Title : A Girl in Love
Chapter : 8
Pairing : Kyuwook slight SiWook/SoeKyu/KiWook
Rated : T
Genre : Romance
Author : Cho Ryeona
KyuWook/SiWook/SoeKyu/KiWook/GS/Chap 8
Kyuhyun memijat pelipisnya, meneyenderkan punggungnya di kursi. Bayangan Ryeowook kembali melintas. Penolakan demi penolakan yang Ryeowook lakukan semakin membuatnya ciut. Kali ini pesan singkatnya pun sama sekali tak dibalas. Apa benar Ryeowook sudah rela melepasnya? Ingatannya kembali melayang pada peristiwa tadi siang. Tawa Ryeowook begitu lepas ketika bersama namja itu. Kyuhyun memejamkan mata. Rasa sakit itu kembali menusuk. Kini justru Kyuhyun yang tidak rela semua ini terjadi. Ryeowook tidak boleh melepasnya.
"Bisakah aku membatalkan pernikahan ini?" setetes air berhasil turun dari kelopak mata Kyuhyun.
^_Cho Ryeona _^
.
.
Tuan Cho menggeram. Perkataan Kyuhyun semakin membuatnya lepas kendali. Bagaimana bisa ia mempunyai anak seperti ini? Setelah berhasil menghamili anak orang dia mau lari dari tanggung jawab? Cih… Yang benar saja.
"Appa tak habis pikir! Kau ini sebenarnya terbuat dari apa?! Kau sama sekali tak punya hati!" bentak Tuan Cho yang tengah melotot ke arah putra bungsunya. Putra yang ia harap bisa menggantikannya meneruskan perusahaan. Tapi ternyata? Anak yang selama ini ia bangga-banggakan terancam tidak lulus SMA.
Kyuhyun perlahan menghapus air matanya. "Justru karena aku punya hati, aku ingin menghentikan semua ini," ujar Kyuhyun merendah.
Nyonya Cho mengerutkan kening, "Apa maksudmu?"
"Aku tidak mau menikah jika tidak didasari rasa cinta."
Tuan Cho mendengus. "Kau bahkan tidak memikirkan rasa cinta ketika kau tidur dengan Soehyoun! Dan sekarang kau bicara cinta?! Manusia macam apa kau?!"
"Aku memang bukan manusia!" Kyuhyun meninggi.
"Ya! Kau memang iblis!" Bentakan Tuan Cho semakin terasa pedas.
Nyonya Cho beranjak dari duduknya dan mendekati Kyuhyun. Didekapnya Kyuhyun. Baru kali ini ia melihat Kyuhyun menangis semenjak ia beranjak remaja. Pasti memang karena ada sesuatu yang berat mengganggu pikirannya. "Cukup Appa… Pergilah…" Nyonya Cho bergetar. Ia sudah biasa dibentak. Tapi ia benar-benar tidak sanggup melihat anak-anaknya yang dibentak.
"Cih… Kalian sama saja," ucap Tuan Cho sembari menyambar kopinya. Memilih masuk kamar.
Nyonya Cho melepas pelukan, "Kau menangis chagi?" Perlahan didekatkan tangannya, menghapus air mata Kyuhyun. Sungguh, ia tak sanggup melihat Kyuhyun seperti ini.
Kyuhyun menggeleng. Tidak berkata apa pun. Pikirannya benar-benar terganggu. Awalnya Kyuhyun hanya ingin bermain-main dengan yeoja polos itu. Kenapa kini justru Ryeowook bisa membuatnya menangis? Dan baru sekarang dia sadar, dia bahkan tak sampai menangis ketika beberapa kali putus dengan Soehyoun.
"Cerita sesuatu pada Eomma…" ujar Nyonya Cho lirih.
Kyuhyun kembali mengecek HPnya. Belum ada balasan. Didongakkan kepalanya menatap langit-langit. Ia harus bicara apa pada Eommanya? Apa ia harus jujur? Pasti eommanya sakit hati jika mendengar ini.
Nyonya Cho kembali duduk. Ditatapnya putra yang sangat ia sayangi. Terlihat rapuh.
Kyuhyun menghela nafas. Kembali menegakkan kepalanya menatap meja. Ia sudah memutuskan untuk bicara sesuatu.
"Aku sendiri tidak yakin bagaimana perasaanku pada Soehyoun."
Nyonya Cho sudah bisa menebak. "Kau menyukai orang lain?"
Yang ditanya seketika beralih menatap Nyonya Cho. Merasa sedikit sadar dengan pertanyaan ibunya. Bagaimana bisa ibunya bertanya seperti itu? Apa dia memang terlihat menyukai orang lain? Berbagai pertanyaan muncul dalam diri Kyuhyun.
"Kenapa menatap Eomma seperti itu? Apa Eomma benar?" ujar Nyonya Cho meminta penjelasan. Kyuhyun hanya diam. Mencoba bertanya sekali lagi pada hatinya. Ia sendiri belum yakin.
Nyonya Cho tersenyum menanggapi sikap Kyuhyun. Bagaimanapun ia sudah hafal bagaimana kebiasaan anaknya jika sedang bingung. "Kenalkan gadis itu pada Eomma"
Kyuhyun terlonjak. "Ga…gadis? Maksud Eomma…Aish…"
Nyonya Cho tertawa lepas. Berapa lama ia tidak melihat Kyuhyun terlonjak kaget seperti tadi. Kyuhyun terlihat polos. Putra yang biasanya bersikap dingin seperti es, kini justru menunjukkan sisi kekanakannya. Sepertinya tebakan Nyonya Cho memang benar. Ada gadis lain. Dan gadis itu yang membuat Kyuhyun secara tidak sadar kembali bersikap seperti dulu.
"Ck…" Kyuhyun kesal melihat Nyonya Cho menertawai dirinya. Diraihnya HP dan dengan cepat berjalan menuju kamar. Pertanyaan Nyonya Cho membuatnya kembali berfikir. Benarkah ia rela membatalkan pernikahannya dengan Soehyoun demi gadis lain? Dan jika memang benar, mungkinkah gadis itu Ryeowook? Karena hanya nama itu yang sedari tadi melintasi pikirannya.
^_Cho Ryeona _^
.
.
Siwon hari ini pulang lebih awal. Kantornya sedang direnovasi. Jadi beberapa pegawai diizinkan pulang lebih awal. Ia ingin tidur sepuasnya di rumah. Jarang dia pulang siang seperti ini.
"Ryeowoook pasti sudah pulang…" ujarnya malas sembari memainkan kemudi di tangannya. Ia benar-benar malas bertatap muka dengan gadis itu. Masih cukup marah dengan ulah Ryeowook. Bagaimana bisa ia merusak nama baik keluarganya? Bagaimana kalau ayah dan ibu mereka tahu hal ini? Bagaimana kalau Kyuhyun bercerita ke teman-temannya? Mau jadi apa harga diri Kim Ryeowook?
Siwon menjambak rambutnya, frustasi. Setelah apa yang ia dengar tadi malam, Siwon bertekad tidak mau memikirkan Ryeowook lagi. Tapi kenyataannya? Baru sampai siang ini Siwon sudah memikirkan Ryeowook. Memikirkan harga diri Ryeowook.
Siwon mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh. Entah sudah kali ke berapa ia menerjang lampu merah. Bahkan hampir menabrak orang. Pikirannya sama sekali tidak terfokus pada kemudi di tangannya.
"Haahh… Mungkin ini memang jalan terbaik." Ujar Siwon pada dirinya sendiri. Semakin larut memikirkan keadaan keluarganya yang sebentar lagi tak tahu akan jadi apa. "Mana ada Kakak mencintai dongsaengnya sendiri?! Hahaha…. Dasar Hina! Kim Siwon abnormal!" Siwon sibuk bermonolog sendiri.
.
.
"Tumben sudah pulang?" tanya Heechul mendapati Siwon yang langsung berjalan cepat ke kamarnya setelah membuka pintu tanpa berkata apa pun.
"Sudah." Jawab Siwon singkat sembari melepas sepatunya.
"Kenapa sudah pulang?"
"Karena sudah waktunya pulang" Jawaban yang jauh dari kata memuaskan. Sekilas dilihatnya Ryeowook tengah tiduran di sofa. Menatap kedatangannya seolah menunggu sapaan yang biasa dia dapatkan ketika Siwon pulang.
Ryeowook menghela nafas ketika dilihatnya Siwon justru masuk kamar tanpa menyapanya sedikit pun. Ryeowook seketika duduk. "Oppa…"
"Ne?" Siwon yang hendak menutup pintu menjawab Ryeowook tanpa menatap lawan bicaranya. Memilih tetap pada posisinya, sedikit pun tak ingin membalikkan badan ke arah Ryeowook.
Ryeowook merasakan dadanya sedikit berdesir. Sangat sakit rasanya ketika sang kakak yang biasanya sangat peduli terhadapnya bersikap seacuh ini.
"ada apa?" ulang Siwon karena merasa tak direspon Ryeowook.
"Uummm…itu…Oppa tidak makan dulu?"
"Nanti saja" jawab Siwon dingin disusul dengan tertutupnya pintu. Ryeowook mematung. Benarkah Siwon semarah itu? Ryeowook benar-benar merasa menjadi pihak pembuat masalah. Ia tak berhak menyalahkan Siwon. Bukankah semalam Ryeowook memang meminta Siwon untuk berlaku sesukanya terhadap Ryeowook. Masih untung Ryeowook tidak dibuang seperti perkataannya semalam.
Heechul yang sedari tadi menatap Siwon-Ryeowook bergantian, tak tahan untuk tidak membuka mulut. "Kalian marahan?"
"Tidak Eonni.." Ryeowook berusaha tenang agar Heechul tidak curiga. Bagaimana pun ia tidak mau ada yang tahu masalah ini. Ia belum cukup siap memberi tahu semuanya.
"Sebaiknya kau antarkan makanan untuk Siwon di kamar. Tadi pagi dia juga tidak sarapan." Ryeowook mengangguk sebagai responnya. Dengan cepat ia berjalan ke dapur. Tak berapa lama di tangannya sudah ada nampan berisi makanan dan minuman. Ryeowook mengetuk pintu.
~tok tok tok
"Oppa…."
'ck. Dia lagi. Bisa tidak membiarkanku beristirahat sejenak tanpa memikirkannya?'
"Oppa… Boleh aku masuk?" ulang Ryeowook.
Siwon menarik salah satu kaos dari almarinya dan dengan cepat memakainya. "Mau apa?" tanya Siwon jauh dari kata lembut.
'Tenanglah…' Ryeowook menarik nafas. "Aku ada perlu dengan Oppa."
"hahh… Apa sangat penting?" tanya Siwon malas sambil mendudukkan dirinya di ranjang.
"Mmmm… sebenarnya penting." Jawab Ryeowook takut. Tapi ia sangat ingin minta maaf.
Siwon menyerah. "Masuklah."
Perlahan Ryeowook membuka pintu dangan tangan kirinya. Sementara tangan kanannya menyeimbangkan nampan yang tengah dibawa. "Oppa makan dulu ne?"
Siwon menoleh, menatap Ryeowook yang kini menutup pintu menggunakan kaki. "Aku tidak lapar." Ujar Siwon dingin. Ryeowook benar-benar mengganggu pikirannya.
"Oppa tadi pagi juga belum sarapan kan?"
"Ne. Lalu?" Siwon tetap pada sikap dinginnya.
Ryeowook menghela nafas. Berusaha tetap sabar. "Aku mohon Oppa…"
Kakaknya kini justru mengulurkan tangannya ke meja. Memilih mengambil HP dari pada mengambil piring di nampan Ryeowook. HP memang lebih menarik eoh?
Ryeowook menunuduk. Ia sangat tidak suka diperlakukan seperti ini. "Oppa harus makan…"
1 menit
2 menit
3 menit
Tak ada jawaban apa pun yang keluar dari bibir Siwon. Dari tadi tangannya sibuk memainkan HP. Padahal ia sama sekali tidak ada perlu dengan HP itu.
Ryeowook tidak tahan. "Oppa makanlah. Hikz.. aku mohon…" Ryeowook sadar. Siwon seperti ini pasti karena ulahnya.
"Oppa aku benar-benar minta maaf… Hikz…"
Tak ada jawaban.
"Jangan membuatku semakin merasa bersalah…"
Siwon tetap diam.
Ryeowook benar-benar tidak tahan. Ia harus mendapat maaf dari Siwon. Tanpa diduga, Ryeowook turun, berlutut di lantai. Tepat di depan kaki Siwon. Air matanya terus mengalir. Siwon mengernyit. Ia tak menyangka Ryeowook akan melakukan ini.
"Oppa aku benar-benar minta maaf. Aku memang salah. Tapi jangan siksa diri Oppa. Aku lebih memilih dipukul dari pada melihat Oppa seperti ini. Hikz…" Ryeowook menutupkan tangan di wajahnya.
"Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri kalau sampai Oppa kenapa – napa. Semua ini salah Wookie." Ryeowook kembali membuka wajahnya. "Oppa harus makan. Aku tidak mau melihat Oppa sakit." Ryeowook nekat menatap wajah Siwon yang kini tengah lekat menatapnya. Apa pun resikonya, ia harus mendapat maaf.
Siwon mendecih. "Kau tidak mau melihatku sakit? Keluarlah… Dengan melihatmu saja aku sudah merasa sakit"
Ryeowook menegang. Lidahnya kelu. Siwon seolah tak mau memaafkannya.
"Keluarlah…" ulang Siwon. Kali ini sedikit merendah.
"Tapi… Aku benar-benar minta maaf Oppa." Ryeowook masih sesenggukan.
Siwon menatap datar. "Aku sudah memaafkanmu." Ryeowook seketika berdiri. Sedikit bahagia mendengar kata-kata Siwon.
"Tapi setelah ini kita tidak bisa sedekat dulu."
Ryeowook kembali terdiam. Kata-kata kebahagiaan yang hampir keluar dari mulutnya seolah terhenti begitu saja di tenggorokan. "wae?" suara Ryeowook terdengar parau.
"Aku tidak mau terluka lebih dalam karena selama ini aku mencintai dongsaengku sendiri." Tanpa sadar bulir air mata telah membasahi pipi Siwon.
Ryeowook terduduk di lantai. "Maksud Oppa?"
Siwon tersenyum, "Sebaiknya mulai sekarang kita menjauh satu sama lain. Aku tidak mau perasaan ini semakin tumbuh. Dan bagaimana pun akhirnya, perasaan ini hanya akan menyakitiku. Oppa tahu kau sama sekali tidak merasakan apa yang Oppa rasakan. Appa dan Eomma pasti juga akan marah kalau tahu ada cinta pada diri kita, meskipun hanya sepihak."
Siwon menghela nafas sembari menyeka air matanya. "Jadi lebih baik aku mundur." Dilangkahkan kakinya keluar, meninggalkan Ryeowook yang kini kembali terisak. Masalah apa lagi ini?
^_Cho Ryeona _^
.
.
Seorang namja berlari dari lapangan. Mengejar bola yang kini menggelinding hampir masuk kelas. Secepat mungkin namja itu berlari dan menahan bola dengan kakinya tepat ketika bola itu menyentuh daun pintu.
Eunhyuk mengerutkan kening melihat sosok namja yang hampir masuk kelasnya karena sebuah bola. Ia berdiri dan berjalan cepat keluar. Sepertinya ia mengenal namja itu.
"Kim Kibum!" Teriak Eunhyuk pada seorang namja yang berjalan menjauh sambil men-dribble bola basket. Yang dipanggil sontak menghentikan kegiatannya, menangkap bola dengan kedua tangan dan dengan cepat berbalik. Ingin melihat siapa yang memanggilnya. Sepertinya ia tak mengenal siswa di kelas lain. Beberapa detik mereka terdiam. Saling mengamati wajah satu sama lain.
"Lee Hyukjae…" Kibum mendekat. "Apa aku tidak salah orang?" ujarnya sambil tersenyum pada sahabat masa kecilnya.
Eunhyuk tertawa. "Aku kira kau sudah lupa padaku. Kkkkk." Ucap Eunhyuk sembari memukul bahu Kibum yang kini sudah berada di depannya. Kibum sontak menggosok-gosok bahunya.
"Kau tidak berubah. Selalu menyiksaku…"
"Buahahahaha…. Apa kau juga tetap sedingin es?" tanya Eunhyuk yang sudah hafal dengan watak Kibum.
"Setidaknya itulah julukanku selama di Los Angeles" terdengar seolah membanggakan dirinya. Kibum memilih duduk di lantai teras kelas yang sedikit lebih tinggi dari pada halaman yang kini dipijaknya.
Tanpa aba-aba Eunhyuk segera mengikutinya. Ingin tahu lebih banyak tentang sahabat yang sejak Sekolah Dasar harus berpisah dengannya. Sekolah di Los Angeles karena ayah Kibum dipindah tugaskan di sana.
"Kenapa tidak memberi tahuku kalau kau sudah pulang?" Eunhyuk berucap dengan nada sedikit kesal. Sahabatnya seolah tak mengingatnya lagi. Apa susahnya sekedar mengirim pesan? Memberi kabar tentang kepulangannya.
Kibum terkekeh. "Kenapa otak pabo mu tetap bertahan sampai sekarang?" Eunhyuk sekali lagi memukul bahu Kibum. Yang dipukul mengumpat tidak jelas.
"Aku tidak bodoh." Bela Eunhyuk. Merasa tidak terima dikatai seenaknya. Bagaimanapun ia sudah pintar sekarang. Nilai-nilainya bagus. Yah…meskipun ini karena jasa besar teman sebangkunya, Kyuhyun yang selalu merelakan lembar ulangannya di-duplikat habis-habisan.
Kibum sangsi. Ia tidak percaya begitu saja dengan ucapan Eunhyuk. "Benarkah?"
"Ya! Jangan meremehkanku!" Eunhyuk sama sekali tidak rela. "Lihat nilai rapor ku sekarang." Sungut Eunhyuk yang hanya dihadiahi tawa oleh Kibum.
"Kalau kau memang pintar kenapa tidak bisa berpikir realistis? Aku tidak memberitahu kepulanganku karena aku tidak punya nomor HP atau nomor rumahmu. Waktu aku pindah, kita belum ada yang pegang HP sendiri kan?" Eunhyuk terlihat berpikir.
"Aku sudah mencoba mendatangi rumahmu. Dan ternyata kau sudah pindah." Imbuh Kibum. Eunhyuk manggut-manggut. Sepertinya mulai menangkap kebodohannya.
"Dan aku sangat yakin, kalau pun nilai rapor mu bagus, itu karena bantuan temanmu." Ujar Kibum seenaknya yang langsung mendapat pelototan dari Eunhyuk. Kibum kembali terkekeh.
Eunhyuk yang tidak mau direndahkan lagi segera mengalihkan pandangannya ke lapangan. "Kelasmu sekarang pelajaran olahraga?"
Kibum mengangguk, "ne"
Tiba-tiba seorang yeoja berjalan ke arah mereka. Membawa kotak yang sepertinya berisi makanan. Berhenti tepat di samping Kibum. Eunhyuk mengerutkan kening menatap si yeoja.
"Ada apa Krystal? Oops… maksudku Krystal yang manis? ~kekekeke" tanya Eunhyuk sambil merapikan pinggir rambutnya. Kibum menoleh sebentar, kemudian menatap lapangan kembali.
Krystal merengut. Kenapa justru Eunhyuk yang menyambutnya? "Aku hanya ingin memberikan ini pada Kibum Oppa."
Kibum menoleh. "Untuk apa?"
Krystal tersenyum, merasa dipandang. "Ini aku buat khusus untuk Oppa. Makan ne?" Krystal meletakkan kotak di samping Kibum.
"Gomawo." Ucap Kibum singkat, kembali menatap obyek di lapangan. Krystal menciut, merasa diacuhkan.
"Aku kembali dulu Oppa…" Krystal membalikkan badan, mulai berjalan. Berharap Kibum segera menahannya agar tetap di situ. Harapannya sirna. Dia sudah berjalan sepuluh langkah. Tetap tak terdengar apa pun dari mulut Kibum. Krystal menoleh ke belakang. Menatap Kibum kembali yang masih sibuk menatap lapangan. Karena ingin tahu, Krystal mencoba mengikuti arah pandang Kibum. Pandangannya terhenti pada sesosok yeoja. Tak ingin melihat ini berlama-lama, Krystal memilih berlari menuju kelas.
Eunhyuk menyambar kotak di samping Kibum. "Dasar… Yeoja semanis Krystal kau sia-sia kan?" tanya Kibum sembari membuka kotak. "Waahh…shushi…"
"Ada yeoja yang lebih manis." Ujar Kibum tanpa menoleh pada Eunhyuk.
Eunhyuk sibuk memasukkan shushi di mulutnya. Kibum aneh, pikirnya. "Ini enak. Kau tak mau mencoba?" tanyanya setelah semua tertelan.
"Aku tidak lapar."
"Ya ya ya. Tadi kau bilang ada yeoja yang lebih manis. Memangnya siapa?" Eunhyuk kembali memasukkan shushi ke mulutnya.
"Dia" ujar Kibum setengah sadar sambil menunjuk sosok yeoja yang sedang berlari di lapangan. Eunhyuk mengikuti telunjuk Kibum.
"Dia? Wookie?" Eunhyuk sekedar memastikan.
"Ne"
"Kau menyukainya?" Eunhyuk bertanya tanpa menghentikan kegiatan makannya.
Kibum menoleh, "ya. Memangnya kenapa? Tidak boleh?"
Yang ditanya hanya tertawa. Kibum memang hoby menantang masalah. "Memangnya kau sudah tahu siapa dia?"
"Tentu saja aku tahu. Dia Kim Ryeowook, teman sekelasku."
Eunhyuk kembali terkekeh "Ani. Maksudku kau sudah tahu bagaimana sifatnya? Bagaimana tingkah lakunya? Bagaimana sulitnya namja mendekatinya?" Eunhyuk yang lebih lama bersekolah di sini tentu lebih tahu bagaimana Ryeowook.
Ryeowook terdiam. Entah sejak kapan dia berdiri di belakang mereka. Niatnya untuk menepuk bahu Kibum ia batalkan. Sepertinya mereka tengah membicarakan hal yang penting. Ryeowook tak mau mengganggu. Memilih tetap berdiri di situ sampai mereka selesai bicara.
Kibum mengangguk. "Aku sudah tahu. Hanya Kyuhyun kan yang bisa menjadikannya kekasih?"
Eunhyuk menelan makanan yang baru saja ia masukkan ke mulut. "Ne, sejauh ini hanya Kyuhyun. " Eunhyuk kembali makan. "Dia yeoja yang manis dan pendiam. Satu-satunya yeoja populer di sini yang memang murni terkenal karena kecantikan dan kebaikannya." Menjilati sisa shushi yang masih menempel di jarinya. "Di sini memang banyak yeoja cantik. Tapi tak ada yang kelakuannya semanis Ryeowook." Terang Eunhyuk.
Kibum manggut-manggut. Merasa pilihannya tepat. Ryeowook yang sesuai dengan yang ia pikirkan. Memikirkan Ryeowook yang seperti ini sudah membuatnya sangat senang.
"Dan kau tahu? Aku sangat kasian pada Ryeowook."
Kibum mengernyit. "Wae?"
Eunhyuk meletakkan kotak yang telah kosong di depan kakinya. Menjilati telunjuk sambil memikirkan kata-kata yang tepat. Sedikit ada perasaan bersalah yang kini hinggap di hatinya. Apa pun tanggapan Kibum ia harus bicara terus terang. Perlahan ditolehkan kepalanya. Memilih menatap arah lain. "Kyuhyun hanya menjadikannya sebagai taruhan. Dia mendapatkan uang dalam jumlah yang lumayan setelah berhasil menjadikannya kekasih."
Apa ini?! Kkkkkk. Mian kalo banyak Typo. Sistem kebut karna author minggu2 ini sibuk banget. Ni waktunya bikin laporan malah maen ke warnet. Kkkkk. Jangan ditiru ne?
Yang penting Review *wink bareng abang Wook*
Thanks to :
Winnie, SparKSomniA0321, Guest, Rye, Anneth Kim, Devi AF, lee gyuraaa, thiefhanie fha, ryeofha2125, , man min mi, Guest, Qxu, fiewook, kyuwooksbaby, Inari, cho ryeohyun, Pinky05KwmS, Kim Sooyeon, yoon HyunWoon, mira, Cho Kyuwook, .9, KiKyuWook, Ryeosefti, widya ryeokyu
Reply Review :
Winnie : ne, ne. Kyu harus menderita *dendam kesumat*
Guest : ya ampuun… Jeongmal gomawo. Kkkkk. Ga nyangka ada yang suka ni FF gaje.
Rye: apa? Nebar benih? *ngakak guling2* Bahasanya kaga nahan.
Devi AF : kayanya lg dendam ama Kyu. Hahahaha…
lee gyuraaa : ne, boleh :) nick nya: Nyna Irham Menunggu Wookie. Kalo ga ketemu coba cari lewat e-mail : nyna_irham Mau Tweet? nynasiepil *ga ada yang nanya*
thiefhanie fha : Kkkkk.. Diliat next chapter.
Guest : nil g proses mikir gmana caranya nyiksa Kyu *kejem*
Qxu : Fighting terus review ! Kkkkk
Fiewook : Gyaaaaa! Itu Ryeowook ku ~plakkk
Kyuwooksbaby : Wook ma kamu. Kyu ma aku . Deal? OK deal *parah*
Inari : Ne, ini semangat. Semalem Cuma tidur bberapa jam dmi nyelesaiini ni chapter. *dikejar Sabtu* Rumah author kmaren repot beeeet. Gara2 ada sembelihan. Kkkkk
cho ryeohyun : Kyu emang perlu dberi pelajaran lbih…
mira : endingnya masih proses. Kkkk
Cho Kyuwook : satu minggu itu cepet. Author kaya dikejar2 sabtu. Kkkkk. Gomawo uda review. Review terus ne kalau suka?
Ryeosefti : Ini udah lanjut *tebar FF*
widya ryeokyu : Gomawo uda mau nungguin. Kkkkk. Siwook itu seru Loo… Si Won itu kaya sosok yang nglindungin banget. *promosi couple* Padahal aku juga Kyuwook Shipper. Kekekeke…
