Ada sebuah konversasi usai mereka kembali dari pemakaman Aria.
Waktu itu cuma ada Kaito dan Yuuma. Kaito, sebagai yang paling stabil, duduk di belakang kemudi. Yuuma ada di sampingnya, melepas kacamata dan membisu menatap geliat pejalan kaki.
"Menurutmu kita perlu membesuk Gumiya?" Kaito bertanya. Nadanya begitu hati-hati. Suasana hati Yuuma sedang kacau, tapi ia tak bisa menahan diri untuk bicara. Selagi belum ada keputusan dari ayah tiri Aria untuk menerima damai, Gumiya pasti sedang menghadapi serangkaian prosedur hukum di kepolisian kini.
Sebagai kawan, Kaito ingin setidaknya ada di belakang Gumiya. Tapi kenyataan bahwa Gumiya telah menabrak Aria membuat pemuda itu, untuk pertama kali dalam hidup, takut mengambil langkah. Ia tidak mau menyinggung perasaan banyak orang, apalagi dicap tidak menghormati duka yang saat ini mereka terima.
Mendukung teman yang nyaris masuk penjara atau bersimpati pada kepergian seorang teman yang satunya?
Dilihat dari sisi mana pun, ini pilihan sulit.
"Menurutmu perlu?" Yuuma malah balik bertanya.
Di depan, lampu lalu lintas berkedip kuning. Kaito pelan-pelan menurunkan kecepatan, siap jika lampu merah menyala.
"Dia teman kita, kan?"
Jeda menggantung. Mobil mereka berhenti pada saat ini.
Dengus geli yang terdengar sinis adalah yang pertama keluar dari Yuuma. "Serius. Aku masih nggak paham gimana caranya kamu masih bisa optimis begitu, Kai."
Kaito cukup peka untuk mengartikan jawaban Yuuma sebagai sindiran, karena itu berikutnya ia bungkam.
(dan sampai tahun-tahun berikutnya, Kaito juga bungkam)
