Disclaimer : Semua charakter disini milik Tuhan YME, author cuma pinjem nama
Rate : T
Genre : Romance, hurt, family
Warning : BL, YAOI, Typos, cerita pasaran, OOC (mungkin ), mohon dengan sangat sebelum membaca dibaca dulu bagian warning ini, tidak menerima bash kecuali kritik membangun, so please
DON'T LIKE DON'T READ
Note : Fanfiction ini murni hasil karya saya selaku author, saya tidak rela dan tidak ikhlas jika hasil karya saya ini di plagiatkan oleh orang - orang yang tak bertanggung jawab, dalam bentuk apapun!
.
.
Pairing
Yunjae
Yoosu
SiChul
.
Other Cast
Baby Changmin
Go Ahra
Jung Jihye
.
.
Anneyong Saengideul & Chingudeul,
senang bisa update lagi, walaupun lagi-lagi saya terlambat. Jeongmal Mianhe tidak dapat memenuhi keinginan readers semua. Dan yang menantikan NC disini, saya ingatkan rate ff ini adalah T dan saya blm berencana menaikkan ratenya, jadi NC (jika ada) akan saya buat sekenanya saja. Mohon dimaklumi. Setelah membaca jangan lupa meninggalkan jejak eoh? *KecupSemua
Well yorobeun...saranghaeyo
Happy Reading
Dozo...
.
.
.
CHAPTER 17
.
.
Summary
.
Kim Jaejoong namja berumur 22 tahun anak yatim piatu tak menyangka kehidupannya akan berubah drastis setelah bertemu tanpa sengaja dengan bayi yang belum genap satu tahun ( Mian, kemarin saya mencantumkan bahwa umur Changmin sembilan bulan) tapi bayi tersebut selalu menyebutnya 'umma', ternyata memang wajah Jaejoong yang mirip umma disebuah supermarket.
Untuk membiayai kuliah dan kehidupannya sehari - hari, Jaejoong mengambil kerja di dua tempat yang berbeda, yaitu di sebuah Restoran besar dan sore harinya ia bekerja Purple Line club khusus 'laki - laki' sebagai penari erotis, di club inilah Jaejoong sudah tidak asing lagi dengan Siwon yang merupakan pelanggan tetap Club tersebut semenjak bergabung, dan langsung berhasil 'menggaet' salah satu erotic dancer yang dikenal dengan wajah judesnya dan mata belo nya, Kim Heechul namanya, namja cantik yang terhitung sudah bekerja di purple line enam bulan sebelum Jaejoong bekerja disana. Jaejoong kini telah berhenti bekerja di club tersebut karena banyak sekali pertimbangannya, semenjak ia dilamar Yunho, Jaejoong memutuskan untuk tidak bekerja di club tersebut.
Berhentinya Jaejoong dari Purple line club menimbulkan kekecewaan dalam diri Siwon, karena namja itu telah lama mengincar Jaejoong dan Junsu yang sama - sama bekerja disana untuk dijual keluar negri, perlu diketahui Siwon menjalankan bisnis 'perdagangan manusia' ini bekerja sama dengan dongsaengnya ( adik sepupunya ) Go Ahra yang berasal dari Gwangju, asal yang sama dengan keluarga Yunho ( Ahra telah lama mengincar Yunho agar menjadi suaminya, akhirnya rencananya berhasil dengan 'menjerat' Nyonya Jung ibunda Yunho ). Namun karena ada Park Yoochun yang ternyata adalah agen Polisi yang menyamar sebagai pelayan di Purple Line, ia selalu mengawasi gerak - gerik Siwon disana, sehingga Siwon memilih untuk mengambil langkah pelan, terhitung sudah hampir satu tahun mereka tak pernah bertemu sebelumnya, dan kini Siwon telah bertemu kembali dengan mangsanya ( Kim Jaejoong ), tepatnya dikantor kolega perusahaannya yang akan memulai kerja sama bisnis mereka.
.
End Previuos Chap
Perkataan Heechul barusan dan tindakan Heechul yang memborgol tangannya seenaknya jelas membuat Siwon semakin bingung. Ia benar-benar tak mengerti sekarang mengapa Heechul kekasihnya tega melakukan ini kapadanya.
Hening sejenak...
"Siwon shi, perkenalkan Aku Kim Heechul, tepatnya Inspektur Kim Heechul dari Badan Intelejen Korea yang ditugaskan khusus selama bertahun-tahun menyelidiki perdagangan manusia bertaraf Internasional dinegara Korea."
"J-jadi k-kau selama ini hanya memperdayaku Chullie ah..." Lirih Siwon lemah.
"Mianhe Wonnie"
.
.
.
FOREVER LOVE
.
.
.
.
"Yoboseyo Chullie hyung, waeyo menelponku? Mengapa hyung belum juga datang ke Purple Line?"
"Letnan Park, aku membutuhkanmu...cepatlah datang kekediamanku"
Klik~
"Letnan Park?"
Yoochun tampak bengong sesaat setelah Heechul menutup sambungan telepon mereka dan memanggilnya dengan sebutan Letnan. Setahu-nya hanya Junsu dan Siwon saja yang mengetahui identitasnya selama ini. Namun ketika menyadari Siwon itu kekasih siapa, maka terlihat namja berjidat lebar itu mengangguk-anggukkan kepalanya seperti tanda mengerti sesuatu.
"Hmm, jadi kau telah memberitahu identitasku kepada Chullie hyung, dasar bajingan!" Seketika Yoochun tersadar, tentu saja dengan persepsinya yang salah, karena bukan Siwon yang memberitahu identitasnya kepada Heechul.
Tentu saja Heechul telah mengetahui identitas Yoochun sedari awal, karena ia ditugaskan untuk mengawasi pekerjaan Letnan polisi tersebut, sekaligus membongkar bisnis ilegal yang bertaraf Internasional itu. Yoochun segera menyambar jaketnya yang diletakkan disandaran kursi diruang bartender tempat ia berada bersama Junsu sekarang dan bersiap akan pergi. Tentu saja itu membuat Junsu kekasihnya keheranan.
"Yah, mau kemana kau ahjussi!" Teriak suara lumba-lumba itu ditengah musik yang menghentak. Semenjak mengetahui umur kekasihnya itu, Junsu seringkali meledek Yoochun dengan sebutan 'ahjussi'.
"Chullie hyung barusan menelponku Su ie baby, dan ia menyuruhku untuk menemuinya dikediamannya. Aku sangat khawatir, pasalnya dia memangilku dengan sebutan Letnan, aku khawatir Siwon telah melakukan yang tidak-tidak" Jawab Yoochun tak dapat menyembunyikan raut kecemasan wajahnya. Ia masih tidak merubah panggilannya kepada teman-teman sekerjanya meski mungkin ia yang memiliki umur paling dewasa diantara mereka, tak terkecuali Heechul.
"Chunnie, apa kau lupa jika Jae hyung menginap dirumahnya?"
"Oh, SH*T!"
Setelah disadarkan Junsu, segera Yoochun melesat dari tempat itu, tidak lupa sebelumnya mengecup bibir Junsu singkat. Yuuchun bergegas menghidupkan mobilnya dan menggas penuh benda tersebut agar tiba dirumah Heechul lebih cepat. Ia tak ingin kedua sahabatnya celaka.
.
.
"Mwo? Chullie hyung apa yang terjadi?"
Yoochun ternganga dengan pemandangan didepannya saat ia baru memasuki pekarangan rumah Heechul ditengah malam itu. Pemandangan dimana Siwon yang duduk berlutut dengan borgol dikedua pergelangan tangan dibelakang tubuhnya dan Heechul yang berdiri dibelakangnya, menodongkan pistol kearah kepala Siwon. Sedangkan tubuh tak berdaya Jaejoong tergeletak begitu saja tak jauh dari mereka.
"Letnan Park, kuserahkan penjahat kelas kakap ini kepadamu, tolong lanjutkan proses hukumnya dikepolisian Kota Seoul saja"
Suara Heechul yang datar semakin mengundang rasa penasaran Yoochun, dalam hatinya, apakah kedua sejoli ini tengah melakukan sandiwara? namun saat mendengar kalimat heechul barusan, rasa keingin tahuan Yoochun akan siapa sebenarnya Heechul yang tengah memegang pistol revolver yang kepemilikannya harus menggunakan ijin legal dari pemerintah.
"Chullie hyung bisa kau jelaskan semua ini? aku benar-benar tak mengerti" Jawab Yoochun tak dapat menyembunyikan rasa penasarannya.
"Letnan Park, perkenalkan aku Kim Heechul, Inspektur Kim Heechul, Agen Rahasia dari Badan Intelijen Korea"
"Mwo? Siap, Inspektur!"
Mendengar pangkat yang yang disebutkan Heechul barusan membuat Yoochun cengo tak berdaya, dan langsung mengambil sikap hormat didepan Agen rahasia Korea itu. Tentu saja setelah Heechul meyakinkan Letnan polisi tersebut dengan memperlihatkan tanda pengenalnya, yang dengan jelas terbaca oleh kedua mata Yoochun.
Insp. Kim Heechul
Korean Secret Agent
"Hhhh...arraseo Letnan Park, target operasi kita ini kuserahkan kepadamu saja, untuk ditindak lanjuti oleh kepolisian kota Seoul, kuharap kau mengerti alasanku"
"Siap Inspektur!"
"Dan satu lagi Yoochun ah, tidak usah memanggilku seperti itu, aku lebih senang jika tak ada perubahan diantara kita, kuserahkan juga Jaejoong kepadamu, biusnya akan memakan waktu sedikit lama dan akan membuatnya tidak ingat akan kejadian ini. Kuharap kau merahasiakan apa yang telah terjadi kepadanya, arraso?"
"Si...eh arraso Chullie hyung"
"Arraso, aku pergi dulu, ehm Yoochun ah, sepertinya mulai sekarang aku yang harus memanggilmu hyung" Ucap Heechul seraya menyunggingkan senyum tipisnya. Sedari awal ia memang sudah mengetahui umur Yoochun yang sebenarnya, karena ia telah membaca seluruh biodata Polisi yang ditugaskan ditempat yang sama dengannya. Umurnya 4 tahun dibawah umur Yoochun meski ia memiliki pangkat yang lebih tinggi.
...
"Chullie ya..."
Heechul yang sudah hendak bersiap meninggalkan tempat itu, bahkan sudah beberapa langkah menjauh dari tempat itu, melewati Yoochun yang sekarang telah berdiri tak jauh dari Siwon yang baru saja mengeluarkan suaranya setelah terperangah tak berdaya demi mendengar identitas kekasihnya itu. Ia memanggil Heechul dengan suara yang bergetar. Mendengar Siwon memanggilnya, Heechulpun menghentikan langkahnya tanpa menoleh sedikitpun.
"Apa yang ingin kau bicarakan Siwon shi, kalau mengenai kasusmu ini, kau bisa membayar pengacara mahal yang dapat meringankan hukumanmu" Ujar Heechul tanpa menoleh sedikitpun.
"Aniya Chullie ya, aku hanya ingin memastikan perasaanmu kepadaku...Chullie ya, aku hanya ingin mengetahui, apakah kebersamaan kita selama sama sekali tidak berarti apa-apa bagimu? asal kau ketahui, bahkan aku telah mempersiapkan diriku untuk segera melamarmu, janjiku kepadamu selama ini, laranganku kepadamu utuk menolak pria lain itu semata-mata karena aku memang benar-benar mencin..."
"Jalani saja hukumanmu, Siwon shi"
Maendadak Heechul memotong kalimat terakhir Siwon dengan kalimat tegasnya. Tak urung hal itu membuat raut wajah sedih dan kecewa diwajah tampan Siwon. Kemudian dengan raut wajah yang mengeras namja berlesung pipi itu kembali melanjutkan kalimatnya.
"Arraso, Inspektur Kim Heechul yang terhormat, aku hanya ingin kau mengetahui satu hal, Saranghae...Jeongmal saranghae Kim heechul"
Mendengar kalimat yang barusan keluar dari bibir Siwon membuat Heechul yang masih dalam posisi berdiri membelakanginya memejamkan kedua mata besarnya...digigitnya bibirnya seakan menahan sesuatu yang sakit. Tampak bulir kristal bening disudut kelopak mata indahnya yang siap jatuh kapan saja. Bohong besar jika Heechul tak memiliki rasa sedikitpun kepada namja tampan berlesung pipi yang terhitung hampir 2 tahun menjadi kekasihnya, semenjak ia bekerja menyamar di Purple Line club, beberapa bulan sebelum Jaejoong bekerja disana.
Masih terbayang jelas diingatannya saat-saat indahnya bersama Siwon yang tak pernah absen seharipun mengunjungi club tempatnya bekerja hanya untuk mengawasi agar tak ada seorangpun namja hidung belang yang merayunya untuk sekedar menemani mereka minum atau sekedar menggoyangkan badan bersama-sama di dance floor club itu. Bahkan Siwon sampai melupakan kedua targetnya dalam waktu yang lama, karena desakan Ahra lah ia berlaku nekat terhadap Jaejoong, karena rasa sayangnya kepada adik sepupunya yang menangis sesenggukan mengaku menderita karena seorang namja cantik yang bernama Kim jaejoong yang tak lain adalah 'target' bisnis terlarangnya.
Heechul adalah agen rahasia Korea yang khusus ditugaskan untuk melakukan penyusupan. Wajah cantiknya adalah modal utamanya, sudah banyak kasus yang ditanganinya dan semuanya berhasil. Namun ia merasa baru kali ini ia benar-benar terbawa emosi dalam menangani kasusnya. Terbawa emosi dalam artian perasaannya ikut terbawa-bawa dalam menangani kasus ini, tak lain adalah karena target operasinya yang semula tak ada dalam rencananya untuk dijadikannya kekasihnya itu malah mendekatinya dan memintanya menjadi 'pelanggan tetapnya'. Tentu saja hal tersebut dikonsultasikannya dahulu dengan rekan kerjanya, bahkan dengan pimpinan departemen tempat ia bekerja. Jawabannya adalah, mereka menganjurkan jika Heechul benar-benar 'total' melaksanakan penyamarannya, mengingat Siwon ini adalah target operasi yang terkenal 'licin', seringkali lolos.
Bohong jika Heechul tidak memiliki perasaannya sama sekali, bahkan ia rela menyerahkan 'segalanya' kepada Siwon yang amat tidak menyangka jika Heechul masih 'perawan' saat mereka pertama kali berhubungan intim. Hal tersebut dikarenakan sifat Heechul yang sebelumnya 'mudah' diajak kencan oleh pengunjung club tersebut. tentu saja hal itu dilakukan Heechul untuk menunjang penyamarannya. Tahukah jika selama ini mereka yang mengajak Heechul berkencan di Hotel akan ditemukan pingsan tak berdaya dikamar hotelnya? itulah yang menyebabkan namja cantik yang terkesan liar itu masih perawan saat ia dengan sadarnya menyerahkan dirinya seutuhnya kepada Siwon. Hal inilah yang membuat Siwon yakin jika Heechul mencintainya.
"Siwon shi, bekelakuan baiklah selama persidangan, akuilah semua perbuatanmu, maka mereka akan meringankan hukumanmu, beruntung kau hanya kukirimkan ke kepolisian Seoul, dan seolah-olah letnan Park ini yang menangkapmu, kau bisa meminta penjelasan kepadanya nanti" Suara datar Heechul yang kini terdengar sama bergetarnya dengan suara Siwon barusan.
"Lalu apa yang kudapat jika aku menuruti semua perkataanmu itu" Kali ini Siwon berkata dengan lantangnya.
"Aku akan menunggumu"
"Arraseo, aku akan mengakui semua perbuatanku, menerima dan menjalani semua hukumanku, setelahnya aku akan menagih janjimu Chullie ya"
Jawaban yang tak terduga dari bibir Heechul, yang membuat kedua namja yang lain yang berada disana membuka matanya lebar, menatap punggung namja cantik yang kenyataannya adalah seorang agen rahasia negara itu semakin menjauh. Sedangkan Heechul yang kembali meneruskan langkahnya dengan hanya dapat menggigit bibirnya keras, menahan sakit di dadanya dan bulir kristal itupun mengalir tanpa permisi diwajah cantiknya yang sangat tidak mencerminkan seorang yang berpangkat Inspektur dari Badan Intelijen Negara.
"Siwon shi, ketahuilah kau masih sangat beruntung" Suara husky Yoochun memecah keheningan setelah Heechul dan mobilnya menghilang di kegelapan malam.
"Beruntung?dengan hukuman yang sudah berada dihadapanku?" Jawab Siwon sinis.
"Ne, kau beruntung karena Heechul tak mengirimmu ke Departemen tempatnya bekerja, kau tahu, hukumanmu akan berlipat-lipat ganda, karena yang akan menangani kasusmu adalah pengadilan Internasional"
'...'
"Sedangkan bila kau diserahkan di kepolisian Seoul, kau hanya akan diadili di pengadilan Negeri saja, tentu saja hukuman akan bertambah ringan jika kau berkelakuan baik"
'...'
"Kukira Heechul benar-benar mencintaimu, jadi jangan kecewakan dia"
"Ahra"
"Eh? apa katamu?"
"Ahra"
"Siapa dia?"
"Dia juga bertanggung jawab atas semua ini"
"Arraso, kita lanjutkan saja dikantor, dan kau boleh menghubungi pengacaramu tuan Choi, kau membuatku repot saja, lihatlah sicantik targetmu itu, kau menambah beban hidupnya saja"
Yoochun bergegas 'memasukkan' Siwon ke mobilnya, tidak lupa ia juga membopong tubuh kurus Jaejoong dan memasukkannya kemobilnya sebelum tancap gas dari tempat tersebut. Sedikit merasa lega karena penyamarannya selama ini akan segera berakhir, dan 'sedikit' mengasihani Siwon yang wajahnya tampak kusut sekali memikirkan nasibnya nanti.
.
.
.
Jung Mansion
"Chilo! Min tidak mau mimik cama ahjuma nenek cihil ini!"
"Yah Jung Changmin! tidak boleh berkata seperti itu kepada calon ummamu, pasti baby sittermu yang mengajarimu kan?"
Teriak nyonya Jung kepada cucunya yang belum genap berusia 3 tahun itu, gaya bicaranya seperti menghadapi bocah yang sudah bersekolah saja. Benar-benar tidak dapat menghadapi anak kecil. Sedangkan Ahra, yeoja yang disebut-sebutnya sebagai calon umma itu tersenyum menyindir bocah malang yang tengah mengamuk lantaran ia hanya ingin minum susunya dengan ditemani orang yang dipanggilnya umma selama ini.
Semenjak kepergian Jaejoong, Yunho sangat tidak berdaya menghadapi kelakuan Changmin. Bukannya ia tak mau mengurus sang buah hati, tuntutan pekerjaannya-lah yang membuatnya tak berdaya. Bahkan Changmin hanya mau menyusu jika bersama dirinya. Semenjak Jaejoong minggat ialah yang menggantikan posisi sang umma menemani Changmin tidur. Entah sudah berapa ribu kali bibir mungil Changmin menanyakan keberadan ummanya yang tak pernah dapat di jawab Yunho sama sekali.
"Min mau mimik cama umma, bobo cama umma, makan cama umma! bukan cama nenek cihil!" Kembali kalimat pedas dari bibir bocah pemberani tersebut.
"Yah Jung Changmin! umma-mu sudah meninggal eoh? Ahra jumma inilah penggantinya" Suara Jung umma sedikit melemah, berusaha membujuk sang cucu yang sudah jarang sekali makan semenjak kepergian Jaejoong.
"Biarkan aku yang memaksanya umma, berikan makanannya...Hey, mau kemana kau bocah kurang ajar!"
"Ahra ah, pelanlah sedikit jika berbicara dengan cucuku, kau harus bisa membujuknya, sudah beberapa hari bersamamu bukannya kau bujuk ia agar mau makan, tapi semakin hari kulihat ia semakin tidak mau bersamamu. Kau dengar, aku tidak menutup kemungkinan untuk membatalkan perjodohan kalian jika sikapmu tidak ada perubahan. Akan kujodohkan anakku dengan wanita yang lebih pantas!"
"Yah nenek tua! kau pikir aku tidak muak dengan sikap kalian yang selalu mendikteku selama ini hah? kau pikir aku ini sama seperti Jaejoong pelacur jalang yang mudah kau suruh-suruh? kalian se..."
PLAKK!
"Berhenti berkata kasar kepadaku! aku ini nyonya rumah disini, kau ternyata tidak lebih baik dari Kim jaejoong, bahkan kau lebih rendah darinya, baru beberapa hari kau sudah berani membentakku, bagaimana seandainya jika kau sudah menjadi istri anakku? Jika tahu akan seperti ini, tak akan kuusir Jaejoong dari rumah ini, ketahuilah melihat sifat aslimu ini, aku sangat menyesal telah mengusirnya"
Emosi nyonya Jung saat berondongan kalimat kurang ajar terdengar dari bibir wanita yang awalnya sangat disayanginya itu. Namun semakin hari Ahra semakin menunjukkan watak aslinya. Jung umma tentu saja tidak suka saat menyaksikan cucunya dibentak-bentak sedemikian rupa oleh Ahra. Dan tamparan keraspun mendarat disebelah pipi wanita soleha idaman pria kurang waras tersebut.
Nyonya Jung tampak tengah menguasai nafasnya yang tiba-tiba terasa sesak disertai rasa sakit yang amat sangat didada kirinya, tubuhnya-pun hampir rubuh jika ia tidak bersandar pada dinding dibelakangnya. Melihat keadaan Jung umma yang menahan sakit seperti itu tidak membuat Ahra menjadi iba, ia bahkan mengeluarkan kata-kata kasarnya kembali lantaran ia terlanjur sakit hati oleh tamparan keras Jung umma tadi.
"Ketahuilah nyonya tua, kalian harus mengubur keinginan kalian untuk menjadikan namja pelacur murahan itu sebagai istri anakmu! karena ia telah kujual ke Afrika!"
"Berhenti mengatakan omong kosong didepanku wanita jahat! benar sekali firasat cucuku yang tak pernah melihatmu sebagai wanita baik, insting anak kecil memang tak boleh diacuhkan, hhh...hhh.." Emosi Jung umma tampak memuncak, tubuhnya semakin sempoyongan, matanya berkunang-kunang, dan nafasnya semakin tersengal-sengal saja.
"Haelmoni! kenapa Haelmoni cepelti itu? Hueee...Haelmoniiii..."
"Minnie ah, hah...hah...p-panggil H-han ahjumma ce-pathh" Jung umma dengan suara terbata-bata menyuruh cucunya agar memanggil kepala pelayan kepercayaan Yunho yang telah bekerja sedari Yunho tinggal di Apartemannya terdahulu.
"Ne, Haelmoni tunggu cebental ya?" Kaki mungil itu lalu berlari secepat mungkin menuju dapur tempat biasa Han ahjumma berada. Ahra? jangan ditanya, karena merasa bersalah, wanita itu bergegas meninggalkan Jung umma sebelum cucunya menemukannya disana.
"Mwoya Nyonya Jung waeyo? ada apa?" Panik Han ahjumma mendapatkan Nyonya rumah tersebut ternyata sudah tergeletak tak sadarkan diri. Dengan paniknya Han ahjumma menjerit meminta tolong kepada supir keluarga tersebut untuk mengantarkan nyonya Jung kerumah sakit dan segera menghubungi Yunho di kantornya.
Akhirnya Nyonya Jung-pun dibawa kerumah sakit oleh seorang supir keluarga beserta Han ahjumma dan Changmin tentunya. Bocah malang yang selama perjalanan itu menangisi haelmoninya memilih untuk ikut bersama Han ahjumma saja darpada tinggal dirumah bersama Ahra si nenek sihir jahat.
Setiba dirumah sakit, ternyata Yunho telah menunggu disana. Nyonya Jung segera dibawa keruang ICU dan mendapatkan perawatan intensive. Ternyata menurut dokter nyonya Jung terkena serangan jantung dan juga stroke ringan. Tentu saja hal tersebut membuat hati Yunho semakin gundah saja. Segera dihubunginya Jihye yang berada dikota lain agar segera pulang untuk menemui umma mereka yang terbaring tak berdaya. Mendengar berita itu, Jihye segera mengemasi barang-barangnya dan secepatnya bergegas agar dapat segera menemui wanita yang telah melahirkannya itu.
Bagaimana dengan wanita idaman kita? Ahra, wanita tersebut dengan tanpa dosanya merasa bahagia sekali saat didengarnya nyonya Jung wanita yang dengan usahanya yang keras menjodohkannya dengan namja incarannya selama ini harus mendekam dirumah sakit untuk beberapa lama. Ia merasa lega karena niatnya untuk mendapatkan namja idamannya sudah diambang kesuksesan tanpa ada lagi yang menghalanginya. Tidak tahu diri.
.
.
Sementara itu...
"Jae hyung..."
"Ngghhh..."
"Cunnhie ya ottokhe? apa Jae hyung sudah sadar?"
Junsu tampak terkesiap saat tubuh kurus Jaejoong yang terus ditatapnya sejak tadi terlihat menggeliat-geliat kecil. Dari bibir pout itu terdengar lenguhan lemah yang menandakan hyung cantik mereka telah sadar dari 'tidurnya' yang hampir mencapai 2 hari karena pengaruh obat bius yang sangat kuat. Siwon sudah dijebloskan ke tahanan kepolisian Seoul, tengah menunggu proses hukumnya saja.
Sedang Heechul, namja cantik itu menghilang seperti ditelan bumi saja, tak ada kata-kata perpisahan sama sekali darinya. Pertemuan dimalam itu yang melibatkan Siwon dan Yoochun lah pertemuan yang terakhir kalinya dengan Yoochun, hanya Heechul sempat berpesan agar Yoochun merahasiakan pertemuan mereka dan menyuruh Siwon untuk tutup mulut mengenai Heechul apabila ia menginginkan hukuman yang ringan. Mereka harus merekayasa jika penangkapan Siwon murni Yoochun yang melakukannya.
Yoochun memaklumi semua itu dilakukan Heechul karena ia telah terjebak terlalu jauh dalam sandiwaranya sendiri. Heechul telah jatuh cinta kepada target operasinya sendiri, kepada namja yang harus ditangkap dan dijebloskannya ke penjara.
"enghh, dimana ini? Yoochun ah, Su-ie..."
"Tenanglah Jae hyung, tidak usah berpikir terlalu keras, kondisimu masih lemah, sebaiknya makanlah dulu hyung pasti lapar" Jawab Yoochun menenangkan Jaejoong agar tidak terlalu keras berpikir, mengingat seberapa keras obat bius yang telah disuntikkan Siwon kepadanya.
"Ne hyung, kau pasti sangat lapar...sudah hampir 2 hari kau tidak sadarkan diri" Junsupun menimpali perkataan kekasihnya barusan.
"Ahh pusing..."
"Tenanglah hyung, duduklah pelan-pelan..." Junsupun membantu Jaejoong bersandar dikepala ranjang dikamarnya yang tidak terlalu lebar. Yah, Yoochun ternyata membawa Jaejoong ke Apartemen milik Junsu yang dinilainya aman sampai Jaejoong dapat memutuskan untuk tinggal dimana ia nantinya jika sudah sehat kembali.
"Hyung, waeyo?" Yoochun dan Junsu serempak mendadak heran saat melihat perubahan raut wajah cantik dihadapan mereka saat ini yang berubah menjadi sendu.
"Changmin, Minnie...anak itu pasti mencariku, hiks...Minnie" Dan pecahlah tangisan Jaejoong yang membuat kedua temannya kebingungan.
Rupanya hal yang pertama sekali diingat Jaejoong adalah bocah evil yang selalu membutuhkannya. Batin keduanya memang sudah terikat, karena diwaktu yang sama tanpa diketahui Jaejoong, nun jauh disana, di rumah sakit tepatnya tempat Changmin berada saat ini, bocah tersebut tengah menangis keras kembali mencari ummanya.
.
.
"Oppa coba kau rasakan, badan Minnie terasa panas sekali, sepertinya dia demam"
Siang itu Jihye tampak sangat khawatir saat ia beberapa kali menepelkan pipinya ke pipi Changmin yang berada digendongannya sekarang. Sedari pagi saat bangun tidur, bocah itu memang terlihat sangat tidak bersemangat. Sudah 2 hari ini Changmin ikut menginap dirumah sakit. Semenjak kedatangan Jihye bocah itu seakan menemukan pengganti Jaejoong dan selalu menempel kepada yeoja berbadan tinggi itu. Tentu saja hal itu membuat Jihye sedikit kerepotan karena ia juga harus mengurus ummanya yang semenjak sadar dari pingsannya tak dapat menggerakkan badannya secara sempurna karena stroke ringan yang menyerangnya.
"Ne, tampaknya begitu, hhhh...Jihye ah, untung sekali kau datang, Minnie berubah sekali sifatnya setelah Joongie meninggalkan kami, ia sangat tak bersemangat.
"Dan kau tak melakukan apapun agar ia kembali bertemu dengan ummanya?"
"Joongie yang tak menginginkan kami, ia pergi tanpa alasan"
"Aigoo, sejak kapan aku memiliki oppa yang bodoh seperti ini, hey Jung Yunho pikirkanlah mana ada orang minggat tanpa alasan, hhhh" Jihye mendesah kesal saat menyadari kebodohan oppanya.
"Mmm, benar juga ya..." Yunho tampak mengangguk-anggukan kepalanya.
"Yah pabbo! cepat lakukan sesuatu sebelum anakmu ini menyusul haelmoninya terbaring di rumah sakit! cepat teleponlah Joongie, atau bila ia tak mengangkat teleponmu setidaknya kirimkan pesan agar ia dapat membacanya dan tahu keadaan anak kalian, ppaliwa!"
"Ne, ne...kau tahu Jihye ah sudah ribuan kali aku meneleponnya sama sekali tak diangkatnya, dan kini setelah umma sakit aku belum sempat meneleponnya, ahh, sebaiknya aku mengirimkan sms saja" Yunho mulai menekan layar ponselnya untuk mengirimkan sms kepada Jaejoong yang rupanya tengah gelisah memikirkan nasib Changmin saat itu.
To: Boojaejoongie
Boo, oediseoyo? Changmin sakit.
Ia membutuhkanmu, balaslah pesanku ini.
Saranghae.
Harap-harap cemas, mata musang itu tak lepas menatap layar ponselnya kalau-kalau akan mendapat balasan dari kekasihnya yang tak tahu keberadaannya sekarang ini. Bohong jika ia tidak melakukan apapun untuk menemukan Jaejoong. Walaupun tidak turun tangan secara langsung, ia telah memerintahkan oarang kepercayaannya mengintai Purple Line club tempat Jaejoong bekerja dulu, namun hasilnya nihil, mereka tak menemukan keberadaan Jaejoong disana. Tentu saja, karena saat ini Jaejoong telah berada di Apartemen Junsu.
Mengharap akan segera mendapat balasan sms, membuat Yunho tak memalingkan tatapannya pada layar ponselnya. Namun apa yang diharapkan namja tampan itu tak sesuai dengan kenyataannya, seharian ia menunggu balasan sms dari Jaejoong, namun tak ada balasan sedikitpun. Yunho-pun memutuskan untuk membawa Changmin pulang kerumah saja malam itu karena rumah sakit bukanlah tempat yang pantas untuk anak seusia Changmin. Tentu saja setelah ia mengajak Changmin menemui dokter langganannya terlebih dahulu.
Tahukah Yunho mengapa Jaejoong tak membalas sms nya? Karena pada saat itu namja cantik tersebut tengah mempersiapkan dirinya untuk kembali menempati rumah sederhananya yang dulu ditempatinya seorang diri, tentu saja sebelum Yunho memaksanya untuk tinggal di Apartemen mewahnya. Dengan berat hati siang itu itu kedua sejoli Yoochun dan Junsu mengantarkan Jaejoong menuju kediamannya setelah meyakinkan jika Jaejoong telah benar-benar pulih. Kondisi tubuh Jaejoong setelah sadar dari pingsannya tidak mengalami gangguan sedikitpun. Ia dapat melakukan aktifitas apapun seperti biasa, hanya ingatannya saja yang berkurang ketajamannya. Namun untunglah ia masih mengingat dengan jelas Changmin dan appanya.
Kesibukan Jaejoong sekaranglah yang membuatnya melupakan ponselnya untuk sementara waktu. Benda berlayar sentuh itu sama sekali tidak disentuhnya, tergeletak diatas meja panjang didepan sofa ruang tengah rumah sederhananya. Semenjak Yoochun dan junsu mohon pamit setelah mengantarkannya tadi siang, waktu yang sama saat Yunho mengirimnya sms, Jaejoong disibukkan dengan kegiatannya membersihkan rumah yang untunglah tidak terlalu berantakan, karena Yunho selama ini menyuruh Han ahjumma untuk membersihkan rumahnya setiap satu minggu sekali.
Hingga hari menjelang tengah malam, dan Jaejoong yang baru habis mandi berniat bersantai sembari menyantap soup seafood pedas yang dimasaknya sore tadi. Diraihnya remote televisinya dan mulai menikmati masakannya sambil menonton acara televisi. Tak memakan waktu yang lama mangkuk sup itupun kosong, yah pengaruh 'tidur' yang cukup lama membuatnya terus merasa kelaparan.
Segera diletakkannya mangkuk kosong itu diatas meja panjang, sesaat kedua mata doe-nya tertuju pada lampu LED ponselnya yang tergeletak diatas meja panjang tersebut. Lampu tersebut berkedip-kedip dengan warna merah yang menandakan adanya pemberitahuan telepon yang masuk atau sms yang belum terbaca. Diraihnya ponsel itu dan segera memeriksa menu didalamnya yang ternyata menampilkan satu pesan masuk untuknya. Setelah melihat siapa pengirim sms itu, tanpa pikir panjang langsung dibacanya sms tersebut, dan melihat waktu sms tersebut dikirim.
"Aigo, siang tadi...Joongie pabboya, hhhh Minnie ya bagaimana keadaanmu sekarang..."
Jaejoong menyesali keteledorannya saat dilihatnya waktu sms tersebut dikirim Yunho, itu berarti ia telah mengabaikan Changmin yang dikabarkan sakit siang tadi. Tampak jelas kekalutan diwajah cantik tersebut. Berapa kali ditatapnya ponsel yang masih berada dalam genggamannya, antara ingin membalas pesan tersebut atau langsung menelpon Yunho. Pasalnya jam sekarang sudah menunjukkan pukul 11 malam waktu Seoul, Jaejoong takut mengganggu Changmin yang tengah tidur.
"Aishh, sebaiknya kutelpon saja" Setelah berpikir keras menimbang-nimbang apa yang akan diperbuatnya, Jaejoong akhirnya memutuskan untuk menelpon saja. Dan mulai jari jemari Jaejoong menekan nomor yang sudah sangat dihapalnya pada layar ponsel miliknya.
Sementara di Mansion Jung...
Keputusan Yunho telah bulat untuk membawa Changmin pulang kerumah mereka malam itu, setelah beberapa hari mereka 'menginap' dirumah sakit meninggalkan seorang wanita malang yang kesepian karena seorang diri berada didalam rumah luas nan megah tersebut hanya ditemani para maid saja.
Namun apakah keputusan Jung Yunho untuk kembali ke mansion mewahnya itu adalah keputusan yang benar? mengingat wanita berduri itu ternyata telah menyiapkan 'ranjau'nya agar si tampan bergelar 'bear' itu menjadi miliknya malam itu juga.
"Yunho ah, aku tak menyangka kalian akan pulang malam ini, sini biar kugendong Minnie kekamarnya" Sambut sicantik Ahra dengan wajah yang berbinar-binar bahagia seperti seorang istri menyambut suaminya sepulang bekerja, dengan gaun tidurnya yang terbuat dari bahan yang tembus pandang, membuat siapa saja yang melihat akan berusaha menelan salivanya agar tidak menetes. Bagaimana dengan Yunho?
Namja tampan tersebut terlalu sibuk untuk menikmati pemandangan gratis yang berasal dari wanita murahan tersebut. Saat ini yunho tengah sibuk membuka sepatunya setelah dengan senang hati menyerahkan tubuh Changmin yang berbobot 20 kilo itu untuk dibawa masuk Ahra dengan terseok-seok kekamarnya. Mengapa selama ini Jaejoong biasa saja menggendong Changmin? itu karena Jaejoong seorang namja, tentu saja tenaganya berbeda dengan tenaga yeoja lembek seperti Ahra. 20 kilo setara dengan satu karung beras, jadi penampilan Ahra sekarang tidak bedanya seperti kuli panggul beras dipasar. Dalam hati yeoja itu ia menyesal telah menawarkan bantuannya untuk mengangkat si bocah evil.
"Mandilah, aku telah menyiapkan air hangat untukmu dikamar mandi, dan secangkir kopi hangat dikamarmu"
"Ne, gomawo"
Yunhopun segera berlalu dari hadapan wanita tersebut tanpa memandangnya sedikitpun, tidak lupa mengucapkan terima kasih karena telah bersusah payah meyiapkan air mandinya dan minuman hangat untuknya, 'kebetulan' batin Yunho seraya menuju kekamarnya bergegas kekamar mandi agar air hangat yang telah disiapkan Ahra tadi tidak keburu dingin. Ketika mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana panjangnya ia sempat memeriksa jika ada pesan balasan dari Jaejoong, namun wajahnya mendadak suram saat ia tak menemukan yang diharapkannya. Dengan langkah gontai diarahkan langkahnya kedalam kamar mandi berharap pikirannya jernih setelah membersihkan diri.
Setelah selesai mandi Yunho tak berencana untuk keluar kamarnya, melihat jam didinding kamarnya yang sudah menunjukkan lewat jam 10 malam, ia berencana memeriksa sebagian file kantornya saja sebelum tidur. Disandarkan tubuh kekarnya yang hanya memakai atasan singlet tipis itu diranjang besinya, mata musangnya sibuk memeriksa file-file yang dibawanya dari kantor tadi, sesekali bibir hatinya menghirup kopi suguhan Ahra tadi yang masih hangat.
Baru beberapa menit memeriksa file kantornya dan menghabiskan secangkir kopi Yunho merasa tubuhnya kepanasan dan kegerahan, diturunkan derajat celcius AC didalam kamarnya, namun perasaannya sangat berbeda. Entah mengapa tiba-tiba ia teringat kepada Jaejoong, ahh kepada bibir merahnya tepatnya, entah mengapa hasratnya sangat menggebu-gebu ingin merasakan bibir ranum yang biasa diserangnya tersebut.
Yunho ah, tidak sadarkah jika reaksi tubuhmu adalah akibat obat perangsang dengan dosis 3 kali lipat kuatnya diberikan wanita iblis tadi kedalam kopi hangat yang sudah ludes kau minum? tampaknya reaksi 'panas' obat tersebut mulai bekerja, dan tubuh Yunho mulai mengeluarkan keringat dan desahannya akibat membayangkan bibir merah impiannya saat ini.
Sedangkan Ahra, setelah meyakini jika obat perangsang 'super'nya mulai bekerja, tentu aja wanita soleha tersebut tidak menyia-nyiakan kesempatannya malam itu, didukung cuaca yang dingin-dngin empuk dengan bermodalkan gaun tidur tembus pandangnya ia menerobos masuk kekamar si tampan yang kini tengah mengipas-ngipasi tubuhnya yang mendadak memanas.
"Ahra ah, m-mengapa k-kau masuk kekamarku?" Yunho sedikit tercekat saat Ahra sudah berada dihadapannya dengan pose yang menantang. Pose seorang wanita murahan. Pose seekor ikan asin dihadapan kucing garong.#loh?
"Yunnh, coba kau lihat punggungku, sepertinya tadi ada serangga yang merayap dibelakang sana..." *modus
"Eh, s-serangga?" Jawab Yunho terbata.
"Ne, cobalah kau lihat dulu, kajja Yunnie ya..." Jawab Ahra manja dengan menarik paksa Yunho yang setengah mati manahan gejolaknya demi melihat si ikan asin yang berusaha menggodanya. Dan tanpa malu-malu Ahra menarik paksa Yunho sehingga ia berdiri dari duduknya dan memposisikan namja manly tersebut dibelakang tubuhnya agar dapat melihat 'sesuatu' yang merayap dipunggungnya tadi.
"A-arraso, y-yang mana Ahra ah...mmhhhh" Sepertinya usaha Ahra akan mendekati sukses, karena saat ini tanpa disengaja bibir hati itu telah mengeluarkan desahannya tatkala Ahra dengan sengaja memundurkan badannya dan punggung polosnya bersentuhan dengan dada bidang Yunho yang hanya memakai singlet tipis.
Bibir licik wanita berduri itu semakin menyunggingkan senyum iblisnya saat dirasakannya benda yang berada didalam celana pendek dibelakangnya itu terasa menegang menyentuh bagian pinggulnya, karena Yunho jauh lebih tinggi darinya. Dalam hatinya, inilah malam keberuntungannya setelah sekian lama ia menderita batin.
"Mmmhh, Yunho ah...buka saja agar kau leluasa memeriksa dan mengusir binatang itu, ppali...ahhh" Dengan sengaja Ahra menggoda yunho dengan mengeluarkan desahannya yang seduktif. Ia menyadari jika Yunho sekarang tengah mati-matian menahan hasratnya yang menggebu-gebu, terlihat saat ini Yunho tengah memejamkan matanya sambil menggigit bibirnya agar tak mengeluarkan desahannya kembali. Dan senyum iblis itupun kembali mengembang.
Tanpa menunggu tindakan dari yunho Ahra bergegas melucuti bagian atas busananya saat itu. Ia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan emasnya, mumpung tak ada satupun yang dapat mencegahnya untuk memiliki Jung Yunho saat ini.
Glek~
Susah payah Yunho menelan salivanya saat tubuh topless Ahra telah terpampang dihadapannya. Benar-benar seperti ikan asin yang menunggu kedatangan si kucing garong. Perlahan demi perlahan tubuh topless itu kian mendekat dan akhirnya menempel erat ditubuh kekar itu. Yunho tampaknya sudah akan menyerah dengan keadaan saat itu, dimana hatinya menjerit ingin sekali menolak hasaratnya, namun badannya sangat menginginkan tubuh topless yang berada dihadapannya. Well, saat ini lupakan seorang Jung Yunho yang tidak tertarik sedikitpun kepada wanita dihadapannya. Saat ini yang ada seoarang namja yang tengah terpengaruh obat perangsang berkekuatan super dan disuguhi tubuh polos dihadapannya.
Untuk saat ini ungkapan 'Kucing mana yang menolak diberi ikan asin" sangatlah berlaku kepada Yunho yang sudah bersiap-siap memangsa 'ikan asin' murahan yang sudah menempel dengan erat di badan kekarnya. Baru saja tangan kekar Yunho akan bergerak bermaksud 'menggerayangi' tubuh polos tersebut, tiba-tiba...
Drrttt...drrttt...drrttt
Ponsel yang diletakkannya dimeja nakas ranjangnya bergetar membuyarkan konsentrasinya, sedikit merasa terselamatkan oleh ponsel tersebut, dengan gerak refleks tangan kekar yang hampir saja berada di dada silikon itu menggapai ponselnya dan buru-buru menekan tombol yes setelah membaca siapa yang meneleponnya. Sementara Ahra yang sudah berpolos ria menggerutu kesal dan semakin kesal saat tahu siapa yang menepon Yunho saat itu.
"J-Joongie ah.." Ujar Yunho sedikit terbata karena ia masih dalam pengaruh obat terkutuk itu.
"Mianhe aku baru melihat sms mu, bawalah Changmin kerumahku besok pagi" Suara halus Jaejoong terdengar dari seberang sana kendati dengan nada yang dingin dan datar.
"Aniya Joongie ya...aku akan mengantarkannya sekarang juga, chakkaman aku akan berada disana dalam 10 menit"
"Mwo? 10 menit? Kau gila Yu..."
Belum selesai Jaejoong mngucapkan kalimatnya, sambungan telepon tersebut telah diputuskan sepihak oleh namja yang baru saja dihubunginya yang malah berjanji akan mendatanginya dalam 10 menit.
"10 menit? dasar gila...Yunnie ah, sebesar itukah rindumu hingga kau akan datang secepat itu? ahh awas saja kalau terjadi apa-apa dengan Minnie, dasar beruang"
Bibir pout itu tersenyum lucu saat menyadari kegilaan namja Jung yang berjanji akan datang dalam waktu sepuluh menit. Padahal waktu normal untuk jarak rumahnya dan mansion Jung itu adalah 30 menit. Jaejoong hanya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, lalu beranjak merapikan kamar tidur yang dipersiapkan untuk Changmin yang pastinya telah terlelap. Kasihan sicantik yang tidak menyadari jika keperawanannya sebentar lagi akan segera dirampas oleh sang beruang yang tengah dipengaruhi nafsu birahi.
sementara itu...
"Yunnie ya...kau mau kemana, kau belum memeriksa serangga punggungku kan? Yunnie..."
"Mianhe Ahra ah, sepertinya aku harus berterimakasih kepadamu, berkatmu aku akan segera melewatkan malam pertama yang sangat panas bersama Jaejoongku. Sepertinya obatmu ini sangat bagus sekali...gomawo Ahra ah, jaga rumah baik-baik eoh?"
Seketika tubuh Ahra yang polos bagian atasnya itu merosot menyaksikan namja yang diharapkan akan menjadi miliknya malam ini perlahan menjauh dari pandangannya meninggalkan mansion tersebut dengan sang buah hati yang terlelap digendongannya.
Tanpa mengganti bajunya terlebih dahulu, karena takut ia tak dapat menguasai nafsu birahinya yang sudah sangat memuncak saat itu, Yunho bergegas menggendong Changmin yang masih terlelap dan segera berlalu dari hadapan wanita 'ikan asin' tersebut, berharap dapat menyetir dengan sempurna dengan keadaannya yang seperti itu dan menepati janjinya tiba dalam waktu hanya 10 menit dikediaman Jaejoong.
Walau bagaimanapun 'ikan asin' bukanlah makanan yang pantas untuk seekor beruang, karena seekor 'gajah' cantiklah yang diinginkan si beruang untuk menjadi mangsanya malam itu.
Beberapa menit kemudian...
"Yunnie ya...kau gila! ini bahkan belum 10 menit kau sudah berada disini, aishh bagaimana jika terjadi apa-apa dengan kalian, kajja kemarikan Minnie biar kupindahkan kekamar"
Mata doe indah itu terbelalak tak percaya saat mendapati sosok yang telah berdiri didepan pintu rumahnya. Yang membuatnya tak percaya adalah Yunho benar-benar menepati janjinya untuk tiba disana dalam 10 menit. Bahkan kedua appa dan anak itu tiba kurang dari 10 menit dan sukses membuat wajah cantik Jaejoong terperangah tak percaya.
"Yah, bahkan kau hanya mengenakan pakaian seperti ini saja..." Jaejoong baru sadar sesaat setelah meletakkan Changmin berbaring diranjangnya, mendapati Yunho dibelakangnya dan menyadari pakaian yang dikenakan kekasih yang sudah beberapa hari ditinggalkannya itu hanya celana pendek rumah dan atasan singlet tipis saja.
"Joongie ah...bogoshipo"
"N-nado Yunnie, waeyo...k-kau berbeda sekali, jangan membuatku takut, aahhh...mmhhh, Yunnhh wae?"
Jaejoong menyadari sepertinya ada yang tidak beres dengan Yunho yang terlihat sangat berbeda dari biasanya. Dari sorot matanya pun Yunho sangat berbeda, ia terlihat seperti serigala yang kelaparan. Begitulah tatapan Yunho saat ini, seolah akan menelannya hidup-hidup. Dan itu membuat Jaejoong merasa takut, apalagi sekarang Yunho dengan tidak sabaran telah menjelajahi leher mulusnya yang membuatnya mengeluarkan desahan nikmat.
"Joongie ah, juseyo...Ahra telah memperdayaku dengan memberikan obat perangsang kedalam minumanku, dan sekarang aku tidak dapat menahannya...mmhhh" Bibir hati itu membisikkan kalimat tersebut tepat dilubang telinga yang merupakan titik sensitif Jaejoong, sehingga membuat sicantik kembali mendesah, bahkan lebih keras dari yang tadi.
"Yunnhhh, jangannhh disini...nanti changmin terbangun, aahhh,mmhhh...kajja kekamar tamu saja, kupastikan aku milikmu malam ini Yunnie ya..."
"Jinjja?"
.
.
.
tebece
kasih review ne?
twitt = peya_ok
