Disclaimer 'NARUTO'

Belong to

MASASHI KISHIMOTO

Story by JJ Ichiro

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Warning! Ooc, typo, alur berantakan, eyd diragukan dan kesalahan lainnya mohon dimaafkan.

.

.

.

.

.

.

.

.

Uchiha Sasuke x Haruno Sakura

.

.

.

.

.

.

.

.

Selamat Membaca ^^

.

.

.

.

.

"Sarapan dulu Sakura, " kata Mikoto dari dapur begitu melihat Sakura menuruni tangga dengan tergesa-gesa. Istri dari Uchiha Sasuke itu menoleh kemudian menghampiri meja makan yang juga sudah ada Fugaku di sana.

"Kenapa buru-buru sekali, ada apa? " tanya Fugaku.

"Terjadi sesuatu di Cafe, dan aku harus segera ke sana, " jelas Sakura seraya menerima teh hangat dari Mikoto.

Sejenak, iris hitam Mikoto menatap menantunya kemudian pandangannya berubah sendu. Ia menyadari kedua mata Sakura yang bengkak meski samar tertutupi riasan. Bisa Mikoto pastikan semalam Sakura pasti menangis. Sungguh, Ia menyalahkan dirinya sendiri yang dengan teledor membuat cucunya sampai menghilang.

"Semoga saja bukan masalah yang buruk. " ucap Fugaku.

Sakura mengangguk. "Ya, semoga saja. " sudah sangat terlambat untuk sarapan, namun Sakura tak mau mengecewakan Mikoto yang sudah membuat pancake untuknya, Ia pun memakannya dalam diam.

"Bagaimana dengan Sasuke? Apa suamimu sudah menghubungimu? " tanya Fugaku lagi.

Sakura memelankan kunyahannya dan menoleh menatap Fugaku. "Sudah. Dia bilang, dia akan pulang secepatnya. "

"Baguslah. Itachi dan Konan juga akan pulang. " kata Fugaku membuat Mikoto dan Sakura menatapnya bingung.

"Bukankah Itachi masih di Barcelona? " pertanyaan dari Mikoto mewakili apa yang juga menjadi pertanyaan Sakura, karena setaunya Itachi dan Konan baru berangkat seminggu yang lalu ke Barcelona.

"Pagi tadi Itachi menghubungiku dan bilang dia dan Konan akan pulang hari ini. Mereka sudah dengar tentang hilangnya Sarada, mereka khawatir untuk itu mereka memutuskan untuk segera kembali. " jelas Fugaku.

Dalam hati Sakura sangat bersyukur karena semua orang begitu menyayangi Sarada. Apalagi Itachi dan Konan, jika sudah menyangkut Sarada mereka juga akan ikut turun tangan.

Sama seperti Sasuke, meski semalam Sakura berbicara via ponsel namun Ia tahu Sasuke pasti begitu khawatir dan panik begitu tau Sarada hilang. Masih jelas diingatan Sakura semalam saat Ia menangis, meluapkan semua rasa sesak dan emosi yang ditahannya. Sasuke menjadi pendengar yang baik, meski Sakura tahu ada kecemasan yang luar biasa dari Sasuke namun pria itu lebih memilih menunggu hingga Ia selesai berbicara. Dan entah kenapa, kata-kata Sasuke yang keluar dari mulut pria itu membuat hatinya sedikit lebih tenang.

Tap.

Sentuhan di bahunya membuat lamunan Sakura buyar. Ia menoleh dan menemukan Mikoto yang berdiri di sampingnya, menatapnya dengan pandangan menyesalnya.

"Maafkan Ibu, Sakura. Aku benar-benar tidak becus untuk menjaga cucuku sendiri. Aku ... nenek yang buruk. Tidak apa-apa jika kau mau marah atau membenciku, Sakura karena ini adalah salahku, " katanya putus asa.

Cukup lama Sakura menatap Mikoto, sebelum Ia meraih tangan Mikoto di bahunya, kemudian menggenggamnya. "Kenapa Ibu bicara seperti itu? Mana mungkin aku melakukan hal itu padamu bu? Ibu adalah Ibu dari suamiku, dan tentu saja Ibuku juga. "

Mikoto menatapnya dengan pandangan sedih.

"Tolong jangan menyalahkan diri Ibu terus-menerus. Yang terpenting sekarang bukanlah menyalahkan siapa, tapi keberadaan Sarada. " gumam Sakura. Ia mengalihkan perhatiannya, kemudian menghela napas pelan.

"Sasuke-kun mengatakan padaku untuk tetap tenang dan memikirkan jalan keluarnya. Aku sedikit lebih tenang mendengarnya. Karena kupikir, menangis dan menyalahkan diri sendiri hanyalah sebuah luapan emosional perasaan dalam diri yang hanya akan memperburuk keadaan. Sedangkan sesuatu dalam diriku hanya ingin putriku kembali. " pandangan Sakura tampak meredup.

"Untuk itulah, Sasuke-kun berulang kali menyuruhku untuk tetap tenang dan berpikir positif. Karena kita hadapi ini bersama-sama, aku yakin Sarada pasti akan cepat kita temukan. " iris hijau Sakura menatap Mikoto dan Fugaku bergantian. Meyakinkan keduanya bahwa mereka pasti bisa melewati ini semua. Mikoto menatap Sakura dengan pandangan berkaca-kaca, mertua Sakura itu tak tau harus berkata apa selain memeluk menantunya itu dengan penuh haru.

"Aku benar-benar tidak tau apa yang harus kukatakan sekarang. Tapi Sakura, Aku benar-benar bersyukur memiliki dirimu sebagai istri Sasuke dan menantu di keluarga kami. " gumam Mikoto. Sungguh, Mikoto tak menyangka, setelah apa yang sudah Ia lakukan, Mikoto berpikir Sakura marah kepadanya bahkan membencinya karena sudah membuat Sarada hilang. Namun dugaannya salah, Sakura tak marah atau membencinya. Bisa Mikoto lihat pendar nanar di sorot mata Sakura, namun menantunya itu masih bisa menenangkannya dan menyakinkan dirinya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Mereka pasti akan menemukan Sarada secepatnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Dugaan kita selama ini benar, Sakura. Sweet Cafe yang terletak di ujung jalan, meniru hampir keseluruhan Cafe kita. Chouji sudah menyelidikinya. " ujar Tenten. Iris matanya sempat melirik Chouji sesaat. Chouji mengangguk.

Sakura menatap dengan pandangan tak terbaca beberapa foto di meja dan tiga sampel makanan dan satu gelas minuman yang Tenten dapat dari Sweet Cafe, saat Ia menyamar sebagai pelanggan. Hari ini Cafe sengaja tutup, dan hanya ada dirinya, Tenten, dan Chouji.

"Bukan hanya desain Cafenya, tapi menunya juga ditiru habis-habisan. Tiga menu utama dan satu minuman sudah ditiru mereka. Croissant dengan berbagai topping dan filling yang cuma ada di cafe kita, cherry blossom milk pudding, strawberry mochi, dan matcha latte. " Chouji menunjuk satu per satu makanan di meja.

"Dari segi rasa, aroma dan tekstur benar-benar mirip dengan menu utama cafe kita. Ah, mungkin pengecualian untuk cherry blossom milk pudding, mereka terlalu banyak memakai milk. Meski terlihat sama, namun rasanya sedikit berbeda dengan cherry blossom milk pudding milik kita. " jelas Chouji.

Sakura melipat kedua lengannya di dada. Netra hijau teduhnya memperhatikan makanan di depannya. Sulit untuk dipercaya, menu cafenya ditiru habis-habisan. Pemilik blossom cafe itu enggan mencicipi menu di depannya. Dengan hanya mendengar penjelasan Chouji sebagai koki di cafenya, Ia sudah tau dan percaya. Karena Chouji adalah pencicip terbaik.

Ini buruk, cafe yang baru dirintisnya sudah ada yang meniru habis-habiskan. Ia bahkan tak habis pikir, bagaimana cafe itu bisa meniru sedemikian mirip dengan cafenya.

Sakura menarik napas dan menghembuskannya perlahan. 'Cobaan apa lagi ini yaa Tuhan? ' batinnya. Hubungannya dengan Sasuke yang tak mendapat kemajuan, perceraian, Sarada, dan sekarang cafenya. Ia hanya berharap dan berdoa'a semoga Ia bisa melaluinya.

"Kita harus mengurusnya segera. Ini tidak bisa kita biarkan terlalu lama. " ucap Sakura yang mendapat anggukkan setuju dari Tenten dan Chouji.

Pranggg!

Sontak ketiganya menoleh dan betapa terkejutnya mereka ketika mendapati kaca Cafe tiba-tiba pecah. Sebuah batu menembus kaca cafe hingga membuatnya hancur berkeping-keping. Ketiganya berdiri dan segera menghampiri serpihan kaca. Chouji berlari keluar mencari sosok yang melempar batu tersebut dengan sengaja, karena sempat Ia melihat bayangan orang yang berlari dari balik tiang lampu depan cafe. Namun sayang, Ia tak bisa menemukan orang tersebut.

Sakura memungut batu yang menggelinding di bawah meja. Batu yang cukup besar hingga membuat kaca Cafe pecah.

"Sakura, lihat ini! " Tenten melangkah cepat menghampirinya seraya menunjukkan secarik kertas kepadanya.

'Datanglah ke bangunan tua selatan kota. Atau kau tidak akan pernah melihat putrimu lagi. Uchiha Sarada. Dan jangan coba-coba libatkan polisi. '

Kadua iris hijau teduh Sakura sukses melebar membaca rangkaian kata yang tertulis di surat tersebut. Napasnya tiba-tiba memburu.

"Sial! Aku tidak menemukan pelaku yang sudah melempar batu ke kaca cafe. " Chouji datang dan menatap bertanya ke arah Tenten dan Sakura yang menampilkan wajah panik luar biasanya.

Sakura merebut kertas tersebut dari tangan Tenten. Meraih kunci mobilnya kemudian melangkah keluar.

"Sakura, kau tidak bisa pergi sendirian. Ini cukup berbahaya, biar aku ikut denganmu! " cegah Tenten yang berhasil menghentikan langkah Sakura.

"Ada apa ini? Kalian mau kemana? " tanya Chouji menghampiri keduanya.

"Sarada, diculik. Dan pelakunya memberi tau lokasi dimana keberadaan Sarada lewat surat lemparan batu yang menembus kaca tadi. " jelas Tenten.

"Apa? " kejutnya. "Kalau begitu aku juga ikut! " kata Chouji.

"Tidak! " tegas Sakura. "Aku yang akan ke sana, kalian di sini. "

"Apa?! Tapi kenapa, Sakura? Tentu ini sangat berbahaya jika kau pergi sendirian. " kata Chouji tak terima yang mendapat anggukan dari Tenten.

"Kami tetap akan ikut! " tegas Tenten.

Netra hijau Sakura menatap Tenten. "Tidak Tenten. Kau di sini, aku mempercayakan cafe ini pada kalian. Cari tau siapa pemilik cafe yang sudah meniru cafe kita habis-habisan. " kemudian melirik Chouji.

"Tapi, " Tenten dan Chouji terdiam dan saling menatap. Sial, mereka juga harus mengurus masalah di cafe, mencari tau siapa orang yang sudah meniru blossom cafe dan membuat hancur Cafe. Namun mereka juga tak bisa membiarkan Sakura pergi sendirian, itu cukup berbahaya.

"Jika terjadi sesuatu, aku akan menghubungi kalian. " kata Sakura, sebelum dirinya berbalik dan melangkah cepat menghampiri mobilnya. Mengabaikan teriakan Tenten yang memanggilnya.

"Oi, Sakura! "

"Kita tidak bisa biarkan Sakura pergi sendiri Tenten. Aku akan menyusulnya! " Chouji dengan sigap berlari ke dalam cafe dan tak lama kemudian keluar dan langsung menaiki motornya.

"Chouji aku juga akan ikut! " kata Tenten seraya menghampiri pria itu.

"Jika kau ikut, tidak ada yang menjaga blossom cafe. Lihat! Kita tidak bisa meninggalkan blossom cafe dengan kondisi seperti itu. " lirik Chouji ke arah kaca cafe yang pecah.

Tenten mengikuti arah pandang Chouji dan untuk sejenak Ia menunduk, mengiyakan apa yang barusan Chouji katakan. Mereka tak bisa pergi bersama-sama dan meninggalkan cafe. Ia pun bimbang. Wajahnya menunduk sedih.

"Lalu bagaiman? Aku sangat mengkhawatirkan Sakura, " kata Tenten menatap Chouji dengan mata berkaca-kaca.

Chouji menghela napas pelan. Tampak jelas raut cemas di wajah pria satu orang anak itu. "Aku mengerti Tenten, aku juga sangat mengkhawatirkan Sakura dan tak bisa membiarkan Sakura pergi sendirian. Kau tenang saja, biar aku yang akan menyusul Sakura. Percaya padaku, semuanya pasti akan baik-baik saja. " ucap Chouji, kemudian memasang helm dan meyalakan mesin.

Tenten hanya bisa mengangguk lemah dan menatap punggung Chouji yang perlahan menjauhinya bersama motor yang ditumpanginya. Ia pun juga berharap semuanya akan baik-baik saja.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Grep

Sakura menutup pintu mobil seraya netra hijau teduhnya menatap ke sekelilingnya. Sepi, hanya terdengar cicitan burung diantara pepohonan yang menjulang tinggi. Wanita itu sudah sampai di selatan kota seperti apa yang tertulis di surat. Ia sempat terkecoh saat baru saja tiba dan hanya berputar-putar saja tanpa menemukan bangunan tua tersebut.

Yang Sakura lihat saat tiba di selatan kota hanya bekas taman bermain yang sudah tak digunakan lagi dan selebihnya hanya pepohonan tua dan tumbuhan liar. Hingga dirinya dibuat bingung ketika beberapa kali memutari jalan tersebut tak Ia dapatkan bangunan tuanya. Sakura marah dan kesal karena tak kunjung menemukan bangunan tua tersebut. Hingga netranya tak sengaja menemukan sebuah jendela rusak yang terbuka, tepat di belakang pohon beringin.

Langsung saja Sakura melajukan mobilnya mendekati pohon beringin itu, dan benar saja. Terdapat bangunan tua tak jauh dari pohon beringin. Letaknya yang dikelilingi pepohonan dan bangunannya yang juga sudah banyak dirambati tumbuhan liar, membuat bangunan tersebut nyaris tak terlihat karena tertutupi pohon beringin.

Tanpa ragu Sakura melangkahkan kakinya ke dalam. Tak bisa dipercaya, bekas taman bermain sudah berubah layaknya hutan dengan banyak pepohonan dan permainan yang sudah berkarat tak terawat membuat siapapun enggan untuk mendekat.

Langkahnya terhenti, menatap bangunan tua yang berdiri di depannya. Bangunan tua yang sudah tak terawat. Dindingnya pun sudah mulai dirambati tumbuhan liar, cat memudar, atap yang rapuh karena termakan usia. Sebuah bangunan tua bekas perpustakaan kota yang kini sudah pindah di pusat kota. Ia sedikit bingung karena tak mendapati siapapun selain dirinya di sini. Apa mungkin itu artinya orang yang sudah menculik Sarada hanya ingin bertemu dengan dirinya saja tanpa antek-anteknya? Karena dalam surat tersebut si pengirim tak ingin berurusan dengan polisi kan? Namun Sakura juga mesti waspada siapa tau Ia mendapat serangan tiba-tiba.

Sakura mengepalkan sebelah tangannya. Pandangan matanya menatap dingin bangunan tua tersebut. "Aku bersumpah jika itu kau ... Sai. Aku tidak akan pernah memaafkanmu! " desisnya tajam.

Yah, Sakura bersumpah pada dirinya sendiri. Bila memang Sai yang sudah menculik Sarada, Sakura tidak akan pernah memaafkan pria itu. Tidak cukupkah apa yang sudah pria itu lakukan pada kehidupannya?

Krieeet

Dengan penuh kewaspadaan Sakura mulai membuka pintu utama. Tak ada penerangan dari listrik. Hanya cahaya matahari yang menyelinap dari celah-celah bangunan. Gelap dan pengap, itulah kesan pertama saat Sakura memasukinya. Terdapat dua lorong di kanan dan kirinya yang gelap, namun Sakura memilih berjalan ke depan, tepatnya ruang tengah.

Cklek'

Dibukanya pintu ruangan tengah yang menurutnya cukup luas, terlihat dari cahaya matahari yang menyelinap dari celah-celah bangunan.

"Selamat datang ... "

Tubuh Sakura sedikit menegang mendengar sebuah suara yang tiba-tiba memecah keheningan dalam ruangan. Dahinya mengeryit bingung bercampur was-was seraya netranya bergerilya mencari dimana sumber suara tersebut.

"Tak kusangka kau benar-benar datang sendiri kemari, sebuah kehormatan bagiku. Bagaimana? Apa tempatnya cukup menyulitkanmu? "

"Siapa itu? " ucap Sakura was-was merasakan derap langkah kaki terdengar jelas. Sakura melarikan pandangannya begitu melihat sebuah bayangan.

"Lama tak bertemu, Sakura ... "

Netra hijau teduh Sakura menyipit, berusaha memperjelas pandangannya pada siluet itu. Ruangan yang minim cahaya membuatnya kesulitan melihat dengan jelas siapa lawan bicaranya. Namun, begitu siluet itu terhenti tepat di bawah cahaya yang masuk dari celah bangunan, Ia bisa melihatnya dengan jelas sosok itu.

"Kau?! " ujarnya dengan tatapan tak percaya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Sial! " Chouji mengupat keras. Ia kehilangan jejak Sakura dan malah mendapat kecelakaan yang nyaris membuat nyawanya hilang saat truk bermuatan semen dari arah berlawanan tiba-tiba tergelincir dan hampir memakannya kalau saja Ia tak cepat-cepat membanting stir motornya ke sawah. Truk itu terguling dengan muatannya yang terlempar kemana-mata sebelum akhirnya terdengar suara ledakan dari truk itu.

Chouji memandang ngeri ledakan truk itu. Tak lama beberapa mobil polisi pun datang dan mulai mengidentifikasi, termasuk dirinya.

Langit sudah mulai gelap, dengan hujan yang sudah mulai membasahi aspal. Chouji melirik motornya yang pecah di bagian depan. Saat Ia membanting stir motornya ke sawah, Ia memang sempat menabrak pohon mangga sebelum dirinya terguling ke sawah. Ia juga mendapat luka di beberapa bagian namun tak begitu parah. Yang Ia pikirkan sekarang ialah bagaimana Ia bisa menyusul Sakura.

Dan deringan ponsel di saku celananya membuyarkan lamunan Chouji. Cepat-cepat Ia mengangkatnya.

"Halo Chouji, bagaimana? Kau ada dimana sekarang? Bagaimana dengan Sakura? "

Chouji menunduk sedih begitu suara Tenten terdengar di sambungan ponselnya. "Maafkan aku Tenten. Aku kehilangan jejak Sakura, dan malah kecelakaan. "

"Apa?! Bagaimana bisa? Kau dimana sekarang? " kata Tenten panik.

"Ceritanya panjang. Yang terpenting sekarang adalah Sakura. Aku tidak tau lagi harus bagaimana, motorku hancur. Akan lebih baik kita hubungi keluarganya agar bisa mencari Sakura bersama-sama. Aku juga akan mencari bantuan di sini. "

"Baik. "

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Matsuri ... " ucap Sakura tak percaya.

Terdengar suara tawa rendah dari wanita yang berdiri angkuh menatap Sakura dengan lengan yang terlipat di dada. "Masih mengingatku rupanya. "

"Tentu saja. Kau ... teman suamiku dulu kan? " ucap Sakura seraya memperhatikan wajah Matsuri. Bagaimana mungkin Sakura bisa lupa, meski Ia dan Matsuri tak begitu dekat namun Sakura tahu betul teman dekat Sasuke sewaktu kuliah dulu. Dan satu-satunya teman wanita yang dekat dengan Sasuke ialah Matsuri. Bahkan dulu Sakura pernah mengira Matsuri itu kekasih Sasuke karena saking dekatnya. Tapi Sasuke mengatakan bahwa Ia dan Matsuri hanya teman.

Matsuri tertawa. "Teman? Kita bisa lebih dari sebuah pertemanan jika saja kau tidak hadir dalam hidupnya. "

Sakura memberinya tatapan tak mengerti. "Apa ... maksudmu? "

"Apa kau percaya kalau wanita dan pria bisa bersahabat tanpa ada rasa cinta yang terpendam? "

Sakura bungkam. Ia semakin tak mengerti dengan perkataan Matsuri. Dahinya berkerut dengan kedua netra hijaunya mencoba memahami apa maksud dari perkataan Matsuri.

Blarr!

Sakura berjengit kaget begitu tiba-tiba ruangan menjadi terang. Matanya menyipit menerima cahaya terang dari lampu yang tiba-tiba menyala. Tampak Matsuri yang masih berdiri menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Dan Sakura bisa melihatnya dengan sangat jelas.

Namun itu hanya sesaat, sampai kedua netra Sakura terbelalak lebar menangkap sosok putri kecilnya yang tergelatak di sofa coklat di belakang Matsuri.

"Sarada! " serunya. Baru saja Sakura akan melangkahkan kakinya, kedua lengannya tiba-tiba dicekal oleh seseorang dari belakang tubuhnya.

"Lepas! " berontaknya. Dua pria berbadan lumayan besar mencekal kedua lengannya. Hingga membuat dirinya tak bisa menghampiri Sarada.

"Aku bilang lepas! Siapa kalian?! " teriak Sakura, masih berusaha melepaskan cengkraman tangan pria itu di lengannya. Namun bukannya terlepas, cengkraman itu semakin kuat.

"Lepaskan Aku! " teriak Sakura lagi seraya mulai menendang-nendang kaki pria itu.

"Berisik! "

"Aku bilang le- "

PLAKKK

"Ugh! "

Tamparan keras Sakura rasakan di bagian pipi kirinya yang seketika terasa panas. Wanita itu hanya mampu diam menunduk menahan perih di pipinya.

"Kenapa kau begitu cerewet! Lihat! Inilah akibatnya jika kau tak bisa diam. " ucap salah-satu pria tersebut.

"Jangan terburu-buru. Kita lakukan secara perlahan. " ucap Matsuri tenang.

Perlahan Sakura mengangkat kepalanya, menatap Matsuri. "Apa kau yang melakukan ini semua? " ucapnya datar.

Matsuri terdiam sesaat dengan pandangan datarnya, sebelum akhirnya mendengus sinis seraya membuang muka. "Menurutmu? " tantangnya seraya melipat kedua lengannya di dada dengan kedua netra coklatnya kembali menatap Sakura.

Sakura menatap tak percaya. "A-apa? Tapi, "

"Kau terkejut? " potong Matsuri.

Sakura terdiam, netra hijau teduhnya bergulir menatap Sarada yang masih tergelatak di sofa. "Sarada! Sarada bangun! Ini Mama sayang, Sarada! " teriaknya.

"Heh. " Matsuri tertawa. "Dia tidak akan bangun. " sambungnya.

Deg'

Sakura terdiam, jantungnya seketika berdegup kencang. Kedua netranya seketika bergulir menatap Matsuri tajam. "Apa yang sudah kaulakukan padanya! " bayang-bayang dan kemungkinan buruk mulai menghantuinya. Ia mulai takut.

Matsuri kembali mendengus. "Jangan menampilkan ekspresi seperti itu Haruno. Tenang saja, aku tidak sekejam itu yang tega membunuh gadis kecil yang tak tau apa-apa. " ucapnya kemudian tertawa.

Sakura menatapnya cemas bercampur gelisah. "Apa maksudmu? Apa yang terjadi dengan putriku?! "

Matsuri terdiam, menatap Sakura dengan pandangan diamnya.

Kegelisahan Sakura kian bertambah, kala Matsuri tak bereaksi apapun. Wanita itu hanya menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. "Katakan padaku apa yang sudah kaulakukan pada putriku, Matsuri! " teriaknya tak sabaran. Netra hijau teduhnya kembali bergulir menatap sang putri. "Sarada! Demi Tuhan Sarada bangun! Sarada! Sarada! "

"Percuma saja Haruno. Bukankah sudah kukatakan bahwa putrimu tidak akan bangun? Putrimu mungkin saja sedang bermimpi indah sekarang. "

Tubuh Sakura menegang. Jantungnya kian berdebar kala melihat tubuh sang putri yang terbaring damai di sofa. Kepalan tangan Sakura mengepal, netra hijau teduhnya menatap tajam Matsuri.

Matsuri tertawa sinis. "Oh ayolah, jangan menatapku dengan pandangan seperti itu. "

Sakura menatap tak suka Matsuri. Kedua netra hijau teduh Sakura memanas. "Demi Tuhan, aku tidak akan pernah memaafkanmu jika terjadi sesuatu pada putriku! " ujar Sakura dingin.

Matsuri memberinya tatapan menantang. "Benarkah? "

" ... "

"Dia berisik, banyak tanya. Aku tidak suka anak kecil. Karena itu, aku memberinya obat tidur agar dia diam. Selesai. " lanjut Matsuri setelah cukup lama terdiam.

Sakura melebarkan matanya. Semua perkataan Matsuri yang tanpa beban membuat sesuatu dalam dirinya bergejolak. Perasaan marah, kesal, sedih bercampur jadi satu yang tak mampu lagi wanita itu tahan. Dengan luapan emosinya, Sakura menyentak kedua tangannya yang tercekal hingga terlepas, Ia melangkah cepat menghampiri Matsuri.

Srak'

Dicengkramnya dengan kuat kerah baju Matsuri oleh kedua tangnnya hingga membuat wajah Matsuri sedikit mendongak. "Sialan! Tega-teganya kau memberikan obat tidur pada anak kecil, dimana otakmu Matsuri! " teriak Sakura murka.

Matsuri mendecih sisnis. "Jangan bodoh Haruno, bukankah kau juga tega merebut orang yang kucintai. Orang yang sudah lama kucintai lebih dari perasaanmu padanya. "

" ... "

"Aku mencintainya. " gumam Matsuri menyadari tatapan tak mengerti dari Sakura.

Sakura mengerjapkan matanya sekali. Cengkraman tangannya di kerah baju Matsuri sedikit mengendur yang langsung tak disia-siakan Matsuri untuk menepisnya.

"Sasuke, kah? " ucap Sakura datar.

Matsuri terdiam.

Sakura tertawa miris. "Yappari. Tidak ada wanita yang mampu menolak pesonanya, tak terkecuali dirimu. "

Sakura tak begitu terkejut mendengar pengakuan Matsuri. Jauh sebelum ini, Sakura memang sudah mendunga Matsuri menaruh hati pada Sasuke untuk itu, dulu Sakura menyerah untuk mendekati Sasuke. Namun, takdirlah yang akhirnya mempersatukan Sasuke dan Sakura. Berat bagi Sakura saat mendengar pengakuan dari Sasuke bahwa pria itu menginginkan hubungan yang lebih serius bersama Sakura, karena Ia pun memikirkan perasaan Matsuri sebenarnya. Pernah suatu ketika Sakura bertanya bagaimana perasaan wanita itu terhadap Sasuke. Matsuri sempat terdiam cukup lama, sebelum memeluk Sakura singkat dan berkata, "Aku baik-baik saja. Jika memang kaulah pilihan yang terbaik untuknya tentu saja aku mendukung kalian berdua. " ucapnya dengan senyum di bibirnya. Kedua netranya bahkan menatap yakin kearahnya, hingga membuat Sakura yakin bahwa Matsuri tak ada perasaan apapun kepada Sasuke.

"Aku tertipu akan senyum dan tatapanmu waktu itu. " ucap Sakura setelah selesai memflashback dirinya saat bertemu Matsuri di belakang kampus.

"Dibalik senyum dan tatapan itulah tersimpan sebuah luka yang mengaga lebar yang tak akan pernah kau rasakan. " desis Matsuri.

"Dan sekarang, aku ingin kau merasakan juga apa yang dulu kurasakan. Perasaan sakit selama bertahun-tahun. " sambungnya.

Sakura menatapnya dengan pandangan tak terbaca. "Kalau begitu, kenapa tidak dari dulu kau mengatakan perasaanmu padanya dan malah sekarang kau mengakuinya? "

Matsuri menghela napas pelan. "Sederhana saja, itu karena dia yang tak pernah mau membuka perasaannya untukku. Dia bilang, aku ini yang terpenting baginya, dia nyaman bersamaku. Tapi, apalah arti semua rasa itu jika hanya sebatas perasaan seorang kakak pada adiknya. Yah, dia menganggapku sebagai adiknya, sahabatnya, tak lebih. "

Yah, Sakura mengerti. Sikap Sasuke pada Matsuri memang menurutnya spesial, karena dulu pria itu lebih mementingkan Matsuri daripada dirinya. Bohong jika Sakura tak apa-apa, berkali-kali Ia harus bersahabat dengan perasaan cemburu akan perlakuan Sasuke kepada Matsuri, namun pria itu selalu menegaskan bahwa Ia tak punya perasaan apapun pada Matsuri begitu pun sebaliknya.

"Menurutku itu bukanlah sebuah alasan, tapi kau memilih melarikan diri dari perasaanmu yang tak mampu kau ungkapkan padanya. Kalau aku jadi kau ... Aku akan mengungkapkannya. " ucap Sakura.

Matsuri memberinya tatapan menyelidik. "Apa maksudmu? "

"Kalau aku jadi Kau ... Aku memilih untuk mengungkapkannya, tak peduli dia hanya menganggapku sebagai adik, meski dengan resiko renggangnya sebuah persahabatan. Karena aku mencintainya. Aku ingin melihatnya tersenyum, meski bukan aku yang membuatnya tersenyum. " lanjut Sakura.

Matsuri memberinya tatapan tak sukanya. "Wanita jalang sepertimu tak pantas menceramahiku dengan bualan omong kosong. Asal kau tau Haruno, dulu pernah aku menyerah dengan perasaanku. Tapi, saat aku mengetahui kau bermain api dibelakangnya, aku benar-benar marah, aku muak. Wanita jalang sepertimu tidak pantas dengan Sasuke. Kau lebih asik bercumbu dengan Shimura Sai, sementara- "

PLAK!

Ditamparnya pipi Matsuri dengan telapak tangannya, membuat perkataan wanita bersurai coklat itu terhenti. Sakura mengeraskan rahangnya kuat, Ia tak kuasa lagi menahan segala emosi yang menyatu dalam dirinya hingga Ia tak mampu menahan lagi untuk tidak melayangkan sebuah tamparan keras di pipi Matsuri.

Napas Sakura memburu menatap Matsuri. "Kau ... Kau tidak tau apa-apa tentang Aku! "

Matsuri terdiam, Ia bahkan tak bergerak sedikit pun pasca Sakura menamparnya.

"Kau ... tidak tau kejadian yang sebenarnya. " ucap Sakura dengan bibir bergetar.

"Jadi ... tutup mulutmu MATSURI! " teriak Sakura. Ia kembali akan menampar Matsuri namun lagi-lagi kedua lengannya kembali dicekal oleh dua orang pria.

"Lepas! " kesal Sakura.

"Berani-beraninya kau menampar bos kami. Rasakan ini! "

PLAK!

Sakura kembali merasakan tamparan yang lebih keras di pipinya hingga membuatnya jatuh terduduk. Kepalanya pusing dan berkunang-kunang.

Matsuri menatapnya datar seraya merapikan surainya yang sedikit berantakan. "Ikat dia di kursi! " perintah Matsuri.

"Baik. " salah-satu pria itu mengambil kursi sedang yang satunya menarik Sakura untuk berdiri.

Meski dalam keadaan pusing dan berkunang-kunang, samar-samar Sakura menangkap perkataan Matsuri yang seketika membuatnya tertegun sedih. Sebelum akhirnya dirinya pasrah diikat dikursi dengan tali.

"Kau tak bisa menjaga perasaannya yang tulus mencintaimu. "

Sakura terkulai lemas dengan kepala yang menunduk. Ia merasakan matanya memanas. Tak butuh waktu lama hingga cairan bening perlahan keluar dari mata indahnya yang tertutup. Perkataan Matsuri benar menohoknya. Ia tak bisa menjaga perasaan tulus Sasuke kepadanya, benar apa kata Matsuri bahwa Ia tak pantas bersama Sasuke. Ia wanita hina yang sudah menodai rumah tangganya. Kini, hanya perasaan menyesal yang tiada ada akhirnya yang selalu Ia rasakan, hingga rasanya Ia ingin mati.

"Kau mencintainya kan? Tenang saja Matsuri, kami akan segera bercerai. Setelah itu kau bisa kembali padanya dan aku tidak akan menganggu kalian lagi. " gumam Sakura pelan. Yah, mungkin inilah baiknya. Setelah Ia resmi bercerai nanti, Ia akan pergi jauh dan menjalani kehidupan baru di kota lain atau di negara lain. Tentang Sarada ... Sakura tau, tak mudah mendapatkan hak asuhnya, tapi jika memang Sasuke memaksa ingin menjadi hak asuh Sarada, maka Ia pun mengalah. Mungkin jika dijabarkan, dan mendengar cerita Matsuri, jika saja Ia tak hadir di kehidupan Sasuke, Matsuri dan Sasuke akan bersama. Karena menurutnya, cinta Matsuri mungkin lebih besar dari perasaan Sakura pada Sasuke. Mungkin benar, jika selama ini Ialah yang menjadi penghalang diantara hubungan Sasuke dan Matsuri.

'Jadi, harus sampai di sinikah perasaannya pada Sasuke? ' batinnya sedih.

Tidak. Perasaannya kepada Sasuke akan tetap abadi di lubuk hatinya, meski Ia tak lagi berada di sisi Sasuke. Ia pun hanya mampu tersenyum miris.

"HAHAHAHAHA ... "

Sakura melirik, dahinya sedikit berkerut menatap Matsuri yang tertawa keras.

"Bercerai? Itu bagus Haruno. "

Sakura bungkam, menunggu Matsuri meneruskan perkataannya.

"Tapi sayangnya, aku tak berminat untuk kembali bersama Sasuke. "

Perkataan Matsuri kembali membuanya diliputi kebingungan. 'Tak berminat? Apa maksudnya? Bukankah dia menginginkan Sasuke? ' batinya penasaran.

"Apa maumu? " ucap Sakura.

Matsuri mendengus tertawa seraya bertepuk tangan. "Inilah yang kutunggu dari tadi Sakura. Pertanyaan 'Apa maumu?' ... "

Perlahan Matsuri melangkah mendekati Sakura, hingga tepat berdiri di depan Sakura. Matsuri masih mempertahankan senyumnya, menatap Sakura. Ia sedikit membungkuk, mengulurkan lengannya meraih dagu Sakura agar menatapnya. "Mauku adalah ... Aku ingin kauhancur. Aku ingin tau bagaimana reaksi Sasuke saat wanita yang menjadi pilihannya hancur di depan matanya. Wanita yang juga sudah menghianatinya. Haah ... Dia pasti akan berterima kasih padaku. " ucapnya senang. Tangannya yang memegang dagu Sakura berpindah pada pipi kanan Sakura dan menepuk-nepuknya pelan.

Sakura menatapnya tanpa berkedip, Ia benar-benar tak mengerti jalan pikiran Matsuri. Bukankah wanita itu menginginkan Sasuke? Kenapa malah sekarang ingin membuat Sakura hancur. "Kehancuran seperti apa yang kauinginkan? " ucap Sakura pelan.

Matsuri mendengus sinis. "Wow! Kau menantangku? " Wanita itu menegakkan badannya.

Matsuri mengulurkan lengannya dan tanpa aba-aba langsung melayangkan sebuah tamparan di pipi Sakura.

Plakk

Sakura hanya mampu memejamkan kedua matanya erat, kala Ia kembali merasakan sensasi panas yang menjalar di pipinya.

"Bagaimana dengan ini, "

Plakk

Matsuri kembali menampar Sakura dengan lebih keras yang tak mendapat perlawanan dari Sakura. Wanita itu mencengkram rahang Sakura kuat agar menatapnya.

"Ini belum apa-apa Haruno. Aku masih ingin melihatmu lebih hancur dari ini! " desisnya tajam sebelum melepaskan tangannya dari rahang Sakura dengan kasar.

Belum hilang rasa pusing di kepalanya akibat tamparan pria suruhan Matsuri, Sakura harus kembali merasakan pusing yang luar biasa dengan pandangannya yang berkunang-kunang. Lama-kalamaan dirasanya sudut bibirnya yang terasa perih, namun Ia abaikan.

Di tengah-tengah kesadaran Sakura dengan mata yang masih berkunang-kunang, Sakura memaksakan diri untuk menatap Matsuri. "Jangan bilang, kalau kau juga lah yang sudah mengacaukan Cafe ku. " gumam Sakura. Ia hanya asal menduga.

Matsuri sempat terdiam, namun setelahnya wanita brsurai coklat itu mendengus tertawa. "Ya! Tepat sekali. Aku yang sudah mengacaukan Cafe mu. Pemilik Cafe yang meniru habis-habisan Cafe mu adalah Aku. Aku juga yang sudah menculik putrimu. Dan Aku juga yang secara tidak langsung mempengaruhi Sasuke supaya membencimu. "

Deg'

Kedua mata Sakura sukses melebar mendengar penuturan Matsuri yang dengan entengnya tanpa beban.

"Bingung, ya? Itu mudah sekali bagiku, Haruno. Aku mempengaruhi Shion dengan memberi bukti palsu perselingkuhan antara Sai dan Kau. Memang cukup sulit karena Shion adalah wanita yang tidak peduli dengan suaminya karena mereka menikah karena bisnis. Tapi dengan tangan dan otak jeniusku Shion terpengaruh juga dan percaya dengan bukti palsu perselingkuhan itu. Percakapan kotor di ponsel, kegiatan kalian dan foto intim kalian berdua adalah hasil rekayasa orang suruhanku. Luar biasa bukan? Dari situlah jalanku semakin mulus untuk membuatmu berpisah dengan Sasuke. Tapi tidak dengan putrimu! "

Pandangan Matsuri berubah dingin dan tajam. "Hadirnya putrimu membuatku kesulitan untuk menyingkirkanmu karena Sasuke lebih memilih mempertahankan rumah tangganya dan membiarkan dirinya terluka hanya demi seorang anak yang tidak berguna dan wanita bodoh sepertimu. Tapi Aku tidak menyerah, lewat orang-orang suruhanku Aku berhasil mempengaruhi Sasuke agar terus membencimu sampai kapan pun. "

Tubuh Sakura menegang. Ia bisa mendengar dengan jelas apa yang baru saja Matsuri katakan. Pantas saja selama ini hubungannya dengan Sasuke selalu saja dingin, ternyata alasan inilah yang membuat Sasuke selalu membencinya. Memang tak Sakura pungkiri dirinya memang kerap kali keluar bersama Sai, tapi demi Tuhan Sakura tidak pernah berhubungan intim dengan Sai. Sakura baru menyadari setelah mengingat kejadian demi kejadian yang menghampirinya hingga membuat pikiran dan perasaannya luar biasa kacau.

Netra hijau teduhnya menatap Matsuri dengan pandangan tak percaya. Ia tak menyangka Matsuri tega melakukan ini semua padanya. Matsuri yang menjadi dalang dari kejadian yang menimpa Sakura secara beruntun.

Matsuri mendekat dan sedikit membungkuk untuk menatap wajah Sakura. "Kenapa? Apa kau terkejut? Jangan menatapku dengan pandangan seperti itu, " ucapnya kemudian tersenyum.

Raut wajah Sakura berubah datar. "Aku sungguh terkejut. Tak menyangka orang yang sudah kuanggap special karena pernah dekat dengan Sasuke dan sudah membuatku cemburu berkali-kali dulu, adalah orang yang menjadi dalang disetiap kejadian yang datang padaku beberapa minggu belakangan ini. Tak kusangka dibalik wajah malaikatmu tersembunyi kelicikan yang menjelma menjadi iblis yang tidak mengerti apa arti perasaan kasih sayang. "

Matsuri masih mempertahankan senyumnya.

"Dengar Matsuri. Aku mulai mengerti tujuanmu selama ini. Kehancuranku. Lakukan apa yang ingin kaulakukan padaku. Bahkan jika kau ingin membunuhku sekarang, Aku tak masalah. Tapi ingat! " pandangan Sakura berubah dingin dan tajam menatap Matsuri. " Jangan sekali pun kau sentuh putriku. Hancurkan Aku sesukamu tapi jangan pernah kau sentuh putriku. " desis Sakura tajam.

Matsuri tertawa keras hingga sudut matanya berair, kemudian kembali menatap Sakura. "Membunuhmu? Ya, kau benar sekali aku ingin sekali membunuhmu, tapi tidak sekarang. Aku akan membunuhmu secara perlahan dan membawamu ke neraka. Dan tentang putrimu, "

Kedua netra hijau Sakura menyipit tajam.

"Aku tidak menjamin, " sambung Matsuri tenang.

Sakura melebarkan matanya. Reflek Sakura mengangkat kakinya yang bebas dari ikatan tali dan menendang tepat di perut Matsuri dengan kuat hingga dirinya yang terikat di kursi pun ikut bergeser.

Brakk

Tubuh Matsuri terjengkang dan menabrak tiang di belakangnya dengan keras dan jatuh terduduk. Matsuri bangun perlahan dan segera memegangi perutnya. Ia terbatuk dan bercak merah keluar dari mulutnya yang langsung Matsuri usap kasar. "Bangsat Kau, Haruno! " gumamnya tajam.

Sakura menatapnya tajam dengan napas yang memburu, emosi.

"Bodoh! Apa yang kalian lakukan cepat ikat kaki sialannya! " desis Matsuri tajam menatap kedua orang suruhannya yang malah menonton. Dengan segera dua pria anak buah Matsuri itu meraih tali dan segera mengikat kaki Sakura.

Matsuri masih terduduk seraya memegangi perutnya dengan kedua irisnya menatap orang suruhannya yang tengah mengikat kaki Sakura. Sialan! Tendangan Sakura begitu kuat mengenai perutnya hingga sakitnya luar biasa Ia rasakan. Brengsek! Ia tak mau kalah! Belum apa-apa Ia sudah tumbang duluan. Jangan remehkan aku, Haruno! Batinnya menjerit tajam.

Matsuri bangkit perlahan dan melangkah mendekati Sakura. Dua orang pria bawahan Matsuri segera menyingkir begitu sang tuan mendekat ke arah Sakura.

"Tendanganmu boleh juga, tapi jangan kaupikir kau akan menang. Karena permainan baru saja dimulai ... " seringai Matsuri sinis.

Crass'

Matsuri menyalakan api. Nyala api dari korek api gas di tangan Matsuri membuat netra hijau teduh Sakura menatap penuh waspada sosok Matsuri yang semakin mendekatinya. Dan berhenti tepat di depan Sakura. Korek api gas yang masih menyala itu diarahkannya ke depan Sakura hingga wanita yang identik dengan surai pink halusnya itu sedikit memundurkan wajahnya karena terlalu dekat dengan api yang menyala di depannya. Membuat Matsuri berdecak sinis sebelum meniup apinya yang seketika langsung padam dan menarik kembali tangannya.

Sejenak Matsuri terdiam dan menatap penuh Sakura yang juga menatapnya dengan keryitan di dahinya. Detik berikutnya Matsuri memilih mengalihkan perhatiannya seraya mendengus tertawa sebelum kembali menatap Sakura dan terdiam. Wanita bersurai coklat itu mengulurkan tangannya perlahan ke pipi Sakura dan terus merambat ke belakang menyentuh surai pink halus Sakura. Diraihnya sejumput rambut pink halus Sakura, menatapnya dengan pandangan tak terbaca seraya mengelusnya.

"Surai aneh ini ... apa yang membuatnya begitu istimewa di matanya. " mendengus, netra coklat Matsuri bergulir menatap Sakura.

"Sasuke pernah mengatakan padaku bahwa Dia sangat menyukai surai pink sialan ini. " ucapan Matsuri barusan membuat Sakura sedikit tersentak mendengarnya. Membuatnya seketika menatap Matsuri, kemudian pandangannya mengarah ke samping wajahnya dimana tangan Matsuri masih memegang rambutnya.

Untuk sesaat Sakura termenung dengan perkataan Matsuri yang membuatnya tergelitik. Mendengar bahwa Sasuke sangat menyukai rambut anehnya meski tak mendengar langsung dari mulut Sasuke, entah mengapa itu membuat perasaannya menghangat. Sasuke tak pernah mengatakan langsung padanya. Bolehkan Sakura berharap dan percaya dengan perkataan Matsuri barusan itu benar?

"Dan ... apa jadinya jika Aku melenyapkan rambut aneh ini? " bersamaan itu pula Matsuri kembali menyalakan korek api gasnya dan menyeringai menatap Sakura yang sukses membuat Sakura melebarkan matanya.

Sakura memundurkan kepalanya. "Apa yang kaulakukan Matsuri! Jangan macam-macam! " ucap Sakura panik saat Matsuri mendekatkan korek api yang menyala pada rambutnya. Dengan tubuh yang terikat di kursi Sakura bergerak gelisah. Bulir-bulir keringat memenuhi dahi Sakura.

"Cih! Kenapa? Kau takut? Ah ... telingaku masih berfungsi dengan baik beberapa saat yang lalu saat kau dengan sombongnya mengatakan bersedia jika aku membunuhmu sekarang. Coba pikirkan jika aku akan membunuhmu sekarang dengan membakarmu habis-habis. "

Tubuh Sakura menegang, Matsuri sepertinya tidak main-main, batinnya.

"Well, seperti yang sudah kukatakann juga. Sebelum aku membunuhmu, aku akan menyiksamu terlebih dahulu. Jadi duduk diam dan nikmati permainanya sayang ... " seringai sinis terpatri di wajah Matsuri seraya menggerakan korek api gas di sepanjang garis wajah Sakura. Sakura memekik, menahan napas saat api tersebut membelai wajahnya. Meski tak langsung menempelkan api tersebut di wajahnya, namun Sakura bisa merasakan sensasi hangat saat api tersebut membelai garis wajahnya.

Tenggorokan Sakura tercekat saat tangan Matsuri yang memegang korek api gas yang menyala berpindah ke arah rambutnya. Sakura terbelalak, wanita di depannya ini tidak main-main karena Sakura bisa merasakan saat api tersebut membakar sedikit rambutnya yang Matsuri pegang dengan sebelah tangannya yang lain sebelum menjauhkan apinya. Matsuri tertawa kemudian menatap Sakura.

"Tenang, aku tidak akan langsung membakarnya tapi aku ingin bermai-main dulu. Dengan rambut aneh yang disukai Sasuke. " Matsuri terkekeh seraya memainkan surai pink Sakura.

"Kau sudah membakarnya sedikit, kau gila Matsuri! " ucap Sakura bergetar.

Matsuri masih mempertahankan tawanya. "Ya, terserah. Tapi aku suka dengan raut wajahmu sekarang ini. " Ia meremas surai Sakura membuat gerakan Sakura yang mencoba menghindarinya akhirnya terhenti.

Sakura memejamkan matanya erat-erat. Kepalanya menunduk. Ia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Tangannya yang terikat terkepal sempurnya. Ia tak bisa bergerak dan tak bisa melawan karena Matsuri sudah menguasainya. Sementara di seberang sana masih ada satu nyawa yang harus Ia selamatkan, malaikat kecilnya, Sarada. Dan sialnya Ia tak bisa berbuat banyak selain pasrah.

"Ya Tuhan ... siapapun tolong aku ... " batinnya sedih. Bersamaan itu pula Matsuri kembali mengarahkan api pada rambut Sakura.

"Ini semakin menyenangkan. " gumam Matsuri mempertahankan seringainya.

Crack'

Matsuri tersentak. Korek api gas di tangannya terlempar begitu saja membuat api tersebut padam. Bersamaan sebuah batu yang menggelinding setelah sebelumnya sempat bertabrakan dengan korek api gasnya hingga terlempar.

Matsuru terdiam, netranya seketika bergerilnya ke segala arah, tajam. "Siapa itu! " geramnya. Tidak mungkin korek api gasnya terlempar begitu saja. Seseorang pasti yang sudah melempar batu tersebut hingga mengenai korek gasnya dari arah yang tidak Ia duga.

"Aku. "

Belum sempat Matsuri menoleh, seseorang melompat dari atas dan langsung menerjang salah-satu pria bawahan Matsuri. Meninju wajah pria itu berkali-kali kemudian menendangnya jauh. Pria satunya tak tinggal diam dan langsung melawan namun gerakannya kalah cepat dengan sikutan tajam dan keras yang mengenai tepat di ulu hati pria tersebut. Tak membuang waktu di dorongnya pria tersebut ke arah Matsuri membuat pria itu dan juga Matsuri terdorong jatuh terjengkang.

Matsuri mengupat keras dan menampar pria bawahannya karena tak becus. Wanita itu berdiri dan menatap datar sosok Uchiha Sasuke yang berdiri di depan Sakura menatapnya dengan napas yang memburu dan tatapan tajamnya.

"Itu tidak akan terjadi, Matsuri. "

Tubuh Sakura menegang mendengar suara berat yang begitu dirindukannya. Cepat-cepat Ia membuka kedua matanya. Jantungnya berdetak lebih cepat melihat sosok pria yang berdiri membelakanginya. Dan saat pria itu menoleh ke belakang dan tatapan mata mereka bertemu, saat itu juga kedua netra Sakura tak berkedip menatap sepasang netra hitam Sasuke yang menatapnya dengan raut tak terbacanya. Dan perkataan yang terlontar dari bibir Sasuke selanjutnya membuat kedua matanya sukses berkaca-kaca.

"Kau tidak apa-apa? Maaf aku baru datang. " pria itu mendekati Sakura. Kedua tangannya bergerak berusaha melepaskan ikatan di tubuh Sakura. Untuk sesaat Sakura tertegun memperhatikan Sasuke.

Menyadari Sakura yang bungkam membuat gerakan Sasuke terhenti, pria itu melarikan netra hitamnya menatap Sakura. "Sakura ... "

Sebelah tangan Sasuke terulur menyentuh pipi Sakura ketika dilihatnya wanita di depannya hanya terdiam dan menatapnya dengan pandangan berkaca-kaca. Sasuke memperhatikan bibir Sakura yang juga tampak bergetar, sampai pandangannya terpusat pada sudut bibir Sakura yang berdarah. Ia menatapnya lama sebelum mengulurkan sebelah tangannya yang lain dan meraih wajah Sakura agar menatapnya.

"Sakura, katakan sesuatu ... Aku ingin mendengar suaramu, " ucap Sasuke gamang, bersama itu pula air mata Sakura menyeruak begitu saja dari sudut mata Sakura.

Dengan susah payah seakan tenggorokannya tercekat, Sakura mengeluarkan suaranya. "Sa-Sasuke, "

Rahang Sasuke mengeras melihat cairan bening yang meluncur bebas dari mata Sakura. Baru saja Ia akan mengusap air mata Sakura ketika, gerakan Sasuke terhenti merasakan hantaman yang keras mengenai tangan kanannya dan mendapati pria bawahan Matsuri lah pelakunya dengan kayu balok di tangannya. Sasuke terduduk seraya memegangi tangannya. Belum sempat Sasuke berdiri, dirinya kembali merasakan hantaman keras di bagian punggungnya hingga membuatnya jatuh tersungkur.

Pria bawahan Matsuri yang lain menyeringai puas karena berhasil melumpuhkan Sasuke dengan tendangan yang keras dari kakinya ke punggung Sasuke. Sakura memekik kaget.

"Sasuke-kun! " teriak Sakura.

Tak menyia-nyiakan kesempatan, kedua pria bawahan Matsuri itu segera memegangi badan Sasuke membuatnya tak bisa bergerak.

"Pangeran sudah datang rupanya ... " ujar Matsuri yang kini sudah berdiri. Netranya menatap Sasuke yang badannya dipegangi oleh kedua pria bawahannya.

"Apa maksudnya semua ini! " desis Sasuke tajam menatap Matsuri.

Matsuri memutar bola matanya bosan. "Aku benci mengatakan ini tapi ... hebat juga kau bisa menemukan tempat ini. " Matsuri mencebik, sejenak Ia mengalihkan perhatiannya. "Brengsek! Apa yang mereka lakukan hingga membiarkan Sasuke masuk! " umpatnya pelan. Ia tak habis pikir dengan banyaknya anak buahnya yang berjaga di depan tapi dengan mudahnya Sasuke bisa masuk ke dalam. "Dasar tidak becus! " umpatnya lagi.

"Hentikan semua ini, Matsuri! Semua yang sudah kaulakukan ini salah! "

Netra Matsuri bergulir menatap Sasuke. "Salah? Kaupikir apa yang sudah kaulalukan padaku selama ini tidak salah? " Matsuri menggeleng, tatapannya berubah sendu. "Bukan sehari atau duahari aku mencintaimu. Tapi, betahun-tahun aku memendam perasaan menyakitkan ini. Dan apa yang kaulakukan? Kau bahkan tak menyadari perasaanku yang selalu berada di sampingmu dan malah memilih wanita berambut aneh itu. " tunjuknya ke arah Sakura dengan kesal.

Sakura terdiam.

Matsuri tertawa keras, namun baik Sakura maupun Sasuke, mereka menyadari tawa Matsuri yang menyimpan sebuah luka. "Kau tidak pernah berpikir dan tidak tau bagaimana hancurnya Aku saat kau mengatakan akan menikahinya. "

Sasuke menatapnya dengan pandangan bersalahnya. "Aku tidak akan pernah bosan mengatakan ini padamu, Matsuri. Maafkan aku. Aku tidak memiliki perasaan yang sama padamu, Matsuri. Perasaan yang kumiliki untukmu adalah perasaan- "

"Kasih sayang seorang kakak pada adiknya. " sambung Matsuri sarkatis.

"Berhenti mengatakan perasaan sialan itu karena Aku tidak suka! " teriak Matsuri tajam.

"Aku. Ya, Aku. AKU YANG LEBIH DULU MENGENALMU DAN SELALU ADA DI SAMPINGMU, TAPI KENAPA KAU MEMILIHNYA! AKU BENCI PERASAAN SAYANGMU YANG HANYA MENGANGGAPKU SEORANG ADIK. AKU BUKAN ADIKMU! AKU INGIN KAU! HANYA AKU YANG BOLEH MEMILIKIMU! " lanjut Matsuri murka.

Dengan kesal, Matsuri melangkah lebar menghampiri Sakura. Wanita itu menjangkau rambut Sakura, menariknya hingga mendongak. Rasa perih di kulit kepala Sakura tak mengaburkan bagaimana wajah murka Matsuri. Sakura membalasnya dengan pandangan tenangnya, Ia tak tau lagi bagaimana harus berekspresi mendengar semua yang terlonjar dari mulut Matsuri membuat perasaannya campur aduk.

"Kau! Apa istimewanaya dirimu? Aku bahkan lebih cantik darimu! DIA! Wanita jalang ini yang sudah MEREBUTMU DARIKU SASUKE! " Matsuri mencengkram leher Sakura, membuat Sakura tersedak.

Sasuke melebarkan matanya. Ia mengeraskan rahangnya melihat sikap Matsuri. Kedua pria bawahan Matsuri segera menahan Sasuke saat pria itu hendak melepaskan diri. Sasuke berdecak kesal, dengan kekuatannya, Sasuke menyentak kedua lengannya yang ditahan hingga terlepas. Dilayangkannya tendangan di bagian perut pada pria di sebelah kirinya dan meninjunya.

Melihat pria yang satunya lagi akan menyerang Sasuke, ayah dari Uchiha Sarada itu dengan cepat menendang selangkangan pria itu. Pria bawahan Matsuri mengaduh kesakitan. Sasuke kembali melayangkan pukulan bertubi-tubi pada pria satunya hingga pria itu terkapar.

Diliriknya Matsuri yang masih mencengkram leher Sakura, cengkramannya mengetat. Sasuke menggeram, melangkah cepat dan segera menarik Matsuri jauh dari Sakura. Cengkraman itu terlepas, dan Sakura terbatuk-batuk hingga wajahnya memerah.

"Hentikan Matsuri! Kau sudah kelewatan! Kau bisa membunuhnya! " geram Sasuke.

"Ya! Aku akan membunuhnya sekarang juga. Tapi aku akan menyiksanya lebih dulu. "

"MATSURI! " teriak Sasuke. Habis sudah kesabaran Sasuke. Dicengkramnya kedua lengan Matsuri. Sasuke tak habis pikir, wanita di depannya benar-benar lepas kontrol. Ia bahkan sulit menarik napas di sekitarnya. Netra hitam legamnya menatap Matsuri. "Sadarlah, Matsuri! Sadarlah! Ini tidak benar! " kata Sasuke mencoba berbicara baik-baik.

Matsuri menyentak tangan Sasuke. "Sudah cukup! Sudah cukup aku merasakan kesakitan ini dan kini saatnya Dia juga harus merasakan apa yang kusarakan selama ini. Dia hidup senang tanpa memikirkan bagaimana aku kesakitan di belakangmu! "

Sasuke menggeleng, pria itu maju dan merengkuh Matsuri dalam dekapannya. "Tidak, Matsuri. Itu tidak benar. Jangan seperti ini, kau membuatku sedih. Dimana Matsuri ku yang dulu, kau berubah. Kau berubah Matsuri. Tolong, kembalilah menjadi Matsuri yang dulu. " ucap Sasuke sendu. Ia tidak tau lagi harus bagaimana agar Matsuri mengerti.

Tanpa sadar, air mata kembali meluncur begitu saja dari netra hijau Sakura. Ia merasakan perasaan sakit yang membuncah mendengar kata demi kata yang terlontar dari bibir Matsuri. Sakura tidak tau selama ini Matsuri begitu sakit menahan perasaan yang tak terbalas dari Sasuke. Dan semua ini karena dirinya. Tapi Sakura tak bisa membohongi perasaanya juga yang begitu mencintai Sasuke. Ia juga mencintai Sasuke, apa selama ini perasaan cintanya pada Sasuke sebuah perasaan salah yang tak seharusnya ada? "Kami-sama ... " desah Sakura pilu.

"Diam! " Matsuri mendorong Sasuke dan menutup telinganya rapat-rapat. "Aku tidak mau dengar, aku tidak mau dengar! "

Sasuke sudah akan menghampiri Matsuri namun gerakannya tertahan karena dua pria bawahan Matsuri yang lagi-lagi mencekal bahunya. Membawanya mundur menjauh.

"Brengsek! " umpat Sasuke kesal. Cekalannya semakin menguat saja.

Sementara Matsuri kembali menghampiri Sakura dan dengan brutal menampar pipi Sakura.

Emosi Sasuke sudah berada di ujung melihat Sakura yang pasrah saat Matsuri menamparnya brutal. Dengan luapan emosinya Sasuke melompat dan menerjang kedua pria di samping kiri dan kananya. Cekalannya terlepas dan segera meninju dengan brutal pria itu. Tak jauh darinya Sasuke meraih kayu balok yang sebelumnya menghantam tangannya dan dihantamkannya pada kedua pria bawahan Matsuri tanpa ampun.

Bugh'

Tak lama, pupil mata Sasuke sukses membesar, dan suaranya seakan tercekat di tenggorokan. Rasa takut tiba-tiba membayangi Sasuke mendapati sebuah pisau tajam yang Matsuri pegang mengarah pada leher istrinya. Tanpa babibu lagi Sasuke mendekat dan memukul punggung Matsuri dengan tangannya hingga membuat wanita itu mengerang dan hal itu membuat Sasuke menggeram kesal melihat tangan Matsuri yang masih mempertahankan pisau di leher Sakura. Membuat Sasuke tak segan-segan menarik Matsuri dan mendorongnya menjauh. Tak sampai di situ, dengan cepat Sasuke kembali meraih balok kayu dan melemparnya ke lampu neon hingga menimbulkan suara pecah dan penerangan pun menggelap.

Dengan pencahayaan yang nyaris tak terlihat Sasuke mendekati Sakura dan dengan cepat melepaskan tali yang mengikat Sakura.

"Tidak, Sasuke. Tinggalkan Aku. Di sana! Sarada di sana, selamatkan Sarada lebih dulu di sana Sasuke-kun, " peringat Sakura. Sasuke terdiam dan tetap fokus melepas tali yang sialnya begitu sulit Ia lepas.

"Sasuke! Cepat selamatkan Sarada! Jangan hiraukan Aku. "

"Aku tidak bisa berkonsentrasi melepas talinya jika kau terus berbicara. Jangan khawatir, Aku akan menyelamatkan kalian berdua. " balas Sasuke yang seketika membuat Sakura terdiam.

Sasuke segera mencari keberadaan Sarada begitu tali yang mengikat Sakura terlepas. Menggendong tubuh kecil putrinya kemudian menghampiri Sakura. Lengan satunya yang terbebas segera meraih lengan Sakura dan membawanya pergi dari ruang terkutuk ini. "Kita harus pergi dari tempat ini. " gumam Sasuke yang diangguki oleh Sakura.

"Tidak semudah itu! " Matsuri yang melihat bayangan Sasuke dan Sakura segera melemparkan pisaunya ke arah mereka.

"Argh! " Sasuke meringis, pisau tajam sudah menancap di bahu kiri Sasuke. Sasuke melepaskan genggamannya dengan Sakura dan dengan segera mencabut pisau di lengannya dan membuangnya.

"Kalian tidak akan bisa lari dariku. " mendengar suara Matsuri kembali, Sasuke dan Sakura seketika waspada. Menahan nyeri di lengannya, Sasuke kembali meraih lengan Sakura dan berjalan mengendap-endap menuju ke arah pintu yang terbuka tak jauh darinya. Sasuke mempercepat langkahnya menuju pintu tersebut.

"Cepat tutup dan kunci pintunya! " kata Sasuke yang segera dilakukan oleh Sakura. Mereka masuk ke sebuah ruangan yang entah Sasuke tidak tau bekas ruangan apa, yang pasti untuk sekarang ruangan ini aman dari Matsuri dan bawahannya.

Sasuke membantu Sakura yang mendorong meja ke arah pintu untuk menahannya begitu suara Matsuri kembali terdengar. Jangan sampai Matsuri menemukannya di ruangan ini, batin Sasuke. Yang terakhir, Sasuke meletakkan kursi yang cukup kuat di atas untuk menahan pintunya.

Sakura melirik begitu merasakan gerakan di sampingnya. Sasuke duduk berselonjor dengan Sarada dalam dekapannya.

"Astaga! " pekik Sakura melihat darah yang mengucur di bahu Sasuke. Sasuke melirik bahunya sesaat, kemudian mengalihkan perhatiannya.

"Tidak apa-apa. Ini tidak seberapa. Kita harus memikirkan bagaimana caranya keluar dari sini. " gumam Sasuke.

Kedua tangan Sakura mengepal erat memperhatikan bahu Sasuke. Ia pun menatap dirinya sendiri, tanpa pikir panjang Sakura merobek pakaian pelapis dalamnya. Suara sobekannya membuat Sasuke menoleh. Belum sempat Sasuke mengeluarkan suaranya pria itu terdiam menatap Sakura yang tengah membalut bahunya dengan baju robekannya. Wanita itu tak mengatakan apapun dan fokus membalut luka Sasuke.

"Sakura ... " ucap Sasuke.

Kedua mata Sakura memanas mendengar suara berat Sasuke namun Ia masih diam dan meneruskan membalut lengan Sasuke.

"Sakura, " lagi, suara Sasuke kembali terdengar. Oh, Kami-sama bahkan sudah lama sekali pria di depannya ini tak memanggil namanya dengan selembut dan setenang ini. Sakura tak bisa menahannya lagi, Ia merindukannya, merindukan Sasuke nya yang dulu. Hingga Ia selesai membalut luka Sasuke, wanita itu tetap terdiam dan lolosan air mata Sakura dan isakan kecil Sakura yang mewakili perasaan wanita itu saat ini.

Sasuke bukan pria bodoh, dan saat ini melihat wanita di depannya yang mengisi tempat teristimewa di hatinya menangis, Sasuke kembali merasakan perasaan yang menyesakkan di hatinya. Membuang egonya, naluri Sasuke bergerak, lengannya terulur menyentuh kepala Sakura, mengabaikan rasa sakit di bahunya. Merasakan sesuatu menyentuh kepalanya membuat Sakura mendongak dan pandangannya seketika bertemu dengan netra hitam legam Sasuke.

"Jangan menangis Sakura, " mengabaikan perkataan Sasuke, air mata Sakura meluncur dengan bebas tanpa bisa ditahannya lagi. Ia menangis. Lagi, Sasuke selalu mengatakan kaliamat ini jika Ia menangis. Rasanya perasaannya tumpah begitu saja saat Ia melihat Sasuke dan kehadiran Sasuke sekarang, di sampingnya membuat perasaanya sedikit lebih tenang.

Keterkejutan Sakura bertambah, namun Ia tak bisa berbuat banyak saat lengan Sasuke merengkuhnya, mempertemukan Ia dengan wajah putrinya yang juga dalam dekapan Sasuke.

.

.

.

.

.

.

tbc

Yawww ... panjang banget ya, semoga ngga bosan deh, xD

Hai, lama ngga muncul, akhirnya Aku datang update kelanjutan fic 'Hurt Marriage' buat yang masih nunggu kelanjutannya dan bertepatan dengan ulang tahun Aku hari ini, kupersembahkan chap ini special untuk kalian semua yang suka dan masih setia menunggu kelanjutan dari kisah Sasusaku di 'Hurt Marriage'

Oia, sekedar info juga buat kalian yang juga suka dengan fic Aku yang lain ' Jangan ambil anakku' juga bakal update besok, kalo ngga ada halangan. Jadi buat kalian yang juga nungguin update'annya besok jangn lupa kepoin lapakku, oke! ^^/

Selamat Hari Sumpah Pemuda juga ... Satu Nusa, Satu bangsa, Satu bahasa, Satu INDONESIA.

Salam, cium jauh dari Aku :*

By : JJ Ichiro