Disclaimer : Semua charakter disini milik Tuhan YME, author cuma pinjem nama

Rate : T

Genre : Romance, hurt, family

Warning : BL, YAOI, Typos, cerita pasaran, OOC (mungkin ), mohon dengan sangat sebelum membaca dibaca dulu bagian warning ini, tidak menerima bash kecuali kritik membangun, so please

DON'T LIKE DON'T READ

Note : Fanfiction ini murni hasil karya saya selaku author, saya tidak rela dan tidak ikhlas jika hasil karya saya ini di plagiatkan oleh orang - orang yang tak bertanggung jawab, dalam bentuk apapun!

.

.

Pairing

Yunjae

Yoosu

SiChul

.

Other Cast

Baby Changmin

Go Ahra

Jung Jihye

.

.

.

Anneyong Saengideul & Chingudeul,

No curcol, mungkin tinggal 2 Chap menuju end ya pemirsah sekalian. NCnya saya buat sesopan mungkin karena saya tetap mempertahankan ratenya, mianheyo. Senangnya saya saat membaca banyak siders yang mau memberi review pertama kalinya khusus untuk ff ini. Love U all...*KecupSemua

Happy Reading

Dozo...

.

.

.

CHAPTER 18

.

.

Summary

.

Kim Jaejoong namja berumur 22 tahun anak yatim piatu tak menyangka kehidupannya akan berubah drastis setelah bertemu tanpa sengaja dengan bayi yang belum genap satu tahun ( Mian, kemarin saya mencantumkan bahwa umur Changmin sembilan bulan) tapi bayi tersebut selalu menyebutnya 'umma', ternyata memang wajah Jaejoong yang mirip umma disebuah supermarket.

Untuk membiayai kuliah dan kehidupannya sehari - hari, Jaejoong mengambil kerja di dua tempat yang berbeda, yaitu di sebuah Restoran besar dan sore harinya ia bekerja Purple Line club khusus 'laki - laki' sebagai penari erotis, di club inilah Jaejoong sudah tidak asing lagi dengan Siwon yang merupakan pelanggan tetap Club tersebut semenjak bergabung, dan langsung berhasil 'menggaet' salah satu erotic dancer yang dikenal dengan wajah judesnya dan mata belo nya, Kim Heechul namanya, namja cantik yang terhitung sudah bekerja di purple line enam bulan sebelum Jaejoong bekerja disana. Jaejoong kini telah berhenti bekerja di club tersebut karena banyak sekali pertimbangannya, semenjak ia dilamar Yunho, Jaejoong memutuskan untuk tidak bekerja di club tersebut.

Berhentinya Jaejoong dari Purple line club menimbulkan kekecewaan dalam diri Siwon, karena namja itu telah lama mengincar Jaejoong dan Junsu yang sama - sama bekerja disana untuk dijual keluar negri, perlu diketahui Siwon menjalankan bisnis 'perdagangan manusia' ini bekerja sama dengan dongsaengnya ( adik sepupunya ) Go Ahra yang berasal dari Gwangju, asal yang sama dengan keluarga Yunho ( Ahra telah lama mengincar Yunho agar menjadi suaminya, akhirnya rencananya berhasil dengan 'menjerat' Nyonya Jung ibunda Yunho ). Namun karena ada Park Yoochun yang ternyata adalah agen Polisi yang menyamar sebagai pelayan di Purple Line, ia selalu mengawasi gerak - gerik Siwon disana, sehingga Siwon memilih untuk mengambil langkah pelan, terhitung sudah hampir satu tahun mereka tak pernah bertemu sebelumnya, dan kini Siwon telah bertemu kembali dengan mangsanya ( Kim Jaejoong ), tepatnya dikantor kolega perusahaannya yang akan memulai kerja sama bisnis mereka.

.

End Previuos Chap

Jaejoong menyadari sepertinya ada yang tidak beres dengan Yunho yang terlihat sangat berbeda dari biasanya. Dari sorot matanya pun Yunho sangat berbeda, ia terlihat seperti serigala yang kelaparan. Begitulah tatapan Yunho saat ini, seolah akan menelannya hidup-hidup. Dan itu membuat Jaejoong merasa takut, apalagi sekarang Yunho dengan tidak sabaran telah menjelajahi leher mulusnya yang membuatnya mengeluarkan desahan nikmat.

"Joongie ah, juseyo...Ahra telah memperdayaku dengan memberikan obat perangsang kedalam minumanku, dan sekarang aku tidak dapat menahannya...mmhhh" Bibir hati itu membisikkan kalimat tersebut tepat dilubang telinga yang merupakan titik sensitif Jaejoong, sehingga membuat sicantik kembali mendesah, bahkan lebih keras dari yang tadi.

"Yunnhhh, jangannhh disini...nanti changmin terbangun, aahhh,mmhhh...kajja kekamar tamu saja, kupastikan aku milikmu malam ini Yunnie ya..."

"Jinjja?"

.

.

.

FOREVER LOVE

.

.

.

.

Mata doe itu hanya menatap kosong udara dihadapannya saat satu persatu helaian pembungkus tubuhnya terlepas merosot kelantai begitu saja. Sebenarnya jauh dilubuk hatinya Jaejoong belum ikhlas untuk menyerahkan bagian terpenting tubuhnya itu tanpa ada ikatan sakral pernikahan dengan namja dihadapannya yang sudah tak sabaran lagi ingin segera mencicipi tubuh indahnya itu.

Malam itu Jung Yunho bagai menjelma seperti beruang yang kelaparan. Tak dilewatkannya satu inci pun tubuh putih mulus yang sudah pasrah menanti detik-detik hilangnya sesuatu yang dijaganya selama ini. Selama beberapa tahun ia bekerja di Purple Line club, dan selama ia menjadi kekasih Jung Yunho, ia selalu berusaha untuk menjaga ke virginannya, baik terhadap yeoja ataupun namja. Jangan lupakan jika sejak dulu Jaejoong selalu meng-klaim dirinya adalah seorang namja normal, walaupun tak pernah sekalipun berpacaran dengan seorang yeoja.

"Joongie ah, kau yakin? hmm?"

Bibir hati itu berbisik tepat ditelinga sensitif Jaejoong, menanyakan lagi keikhlasan hatinya untuk menyerahkan kevirginannya malam itu. Sementara tubuh keduanya sudah polos. Entah sudah berapa jam mereka berada dikamar tersebut, dan sepertinya Yunho sudah akan mencapai puncaknya.

"Kalaupun aku tak yakin, apa yang akan kau lakukan?" Jawab cherry merah itu dengan melontarkan pertanyaan kembali.

"Molla, mungkin aku akan menghabiskan waktuku malam ini dikamar mandi saja, apa kau tidak kasihan? Jebbal..." Manik musang itu menatap sepasang doe dihadapannya yang sudah tampak berkaca-kaca. Jung Yunho telah dikuasai nafsu birahinya sehingga tak hiraukannya kilatan bening yang menggenangi mata indah pujaan hatinya tersebut. Yang dipikirkannya sekarang hanyalah kepuasan batinnya untuk menyalurkan hasratnya akan tubuh indah dihadapannya.

"lakukanlah apa yang kau inginkan, jika itu dapat memuaskan hatimu, aku ikhlas Yunh, saranghae...jeongmal saranghae, kulakukan karena aku sangat mencintaimu"

"Nado saranghae Kim Jaejoong, aku berjanji akan bertanggung jawab penuh atas dirimu, mianheyo aku tak bisa menahannya malam ini...kau tahu? ternyata kau memiliki tubuh yang sangat indah, aku tak dapat menahan untuk tidak memilikimu Joongie ah, mmhhh...emmhh"

"Owwhh Yunnh..."

"Buka yang lebar, pasti akan terasa sakit, kau boleh melakukan apa saja kepadaku Joongie ah...kau boleh menjambakku, memukulku, mencakar atau menggigit kulitku jika terasa sakit sekali, arra?"

"Yunnie, aku takut...kau menakuti, apa akan sesakit itu rasanya, juseyo...hiks"

"Yang aku dengar seperti itu baby, uljima jebbal..."

Bibir hati itu mengecup kedua doe bening yang sudah mengeluarkan airmatanya. Kemudian kecupan itu berpindah kebibir cherry yang tengah terisak halus karena kekhawatirannya akan sakit yang nanti akan dirasakannya. Untunglah kecupan cinta dari bibir hati itu cukup memberikannya ketenangan hingga dengan sendirinya ia mulai membuka kedua pahanya selebar-lebarnya untuk memberi nikmat kepuasan kepada namja tampan yang berada diatas tubuhnya sekarang.

Dan bibir hati itu mulai mengecupi seluruh bagian tubuh mulus yang berada dibawah tubuh kekarnya. Sementara desahan nikmat terus keluar dari cherry merah menggoda yang entah sudah berapa kali menjadi santapan beruang kelaparan itu, dilihat dari bentuknya yang sudah merah membengkak.

"Arrgghh Yunnie, appoo! Hentikanhhh juseyo, aawwhh...hiks, hiks...appoo"

"Lakukan apapun kepadaku agar sakitnya berkurang boo, mianhe aku tak dapat berhenti, terlalu nikmathh...aahhh"

Dan benar saja, saat hal itu terjadi Jaejoong tak dapat menahan sakit yang teramat sangat dibawah tubuhnya. Tubuhnya mengeras kaku seakan terkoyak, terbelah dua. Kedua tangannya mencengkram erat punggung Yunho yang berada diatasnya, sedangkan gigi-giginya tertancap tepat dibahu namja bermarga Jung itu. Bukankah Yunho sudah menyuruhnya untuk melakukan apa saja agar Jaejoong dapat mengurangi rasa sakitnya? ternyata pilihan Jaejoong adalah mencakar dan menggigit appa Changmin tersebut.

Akhirnya malam itupun menjadi menjadi malam yang penuh sejarah bagi pasangan Yunjae. Bercinta diatas ranjang hingga mencapai klimaksnya untuk yang pertama kali. Dan dengan ikhlasnya malam itu Jaejoong bersedia untuk membuka paha selebar-lebarnya hanya untuk Jung Yunho namja yang sangat dicintainya walaupun belum tentu dapat dimilikinya. Sungguh rumit perjalanan cinta pasangan ini.

sementara itu...

Daegu city

"Wonnie ah, ottokhe..."

Dibalkon sebuah apartemen yang cukup mewah seorang namja cantik tengah tercenung duduk bersandar didinding bercat biru muda itu. Dibiarkannya saja airmatanya mengalir bebas melewati kedua pipinya yang terlihat cekung. Terlihat disela jemarinya sebatang rokok yang masih menyala. Sesekali disesapnya asap nikmat dari rokok tersebut sebelum menghembuskannya keudara.

Mata indahnya terlihat sudah sangat membengkak akibat terlalu banyak mengeluarkan airmatanya. Rambutnya yang tergerai panjang sebahu itu terkadang bergerak-gerak tertiup hembusan angin yang cukup kencang karena ia berada diketinggian lantai ke 9 kompleks aparteman yang cukup mewah dikota asalnya, Daegu yang terletak tak jauh dari Seoul, hanya memakan waktu beberapa jam berkendara saja.

Bibirnya bergerak-gerak menggumamkan kata 'ottokhe'' saat membaca tulisan yang berada disecarik kertas putih yang baru saja diambilnya dari dalam amplop yang berwarna senada.

Daegu Hospital

Kim Heechul, 30 years old

Male Pregnancy (+) Positif

with 5 weeks pregnancy

Kim Heechul namja cantik tersebut tampak sangat frustasi memandang tulisan yang berada diselembar kertas itu. Kenyataan yang mengharuskannya membawa janin seorang Choi Siwon. Entah apakah ini sebuah kutukan atau sebuah keajaiban. Jelas-jelas ia adalah seorang namja tulen, bahkan ia adalah seorang agen rahasia untuk negaranya yang cukup berprestasi dalam mengungkap kasus-kasus Internasional.

Namun takdir yang mempertemukannya dengan Choi Siwon seorang pengusaha kaya dan terkenal namun memiliki bisnis sampingan ilegal yang bertaraf Internasional membuat garis nasibnya berubah drastis. Nasib yang mengharuskannya membawa janin namja tersebut yang saat ini sudah berada didalam tahanan kota Seoul guna menunggu proses hukum selanjutnya.

Heechul saat ini tak dapat berbuat apa-apa selain duduk tercenung dengan perasaan yang luar biasa kalutnya. Yang dibutuhkannya saat ini adalah teman untuk berbagi. Teman untuk menampung segala permasalahannya dan teman yang dapat diajaknya berdiskusi tentang bagaimana nasib janin yang berada dikandungannya saat ini, terlintas dipikirannya untuk melenyapkan janin tak berdosa tersebut, namun pikiran itu cepat-cepat ditepisnya. Ia tak ingin menambah dosanya untuk kedua kalinya. Cukup dosanya saat melakukan hubungan terlarang itu bersama kekasihnya, tidak mau menambah dosa yang lainnya.

'Hhhh...besok aku harus berkemas-kemas, marga Choi itu harus bertanggung jawab atas janin ini' Gumam sicantik itu dalam hatinya dan mulai beranjak dari posisinya kemudian melangkahkan kakinya menuju ranjang empuknya. Kantuk yang menyerangnya menyebabkan tidak perlu waktu lama untuk Heechul dapat memejamkan matanya malam itu.

.

.

.

"Ummaaa, ummaaa! holee Min ketemu umma lagi"

"Yah Jung Changmin, hahaha..."

"Umma jahat, kenapa tinggalin Minnie cama ahjumma nenek cihil itu! umma nakal!"

Rengut si cadel doyan makan itu saat mendapati umma yang dirindukannya berada ditempat yang sama dengannya pagi itu. Bocah 3 tahun yang terbiasa bangun pagi-pagi sekali mendapati dirinya disebuah kamar asing dan langsung menghambur mencari-cari sosok appanya. Namun seperti mendapat keajaiban, ia malah menemukan sosok ummanya yang tengah terlelap tidur dalam dekapan appanya dikamar tamu rumah yang tak diketahuinya rumah siapa pasalnya terakhir berkunjung kesana saat ia belum genap berusia satu tahun saat Jaejoong akan pindah ke Apartemen mereka.

"Mianhe baby, umma menyesal sekali sudah meninggalkan Minnie, habis Minnie suka nakal sih" Jawab Jaejoong dengan maksud menggoda, namun tidak dengan bocah 3 tahun iu. Ia menanggapi ucapan ummanya dengan serius.

"Huee umma, Minnie janji tidak nakal lagi, tapi umma jangan pelgi lagi ya umma, hiks..."

"Hahaha...kalau umma tidak tinggal dirumah Minnie lagi bagaimana?"

"Chileo! gak boleh! umma halus tinggal cama Min cama appa, hiks' Bibir mungil itu terus terisak dan Jaejoong malah semakin senang mempermainkannya.

"Aniya, umma tidak bisa tinggal bersama Minnie lagi, soalnya ada Ahra jumma yang akan jadi umma Minnie nantinya"

"Chillo! Min gak mau Ahla jumma yang jadi umma Min! Min mau umma! huee, umma jahat...hueee"

"Boo...jebbal jangan keterlaluan menggoda uri Minnie seperti itu, dia kehilangan semangatnya semenjak berpisah denganmu tempo hari

Tiba-tiba suara bass menginterupsi disela-sela perbincangan MinJae yang berujung dengan tangisan Changmin karena tidak rela jika ummanya meninggalkannya kembali. Yunho hanya bermaksud memperingatkan Jaejoong agar tidak membuat Changmin menangis.

Jaejoong hanya memutar bola matanya mendengar interupsi dari Yunho tersebut, "Minnie ya umma tidak berbohong, appamu sepertinya lebih menyukai Ahra jumma, buktinya selama umma menghilang appa tidak pernah mencari umma" Sungut bibir cherry itu yang ditanggapi dengan tatapan bengon Changmin karena tidak mengerti dengan perkataan ummanya. Jelas saja ia tak mengerti, kalimat tersebut sebenarnya ditujukan untuk sang beruang yang tengah berusaha memejamkan matanya kembali.

Mendengar kalimat penuh sindiran dari Jaejoong itu senyum tipis tercetak dibibir hati itu, " Minnie chagi, umma-mu saja tidak tahu bagaimana kita berdua selama beberapa hari mondar-mandir tak jelas, menunggu didepan purple line club, memeriksa kerumah ini berkali-kali, tapi kau tidak menampakkan batang hidungmu sama sekali, oediseyo boo?"

"Hahaha, kau ke purple line dan kerumah ini?" Tawa Jaejoong.

"Ne boo, tapi tak berani masuk ke club tersebut, apa kata dunia kalau aku menginjakkan kakiku disana"

"Jelas saja aku tidak ada, aku memang tidak berada didua tempat itu"

"Oediseoyo?"

"Aku dirumah Heechul hyung, kekasih dari Choi Si...Omoo!"

Tiba-tiba saat menyebutkan nama Namja tampan kekasih Heechul itu Jaejoong teringat sesuatu, sepertinya memory sebelum ia pingsan malam itu telah kembali.

"Wae boo?" Tanya Yunho setelah melihat perubahan dari mimik wajah kekasihnya. Sementara Changmin, bocah itu telah sibuk bergelung dipelukan Jaejoong, wajahnya ditenggelamkan didada Jaejoong, sesekali tangan nakalnya menggrepe-grepe dada montok ummanya, kegiatan yang sangat dirindukannya semenjak Jaejoong tak bersamanya beberapa hari ini.

"Aniya Yun, hanya ingatanku saat terakhir sebelum aku ditemukan pingsan dirumah Chullie hyung, Siwon Hyung berada didekatku, selanjutnya aku tidak mengingat ap..."

"Mwoya? kau pingsan boo? siapa yang membuatmu pingsan boo?" Yunho tampak panik setelah mendengar penuturan Jaejoong barusan.

"Molla yun, aku tak dapat mengingatnya, hhhh...gwaenchana Yun sekarang kondisiku kan sudah kembali pulih juga" Jawab Jaejoong lirih.

"Arraseo, umm boo..."

"Ne Yun"

"Setelah ini kita kerumah sakit eoh?"

"Rumah sakit? wae?"

"Menjenguk umma"

"Umma? waeyo Yun? ada apa dengan Nyonya?" Tanya Jaejoong tak dapat menyembunyikan kepanikannya.

"Boo, berhentilah memanggil umma dengan sebutan nyonya seperti itu" Ucap Yunho pelan saat mendengar panggilan Jaejoong untuk ummanya.

Jaejoong tak menjawab, hanya raut wajahnya saja yang berubah menampakkan kesedihan yang sangat. Bukan kehendaknya memanggil ibu dari kekasihnya seperti itu, namun wanita tersebut yang tidak sudi dipanggil Jaejoong dengan sebutan 'umma'.

"Umma terkena stroke boo..."

"Stroke? Aigoo...Ahh kalau begitu akan kubuatkan bubur ginseng untuk umma, biar sekujur tubuhnya menghangat"

"Gomawo boo, tidak perlu repot-re..."

"Awww! yah Jung Changmin, nappeun eoh..."

"Wae boo? kau diapakan lagi oleh bocah evil itu hah?"

"Hehehe, umma cama appa belicik!"

Tawa puas Changmin saat mendengar jerit kesakitan ummanya setelah jemari mungilnya meremas kuat dada umma yang tengah 'digerayanginya' itu. Ia memang sangat senang mempermainkan dada berisi tersebut.

"Yah kau evil! berhenti menyakiti umma seperti itu, ditinggalnya lagi baru tahu rasa eoh?" Ancam Yunho saat melihat bocah tersebut tertawa senang.

"Jangan memarahinya Yun, aku hanya terkejut saja, ohh pantas saja, umma lupa membuatkan uri Minnie susunya...Minnie tunggu disini eoh? umma buatkan susunya dulu"

"Ani, ikut!" Tolak keras Jung junior itu, tampaknya ia kesal dengan appa yang barusan memarahinya"

"Arraso, kajja"

"Umma..."

"Ne, wae Minnie ya?"

"Endongg..."

"Yah, baiklah kajja...hup"

"Dah appa beluang, hihihi"

"Yah bocah evil! sempat-sempatnya kau mengejekku yah, awas saja kalau ummamu tidak ada, huh!"

Tawa puas Jung Changmin digendongan sang umma yang susah payah membawa tubuh montoknya saat melihat raut wajah kesal dan gerutuan dari bibir hati sang appa yang dipanggilnya beruang barusan. Namun jauh didalam hati pemilik bibir hati itu ia sangat merasa bahagia Changmin telah dipertemukan kembali dengan umma yang membuat semangatnya yang sempat hilang kini kembali lagi. Namja tampan itu berjanji untuk tidak melepaskan Jaejoong kembali.

.

.

"Anneyong umma, lihatlah siapa yang bersama kami..."

"A-Anneyong n-nyonya"

'...'

"Joongie membuatkan bubur dan sup ginseng untuk umma, umma makan eoh"

'...'

"Mianhe boo, umma tak dapat menjawab sapaanmu, penyakitnya yang membuatnya separuh badannya kaku tak dapat digerakkan"

"Gwaenchana Yun, aku mengerti...biar aku yang menyuap umma Yun"

Tak sepatah katapu yang mampu keluar dari bibir umma Jung saat mendengar dan melihat sapaan dari bibir cherry yang ditujukan kepadanya dengan setulus hatinya tesebut. Itu semua karena pengaruh stroke yang dideritanya yang membuatnya tak kuasa menggerakkan separuh badannya termasuk bibirnya. Dokter menyarankan untuk melakukan terapi setelah kondisinya sembuh benar.

Jung tua itu hanya mampu menggerak-gerakkan bola matanya saja. Dalam hatinya ia sangat bersyukur Jaejoong sudah kembali dan berkumpul bersama anakk dan cucunya kembali. Sementara Ahra, wanita yang menyebabkannya berada dirumah sakit ini tak pernah sekalipun memperlihatkan batang hidungnya untuk sekedar menjenguknya. Bahkan Jaejoong yang baru pertama kali menjenguknyapun sudah repot-repot membuatkannya Bubur dan sup ginseng.

"Umma, Ahla nenek cihil jahat...Min liat halmoni didolong-dolongnya"

"Jung Changmin!"

"Yah, dia itu hanya anak-anak Jung Yunho! tak mungkin mengada-ada! berhentilah membela wanita licik itu, apa kau mau kehilangan Joongie kembali dan merepotkanku menyuruh datang jauh-jauh dan meninggalkan pelajaran kuliahku, hah?"

Jung Yunho menegur tegas Changmin agar tidak sembarangan berbicara menuduh orang seenaknya. Namun Jihye menjawabnya dengan nada yang ketus seolah membenarkan kalimat bocah polos itu. Dan memang kenyataannya anak kecil tidak pernah berbohong kan?

Dan kalimat adiknya yang ketus itu mampu membuat Jung muda nan tampan itu terdiam seribu bahasa, manik matanya memperhatikan Jaejoong yang tengah menyuap ummanya bubur buatannya tadi dengan telaten. Tampak mata Jung umma berkaca-kaca, ia baru menyadari tulusnya hati seorang Jaejoong yang tidak dibuat-buat saat melihatnya menyuapka sesendok demi sesendok bubur dengan sabar kedalam mulutnya yang kadang tertumpah karena mulutnya tak dapat terbuka terlalu lebar. Dan Jaejoong akan dengan sabar membersihkan sisa bubur yang tersisa dipinggir bibir nyonya Jung hingga bubur itu habis tak bersisa.

"Nah sekarang nyonya minumlah, kalau nyonya menyukai bubur buatanku, akan joongie buatankan setiap hari" Senyum puas Jaejoong saat melihat mangkuk bubur ditangannya sudah bersih, habis.

'...'

Tak ada jawaban dari bibir Jung umma, hanya raut wajahnya yang berubah murung, dan sebelah tangannya yang bisa digerakkan berusaha menggapai wajah Jaejoong. Perlahan diusapnya pipi putih Jaejoong, airmata jatuh membasahi wajah Yeoja ibu kandung Yunho dan Jihye itu.

"M-mi-an"

Hanya satu kata itu yang sanggup dikeluarkan bibir kaku Jung umma, dan untuk mengeluarkan satu kata tersebut ia sudah berusaha dengan sangat keras. Satu kata yang mampu membuat semua yang berada dikamar mewah rumah sakit itu ikut meneteskan airmatanya, tak terkecuali Jung Yunho. Hanya Changmin yang memasang wajah cengonya merasa keheranan karena suasana dirumah sakit tersebut mendadak mellow.

Sementara itu...

Rumah tahanan Kota Seoul

"Chullie ya"

"Apa kabarmu Siwon shi, kau tampak kurus, apa mereka tak memberimu makan dengan benar?"

"Aniya, aku hanya...ahh, kau tahu sendiri dengan keadaanku seperti ini tak mungkin aku akan akan memasukkan makanan kemulutku dengan nikmat'

"Ne aku mengerti"

"Chullie ya gomawo"

"Eh?"

"Gomawo telah menjengukku, mungkin setelah ini nafsu makanku akan berubah, dan jebbal, jangan memanggilku dengan sebutan shi, itu menyiksaku aku tak ingin kau anggap seperti orang lain"

Itulah awal perbincangan yang berkesan kaku antara seorang namja cantik dan seorang namja tampan berlesung pipi yang tampak terlihat kurus dan lusuh disalah satu ruang tahanan kota Seoul pada pagi hari itu.

Heechul tampak sangat cantik memukau, rambutnya yang biarkannya tumbuh panjang kini sudah melebihi bahunya. Kemeja yang sedikit ketat mencetak bentuk tubuhnya yang ramping, hanya saja wajahnya sedikit terlihat pucat pagi hari itu.

"Ada yang ingin kubicarakan kepadamu, wonnie ah"

"Apa itu Chullie baby?" Siwon kembali memanggil Heechul dengan panggilan yang biasa digunakannya kepada namja cantik bermata besar itu, membuat semburat merah dikedua pipi agen rahasia korea yang berpangkat Inspektur itu.

'...'

"Katakanlah, aku akan mendengarnya"

"Aku hamil"

"eh?"

"Aku hamil Wonnie ah, dan ini anakmu"

"Mwo?"

.

.

.

tebece :)

review always

twitt : peya_ok

.

Note:

Bulan puasa saya hiatus ya saengideul, kalaupun saya masih menulis saya hanya akan melanjutkan ff yang rate T aja, untuk ff yang rate M nya saya lanjut setelah lebaran eoh. Bulan puasa ini saya fokus nyari rejeki dulu, maklum saya ini pekerja musiman...kalo musim ff saya buat ff, kalo musim lebaran saya jualan kue...hehehe, ada yang mau pesen kue ke saya? #promosi#

Finally, still waiting for your reviews...saya mohon maaf lahir batin karena sebentar lagi akan masuk bulan puasa, doakan saya bisa meneruskan ff saya disela-sela kerempongan saya nantinya. Amiin.

Kalo mau komunikasi bisa lewat twett, okeh :)