Title : A Girl in Love
Chapter : 10
Pairing : Kyuwook slight SiWook/SoeKyu/KiWook
Rated : T
Genre : Romance
Author : Cho Ryeona
KyuWook/SiWook/SoeKyu/KiWook/GS/Chap 10
"Masuklah… Biar Kibum yang mencari kotak obatnya." Imbuh Nyonya Kim. Ryeowook menurut. Berjalan pelan menuju ruang tamu.
Kibum mematung menatap keanehan ibunya. Biasanya ibunya justru khawatir dan cenderung over protect jika terjadi sesuatu dengan dirinya. Kibum benar – benar bingung.
"Cepat masuk." Perintah Nyonya Kim mutlak. "Atau kau akan kehilangan kesempatan berdua dengan gadis itu."
^_Cho Ryeona _^
.
.
Mata Kibum terbelalak lebar. "Mwo?!"
Nyonya Kim terkekeh mengacak rambut Kibum. "Eomma setuju jika kau dengannya. Ryeowook… ummm… yeoja yang manis." Kibum nyaris terlonjak. Untungnya dia masih ingat dengan siapa dia berhadapan.
Sedikit ditangkupkan tangan kanannya pada pipi sebelah kanan. Berpura – pura memegangi luka di pipi yang pada kenyataannya, Kibum sedang menutupi wajahnya yang perlahan memerah. Sementara tangan kiri sibuk menarik – narik centelan(?) ransel di dada yang berimpit dengan lengan.
"Eomma masih ingat?"
"Kkkkk. Eomma selalu mengingat apa pun yang keluar dari mulutmu. Sesuatu yang terkadang tak kau ingat pernah mengucapkannya. Eomma tahu semua, bahkan tanpa kau mengatakannya." Nyonya Kim memperjelas. Sejenak membungkuk. Membenarkan letak selang yang tadi dilempar asal.
Kibum menunduk sekilas, memperhatikan kegiatan Eommanya. "Apa aku sangat terlihat?" tanya Kibum tak jelas. Rumah Kibum yang memang terletak di pinggir jalan raya semakin tak mendukung Eommanya untuk memahami kata – kata Kibum. Suara kendaraan bermotor yang berlalu – lalang membuat pertanyaan Kibum semakin tidak jelas.
Nyonya Kim kembali berdiri. "Apa? Eomma tidak mengerti maksudmu pertanyaanmu."
"Apa aku terlihat sangat jelas menyukai Ryeowook?" Ulang Kibum. Kali ini diperjelas. Nyonya Kim tersenyum mananggapi Kibum.
"Mungkin bagi orang lain tidak. Tapi bagi Eomma kau sangat terlihat menyukainya." Nyonya Kim menarik nafas sebentar, "Selain karena Eomma sangat hafal bagaimana watakmu, Eomma juga memiliki ikatan batin… antara ibu dan anak." Nyonya Kim mengakhiri penjelasannya dengan mengacak rambut Kibum. Sedikit gemas karena anaknya terlihat polos.
"Cepat masuk. Kau membuat seorang gadis terlalu lama menunggu." Goda Nyonya Kim karena Kibum mengahabiskan waktu beberapa menit hanya untuk menarik – narik centelan tas. Sesuatu yang tidak penting. "Kau tahu ? Biasanya seorang gadis akan memperhitungkan namja yang mendekatinya layak menjadi kekasih atau tidak berdasarkan bagaimana sikapnya pada gadis itu, termasuk membuatnya menunggu seperti ini."
Kibum bengong. Tersadar kalau ia sudah cukup lama meninggalkan Ryeowook. Tanpa diperintah dua kali, Kibum berjalan cepat. Masuk ke dalam rumah. Tentu ia tak mau Ryeowook menungguinya terlalu lama, dan kemungkinan – kemungkinan yang dijelaskan Eommanya tadi benar – benar terjadi. Andwae! Ryeowook tak boleh menolaknya.
.
.
Ryeowook tak menyadari Kibum telah masuk dan berdiri di belakangnya membawa sebuah kotak. Terlalu sibuk dengan kura – kura kecil di dalam akuarium. Digerakkan tangan menyusuri kaca akuarium dari luar. Sebentar kemudian terkikik geli karena kura – kura di dalam terus mengikuti pergerakan telunjuknya. Semua permukaan sisi sudah menjadi landasan jemarinya, tapi kura – kura itu masih aktif bergerak. Seolah tidak merasa lelah.
Beberapa saat kemudian Ryeowook menjauhkan jemarinya. "Sudah cukup. Aku tidak mau kau kelelahan." Kibum menahan tawa. Ia yang punya saja tidak pernah mengajak hewan yang terkenal lelet ini bicara.
Belum selesai Kibum menahan tawa, Ryeowook sudah berubah pikiran. Telunjuknya kembali beraksi. Kali ini membentuk zig – zag. Kura – kura berwarna hijau yang sudah hampir sampai dasar akuarium kini naik kembali. Mengikuti gerakan jari Ryeowook. Bosan dengan gerakan zig – zag, Ryeowook mencoba bentuk lain. Kotak, oval, segitiga, dan hampir semua bentuk bangun datar yang ia kenal. Mengabaikan jejak tangannya di kaca yang sangat terlihat.
Tak berhenti sampai di situ, kini semua permukaan tangannya ia tempelkan tepat di kaca yang letaknya lurus dengan alat pembuat gelembung di dalam akuarium. Ia ingin melihat bagaimana kura – kura berhadapan dengan alat ini. Dan benar saja, kura – kura perlahan mendekat. Mengincar tangan Ryeowook. Kura – kura semakin terlihat dekat, kira – kira hanya berjarak satu ukuran tangan dengan alat tsb. Dan selanjutnya yang terjadi adalah Ryeowook tertawa terbahak – bahak. Pasalnya ia melihat kura – kura itu tidak bisa menjangkau tangannya karena arus gelembung – gelembung membawanya kembali terpental naik ke atas.
"Kau suka?" tanya Kibum tiba – tiba. Membuat Ryeowook sedikit terlonjak karena ketahuan tengah mempermainkan piaraan pemilik rumah. Segera dijauhkan tangannya dan berbalik menatap Kibum yang kini hanya berjarak sekitar tiga puluh centi.
"Aa…ii..itu… Ini tidak seperti yang kau lihat Bumie…" ucap Ryeowook takut – takut. Kibum memasang wajah datarnya. Sedikit menoleh ke belakang. Meletakkan kotak obat yang baru saja diambilnya pada lengan kursi yang memang terletak di belakang Kibum.
"Hm, Lalu? Yang ku lihat?" Kibum kini melipat tangan di dada. Menikmati ekspresi takut yeoja manis di hadapannya.
Yang ditatap memilih menunduk, memainkan kedua telunjuknya. Bingung harus menjawab apa. Menatap Kibum semakin membuatnya takut.
Kaki kanan Kibum sibuk mengetuk lantai. Menciptakan irama teratur dari sepatu yang berbenturan dengan lantai. "Jadi bisa jelaskan tadi yang ku lihat?" Kibum masih menahan tawanya. Ryeowook benar – benar lucu dengan muka melasnya seperti ini.
Ryeowook tergagap. "Aa…aku hanya… hanya mengajaknya bermain – main. Itu saja. Tidak lebih." Ucap Ryeowook pada akhirnya.
"Benarkah?" Kibum tetap pada tampang tenangnya. "Bermain – main dengan membuatnya lelah? Hm?" tuding Kibum.
"bukan… bukan… " Ryeowook makin tergagap. "Maksudku… aish… Jeongmal mianhae…" Ryeowook makin menunduk. Merutuki kesalahannya pada Si kura – kura. Tapi hati kecil Ryeowook merasa dia benar. Kura – kura itu yang pantas disalahkan. Salah sendiri kenapa dia senang dipermainkan seperti itu. Tapi sekali lagi, Ryeowook harus menelan ludah. Kelu. Mengingat kura – kura jelas tidak memiliki otak. Cukup patut jika dirinya yang kini disalahkan.
Kibum kini tersenyum, sedetik kemudian ia sudah tidak bisa menahan tawanya. "Buahahahaha….."
Ryeowook menegakkan kepala. Melihat Kibum yang tengah memegangi perut. Perlahan keningnya berkerut mendapati Kibum menduduki kursi di belakangnya masih dengan memegangi perut. Membiarkan kotak yang juga ikut terduduki. Dan jangan lupakan suara tawanya yang keras. Butuh beberapa menit bagi Ryeowook untuk menyadari situasi yang terjadi. Ia ketakutan dan …. Kibum menertawainya?
"Kau…?" ucap Ryeowook terhenti sebentar. Takut kalau – kalau salah menebak. "Kau …. Menipuku?"
Kibum tertawa makin menjadi – jadi. Posisinya kini rebahan di sofa dengan kaki terangkat, ditekuk ke atas. Kotak obat yang tergeser tanpa sadar terjatuh di karpet yang melapisi lantai. Ryeowook semakin sadar.
"Kau menyebalkan! Huh!" Dumel Ryeowook. Kali ini mengambil bantal di kursi yang terletak di seberang kursi Kibum. Tanpa minta ijin, ia melayangkan bantal itu. Dan….
.
Bugh
.
Sukses mengenai perut Kibum. Ryeowook masih cukup sadar untuk tidak melemparnya pada wajah. Tentu ia tidak mau luka Kibum semakin parah. Sadar dengan situasi perlahan Kibum menurunkan kakinya. Menggeser posisi tidurnya menjadi duduk. Bantal yang bertengger di perut ikut terjatuh seiring pergerakan anggota tubuhnya. Suara tawa perlahan mereda, walau tak sepenuhnya.
Ryeowook melipat tangan di dada. Memajukan bibirnya membentuk kerucut. Dihempaskan pantatnya menduduki kursi. Mengacuhkan deritan akibat perlakuan melihat arah lain dari pada melihat lurus ke depan yang hanya ada Kibum.
Kibum kembali terkekeh. Melihat Ryeowook yang menurutnya sangat mirip dengan anak kecil. Sejenak ia membungkuk, mengambil bantal yang terjatuh. Hanya dalam hitungan detik bantal berukuran 30x30 centi itu sudah melayang bebas di atas meja.
.
Pnnggg~ (?)
.
Sedikit keras menghantam dada Ryeowook. Cukup membuat dada Ryeowook bergerak. Sampai sang empunya tubuh ikut terhempas menyender kursi. Awalnya Kibum ingin melempar ke bibir Ryeowook, tapi sedetik sebelum bantal melayang, Kibum berubah pikiran.
"Awwhh…" Lenguhan kecil berhasil lolos dari bibir merah muda Ryeowook. Tak terlalu sakit, hanya rasa kaget yang mendominasi.
"Kim Kibum!" pekik Ryeowook memelototkan matanya. Baru sejenak ia duduk, kini ia sudah berdiri kembali.
Kibum terkikik. Tak menyadari bahaya yang sedang mengintai.
Ryeowook mendelik. Diambilnya sembarang bantal yang memang tidak hanya ada satu di situ. Mendekat ke tempat duduk Kibum. Hanya dengan sekali angkat kemudian, bantal itu sudah bertubi – tubi mengenai perut, dada, bahu dan entah apa lagi.
"Keke..Awhh… Uggh… Wookie… Hentikan." Tawa Kibum terhenti begitu saja. Kini ia sibuk berkonsentrasi dengan bantal agar tidak mengenai lukanya.
Ryeowook terus saja memukuli badan Kibum. Tak begitu mengurusi jerit kesakitan Kibum. Yang terpenting dendamnya harus terbalas. Rasakan !
Kibum tak diam begitu saja. Tangannya sibuk menangkis, sementara otaknya terus berfikir. Bagaimana caranya ia dapat menghentikan Ryeowook yang samakin ganas. Beberapa detik ia berfikir, sebelum akhirnya senyum kemenangan terpampang di wajah cerahnya.
Ryeowook tersadar. Senyuman Kibum sedikit membuyarkan konsentrasinya. Kibum memperoleh kesempatan. Kedua tangan Ryeowook yang terhenti sejenak ia tarik ke atas. Sementara kakinya ia gunakan untuk menjegal kaki yeoja di hadapannya. Tak sampai hitungan menit Kibum berhasil merebahkan Ryeowook di sofa.
"Cepat minta maaf!" Perintah Kibum. Ryeowook menggeleng.
"Cepat minta maaf atau …. " sedikit demi sedikit Kibum merunduk, menjepit kaki Ryeowook dengan kedua kakinya. Mengunci gerakan. Agar Ryeowook tak bisa lari kemana – mana.
"Ka…kau mau apa Bumie ?" gagap Ryeowook karena melihat bibir Kibum semakin mendekat. Hanya berjarak sekitar 5 centi. Sekelebat bayangan Kyuhyun lewat di otaknya.
Kibum menyeringai. "Sedikit memberimu pelajaran. Supaya kau tidak berani macam – macam lagi." Ujar Kibum setengah berbisik sambil menjilati bibirnya.
Jantung Ryeowook berdetak lebih cepat. Keringat dingin mulai keluar dari pelipis dan punggungnya. Membasahi kaos olahraga yang tengah dipakai. Merasa takut Kibum akan melakukan hal yang sama dengan Kyuhyun dulu. Air mata nyaris turun membasahi pipi kalau saja ia tidak menahannya. Ia masih ingat untuk tidak menangisi apa pun tentang Kyuhyun. Menjadi tegar adalah pilihan terbaik untuk saat ini dan ke depannya.
Seringaian Kibum melebar. "Tetap tidak mau minta maaf eoh?" Kibum semakin merunduk.
Mata Ryeowook melebar. "Andwae!" Ryeowook seketika tersadar dari lamunannya. kini meronta – ronta. Menggerak - gerakkan kakinya walau ia tahu ini sangat percuma. Setidaknya berusaha. "Bumie !" Kepalanya menoleh ke samping agar Kibum semakin sulit menjangkaunya.
"Bilang maaf dulu. Baru ku lepaskan."
"Ahh.. iya iya… aku minta maaf." Putus Ryeowook cepat.
Kibum tersenyum simpul. "Bagus… " dijulurkan tangannya mengacak rambut Ryeowook. "Anak manis… Kkkk."
Ryeowook bernafas lega melihat Kibum mulai turun dan duduk di samping kakinya. Pelan tapi pasti Ryeowook mensejajarkan duduknya dengan Kibum.
"Dasar mesum." Dumel Ryeowook.
Kibum seketika menoleh. Apa tadi dia bilang? Mesum? Aish… yang benar saja.
Merasa ditatap, Ryeowook akhirnya menoleh. "Ya, mesum. Kau mesum!" gertak Ryeowook sembari menudingkan telunjuknya tepat di depan hidung Kibum. Seolah mengerti isi hati Kibum.
"Benarkah? Aku? Mesum?" terdengar seperti tengah meyakinkan dirinya sendiri.
Ryeowook semakin mempertajam tudingannya. "Sudah banyak buktinya. Dua kali kau ingin memperkosaku!" Pekik Ryeowook tanpa sensor. "Dan kau sudah tidak bisa mengelak lagi! Aku akan melaporkanmu pada Kim Ahjumma!"
Kibum nyaris saja tertawa mendengar penuturan Ryeowook yang menurutnya terlalu dilebih – lebihkan. "Laporkan saja. Aku tidak takut."
"Aku tidak main – main."
"Aku juga." Kibum tetap dangan sikap santainya.
"Lihat saja sampai Kim Ahjumma pulang."
Kibum terkekeh. "Kau fikir Eomma tidak mengerti bagaimana watakku hm?" Kibum memulai aksinya. "Eomma bahkan lebih mengerti diriku dari pada aku sendiri."
Ryeowook mengerutkan kening. "maksudnya?"
"Eomma tidak akan memarahiku sekalipun kelakuanku keterlaluan. Termasuk dalam hal ini …." Perlahan Kibum menjulurkan lidahnya. Menjilati telunjuk Ryeowook yang tanpa sadar tetap berada di depan hidung Kibum.
Ryeowook langsung menarik telunjuknya. Bergidik ngeri. Kibum tersenyum.
"Mau bukti? Tadi kau lihat sendiri kan Eomma tidak memarahiku sekalipun aku baru saja berkelahi." Bohong Kibum. Semakin menguatkan kebohongan sebelumnya.
Ryeowook terdiam sejenak. Berfikir. Ucapan Kibum ada benarnya juga.
"Cepat obati lukaku." Perintah Kibum ketika melihat raut muka Ryeowook yang mulai terperdaya.
"Nn… ne, ne." jawab Ryeowook takut – takut. Sedikit merundukkan tubuhnya, mengambil kotak obat.
"Cepat chagi…" Kibum makin menjadi – jadi.
"Apa?!" Pekik Ryeowook yang baru saja bangun dari acara merunduknya. "Apa tadi kau bilang? Chagi?"
Kibum mulai memapakkan wajahnya agar segera diobati. "Ne, mulai sekarang aku akan memanggilmu chagi. Dengan atau tanpa persetujuanmu."
"Mwo?! Yak! Mana bisa seperti itu."
"Cepat obati. Jangan banyak bicara." Kibum makin memajukan wajahnya.
Walau dengan sejuta keengganan, Ryeowook mulai membersihkan luka Kibum dengan kapas dan alkohol.
"Pelan – pelan." Kibum mengingatkan karena Ryeowook dirasanya sangat tidak sabaran.
"Ini sudah pelan." Jawab Ryeowook cuek. Tapi gerakan tangannya berkata lain. Tak bisa dikatakan pelan. Sangat cepat, dan terlihat menyiksa.
Kibum hanya diam. Tak terlalu sakit menurutnya. Ia bukan yeoja yang jika sedikit disentuh lukanya langsung menjerit.
Langkah terakhir, tinggal menempelkan plester di atas kapas di kening Kibum. Semua luka sudah rata terolesi obat merah. "Selesaaaiii…" Digerakkan tangannya meletakkan kotak obat di meja. Tanpa sadar menindih sesuatu. Kibum mengernyit.
"Coba ambil kertas di bawah kotak obat itu."
Ryeowook menurut. Dan tanpa sadar membaca sampulnya. Undangan dari keluarga Cho.
Kibum merebut kertas itu dan membacanya sekilas. "Undangan untuk Appa ku." Hanya sekilas, dan meletakkan sembarangan di atas meja.
Ryeowook terdiam sebentar. "Tunggu… " Tanpa aba – aba ia mengambil kertas yang baru sedetik tergeletak. Membuka dan membaca isinya. Dua detik, Jantungnya seolah berhenti berdetak. Matanya nanar. Wajahnya memanas. Benarkah ini?
Kibum yang menyadari perubahan Ryeowook langsung merebut kertas. Ikut membaca isinya. Satu Minggu lagi? Pernikahan Cho Kyuhyun dan Kim Seohyun?
Aish…Ini sangat tidak baik untuk Ryeowook. Kibum memakluminya. Bagaimana pun Kyuhyun tetap orang yang pernah mengisi hari – hari Ryeowook.
Diulurkan tangannya hendak membelai rambut Ryeowook. Memberikan sedikit kenyamanan. Walau tak banyak setidaknya bisa membantu. Ia sangat yakin setelah ini Ryeowook pasti akan menangis.
Di luar dugaan, Ryeowook mulai bisa mengontrol emosinya. Perlahan tapi pasti seberkas senyum sudah mulai nampak di bibirnya. Kibum sedikit kaget. Perjuangan Ryeowook pasti sangat berat untuk sebuah senyum seperti ini. Sebuah pemikiran yang cukup berani kembali melintas di otaknya.
"Boleh aku bertanya sesuatu?" Kibum mengumpulkan sedikit keberanian.
Ryeowook menoleh, "ne?"
Beberapa menit Kibum menimbang, Kata apa yang tepat untuk mengutarakan sesuatu yang menghantui hatinya beberapa hari ini. Walau dengan sejuta keraguan Kibum tetap mengatakannya, "Boleh aku menggantikan posisi Kyuhyun.?"
Ryeowook terbelalak. "maksudmu? Aa… aku… belum.. aish… aku…"
"ssssttt…" Kata – kata Ryeowook terhenti begitu saja karena telunjuk Kibum kini menempel di bibir Ryeowook. Mengisyaratkan untuk diam.
Selama beberapa detik hanya terdengar gemericik air di akuarium yang berpadu dengan denting jarum jam. Keduanya membentuk irama yang sedikit tidak teratur dan bertolak belakang. Sedangkan sepasang manusia masih tetap tak bergeming dari posisinya.
"Aku… maksudku…"gagap Ryeowook.
"Cukup. Tidak perlu dijawab." Kibum akhirnya membuka mulut. Merasa tak terlalu baik untuknya jika Ryeowook meneruskan jawabannya.
"Hanya beri aku kesempatan. Setidaknya izinkan aku menemanimu datang di pesta pernikahan Kyuhyun. Aku tidak ingin kau diremehkan siapa pun di sana." Papar Kibum menyisakan Ryeowook yang kini bengong menatapnya.
^_Cho Ryeona _^
.
.
Jam menunjukkan pukul 4 sore. Ryeowook baru saja pulang dan langsung naik ke lantai atas. Ke kamarnya. Sesegera mungkin masuk kamar mandi. Mengabaikan tamu Appanya. Sesuatu yang tak penting juga untuk Ryeowook tahu, begitulah pemikiran Ryeowook saat ini. Sementara Heechul sibuk membuatkan minuman untuk tamu ibu dan ayahnya. Siwon? Masih di kantor dan sepertinya sebentar lagi pulang.
Heechul yang menunggui airnya mendidih sesekali mencuri dengar pembicaraan orang tua mereka. Dan entah kali ke berapa ia mendecih kesal karena jarak ruang tamu dan dapur yang terhalang ruang keluarga, membuat suara mereka tidak jelas. Yang ia tahu hanya tamu Appa nya ini bernama Tuan dan Nyonya Choi. Entah apa yang mereka bicarakan sepertinya suasana sangat tegang.
Selang beberapa menit terdengar bunyi berderit dari teko yang tengah ditumpangkan di atas kompor. Tanda bahwa isinya sudah mendidih. Dengan cekatan Heechul memindahnya ke beberapa gelas. Terakhir, ia membawa nampan menuju ruang tamu. Sekalian mendengarkan apa yang mereka bicarakan.
Kembali Heechul harus berdecih. Pasalnya seketika mereka terdiam ketika Heechul masuk. Heechul benar – benar penasaran. tapi apa boleh buat. Ia tidak boleh seenaknya. Mungkin memang ada sesuatu yang bernama privasi.
Hanya sekitar 3 menit Heechul di situ. Selanjutnya ia kembali ke kamarnya yang berada di sebelah kamar Ryeowook. Mengabaikan keingin tahuannya untuk mendengar pembicaraan mereka lebih lanjut.
.
Brrmmm
.
Deru mobil Siwon terdengar memenuhi ruang tamu berukuran 5x5 meter itu. Tanda bahwa si empunya sudah pulang. Hal ini membuat sepasang manusia bermarga Choi tak henti – hentinya menyunggingkan senyum. Sementara Tuan dan Nyonya Kim yang duduk di seberang mereka terlihat sedikit was – was.
Tak sampai lima menit pintu terbuka. Menampakkan sosok tegap tengah menenteng tas. Dengan jas tersampir di lengan. Sedikit kaget karena ada tamu.
"Eh? Annyeong… " sapanya ramah. "Mianhae, saya tidak tahu kalau ada tamu." Siwon membungkuk sebentar kemudian meneruskan langkahnya yang sedikit terhenti. Bermaksud segera masuk kamar dan langsung mandi.
"Siwon-ssi, Bisakah kau tetap di sini?" sebuah suara yeoja yang Siwon yakin bukan suara ibunya. Lagi – lagi langkahnya yang baru sampai pintu ruang keluarga terpaksa terhenti.
"Ne?" sejenak ia memilih membalikkan badan. Kembali menatap sosok yeoja paruh baya yang kini balik menatapnya. Usianya terlihat kurang lebih sama dengan ibunya. Mungkin hanya selisih satu tahun. Rambut bergelombang sebahu, dengan sedikit uban samar terlihat di sekitar garis tengah menambah nilai kewibawaan.
Sementara di sampingnya duduk seorang namja yang lebih tua. Tak kalah berwibawa. Sosok yang tegap sedikit mengingatkan Siwon saat ia berkaca. Hanya saja tubuh ahjussi ini lebih kurus jika dibandingkan dengannya. Lesung pipit juga sedikit terlihat. Lagi – lagi ciri – ciri yang sama dengannya. Ayah dan ibunya justru tidak memiliki lesung pipit. Tapi orang ini sedikit banyak mempunyai kemiripan dengannya. 'mungkin mereka masih saudara dengan Appa' batin Siwon.
"Ada apa?"
"Kami ingin berbicara denganmu, dan ini sangat penting." Ujar Ahjussi yang sedikit banyak mirip dengan Siwon.
Siwon terdiam sejenak. Mengamati raut muka empat orang yang sedang duduk di situ. Semua terlihat tegang. Tak ada alasan untuk menolak. Merasa sangat dibutuhkan, Siwon mengalahkan keinginannya untuk segera masuk kamar. Memilih meletakkan tas di senderan tembok, disusul dengan jasnya untuk kemudian menyusul duduk di sofa memanjang, tepat di samping ibunya.
"Apa sangat penting?" ulang Siwon meminta penjelasan.
Kedua orang di seberang sana mengangguk mantap. Sama sekali tak ada keraguan. Siwon sedikit sadar, ayah, terlebih ibunya menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Pandangan seperti takut kehilangan. Ah entahlah… Mungkin ini hanya perasaan Siwon.
Ahjussi itu mulai membuka mulut. "Sebelumnya kami mau minta maaf. Karena mengganggu acara istirahatmu." Ahjussi mulai melihat wajah setiap orang yang berada di situ. Sangat takut kalau sampai ada yang terluka.
Siwon tersenyum, "Gwaenchana."
"Saya Choi Kin Ho. Dan ini istri saya." Tersenyum sejenak." Tidak perlu memperkenalkan diri. Kami sudah mengenalmu, Kim Siwon" tandas Choi Ahjussi saat melihat Siwon mulai membuka mulut. Siwon mengangguk mengerti.
"Kalian pasti bertanya – tanya untuk apa kami datang ke sini." Siwon kembali mengangguk. Ia sangat penasaran, kenapa ia juga dilibatkan. Sedikit disenderkan punggungnya, agar lebih leluasa menjangkau keadaan dua orang di depannya.
"Kami, terlebih saya pribadi ingin minta maaf. Kami tahu ini sangat berat untukmu, Siwon-Ssi. Tapi kami sangat menginginkan kau kembali" walau dengan seribu keraguan, Tuan Choi tetap mengungkapkan maksud hatinya.
Tanpa disuruh Siwon segera menegakkan duduknya. Sangat bingung dengan maksud Choi Ahjussi. "Maksud Ahjussi?" Kata – kata Choi Ahjussi sedikit membuatnya takut. Apalagi melihat Choi Ahjussi yang tiba – tiba saja menitikkan air mata. Pasti ini sesuatu yang sangat berat.
Tuan Choi menunduk. Menyusun kata – kata. Dadanya berdesir hebat. Ia hanya bisa berharap semoga Siwon dapat menerimanya kembali.
"Kami ingin kau pulang. Pulang kembali ke rumah kami. Karena kau anak kami. Appa benar – benar minta maaf. Appa mohon jangan membenci Appa dulu. Karena sesuatu hal kami harus menitipkan mu di keluarga Tuan Kim."
Mian kalo makin gaje. Kkkk.
Ada yang ingin tanya? mention nynaSiEpil. Kalo lewat FF baru tak bales 1 minggu kemudian *abaikan*
Okeh. Segitu aja.
Big Thanks to :
yoon HyunWoon, Annathan Kim, Jas merah, Ryeosefti, Hanchul Aegya, mira, lee gyuraaa, dwiihae, Kyute EvilMagnae, SparKSomniA0321, tyararahayuni, Redpurplewine, Devi AF, cho ryeohyun, aniimin, Guest, fiewook, ilma, Rye, man min mi, umilcloudELF, ryeohaeme, Pinky05KwmS, KiKyuWook, AiiuRyeong9, , kiwook, Kim Sooyeon, Qxu
Reply Review :
Jas merah : pregnant itu hamil kah? Hehe. Mian bner2 baru. Kejelasannya mungkin chapter depan. Mau tak masukin chapter ini uda kebanyakan karakter. Gomawo eonni...
Ryeosefti : alhamdulillah hari ini author ga ingkar janji. Hehe..
Hanchul Aegya : Ini uda ga telat. Eommanya Kibum centil. Wkwkwkwkw...
mira : aku juga bingung. Hehe.. Kiwook, Kyuwook. Hmmm
lee gyuraaa : eommanya centil bgd, kkkkkk
Redpurplewine : Mari bersama – sama kita siksa Kyuhyun *ditendang SparKyu*
Devi AF : Gomawo2. Kkk. Bener ada yang ilang. Efek karena selalu buru-buru. Lain kali harus lebih hati2.
cho ryeohyun : makasi uda mau nunggu. Dan mian yg kmaren telat. Kesibukan menumpuk.
Aniimin : Gomawo new Reader. Hehe... Ini uda update. Review lg ne? *ngarep*
Guest : J
Fiewook : coba di koreksi di chap ini. Kurang romantis kah? Aku blm bgitu pngalaman ama sesuatu yg berbau romantis. Hahaha *sok polos*
Ilma : Ne, Gomawo. Ini udah gag telat J
Rye : J Kyuhyun harus tersiksa dulu.
Ryeohaeme : udah tahu. Ceritanya Kibum udah pernah cerita. Tp di blakang author. Jd ga author ceritain. Kkkkk
Kiwook : Ini Kiwook Kyuwook juga. Hehe...
Qxu : Diusahain suamiku (red : Kyu) ttep ama Wook. Hahaha...
