-CINDERELLA 2013-

By: kanon1010

Disclaimer : Masashi Kishimoto


Chap 4 : " Sang Pangeran? "

"Gak mungkin kan?" Karin sibuk membaca lembaran kertas yang diberikan oleh Suigetsu.

"Hei, kalangan pengusaha dan orang-orang jetset itu sudah mengetahui sisi kelam Namikaze." Balas Suigetsu dengan santai seraya menaikan kakinya di atas meja dan menyenderkan tubuhnya di bangku pojok di perpustakaan.

"Bagaimana kau bisa mendapatkannya?"

"Hack, meskipun tak sepenuhnya berhasil kudapatkan. Namun itu sudah cukup menurutku, untuk seseorang yang tak mengetahui siapa keluarga Namikaze."

"Dan kenapa kau mau melakukan hal ini untukku? bukankah kau salah satu pengikut Naruko?"

"Pengikut? hahaha memangnya dia aliran kepercayaan? tentu saja aku melakukan ini karena mengisi waktu luang. Lagipula informasi itu merupakan rahasia umum." Suigetsu beranjak pergi meninggalkan Karin.

Karin yang ditinggalkan oleh Suigetsu mentap kepergian pemuda bergigi tajam itu sekilas dan kembali menatap lembaran kertas hasil penemuan Suigetsu mengenai Namikaze. Tak sia-sia dia memberi bayaran tinggi untuk mendapatkan informasi semacam ini. Tak heran Suigetsu memang cukup dikenal sebagai sarang informasi segala hal.


….

Pesta dansa yang di tunggu-tunggu pun akhirnya datang juga. Untungnya Naruko masih berbaik hati mengijinkan kedua saudara tirinya mengikuti acara tersebut, meskipun mereka harus rela naik taksi bukan dengan salah satu kendaraan mewah yang berjejer rapih di garasi.

Naruko turun dari mobil mewahnya dengan bantuan Hidan yang membukakan pintu belakang mobil tersebut. Semua mata langsung tertuju padanya. Siapa yang tak akan terpesona dengan kedatangannya. Dengan gaun hitam yang mencetak pas ditubuhnya, rambut panjang yang digerai serta diberi aksen bergelombang, serta tas tangan mahal yang sudah dipastikan bermerk brand terkenal, membuat tak hanya para pria namun juga wanita menatap kagum sosok Naruko.

Tak ada yang bisa memungkiri bahwa Naruko tampak sangat menonjol dibandingan siswi lainnya.

"Hidan, kau bisa pulang dulu nanti jika aku mau pulang akan ku hubungi." Perintah Naruko pada Hidan.

"Baik nona, saya undur diri."

Setelah dilihatnya Hidan pergi meninggalkannya, Naruko berjalan masuk ke ballroom. Rupanya tak hanya siswa siswi yang masih diluar terpana dengan Naruko, ketika ia masuk kedalam ballroom, semua mata lagi-lagi menuju kearahnya. Karin dan Sakura hanya bisa melihat sisnis penuh Iri.

"Butuh teman?"

Naruko menoleh dan terlihat Sasori yang mengenakan tuxedo berwarna hitam dan disebelahnya Sasuke yang menggunakan pakaian yang sama.

"Tentu saja." Naruko menggandeng lengan kedua pemuda tampan itu. Langsung saja membuat tatapan iri dari para sisiwi yang sejak tadi mengincar kedua pangeran sekolah itu harus gigit jari. Pasalnya sejak tadi keduanya mengacuhkan ajakan setiap gadis yang menawarkan diri untuk berdansa bersama. Namun ketika Naruko datang, ia malah langsung menggandeng keduannya.

"Tumben malam ini kau cantik Naruko." Anko bersama Kakashi datang menghampiri ketiga orang itu.

"Apa kau bilang Anko-nee? aku ini hanya tak ingin mengumbar kecantikkanku pada semua orang, nanti Sasori-nii sama si teme ini cemburu. hihihihi" Ucapan narsis yang membuat Sasuke memutar bola matanya malas. "Kiba, Hinata, Shika, sama Ino kemana?"

"Mereka belum datang, mungkin sebenatar lagi."

Sasori melepaskan gandengan tangan Naruko untuk mengangkat telpon yang berbunyi. Tinggalah Naruko yang masih setia mengalungkan lengannya di lengan Sasuke. "Teme makan yuk, laper nih."

"Hn.

Dengan manisnya Sasuke mengikuti kemanapun Naruko menariknya. Anko sebenarnya gemas dengan kedua orang itu yang tak jelas hubungan keduanya, rasanya ia ingin sekali langsung menikahkan keduanya. Tapi itu sangat tak mungkin, bisa-bisa ia yang malah akan dicincang oleh kepala keluarga Namikaze itu.

"Kemana Naruko?" tanya Sasori yang sudah kembali dari acara mengangkat telpon.

"Tuh, sedang menyeret-nyeret Sasuke mencari makanan." Kakashi menjawab.

Tak lama kemudian Kiba dan Hinata serta Ino dan Shikmaru datang menghampiri teman-temannya itu.

...…..

Lampu ballroom dibuat sedikit meredup dan musik yang mengalun berubah menjadi sedikit lebih romantis. Kakashi dan Anko sudah terlebih dahulu turun ke lantai dansa. Sakura melihat Sasuke yang sendirian duduk datang menghampirinya, mencoba peruntungan mungkin saja ia bisa mengajak pemuda tampan itu berdansa.

"Hai Sasuke, sendirian aja?" Sakura yang mengenakan gaun pink berdada lumayan rendah itu duduk disebelah Sasuke. "Apa kau mau berdansa denganku? daripada duduk sendirian saja."

Sasuke masih diam, jangankan berbicara memandang Sakurapun tak ia lakukan. Merasa dicueki oleh Sasuke, dengan nekatnya Sakura menarik tangan Sasuke.

"Lepaskan tanganmu." Desis Sasuke dengan kesal.

"Tidak mau! tak akan kulepas sampai kau mau berdansa denganku." Rengek Sakura yang masih menarik-narik lengan Sasuke.

Plak…

"Lepas tanganmu dari Sasuke." tak tau darimana datangnya, Naruko memukul tangan Sakura hingga lepas dari lengan Sasuke. Dengan telaten ia merapihkan tuxedo Sasuke yang sedikit kusut.

"Ya! Apa hak mu melakukan itu?" Sakura mengusap tangannya yang sedikit memerah akibat pukulan Naruko yang lumayan kencang.

"Orang sepertimu tak cocok dengan orang seperti Sasuke. Bagaikan hama dengan padi kualitas tinggi, hanya perusak saja tolong minggir jauh-jauh. Sudah untung kuberikan ijin bisa pergi malam ini." Naruko menarik lengan Sasuke agar berdiri dan diikuti Sasuke tanpa protes. "Teme, kita pergi dari sini." Lalu Naruko kembali menoleh ke Sakura dan Karin. "Kalian pulang dibawah jam 12 jika diatas jam itu, siap-siap tidur di halaman."

Sakura menggeretakan giginya menatap Naruko yang membawa Sasuke pergi penuh kebencian. "Kapan rencana itu kalian lakukan? sunggu aku tak tahan dengan wanita iblis itu."

"Tunggulah sampai saat yang tepat dan bisa dipastikan dia akan menyesal seumur hidup."

"Buat dia hancur sehancurnya."

Karin dan Konan yang berada dibelakang Sakura hanya menyeringai. Sepertinya rencana mereka bukanlah rencana yang baik.

…...

Alunan instrument dari Kotaro Oshio – twilight menarik banyak pasangan saling berdansa bersama mengikuti alunan lembut dari lagu tersebut. Sasori sudah mengajak Naruko untuk turun ke lantai dansa, namun ditolak secara halus oleh Naruko karena ia memang tak pandai berdansa. Ketika tahun lalu di acara yang sama, ia malah membuat kaki Sasuke bengkak karena terus terinjak oleh heelsnya yang tak bisa dibilang pendek itu.

Hanya menonton berbagai pasangan berdansa, membuat Naruko gerah. Maka ia berpamitan kepada kawannya untuk ke balkon sekedar mencari udara segar. Belum sampai ke tempat yang dituju, dengan sengaja Konan menjegalkan kakinya hingga membuat Naruko hampir terjatuh jika bukan karena seseorang yang menahan tubuhnya.

"Apa kau memang hobi jatuh?"

Perkataan dari orang tersebut membuat Naruko yang tadinya mau marah jadi sedikit terpukau dengan sosok orang tersebut. Sosok yang samar-samar tercetak di memorinya.

Wajahnya tak terlihat dengan jelas akibat backlight yang membuatnya tampak hanya seluletnya saja. Tapi bisa dilihat Naruko jika rambut pemuda tersebut berwarna merah menyala.

"Gaara, kau sudah datang?" Sasori muncul dari belakang pemuda yang dipanggil dengan nama Gaara tersebut dan menepuk pundaknya. Tapi tatapannya teralihkan ketika melihat Naruko yang terjatuh dalam pelukan Gaara. "Lho? Naru-chan ada apa denganmu?"

"Tadi dia hampir terjatuh." Jawab Gaara setelah membantu Naruko berdiri. "Kau sudah tak apa?"

Naruko hanya mengangguk masih terpana menatap wajah yang sedikit tak asing di ingatannya. "Terima kasih." Segaris senyuman tipis diberikan Gaara pada Naruko.

"Oh ya nona berambut biru dengan hiasan bunga berwarna putih, tolong lain kali kaki anda di periksa ke dokter." Ujar Gaara pada Konan yang mendatangkan berbagai reaksi bingung tak hanya dari Konan juga dari lainnya.

"Maksud anda apa?"

"Sepertinya kaki anda sedikit bermasalah dengan syarafnya, sehingga bisa membuat seseorang terjatuh. Lain kali jika anda sedang sakit lebih baik anda tak perlu datang ke acara ramai semacam ini, kaki anda hanya bisa mencelakakan orang lain." Balasnya dengan wajah datar serta sebuah sindiran secara halus. Membuat Konan merengut kesal dan meninggalkan tempat tersebut.

Sasori membawa Gaara bertemu dengan teman-temannya. "Kenalkan, dia Sabaku Gaara, sepupuku dari Sunagakure."

Gaara hanya mengangguk singkat kepada Kakashi, Anko, Shikamaru, Ino, Hinata, Kiba, Neji dan Naruko. Sedangkan Sasuke nampak cuek dengan kehadiran pemuda yang sedikit mirip Sasori itu. Tapi tak memungkiri ia sedikit terganggu dengan tatapan Naruko yang mengarah ke Gaara.

"Hai Sasuke, lama tak berjumpa. Bagaimana kabar Itachi?" tanya Gaara yang sudah duduk disamping Sasuke.

"Hn, baik." Jawaban singkat khas Sasuke sudah biasa dihadapi oleh Gaara. Mereka memang sudah mengenal lumayan lama akibat hubungan bisinis diantara kedua keluarga.

"Maaf, apa kita pernah bertemu?" tanya Naruko yang penasaran dengan Gaara sejak tadi.

"Tentu, apa kau ingat pesta tahun lalu dimana kau terjatuh akibat high heelsmu yang patah?"

"Ah, itu kau yang menolong? maaf belum sempat mengucapkan terima kasih karena aku terburu-buru harus segera pulang sehingga meninggalkanmu." Naruko bersemangat mengingat kejadian setahun yang lalu.


Naruko pov

Dia… apa benar dia pemilik benda ini?

Tapi jika kuserahkan sekarang, yang ada mereka semua akan mengintrogasiku. Sebaiknya ku tunggu hingga waktu yang tepat untuk mengembalikan jamnya yang tersangkut di tasku waktu itu.

"Apa yang sedang kau lakukan disini Gaara?" tanyaku lagi pada pemuda ini. Pemuda ini membuatku penasaran.

"Sedikit urusan keluarga, mulai besok aku akan bersekolah disini."

"Benarkah?"

Entah kenapa aku merasa senang mendengar ia akan satu sekolah denganku. Ia hanya mengangguk. Selebihnya aku tak mendengarkan apa lagi obrolan yang terjadi diantara mereka, mataku sudah mulai tak fokus.

Pukul 23:00 sudah malam rupanya, pantas saja aku merasa mengantuk.

"Teman-teman, aku pulang duluan ya sepertinya mataku sudah tak bisa berkompromi lagi." Aku mengucek kedua mataku yang terasa sangat berat.

"Kamu pulang sama siapa Naru-chan?"

"Sama Hidan, tapi harus kutelpon dulu untuk menjemputku."

"Biar kuantar." Semua mata menoleh pada Sasuke yang sudah berdiri membersihkan sedikit bajunya yang agak kusut. Lalu tangannya sudah menarik tanganku menuju pelataran parkir.

Mau menolak juga tak mungkin, lagipula lebih baik pulang bersama si teme ini. Terasa mobil Sasuke yang berjalan menyusuri jalan malam membuatku terlena dan kantuk menyerang, namun belum sepenuhnya terlelap aku merasa mobil ini terhenti sebentar dan ada yang aneh, ada yang basah dan lembut.

Seperti sedang dicium…..

Masa sih Sasuke menciumku?

End Naruko pov.

...

"Be…dobe..bangun, sudah sampai." tampak Sasuke mengguncangkan tubuh Naruko yang masih asik terlelap dalam mimpinya.

"Ngghh.. sudah sampai ya? eh jas siapa ini?" Naruko menatap bingung pada jas hitam yang menyelimuti tubuhnya. "Punyamu teme? makasih ya."

"Hn."

"Oh ya Teme, besok bisa jemput?"

"Tumben?"

"Lagi bosen berangkat sama Hidan."

"Hn."

"Ok deh temeku sayang, makasih banyak dan hati-hati di jalan." Setelah itu mobil Sasuke, berjalan meninggalkan kediaman Namikaze.

Kepulangan Naruko disambut oleh Sasame yang memang sengaja belum tidur menunggu kepulangan sang majikan.

"Sasame, apakah kedua orang itu sudah pulang?"

"Belum nona." Sasame membantu Naruko dengan membawakan sepatunya yang sudah ia lepaskan.

"Kunci pintu, dan jangan biarkan keduanya masuk. Anggap saja kau tak mendengar jika nanti mereka menggedor pintu dan jangan lupa sembunyikan kunci rumah jangan sampai si ibu tiri kesayanganku itu membukakan pintunya." Perintah Naruko pada Sasame sebelum ia menghempaskan tubuhnya diatas ranjang.

"Baik nona, saya permisi dan selamat malam."

Benar saja perkiraan Naruko. Sakura dan Karin baru pulang kerumah pukul 2 malam dan yang lebih parahnya lagi keadaan keduanya malah setengah sadar alias mabuk.

Bagaimana Naruko bisa tau? tentu saja ia terbangun akibat suara bising yang dibuat oleh kedua saudara tirinya itu. Gedoran pintu membuat Sara terbangun dan masuk kedalam kamar Naruko meminta agar kedua anaknya dibiarkan masuk.

"Maaf ya, di keluarga kami HARAM namanya mabuk-mabukan. Biarkan saja mereka diluar sana, kalau mereka sudah sadar baru mungkin akan kubiarkan masuk. Sekarang kau keluar dari kamarku. Sunggu tak sopan masuk ke kamar orang tanpa mengetuk lalu membangunkanku hanya untuk hal tak penting." Jawab Naruko lalu ia melanjutkan dengan menarik selimut.

Tapi, Sara dengan kasar membuka selimut Naruko. "Mereka anak-anakku, biarkan mereka masuk!"

Tatapan Naruko sudah menyiratkan bahwa ia sudah sangat kesal. Ia merasa pusing dibangunkan secara mendadak semacam itu. "YA! dia memang anak-anakmu tapi mereka bukan anak-anakku, mereka bukan saudara SEDARAHku dan ini RUMAH KELUARGAKU dan kau bukan KeluargaKU, kau pikir aku tak tau mengenai hubungamu dan ayah itu apa hum, jadi mereka bukan URUSANKU." Dengan kasar pula Naruko mendorong tubuh Sara keluar dari kamarnya dan menutup pintu dengan kencang.

Sara mencoba mencari-cari kunci rumah namun tak bisa ditemukannya. Di balik jendela, terlihat Sakura dan Karin saling menyender dalam keadaan sudah tak sadar. Mungkin efek alkohol yang mereka konsumsi.


...

Cklek….

"Bangun."

"…."

"Bangun. Dalam hitungan ketiga kalian tidak bangun, siap-siap air panas yang akan menyapa pagi kalian. Satu…. Dua…. Ti…-"

"Nghhhh, pusing…" Lenguhan dari Karin yang sudah sedikit terbangun akibat suara Naruko dan sedikit guncangan di tubuhnya. Matanya langsung melebar, begitu melihat sosok Naruko yang sudah rapi dengan seragam sekolah dan segelas air panas yang mengepul di tangannya.

"KAU! kurang ajar sekali membiarkan kami semalaman tidur di luar." Bentak Karin sambil menunjuk-nunjuk wajah Naruko.

"Lupa? sudah kubilang pulang dibawah jam 12 dan kalian baru pulang jam 2 dalam keadaan mabuk pula. Kenapa gak usah pulang sekalian? penampilan kalian seperti pelacur semalam. Menjijikan." Hina Naruko dengan wajah yang membuat Karin semakin naik darah.

Tangan Karin sudah mau menampar Naruko, tapi dengan santai Naruko menahan laju tangan itu dan menangkisnya. "Sekali kau buat rusak wajahku, maka akan kubuat wajahmu rusak selamanya."

Tin….Tin…..

Sasuke mengklakson mobilnya memberi tanda bahwa ia sudah datang. Naruko masuk kedalam rumah mengambil tasnya dan masuk kedalam mobil Sasuke. Karin yang melihat kepergian Naruko mengepalkan tanganya kesal dan bersama ibunya membawa tubuh Sakura masuk kedalam. Sepertinya ia membolos hari ini.

"Lihat saja, seberapa lama keangkuhanmu itu bertahan."

...


...

Hari ini Naruko merasa bebas sekali di sekolah. Bisa bernapas lega dan tak harus memasang wajah yang membuatnya pegal. Bukannya ia tak mau bersabar, namun orang-orang seperti Sakura dan Karin memang tak pantas diberi kelembutan, yang ada makin melunjak.

"Selamat pagi teman-teman." Sapanya riang pada kawan sekelasnya. Beberapa menjawab balik dan lainnya melontarkan senyuman. Bisa dibilang juga suasana sekolah hari ini benar-benar fresh. Tak ada aura mencekam yang Naruko buat seperti hari-hari sebelumnya. Nona muda kita ini benar-benar bahagia.

"Pa-pagi Naru-chan, sepertinya hari ini ka-kau sangat bahagia." Hinata menghampiri Naruko. Namun tampaknya sang sahabat tak terlalu menggubris pertanyaan sang nona muda Hyuuga itu. "Na-naruko.."

"Eh, Hinata selamat pagi." Balasnya ketika bumi kembali memanggil kesadaran Naruko.

"A-apa ada hal yang me-menyenangkan pagi ini?" tanya Hinata kembali yang sudah duduk di hadapan Naruko.

Senyum lima jari yang menarik kedua pipi tembemnya itu masih terpajang manis menanggapi pertanyaan Hinata. "Tentu saja."

"Boleh aku tau apa itu?"

"Kau tau Hinata?" Hinata menggelengkan kepalanya mendengar pernyataan Naruko yang tiba-tiba. "Aku sudah menemukan siapa pemilik jam itu."

"Jam? ma-maksudmu jam bandul dengan jam pasir kecil di dalamnya itu?"

Naruko mengangguk semangat. "Dan kau tau dia itu adalah sepupunya Sasori-nii dan juga hari ini dia akan resmi menjadi salah satu murid di sekolah kita."

"Be-benarkah, apa dia Gaara-san?" Naruko kembali mengangguk dengan semangat. "Ta-tapi bagaimana kau tau itu dia?"

"Hanya feeling saja. Soalnya tahun lalu saat aku hampir terjatuh akibat high heelsku patah, dia lah yang menolongku. Pasti jam yang tersangkut di tasku itu miliknya. Siapa lagi yang berdekatan denganku saat itu kecuali dia."

"Ta-tapi Naru-chan, bukankah Sasuke-senpai sempat berdansa denganmu tahun lalu? dan di-dia juga berdekatan terus de-dengamu." Jelas Hinata yang membuat Naruko mengingat saat pesta dansa tahun lalu. Namun ia segera menggelengkan kepalanya.

"Tidak mungkin, kalau itu memang miliknya pasti dia sudah mencari. Sudah fix pasti itu punya Gaara." Naruko senyum membayangkan wajah Gaara.

"A-apa kau jatuh ci-cinta pada Gaara-san Naruko?"

DEG….

Naruko POV

Jatuh cinta? pada Gaara? apa mungkin? bahkan kami baru bertemu sekali kemarin. Eh ralat dua kali, tapi baru saling mengenal kemarin, tak mungkin secepat itu aku sudah jatuh cinta padanya.

Tapi, perasaan ini sungguh tak ku mengerti. Banyak orang bilang ketika kau merasa jatuh cinta pada seseorang, jatungmu akan berdetak lebih cepat dari keadaan normal dan juga wajahmu langsung memerah begitu bertemu dengannya bahkan jika menyebut namanya saja, seluruh aliran darah seakan berpusat pada kedua pipimu.

Tapi aku? rasanya aku belum merasakan hal itu. Berdetak lebih cepat mungkin, namun sampai merona bahkan hanya menyebut namanya? rasanya belum sampai ketahap semacam itu.

"Ruko.. Naruko… NARUKO!"

"KIBA! jangan berteriak di telingaku! aku belum mau hilang pendengaran. Haisshhh si puppy ini, ada apa?"

"Tuh, Ebisu sensei daritadi sudah masuk. Melamun aja sih, jangan bilang kau melamunkan ramen hari ini."

Si puppy itu meledekku seenak gigi taringnya saja. Kalau saja tak ada Ebisu sensei akan ku patahkan giginya itu.

"Diam kau."

….

Terkadang aku merasa bosan dengan setting kehidupanku ini-ini saja? maksudnya sejauh ini hidupku rasanaya hanya berpusat di sekolah dan rumah. Hanya itu saja. Tapi bisa apa aku, memang aku bukan tipe orang yang suka berjalan-jalan atau istilahnya sekarang hang out.

Makanan di kantin juga mulai terasa hambar di lidahku. Bukan karena aku sedang sakit, hanya saja menu jajanan disini sudah membuatku bosan.

"Hiiiii dinginnnn~" Jeritku ketika merasakan sesuatu yang menempel dingin di wajahku.

"Mau es krim?"

"E-eh, te-terima kasih."

Kenapa juga aku jadi tergagap seperti Hinata begini. Pemuda stoic nomer dua setelah Sasuke ini, seenak jidatnya saja meletakkan es krim tersebut di pipiku. Apa dia tak bisa menawarkannya dengan cara lebih sopan? Tapi agak sedikit senang juga sih. Eh- aduh Naruko apa yang sedang kau pikirkan…

"Hei Naru-chan apa kau sudah tidak waras?"

"Huh, aku masih waras tau." Balasku kesal sambil membuka bungkusan es krim tersebut dengan kasar.

"Terus kenapa sejak tadi kau tersenyum lalu memukul kepalamu? kurasa efek pesta semalam membuatmu sedikit… error." Ino ini benar-benar mulutnya mau kusumpelin bunga-bunga yang dijual di tokonya itu.

"Aku ini hanya sedang mengekspresikan kebahagiaan." Semuanya menatapku bingung. "Lihat, tak ada Sakura dan Karin disekolah. Kalian tau selama ini aku sedikit lelah mengeluarkan sifatku yang itu dihadapan mereka."

"Lebih baik kau mulai mengurangi kesadisanmu itu." Saran Anko-nee

"Apa? Nee-san bercanda? bagaimana aku mau berbaik hati. Semalam mereka pulang pukul dua pagi, dalam keadaan mabuk. Bagaikan wanita malam, membuatku semakin gerah."

Kulihat semuanya hanya menghela napas dan tersenyum maklum tak ingin melanjutkan perdebatan ini. Dan baru kusadari satu orang tak ikut bersama kami berkumpul bersama.

"Sasuke kemana?"

"Di panggil kepala sekolah. Sepertinya ia akan menjadi wakil lomba pidato bahasa jerman besok." Jawab Neji-senpai yang merupakan teman sekelas Sasuke.

"Benarkah? hebat juga si teme itu."

End Naruko POV


...

Hari berganti. Naruko merasa malas sekali hari ini untuk bangun dari tempat tidur. Ia merasa akan terjadi sesuatu yang tak mengenakan hari ini. Seperti ada bisikan yang menyuruhnya untuk tetap tingga di dalam rumah.

Sebenarnya perasaan tak enak itu sudah terjadi sejak tadi malam. Ketika melihat Sakura atau Karin tak membuat ulah sama sekali. Tumben-tumbennya mereka menurut dengan apa yang di suruh oleh Naruko. Seperti ada sesuatu yang disembunyikannya.

Pukul 06.00…

Naruko mengambil ponselnya dan menghubungi sang ayah, Minato seperti biasa setiap paginya. Sekedar mengetahui kabar sang ayah yang baik-baik saja membuatnya lebih tenang bila berjauhan dari sang ayah.

"Ayah… kapan pulang?" tanya Naruko langsung ketika sang ayah baru saja mengucapkan kata 'hallo'.

["Kemungkinan dua hari lagi, ada apa sayang?"]

"Benarkah? aku sudah kangen sama ayah. Ayah, kapan ayah mengeluarkan wanita itu dan anaknya?"

["Memang kenapa dengan mereka? mereka tidak memperlakukanmu dengan baik?"]

"Sangat ayah. Tak perlu kuceritakan ayah pasti sudah mendengar dari Iruka."

["Bersabar sebentar lagi ya."]

"Baiklah. Ayah, aku kangen ibu." Naruko terdiam sejenak begitupula Minato. "Ayah, kalau terjadi apa-apa denganku ayah akan langsung pulang kan?"

["Kamu ngomong apa sih? tentu kau prioritas nomer satu ayah."]

"Ayah, aku merasa firasat gak enak. Ayah baik-baik saja kan?"

["Baik, kalau kamu gak percaya tanya om Fugaku sama om Shikaku."]

"Naru percaya kok sama ayah. Yasudah Naru mau siap-siap berangkat sekolah dulu ya ayah. Love you."

Naruko menutup percakapan dengan ayahnya dan berjalan ke kamar mandi. Ia mencoba membuang jauh-jauh pemikiran jeleknya itu. Mungkin faktor lapar yang mempengaruhi pikiran jeleknya.

…..

"Kedua orang itu kemana?" tanya Naruko kepada Sasame yang sedang menuangkan susu kedalam gelasnya disela tengah menikmati sarapan paginya.

"Sudah berangkat nona."

"Oh, tumben banget mereka bisa bangun pagi."

Sentuhan terakhir di sarapannya, Naruko merasakan sentuhan di pundak kanannya. Tampak ibu tirinya, Sara menatap Naruko dengan wajah yang dibilang kurang baik.

"Ada apa?" Sikap Naruko pada Sara mulai membaik. Dikarenakan Sara tak begitu banyak berulah belakangan ini, bahkan tak jarang ia melihat Sara menasehati kedua anaknya jika sudah sangat keterlaluan.

"Bisakah kamu tidak kemana-mana hari ini?"

Naruko menyeringitkan keningnya bingung dengan maksud dari permintaan Sara yang bisa dibilang tidak wajar.

"Kenapa harus seperti itu?"

"Kumohon kali ini dengarkan perkataanku. Aku benar-benar tak ada maksud mengganggu atau memerintahmu atau melakukan hal buruk kepadamu. Hanya saja, kali ini aku meminta agar kau tetap di rumah."

"Sebenarnya ada apa? kenapa aku ahrus mendengarkan permintaanmu? oh apa kau sekarang mulai peduli denganku, atau kau sudah salah minum obat."

"Tidak. Hanya saja perasaanku tak enak pagi ini dan ak–"

"Aku akan baik-baik saja. Terima kasih untuk kepedulianmu. Naru berangkat dulu, Tante." Ucap Naruko dibarengi tatapan sendu dari Sara.

"Maafkan kedua anak tante Naru, maafkan kami Kushina….."

...…

Naruko menunggu kedatangan Sasuke di depan pagar. Tak seperti biasanya dia menunggu di dalam rumah hingga terdengar bunyi klakson dari mobil Sasuke. Bagi yang lain mungkin ini biasa saja, namun sebenarnya hal tersebut jauh dari kebiasaan Naruko sehari-hari.

Sekitar 10 menit menunggu, sebuah mobil van berwarna hitam berhenti di depan Naruko. Naruko memandang bingung terhadap van tersebut yang berhenti mendadak di depannya.

"Eh! apa-apaan ini, IRUKA!" Lalu mulai turun tiga orang pria yang memakai penutup wajah. Naruko yang masih teriak memanggil Iruka, mecoba melawan ketiga orang tersebut.

Sejago apapun Naruko dalam hal ilmu bela diri, jika ia lengah sedikit saja maka hal itu bisa melumpuhkannya. Saat Naruko berhasil menendang dua orang dari tiga orang itu. Turun kawanan orang lainnya yang tanpa Naruko sadari telah memukul tengkuknya. Dalam sekejap kesadaran Naruko menghilang.

Kediaman Namikaze itu tentu saja sangat luas. Jarak antara pagar hingga ke kediaman utama lumayan jauh, apalagi semua pegawai sedang diliburkan oleh Naurko, makin susah saja Naruko meminta pertolongan.

Sayup-sayup terdengar suara teriakan Naruko di telinga Iruka. Segera saja ia berlalri keluar untuk memeriksa majikannya tersebut. Namun sayang, para penculik itu sudah berhasil membawa masuk tubuh Naruko kedalam mobil dan pergi entah kemana.

"Sial! nona Naruko diculik lagi."

Iruka segera mendial nomer telepon seseorang yang bisa melacak keberadaan Naruko.

"Hallo, tuan muda Kyuubi. Tuan muda, nona Naruko diculik."

Di seberang telepon sana seseorang yang baru saja dihubungi oleh Iruka mengepalkan kedua buku jarinya. Ia lalai lagi menjaga sang adik sepupu.

"Tunggu di rumah, akan ku lacak keberadaannya. Jangan lapor sama paman Minato dulu, bisa habis nyawa orang itu."

Kyuubi segera mengambil laptop kesayangannya dan memanggil orang suruhannya untuk membawakan helikopter milik keluarga Uzumaki agar segera sampai di rumah Naruko. Kyuubi tinggal di kediaman utama Uzumaki, menemani sang kakek yang kesepian semenjak ditinggal anak dan istrinya. Lagipula Kyuubi senang tinggal disana karena sang kakek memberikan kebebasan baginya, dengan sayarat tak lepas dari tanggung jawab.

Tangan Kyuubi asik menari-nari diatas keyboard. Matanya memicing tajam dan bibirnya acapkali mengeluarkan kata sumaph serapah. Semenjak kasus penculikan yang melibatkan Naruko hingga menyebabkan bibinya, Kushina meninggal. Kyuubi selalu memasang pelacak di anting-anting yang selalu dipakai Naruko. Sehingga memudahkannya memantau keadaan adik sepupu kesayanganya itu.

"Dapat!"

Pekikan senang tecetus dari bibirnya ketika mengetahui letak pasti dimana keberadaan dan ia berharap Naruko sedikit saja bersabar menunggu kedatangannya.

Di lain tempat sang pelaku utama tertawa riang melihat sosok yang dibencinya masih pingsan di bangku dalam keadaan tangan dan kaki yang terikat dibalik layar yang merekam semua keadaan diasana. Sang pelaku utama tentu saja tak mau diketahui sosok aslinya, mereka tak sebodoh itu.

"Baiklah kita lihat sesudah ini, apa kau masih bisa tertawa dengan riang nona muda Namikaze Naruko."

….


To Be Continue.

….


Pojokan Kanon1010 :

Lama ya? maaf kanon memang agak lama menyelesaikan ini. Tangan kanon sedikit cidera, jadi buat ngetik susah dan agak lama sembuhnya dan kanon minta maaf karena cuma dapat segini aja buat update.

Makasih banyak ya yang udah review. maaf lagi, kanon ga bisa balas review kalian satu persatu. Tapi liat antusiasme kalian terhadap fic ini membuat kanon berusaha bisa menyelesaikannya.

kemungkinan chap selanjutnya sudah tamat. Kanon ga mau terlalu panjang dan malah jadi aneh. heheh….

makasih buat teman-teman yang sempat mereview seperti :

Puteri – waw - yami no hime – guest - heztynha uzumaki - rika aulia - addie alexandria - namedark takuma - namikaze narumi - Namikaze Ryuuki Ananta – yunaucii - Kyuu bigdevil 1324 – aisanoyuri – fallenmoka – cocoon girl – yamashita kumiko – anagata lady okita – athena athiya - veisa kazu nar - eruna-chan – Shizura-chan - hanazawa key - sheren - fajar jabrik - dee chan-tik – mitsuka sakurai – aristy – cindyara – waonePWG – chiriyuki hikaru .

maaf kalo ada nama yang kelewatan :(

see you next chapter ^^