Title : A Girl in Love

Chapter : 9

Pairing : Kyuwook slight SiWook/SoeKyu/KiWook

Rated : T

Genre : Romance

Author : Cho Ryeona

KyuWook/SiWook/SoeKyu/KiWook/GS/Chap 9

"Dan kau tahu? Aku sangat kasian pada Ryeowook."

Kibum mengernyit. "Wae?"

Eunhyuk meletakkan kotak yang telah kosong di depan kakinya. Menjilati telunjuk sambil memikirkan kata-kata yang tepat. Sedikit ada perasaan bersalah yang kini hinggap di hatinya. Apa pun tanggapan Kibum ia harus bicara terus terang. Perlahan ditolehkan kepalanya. Memilih menatap arah lain. "Kyuhyun hanya menjadikannya sebagai taruhan. Dia mendapatkan uang dalam jumlah yang lumayan setelah berhasil menjadikannya kekasih."


^_Cho Ryeona _^

.

.

Kibum terbelalak. Tidak percaya. Tidak mungkin Ryeowook seceroboh ini memilih kekasih. Semoga kau sedang bercanda, Hyukjae!

"Aku minta maaf. Awalnya aku hanya ingin bercanda. Tapi Kyuhyun menanggapinya serius." Ucap Eunhyuk. Kibum tetap diam. Menunggu Eunhyuk melanjutkan kata-katanya. Sepertinya Eunhyuk juga terlibat. Kibum mencoba menetralkan aliran darahnya yang sudah mulai naik ke kepala. Tanpa mereka sadari seorang yeoja yang mereka bicarakan tengah berdiri di belakang mereka.

Ryeowook lemas. Apa yang baru saja didengarnya? Inikah kenyataan yang selama ini ditutup-tutupi Kyuhyun? Kenapa ia begitu bodoh sampai terperdaya sejauh ini? Dia mencintai orang yang hanya melihatnya sebagai uang. Ryeowook mengorbankan semuanya. Keluarga, teman, semuanya. Terlebih kehormatannya.

"Aku bilang aku akan memberinya uang satu juta won jika ia bisa mendapatkan Ryeowook. Tapi aku…. Ukkkhhh.." Kata – kata Eunhyuk terhenti karena kini Kibum sudah menarik kerah baju Eunhyuk. Bersiap melayangkan pukulan pada wajah Eunhyuk. Ryeowook mundur satu langkah. Menyenderkan punggungnya pada tembok. Ia benar-benar lemas. Matanya nanar melihat sepasang namja di depannya. Niatnya untuk mencegah Kibum ia biarkan begitu saja. Ia ingin mendengar pembicaraan mereka lebih lanjut. Terus melawan rasa sakit di hatinya demi mendengar fakta yang keluar dari bibir Eunhyuk.

"Dengarkan aku dulu!" Teriak Eunhyuk. Kibum tersadar. Kembali diaturnya emosi. Menurunkan kembali tangannya yang sudah bertengger di leher Eunhyuk.

"Aku hanya bercanda. Sungguh. Aku tidak tahu bagaimana dia bisa mendekati Ryeowook dan tiba – tiba datang padaku dan…menagih janji yang aku sendiri bahkan hampir lupa. Aku tak serius mengatakannya." Bela Eunhyuk. Ryeowook sama sekali tak melihat ada kebohongan di matanya. Kibum mengatur nafas. Emosinya sedikit turun.

Ryeowook berjalan gontai meninggalkan tempat itu. Ia sudah tidak sanggup lagi mendengar cerita Eunhyuk. Semua sudah ia putuskan, Ia hanya mampu bertahan sampai di sini. Perlakuan Kyuhyun kemarin sedikit membuatnya goyah. Tapi kini, kenyataan yang ia dengar semakin membulatkan keputusannya untuk benar-benar melepaskan Kyuhyun. Ryeowook mati-matian menahan air mata. Ia masih cukup sadar untuk tidak menangis di depan banyak murid yang bersliweran. Cepat - cepat dilangkahkan kakinya menuju tempat yang sepi. Pertahanannya sudah mulai runtuh. Ia berlari secepat yang ia bisa. Menuju taman belakang yang biasanya sepi pada jam-jam seperti ini. Ryeowook mendudukkan pantatnya kasar di atas rumput, di bawah pohon yang cukup rindang.

Air matanya kembali turun. Ia benar-benar tidak bisa menahannya. Ini lebih sakit dibandingkan saat putus dengan Kyuhyun. Dia mengorbankan semuanya demi seorang namja yang hanya melihatnya sebagai satu juta won. Namja yang sama sekali tidak mencintainya. Kenapa ia baru tahu sekarang?

Untuk kali ini biarkan ia menangis, sekali ini saja. Ia sudah berjanji, ini adalah air mata terakhirnya untuk Kyuhyun.

.

.

.

Kriiiing

.

Bel pulang sekolah berbunyi. Semua siswa sudah mengemasi barang-barangnya. Begitu juga dengan Kibum. Tapi kemana Ryeowook? Bangku di depannya sedari tadi sehabis olahraga telah kosong. Pemiliknya tak tahu ada di mana. Buku-buku Ryeowook pun masih tersimpan rapi di dalam tas. Ryeowook belum mengeluarkan buku apa pun karena olah raga adalah jam pertama. Baju seragam Ryeowook juga masih tersampir di kursi.

Tangan Kibum terjulur hingga kursi di depannya, menyentuh baju seragam Ryeowook. Bersamaan dengannya, sebuah tangan lain yang berasal dari samping seragam juga ikut meraih baju Ryeowook. Kibum menoleh, ternyata itu tangan Donghae.

Donghae yang mengerti maksud Kibum tersenyum. Dilemparnya bawahan Ryeowook dan dengan sigap Kibum menangkapnya. Tak berapa lama Kibum mulai melipat kain itu di atas meja. Sementara ia sendiri mengambil atasan Ryeowook untuk diperlakukan sama.

"Aku cukup pintar untuk membaca pikiranmu. Kkkk" Donghae sedikit menoleh ke belakang. Mengambil rok Ryeowook yang telah selesai dilipat dan menumpuknya dengan baju yang kini berada di tangannya.

"Ne, ne, ne. Kau pintar." Ujar Kibum malas. Donghae cekikikan. Tangannya sibuk memasukkan baju Ryeowook ke dalam tas. "Kemana pemilik baju ini?" sambung Kibum.

"Aku tidak tahu." Donghae kini memilih menghadapkan tubuhnya ke samping. Sementara kepalanya menghadap ke tempat duduk Kibum. "Mungkin dia masih disuruh Sonsaengnim. Kau tahu kan dia terlalu menurut. Sonsaengnim mana pun sangat suka meminta bantuannya."

Kibum mengangguk sementara bibirnya membentuk tanda 'o'.

"Kau mau pulang sekarang?" tanyanya ketika melihat Donghae berdiri sambil memanggul tasnya. "Tidak menunggu Ryeowook?" imbuh Kibum.

Donghae menggeleng, "aku ada acara keluarga. Kau pulang saja. Ryeowook dari dulu sering seperti ini." Jelas Donghae yang sekali lagi hanya mendapat anggukan dari Kibum. Tak berapa lama Donghae sudah berlari sampai halaman.

Kibum menyenderkan bahu, sedikit mendorongnya hingga punggung kursi berimpit dengan tembok. Dinaikkan kaki kanannya, bertumpu pada lutut sebelah kiri.

"Hoaammmmbb… Jam berapa ini?" sedikit digerakkan lengannya agar bisa melihat jarum jam di pergelangan tangannya. Kibum mendengus.

"Sudah lewat setengah jam. Kemana anak itu?" Kibum terlihat seperti orang gila karena sedari tadi bicara sendiri.

"Sebaiknya aku pulang…"putus Kibum akhirnya.

Sedetik kemudian Kibum sudah beranjak dari tempat duduknya. Memanggul tas di bahu kirinya. Langkahnya tiba-tiba saja terhenti tepat di depan papan tulis, ketika dua, tiga orang mencekal kedua lengannya.

"Ada apa ini?" tanya Kibum dingin.

Tak ada yang ingin menjawab. Salah satu di antara mereka yang berbadan paling besar justru melayangkan pukulan pada perut Kibum.

.

Buagghh

.

"Akkhhh!" Jerit Kibum tertahan. Siapa mereka?

.

Buaghh

.

Kibum sedikit merunduk. Merasakan nyeri di perutnya. "Siapa kalian?!" Jerit Kibum di sela menahan rasa sakitnya.

Bukannya menjawab ketiganya justru memukuli Kibum tanpa henti. Seolah orang yang dipukuli adalah sebuah spons yang tidak merasakan sakit ketika dipukul sekeras apa pun.

Kibum mencoba melawan. Ditangkisnya pukulan yang hampir mengenai rahang. Namun naas, ada tangan lain yang memukul mata, dada, bahu dan entah apa lagi. Rasa sakit semakin menjalar di sekujur tubuhnya. Entah ini sudah pukulan ke berapa kali. Tubuhnya tersungkur. Dilihatnya namja berbadan besar itu tengah mengarahkan tendangan pada dadanya sebelum akhirnya sebuah suara berhasil menyelamatkan Kibum.

"Sudah cukup. Hentikan." Suara datar Kyuhyun menginterupsi kegiatan mereka. Ketiga namja itu segera menyingkir. Kibum seperti mengenal suara itu.

Kyuhyun masuk ruang kelas. Memandang remeh rivalnya yang kini tergeletak tidak berdaya. Anggapan Kibum bahwa orang ini datang untuk menyelamatkannya, sirna begitu saja.

"Cih… Segini saja kemampuanmu?"

Kibum diam. Saat ini memejamkan mata adalah hal yang paling nyaman menurutnya. Selama beberapa detik hanya terdengar denting jarum jam.

Kyuhyun jongkok, menjambak paksa rambut Kibum. Membuat Kibum mau tak mau kembali membuka matanya.

"Aku kira kau namja yang kuat. Sampai berani bermain-main denganku." Kyuhyun kembali membanting kepala Kibum ke lantai. Kibum sama sekali tak ada keinginan untuk membalas.

"Jadi kau dalang di balik semua ini?" tanya Kibum dingin.

"Hmm… Begitulah. Memangnya kenapa, BANCI?!" Kyuhyun balik bertanya dengan penuh penekanan yang hanya dibalas senyuman sinis dari Kibum.

Kyuhyun merasa diremehkan. Dijambaknya kembali rambut Kibum. Mengabaikan aliran darah yang mulai terlihat di kening Kibum. "Apa yang kau tertawakan?! Hah?!"

"Kau tak lebih baik dari yang ku kira." Kibum mencoba tenang. Meskipun keinginan untuk memukul Kyuhyun sudah mencapai takar batasnya.

"Jadi menurutmu sekarang aku seperti apa?"

"Kau tak lebih dari seorang pengecut." Jawab Kibum tanpa rasa takut sedikit pun.

Kyuhyun mendengus. "Kau tak pantas bersanding dengan Ryeowook!"

"Jadi menurutmu siapa yang pantas? Kau? Cih!" Tanpa diduga siapa pun Kibum meludahi Kyuhyun. Tujuan pemberhentian sebenarnya di wajah. Tapi justru jatuh di leher Kyuhyun.

Kyuhyun memanas. Kembali dibantingnya kepala Kibum di lantai yang membuat Kibum seketika pingsan.

"Cepat buang bocah ini!" Perintah Kyuhyun mutlak. Ketiga anak buah Kyuhyun segera mengangkat tubuh Kibum. Membawanya ke taman belakang. Sesuai dengan perintah penyuruhnya. Tempat yang kurang terurus. Jarang dijangkau siswa di sekolah ini.

Tapi tunggu! Bukankah Ryeowook sedang di taman belakang?

.

.

Ryeowook mengerjap-ngerjapkan mata. Menyesuaikan cahaya matahari yang masuk melalui celah ranting dan daun pinus yang rimbun. Sedikit demi sedikit cahaya tersebut turun dan mulai ditangkap retina matanya. Ryeowook menggeliat, mencoba mengingat-ingat dimana dia sekarang. Perlahan ia mulai duduk. Rumput yang menjadi alas tubuhnya basah akan keringat.

Ia melihat tubuhnya sendiri. Masih lengkap dengan setelan olah raga. Ryeowook mencoba mengumpulkan semua memorynya. Selang beberapa detik tiba-tiba ia memukul kepala.

"Aish… Aku ketiduran. Jam berapa ini?" gumam Ryeowook.

'Sepertinya sekolah sudah sepi' batin Ryeowook. Satu detik, cukup bagi Ryeowook untuk berdiri. Kembali menggeliat, mengumpulkan semua energinya.

"Hoaaammmbb…" Ryeowook sibuk menepuk-nepuk mulutnya. Sementara pikirannya melayang pada kejadian tadi siang. Bagaimana ia bisa sampai terdampar di tempat sepi ini. Ryeowook tersenyum kecil. Ia menepati janjinya, tadi adalah kali terakhir ia menangis untuk Kyuhyun. Ia harus menjadi yeoja yang kuat.

.

"Lempar di situ saja! Ne, di timbunan sampah!"

.

Sebuah suara berhasil mengusik lamunan Ryeowook. 'Seperti suara Kyuhyun', batin Ryeowook. Kenapa Kyuhyun ada di sini? Apa yang dilempar di timbunan sampah? Ryeowook menghela nafas. Sebenci-bencinya, Ryeowook tetap penasaran apa yang akan dilakukan namja itu.

Ryeowook berjinjit mendekati pohon. Mengintip dari balik pohon tidak akan mungkin terlihat dari tempat timbunan sampah yang letaknya beberapa puluh meter dari tempat Ryeowook. Di seberang sana, empat orang namja tengah membopong seseorang. Dan salah seorangnya Kyuhyun.

'Mungkinkah namja itu yang tadi dimaksud akan dilempar ke timbunan sampah?' Ryeowook terus menduga.

Kelompok namja itu semakin mendekati timbunan sampah. Ryeowook terbelalak mendapati namja tak berdaya yang kini berada di bopongan mereka. Kibum! Dan benar saja. Mereka bersiap melempar Kibum ke tumpukan sampah.

"Andwae!" Ryeowook berlari. Keluar dari tempat persembunyiannya.

Hanya dalam hitungan detik Kyuhyun menegang. Kenapa Ryeowook di sini? Dan lihat. Dia kini seperti maling yang sedang kepergok. Ketiga anak buahnya sudah lari terbirit-birit. Menggeletakkan Kibum begitu saja di tanah setelah melempar tasnya lebih dulu. Dari awal mereka tidak setuju membuang Kibum ke tempat ini. Bisa-bisa mereka dikeluarkan dari sekolah kalau sampai ada yang lapor.

Ryeowook kini sudah berhadapan dengan Kyuhyun. Dadanya kembali berdesir sakit tiap menatap wajah mantan kekasihnya ini.

"Apa yang akan kau lakukan pada Kibum?" tanya Ryeowook setenang mungkin.

"Tidak ada."

Ryeowook jongkok. Merogoh sapu tangan di sakunya dan dengan cekatan membersihkan darah di kening Kibum.

"Apa yang kau lakukan, Cho Kyuhyun?!" Ryeowook mendongak, kembali bertanya. Kali ini jauh dari kata lembut.

"Tidak ada."

Ryeowook memanas. "Apa yang kau lakukan pada Kibum sampai mukanya lebam-lebam seperti ini?!"

"Tidak ada." Kyuhyun tetap pada posisinya. Berdiri di samping kaki Kibum.

"Sekali lagi aku bertanya Tuan! Kau tidak melakukan apa pun kan? Tapi kenapa aku melihatmu membawa namja terluka parah hendak kau buang di timbunan sampah?!" Ryeowook mendengus.

"Sekali lagi kau bilang tidak ada, aku tidak segan-segan melaporkanmu ke kepala sekolah." Imbuh Ryeowook ketika dilihatnya Kyuhyun mulai membuka mulut.

Kyuhyun menghela nafas. Yeoja di depannya ini benar-benar mengganggu pikirannya.

"Aku tidak melakukan apa pun. Aku hanya melindungi apa yang seharusnya jadi milikku." Bela Kyuhyun tak terima terus menerus dipojokkan.

Ryeowook mendecih. Hal yang baru kali ini ia lakukan.

"Aku tidak bertanya apa motif mu melakukan ini. Apa pun alasanmu, kau sama sekali tidak bisa dikatakan benar." Sahut Ryeowook ketus.

Kyuhyun memandang nanar ke arah yeoja yang perlahan mulai berdiri di depannya. Kenapa cepat sekali ia berubah? Sejak kapan jadi sekasar ini? Terlebih terhadapnya.

"Memangnya siapa dia? Bukan kekasihmu kan? Kenapa kau begitu mempedulikannya?" sungut Kyuhyun pedas.

Mata Ryeowook membulat. Pertanyaan Kyuhyun sama sekali tak ada hubungannya.

"Dia memang bukan siapa – siapa ku. Tapi dia selalu ada untukku. Dia memang bukan kekasihku yang selalu ada untuk orang lain." Sahut Ryeowook tak kalah pedas.

.

~nyuutt

.

Kyuhyun merasakan nyeri itu lagi. Kali ini lebih hebat. Sedikit demi sedikit ia mulai sadar. Justru dia sendirilah yang merubah Ryeowook jadi sekasar ini.

Ryeowook menyeringai. "Kenapa diam? Merasa kalah eoh?"

Sejenak tak ada yang angin yang perlahan berhembus menyentuh daun – daun menimbulkan suara gesekan kecil.

"Kibum memang bukan siapa – siapa ku. Tapi dia selalu memperhatikan ku. Bukan kekasihku yang selalu memperhatikan yeoja lain." Ryeowook membuka suara. Menyerukan suara hatinya yang sejak lama ingin ia katakan pada Kyuhyun.

Hati Kyuhyun seolah teriris mendengar kata – kata Ryeowook. Dia memang penyebab semua ini terjadi.

Cicit – cicit burung di atas sana justru menambah pedih di hatinya. Semilir angin yang berhembus sudah tidak mampu menyejukkan dua hati yang kini tengah memanas.

"Kau kekasihku. Dan selamanya akan menjadi kekasihku." Desis Kyuhyun.

"Ani. Aku bukan kekasihmu." Tandas Ryeowook.

"Kau kekasihku… Kau milikku…" Kyuhyun berlutut, mendongak menatap Ryeowook. Ryeowook yang sekarang terlihat kurus. Gundukan pipi yang sering dimainkan Kyuhyun dua minggu terakhir, terlihat sedikit mengempis, walau tak banyak.

"Kembalilah padaku, Ryeowookie… Aku bukan apa – apa tanpamu…" desis Kyuhyun lemah.

Ryeowook tercekat, kini Kyuhyun justru menaikkan tangannya, meraih pergelangan tangan Ryeowook. "aku minta maaf…"

Ryeowook sontak melepas tautan jari Kyuhyun di pergelangan tangannya. Dia bukan Ryeowook yang dungu lagi.

"Ada satu hal lagi yang harus kau tahu, Tuan Cho!" ujarnya sembari melangkah mundur. Sedikit menjauh dari Kyuhyun. Meskipun tak terlalu jauh, setidaknya bisa menghindari jangkauan tangan Kyuhyun. "Aku bukan barang, yang kapan saja bisa kau datangi saat kau butuh."

Ryeowook berhenti sejenak, mengamati mimic muka Kyuhyun yang makin mengeruh.

"Aku juga bukan barang yang bisa kau pertaruhankan…" ucap Ryeowook skakmat.

Kyuhyun terperanjat. Kembali terdiam. Selama beberapa menit ia hanya membiarkan suara gemericik air dari selokan mengiringi kebisuan mereka. Kyuhyun terlalu kaget. Bagaimana Ryeowook bisa tahu?

"Kau ….."

"Ya, aku sudah tahu." Potong Ryeowook cepat.

Kyuhyun berdiri, menatap dalam mata Ryeowook. "Dari mana kau mendengarnya?"

"Ck. Tidak penting dari mana aku tahu. Yang terpenting itulah kenyataannya." Ryeowook tak mau kalah.

"Mianhae…" Lidah Kyuhyun kelu. Kata – kata ini keluar begitu saja dari mulutnya. Sejenak ia berfikir, dimana harga dirinya?

Keduanya kembali terdiam. Suasana panas yang sedikit kaku.

"Eunngghhhh…" Kibum terbangun dari pingsannya.

Ryeowook menoleh, kembali jongkok. Kibum lebih membutuhkannya kali ini. Mengabaikan Kyuhyun bukanlah hal yang salah. Sikapnya yang ini belum cukup untuk membayar semua rasa sakit hatinya.

Mata Kyuhyun memerah. Entah karena panas atau apa. Melihat Ryeowook sedang membantu Kibum seperti ini cukup membuat hatinya mencelos. Dia baru saja mengucapkan kata maaf. Kata yang amat sangat jarang ia ucapkan. Tapi apa yang dilakukan Ryeowook? Ia malah mengabaikannya begitu saja.

Kibum meregangkan tubuhnya. Rasa nyeri di sekujur tubuhnya kembali terasa. Kali ini bercampur rasa perih. Hanya butuh sedetik bagi Kibum untuk mengingat apa yang baru saja menimpanya. Ia tak mau berlama – lama memikirkan ini ketika dilihatnya Ryeowook tersenyum. Membantunya untuk duduk. Ryeowook terlihat..errr…khawatir.

"Wookie….Kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Kibum to the point.

"Sstt… jangan banyak bicara dulu. Bibir dan pipimu pasti sakit." Kibum mengangguk. Diam sesaat mencoba memulihkan tenaganya.

Tangannya kini terangkat. Menggeliat adalah kegiatan terbaik untuk mengumpulkan energy. Tiba – tiba kening Kibum berkerut mendapati sesosok namja, yang bisa dikatakan rivalnya tengah berdiri di belakang Ryeowook. Buru – buru diturunkan tangannya.

"Dan kenapa dia juga ada bersamamu?" Kibum bertanya sambil menuding Kyuhyun.

"Sudahlah… Biarkan saja. Mana yang sakit?" cercah Ryeowook, terdengar sangat mengacuhkan Kyuhyun. Kyuhyun mendelik.

Kibum memasang senyum kemenangan. Ryeowook benar – benar memperhatikannya. "tidak ada. Melihat senyum mu seperti tadi rasa sakit di sekujur tubuhku langsung hilang." Kembali diliriknya Kyuhyun yang kini menatap tajam ke arahnya.

Wajah Ryeowook memanas. Pipinya terlihat merona sekarang. Apa yang terjadi? Kenapa ia tiba – tiba merasa senang mendengar Kibum mengucapkan ini?

Diulurkan tangannya ke bahu Kibum, mencubit tepat di lengan atas. "Dasar tukang gombal…"

"Awwwhhh…" Kibum meringis, tapi tak urung terkikik. Wajah Ryeowook yang tengah malu seperti ini benar – benar telihat cantik.

"Wae? Aku serius. Aku tidak sedang merayu." Papar Kibum tanpa sedikit pun mengurangi senyum di bibirnya. Membuat lawan bicaranya semakin memerah. Bingung harus menjawab apa.

"Kenapa wajahmu semerah ini Wookie?" goda Kibum. Kyuhyun jengah. Tak ada yang menganggapnya ada.

Tak mau berlama – lama, Kyuhyun memutuskan untuk pergi dari tempat itu. Dadanya semakin sesak jika ia terus di situ. Parahnya sama sekali tak ada yang peduli. Sepasang sahabat – setidaknya untuk saat ini – masih sibuk dengan dunia mereka sendiri.

"Sudah cukup Bumie… Kau sedang sakit. Sebaiknya ku antar kau pulang." Ryeowook mencoba menghentikan godaan Kibum yang semakin menjadi – jadi. Kibum seketika mengernyit.

"Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri." Tolak Kibum halus. Bagaimana pun Ryeowook seorang yeoja. Yeoja yang harusnya dilindungi. Bukan melindungi dirinya.

"Tidak tidak. Harus ada yang mengantarmu." Ryeowook tak mau kalah. Kibum sudah banyak membantunya. Jujur, ia tak mau Kyuhyun macam – macam pada Kibum lagi.

"Hahhh…." Kibum menghela nafas. Tidak membantah, juga tidak menolak. Kalau masalah seperti ini Ryeowook sangat sulit dilawan.

Hanya dalam hitungan detik Ryeowook sudah berdiri, memanggul tas Kibum yang sebelumnya tergeletak di atas tanah. "Cepat berdiri."

Kibum hanya mengangguk, tak lama kemudian ikut berdiri. Menyusul Ryeowook yang kini sudah berjalan tergesa menuju kelas.

Sedikit dipelankan langkahnya menuju arah yang berbeda. Gerbang. Sangat membuang waktu jika ia juga mengikuti Ryeowook masuk kelas hanya untuk mengambil sebuah tas.

Ryeowook terburu – buru keluar dari kelasnya. Menyusul Kibum dengan memanggul tas di bahu kanan dan kirinya. Berlari – lari kecil hingga langkahnya menyamai langkah kaki Kibum.

Kibum menoleh, menatap iba Ryeowook. Bahunya kecil, tapi ia ngotot membawa dua ransel sekaligus. Secepat kilat Kibum merebut tasnya.

"Yak! Kau sedang sakit! Biar aku yang bawa." Pekik Ryeowook yang sama sekali tak digubris Kibum.

Kibum terus saja berjalan memanggul tasnya. "Diamlah… Tas ini milikku. Aku tidak menjamin isinya akan selamat jika kau yang bawa." Bohong Kibum. Ia yakin, pasti setelah ini Ryeowook tidak akan ngotot lagi.

Benar saja, Ryeowook tidak menjawab. Hanya terus berjalan di samping Kibum. Menuju tempat parkir yang memang terletak di dekat gerbang. Ryeowook berjalan cepat mendekati motor yang tinggal satu – satunya.

"Kau tidak bawa motor kan?" tanya Ryeowook karena memang hanya tinggal motornya yang terparkir di situ.

"Tidak. Setiap hari aku diantar. Pulang naik angkutan umum." Jawab Kibum tanpa mengalihkan pandangannya pada Ryeowook yang kini tengah menautkan kancing helmnya.

Dengan cekatan dimundurkan motornya. Tak berapa lama, Ryeowook sudah duduk di atasnya. "Cepat naik." Perintah Ryeowook yang langsung dituruti Kibum. Hanya butuh beberapa detik mereka sudah meninggalkan area sekolah.


^_Cho Ryeona _^

.

.

Tangan Nyonya Kim sibuk memencet ujung selang. Dijulurkan tangan kanannya sejauh mungkin, menjangkau kerumunan bunga di sudut halaman rumah. Sementara tangan kirinya memegangi badan selang. Berjaga – jaga apabila sewaktu – waktu butuh dipendekkan atau dipanjangkan. Gemericik air dari selang membuat hatinya teduh. Apa lagi melihat bunga – bunga yang susah payah dirawatnya, tumbuh dengan sangat baik. Bibirnya tak henti menyunggingkan senyum.

.

Brrmm

.

Nyonya Kim seketika menoleh. Halamannya yang tanpa pagar, berhubungan langsung dengan jalan raya, semakin memudahkannya untuk melihat siapa yang datang.

Seorang yeoja. Manis. Sedang membonceng anak laki – lakinya. Senyum Nyonya Kim makin berkembang melihat siapa yang datang. Tapi tunggu, kenapa wajah Kibum penuh luka lebam? Senyuman Nyonya Kim perlahan memudar. Dilemparnya begitu saja selang yang dari tadi dimainkannya. Buru – buru mendekati Kibum setelah mematikan keran.

"Chagi… Kenapa wajahmu lebam – lebam?" Sambut Nyonya Kim ketika anaknya baru saja turun dari motor.

"Gwaenchana Eomma… Biasa. Aku kan namja. Tak perlu sekhawatir itu." Jawab Kibum santai. Nyonya Kim sibuk memutar tubuh anaknya. Takut terjadi sesuatu yang parah.

Ryeowook turun, mendekati sepasang ibu dan anak setelah meletakkan helmnya di kaca spion. "Annyeong…" sapanya ramah sembari membungkuk. Nyonya Kim memutar leher, menatap sumber suara.

"Siapa? Teman Kibum?" tanya Nyonya Kim lembut. Ryeowook menarik bibirnya, membentuk senyum.

"Ne, Ahjumma… Tadi aku menemukan Kibum tergeletak begitu saja di taman belakang." Bohong Ryeowook. Bagaimana pun, ia masih enggan memberitahukan kelakuan Kyuhyun pada siapa pun.

"Gomawo adik….mmm…siapa?"

"Ah iya, aku hampir lupa memperkenalkan diri. Kim Ryeowook imnida." Ryeowook membungkuk.

Ryeo… Ryeowook? Nyonya Kim tersenyum penuh arti mendengar nama yeoja di depannya ini. Sedikit diliriknya anak semata wayangnya. "Trimakasih Ryeowook-ssi…"

"Aku tidak melakukan apa pun ahjuma…" Ryeowook merendah.

"Ssstt… Aku hanya berterima kasih. Dan boleh ahjuma meminta bantuanmu sedikit lagi saja?" Nyonya Kim bertanya penuh harap.

"Nn…ne ahjumma.. Apa yang bisa saya lakukan?"

"Bisakah kau membantu ahjumma mengobati luka – luka di wajah Kibum ini? Ahjumma tadi disuruh Appa Kibum untuk mengantar sesuatu di kantor." Bohong Nyonya Kim. Kibum melongo. Apa maksud ibunya?

Ryeowook mengangguk mantap. "Tentu saya bisa."

"Masuklah… Biar Kibum yang mencari kotak obatnya." Imbuh Nyonya Kim. Ryeowook menurut. Berjalan pelan menuju ruang tamu.

Kibum mematung menatap keanehan ibunya. Biasanya ibunya justru khawatir dan cenderung over protect jika terjadi sesuatu dengan dirinya. Kibum benar – benar bingung.

"Cepat masuk." Perintah Nyonya Kim mutlak. Kebahagiaan terpancar jelas di wajahnya. "Atau kau akan kehilangan kesempatan berdua dengan gadis itu."


TBC

Jeongmal Mian *DeepBow*. Author ingkar janji T.T

Telat satu hari. Kemarin author sibuk banget. Ga sempet update. Hukum apa aja deh. Aku pasrah. Yang penting jangan suruh update kilat. hehe

OK, kritik, saran, masukan, atau pun sepatah, dua patah kata amat sangat saya harapkan masuk di kotak review *jadi patung selamat datang di Kotak Review ama abang Wook*

Special Thanks to :

Fiewook, Ryeosefti, lee gyuraaa, Rye, kikihanni, man min mi, yewook, cho ryeohyun, mira, Qxu, Guest, Cho Kyuwook, dreanie, Devi AF, N.s, KiKyuWook, Inari, Pinky05KwmS, Redpurplewine, kyuwooksbaby, SparKSomniA0321, kim naeli, CintappucinoW, Ryeohaeme

Reply Review :

Fiewook : Ne, ne. Ini udah dipanjangin. Apa Wook enaknya ama Kibum aja ya? *nawar*

Ryeosefti : waahhh… *tos* aku juga Kyuwook Shipper. Kkkkk

lee gyuraaa : Mian yg kemaren beneran pendek ya? Ni udah tak tambahin sekian ratus karakter.

Rye : Eommanya Kyu tahu. Tapi di sini ceritanya sangking banyaknya yeojachingunya Kyu, tu Eomma bingung. Yeoja yang mana?

Yewook : Ga bisa kilat chingu. Bisanya seminggu sekali. Hehe. Ini jg telat. Jeongmal mianhae.

cho ryeohyun : Yang kemaren emang singkat. Double mianhae juga ini update nya telat. Hehe… Endingnya seiring berjalannya waktu. Kkkkk

mira : Ne, diusahain Chingu.

Qxu : Ne, ini uda lanjut saengi. Mian telat *bow*. Kemaren sibuk banget.

Guest : Ini uda lanjut J

Cho Kyuwook : Mian telat *sujud2* . tapi udah dipanjangin kok. Ditambahin sekitar 500 karakter.

Dreanie : Sekarang uda gag sedih kok *wink*

Devi AF : Soalnya aku juga suka keduanya. Kyuwook atau pun Kiwook aku suka semuanya. Makanya tak tularin pengaruhku melalui FF ini. Kkkkk

N.s : gag bisa kilat. Hehe. Aku ga kuat kalo seminggu dua . Yang penting setelah ini review terus. *wink*

Inari : *Hug back* ~puk2 (bahu Inari). Trimakasih juga udah mau review. Kkkk. Bingung? Aku nggak. Hahahaha…

Redpurplewine : Aigoo… unyu banget wookppa tak bayangin di dalam kotak kado. Pake pita2 gitu. Hahahaha…

Kyuwooksbaby : Aish… selisih setahun. Panggil eonni dah *terpaksa*

kim naeli : Gomawo uda ngasih masukan. Aku masih belajar. Awalnya emang tak bikin kabur gitu latarnya. Ga kerasa ampe chap2 selanjutnya susah banget bikin normal. Haha. Chap ini tolong dikoreksi lagi. Jeongmal Gomawo *deepBow*. Kritik dan saran yang bersifat membangun sangat saya harapkan.

CintappucinoW : Kaga tahu Chingu. Jelasnya ada di chap ini. Hehe..

Ryeohaeme : Biar waktu yang menentukan. Kkkk. Gomawo mskipun telat, reviewnya lengkap. Hehe.