"Gosok … gosok … gosok. Lap … lap … lap. Sapu … sapu … sapu."

Capek deh, liburan aku kok jadi gini.

"Pih main layangan yuk!"

The Catalyst : Ryouta

Day 2

Sebuah kisah tambahan berisi hari-hari dalam pengisian buku tugas libur musim panas Ryouta.

Proud to you by:

emirya sherman

This is only a work of fiction. If there any similarities among the names, the places or the plotlines are entirely coincidental.

Disclaimer:

Kuroko no Basuke created by Fujimaki Tadatoshi.

I gain no profit by publishing the story.

Warnings:

AU. Out of Character. Typos. Papa!Nash, Son!Ryouta.

Selamat membaca :D

...

...*...*...

...

Halo halo, pada kangen aku gak? Kangen 'kan ngaku deh. Iya aku tahu. Aku emang ngangenin kok. Udah tahu 'kan kalau aku lagi libur musim panas, libur itu seperti ini ya? Seperti yang udah aku bilang di atas, mengelap dan menyapu menjadi pekerjaan wajib selama aku di rumah, aku di rumah cuma sama Papih. Papih mana mau bersih-bersih, buktinya sekarang Papih lagi mendekam di ruang kerjanya. Gak tahu lagi ngapain sekarang.

"Papih mau ngerjain PR dulu ya nak." Gitu kata Papih sambil menyilangkan tangan dan geleng-geleng kepala waktu menolak ajakan aku buat main di lapangan.

Sayangnya Papih tidak mau diganggu, kata Papih PR yang dia kerjakan nanti dijual terus uangnya buat aku sekolah, mana aku berani ganggu-ganggu Papih.

Terus sekarang ngapain coba, barusan aku neror Om Jason lewat telefon. Mau main ke rumah Bang Kasamatsu juga gak mungkin, dia katanya ikut pelajaran tambahan, weleh-weleh kasihan banget kamu Bang.

Semua bagian rumah sudah bersih sih sih sih, gak ada debu. Perabot rumah kinclong, sebenarnya sampai kebaret-baret sih, aku gak tahu di kain lap yang aku pakai ternyata ada kerikil nyempil. Semoga Mamih tidak tahu kalau vas bunga kesayangannya lecet-lecet. Makanya aku balik vas itu dengan tulisan 'Made in China' menghadap depan, hahaha aku emang pinter (licik).

...

...

Satu hal yang jelas, Papih tidak keluar dari ruang kerjanya, dari tadi pagi loh. Sedih deh. Buku cerita musim panas aku mau diisi apa ya. Masa iya mau bersih-bersih terus sih.

Hm, set karaoke nganggur tuh.

Aku sedang memasang halo-halo(mic) untuk karaokean.

Aku pilih lagu Que Sera, Sera(1) (Whatever Will Be, Will Be). Sekadar info saja ya, waktu lomba nyanyi di kelurahan aku menang juara 1 karena lagu ini. Eh, atau gara-gara tante jurinya takut sama Papih ya?

...

.

.

.

"Ehem, cek ... cek... duk duk duk." Oke cek sound selesai.

Satu, dua, tiga. Musik intro mulai mengalun.

"When I was just a little boy

I asked my Papih

What will I be

Jreng jreng jreng jreng. Jeda genjrengan gitar (sapu).

Will I be handsome

Will I be rich

Here's what he said to me

...

Que sera, sera

Whatever will be, will be

The future's not ours to see

Que sera, sera

What will be, will be ..."

... 'Nguinggg … nguing.' ... microfon turbulensi(?)

"Ugh." Buru-buru aku lempar mic itu ke pojokan.

Papih menginterupsi dari balik tembok, "Jangan mainan listrik ya nak."

Brugg ….

Sapu ijuk yang aku pakai sebagai gitar palsu jatuh, aku melongo, ruangan sepi lagi.

Buru-buru aku merapikan barang bukti berupa set karaoke beserta micnya. Lalu pura-pura tidur siang.

Yang awalnya hanya tidur siang pura-pura akhirnya kebablasan sampai jam 3. Seingat aku, tadi (pura-pura) tidurnya di atas sofa ruang tengah. Kenapa sekarang aku sudah ada di kamar mungkin papih yang memindah, atau bukan? Aku kembali masuk ke ruang tengah. Gulungan kabel yang aku buntel awut-awutan tadi sudah rapi. Kayaknya aku karaokean tadi ketahuan papih deh. Bukan kayaknya lagi, melainkan sudah pasti ketahuan.

Aku ngambil roti kacang dan susu kotak dari kulkas. Papih masih di ruang kerjanya. Apanya yang 'Papih libur,' ini sih cuma pindah kantor. Yang biasanya pakai kemeja hanya ganti kaos oblong.

Karena aku lupa buat nulis tugas buku harian kemarin. Sekarang aku mau mulai nulis, takut dijewer Pak Takeuchi kalau sampai lupa.

Buku siap, alat tulis siap, cemilan siap. Etto, mulai dari mana dulu ya? Seharian ini aku kan hanya bersih-bersih rumah. Terus aku harus menulis apa?

Suara kring kring telepon yang tiba-tiba membuat kaget. Alhasil bukunya tidak jadi dibuka.

"Halo, Gold disini."

"Iya ... iya. Ini ayahmu."

"Ha?" Papih 'kan di ruang kerja.

"Ayah kamu lah."

"Iya ini ayahnya siapa ya?" Mamih pernah bilang sekarang itu lagi musimnya penipuan Papa minta uang. Jadi jangan sekali-kali kamu percaya dengan orang yang mengaku-aku sebagai ayah atau ibu. Karena itu sudah pasti kamu dikibulin. Begitu wejangan dari mamih.

"Ano, mungkin salah sambung. Coba paman cek lagi nomor teleponnya."

"Ah, begitu ya. Kalau begitu terimakasih."

Setelah terdengar klik tanda sambungan telepon sudah diputus aku kembali ke kamar. Baru saja lima langkah, telepon rumah berbunyi lagi.

"Halo, Gold disi ..."

"Oi, aku sudah benar memanggil nomor telepon tahu."

"Ini paman yang tadi?"

"Siapa yang kamu panggil paman. Aku bukan paman kamu, tapi ayah kamu. Sudah dibilang dari tadi juga. Oh God, punya anak laki satu aja berandalannya minta ampun."

"Loh Ryouta 'kan gak salah, Papih aku di rumah kok. Paman tuh yang ayahnya siapa. Ngaku-ngaku lagi."

"Ini bukan Nash?"

"Bukan. Ini Ryouta yang anaknya Nash." Sampai di sini aku agak curiga, ini siapa? Om Jason jelas bukan orang suaranya agak mirip kakek-kakek gitu.

"Jadi ini kamu bocah cilik. Panggilin papih kamu gih. Bilangin ini penting, telepon dari USA."

"I ... ini siapa? Engkong ya? Engkong Ryouta yang dari Amerika ya?"

"Ish, sembarangan. Siapa yang kamu panggil engkong barusan."

"Ya Engkong lah."

"Aku bukan Engkong kamu, bocah. Jangan sembarangan panggil orang kenapa."

Kok rasanya nylekit banget ya. Kayak ada sakit-sakitnya gitu. Emang sih kata papih, kakek yang dari Amerika itu galak plus hobi nyinyir.

"Ta ... tapi ... iya deh Kakek."

"Diam kamu berandal! Aku tak ingin dipanggil kakek sama kamu."

Cekit cekit. Dipanggil engkong gak mau, dipanggil kakek gak sudi. Udahan ah, aku capek. Ini telepon rumah aku gunting kabelnya aja kali ya.

"Panggil saja Grandpa, nak."

Krik krik krik. Jadi? "..."

Aku ngerasa gak guna hampir nangis segala karena dibentak. Suer dah.

"Dengar ya wahai cucuku Nash Gold III, kita ini berasal dari keluarga seleb. Keluarga paling superior dari segala superior. Paham?"

Enggak.

Satu satunya orang yang memanggil aku Nash Gold III hanya Engkong, eh maksud aku Grandpa. Jadi ya beginilah, sudah dipastikan kalau yang menelpon adalah ayahnya papih.

"Sini sini Grandpa bilangin ya. Keluarga Gold, dari zaman Kennedy jadi presiden itu sudah terkenal dengan ke-aristokratannya. Jadi sudah sepantasnya kalau kita menjaga status seleb kita, nak."

"Iya, apa tadi?"

"Untuk itu kamu harus sekolah yang tinggi, sekolah yang pinter. Biar bisa melestarikan(?) kedigdayaan keluarga Gold."

Hoh, Granpa bilang apa tadi? Lagi 'deg-degan?'

"Kalau udah gede besok sekolah di sini ya, tinggal di USA bareng Grandpa."

"Tapi 'kan masih lama."

"Pokoknya bilang ke papih kamu, besok kalau mau kuliah ke USA saja. Sekolah bisnis, oke?"

"Errr ..." Bisnis sama kismis sama gak ya?

Telepon ditutup dan aku sama sekali tidak mengerti isi omongan Grandpa. Yang aku paham hanya Grandpa nyuruh aku sekolah kismis ke Amerika. Au ah gelap, biar nanti aku tanyain ke papih maksudnya apa.

Dan aku masih bingung, dan gak ngerti omongan grandpa. Kalau kata Bang Kasamatsu, orang biasanya dapat ide waktu nongkrong lama-lama di kamar mandi. Ini aku dari tadi mandi kok gak dapat-dapat wangsit sih.

"Ryouta, kamu mandi apa tidur. Lama kali," kata papih sambil gedor-gedor pintu.

"Bentar Pih, baru sikat gigi." Padahal aku dari tadi baru nyebur ke bathtub, dan gak ngapa-ngapain.

"Cepetan napa. Perut Papih mules nih."

Buru-buru aku ngambil sikat gigi dan odol punyaku yang rasa stroberi, biar aku tidak dikira tipu-tipu papih.

Di sela-sela gosok gigi, aku dengar papih misuh-misuh, "Dasar roti kacang sialan." Atau apapun itu, gak jelas.

Setelah aku membuka pintu kamar mandi, Papih langsung buru-buru masuk.

Habis mandi tu rasanya kayak aku yang paling ganteng sedunia. Segar.

"Ben, Papih masih sibuk nih. Kalau kamu mau ngajak main, besok saja ya."

Aku hanya jawab dengan mengangguk-angguk.

"Ben, kalau kamu bosan main ini mau?"

Papih menyodorkan ponselnya, terlihat gambar mbak mbak berseragam sekolah.

"Kok main dressed up sih Pih. Gak mau ah, apaan tuh. Itu 'kan mainan anak cewek Pih."

"Hm, padahal kata Om Jason ini lagi booming loh."

"Ya kali Pih, Om Jason dipercaya. Om Jason 'kan temennya cewek semua."

"Jadi gak mau nih?"

"Gak mau lah, gak macho. Ryouta 'kan laki."

"Oke, oke." Aku lihat Papih menonaktifkan game kampret itu. Mau game-nya lagi booming kek, lagi diskon kek, bodo. Papih ngelindur apa lagi mimpi?

"Pih, tadi Grandpa telepon."

Papih melempar ponselnya ke sembarang tempat, "Oh."

Aku menengok ke orang di sebelah, "Kok cuma oh."

Papih memencet remote televisi, kemudian berhenti di saluran berita sore.

Papih menguap, lalu menyanggap kepala dengan tangan yang ditaruh di dudukan sofa, "Grandpa bilang apa?"

"Katanya jagoan presidennya Grandpa menang pemilihan presiden USA."

Papih menguap lagi, lalu menyahut, "Terus kamu jawab apa?"

"Aku gak jawab apa-apa Pih. Cuma manggut-mangut."

Papih hanya ber-hm pendek masih fokus dengan berita banjir di negeri tetangga.

"Pih, kata Grandpa tadi. Papih ditawari jawatan."

"Jawatan? Apa?"

"Kata Grandpa jawatan buat perintah-perintah gitu."

"Nak, mungkin maksud kamu jabatan, bukan jawatan."

"O ... oke. Itu maksud aku."

"Ditawari buat perintah apa, Ben?"

"Aku gak inget Pih. Dari presiden katanya."

Aku lihat Papih menengok horror, persis seperti saat aku ketahuan ngumpet di bagasi mobil sampai di kantor Papih.

"Dasar pak tua itu. Mentang-mentang jadi tim sukses capres, terus timnya menang. Sekarang mau kongkalingkong sama timnya buat melakukan kolusi. Dasar pak tua mata duitan." Begitulah papih menggerundel sendiri.

"Pih ..."

"Kenapa tidak kasih tawarannya ke sesama gengnya saja ..."

"Papih ..."

"Tawarin ke Mr. Kakuzu kek, ke Mr. Krabs kek."

"PAPIHHH!"

"Eh ... iya, kenapa tadi?"

"Kolusi itu apa?"

Papih diam sebentar, lalu menjatuhkan kepalanya di sisi kanan sofa. Pura-pura tidur dengan suara sok-sokan mendengkur.

Jelas-jelas kalau ini pura-pura.

"Ih Papih tuh."

Kesimpulan pada hari ini. Ryouta tidak kunjung menulis tugas buku hariannya. Lupa karena sibuk gontok gontokan dengan Nash yang pura-pura tidur.

Day 2 : End

...

...*...*...

...

'Emir is typing' corner :

Maap yak, edisi ini lebih pendek.

Entah kenapa saya masih niat buat masukin pilpres Amrik ke fanfiksi, ini tulisan saya yang ke berapa yak? Biarin deh, lagi pingin nyepam itu soalnya. Sekali lagi ini hanya fanfiksi, oke. Gak ada maksud buat menjatuhkan Om Trump.

Chapter depan langsung Day 4 ya, Chapter 1 'kan Day ke-3 nya. Hehehe.

*(1) Que Sera, Sera asli ditulis oleh Jay Livingston dan Ray Evans.

Jaa nee :D .…