-CINDERELLA 2013-

By: kanon1010

Disclaimer : Masashi Kishimoto

….


1 : "Hai, selamat datang dalam dongengku!"

….

Mereka datang.

Dari balik kaca di kamarku ini, terlihat sebuah mobil yang sangat ku kenal sebagai mobil miliki ayahku memasuki halaman rumah dan berhenti tepat di depan rumah.

Dari dalam mobil hitam itu, turun pertama kali adalah ayah dan selanjutnya diikuti oleh seorang wanita berambut merah yang menyerupai rambut mendiang ibuku dan selanjutnya dua orang perempuan yang kutaksir umur mereka tak jauh berbeda denganku.

Tok…Tok…Tok…

"Maaf nona, tuan besar sudah datang dan beliau meminta saya memanggil anda." Ucap Haku salah seorang maid di rumahku ini.

"Baik, tunggu sebentar aku segera turun. Terima kasih Haku."

Balasku sambil tersenyum ramah kepada maid tersebut. Hei meskipun aku ini seorang anak Namikaze Minato yang diberi rezeki yang terlalu sangat berlimpah, dan membuatku dapat menunjuk apapun yang kuinginkan. Namun aku tak bersikap bak putri bangsawan yang sombong atau anak-anak kaya lainnya.

Mendiang ibuku mengajarkan, bahwa kita semua sama tak ada yang berbeda. Hanya tuhan yang tau kenapa nasib setiap orang berbeda. Sebagai orang berada kita harus saling berbagi dengan yang tak berada dan meskipun mereka Cuma pelayan, namun umur mereka lebih tua daripadaku, jadi aku harus tetap menghormati mereka.

Betapa bijaknya ibuku itu.

...…

Author side

Naruko berjalan menuruni tangga dengan langkah tenang dan santai. Di tubuhnya berbalut dress putih sepanjang lutut dan di permanis dengan flat shoes dengan warna hitam. Membuatnya nampak cantik dan juga aura seorang Namikaze Kushina menurun padanya.

"Ayah…"

Panggil Naruko begitu melihat sang ayah yang sedang berbicara dengan wanita dihadapannya. Minato menoleh dan berdiri menyambut Naruko yang segera berlari memeluk ayahnya.

"Apa kabar sayang?" Minato mengecup pucak kepala Naruko dan mengelusnya dengan sayang.

"Baik, bagaimana dengan ayah?apa ayah sehat?" Minato hanya mengangguk dan tersenyum. Namun tak lama kemudian ia memandang anak kandungnya itu yang memandang ke arah lain dibalik tubuh ayahnya. "Apa itu mereka?"

"Sini ayah kenalkan."

Minato membawa Naruko kehdapan tiga orang berjenis kelamin wanita yang masih asik duduk sambil meminum teh yang disajikan para pelayan.

"Naru ini ibu barumu namanya Sara, dan ini kedua anaknya, Karin dan Sakura." Jelas Minato.

Naruko yang tadinya tersenyum ramah dan mencoba menerima keluarga barunya itu langsung menghilangkan senyum ramahnya karena melihat kelakuan sang ibu tiri dan kedua anaknya yang tak juga kunjung berdiri dari duduknya.

'Mereka pikir, mereka siapa.' batin Naruko yang jengah melihat sikap kurang sopan ketiga orang itu.

"Ayah, apa sebelum ayah menikahinya, ayah sudah memberikan pelajaran tata krama? sepertinya mereka tidak memiliki manner yang baik dimana ada yang sedang memperkenalkan diri, mereka malah asik dengan kegiatan sendiri. Apa perlu nanti Naru yang berikan pelajaran tersebut?"

Ucapan Naruko yang tajam membuat ketiga wanita itu tersedak dan langsung berdiri, memasang gestur tubuh yang sopan dan tersenyum manis.

"Maaf, tadi aku dan anakku sangat haus. Apa kamu yang bernama Naruko? kamu cantik sekali, semoga kita bisa menjadi ibu dan anak yang rukun ya." Sara tersenyum manis dan memeluk Naruko. "Ah ini kedua anakku, Karin dan Sakura."

"Hai, Naruko aku Karin dan dia Sakura." Tunjuk anak perempuan berkacamata pada sosok disebelahnya.

"Salam kenal juga, maaf jika aku terlalu berterus terang. Karena kalian orang baru di rumah ini, dan aku maklumi kalian belum beradaptasi dengan baik dengan peraturan di rumah ini. Lebih baik aku mengatakan langsung daripada berbicara dibelakang kalian kan, itu lebih tidak sopan dan terkesan munafik, benarkan ayah?" Naruko menatap ayahnya dan dibalas Minato dengan anggukan dan elusan di rambut Naruko lagi.

"Maaf tuan, nona, makan malam sudah siap." Iruka kepala pelayan di kediaman Namikaze, memanggil majikannya yang masih berada di ruang tamu.

"Baiklah, terima kasih Iruka." Balas Minato dan Iruka undur diri. "Ayo, kita makan sekarang kalian pasti sudah lapar."

…..…

Setelah makan bersama, Naruko kembali ke kamarnya begitu pula dengan ibu tirinya dan kedua kakak tirinya. Meskipun jam sudah menunjukan pukul 10 malam, namun Naruko belum merasa ngantuk sama sekali. Ia membuka jendela yang menghubungkan ke balkon kamarnya.

Di telinganya tersemat headset dengan memutarkan lagu kesukaanya yaitu 'Magic Castle'. Ia memejamkan mata dan menikmati tiap hembusan dan udara malam hari yang menerpa tubuhnya. Matanya menatap ke langit melihat betapa terangnya malam ini, dimana bintang-bintang bertaburan dengan terangnya dan bulan yang tak ragu menampakan bulatan indahnya.

Naruko mengadah ke langit dan berdoa dalam hati agar ibu yang sudah di surga akan selalu menjaganya dan ayahnya dan semoga ibunya bahagia disana. Merasa haus, Naruko memutuskan untuk ke dapur membuat segelas coklat hangat sekalian agar ia bisa segera tertidur.

Saat sedang berjalan menuju dapur yang terletak di bawah, sayup-sayup ia mendengar suara kedua saudara tirinya yang sedang bercakap-cakap di kamar Sakura.

"Sombong sekali si Naruko itu!"

Naruko hanya berdiri di dekat pintu sambil melipat kedua tangannya lalu mendengarkan apa yang dibicarakan kedua orang tersebut.

"Mentang-mentang dia anak kandung ayah Minato, jadi bisa ngomong seenaknya. Kakak lihat tadi kelakuannya pas awal bertemu dan saat di meja makan tadi kan? seakan dia nyonya rumah saja. Padahal nyonya rumah ini sekarang ibu kita." Sakura tampak mengebu-ngebu saat menceritakan kekesalannya mengenai Naruko.

"Maklum anak manja, tapi lihat saja nanti. Ini baru permulaan saja, setelahnya akan kita tunjukan siapa yang berkuasa di rumah ini. Dia cuma sendiri dan kita berdua ditambah ibu. Bisa apa dia." Karin memperbaiki letak kacamatanya dan menyisir kembali rambut merah panjangnya.

"Setuju! kita harus membuat dia jera biar tau dia siapa kita sebenarnya."

Naruko beranjak pergi dari depan kamar tersebut dan melanjutkan tujuan awalnya ke dapur. Dari wajahnya tak terbaca apa-apa, hanya datar seolah ia menulikan pendengarannya tadi.

...

...

Naruko POV

Seragam sudah rapi, buku pelajaran sudah berada dalam tas, dan sekarang waktunya turun untuk sarapan.

Sesampainya di bawah, kulihat Sakura dan Karin memakai seragam yang sama dan ibu tiriku sedang menuangkan secangkir kopi pada ayah. Sepertinya kedua saudara tiriku ini akan satu sekolah denganku. Aku sih tak peduli, selama mereka tak mengganggu tertorialku, aku tak masalah. Lagipula sekolah itu bukan milikku, jadi aku tak memiliki hak untuk melarang mereka.

"Pagi sayang." Ucap ayah saat kuhampiri dia dan mengecup kedua pipinya.

"Pagi, Naruko. Ini kopimu Minato." Sara ibu tiriku memberikan cangkir kopinya pada ayah dan dibalas ayah dengan senyuman.

Namun sebelum ayah meminumnya, aku segera mengambil cangkir tersebut dan memanggil Iruka.

"Ada apa nona?" tanya Iruka dengan hormat.

"Seperti biasa, tolong bawa alat itu kemari." Perintahku pada Iruka dan membuat ketiga orang baru itu menatap heran dengan apa yang akan aku lakukan pada cangkir kopi itu.

"Maaf ya Sara, Naruko memang selalu begitu bahkan sebelum kematian ibunya dia akan selalu memeriksa makanan atau minuman yang disediakan." Ayah memberikan penjelasan kepada Sara yang masih bengong ga jelas.

Tak lama kemudian Iruka datang membawa sebuah alat pendeteksi racun. Alat ini mirip seperti termometer namun bedanya ini untuk mendeteksi racun yang ada dalam makanan atau minuman. Alat ini dibuat oleh Kyuubi salah satu sepupuku.

"Aman, silahkan ayah minum."

"Terima kasih sayang." Ayah meminum sedikit kopinya lalu menutup koran yang sedang dibacanya. "Oh ya Naru, mulai hari ini Karin dan Sakura akan satu sekolah denganmu. Nanti kalian akan berangkat bersama dan antarkan mereka ke kepala sekolah ya."

Aku hanya mengangguk mengiyakan perkataan ayah.

Sekitar sepuluh menit kemudian, aku beranjak untuk pergi sekolah diikuti dengan Karin dan Sakura. Di dalam mobil Karin dan Sakura duduk di belakang dan aku di depang. Seperti biasa, aku mengajak ngobrol Hidan yang telah menjadi supir keluargaku selama ini.

"Nona hari ini pulang jam berapa?" tanya Hidan ketika mobil telah masuk ke perkarangan sekolah.

"Aku tak perlu di jemput hidan, lebih baik kau jemput kedua saudara tiriku itu. Mereka belum terlalu hapal jalan dari rumah ke sekolah." jawabku lalu turun dari mobil. Kedua saudara tiriku itu sudah turun terlebih dulu dari mobil dan tampak mereka menatap kagum sekolahku ini.

"Baik nona, semoga hari anda menyenangkan." Balas Hidan dengan mengangkat sedikit topinya.

"Terima kasih, hati-hati dijalan."

Setelah kepergian Hidan, aku mengantarkan kedua saudara tiriku ini ke ruangan kepala sekolah.

"Karin, Sakura kalian bisa masuk kedalam, kepala sekolah sudah menunggu."

Mereka berdua masuk begitu saja tanpa mengatakan terima kasih, aku hanya bisa mengelus dada dan pergi menuju ke kelas. Setidaknya aku harus sabar, jika mereka sudah keterlaluan maka aku akan bertindak.

…...

...

Author POV

Naruko berada dikelasnya yaitu kelas 2.1, dimana dia sedang asik bercanda bersama Kiba dan juga teman-teman sekelas yang lainnya. Naruko sebenarnya bukanlah gadis sombong, ataupun dingin seperti yang dikira orang-orang. Ia melakukan hal itu hanya untuk sebagai pertahanan diri menyeleksi orang-orang yang berada disekitarnya.

Menjadi anak dari seorang Namikaze Minato bukanlah hal mudah, banyak penjilat yang mendekatinya atau cuma berpura-pura baik dengannya. Tetapi jika sudah mengenalnya dan ia membuka diri pada orang yang disukanya, ia adalah sosok ramah dan menyenangkan.

"Dobe pendek…." Panggil seseorang yang membuat Naruko menghentikan kegiatan ngobrolnya dengan Hinata.

"Bebek teme ngapain sih kesini terus? membuat aura kelas ini jadi gak enak tau." Naruko menggerakan tangannya mengusir orang yang dipanggil 'bebek teme' tersebut.

Bukan hal baru lagi jika kedua orang ini kalau bertemu saling mengejek. Uchiha Sasuke atau nama ejekan Naruko tadi, bebek teme itu adalah kakak kelas Naruko. Ia duduk di kelas tiga. Hampir setiap hari ia datang ke kelas Naruko dengan alasan nemenin Neji buat ketemu sepupunya Hinata.

"Hn, dobe suaramu itu membuat polusi suara." Sasuke dengan wajah datarnya menghina Naruko.

"Kantongin telingamu itu biar tidak terkena polusi. Sudah sana, lagi gak mood berantem nih." Naruko menidurkan kepalanya di meja dan memainkan hpnya.

Tak hanya teman-teman sekelas Naruko yang mengetahui hubungan tak wajar keduanya, namun satu sekolah juga tau hubungan aneh dari Sasuke dan Naruko. Mereka dibilang pacaran juga tidak, sahabat juga tidak tampak kalau sahabat lebih sering berantem dan saling mengejek, tapi mereka akan ada jika salah satu sedang membutuhkan baik saat senang atau sedih.

Mereka semua berpikiran karena Sasuke dan Naruko berasal dari latar belakang keluarga yang sama, itu yang membuat mereka dekat dan memiliki hubungan aneh tersebut. Hanya mereka yang tau apa hubungan mereka sebenarnya.

"Apa mereka sudah datang?" tanya Sasuke yang sudah duduk disebelah Naruko karena Hinata dibawa kabur Neji yang sedang memberikan kuliah pendek untuk sepupunya tersebut yang diketahui berpacaran dengan Kiba.

"Hum.." Balas Naruko singkat. "Entahlah teme, aku mencoba menerima tapi kau tau sifatku bagaimana dengan orang baru."

Sasuke menepuk kepala Naruko dan berkata sesuatu lalu beranjak pergi. "Bersikap seperti biasa saja, tak perlu memaksakan diri."

Itulah mereka, kadang seperti sahabat, kadang seperti musuh dan kadang seperti kakak-adik.

…..


Karin dan Sakura berjalan bersama menju kantin, dalam sekejap saja mereka berdua menjadi bahan pembicaraan satu sekolah. Selain karena mereka memiliki wajah yang lumyan cantik, juga karena status kedua gadis itu sebagai anak tiri dari Namikaze Minato.

"Hei, apa kalian Haruno bersaudara?" sapa salah seorang pemuda yang mengulurkan tangannya, mengajak kedua gadis itu berkenalan.

Karin mendelik tajam ke arah pemuda tersebut dan menggerakan kacamatanya dengan angkuh. "Maaf, Haruno itu nama lama kami. Sekarang kami adalah Namikaze! tau tidak kami anak dari Namikaze Minato."

"Tapi kalian hanya anak tiri kan? sombong sekali, beda sama Naruko. Namaku Suigetsu dari keluarga Hozuki." Pemuda itu mulai meninggalkan kedua kakak beradik itu, namun tiba-tiba Karin menarik lengan Suigetsu.

"Maaf, aku hanya belum mengenal siapa kau. Jadi sorry deh kalau kurang bersahabat, karena kami tidak mau sembarangan berteman."

Karin asik berbincang dengan Suigetsu, karena ia pikir keluarga Hozuki masih strata dengan keluarga Namikaze. Namun tiba-tiba terdengar riuh dari arah pintu masuk kantin, yang mengalihkan perhatian kedua gadis tersebut.

"Ada apa itu Hozuki-san, sepertinya ramai sekali?" tanya Sakura yang masih menatap ke arah pintu masuk yang dipenuhi dengan segerombolan anak perempuan yang menjerit-jerit, bagaikan sedang melihat artis idola yang lagi lewat.

"Oh, itu biasa hanya gerombolan Sasuke cs. Gak usah heran, setiap hari memang selalu begitu."

"Sasuke? siapa dia?"

Suigetsu tertawa meremehkan seakan apa yang ditanyakan oleh Sakura adalah sebuah pertanyaan bodoh.

"Kau benar-benar masuk ke keluarga Namikaze? tapi kalian tak mengenal Sasuke? oh come on girls, dia Uchiha Sasuke berserta teman-temannya Hyuuga Neji, Nara Shikamaru, Akasuna Sasori, Hatake Kakashi tak lupa para wanitanya ada Yamanaka Ino, Hyuuga Hinata, Mitarashi Anko dan yang terakhir….–"

"YA kau! baka teme, kembalikan sepatuku!" teriakan Naruko memutuskan penjelasan dari Suigetsu.

"Ya dan terakhir saudara tiri kalian itu Namikaze Naruko." Suigetsu mengalihkan pandangannya ke arah Karin dan Sakura yang menatap Sasuke tanpa kedip. "Aish, terpesona dengan Uchiha heh? percuma." Suigetsu pun meninggalkan keduanya yang masih terpesona dengan ketampanan Sasuke. Bahkan ketika Sasuke melewati meja mereka, pemuda tampan itu mengacuhkannya dan berjalan dengan cueknya.

Hingga sebuah pukulan sayang di daratkan Naruko di kepala Sasuke.

"YA! teme! kembalikan sepatuku itu!" Naruko menatap Sasuke kesal karena sebelum istirahat, dengan isengnya Sasuke mengambil sepatu Naruko yang sedang ia jemur karena terkena air, lalu ia letakan di atas pohon.

"Ambil sendiri, tak bisa? dasar dobe chibi, pendek." Ejek Sasuke dan ia meneruskan duduk sambil memesan makanan.

Naruko berlari keluar sambil menggandeng lengan Shikamaru meminta pertolongan Shikamaru untuk diambilkan.

"Shika lagi hm? apa tak apa Sasuke?" tanya Kakashi yang satu kelas dengannya sekaligus kekasih dari Anko.

"Hn."

"Sudahlah, kita tinggal menunggu undangan saja dari si Namikaze itu." Ujar Anko yang asik menyantap dango kesukaannya.

…...

Tak berapa lama kemudian, Naruko kembali bersama Shikamaru dan Kiba yang sudah berhasil mengambilkan sepatu Naruko di atas pohon. Ia langsung mendudukan dirinya dan disebelah Sasori, yang memang sudah jelas Naruko anggap sebagai kakak tidak lebih. Begitupula Sasori yang menganggap Naruko sebagai adik perempuan yang harus dilindungin.

"Saso-nii aku lapar, traktir ya." Ujar Naruko manja sambil menyederkan kepalanya di bahu Sasori.

"Hm, pesan saja semaumu Naru-chan." Balas Sasori sambil tersenyum dan mengusap kepala Naruko.

Naruko yang mendapatkan tawaran semacam itu tentu saja tak akan menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Dengan cekatan ia memesan kesukaannya dan makan dengan lahap.

Ditengah-tengah kelompok Sasuke cs itu sedang menikmati santapan siang mereka, Karin dan Sakura dengan keberanian tinggi menghampiri meja yang ditempati Sasuke.

"Hai, aku Namikaze Sakura dan dia Namikaze Karin, kami saudara tiri Naruko." Sakura mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Sasuke, namun Sasuke hanya memandang sekilas.

"Hn."

Naruko menendang kaki Sasuke dan dibalas death glare andalannya. "Teman-teman, mereka adalah saudara tiriku sejak kemarin." Naruko mengenalkan Sakura dan Karin pada teman-temannya.

"Sasuke-sama, bolehkah aku dekat denganmu sama seperti kau dan Naruko?" Sakura yang sudah jatuh cinta sama ketampanan Sasuke, tanpa basa-basi langsung mendudukan dirinya disebelah Sasuke.

"Maaf bisa menyingkir, orang baru?" mendengar nada perintah dan agak kasar itu membuat Sakura langsung berdiri.

"Ma-maaf, Sasuke-sama."

"Hn, meskipun kalian saudara tiri Naruko, belum tentu kalian bisa sembarangan dekat denganku."

Naruko menendang kaki Sasuke sambil menatap tajam, tak menyukai perkataan temannya itu.

"Teme! dia saudaraku sekarang, jadi bersikap baiklah juga." Setelah menatap Sasuke tajam, Naruko melihat ke arah Karin dan Sakura yang masih berdiri disamping Sasuke. "Karin, Sakura duduklah disini." Naruko menggeser sedikit duduknya dan membiarkan kedua saudara tirinya itu duduk di dekat Sasuke.


…..

Sepulang sekolah, Naruko yang pulang lebih lama dari kedua saudara tirinya, mendapati sang ayah yang sudah berada di rumah. Biasanya Minato pulang ketika jam makan malam atau malah tidak pulang sama sekali.

"Tumben ayah sudah pulang?" tanya Naruko menghampiri sang ayah yang duduk di ruang keluarga.

"Iya, ayah tidak mau terlalu lelah untuk besok."

"Besok? ada apa memangnya besok?"

"Naruko, sudah pulang? apa kamu sudah makan siang?" Sara datang dari arah dapur sambil membawa secangkir teh untuk Minato lalu mengusap lembut kepala anak tirinya tersebut.

"Aku sudah makan, terima kasih sudah menanyakannya. Lalu, ayah ada apa dengan besok?" Naruko beralih kembali ke ayahnya.

"Besok ayah akan ke rusia selama satu bulan. Kerajaan rusia, menggundang ayah bersama para pengusaha lainnya dalam acara pelelangan dan juga menjalin kerja sama." Jelas Minato dengan tenang dan memeluk pinggang sang istri baru.

"Sebulan? apa paman Fugaku juga ikut?"

"Fugaku, Inoichi, Shikaku juga mendapatkan undangan yang sama. Jangan khawatir ada mereka yang menjaga ayah."

"Baiklah, asal ayah menghubungiku setiap hari aku tak masalah."

…...

...

Hari kepergian Minato tiba.

Pukul sembilan pagi, Mianto sudah berangkat diantar Iruka menuju bandara. Meninggalkan Naruko bersama keluarga barunya.

Setelah mobil Minato tak terlihat lagi, Sara menutup pintu rumah tersebut dengan kasar lalu menarik tangan Naruko dengan kasar.

"Hei! denger ya, jangan sok mentang-mentang anak kandung Minato ya. Mulai sekarang akulah nyonya di rumah ini jadi mulai sekarang selama ayahmu tidak ada, kau harus mendengarkan segala perintahku!" Sara mendorong tubuh Naruko hingga terjatuh di lantai. Beberapa Maid ingin menolong Naruko namun dicegah oleh Sara. "Siapapun yang berani menolong dan melaporkan hal ini, akan segera kupecat. Mengerti!"

Titah Sara yang terkesan sudah seperti bos membuat kedua anaknya tersenyum senang dan para maid hanya menganggukan kepala, karena memang kenyataan dia adalah nyonya baru di rumah ini.

Naruko masih terdiam di lantai sambil menunduk, tak ada yang bisa melihat dengan jelas ekspresi apa yang ditampilkan gadis tersebut.

Sakura berjalan menghampiri Naruko lalu menyiramkan air yang sedang berada dalam gelas ke tubuh Naruko.

"Sejak awal aku tak suka dengan gadis sok ini, dan juga sok baik di depan Sasuke. Mulai besok jangan pernah dekat-dekat dengan Sasuke, karena dia milikku!" seringai Sakura dengan menyebalkan lalu mereka pergi meninggalkan Naruko dengan tubuh yang masih basah.

Setelah memastikan ketiga orang itu sudah menjauh, para maid menghampiri Naruko dan mengelap tubuh nona muda mereka agar tidak masuk angin.

"Nona, ada tidak apa-apa?" Haku mengelap rambut Naruko.

"Aku tidak apa-apa, Kalian ikuti permainan mereka dulu saja ya. Kalian sangat mengerti diriku kan?" para maid itu mengangguk. "Bagus, biarkan saja mereka melakukan hal itu dulu, sisanya biar ku urus." Naruko berjalan menuju kamarnya seakan tak terjadi apa-apa.

"Semoga kali ini tidak seperti waktu itu."

…..


Penyiksaan Naruko benar-benar dimulai oleh ibu tirinya dan juga kedua saudara tirinya.

"Naruko! cepat letakan makanan itu di meja!"

"Naruko! siapa yang menyuruhmu makan disini? kamu makan di dapur!"

"Heh! Naruko, salin semua catatan ku dan Sakura!"

Kira-kira begitulah perintah yang diterima Naruko saat ini. Ia tetap menjalankan semua perintah tanpa komen atau protes sama sekali. Tatapannya datar, meskipun kadang menyerit sakit saat Sakura atau Karin menjambak rambutnya.


…...

Besoknya di sekolah, Naruko terpaksa harus menaiki kendaraan umum. Sakura dan Karin melarang dia satu mobil dengan mereka. Meskipun sudah biasa menaiki kendaraan umum, tapi dengan kondisi Naruko yang sulit bangun pagi membuatnya selalu kesiangan dan alhasil hari ini ia terlambat masuk.

Sakura dan Karin semakin menjadi kelakuannya. Seperti di kantin saat ini.

Naruko yangs edang di toilet tiba-tiba mendapat siraman air berserta tepung yang sengaja disiapkan oleh kedua orang itu. Murid-murid yang hendak menolong Naruko dilarang oleh Sakura.

"Aku tidak apa-apa, kalian kenal aku kan?" tanya Naruko pada para murid yang menonton keadaannya sekarang, mereka mengangguk karena sudah hapal sepak terjang Naruko. "Bagus, percaya padaku dan biarkan mereka melakukannya."

Lagi, Naruko berjalan menuju loker dan mengambil seragam gantinya, seakan kejadian itu bukan apa-apa dan tak berpengaruh sama sekali.

"Sasori-san, apa kalian tidak menolong Naruko-san?" tanya salah seorang siswa pada kumpulan Sasuke yang menonton kejadian tadi.

Sasori tersenyum ramah, "Tidak perlu nanti kalau dia membutuhkan pertolongan dia akan berbicara. Ikuti saja permainannya."

Kesalahan fatal yang benar-benar tak diketahui oleh Sakura dan karin. Mereka benar-benar tak mengetahui bagaimana kelakuan Naruko sebenarnya. Disisi lain mereka menatap Naruko kasihan namun kebanyakan kasihan pada nasib Sakura dan Karin nantinya.

Semoga tak separah yang mereka pikirkan.


To Be Continue

….


Pojokan Kanon1010:

haha kanon memang sengaja kasih prolog dulu, soalnya kanon dapat idenya dulu tapi belom ngetik isinya sama sekali. Tapi kepengen banget bikin cerita semacam ini.

Meskipun judulnya "cinderella" tapi gak pure 100% seperti dongeng cinderella lho. untuk pasangan Naruko, saat ini kanon letakan bersama siapa saja dulu. sang pangeran masih bersembunyi atau mungkin sudah ada tapi menyamar (?) haha pokonya gitu deh hiihih.

thx banget yang udah review:

Vipris, Ayame Nakajima, Hasegawa Michiyo Gled (btw caharanya udah Naruko lho), Dwidobechan, Namikaze kyuu chan, dan ksatriabawangmerah

^^ semoga kalian dan pembaca lainnya menikmati cerita kanon yang baru ^^

oh ya waktu itu ada yang minta kanon buat Shika X Naru… kanon ada ficnya cuam belum selesai. kanon mau buat sampe tamat baru di publish jadi ga nunggu lama-lama heheh

ok! have a nice day ^^