Title : A Girl in Love

Chapter : 11

Pairing : Kyuwook slight SiWook/SoeKyu/KiWook

Rated : T

Genre : Romance

Author : Cho Ryeona


KyuWook/SiWook/SoeKyu/KiWook/GS/Chap 11


Tuan Choi menunduk. Menyusun kata – kata. Dadanya berdesir hebat. Ia hanya bisa berharap semoga Siwon dapat menerimanya kembali. "Kami ingin kau pulang. Pulang kembali ke rumah kami. Karena kau anak kami. Appa benar – benar minta maaf. Karena sesuatu hal kami harus menitipkan mu di keluarga Tuan Kim."


^_Cho Ryeona _^

.

.

Nyonya Kim beranjak membuka tirai, memastikan kalau tamunya sudah benar – benar pulang. "Apa yang dikatakan Tuan tadi benar." Suaranya sedikit memberat.

Siwon mendelik, berbalik menatap Tuan Kim yang sekarang duduk di sampingnya. Meminta kejelasan.

Raut wajah Tuan Kim terlihat keruh. "Choi Kin Ho, atau paman yang tadi…dia memang benar ayah mu. Ayah kandungmu." Nyonya Kim seketika menatap suaminya. Melampiaskan gemuruh di hatinya dengan meremas tirai.

Jantung Siwon berdetak hebat. Namun ia tak menyangkal, ada sedikit kebahagiaan yang kini ia rasakan.

"Jangan membenci Tuan Choi dulu. Dia bukan membuangmu. Dia menitipkanmu karena dulu nyawamu terancam. Ada beberapa pihak yang menginginkanmu mati karena kau satu – satunya anak lelaki Tuan Choi yang harus meneruskan bisnisnya. Appa harap kau dewasa dalam menghadapi masalah ini. Kau bukan anak SMA yang harus menangis mengahadapi kenyataan." Tuan Kim berusaha tegar. Bagaimana pun inilah janjinya dulu. Harus mengembalikan Siwon ketika Tuan Choi memintanya.

Siwon hanya berusaha kuat. Ia sedikit bersyukur kali ini.

Tuan Kim menghela nafas. Hanya satu keinginannya kali ini. Membuat semuanya menjadi jelas.

"Appa yakin kau sudah berpikiran matang. Kami tetap orang tua mu, sampai kapan pun. Kami hanya ingin kau menjalankan kewajiban terhadap orang tua kandungmu. Kau boleh tetap tinggal di sini."

Siwon mengangguk walau kepalanya masih dipenuhi sejuta pertanyaan. Hanya berniat menjalani apa yang dikatakan Appanya.

"Ada satu lagi yang harus kau tahu." Ucap Tuan Kim sedikit tersendat. Siwon yang berniat segera pergi kembali menelisik wajah Tuan Kim.

"Ryeowook sebenarnya juga bukan anak kandung kami." Nada bicara Tuan Kim sedikit lebih berat sekarang. Mengingat Ryeowook adalah yeoja yang sensitif.

Siwon tercengang. Sementara Nyonya Kim tak dapat lagi membendung tangisannya. Harusnya Tuan Kim tak perlu mengatakan bagian ini.

"Hanya Heechul anak kandung Appa. Eomma mu tidak bisa hamil setelah melahirkan Heechul. Ryeowook kami ambil dari salah satu panti asuhan di luar kota Karena Eomma mu menginginkan anak perempuan satu lagi." Papar Tuan Kim yang kini mengalihkan pandangannya dari Siwon. Sejenak ia berfikir untuk segera pergi dari tempat ini.

"Appa harap tidak ada lagi orang lain yang tahu masalah ini. Terlebih Ryeowook."

Siwon masih tercengang. Meskipun begitu ia berusaha harus bersikap seperti apa. Terlalu banyak kejutan hari ini. Dalam hati ia juga tidak ingin memberi tahu Ryeowook. Yang ada di pikirannya saat ini hanya ingin membahagiakan dongsaengnya itu tanpa membuat jarak seperti yang ia lakukan beberapa waktu lalu.

.

.

Tuan Kim masuk ruang makan dengan membawa sebuah amplop putih ber-stempel rumah sakit. Menimang – nimang untuk membukanya atau tidak. Lebih dari satu menit ia berfikir. Dari pada penasaran ia memutuskan uktuk membukanya setelah duduk di tempat duduknya. Berseberangan dengan Siwon. Tak begitu mempedulikan istrinya yang tengah sibuk menata makan malam. Perhatiannya lebih tertuju pada barang yang sedang digenggamnya. Mumpung yang punya surat ini sedang sibuk di dapur bersama Kakak perempuannya.

Terlalu sibuk berfikir, Tuan Kim tidak menyadari Siwon mengamatinya sejak tadi. Apa lagi dengan model meja persegi panjang dan Tuan Kim duduk sebagai pusat. Sedangkan Siwon duduk di samping kursi kosong yang harusnya diduduki Ryeowook. Disobeknya perekat amplop dan menyentuhkan jemarinya pada isi surat.

"Surat dari mana Appa?"

Tuan Kim seketika mengurungkan niatnya. Menatap Siwon yang kini menatapnya penuh selidik. "Dari rumah sakit. Untuk Ryeowook. Apa dia sakit? Kenapa dia sepertinya habis memeriksakan kesehatan?"

Siwon mengerut mendengar pertanyaan Ayahnya yang bertubi – tubi. Ayahnya bertanya pada orang yang salah.

"Sepertinya kau tidak tahu. Sebaiknya Appa buka saja." Sedikit ditariknya kertas yang berada di dalam amplop.

"Jangan Appa. Sebaiknya biarkan yang punya saja membukanya pertama kali." Entah karena apa, Siwon sangat yakin ayahnya tak akan baik – baik saja jika membuka kertas yang kini tengah bertengger di genggamannya.

Tuan Kim mengangguk. Menuruti permintaan Siwon yang menurutnya juga masuk akal.

"Apa kau sering mendengar Ryeowook muntah setiap pagi?" Tanya Tuan Kim dengan pandangan khawatir seraya memasukkan kembali kertas ke dalam amplop dan meletakkan di meja.

Siwon sejenak mengerutkan kening, sedetik kemudian mulai membuka suara, tak mau membuat ayahnya semakin berpikiran kemana – mana. "Mungkin dia baru saja bermimpi sesuatu yang menjijikkan. Bisa saja kan?"

Tuan Kim mengangguk juga walau jawaban anaknya tak begitu memuaskan. "Appa dengar kekasihnya… mmm… siapa namanya… Appa lupa… Cho… Aish… Cho…"

"Cho Kyuhyun."

"Ah, ne, Cho Kyuhyun. Appa dengar dia akan menikah Minggu ini. Benarkah?"

Siwon mengangguk mantap. "Ne, Appa. Dari undangan yang dilayangkan ke keluarga ini pernikahan akan dilaksanakan hari Minggu. Terhitung enam hari mulai sekarang."

"Lalu bagaimana dengan dongsaengmu?"

"Tadi ku lihat dia biasa saja membaca undangan itu di meja." Siwon senyum - senyum membayangkan Ryeowook tadi justru melempar undangannya asal, seolah tak peduli.

"Kenapa senyum – senyum seperti itu?" Tuan Kim bertanya sedikit curiga.

Siwon sedikit terlonjak. "Eh.. Tidak ada apa – apa." Direntangkan tangannya ke atas kemudian menggeliat. Berusaha menutupi kegugupannya.

"Kalau begitu serahkan surat ini pada Ryeowook nanti. Appa tidak mau acara makan malam terganggu dengan kehadiran surat ini." Perintah Tuan Kim yang lebih menyerupai permintaan sembari menyeret amplop sampai di hadapan Siwon. Menimbulkan suara gesekan yang sedikit tidak nyaman.

"Ne, ne." tanpa diperintah dua kali Siwon segera memasukkan amplop di saku celana. Tak lama Heechul sudah muncul di ruang makan, disusul Ryeowook yang langsung duduk di antara Tuan Kim dan Siwon.

Tuan Kim menyapu sekeliling. Memulai rutinitas setelah melihat semuanya sudah tersusun rapi dengan anggota keluarga yang sudah menduduki tempat masing – masing. Di lajur kanannya duduk Ryeowook yang bersebelahan dengan Siwon. Sementara di lajur kirinya, ada istri dan anak perempuannya.

"Jangan lupa berdoa dulu." Sahut Tuan Kim ketika melihat tangan Ryeowook sudah meraih sumpit hendak mengambil shusi (?) sementara yang lain masih sibuk berdoa.

Ryeowook mendengus. "Ne, appa." Gerutu Ryeowook meletakkan sumpitnya asal, kemudian ikut berdoa. Ada sedikit perasaan lega pada Tuan Kim. Ryeowook tidak sakit seperti yang dia bayangkan, mengingat nafsu makannya malam ini yang cenderung naik.

. . .

. .

.

Siwon tengah duduk berselonjor di ranjang. Sibuk meneliti kamar yang sudah setengah jam di masukinya. Kamar dengan nuansa ungu yang tidak terlalu besar. Di tengah – tengahnya terdapat ranjang yang ukurannya cukup untuk dua orang. Seprei dan selimut dengan warna senada menunjukkan bahwa pemiliknya memang penyuka warna ungu. Hanya berjarak dua langkah, di sebelah kiri ranjang terdapat meja rias. Sedangkan di samping kanan ranjang, sepasang meja dan kursi belajar turut melengkapi. Tak ada kesan mewah. Hanya kesederhanaan yang terawat.

Jika kalian bertanya di mana pemilik kamar ini, dia sedang sibuk mencuci piring dan membersihkan dapur bersama Heechul. Ya, pemiliknya Ryeowook.

Mencoba mengalihkan kejenuhan karena menunggu lama, Siwon mengeluarkan HPnya dan mengotak - atik koleksi fotonya. Sebentar – sebentar matanya melirik ke arah pintu.

Tak berapa lama….

.

~Cklek

.

Pintu terbuka. Menampakkan Ryeowook yang kini bengong.

"Opp… Oppa…" sapa Ryeowook ragu.

Siwon segera memencet tombol reject yang mengakibatkan semua yang tampil di HP tertutup otomatis.

Ryeowook perlahan mendekat. Memilih duduk di kursi sebelah ranjang.

"Ada apa?" kikuk Ryeowook.

Siwon masih memasang tampang tegasnya. Menatap dalam Ryeowook yang balik menatapnya takut.

"Ada yang kau sembunyikan dariku?"

"Maksud… maksud Oppa apa?" walau takut Ryeowook tetap menjawab.

Siwon menarik tangan Ryeowook. Mengajaknya duduk di ranjang berhadapan agar lebih leluasa bicara berdua. Dengan sangat perlahan Siwon mengeluarkan amplop dari sakunya.

Mata Ryeowook terbelalak dan seketika memanas melihat amplop berstempel rumah sakit yang kini sudah berpindah di tangannya. Ketakutannya beberapa minggu ini akan segera terjawab.

"Kau… Sudah membacanya Oppa?" tanya Ryeowook kaku karena melihat amplop yang telah robek. Membuatnya semakin takut.

Sedetik Ryeowook berfikir, dan kembali meletakkan amplop di ranjang.

"Kenapa tidak dibuka?" tanya Siwon dengan nada tegas.

Ryeowook memilih menunduk. Membolak – balik amplop. Dengan pertimbangan membukanya sekarang atau nanti.

"Bagaimana benda ini bisa berada di tangan Oppa?"

"Kau yang terlalu ceroboh." Tegur Siwon seraya menyilakan kakinya. Membuat Ryeowook menegakkan kepalanya. Menatap Siwon menginginkan kejelasan.

"Harusnya kau tidak menyuruh pihak rumah sakit untuk mengantarkan surat hasil tes hamil ke rumah ini. Tadi Appa yang menerimanya dan hampir saja membukanya." Tutur Siwon. Ryeowook terperangah. Tanpa sempat berfikir apa pun, ia langsung membuka amplop itu dan mengeluarkan suratnya.

Siwon tersenyum sejenak memandang Ryeowook yang tengah membaca baris demi baris isi surat. "Tenang saja. Kau tidak hamil."

Ryeowook sibuk menghapus air mata bahagianya ketika membaca baris pertengahan yang menyatakan ia 'negative hamil'.

"Appa tidak tahu apa isi surat ini. Beliau hanya takut kau sakit. Jadi Oppa harap kau bersikap se-sehat mungkin di depan Appa." Nasihat Siwon sembari menangkupkan kedua tangan di pipi Ryeowook.

Ryeowook menangguk meski tak terlalu mendengar. Menggenggam kuat surat. Sedikit mendongak agar bisa menatap Siwon yang memang lebih tinggi darinya, sekalipun dalam posisi duduk.

"Oppa… Sudah memaafkanku?" tanya Ryeowook lirih menahan isakan yang hampir lolos dari mulut mungilnya.

"Hmm…" Siwon mengangguk sambil tersenyum manis. Menampakkan lesung pipitnya. Memeluk Ryeowook yang sudah terlebih dulu memeluknya erat. Tangannya kini terangkat untuk mengelus kepala Ryeowook yang sudah tenggelam manis di dadanya.

"Sssttt… Jangan menangis," bisik Siwon ketika merasakan dadanya basah. Siwon terlalu bodoh jika tidak tau yang membuat dadanya basah adalah air mata.

Ryeowook mengangguk, tapi air matanya tetap tidak mau berhenti mengalir.

Sedikit tersenyum, Siwon mengeratkan pelukannya. Memberikan waktu pada dongsaengnya untuk melakukan apa yang diinginkannya, termasuk menangis.

Selama beberapa waktu tak ada yang berniat membuka mulut. Hanya terdengar suara beberapa hewan malam di luar sana. Jendela yang belum sempat tertutup semakin memudahkan angin malam masuk tanpa penghalang. Menemani dua anak manusia yang saling menghangatkan tubuh satu sama lain lewat sebuah pelukan.

Sebuah pelukan yang terasa istimewa pada salah satu pihak. Dan hanya sebatas pelukan persaudaraan pada pihak lain. Ironis. Siwon sangat sadar akan hal ini.

.

1 menit

.

2 menit

.

4 menit

.

Tangis Ryeowook perlahan mereda. Siwon sedikit merenggangkan pelukannya kemudian menjulurkan tangan, menghapus air mata Ryeowook.

"Oppa mau memaafkanmu. Tapi dengan satu syarat."

Ryeowook terdiam. Entah kenapa tiba – tiba ia berfikir tentang pernyataan cinta Siwon kemarin.

"syarat?" ulang Ryeowook takut.

"Ne."

"Apa?" Ryeowook kini makin takut. Takut syarat yang dimaksud Siwon adalah ….

"Jadilah kekasihku…"

Tak ada hujan. Tapi bagi Ryeowook permintaan Siwon terdengar lebih mengejutkan dari suara halilintar.

"Kau tau kan aku mencintaimu, Ryeowookie?" selidik Siwon Karena Ryeowook hanya diam dan perlahan malah menunduk.

Ryeowook mengangguk. Menyadari mereka adik kakak. Tapi kenapa kakaknya terdengar memaksa seperti ini?

"Tatap aku!" Perintah Siwon sedikit tegas.

Yang diperintah sontak mendongak. Meluruskan tatapannya dengan mata Siwon.

"Kau harus menjadi kekasihku, Ryeowookie!"

"Aku…" ucap Ryeowook sedikit tersendat.

"Hm?"

Ryeowook memutuskan untuk kembali menunduk. Ia tidak akan bisa menjawab jika terus – terusan bertatap muka dengan Siwon. Bingung harus menjawab apa.

"Kenapa tidak dijawab?" suara Siwon sedikit melunak.

Hening.

"Ryeowookie….?"

Diam. Sibuk memainkan ujung rok nya.

Siwon mendengus. "Hufth… Baiklah… Akan ku beri waktu satu minggu lagi. Di pesta pernikahan kekasihmu itu, Oppa harus sudah mendengar jawabanmu."

"Tapi Oppa…" Ryeowook akhirnya bersuara, walau terputus. "Aku…"

"Ssssttttt…." Siwon mengarahkan telunjuknya ke bibir mungil Ryeowook.

"Oppa sekarang tidak membutuhkan jawabanmu. Jawab ini satu minggu lagi. Oppa tidak mau dengar jawabanmu sekarang kalau memang yang Oppa dengar nanti hanyalah sebuah penolakan." Hanya sebentar, telunjuk Siwon kembali turun.

" Sekarang waktunya kau istirahat."

Sedikit dibalikkan tubuhnya, menarik bantal yang sedikit terduduki olehnya. Kemudian menata bantal sejajar dengan tubuh Ryeowook. Mengabaikan guling yang berada di atas bantal ikut terjatuh dan berhenti karena terhalang badannya.

Merasa mendapat angin segar, Ryeowook seketika membaringkan tubuhnya. Tak ingin berlama – lama mendengarkan celotehan Siwon yang justru membuatnya semakin bingung.

Siwon tersenyum. Tak lama kemudian ikut memerosotkan tubuhnya di ranjang. Lebih tepatnya di samping kiri Ryeowook. "Oppa malam ini ingin tidur di sini."

Ryeowook yang hampir saja terpejam kini kembali membuka mata lebar.

"Andwae!" Ryeowook tanpa sadar berteriak setelah memastikan tatapan tajamnya mengarah ke Siwon.

Siwon justru tersenyum. Menampakkan wajah tidak bersalahnya. "Wae?"

"Oppa tidak boleh tidur di sini!"

Ryeowook tak terima.

"Oppa tetap akan tidur di sini."

"Tidak boleh. Oppa punya kamar. Dan ini kamar Wookie… Wookie yang berhak menetukan semuanya." Bela Ryeowookyang terlalu kaget dengan ucapan sesosok manusia yang awalnya dia anggap akan segera pergi setelah ditinggal tidur.

Siwon mendengus.

"Diamlah. Hanya untuk malam ini, lupakan fakta bahwa Oppa menyukaimu."

"Tetap tidak bisa Oppa…" keukeuh Wookie.

"Bukankah dulu kita juga sering tidur berdua?"

Ryeowook yang sudah hampir protes memilih diam. Wajahnya seketika memerah. Ia sangat ingat bagaimana kebiasaan mereka jika sudah tidur berdua.

"Wae? Tak punya alasan untuk membantah lagi eoh?" wajah kepuasan jelas nampak di wajahnya.

"Aish… Diamlah Oppa. Cepat tidur."

Ryeowook memposisikan tubuhnya terlentang dan menegakkan kembali kepalanya ke atas. Tapi sedetik kemudian tubuhnya sudah beringsut memunggungi Siwon. Tak mau Siwon melihat kecemasannya.

Siwon menahan tawa melihat kelakuan dongsaengnya. Sebenarnya dia tidak mau memaksa Ryeowook untuk menjadi kekasihnya. Siwon hanya ingin melihat reaksi Ryeowook. Dan memang benar tebakannya dari awal. Ryeowook kebingungan. Dan bisa dipastikan itu berarti sebuah penolakan.

"Jangan terus melihatku seperti itu." Ketus ryeowook. Tanpa menengok keadaan di belakangnya ia tahu Siwon pasti tengah menatapnya.

"Eh? Kau percaya diri sekali…. Kkkkkk"

"Memang itu kenyataannya! Jangan menertawaiku Oppa!" Bentak Ryeowook. Ia sudah lupa tentang acara minta maafnya dengan Siwon.

"Cepat sekali mood mu berubah eh? Bukankah tadi kau minta maaf? Harusnya kau merayuku. Menuruti semua keinginanku."

Ryeowook menggeram. "Wookie mau tidur."

"Kau lupa kebiasaan kita dari kecil hm?"

.

~deg

.

"Oppa tidak mau melewatkan kebiasaan itu jika kita sedang tidur bersama." Ucap Siwon lembut.

Ryeowook memejamkan mata. Siwon harus melihatnya sudah tertidur.

"Wookie…." Siwon berusaha selembut mungkin.

Ryeowook tetap meneruskan kepura – puraanya.

Dengan sangat lembut Siwon melingkarkan tangan kirinya di pinggang Ryeowook. Perlu sedikit kekuatan untuk menarik pinggang itu sampai terlentang. Tak perlu waktu lama tubuh di sampingnya sudah telentang sempurna. Secara otomatis manik matanya kini menelisik bagian perut Ryeowook ke atas. Meneliti wajah sang Dongsaeng yang kini sedang… tunggu… terlelap!

"Cepat sekali…" gumam Siwon pelan. Lebih pelan dari suara detak jam.

Sekedar memastikan, Siwon mengangkat kepala. Pelan tapi pasti tangannya terjulur menyibak poni Ryeowook yang dia anggap sangat mengganggu.

Tanpa terduga Ryeowook terlihat sedikit berkedip. seketika Siwon memasang senyuman anehnya.

"Sudah tidur ya?" tanya Siwon yang sudah tentu ditujukan pada Ryeowook.

Ryeowook diam. Tak berniat membuka suara.

"Atau hanya pura – pura tidur…. Ummm… karena takut Oppa meminta sesuatu?"

.

~deg

.

"Ani! Wookie tidur!"

Mata Ryeowook membulat seketika menyadari kebodohannya.

Siwon terkekeh, merasa ini sangat lucu. Setidaknya untuk dirinya sendiri.

"Tidur eoh? "

"Oppa rasa yang tadi hanya pura – pura."

Ryeowook memukul – mukul kepalanya pelan.

"Kekekeke…"

Ryeowook mendesis.

"Diam Oppa! Huh!"

Ryeowook melipat tangan di dada. Melampiaskan kekesalan. "Itu sudah sangat lama. Terakhir kita melakukannya Wookie masih kelas 2 SMP dan Wookie belum tau apa – app…. Kyaaaa!"

Kata – kata Ryeowook tiba - tiba menggema menjadi sebuah teriakan ketika dirasanya Siwon sudah lebih dulu menjatuhkan kepala di dadanya.

"Oppa! Ish..."

Ryeowook memerah. Segera didorongnya kepala Siwon menjauh.

"Apa? Aku hanya meminta hak ku."

Tak semudah itu Siwon menyerah.

"Lakukan ini seperti dulu." Bujuk Siwon.

Ryeowook menggeram.

"Tetap tidak bisa Oppa. Kita sudah dewasa."

"Aish… Ayolah Ryeowookie.." pinta Siwon sedikit memelas. Ia sangat merindukan dongsaengnya.

Ryeowook menggeleng. Guling yang sedari tadi bertengger di atas kepala mereka, kini sudah berpindah tempat. Tepat di antara mereka.

Siwon mendecih. Sudah pasti Ryeowook yang merubah guling menjadi benda yang sangat dibenci Siwon, sekarang.

"Ingat. Kita sudah besar Oppa…" tutur Ryeowook sok bijak.

Siwon memutar bola mata. Bosan.

"Oppa belum mau dewasa untuk malam ini."

Digerakkan lengannya merengkuh pinggang Ryeowook yang sudah beringsut hendak memunggunginya. Mengabaikan guling terlindas tangan dan sedikit tubuhnya. Menyebabkan Reowook mau tak mau kembali menghadap Siwon.

Ryeowook benar – benar kesal. Tanpa berkata apa pun ditariknya tangan Siwon hingga terlepas. Dengan wajah memerah, entah karena marah atau malu, Ryeowook turun dari ranjang setelah sebelumnya berhasil menjatuhkan bantal ke lantai.

"Kau mau apa Ryeowookie?" tanya Siwon sedikit cemas.

"Sudah jelas mau tidur." Ketusnya sembari merebahkan tubuh di lantai.

"Oppa tidak mau mengikuti perintah Tuan Kamar(?). Jadi biarkan Tuan Kamar yang mengalah untuk tamu." Imbuh Ryeowook tak kalah ketus dari sebelumnya.

"Kau tidur di lantai?" tanya Siwon sedikit tak percaya.

"Ne, diamlah." Sensasi dingin yang menjalar dari lantai ke kulit, membuat Ryeowook semakin ketus.

Siwon beringsut, sedikit merayap hingga dapat mengintip Ryeowook yang berada di lantai. "Kau marah?"

Ryeowook membuka mata. Menatap kepala Siwon yang menyembul dari ranjang. "Menurutmu?"

Ryeowook kembali menutup mata.

Siwon mendecih. Tanpa pikir panjang ia turun. Hanya butuh waktu seper sekian detik untuk mengangkat Ryeowook kembali ke ranjang tanpa perlawanan berarti.

"Sebenarnya apa maumu?!" Bentak Ryeowook karena merasa sedari tadi terganggu.

"Mauku? Cepatlah tidur. " Siwon kembali naik ke ranjang, kemudian merebahkan diri di samping Ryeowook.

Ryeowook kembali duduk.

"Jangan berpindah tempat." Potong Siwon melihat gelagat tak baik.

Ryeowook menghentikan aksinya untuk turun.

"Cepatlah tidur. Oppa tidak akan minta apa pun dari mu."

Ryeowook seketika tersenyum. Ditatanya guling yang sedikit tergeser untuk membagi ranjang mereka menjadi dua sama besar. Tanpa melepas senyum, Ryeowook menghempaskan tubuhnya ke ranjang.

Kali ini Siwon menyerah. Rasa kantuk sudah cukup menguasai dirinya. Terbukti hanya dalam hitungan detik raganya sudah terbang ke alam mimpi.

Ryeowook mengawasi Siwon. Memastikan Siwon sudah tertidur terlebih dahulu. Diliriknya jam dinding yang sudah menunjukkan jam 12 lebih. Tak berapa lama ia menyusul tidur setelah mematikan lampu karena merasa sudah tidak ada lagi yang mengganggunya.

..

.

.

~Klotak (?)

.

Ryeowook tiba-tiba terjaga. Ia mendengar suara yang cukup mengganggu tidurnya. Diliriknya Siwon yang masih tertidur tenang. Suara apa tadi? Apa mungkin hanya mimpi?

Sedikit ditajamkan pendengarannya.

.

~klotek ~ting (?)

.

Ryeowook yakin tidak mungkin salah dengar. Sumber suaranya berasal dari balkon. Ryeowook sangat yakin dari balkon. Dilihatnya jam dinding yang masih menunjukkan pukul dua. Aish… Baru dua jam dia tidur. Dan sekarang ada lagi yang mengganggu tidurnya? Keterlaluan.

'Tapi… jangan – jangan maling'

Tanpa berpikir panjang Ryeowook turun dari ranjang. Berbekal senter yang dengan cepat berhasil ia keluarkan dari laci, Ryeowook berjalan ke sumber suara. Mengabaikan piyamanya yang sedikit kebesaran menyapu lantai, tanpa ada niatan untuk membenarkannya.

Suara – suara seperti orang tengah membuka jendela semakin terdengar. Sekelebat bayangan hitam berhasil ditangkap Ryeowook dari balik tirai yang membatasi dengan kaca jendela.

Ryeowook mondar – mandir. Berpikir apa yang sebaiknya dia lakukan. Apa perlu dia membangunkan Siwon?

'Tidak tidak'. Batin Ryeowook menjawab pertanyaannya sendiri.

'Akan ku selesaikan sendiri'

Ryeowook berlari ke sudut ruangan. Mengambil sapu yang memang terletak di situ. Secepat kilat ia berlari menuju pintu yang menghubungkan dengan balkon. Diputarnya kunci pelan. Dan membukanya lebih pelan lagi agar tidak terdengar sosok hitam di luar sana yang tengah sibuk berkutat dengan jendela.

Ryeowook berjalan pelan. Mendekati sosok namja yang tengah jongkok, memakai jaket hitam yang dipadukan dengan bawahan jeans abu – abu. Dan jangan lupakan, rambutnya ikal. Membawa besi panjang yang ia gunakan untuk mendongkel jendela.

'Kenapa dia tidak seperti maling - maling di dalam drama? Kenapa tidak memakai topeng dan semacamnya?'

Ryeowook terus bertanya – tanya. Tanpa ia sadari langkah kakinya yang pelan sudah sampai di belakang namja itu. Semakin dekat, ia sepertinya semakin mengenal namja itu.

Tapi apa pun alasannya, namja ini patut untuk dipukul.

"Rasakan ini!" Ryeowook mengangkat gagang sapu tinggi – tinggi.

Namja itu tersentak. Segera ditolehkan kepalanya ke belakang.

"Dasar ma… Kyaaaa~!"

Ryeowook kehilangan keseimbangan karena kaki kanannya menginjak celana tidurnya yang sebelah kiri.

.

~brukk

~Dugh

.

Tanpa permisi tubuh Ryeowook jatuh menimpa punggung namja itu. Si namja meringis kesakitan karena kepalanya terbentur kaca jendela dengan tidak elitnya.

"Awwwhhhmmpphhh…"

Ryeowook melenguh kesakitan namun Si namja yang sedikit ketakutan langsung membalikkan tubuhnya dan membekap mulut Ryeowook menggunakan tangan.

Ryeowook terbelalak lebar setelah melihat dengan jelas siapa namja di hadapannya apa dia kemari?

Sang namja menatap Ryeowook penuh harap. Mengisyaratkannya untuk tidak berteriak. Mulutnya komat – kamit mengucapkan kata 'please' berulang – ulang.

Ryeowook mengangguk pelan setelah merasa agak tenang. Tapi jantungnya belum bisa tenang.

Sang namja segera melepas bekapannya.

"hhh… Kyu?"


TBC

Haloo... Saya mutusin pindah ke FFn lagi #plak. Terkesan plin plan memang. Tapi mo kaya gimana lagi, HP saya ga bisa buat buka blog. Huhu.

Untuk chap ini repost. Udah pernah tak post di blog. Untuk chap selanjutnya menyusul. Mungkin dalam minggu-minggu ini. Mian yah... Trimakasih untuk yang uda nyempetin komen di blog.

*tebar kissu ke reader*

Author bener-benar minta maaf.

Terakhir, ada yang berminat menjadi teman saya?

E-mail : nyna_irham

FB : Nyna Irham Menunggu Wookie (Nina Durrotun Nasikah)

Twitt : NynaSiEpil