Title : A Girl in Love

Chapter : 13

Pairing : Kyuwook slight SiWook/SoeKyu/KiWook

Rated : T

Genre : Romance

Author : Cho Ryeona

KyuWook/SiWook/SoeKyu/KiWook/GS/Chap 13

Hanya dalam hitungan hari, ia lah yang nantinya akan menjadi tersangka utama penghancur hati Kim Siwon, seseorang yang menjadi pelindungnya sedari kecil. Seseorang yang rela memendam perasaannya bertahun-tahun hanya demi kebahagiaan Kim Ryeowook. Satu-satunya orang yang akhirnya memberi lampu hijau hubungannya dengan Kyuhyun dan…. Ryeowook justru menghianatinya. Tidur dengan Kyuhyun? Betapa ini sebuah pukulan berat bagi kakak yang sudah susah payah menjaganya. Tapi… bukan pukulan, bukan juga makian yang Ryeowook dapat akibat kesalahannya. Siwon justru memberikan cinta, kehangatan dan perlindungan tulus yang bahkan bertahan sampai saat ini. Haruskah Ryeowook menyakitinya?


..

^Cho Ryeona^

..

Siwon melepas tautan bibirnya. Ia tak boleh egois. Ciuman selama hampir 15 menit itu terlihat menguras tenaga Ryeowook. Terbukti dari nafasnya yang makin terengah.

Siwon kembali mendekatkan kepalanya, menjilat sisa saliva yang menetes di sudut bibir Ryeowook yang perlahan membuka mata. Kemudian merapikan poni Ryeowook yang sedikit berantakan karena keganasan ciumannya. Membingkai wajah manis itu dan mengecup bibirnya sekali lagi.

Ryeowook hanya diam. Sedari tadi ia hanya menerima tanpa memberikan balasan. Bimbang. Betapa Tuhan akan marah padanya. Hari ini ia berciuman dengan kakaknya sendiri!

"Jaga dirimu baik-baik… Jangan lupa makan, tidur teratur… dan…" Siwon mengelus lembut pipi tirus yang tengah berada dalam genggamannya, "Jadilah Ryeowook yang seperti dulu. Sejak mengenal cinta kau banyak berubah…. lebih banyak diam."

Ryeowook hanya mengangguk. Rasa sesak di dadanya semakin bergejolak ingin keluar. Kenapa Siwon berpesan seolah ia akan pergi jauh?

Perlahan dirasakannya jemari Siwon menghapus jejak air mata yang turun melewati pipi tirusnya. Menghapusnya sebersih mungkin seolah tak ingin ada setetes pun air keluar lagi dari mata sipit Ryeowook.

.

~chuu

.

Siwon mencium kening Ryeowook yang membuat namja di belakangnya semakin gerah karena tak ada penolakan apa pun dari yeoja yang tengah menjadi incarannya. Ia hampir saja keluar kalau saja tak mengingat wajah Seohyun yang tiba-tiba seperti menghantui dirinya.

"Oppa pergi dulu… Kau jaga rumah. Hari ini Appa, Eomma beserta Eonni keluar." ucap Siwon akhirnya. Perlahan dilepaskannya kungkungan pada pipi Ryeowook dan melangkahkan kakinya dengan cepat keluar kamar.

Ryeowook setengah berlari mengejar Siwon. Langkahnya terhenti tepat di depan pintu kamar, seketika tersadar tak akan bisa melakukan apa pun meskipun ia bisa mengejar langkah Siwon yang tengah menuruni tangga dengan cepat. Hanya menatap punggung Siwon yang semakin lama semakin jauh hingga akhirnya menghilang di balik pintu.

"Kau akan pulang kan Oppa?" Ryeowook akhirnya berucap. Pertanyaan yang sedari tadi berkeliaran di kepalanya justru bisa ia katakan ketika Siwon sudah tak mungkin bisa mendengarnya lagi. Pertanyaan itu… Entah kenapa Ryeowoook sangat berat mengucapkannya.

"Kau berhutang penjelasan padaku," suara berat Kyuhyun yang baru saja keluar dari kolong tempat tidur mencoba menginterupsi kegiatan Ryeowook yang membuatnya makin gerah.

"Mwo?"

"Dia kekasihmu?" tanya Kyuhyun yang memang tak suka basa-basi.

"Dia kakak ku,"

"Kau mencintainya?"

"….."

"Kau mencintainya?"

Sekali lagi ryeowook mengusap air mata. Mendudukkan dirinya di ranjang tanpa tahu harus menjawab apa. Telunjuknya tergerak menelusuri bibir bawah.

.

.

Kadang lebih baik menjauh dari dia yang kamu cinta, bukan karena berhenti mencinta, tapi karena harus melindungimu dari luka.

.


..

^Cho Ryeona^

..

"Berhentilah menangis. Aku butuh baju." Ucap Kyuhyun jengkel. Sedari tadi ia hanya melilitkan handuk sebatas pusar sampai lutut.

"Aku sudah tidak menangis." Ryeowook menjawab kaku, menutupi sedikit rasa sesak yang memang masih tersisa. "kau bisa memakai baju Siwon Oppa. Kamarnya tepat di sebelah kanan tangga."

"Siwon lagi Siwon lagi. Tak adakah baju milik orang lain di rumah ini."

"Posturnya hampir sama denganmu. Atau kau juga bisa memakai bajuku kalau mau." Ucap yeoja mungil itu sambil memenceti tombol hpnya.

Kyuhyun melengos gemas. Itu sama saja merendahkan martabatnya sebagai pria sejati. Secepat kilat ia menuruni tangga kemudian kembali ke kamar Ryeowook.

"Cepat sekali." Ryeowook menoleh " Aku bahkan belum selesai mengetik ..mwo?!," iris caramel secoklat madu itu membulat. Mulutnya menganga lebar. Sebuah jeruk pun pasti bisa masuk ke dalamnya.

"Buahahahahaha… " Ryeowook berguling-guling tak karuan. Tawanya pecah. Kakinya menendang-nendang udara. "kkkkkkk…"

Bagaimana Ryeowook tidak tertawa. Kyuhyun yang terkenal cool itu kini tengah memakai pakaiannya. Kaos ketat lengan panjang berwarna abu-abu, dan juga hotpant merah yang kemarin ia cuci.

Oh… Adakah yang lebih lucu dari ini?

Kyuhyun tersenyum tipis, "Setidaknya baju ini lebih baik dari pada aku harus mengenakan baju namja berbadan kubus itu,"

"Kyu.. ah… Buahahahaha…" tak henti-hentinya berguling ke sana kemari. "Hahh… Sudah.. Hahaha… Sudah cukup. Hahh"

"Lucu, hm?" tanyanya tanpa kesal sedikit pun. Didudukkan tubuhnya tepat di samping Ryeowook.

"Aish… Hahaha.. Perutku sakit.. kkkk"

Kyuhyun mengacak rambut Ryeowook gemas. "Aku bahkan tak keberatan kau menertawakaanku sampai tak bisa bergerak sekali pun. Tapi aku akan sangat keberatan jika ada setetes air mata mengalir melalui mata indah ini,"

"Aku… ah lihat. Dadamu rata. Kkkkk"

"Kenapa kau seperti baru pertama kali melihat dadaku?"

"Eh?" Ryeowook terdiam. Bukankah sudah dua kali ia melihat Kyuhyun naked. Seketika pipi Ryeowook merona. Melihat ke arah lain. Dan.. semoga Kyuhyun tak menyadari perubahan yang terjadi pada dirinya.

.


..

Cho Ryeona

..

Hari kedua_

"Aku mau sarapan di kamar ." Ucap Ryeowook tiba-tiba sambil menenteng piring serta gelas susunya. Mengundang tatapan tanya dari appa, eomma serta eonninya.

"Tumben," celetuk Heechul.

Ryeowook hanya mengedikkan bahu kemudian berlari ke kamar.

"Mana makanan untukku?" sambut Kyuhyun ketika Ryeowook meletakkan sepiring makanan dan segelas susu tepat di sebelah labtop yang sedang ia gunakan untuk bermain game. Mereka berdua duduk bersila di lantai.

"Sudah bagus ku beri tumpangan tidur. Masalah makan, apa aku juga yang harus menyiapkan untukmu? Ck." Acuh Ryeowook sambil menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya. Sedetik kemudian ia menggigit daging yang bagi Kyuhyun terlihat sangat enak.

"Aku lapar."

"Kuummhhbushuu umbulsunduruumm.." jawab Ryeowook dengan mulut penuh makanan.

Tak terlalu peduli, Kyuhyun mencomot daging di piring Ryeowook dan memasukkan ke dalam mulutnya. Dengan sekali kunyah, Kyuhyun menghabiskan sepotong daging itu tanpa sisa.

"Yak!" jerit Ryeowook mencubit lengan Kyuhyun. "Kenapa semua dimakan? Aku tidak bisa makan nasi tanpa lauk."

"Jinja?" Liriknya meremehkan.

"Heum," Belum selesai berbicara Kyuhyun merebut piring Ryeowook dan membawanya naik ke atas ranjang. Dengan gerakan cepat ia memakan seluruh nasi di piring itu.

"Ini," ucap Kyuhyun tanpa dosa sembari duduk di lantai kemudian meletakkan piring dengan sisa beberapa potong sayuran di atasnya. "Kau bisa makan sayur nya."

"Ish…" yeoja itu memasang tampang marah. Tapi naluri laparnya memaksanya untuk menghabiskan sisa Kyuhyun.

"hahh…. Kenyang." Kyuhyun mengelus perutnya santai.

"Kenapa kau sangat menyebalkaaann! Kapan kau pulang? Kalu begini aku tidak akan tahan tinggal berlamaa-lama bersamamu. Aarrrgghhh!"

"Tapi sayangnya kau yang selamanya akan tinggal bersamaku."

"Diamlah!"

"Aku serius. Aku menginginkanmu. Dan tak ada yang boleh memilikimu selain aku. Aku sudah berusaha berubah chagi…"

"Ck,"

"Tolong…" Kyuhyun menatap manic mata Ryeowook dalam, "maafkan aku. Aku mau kembali seperti dulu. Awalnya aku memang hanya bermain-main denganmu. Tapi tanpa ku sadari hati ini sudah terlalu terjerat padamu. Aku sadar aku begitu mencintaimu semenjak kita berpisah. Akan kutebus kesalahanku dengan membuatmu tersenyum setiap hari. "


..

Cho Ryeona

..

Hari ketiga_

"Bagaimana harimu tadi di sekolah?" Kyuhyun tak tahan berada di zona diam sejak satu jam yang lalu.

"Baik"

Kyuhyun bangkit dari lantai tempatnya duduk kemudian naik ke atas ranjang "Aku belum melihatmu makan dari tadi,"

"Sudah," jawabnya singkat. Ia hanya melihat sekilas kyuhyun yang keenakan meletakkan kepala di pangkuannya. Kemudian matanya kembali menerawang satu arah.

"Apa sesuatu terjadi padamu?"

"Ani."

"Lalu kenapa kau diam saja? Apa yang kau pikirkan?" Kyuhyun meluruskan pandangannya ke wajah Ryeowook.

"Aku tidak sedang memikirkan apa-apa."

Namja berambut ikal itu meraih dagu Ryeowook lembut, "meskipun Siwon lebih mengenalmu dari pada aku, bukan berarti aku sama sekali tidak mengenal sifatmu. Kalau memang kau sedari tadi tidak melamun, kau pasti tidak mengizinkanku menempati pahamu. Cepat ceritakan apa yang sedang mengganggu pikiranmu."

Ryeowook menghembuskan nafas berat, "Siwon Oppa… Entah kenapa aku berfikir, dia tidak akan kembali lagi ke rumah ini."

"Kenapa punya pikiran seperti itu?"

"Aku tidak tahu Kyu… Kemarin dia banyak sekali berpesan ini itu. Kata-katanya seperti kata-kata perpisahan." Ryeowook menutupkan kedua tangan di wajahnya kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya. Berusaha membuang jauh-jauh pikiran buruk.

"Ish… Dengarkan aku." Kyuhyun menarik tangan Ryeowook, menyebabkan pandangannya beradu dengan yeoja berpipi tirus itu. "Dia tidak bilang tidak akan kembali kan? Itu artinya dia pasti pulang."

Ryeowook mengangguk meskipun dalam hatinya sangat sulit untuk percaya.

"Cobalah untuk percaya padaku." Ucapnya seperti sudah bisa membaca pergolakan hati Ryeowook. "Sudah jam 10. Waktunya tidur."

Kyuhyun turun dari ranjang, menenteng bantal. Merebahkan dirinya di lantai beralaskan karpet.

"Naiklah. Nanti kau sakit. Sampai kapan kau akan terus tidur di lantai?"

"Sampai kita menikah. Baru aku tidur di ranjang bersamamu. Selamat malam chagi…"

Ryeowook mematikan lampu sesaat setelah Kyuhyun memejamkan mata, "selamat malam.."


..

Cho Ryeona

..

Hari keempat_

~kriiiiiiinggg!

Ryeowook meraih jam beker tanpa melihat. Dimatikannya dengan cepat tanpa perlu berpikir. Sedetik kemudian badannya menggeliat nikmat.

"Hoaaaaammbbb…"

"Bangun Kyu…" lenguhnya malas. Dibukanya selimut kemudian menurunkan kakinya terlebih dahulu.

"Eh? Dimana anak itu?" ia seolah bertanya pada angin. Sesuatu berwarna merah terlihat jatuh bersamaan dengan gerakan tubuhnya turun dari ranjang.

Mawar.

Sepertinya benda itu tadi jatuh dari atas selimut Ryeowook.

Ryeowook terkekeh pelan begitu menyadari siapa pengirimnya. Bukan sebangsa jin atau hantu yang memberitahunya, melainkan karena sepucuk kertas bertuliskan 'Selamat pagi Cho Ryeowook'. Sudah cukup memberinya petunjuk tanpa berpikir terlalu lama.

"Ini bahkan lebih romantis dari pada dulu saat kita saling memiliki."

Ryeowook masuk ke kamar mandi setelah menyematkan mawar itu di tempat pensil, di meja belajarnya. Tempat yang sangat strategis untuk dilihat.

Sementara namja jangkung di belakang korden hampir saja terlonjak saking bahagianya. Ia tak menyangka pemberiannya akan menempati singgasana yang begitu mulia. Ia bahkan berfikir Ryeowook akan mengacuhkan, atau mungkin akan membuang pemberiannya melalui jendela ataupun tempat sampah. Sambutan ini sangat sebanding dengan perjuangannya di pagi buta. Memetik bunga mawar di pekarangan rumah tetangga saat semua masih terlelap.

Bukankah ini kasus pencurian? Kkkkk.

Biarlah. Ini urusan namja jangkung itu dengan Tuhannya.

.

.

.

Donghae sedikit berkerut mendapati Ryeowook berwajah sangat cerah. Tak tahu kenapa.

"Kau, ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Donghae akhirnya, "Kemarin kemarin murung. Sekarang seceria ini." Donghae merasa, rasa penasarannya harus diungkap melalui kata – kata. Bagaimana tidak? Ryeowook sedari tadi berlarian tak jelas dari bangku ke bangku hanya untuk menjahili teman-temannya. Sekedar mencoret bolpoin di lengan, atau pun mencubit pipi teman yeojanya satu persatu.

Kibum hanya diam. Meski sorot matanya tak pernah lepas dari Ryeowook.

"Aku baik-baik saja. Kkkk." Jawab Ryeowook semakin ceria.

Donghae yang berniat membantah seketika menutup mulutnya demi mendengar derap langkah segerombol wanita memasuki kelasnya. Terhitung Sembilan gadis berseragam melewati pintu masuk satu persatu. Mereka menatap angker. Terlebih saat mendapati sosok Ryeowook.

Salah satu di antaranya mendekat. Mencium bau tubuh Ryeowook dari rambut – dada – hingga punggung.

"Yak! Seohyun-ssi, bersikaplah sedikit sopan!" Hardik Donghae yang ternyata mengenal sosok pengendus bau itu yang membuat Ryeowook ketakutan.

Kibum yang duduk di belakang Ryeowook mengernyitkan kening. Menatap yeoja itu dengan ekspresi 'bukankah harusnya dia sudah keluar dari sekolah?'

"Katakan dimana Kyuhyun?!" Yeoja yang bernama Seohyun itu menarik kerah seragam Ryeowook.

Ryeowook tergagap "Aa… aku tidak tahu," wajah putihnya memucat. Bak mayat hidup karena rasa takut bercampur bingung.

.

Plakk~

.

"Akhhh!"

"Jessica Jung!" Donghae seketika berdiri. Menatap nanar penampar pipi Ryeowook. Dia sangat tidak menyangka ratu kecantikan di sekolah ini ternyata bisa berlaku sedemikian kasarnya.

"Apa?! Kau mau membela perebut calon suami orang?!"

Satu buah tamparan kembali dilayangkan Jessica. Menghujam pipi Ryeowook, hingga akhirnya sebuah tangan menggenggam erat pergelangannya.

Kibum.

"Kau?"

"Katakan apa maksud semua ini?" Kibum masih dengan ekspresi datarnya. Meski semua orang di dalam kelas turut tegang. Terlebih Ryeowook.

"Kyuhyun menghilang. Dan aku mencium bau Kyuhyun di tubuh yeoja jalang ini. Kyu pasti ada bersamanya." Seohyun kelewat marah. melepas kasar kungkungannya di kerah Ryeowook.

Ryeowook meringis memegangi punggungnya yang terhempas di senderan kursi karena dorongan Seohyun.

"Ck. Jadi hanya karena bau?"

"Hei murid baru! Aku dengar kau sangat jenius. Apa kau lupa bahwa indra penciuman orang yang sedang hamil itu sangat kuat?" Sahut sosok mungil di belakang seohyun. Semua murid di sekolah mengenalnya. Tiffany.

"Tak bisakah bertanya baik – baik?" Donghae melerai. "Apa harus dengan cara kasar seperti ini?"

"oh.. baiklah." Seohyun tersenyum meremehkan, "Jadi cepat jawab Ryeowookie yang manis… Dimana Kyuhyunku?"

Yeoja yang tengah ketakutan itu menatap Donghae – Kibum bergantian. Ia sedikit bimbang untuk beberapa saat.

"aaa… aku tidak tahu,"

"Aku harap kau jujur," bukan Seohyun. Melainkan kibum. Pernyataan ini keluar dari mulut Kibum. Seketika Ryeowook menatap Kibum dalam. Ia menemukan ketidak percayaan Kibum lewat sorot matanya.

"iii…itu… baiklah… aku tahu dimana Kyuhyun,"


.

.

.

Cho Ryeona

.

.

Ruangan bernuansa ungu itu kini terlihat sepi. Tak ada pertengkaran mulut seperti beberapa hari sebelumnya. Ryeowook duduk diam mematung di ranjang dengan seragam lengkap. Baru saja ia pulang sekolah. Mendapati kamarnya seberantakan ini. Buku berserakan, meja kursi roboh, selimut bantal tak lagi menempati tempat asalnya. Terlebih bercak darah di karpet_tempat yang biasa ditiduri Kyuhyun_ Jujur, Ryeowook benar – benar merasa khawatir.

"Mianhae Kyu…"

Entah insiden apa yang terjadi di kamarnya.

Pikiran gadis manis itu menerawang entah kemana. Tubuhnya memang di sini. Tapi pikirannya?

Ohh… Dia benar – benar menyesali kebodohannya. Kalau bukan karena kejujurannya tadi, Kyuhyun pasti masih berada di sini.


..

Cho Ryeona

..

.

Hari kelima_

Ryeowook memutar – mutar tangkai mawar yang hampir layu di tangannya.

"Ternyata enam hari itu sangat cepat," sejenak ia tersenyum miris.

"Dan secepat itu pula kau menghidupkan kembali cinta dalam hatiku. Aku hampir bisa melupakanmu. Kalau saja… kau tidak datang lagi."

.

'Dua kali sudah kita terpisah. Entah aku atau pun kamu… salah satu dari kita pasti menghancurkan ikatan kita.

Dulu…. Kau sengaja melepasku.

Kemarin… Karena ketakutanku aku melepasmu untuk kedua kalinya.

Sudah cukup.

Ini takdir Tuhan

Kurasa kita memang tidak bisa bersama.'

.

"Chullie.." panggil Ny. Kim pelan. Takut sosok yang sedang diintip mendengar suaranya.

"Ne eomma?" sahut Heechul tak kalah pelan.

"Wookie… kasian sekali dia."

Heechul bahkan sempat menitikkan air mata. Mereka tengah berdiri di depan kamar Ryeowook. Mengintip kegiatan Ryeowook dari pintu yang sedikit terbuka.

Heechul dan Ny. Kim juga yang menjadi saksi. Segerombolan bodyguard kemarin memasuki paksa rumah mereka dan menanyakan dimana kamar Ryeowook. Entah apa yang terjadi di dalamnya. Keduanya hanya mendengar suara benda – benda terbanting. Beberapa menit kemudian, Kyuhyun dibopong keluar kamar dalam keadaan pingsan.


.

Cho Ryeona

.

Hari keenam

"Ummaaa! Tunggu akuu!"

Seru Ryeowook sambil menuruni tangga. Mengejar Appa, Eomma serta Eonninya yang hampir saja keluar meninggalkannya sendiri di rumah.

Heechul mengerutkan kening sekilas, sedikit heran melihat Ryeowook mengenakan gaun berwarna putih bersih dipadu dengan sepatu flat berwarna senada. Rambut secoklat madu ia gerai serapi mungkin,dan juga… make-up minimalis.

"Kau mau ikut?" tanya heechul dengan tatapan herannya.

"tentu saja. Kyuhyun itu temanku. Mana mungkin aku tidak datang ke pesta pernikahannya. Hehe.."

"Kau yakin?"

"Ish eonni… Apa dandananku kurang meyakinkan? Huh. Tentu saja aku ikut,"

"Ternyata anak eomma sangat cantik." Ny. Kim menyahut meski sedikit keluar dari topic.

"Jinjaa? Hihi…" Ryeowook nampak memerah kegirangan. "kajja! Kita berangkat!" Seru Ryeowook sambil menggandeng tangan Appanya.

Ny. Kim terbelalak. "yak! Ini bagian eomma." Sergah Ny. Kim. Ia menarik tangan Ryeowook dan menggantikan dengan tangannya sendiri. "Bagianmu, nanti ada di sana. Kim Kibum. Eommanya tadi sempat menelfon, dia bilang namja itu menunggumu di parkiran."

"mwo?!"

"Cie cieee…Ehem!" Heechul mencubit lengan Ryeowook.

"Yakk! Appo!"

Semua terkikik. Tak terkecuali Heechul. Ia sangat bangga dan juga heran. Mood Ryeowook cepat sekali berubah, pikirnya.

.

.

Ruangan yang tidak bisa dikatakan sempit itu kini sudah penuh dengan pria berjas hitam dan wanita bergaun warna-warni. Lima buah meja panjang ditata di tengah ruangan, untuk meletakkan beraneka makanan dan minuman untuk para tamu. Kue pengantin terlihat menjulang tinggi di sampingnya.

Ya, inilah kediaman Cho Kyuhyun. Di sana tengah berlangsung pesta pernikahan sang empunya rumah dengan Kim Seohyun.

Siwon terpana. Sejenak ia hampir tersedak. Buru – buru ia menjauhkan gelas yang beberapa detik lalu menempel di bibirnya. Sosok yang dinantikannya sudah tiba. Dia terlihat sangat cantik dengan balutan putih salju.

"Waaahh… dia bahkan lebih manis dari pada pengantin yeoja" celetuk seorang tamu namja yang memiliki gummy smile.

Siwon tersenyum kecil mendengar celoteh namja itu yang kebetulan berdiri di depannya.

Tapi…. Senyum Siwon sedikit demi sedikit memudar.

'siapa namja yang berjalan bersamanya?'

.

.

_Seohyun POV_

"Waaahh… dia bahkan lebih manis dari pada pengantin yeoja…."

'mwo?! Ck. Yeoja itu lagi? Sampai kapan aku kalah saing dengannya.'

Aku melirik suamiku. Dan pemandangan menyakitkan ini dimulai. Dia bahkan sama sekali tak melirikku. Kenapa semua menyukainya?

Lihatlah! Semua orang melihat ke arahnya.

Hey! Ini pestaku!

"Kyu…" lirihku. Namun dia tak bergeming.

"Kyu…." Sekali lagi aku memanggilnya.

"…."

"Lihatlah aku… sebentar saja,"

Dia menoleh. Sekilas. Kemudian kembali lagi.

Raganya memang berdiri di sampingku. Tapi hatinya?

Sejak kemarin ia menolak bicara denganku. Ini pasti gara-gara yeoja itu.

'Aku harus melakukan sesuatu…'

Di tengah ketidak pedulian semua orang di ruangan itu, aku berlari ke atas. Menaiki tangga satu persatu. Hingga sampailah aku di depan kamar Kyuhyun. Aku masuk ke dalam dan menemukan handphone Kyuhyun tergeletak tak berdaya di atas ranjang.

Tanganku gatal ingin menuliskan sebuah pesan. Ku cari nomornya di kontak kemudian mulai mengetikkan sejumlah karakter.

..

.

_Author POV_

"Siwon-ah, bagaimana kabarmu?" sapa tuan Kim ketika Siwon mendekati keluarga lamanya itu.

"Appa, aku baik-baik saja." Jawabnya sembari menjabat tangan ayahnya kemudian memeluk sang eomma dan juga Heechul. "anak eomma cantik sekali,"

Siwon mengamati Ryeowook dari atas sampai bawah. Tersenyum sangat manis. Menampakkan lesung pipitnya. Membuat Ryeowook yang memang sangat merindukan kakaknya, tak tahan untuk menghambur ke pelukannya. Mau tak mau mengundang tatapan waspada dari Kibum yang sedari parkiran berjalan mendampingi Ryeowook.

~drrt drrrrrt

Ryeowook melepas pelukan. Membuka tasnya dan mengeluarkan handphone nya.

.

From : Kyuhyun

Naiklah ke atas. Aku ingin berbicara sesuatu yang sangat penting.

.

Ryeowook menimang handphone nya. Menimbang apakah harus naik atau tidak. Matanya mengekor ke seluruh ruangan. Pandangannya mendingin, beradu dengan mata Kyuhyun yang tengah menatapnya, seolah berkata 'aku mohon…'

'aku juga harus mempertegas perpisahan kita'

Setelah melalui pemikiran panjang, Ryeowook memasukkan kembali handphone nya ke dalam tas, "aku ke kamar kecil sebentar," pamit Ryeowook.

"Aku antar…." Tawar Siwon-Kibum serentak.

Ryeowook tersenyum sebentar kemudian menggeleng, "Tidak perlu,"

Gadis mungil itu buru-buru menyelinap ke dalam kerumunan tamu. Menaiki tangga sampai atas. Alangkah terkejutnya ketika ia menemukan sosok Seohyun di situ.

"Tak perlu sekaget itu. Cih… Terbukti kan kau masih mau meladeni suamiku. Dasar jalang!" Yeoja berpakaian serba putih itu menggertak. Berjalan perlahan mendekati tubuh Ryeowook.

"bukan begitu Seohyun-ssi…. Aku hanya…. Hanya ingin memperjelas status perpisahanku dengan Kyuhyun. Itu saja," Ryeowook bergerak mundur. Satu langkah saja ia sudah menabrak pagar pembatas.

Seohyun mengeluarkan senyum iblisnya. Entah senyum itu ia pelajari dari siapa. Gerakan kakinya berubah setengah berlari. Posisi tangannya siap mencekik makhluk di hadapannya.

"Matilah bersama kebohonganmu!" Seohyun benar-benar berlari sekarang. Menubruk gadis yang sedikit lebih pendek darinya.

~AAkkhhh!

.

"Ryeowookiiiieeeeeeee!"

.

~Bugghhhh

.

Bagai sebuah flashback, pikiran Kyuhyun kini melayang-layang. Wajahnya memucat, jantungnya berdetak di atas normal. Rasa takut, sedih, seolah membekukan syarafnya. Ia lemas, rasa gemetar menyerang seluruh persendian tubuhnya.

Sosok yeoja bergaun putih tersungkur bersimbah darah dalam posisi tengkurap. beberapa detik lalu ia telah jatuh dari lantai dua.

.

END

.


Annyeoooongg! Hello! Masi ada yg inget kah ama ni FF . kkkkk. Aku aja ngetiknya harus baca ulang chapter 12.

Terimakasih banyak untuk semuanya. Dan mian, lagi buru-buru, ga bisa nyebutin satu2. hehe.

Sekali lagi maaf yah?

*chapter apaan in?* *pundung*