu. Kuharap kaumengerti. " setelahnya, Sasuke melangkah meraih jas hitamnya yang Ia sampirkan di kursi, dan kembali menghampiri Matsuri. Menyampirkan jas tersebut di tubuh polos Matsuri. Memastikan tubuh polos Matsuri tertutupi jas besarnya.
Iris hitam Sasuke menatap kedua bola mata Matsuri. "Kumohon lupakan perasaanmu padaku. Karena aku adalah pria brengsek yang sudah menyakiti hati wanita sebaik dirimu. Aku yakin kau bisa dapatkan pria yang lebih baik dariku. "
Sasuke menatapnya lama, sebelum dirinya dengan perlahan melangkah menjauhi Matsuri. Wanita itu tampak mencengkarm erat jas depan Sasuke dengan bulir air matanya yang kembali meyeruak keluar.
Ia mengusap kasar air matanya kemudian membalikkan badannya menatap punggung Sasuke. "Bukan tidak mungkin suatu saat kau akan berpisah dengan istrimu. Jujur saja jika kehidupan rumah tanggamu tak berjalan harmonis! "
Langkah Sasuke seketika terhenti tepat saat telapak tangannya menyentuh gagang pintu kamar hotel, tubuh tegapnya tampak menegang. Dan sebisa mungkin Ia tak ingin menoleh ke belakang. Sial, seberapa jauh Matsuri tau tentang kehidupan rumah tangganya?
"Kau belum bisa menerima apa yang sudah istrimu lakukan di belakangmu. " sambung Matsuri.
Sasuke menutup kedua matanya sesaat dan membukanya kembali. Tanpa memperdulikan Matsuri lagi, Ia pun mengayunkan telapak tangannya membuka pintu dan menghilang di balik pintu kamar hotel yang tertutup. Meninggalkan Matsuri yang tampak begitu terluka dan terpuruk karena Sasuke yang tak terpengaruh dengan perkataannya.
.
Sasuke menarik napas dan membuangnya kasar seraya mengalihkan perhatiannya. Saat ini Ia sendirin di dalam lift. Sudah sangat terlambat menghadiri jamuan makan malam dan Ia memutuskan tidak datang. Ia butuh menenangkan dirinya dulu di suatu tempat.
Ini menjadi semakin sulit baginya. Berawal dari sebuah proyek terbarunya, membawanya bertemu dengan wanita yang dulu cukup dekat dengannya. Dan berakhir dengan kejadian yang membuatnya begitu terkejut. Ia butuh ketenangan saat ini.
"Ya Tuhan ... " desahnya pasrah.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Jadi ... kau memutuskan untuk berpisah dengannya? "
Sakura melirik sesaat kemudian mengangguk kecil sebelum dirinya menghampiri balkon di ruang kerjanya.
Tenten memandangnya sedih. Wanita keturunan Cina-Jepang itu tampak begitu terkejut ketika tak sengaja mendapati berkas perceraian di meja kerja Sakura saat dirinya meletakkan laporan keuangan Cafe. Wanita itu langsung saja menanyakan perihal berkas perceraian itu pada Sakura, tepat ketika Sakura tak lama menyusulnya ke ruang kerja karena ada yang akan mereka bahas di ruang kerja Sakura.
Wanita yang identik dengan surai pink lembutnya itu tampak terkejut dan segera meletakkan berkas perceraian tersebut di laci. Tenten kembali menanyakan perihal berkas itu saat jam kerja telah usai, dan Ia beruntung karena Sakura akhirnya mau menceritakan padanya.
"Apa tidak bisa masalah ini kalian bicarakan baik-baik? " gumanya seraya menghampiri Sakura.
Semilir angin sore menerbangkan surai keduanya. "Kami sudah membicarakannya dan kami sepakat untuk berpisah sebagai jalan keluar dari masalah diantara kami. "
Tenten terdiam. Sebagai sahabat, dirinya menyayangkan jika memang benar perceraian itu akhirnya terlaksana. Ia sungguh tak menyangka jika Sakura selama ini menanggung beban masalah rumah tangganya yang bisa dikatakan baik-baik saja, karena baik Sakura maupun Sasuke juga tak menunjukkan gelagat aneh. Memang mereka berdua akhir-akhir ini Tenten lihat jarang bersama yang Ia pikir karena keduanya sibuk.
Sakura tak mengatakan apa alasan sebenarnya dan masalah apa yang tengah wanita itu alami. Namun Tenten cukup tau diri dan tak akan memaksa Sakura untuk menceritakan semuanya, karena Sakura juga butuh privasi.
"Seperti orang yang ditakdirkan untuk berpisah. Sudah tidak ada kecocokan lagi diantara kami. Untuk itu kami memilih berpisah. "
Hanya perkataan itu lah yang keluar dari bibir Sakura ketika ditanya apa alasan wanita itu memilih berpisah, dan wanita beriris hijau teduh itu enggan menceritakan semuanya.
"Aku tak mengerti. Bukankah selama ini kau hidup dengan orang yang membuatmu bahagia? " tanya Tenten dengan pandangan tak mengertinya.
Sakura tersenyum. Dan Tenten tau, di balik senyum Sakura terselip sebuah luka yang Tenten sendiri tak tau luka apa. Iris hijau teduh Sakura bergulir menatap Tenten lembut.
"Karena aku mencintainya. Dan akan melakukan apapun agar dia juga bahagia. " ucapnya tegar. Tampak iris hijau teduhnya berkaca-kaca menatap Tenten.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Saat itu ketika Cafe sedang ramai-ramainya karena masuk jam makan siang, terdengar bunyi telepon cafe yang dengan sigap Tenten angkat.
"Ya. Blossom Cafe di sini, ada yang bisa kami bantu? " sapa Tenten ramah.
"Bisa bicara dengan Uchiha Sakura? " tanya suara di seberang telepon.
Kedua bola mata Tenten seketika bergulir mencari sosok wanita bersurai pink halus yang langsung Ia temukan tengah melayani salah-satu pelayan. "Maaf, dengan siapa saya bicara? " tanyanya sopan.
"Uchiha Mikoto. "
Tenten berjengit sesaat kemudian mengangguk. "Baik, mohon tunggu sebentar Uchiha-san. " Tenten menjauhkan gagap telpon kemudian kedua netranya kembali menatap sosok Sakura.
"Sakura! " serunya. Namun sayang suaranya tak cukup jelas untuk di dengar Sakura yang masih asik melayani pelayan.
Tenten menarik napas dalam dan menghembuskannya cepat. "Bos! " teriaknya yang sukses membuat pemilik Blossom Cafe itu menoleh ke arahnya. "Ada telpon untukmu. " sambungnya.
Setelah melayani salah-satu pelanggannya, Sakura pun melangkah menghampiri Tenten. "Dari siapa? " ucapnya ketika sampai di tempat Tenten.
"Uchiha Mikoto. " kata Tenten seraya menyerahkan gagap telepon pada Sakura.
Sakura mengeryitkan dahinya. "Ibu? " tanyanya. Tenten mengangguk singkat sebelum meninggalkan Sakura untuk melanjutkan tugasnya.
"Ya, bu. " sapa Sakura.
" ... "
Sakura menaikkan sebelah alisnya saat tak mendapat sahutan di seberang sambungan telepon. "Halo, ibu? " ujarnya lagi, siapa tau Mikoto sedang melakukan sesuatu dan Ia menunggu.
Namun hingga detik demi detik berlalu, bukan suara Mikoto yang terdengar, melainkan suara isakan yang samar-samar Sakura dengar. Sakura mengalihkan perhatiannya, pengunjung cafe sedang ramai-ramainya membuatnya sulit untuk mendengar suara di seberang telepon.
"Halo? " kata Sakura lagi mencoba memastikan suara tadi sebuah isakan atau bukan. Ia mencoba berkonsentrasi agar tak terkecoh dengan bisingnya cafe.
"Sakura ... "
Dan suara dari seberang telepon yang Ia yakini adalah suara Mikoto seketika membuat hatinya diliputi perasaan cemas bercampur bingung.
.
.
.
.
.
Sakura mengendarai mobilnya dengan perasaan campur aduk. Ia mendapat kabar dari Mikoto saat mertuanya itu menelponnya tadi, bahwa Sarada hilang. Mikoto menceritakan, saat itu ketika Mikoto dan Sarada tengah bermain di taman, tiba-tiba terjadi kecelakaan tak jauh dari taman. Mikoto pun mendekat dan membantunya, namun sebelumnya Ia memastikan Sarada tengah bermain bersama temannya.
Dan entah bagaimana ketika Ia kembali ke tempat dimana Sarada bermain, cucunya itu sudah tidak ada. Mikoto bertanya pada orang di sekitar dan mereka mengatakan tidak tahu. Wanita yang tak lagi muda itu pun berusaha mencarinya namun Sarada belum juga ketemu. Dengan hati bergetar takut, bercampur cemas akhirnya Ia pun menghubungi Sakura, namun nomor Sakura sibuk. Beruntung saat Mikoto menghubungi nomor cafe, Ia bisa bicara dengan Sakura.
Tepat saat suara Sakura terdengar, hatinya bergetar penuh rasa bersalah. Ia tak mampu lagi membendung air matanya saat suara Sakura berkali-kali terdengar. Mikoto bingung bagaimana mengatakannya, namun Ia memang harus mengatakannya pada Sakura. Ia mencoba menenangkan dirinya. Dengan menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan, Mikoto pun menceritakannya.
Sakura terkejut, begitu Mikoto selesai menceritakannya, wanita itu segera pergi menuju taman dimana Uchiha Mikoto menunggunya.
Sakura datang dengan raut cemas menghampiri Mikoto yang sama cemasnya. Mikoto kembali menceritakan dimana terakhir kali Ia melihat Sarada. Mereka pun kembali mencari Sarada bersama-sama bersama Fugaku yang juga datang.
.
.
.
.
.
Pukul 11.30pm Fugaku, Mikoto dan Sakura tiba di kediaman Uchiha. Dengan keadaan yang lelah, mereka masuk ke dalam dengan perasaan yang belum bisa dikatakan baik. Hingga saat ini, Sarada belum juga ditemukan. Mereka sudah menelusuri di pusat kota dekat taman dimana terakhir kali Sarada terlihat dan mencari kemana pun namun nihil cucu pertama Uchiha Fugaku belum juga ditemukan. Hingga akhirnya mereka memutuskan melapor pada polisi untuk membantu mencarinya.
"Kau sudah hubungi Sasuke? " tanya Fugaku menatap Sakura.
Sakura mengangguk lemah. "Aku menghubunginya beberapa kali tapi tak diangkat. Tapi aku sudah menghubungi sekretarisnya, agar suamiku meneleponku balik. "
Fugaku membuang napas kasar. "Dasar anak itu! Disaat genting begini kenapa nomornya tak bisa dihubungi. "
Sakura tidak berbohong. Ia memang mencoba menghubungi Sasuke namun nomornya tak bisa dihubungi, tepat ketika mereka tak juga menemukan Sarada di pusat kota.
"Ini semua salahku. Kalau saja aku tak membantu saat kecelakaan itu terjadi, Sarada saat ini masih bersama kita. " Mikoto terus saja menangis dan menyalahkan dirinya sendiri atas hilangnya Sarada.
"Sudahlah bu, jangan menyalahkan dirimu terus. Kita sudah lapor polisi, mereka juga akan mencari Sarada. " Sakura dengan setia menenangkan dan berada di samping Mikoto. Kalau dibilang apa Sakura sedih? Tentu saja sebagai seorang Ibu Sakura sedih, namun Ia tak bisa memarahi Mikoto kan? Jujur kondisinya saat ini juga tak beda jauh dari kondisi Mikoto. Namun sebisa mungkin Ia tetap tegar dan bersabar.
"Sakura benar sayang, kita sudah berusaha mencarinya meski hasilnya nihil. Besok kita juga harus mencarinya lagipula ini sudah malam. Akan lebih baik kita istirahat dulu, kita cari Sarada lagi besok. " netra hitamnya kini beralih menatap Sakura.
"Kau juga Sakura. Istirahatlah, masuklah ke kamar! " ujar Fugaku seraya membawa Mikoto untuk memasuki kamar.
Sakura menghela napas berat. Dengan tidak bersemangatnya, wanita itu menaiki tangga menuju ke kamar.
Aroma khas Sasuke langsung tercium begitu Sakura membuka kamar dan memasukinya. Tentu saja, karena kamar yang Ia masuki ialah kamar Sasuke saat pria itu masih tinggal di kediaman Uchiha. Sakura meletakkan tasnya di sofa kemudian mendudukkan dirinya di ranjang.
Iris hijau teduhnya melirik jendela yang menampilkan langit malam. "Sarada ... dimana kau nak? " gumamnya sedih.
.
.
.
.
.
"Uchiha-sama, "
Pria bertubuh tinggi itu membalikkan tubuhnya tepat ketika Ia akan membuka kamar hotel. Ditatapnya sang sekretarisnya dengan pandangan bertanya. Setaunya rapat tadi sudah selesai Ia bahas.
Pria bernametage Juugo itu menundukkan wajahnya singkat. "Maafkan saya Tuan, tadi Sakura-sama menghubungi saya karena nomor anda yang tidak bisa dihubungi. Beliau mengatakan anda harus menghubunginya jika urusan anda sudah selesai. "
Sasuke terdiam dan tampak berpikir, sebelum pria itu akhirnya mengangguk mengerti. "Baiklah. " katanya seraya memasuki kamar hotel.
Dilepasnya jas coklat yang membungkus tubuh tegapnya dan meletakkannya di sofa kecil, sebelum dirinya beralih meraih ponselnya di meja nakas. Pria itu tak membawa ponselnya saat rapat tadi karena memang tertinggal.
Ada 59 panggilan tak terjawab yang sebagian banyak dari Sakura dan 13 pesan masuk dalam ponselnya saat Ia membukanya. Dahinya sedikit berkerut membaca pesan demi pesan yang masuk ke ponselnya yang juga dari Sakura agar Sasuke segera menghubunginya.
Sasuke pun terdiam dan tampak berpikir. "Apa ini tentang perceraian? " batinnya.
.
.
.
.
.
Sakura masih terdiam menatap jendela yang menampilkan langit malam. Pikirannya luar biasa kacau saat ini, hingga Ia tak tahu lagi harus bagaimana mencari Sarada, putri kecilnya. Meski mereka telah melapor pada polisi, tetap saja itu belum bisa membuat hatinya tenang. Ia takut, takut terjadi apa-apa dengan Sarada dan kemungkinan-kemungkinan buruk yang mulai menghantuinya membuat kegelisahan hatinya kian bertambah.
Drt ... Drt ... drt
Getaran ponsel di saku bajunya mengalihkan perhatian Sakura. Wanita itu sempat terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya Ia meraih ponsel flip dan mengangkatnya cepat. Ia berharap polisi atau siapapun yang menghubunginya tentang keberadaan Sarada.
"Halo, " ucapnya was-was. Ia benar-benar berharap seseorang menghubunginya dan memberi kabar keberadaan putri kecilnya yang entah sekarang berada dimana.
"Hn. Ini aku. "
Tubuh Sakura menegang mendengar suara berat yang menyapa di seberang ponsel. Dengan pelan Ia menatap ponsel dan menemukan id caller 'my husband' yang menghubunginya. Sasuke akhirnya menghubunginya dan Ia pun terpaku.
"Juugo bilang, tadi kau menghubunginya dan memintaku untuk menghubungimu. Apa yang ingin kau bicarakan? "
Genggaman Sakura pada ponselnya mengerat. "Kenapa baru menghubungiku sekarang? " gumamnya datar.
Ada jeda sejenak dari Sasuke sebelum suaranya kembali terdengar. "Ponselku tertinggal di kamar hotel saat rapat tadi. "
Dada Sakura terasa sesak, matanya terasa panas. Tak lama, setitik air mata turun ke pipinya.
Sasuke mengerutkan keningnya ketika suara Sakura tak kunjung bersua. "Sakura ... "
" ... " Sakura tertunduk dan tidak mengatakan satu kata pun.
Wanita itu membekap mulutnya dengan sebelah tangannya yang bebas, Ia tak dapat menahan air matanya. Sakura tak mengerti, entah kenapa setelah mendengar suara Sasuke, Ia ingin menangis padahal sebelumnya Ia begitu tegar. Wanita itu tak dapat menahannya lagi dan mulai terisak pelan.
Mendengar isakan kecil di seberang teleponnya membuat perasaan Sasuke sedikit terusik. Pria itu menajamkan pendengarannya. "Sakura ada apa? " katanya mulai tak tenang mendengar isakan Sakura yang semakin jelas terdengar.
"Bagaimana ini Sasuke? Apa yang harus kulakukan sekarang? " ucap Sakura terbata diiringi isakannya.
"Ada apa sebenarnya? Katakan sesuatu, " kata Sasuke gusar.
Sakura menarik napas berat sebelum menumpahkan segala kegundahan dan kegelisahan hatinya yang sedari tadi Ia tahan. "Sarada ... putri kita hilang Sasu, " desahnya pilu. Tenggorokannya seakan tercekat ketika mengatakannya.
Sasuke terkesip, kedua irisnya seketika melebar yang tak bisa Sakura lihat. "A-apa? ... bagaimana itu bisa terjadi? " wajah tampannya diliputi ekspresi panik.
Sakura menangis, tak Ia pedulikan bulir air matanya yang menyeruak keluar. Perasaannya begitu campur aduk, pertahanannya runtuh sudah dengan hanya mendengar suara Sasuke. Sakura sangat menyayangi Sarada lebih dari apapun, tentu Ia begitu sedih mengetahui putri kecilnya hilang. Ia tak sanggup mengatakannya, namun bagaimana pun juga Sasuke harus tau. Dengan bibir bergetar Sakura menceritakan kejadian yang menimpa putri kecilnya.
Perasaan sesak menyambangi Sasuke. Pria itu tak menyela saat Sakura menceritakan tentang putri kecil mereka. Ia tau Sakura begitu sedih dengan hilangnya Sarada, ingin rasanya Sasuke berada di sampingnya, menjadi dinding pelindungnya. Ia pun menyalahkan dirinya sendiri karena kurangnya waktu bersama keluarga kecilnya.
"Sudah lapor polisi? " tanya Sasuke.
Sakura mengangguk yang tak bisa dilihat Sasuke. "Ya. Ayah juga menyuruh orang-orangnya untuk mencari Sarada, tapi sampai saat ini belum juga ada kabar. Ya Tuhan, bagaimana ini Sasuke? " ucapnya sedih. Wajahnya menunduk dengan sesekali mengusap pelan air matanya.
"Tenanglah, jang- "
"Bagaimana aku bisa tenang jika sampai detik ini belum juga ada kabar tentang putri kita?! " Sasuke terdiam saat Sakura menyela perkataannya.
"Aku khawatir, aku mencemaskannya, mungkin saja di luar sana Sarada sendirian, dia ketakutan dan bagaimana mungkin kau menyuruhku untuk tenang?! Kau tidak menghkawatirkan putrimu sendiri, hah?! " kata Sakura marah. Wanita itu tak percaya, apa sih yang dipikirkan Sasuke? Putrinya menghilang Ia mengkhawatirkannya, mencemaskan keadaannya, tentu Sakura belum bisa tenang jika belum mengetahui dimana putrinya!
"Tentu saja aku mengkhawatirkannya, " desah Sasuke. Bagaimana mungkin Sakura berpikir Ia tak mengkhawatirkannya? Tentu saja Ia khawatir karena ini menyangkut putrinya. Ia menyikapinya dengan logis, berbeda dengan wanita yang selalu menggunakan perasaan untuk menyikapi sesuatu.
"Kamu tidak tau bagaimana paniknya aku, ayah dan Ibu mencari Sarada kemana pun. Aku kesal, marah, sedih, kecewa dan perasaan lainnya bercampur jadi satu di kepalaku, bagaimana aku bisa tenang jika seperti ini! "
"Ibu terus saja menyalahkan dirinya sendiri, dan aku tidak bisa menyalahkan semuanya pada Ibu. " nada suaranya kentara sekali bergetar.
Helaan napas keluar dari bibir Sasuke. Dengan sabar pria itu mendengarkan luapan emosi Sakura. Perasaan campur aduk Sakura membuat wanita itu sulit menenangkan dirinya sendiri. Ia pikir inilah bentuk curahan segala kegundahan hatinya. Dan yang bisa Sasuke lakukan ialah mendengarkan.
"Aku takut. Aku ketakutan, Sasuke! Aku takut terjadi sesuatu dengan Sarada ... aku tidak tau lagi harus bagaimana ... " ucapnya sendu. Sakura kembali menangis, Ia tak sanggup berkata lagi.
Sasuke merasakan sesak di dadanya. Wanita itu tak lagi berbicara, hanya suara tangisnya yang terdengar. Ia tak suka melihat wanita menangis, meski Ia tak dapat melihat Sakura langsung namun suara isak tangisnya membuat sesuatu dalam dirinya bergejolak hebat, hatinya berdenyut nyeri mendengar kata demi kata yang Sakura lontarkan dengan nada bergetar . Mendengar isak tangisnya, ingin rasanya Sasuke berada di dekatnya, memeluk dan menguatkan.
"Kau ada dimana sekarang? " tanya Sasuke setelah cukup lama mereka terdiam.
Sakura mengusap air matanya. "Di rumah Mikoto kaa-san. " isaknya.
Sasuke terdiam seraya memijit pelipisnya sesaat, kemudian menghela napas pelan. "Aku mengerti kau sangat mengkhawatirkan dan mencemaskan Sarada. Bukan hanya kau saja, tapi aku pun! Karena aku ayahnya, aku tak ingin terjadi hal buruk menimpa putriku. "
"Emosi dan kemarahan hanya akan memperburuk keadaan, membuat pikiranmu tak tenang. Cobalah untuk berpikir positif. Tetaplah bersikap tenang dan pikirkan solusinya. " sambung Sasuke.
Sakura menunduk sedih, sebelah tangannya meremas seprai yang Ia duduki. "Sarada ... aku ingin putriku kembali ... " rintihnya.
Kedua iris hitam Sasuke memanas mendengarnya. Hatinya berdenyut nyeri. "Aku tau. Tenanglah, aku akan pulang sekarang! Kita hadapi ini bersama-sama. " untuk saat ini Sasuke mencoba mengesampingkan perasaan lain yang mengusiknya. Ia hanya ingin cepat sampai di Konoha dan segera mencari keberadaan putrinya.
.
.
.
.
.
Tbc
Yawwwww! Part terakhir itu susah banget bikinnya .
Berulang kali bongkar pasang nyari yang pas tp tetep aja kurang pas (mnurut sy) -_- entah dibagian mananya kaya ada yang kurang. Tapi mau bagaimana lagi cuma bisa nyampe di situ TwT...
Untuk kedepannya akan sy usahakan agar lebih baik lagi. Makasih banyak buat kalian semua yang masih nunggu kelanjutan fic 'Hurt Marriage'
Yang sudah fav, fol dan silent reader juga makasih banyak. Btw, kotak review rame ya karena ada haters Sakura yang nyasar di mari. Jujur aku ngga begitu memusingkannya karena sy lg fokus ama ending fic ini dan fic-fic sy lainnya. Dukungan dari kalian makasih banyak, terharu sy baca review dari kalian. ^^
Special thanks
Taka Momiji, coalacolcola, Adriana697, Haters Sakura, zarachan, Shizu F, Friszca A, skrup, lightflower22, Tsurugi De Lelouch, kHaLeri Hikari, Charlotte Puff, wowwoh geegee, Yanti Sakura Cherry, Jamurlumutan462, uchihana rin, Kirara967, Cherry0424, kakikuda, Uchiha Javares, Inka Bluecherry, shirazen, Hurt Marriage, Saigo no hana, Uchiha Kei Qapperella, Ayuwahyuni7, 5a5u5aku5ara, NdaYamada, Kwenda, michikog, DaMa31, Mustika447, SweeTomato, 1, Cha2LoveKorean, Chinara sakiosan, joruri katsushika, Guest, i'm not terrorist, Guest, Ira744, DaunIlalangkuning, unnihikari, Winter.
Oke, sampai ketemu di chap selanjutnya, bye-bye ^_^/
Salam,
JJ Ichiro.
