Disclaimer : Semua karakter disini milik Tuhan YME, author cuma pinjem nama

Rate : T

Genre : Romance, hurt, family

Warning : BL, YAOI, Typos, cerita pasaran, OOC (mungkin ), mohon dengan sangat sebelum membaca dibaca dulu bagian warning ini, tidak menerima bash kecuali kritik membangun, so please

DON'T LIKE DON'T READ

Note : Fanfiction ini murni hasil karya saya selaku author, saya tidak rela dan tidak ikhlas jika hasil karya saya ini di plagiatkan oleh orang - orang yang tak bertanggung jawab, dalam bentuk apapun!

.

.

Pairing

Yunjae

Yoosu

SiChul

.

Other Cast

Baby Changmin

Go Ahra

Jung Jihye

.

.

.

Anneyong Saengideul & Chingudeul,

Dengan ngesot-ngesot saya menyelesaikan chap ini disela-sela adonan kue saya..._-_ semoga hasilnya tidak mengecewakan, terimakasih jeongmal gomawo yang sudah ngasih review dari chap awal dan welcome new readers dan new reviewers juga. Mianhe saya tidak dapat menulis nama kalian satu-satu karena sudah sangat bejibun. Tapi percayalah saya mengingat semua pemberi review yang masuk. :)

Masalah typo dan misstypo itu adalah kelemahan saya. Tolong beritahu kalau kalau kehadirannya mengganggu pandangan kalian. *bow90'

Happy Reading

Dozo...

.

.

.

CHAPTER 19

.

.

Summary

.

Kim Jaejoong namja berumur 22 tahun anak yatim piatu tak menyangka kehidupannya akan berubah drastis setelah bertemu tanpa sengaja dengan bayi yang belum genap satu tahun ( Mian, kemarin saya mencantumkan bahwa umur Changmin sembilan bulan) tapi bayi tersebut selalu menyebutnya 'umma', ternyata memang wajah Jaejoong yang mirip umma disebuah supermarket.

Untuk membiayai kuliah dan kehidupannya sehari - hari, Jaejoong mengambil kerja di dua tempat yang berbeda, yaitu di sebuah Restoran besar dan sore harinya ia bekerja Purple Line club khusus 'laki - laki' sebagai penari erotis, di club inilah Jaejoong sudah tidak asing lagi dengan Siwon yang merupakan pelanggan tetap Club tersebut semenjak bergabung, dan langsung berhasil 'menggaet' salah satu erotic dancer yang dikenal dengan wajah judesnya dan mata belo nya, Kim Heechul namanya, namja cantik yang terhitung sudah bekerja di purple line enam bulan sebelum Jaejoong bekerja disana. Jaejoong kini telah berhenti bekerja di club tersebut karena banyak sekali pertimbangannya, semenjak ia dilamar Yunho, Jaejoong memutuskan untuk tidak bekerja di club tersebut.

Berhentinya Jaejoong dari Purple line club menimbulkan kekecewaan dalam diri Siwon, karena namja itu telah lama mengincar Jaejoong dan Junsu yang sama - sama bekerja disana untuk dijual keluar negri, perlu diketahui Siwon menjalankan bisnis 'perdagangan manusia' ini bekerja sama dengan dongsaengnya ( adik sepupunya ) Go Ahra yang berasal dari Gwangju, asal yang sama dengan keluarga Yunho ( Ahra telah lama mengincar Yunho agar menjadi suaminya, akhirnya rencananya berhasil dengan 'menjerat' Nyonya Jung ibunda Yunho ). Namun karena ada Park Yoochun yang ternyata adalah agen Polisi yang menyamar sebagai pelayan di Purple Line, ia selalu mengawasi gerak - gerik Siwon disana, sehingga Siwon memilih untuk mengambil langkah pelan, terhitung sudah hampir satu tahun mereka tak pernah bertemu sebelumnya, dan kini Siwon telah bertemu kembali dengan mangsanya ( Kim Jaejoong ), tepatnya dikantor kolega perusahaannya yang akan memulai kerja sama bisnis mereka.

.

End Previuos Chap

Heechul tampak sangat cantik memukau, rambutnya yang biarkannya tumbuh panjang kini sudah melebihi bahunya. Kemeja yang sedikit ketat mencetak bentuk tubuhnya yang ramping, hanya saja wajahnya sedikit terlihat pucat pagi hari itu.

"Ada yang ingin kubicarakan kepadamu, wonnie ah"

"Apa itu Chullie baby?" Siwon kembali memanggil Heechul dengan panggilan yang biasa digunakannya kepada namja cantik bermata besar itu, membuat semburat merah dikedua pipi agen rahasia korea yang berpangkat Inspektur itu.

'...'

"Katakanlah, aku akan mendengarnya"

"Aku hamil"

"eh?"

"Aku hamil Wonnie ah, dan ini anakmu"

"Mwo?"

.

.

.

FOREVER LOVE

.

.

.

"Bogoshippo ummaaa senang melihat umma sudah kembali"

"Cih, wajah penuh dusta, simpan saja kata-kata manismu itu wanita muka seribu!"

"Umma ya, mianhe aku tak dapat menjengukmu sewaktu dirumah sakit, aku sibuk dirumah mengawasi para maid bekerja dirumah, karena tak ada seorangpun yang menunggu rumah selama umma dirumah sakit"

'...'

Wajah berseri-seri Ahra saat menyambut kepulangan nyonya rumah yang menanggapi semua ocehan akrabnya dalam hening bisu akibat penyakit yang dideritanya. Setelah seminggu berada dirumah sakit, nyonya Jung diperbolehkan pulang dengan perjanjian tetap melakukan fisiotherapy dirumah sakit seminggu sekali karena stroke yang menggerogoti tubuhnya. Meski mendapatkan perlakuan khusus selama dirumah sakit stroke tetaplah penyakit mematikan yang hampir merenggut nyawa wanita senior dikeluarga Jung tersebut. Bahkan bibir nyonya Jung-pun masih belum mampu mengeluarkan kat-kata secara spontan.

Hanya rutukan pedas yang keluar dari bibir Jihye yang menjawab sapaan akrab penuh dusta dari Ahra. Yunho dan Jaejoong perhatiannya fokus kepada nyonya Jung, mereka berdua tengah membantu Jung umma berdiri dari kursi rodanya setelah itu Yunho menggendong tubuh kaku ummanya dan membaringkannya diranjang besar didalam kamar pribadinya.

"Yun ah, aku akan memasakkan umma bubur" Jaejoong permisi setelah membantu membaringkan tubuh Jung umma ditempat tidur empuknya.

"Ehm, Yunho ah biar aku yang menunggu umma disini kau beristirahatlah pasti sangat capek menunggui umma dirumah sakit" Timpal Ahra bermaksud mencari muka. Yunho tak menyadari jika raut muka Jung umma berubah keruh saat mendengar niat Ahra untuk menungguinya karena ia masih trauma akan kelakuan calon menantu kesayangannya itu yang menyebabkannya berakhir dirumah sakit.

"Arraso kau jaga umma disini, aku akan membantu Jaejoong memasak dan menyiapkan keperluan umma yang lainnya, Minnie ya bisakah Minnie menemani Ahra Juma menuggui haelmoni disini?" Seketika raut ceria Ahra menjadi suram saat mendengar Yunho mengatakan akan membantu Jaejoong didapur ketimbang menemaninya menunggu Jung Umma dan yang lebih menjengkelkannya adalah si bocah evil itu disuruh menemaninya dikamar ini.

"Allaco apaa, Minnie akan menjaga haelmoni dali nenek cihil juma ini" Ucap bocah 3 tahun itu dengan nada judes menyebabkan Ahra mengeraskan wajahnya dan membuat Jung umma merasa sedikit lega karena sang cucu evil bersamanya.

Sementara Yunho bergegas menyusul Jaejoong yang sudah berada di dapur menyiapkan bahan-bahan untuk membuat bubur Jung umma sekalian untuk makan siang mereka hari itu. Yunho yang sudah berada disamping Jaejoong dan siap mengganggu, ah ani, membantu pujaan hatinya itu memperhatikan dengan penuh kekaguman tangan terampil Jaejoong yang tengah memotong-motong bahan masakannya dengan mahir, bahkan lebih mahir dari seorang yeoja.

"Boo kapan aku bisa membantumu kalau sedari tadi hanya kau saja yang bekerja" Rengut Yunho saat menyaksikan Jaejoong yang tengah asyik bekerja sendiri tanpa menghiraukannya.

"Kau tahu sendiri aku tak suka diganggu saat tengah memasak Yun..." Jawab Jaejoong tanpa menolehkan wajahnya karena ia tengah asyik memotong-motong wortel.

"Arraso kalau kau tak suka dibantu aku akan mengganggumu saja...mmhhh harumnya..."

"Yunnie kalau begini bisa-bisa kita semua tak jadi makan siang, ahhh...geli Yunhh...hahaha"

Jaejoong terkikik pelan saat Yunho yang sudah berada dibelakang tubuhnya memeluknya erat dan bibir hatinya yang berada tepat dibelakang tengkuknya telah sibuk menyesap kulit mulusnya dan harum khas tubuhnya yang sangat di gilai namja tampan tersebut. Aktifitas Yunho dibelakang tubuhnya itu tentu membuatnya sedikit tak nyaman karena merasa geli dan nikmat diwaktu bersamaan.

Pasangan yang tengah berbahagia itu tak menyadari jika ada sepasang mata yang menyaksikan kemesraan mereka dengan hati yang terluka dan penuh dendam. Ahra yang bermaksud mengambil air minum ke dapur memilih mengurungkan niatnya setelah menyaksikan kemesraan pasangan sejenis itu yang diakhiri dengan ciuman panas keduanya.

Sementara Yunho dan Jaejoong yang sama sekali tak mengetahui kegiatan mereka telah disaksikan Ahra malah semakin memperdalam ciuman panas mereka yang menyebabkan sang beruang hampir kehilangan kontrol (lagi).

"Yunh...lepasshh" Jaejoong terlihat panik dan berusaha melepas tautan bibir hati dibibir cherry-nya saat disadarinya kedua telapak Yunho telah berada dibalik bajunya dan tengah meraba kedua dadanya.

Tak ada tanggapan sama sekali dari Yunho, sepertinya Yunho sangat berkonsentrasi dengan kenikmatan yang diperoleh dari namja yang telah membuatnya melupakan akal pikiran sehatnya. Kedua tangan itu masih saja bergerilya dibalik kaos Jaejoong, sedang Jaejoong telah merasa sangat panik karena tubuh kekar Yunho telah menghimpit dan memojokkan tubuh kurusnya hingga membentur pinggiran wastafel.

"Yunniehh jebbal...jangan disini mmhhh, banyak orang yang akan melihat kita aahhh..." Disela-sela desahannya Jaejoong berusaha menahan tubuh Yunho agar tidak menempel ditubuhnya, namun usahanya sia-sia belaka dibanding tenaga sang beruang yang berkali lipat dibanding tenaganya. Bahkan Jaejoong hanya pasrah saja saat Yunho telah menyingkap kaosnya keatas dan mempertontonkan kedua dada montoknya.

"YAH KALIAN ! Seperti tidak ada tempat lain saja, oppa lepaskan Joongie sekarang, kalau begini kapan umma akan makan buburnya, aisshh"

"Yah Jihye kau mengejutkan saja! aahhh..."

"Oppa cepat menyingkir dari sini, biar aku yang membantu Joongie, hhhh"

Geraman kesal Yunho saat kegiatan panasnya bersama Jaejoong terhenti dengan tidak elitnya karena suara bentakan Jihye yang meyebabkan Jaejoong langsung mendorong kepalanya yang sudah berada didepan dadanya hendak bersiap-siap melahap kedua dada putihnya.

Yunho dengan nafas tersengal-sengal terpaksa meninggalkan Jaejoong dengan wajah merahnya karena malu dan Jihye tersenyum penuh kemenangan. Jaejoong segera menurunkan bajunya yang tersingkap akibat ulah beruang mesum barusan, ia sangat malu sekali karena kegiatan mereka tertangkap basah oleh Jihye.

"Joongie ya, kusarankan kau terimalah lamaran Yuhno oppa secepatnya, karena sepertinya dia sudah tidak tahan ingin menikah. Bagaimanapun oppa ku itu adalah seorang duda yang sangat membutuhkan kepuasan, kau mau kalau dia termakan rayuan yeoja ikan asin itu?"

Jihye yang sudah mengambil posisi Yunho didapur untuk membantu Jaejoong medesak agar Jaejoong mau menerima lamaran Yunho dan menikah secepatnya dengan saudara kandungnya itu. Namun Jaejoong hanya menjawab dengan senyuman saja membuat Jihye sedikit merasa kecewa. Jihye mengerti bahkan sangat mengerti perasaan Jaejoong, bukannya Jaejoong menolak lamaran Yunho namun Jaejoong pasti menginginkan hubungan yang direstui oleh Jung umma ibunda Jung Yunho. Jaejoong hanya akan menerima lamaran Yunho jika telah direstui oleh nyonya Jung sendiri.

"Arrraso, aku akan berusaha berbicara dengan umma mengenai hal ini, kasihan uri Minnie sudah terlalu lama ia menjadi anak piatu, lagipula selama ini hanya kau yang ia tahu sebagai ummanya" Ujar Jihye mencoba meyakinkan Jaejoong kembali.

"Jihye ah, gomawo atas perhatianmu namun aku tak dapat merubah keputusanku sebelum nyonya Jung merestui kami, mianhe"

"Hhhh, kau ini ternyata dibalik kecantikan wajahmu itu tedapat hati yang keras ya..."

Jihye hanya dapat menghela nafas panjang saat mendengar jawaban Jaejoong yang didengarnya bernada pesimis dan keras kepala. Selanjutnya yeoja cantik itu tak mengatakan apa-apa lagi hingga mereka selesai memasak.

Jaejoong memang memiliki pribadi yang sedikit keras kepala terbukti sudah berkali-kali Yunho melamarnya namun lamaran tersebut tak juga diterimanya hingga saat ini padahal ia sangat mencintai Yunho, itu semua hanya karena restu yang tak kunjung didapat dari Jung umma. Namun disaat Jung umma sudah akan membuka hatinya untuk Jaejoong Ahra dengan leluasa membuka kedok masa lalunya sebagai penari erotis di gay club purple line.

.

.

Makan siang dikelurga Jung siang itu berlangsung sedikit berbeda pasalnya nyonya Jung yang biasa memimpin acara makan dikeluarga tersebut lebih memilih menyantap makan siangnya didalam kamarnya saja, tentu saja karena keadaannya yang tak memungkinkan. Sebenarnya Jung umma bisa saja menyantap makan siangnya dimeja makan bersama anggota keluarga yang lain, duduk diatas kursi rodanya tentu saja, namun ia tidak dapat duduk terlalu lama juga karena kondisinya yang masih sangat lemah.

Yunho menggantikan posisi ummanya memimpin berdoa sebelum mereka memulai menyantap makan siang mereka sedang Jaejoong disibukkan dengan tingkah nakal Changmin yang tidak sabar minta disuap Jaejoong sementara didalam mulutnya masih berisi penuh makanan, takut kehabisan itulah alasan bocah tersebut yang tidak masuk akal.

"Changmin ah, kau menyusahkan umma-mu kalau cara makanmu seperti itu, nanti tersedak" Jihye menegur Changmin yang pipinya menggembung karena penuh makanan.

"Bial caja, abic macakan umma machita...kalau tidak cepat-cepat makannya nanti kebulu appa yang abicin makanannya" Jawab Changmin asal sambil tangannya mencomot ayam goreng kesukaannya.

"Jinjja? Minnie suka berkumpul lagi bersama umma eoh? coba ceritakan kepada Juma bagaimana Minnie bisa bertemu kembali dengan Joongie umma"

"Umma cama appa cudah baikan tidak malahan lagi, Min liat appa peluk dan cium umma , hehehe" Jawaban Changmin sukses membuat wajah Jaejoong bersemu merah karena malu, sedang Yunho hanya senyum-senyum mesum teringat saat Jaejoong menyerahkan kevirginannya bulat-bulat kepadanya.

Jihye sepertinya sangat antusias mendengar jawaban bocah gembul keponakannya itu. Sementara Ahra yang merasa asing berada ditengah-tengah makhluk yang tidak bersahabat dengannya itu hanya dapat memanyunkan bibirnya saja dan dengan cueknya bersikap manja kepada Yunho sedari tadi 'ditempelinya' dengan menyuapkan makanan kedalam mulut namja tampan itu layaknya Jaejoong yang menyuap Changmin. Yunho hanya sesekali saja menerima suapan Ahra pasalnya saat diliriknya kearah Jaejoong, sicantik itu tengah menatapnya dengan tatapan yang sukar diartikan, cemburu eoh?

Setelah menyelesaikan makan siang, mereka semua sekarang telah berada didalam kamar Jung umma. Jihye tampak duduk dipinggir ranjang ummanya dengan semngkuk penuh bubur ginseng buatan Jaejoong. Sementara Yunho dan Changmin tengah asyik bercanda dilantai kamar yang sangat luas itu. Kedua appa dan anak itu bercanda hingga berguling-gulingan.

Jaejoong tengah sibuk membereskan dan merapikan barang-barang yang letaknya berantakan didalam kamar itu, dengan cekatan tangannya merapikan kamar luas tersebut. Ahra eodi? Wanita soleha dambaan namja kurang kerjaaan itu lebih memilih menonton televisi diruang tengah daripada berkumpul bersama keluarga Jung.

Jihye tampak berkonsentrasi menyuapkan sesendok demi sesendok bubur buatan Jaejoong kemulut ummanya dengan penuh kasih sayang. Jihye sedikit menyesali kelakuannya selama ini yang suka menentang sifat ummanya, ia menyadari jika wanita yang telah melahirkannya itu sangatlah menyayangi ia dan oppanya, tujuannya hanya untuk membahagaiakan kedua buah hatinya walaupun terkadang dengan cara yang salah.

"Umma, apakah umma masih ingin menjodohkan oppa dengan Ahra?" Tiba-tiba pertanyaan tersebut keluar begitu saja dari bibir Jihye, Jung umma yang mendengarnya mendadak merubah raut wajahnya menjadi sendu, bibirnya bergetar seakan hendak mengatakan sesuatu namun sepatah katapun tak kunjung keluar dari bibir itu.

Jaejoong yang mendengar pertanyaan Jihye jadi merasa tidak enak ia hanya menundukkan kepalanya, sedangkan Yunho sedikit merasa terganggu akan pertanyaan Jihye sehingga memberikan death glare nya kepada yeoja tomboy itu. Yunho merasa tidak enak kepada Jaejoong apalagi jika jawaban Jung umma yang mungkin akan membuatnya sakit hati.

Sedangkan Jung umma ia tak kuasa sedikitpun menjawab pertanyaan Jihye, entah mengapa saat mendengar nama Ahra tiba-tiba emosinya meninggi membuat nafasnya tersengal-sengal, hal itu tentu saja membuat panik ketiga orang yang berada dikamar tersebut.

"Umma minumlah dulu, tak usah pikirkan ucapan Jihye barusan" Yunho segera menyodorkan air minum yang diberikan Jaejoong kepada Jung umma membantu wanita setengah baya itu untuk meminumnya. Jihye yang melihat perubahan emosi ummanya sangat merasa bersalah.

"Mianhe umma, bukan maksudku menyakiti hati umma, hanya saja aku tak menyangka umma begitu menyayangi Ahra dan menginginkannya menjadi menantu umma"

"Uhuk..huk..huk..."

"Jihye ah! bisakah kau tutup dulu mulutmu itu?"

Mendengar kalimat Jihye barusan membuat Jung umma tersedak air yang sedang diminumnya, membuat Yunho semakin panik dan membentak Jihye. Sedang Jaejoong semakin menundukkan kepalanya mendengar kata-kata Jihye barusan, hatinya sakit menyadari kenyataan jika Jung umma memang masih mengharapkan Ahra.

Namun siapa yang menyangka jika pikiran Jihye dan Jaejoong sangat bertentangan dengan apa yang ada dipikiran Jung umma saat ini, ia yang sudah mengetahui kedok keburukan Ahra sang calon menantu pilihannya itu sangat terkejut mendengar kalimat Jihye yang menganggapnya masih ingin menikahkan Yunho dan Ahra. Namun tak sepatah kata bantahan yang dapat keluar dari bibir kakunya. Kini Jung umma hanya dapat mengeluarkan airmata dan menggeleng-gelengkan kepalanya saja.

Jaejoong yang melihat Jung umma menangis seketika hatinya-pun menjadi terenyuh, segera didekatinya wanita yang sempat berkata maaf kepadanya itu dan mengucapkan kalimat yang pernah direncanakannya sebelumnya.

"Nyonya, aku pastikan Jung Yunho akan menikahi Ahra secepatnya aku berjanji tidak akan mengganggu hubungan mereka dan keluarga ini lagi jika hal itu dapat meperbaiki keadaan nyonya, hiks..." Jaejoongpun tak dapat menahan air matanya. Sedang Yunho dan Jihye hanya dapat terperangah tak percaya jika Jaejoong sanggup mengucapkan kata-kata itu. Begitu besarkah kepedulian Jaejoong terhadap Jung umma hingga ia rela melepas Yunho dan Changmin.

"Joongie ya, apa yang kau katakan..." Jihye mengguncang bahu Jaejoong yang sudah berjongkok dihadapan Jung umma.

"Boo kau tidak boleh seperti itu, baru saja kami berbahagia karena kau sudah kembali dan sekarang kau akan meninggalkaun kami lagi? tidak semudah itu boo, tidak semudah itu" Yunho tak tinggal diam ikut memprotes ucapan Jaejoong yang dinilainya sangat memaksakan, namun kembali lagi ia tak menyalahkan jika Jaejoong memiliki pribadi yang sedikit keras kepala dan berhati tulus.

"Yunho ah sebentar lagi sore, antar aku pulang setelah aku memandikan Changmin...aku akan kembali bekerja di club"

"Joongie..."

Yunho dan Jihye kembali dibuat terperangah atas ucapan Jaejoong barusan, mereka tak mengerti mengapa Jaejoong begitu cepat menyerah. Terlebih Yunho yang tentu saja sangat merasa berdosa kepada namja cantik yang sudah menyerahkan tubuhnya kepadanya. Kedua manik musang itu hanya dapat memandang tubuh kurus Jaejoong yang berlalu dari pandangannya dengan menggendong Changmin.

Sementara Jihye berusaha menenangkan Jung umma yang tampak semakin histeris mendengar kata-kata Jaejoong barusan. Ia tak menyangka jika mereka semua telah salah paham kepadanya. Tak satupun yang mengetahui jika ia telah mengetahui keburukan Ahra kecuali sang cucu yang masih balita. Nyonya Jung kini hanya dapat menyesali kesalah pahaman tersebut, sementara otaknya terus berputar bagaimana caranya agar kedua anaknya mengetahui jika ia menginginkan Jaejoonglah yang menjadi menantunya saat ini.

Sehabis memandikan Changmin Jaejoong pamit pulang kerumahnya kepada Jung umma yang ditanggapi dengan tangisan keras nyonya keluarga Jung tersebut. Sedikit merasa heran mengapa Jung umma menunjukkan sikapnya yang aneh Jaejoong tak membuat Jaejoong mengurungkan niatnya untuk pulang kerumahnya malam itu.

Bagaimana dengan Changmin? melihat Jaejoong yang bersiap-siap hendak pulang bocah tersebut terus menggelayuti kemanapun Jaejoong melangkah, bocah pintar itu seperti menyadari adanya ketidak beresan lagi dalam hubungan umma dan appanya dan ia tidak ingin Jaejoong meninggalkan mereka untuk yang kedua kalinya.

.

.

"Umma kenapa umma tidak mau tinggal belcama appa dan Minnie lagi?" Tanya polos Changmin yang setia dipangkuan Jaejoong semenjak mereka berada didalam mobil Yunho diperjalanan mereka mengantar Jaejoong pulang.

'...' Tak ada jawaban dari bibir cherry itu.

"Umma kenapa diam caja? umma malah cama Min eoh?"

"Boo, mengapa hatimu keras sekali kau tidak kasihan melihat uri Minnie? baru saja kau membuat kami bahagia serasa terbang di langit, dan sekarang kau malah mencampakkan kami begitu saja hanya karena ucapan Jihye yang menanyakan perihal perjodohanku"

Yunho tak dapat menahan perasaannya lagi saat mendengar kalimat polos sang buah hati yang membuat hatinya sedemikian sakitnya akibat perbuatan Jaejoong kepada mereka. Namun kalimat logisnya itu hanya mendapat jawaban bisu dari bibir cherry yang tertutup rapat itu. Sedangkan Changmin yang menyadari kejanggalan sikap ummanya dihari yang menjelang gelap itu semakin mengeratkan pelukannya ditubuh sang umma.

Beberepa menit kemudian mobil mercedes Benz itu tiba dipekarangan rumah Jaejoong. Segera Jaejoong turun menuju kepintu masuk rumah yang bercat putih itu dengan Changmin yang semakin erat menggelayutinya seperti anak koala. Bocah evil itu semakin menyadari jika ummanya berniat kembali meninggalkannya.

"Yunho shi, ambillah Changmin bawalah pulang"

"Andwae umma! andwae, chilloh hiks...Min mau cama umma caja, bial appa caja yang pulang hiks..." Changmin semakin mengeratkan tautan kedua tangan mungilnya dileher Jaejoong dan menenggelamkan kepalanya dilekuk leher namja cantik yang diyakininya sebagai ummanya itu saat Jaejoong hendak mengalihkan dirinya kepada appanya.

"Boo jebbal uri Minnie baru sebentar bertemu denganmu dan kau tega akan meninggalkannya kembali, ck aku tak mengerti dengan sifat kerasmu ini" Yunho mulai terlihat kesal.

"Aku harus bekerja Yunho shi" Jawab Jaejoong datar.

"Ummaaa hikss, Min mau bobo cama umma" Sela suara cadel Changmin yang mulai terisak kecil.

"Untuk apalagi kau bekerja ditempat seperti itu, boo? biar aku yang menanggung semua biaya hidupmu"

"Aku harus membiasakan diri hidup mandiri tanpa bantuanmu"

"Dengan bekerja ditempat itu? Never Kim Jaejoong! aku tak akan pernah mengijinkanmu"

"Apa hakmu melarangku bekerja ditempat yang aku inginkan? kau bukan apa-apaku lagi" ucap Jaejoong sengit.

"Aku berhak penuh atas dirimu, kau tahu itu KIM JAEJOONG!" jawab Yunho tak kalah sengitnya.

"Cih percaya diri sekali, sejak kapan kau yang menentukan garis hidupku? lebih baik kau turuti saja kehendak umma-mu menikah dengan yeoja itu dan hidup bahagia tanpa mengganggu kehidupanku lagi, hiks...aku capek, aku capek Jung Yunho, hiks...berhentilah mulai sekarang mengikutiku, bukankah awalnya kita memang bukan siap-siapa dan tidak saling mengenal?"

"Ummaa huee...uljima umma hiks, kenapa appa membuat umma menangic, huee..."

Tangisan keras Changmin membuat Jaejoong sedikit tersentak dan menyesal telah berkata keras, didudukkan tubuhnya dikursi yang berada diteras rumahnya tersebut dan berusaha menghibur Changmin agar menghentikan tangisan kerasnya khawatir jika terdengar oleh tetangga sekitar rumahnya.

"Aigoo Joongie ah waeyo? ada apa dengan Minnie? kalian bertengkar eoh?"

Dan benar saja tangisan Changmin ternyata mengundang Hyerin tetangga terdekat Jaejoong yang mendengar lengkingan keras suara tangisan Changmin dan tergopoh-gopoh keluar rumahnya bersama Yuki anak semata wayangnya kerumah Jaejoong untuk mengecek sumber suara tangisan tersebut.

Sesampai diteras rumah Jaejoong Hyerin tak dapat menyembunyikan kekagetannya ketika melihat keadaan Changmin yang menangis keras dipangkuan Jaejoong. Hyerin juga mendapati mata Jaejoong yang sembab seperti habis menangis dan sikap Yunho yang canggung, segera ia menyadari jika ada sesuatu yang tidak beres diantara keduanya. Hyerin telah lama tahu jika Jaejoong memiliki hubungan khusus dengan Yunho.

"Arraso, Yuki ya kajja kita ajak Minnie main kerumah kita sekarang, dia pasti mau jika Yuki mengajaknya" suruh Hyerin kepada putrinya yang sudah berumur 7 tahun itu.

"Arraso umma, hhmm kajja Minnie kita main dirumah Yuki noona yuk?"

"Main? main apa noona?" Changmin tampaknya merasa tertarik atas bujukan Yuki.

"Minnie maunya main apa?" pancing Yuki agar Changmin mau mengikutinya.

"Minnie maunya main lobot betmen cama kitti cepelti punya umma, oh ya gajah juga eoh" jawab polos Changmin yang membuat Jaejoong sedikit merasa malu karena ketahuan jika ia masih suka main boneka Hello kitty dan gajah kesukaannya.

"Yah kalau betmen Yuki noona tidak punya, gajah juga, tapi kalau helo kiti Yuki punya"

"Kalau beluang?"

"Umm, tidak ada"

"Kalau boneka nenek cihil jahat ada?"

"Boneka nenek sihir?" heran Yuki.

"Ne" Jawab Changmin pasti.

"Yuki tidak tahu seperti apa boneka nenek sihir itu Changmin ah" ujar Yuki penasaran.

"Cepelti Ahla juma"

"Mwo?" Keempat mulut yang berada disekitar bocah evil saat itu kompak membentuk huruf 'O' secara bersamaan demi mendengar jawaban polos seorang Jung Changmin yang kini sudah berada digandengan tangan mungil Yuki anak gadis cantik tetangga Jaaejoong tersebut.

"Arraso Minnie ah, kajja kita kerumah Yuki noona saja, dan kalian...selesaikanlah masalah kalian dengan kepala dingin, tidak baik bertengkar dihadapan bocah cilik seperti ini, bisa membuatnya trauma, jemputlah Minnie jika kalian sudah menyelesaikan masalah kalian" Hyerin sudah menggandeng tangan mungil Changmin sebelum meninggalkan tempat itu ia sempat memberikan tatapan tajamnya kepada sepasang kekasih yang terlihat sedang tidak akur tersebut.

Sepeninggal Hyerin bersama Yuki dan Changmin Yunho dan Jaejoong hanya terdiam seribu bahasa hanya saja tatapan tajam musang itu tak lepas dari wajah cantik yang berada tak jauh darinya itu membuat sicantik merasa jengah dan salah tingkah sendiri ditatap sedemikian rupa.

"Berhenti manatapku seperti itu Jung Yunho" Ketus Jaejoong tanpa mengalihkan pandangannya.

"Tidak sampai kau menarik kata-kata kasarmu tadi"

"Mianhe aku sudah lupa dengan kata-kataku tadi, permisi aku mau masuk dan jangan mengikuti" Tiba-tiba Jaejoong berdiri dari duduknya menerobos tubuh kekar Yunho yang menghalangi langkahnya dengan membenturkan bahu mereka menuju pintu masuk rumahnya, namun pergerakannya terhenti saat tangan kuat Yunho mencekal pergelangan tangannya hingga membuatnya sedikit meringis kesakitan.

"Tidak sebelum kita menyelesaikan masalah ini Jung jaejoong!" Cegah Yunho.

"Yah seenaknya saja mengganti margaku!" Protes Jaejoong keras.

"Tentu saja aku berhak mengganti margamu Jung Jaejoong!"

"Sejak kapan?"

"Sejak aku telah memilikimu dan berjanji akan bertanggung jawab penuh atas dirimu"

"Aku tak memintamu untuk bertanggung jawab atas diriku Jung yunho!"

"Tapi aku harus Jung Jaejoong!"

"Yah keras kepala!"

"Seperti kau tidak saja"

"Aku mebencimu Jung Yunho!"

"Aku mencintaimu Jung Jaejoong!"

"Kau...hiks, pabo...Yunnie pabo, hiks..."

"Ne, aku memang pabo aku bodoh sudah tergila-gila dengan namja sepertimu Jung Jaejoong"

"Sudah kukatakan jangan seenaknya merubah margaku, hiks..."

"Aku tak peduli, karena sebentar lagi kupastikan kau akan menyandang marga itu"

"Kau keras kepala sekali Jung Yunho, hiks..."

"Kita sama-sama keras kepala boo, itulah kita berjodoh"

"kau...aishh, aku membencimu" Tangis Jaejoong tersedu.

"Aku mencintaimu" Untuk kesekian kalinya Yunho mengucapkan kalimat itu sembari mengeliminasi jarak diantara mereka.

"Aku memben...hmpphh, mmhhh" Tak sempat Jaejoong menyelesaikan kalimatnya karena bibir cherrynya telah duluan dibungkam oleh bibir seksi namja yang kini sudah memeluk tubuhnya erat. Ciuman lembut penuh cinta membuat tubuh Jaejoong melemas seketika hingga beberapa menit lamanya.

Keduanya hanya dapat berpandangan lekat sesaat setelah menyelesaikan tautan bibir mereka sampai bibir hati itupun mengeluarkan suara bassnya, " Setidaknya kembalilah kerumahmu Jung Jaejoong, aku akan segera melamar dan menikahimu"

"Aku sudah kembali kerumahku"

"Bukan disini"

"Kembali ke mansionmu itu? Shireo"

"Mansionmu bukan masionku"

"Kau senang sekali membuatku pusing yah Jung Yunho!"

"Aku serius boo, itu mansionmu, aku sudah mencantumkan namamu sebagai pemilik sah mansion itu dalam sertifikat dan surat resmi kepemilikan mansion tersebut. Mansion itu sah milikmu"

"Mwoya? kau gila!"

"Aku gila juga karena-mu Jung Jaejoong, hmm...kau tidak menyuruhku masuk? disini dingin boo, dikamarmu hangat...mmhhh"

"Yah beruang mesum, aahhh..."

Jaejoong tak dapat menahan desahan nikmatnya saat bibir lembut Yunho telah menjelajahi cuping telinga dan lekuk lehernya, setelah dikejutkan mengenai kepemilikan mansion tersebut sepertinya Jaejoong telah melupakan kemarahannya dan melupakan dimana mereka berada sekarang, untung saja hari mulai gelap jika tidak aktifitas kedua makhluk sesama jenis itu pasti akan jelas terlihat oleh orang yang melintas didepan pekarangan rumahnya.

Sementara di Tahanan Kota Seoul...

"Chullie ya mianhe, aku sudah membuat hidupmu berantakan seperti ini"

"Aku tidak keberatan Wonnie ah, karena sedari awal aku telah membiarkan kau masuk kedalam kehidupanku"

"Apa rencanamu setelah ini? perutmu tentu saja sebentar lagi tak dapat disembunyikan lagi, mianhe aku telah membuatmu menanggung aib ini"

"Setelah ini aku akan menghadap ketua divisiku dan mengundurkan diri sepenuhnya dari Badan Intelijen Korea"

Heechul yang menyandarkan tubuhnya dibahu Siwon diruang tunggu tahanan itu berkata tanpa ragu saat mengemukakan rencananya untuk mengundurkan diri dari kesatuan tempatnya bekerja selama ini. Tentu saja kepurusan itu harus dibuatnya mengingat umur kandungannya yang akan terus bertambah. Tak mungkin baginya untuk terus bekerja penuh resiko sebagai agen rahasia dengan membawa janinnya.

Mendengar rencana Heechul Siwon menjadi tambah merasa bersalah dan berdosa karena tidak bisa berbuat apa-apa. Kembali ia mengutuk perbuatan bodohnya yang termakan rayuan sepupu iblisnya untuk menjalankan bisnis haram tersebut. Tentu saja Siwon sudah membeberkan semua pada pihak penyidik tenang keterlibatan Ahra yang menjadi otak bisnis ilegal mereka.

"Kau yakin dengan keputusanmu?" Tanya Siwon serius.

"Ne aku yakin"

"Umm kalau begitu, menikahlah denganku Kim Heechul"

"Eh?"

"Bersediakah kau menikah denganku Chullie ya? setidaknya beri aku tanggung jawab atas janin yang ada dirahimmu itu meski aku tak dapat berjanji untuk membahagiakanmu, tetapi aku masih memiliki perusahaan yang terbengkalai untuk menghidupi kalian sementara waktu, jebbal Chullie ya berilah aku kesempatan, saranghae, jeongmal saranghae, aku mencintaimu dan aku tak pernah seserius ini dalam hidupku, Juse..."

"Arraso aku bersedia"

"Jinjja?"

"Ne"

"Ahh gomawo cinderella yeoppo, tapi..."

"Waeyo?"

Seketika wajah Siwon yang tadinya terlonjak gembira mendadak berubah murung. Tentu saja hal itu membuat Heechul heran.

"Apakah kita akan menikah dipenjara Chullie ya?"

"Ahh hahaha, hal seperti itu tak usah kau risaukan Wonnie ah, ingatlah aku dan pekerjaanku aku sudah terbiasa hidup dalam kesulitan, dimana saja tempat kita menikah aku tak masalah"

"Tapi aku tak ingin menikah dengan istri cantikku didalam penjara" Jawab Siwon murung.

"Kita bisa minta ijin untuk menikah digereja dekat sini dengan pengawalan tentu saja"

"Chullie ya mianhe, kau tak dapat mendampingi dan menemanimu dimasa-masa kehamilanmu"

"Jika kau tak bisa menemani, maka aku yang akan menemanimu" Jawab Heechul mantap.

"Mwoya? menemaniku dipenjara? kau gila Chullie ya, aku tak akan membiarkan kau dan anakku hidup bersamaku dipenjara" Kaget Siwon mendengar jawaban Heechul.

"Jika anak ini yang menginginkan dekat appanya ottokhe?" Ujar Heechul manja.

"Aish kau ini..." Siwon hanya dapat mengacak pelan rambut lurus Heechul yang tergerai hingga ke bahu.

"Wonnie ya, bagaimana kalau kau menginginkanku saat didalam penjara nantinya" Tanya Heechul semakin manja seraya membelai-belai pipi Siwon yang terlihat sedikit tirus.

"Aish kau ini, jangan mengingatkanku...aku bisa stress nantinya Chulie baby" Jawab Siwon frustasi.

"Wonnie ya..."

"Ne?"

"Poppo"

"Mwo? tapi disini ada petugas, ottokhe?"

"Aku tak peduli" Heechul mulai merajuk dan mengerucutkan bibirnya membuat Siwon menjadi tak ragu lagi dan...

"Arraso Chullie ya"

"Mmhhh, eumhhh, Wonnieeehh aahhh"

"YAH KALIAN! INI KANTOR POLISI BUKAN HOTEL TEMPAT BERMESUM RIA"

Bentakan keras dari sipir tahanan tak urung mengagetkan dan menghentikan tautan bibir Siwon dan Heechul. Mneyadari telah dibentak sedemikian rupa membuat darah bengis Heechul menjadi mendidih dan mambalas sipir itu dengan bentakan yang tak kalah kerasnya.

"HEY SIPIR! KAU TIDAK TAHU SIAPA AKU YAH? KAU LIHAT!" Bentak Heechul sembari menunjukkan tanda pengenalnya sebagai agen intelijen nega tersebut yang tentu saja membuat sipir yang hanya berpangkat sersan tersebut menganga dan memgambil sikap hormat kepada Heechul yang berpangkat Inspektur.

"SIAP INSPEKTUR SAYA MOHON MAAF ATAS KELANCANGAN SAYA!" Ucap sipir tersebut dalam keadaan siap dan memberi hormat kepada Heehul yang tengah memelototkan mata belonya.

"Makanya jadi sipir jangan galak-galak eoh" Jawab Heechul cuek seraya menoyor jidat sipir muda tersebut, sedangkan Siwon hanya dapat tersenyum geli melihat sang kekasih yang tengah menunjukkan aura evilnya.

.

.

JUNG MANSION

'Jihye, kalian semua telah salah paham...umma tidak menginginkan lagi Ahra yang menjadi menantu umma, melainkan Jaejoong lah yang umma inginkan menjadi istri Yunho saat ini. Cepat hubungi oppamu dan bawa Jajeoong kembali, atau umma akan merasa sangat berdosa, ppali'

"MWOYA? jadi umma...kami sudah salah paham eoh? omona, mianhe umma aku akan segera menelpon oppa, aigoo"

Jihye terlonjak kaget saat membaca tulisan tangan ummanya yang barusan digoreskan oleh sang umma dengan susah payah. Jung umma yang menangis tersedu-sedu saat menyadari Jaejoong kembali meninggalkan kediaman mereka.

Jihye yang kebingungan mengambil inisiatif untuk memberikan kertas dan alat tulis agar Jung umma dapat menyampaikan maksudnya yang tak dapat dituangkannya melalui kata-kata. Untung saja tubuh bagian kanan Jung umma masih dapat digerakkan karena stroke menyerang tubuh bagian kirinya saja dan membuatnya susah untuk berbicara saat emosinya tak terkendali.

Ting tong...ting tong...ting tong...

"Ahh itu mungkin Yunho oppa, sebentar umma aku membukakan pintu dulu"

Baru saja Jihye hendak menekan layar ponselnya untuk menghubungi Yunho malam hari itu, tiba-tiba bunyi bel terdengar berkali-kali dari arah ruang tamu mansion mewah tersebut. Segera Jihye mengurungkan niatnya menghubungi Yunho dan menuju ke pintu tersebut berharap Yunho yang datang bersama Jaejoong.

Namun apa yang disaksikan jihye setelah ia membuka pintu besar tesebut membuat jantungnya hampir berhenti, betapa tidak, telah berada dihadapannya seorang polisi berbadan tegap, berkumis tebal dan membawa sekitar satu lusin kawanannya yang berdiri dibelakangnya. Polisi yang berkumis tebal dihadapan Jihye segera mengambil posisi hormat kepada yeoja yang masih dalam posisi loading itu.

"Selamat malam nona, kami dari kepolisian kota Seoul, apakah benar ini kediaman Tuan Jung Yunho?"

"B-Benar...waeyo?"

"Kami mendapat informasi jika seorang yeoja bernama Ahra tinggal dikediaman keluarga ini, arra?"

"A-Arraso"

"Bisa kami menemuinya? ini berhubungan dengan kasus perdagangan manusia dengan beliau sebagai tersangka utamanya"

"M-Mwo?"

.

.

.

hhhh...tebece

review? one word doesn't hurt ne?

twitt: peya_ok