Disclaimer : Saint Seiya punya Masami Kurumada-sensei dan Beauty and The Beast punya Disney.


.

Saint Seiya's Beauty and The Beast

Chapter 1

.


Pagi itu, seorang gadis berambut hijau dengan baju terusan putih selutut keluar dari rumahnya dengan riang. Di tangan kirinya terdapat sebuah tas tangan berwarna coklat yang terisi penuh dengan buku-buku dongeng. Dia akan pergi ke panti asuhan tempatnya bekerja dan membacakan buku-buku itu pada anak-anak yang berada disana.

"Selamat pagi, Shun," sapa orang-orang ramah saat Shun masuk ke dalam bangunan panti asuhan. Shun pun membalasnya dengan ramah tanpa tahu kalau mereka sering membicarakan kakak laki-laki Shun yang semua orang dalam kota kecil itu bilang gila. Mereka juga mengasihani Shun karena hal itu tanpa menunjukkannya.

Siang itu, Shun pun memulai aktifitasnya sebagai pendongeng. "Baiklah, hari ini nee-chan akan menceritakan tentang putri yang terperangkap di dalam menara dan seekor naga."

Semua anak yang duduk di hadapan Shun menyambutnya senang, ada yang melayangkan tangannya di udara, ada yang berteriak senang, dan banyak lagi. Shun meminta mereka semua untuk duduk diam dan memperhatikannya.

"Pada jaman dahulu ka-"

Pintu panti asuhan itu terbuka dengan sangat keras sehingga Shun harus menghentikan kegiatannya. Anak-anak yang ada di sana berlari kebelakang Shun yang duduk di sebuah kursi kecil karena kaget.

"Jadi kamu disini, Shun." Seorang pemuda berambut coklat gelap muncul dari balik pintu dan berjalan mendekati gadis berambut hijau yang sudah berdiri, merentangkan tangan kanannya sehingga terlihat melindungi anak-anak kecil itu. "Aku sudah mencarimu kemana-mana."

"Apa yang kamu inginkan, Seiya?" Tanya Shun tenang seperti dia yang biasanya walaupun dia agak sedikit kesal karena kegiatannya terganggu. Dia juga tidak ingin menambah ketakutan anak di belakangnya.

"Tidak ada gunanya kamu bekerja disini, Shun. Membacakan buku dongeng tak berguna untuk anak-anak yang kamu tidak kenal," jawab Seiya. "Bagaimana kalau kamu memfokuskan perhatianmu pada hal yang lebih penting? Seperti aku?"

"Maaf, Seiya. Aku sibuk sekarang. Mungkin kita bisa bicara lain kali," kata Shun mulai menaikkan nadanya dalam nada yang masih cukup aman. Tapi nada itu sama sekali tidak membuat Seiya menyerah.

Pemuda itu menarik tangan Shun sampai keluar bangunan. "Bagaimana kalau kamu ikut denganku agar aku bisa memperlihatkan koleksi penghargaan yang aku dapat?"

"Tidak, aku tidak bisa."

Terdengar suara bisikkan dari dekat sana. "Ada apa dengan Shun?" Tanya seorang gadis berambut biru gelap pada dua orang temannya.

"Dia baru saja menolak Seiya. Bagaimana mungkin dia bisa melakukan itu disaat orang lain berlomba-lomba untuk bisa dekat dan mendapatkannya?" Tanya gadis berambut jingga sepunggung cukup kesal.

"Seiya sangat tampan dan hebat," kata gadis berambut ungu panjang dengan mata berbinar-binar. Kedua temannya pun mengikuti.

"Maafkan aku, Seiya, tapi aku harus menyelesaikan pekerjaanku. Seperti yang aku bilang tadi, aku sibuk." Shun melepaskan genggaman Seiya dari tangannya. Dia kembali masuk ke dalam panti asuhan dan menutup pintu kayu itu. "Maaf anak-anak, mari kita lanjutkan."

Anak-anak yang tadi ketakutan pun segera keluar dari tempat persembunyian mereka dan duduk di posisi mereka yang semula.

Dua jam berlalu dan sekarang saatnya Shun pulang ke rumah. Dia membuka pintu panti asuhan, mengeluarkan sebuah buku yang sudah ia baca dua kali dari tasnya, dan membacanya sambil berjalan.

Shun menghindari semua yang menghalanginya dan berhenti saat buku yang ia pengang itu menghilang secara mistis. Dia mengangkat wajahnya dan melihat Seiya berdiri di depannya sambil membalik-balik halaman buku itu.

"Bagaimana kamu bisa membaca ini? Tidak ada gambar," kata Seiya yang masih membalik-balik halaman buku itu.
"Banyak orang yang menggunakan imajinasi mereka bukan kekuatan sepertimu," jawab Shun yang menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Bisa kembalikan bukuku sekarang?"

Seiya menutup buku itu dan melemparnya ke belakang. Buku itu jatuh ke atas genangan lumpur. "Tidak ada gunanya kamu membaca buku ini. Seperti yang kubilang tadi, lebih baik kamu memfokuskan perhatianmu pada hal yang lebih penting, yaitu aku," kata Seiya tanpa rasa bersalah.

Shun segera mengambil bukunya dan mengelap lumpur yang menempel pada hard covernya. "Katamu. Seperti yang aku bilang tadi, hanya mengunakan kekuatan."

Seiya menarik Shun dan melingkarkan lengannya pada bahu Shun. "Kamu tidak sibuk, 'kan? Ayo ikut aku," kata Seiya yang mengabaikan komentar Shun.

"Tidak bisa," jawab Shun, melepaskan rangkulan Seiya.

"Apa lagi kali ini?" Tanya Seiya memutar bola matanya lelah. Sesaat kemudian muncul sahabat Seiya, Jabu.

"Aku harus membantu nii-san di rumah," jawab Shun, memasukkan bukunya ke dalam tas.

"Koki gila itu? Dia memang membutuhkan segala bantuan yang ada," kata Jabu dan kedua pemuda itu tertawa.

"Diam! Jangan bilang nii-san gila!" Teriak Shun kesal. Seiya memukul kepala Jabu dan meneriakkan hal yang sama. "Dia tidak gila, nii-san itu jenius."

"Ya, hanya kamu yang bilang begitu," kata Jabu, memegang kepalanya yang di pukul tanpa perasaan oleh Seiya.

"Terkadang nii-san memang berlebihan, tapi nii-san tidak gila!"

Tiba-tiba terdengar suara ledakan dari rumah Shun. Seiya dan Jabu tertawa kencang, tapi Shun segera berlari ke arah ruang bawah tanah tempat nii-sannya berada.

"Nii-san! Nii-san tidak apa-apa, 'kan?" Dia mengambil tabung silindris berwarna merah berisi busa untuk memadamkan api dan masuk ke dalam ruang bawah tanah yang berisi dapur itu. "Nii-san!"

Dapur itu di penuhi oleh asap hitam, tapi Shun masih bisa melihat kompor yang terbakar hingga ia segera memadamkannya lalu membuka jendela agar asapnya keluar.

"Shun." Setelah asap itu hilang, Shun bisa melihat wajah hitam kakaknya.

"Nii-san baik-baik saja?" Tanya Shun cemas, dia segera membantu kakak berambut birunya itu berdiri.

"Aku baik-baik saja, hanya tidak bisa menemukan resep yang benar untuk bumbu yang ingin nii-san buat," jawab Ikki yang terbatuk-batuk.

"Itu bukan berarti nii-san bisa melempar apa saja ke atas sana." Shun menunjuk kompornya yang hangus. Ikki memang sangat suka bermain api. "Aku bisa membantu kalau nii-san mau."

"Tidak, aku harus melakukannya sendiri. Festivalnya akan berlangsung lima hari lagi dan aku harus segera pergi kesana sesegera mungkin setelah aku berhasil membuatnya sempurna," jawab Ikki yang kembali melanjutkan aksi pembuatan bumbu.

Shun tersenyum pada kakaknya itu. "Aku yakin nii-san bisa menyelesaikan bumbu itu tepat pada waktunya."

"Benarkah? Kamu yakin?"

"Aku selalu yakin pada nii-san," jawab Shun yakin dengan senyuman dan Ikki pun membalas senyumannya.

"Baiklah, aku harus segera membuatnya." Ikki mengambil mangkuk cukup besar dan mulai mencampurkan bahan-bahan kedalamnya. "Jadi, bagaimana harimu di kota?"

"Great, aku membacakan banyak dongeng pada anak-anak hari ini," jawab Shun senang tapi kemudian dia menghela nafas. "Nii-san, apa aku ini aneh?"

"Aneh?" Tanya Ikki bingung. Dia mencampurkan bahan lainnya ke dalam mangkuk. "Kenapa kamu berpikir kalau kamu aneh?"

"Aku tidak tahu, aku hanya berpikir aku tidak cocok berada disini dan tidak ada seorang pun yang bisa aku ajak berbicara," jawab Shun, bersandar pada dinding di dekat kakaknya.

"Bagaimana dengan Seiya? Dia terlihat tampan," kata Ikki yang mulai menumis.

"Dia memang tampan, tapi dia itu tidak baik dan sangat egois. Apa lagi pengikutnya, Jabu." Tidak ada yang berbicara saat itu, hanya suara makanan yang berada di atas penggorengan sampai kakaknya kembali berbicara.

"Hmm..." Ikki mengangguk dan memasukkan kecap kedalam masakannya. Setelah itu dia mengambil makanan itu dengan sendok dan memberikannya pada Shun. "Kali ini pasti berhasil. Coba, Shun."

"Ini enak sekali, nii-san. Nii-san pasti bisa memenangkan kontes memasaknya," kata Shun senang dan Ikki mencobanya juga.

"Enak. Aku berhasil melakukannya, Shun." Dia memeluk adik satu-satunya itu. "Kalau begitu aku harus segera pergi ke sana sekarang." Dia melepaskan pelukkannya dan mempersiapkan yang akan ia bawa.

"Ya." Mereka berdua keluar dari sana dan mengambil kuda mereka yang berada di kandang. Ikki pun menaiki kuda itu.

"Jaga dirimu baik-baik, Shun."

"Tenang saja, nii-san. Have a safe trip," kata Shun melambaikan tangannya pada sang kakak yang yakin akan memenangkan kontes dan merubah kehidupan mereka berdua.

Setelah beberapa lama berjalan, Ikki sampai di tengah hutan dan di perhadapkan dengan persimpangan. Di antara persimpangan itu terdapat papan petunjuk yang sudah tidak bisa di baca.

"Jalan ini," kata Ikki yang menunjuk jalanan gelap yang cukup menakutkan. Kudanya melihat ke arah lain yang cukup cerah dan tampak aman. Kuda itu baru saja akan berjalan saat Ikki menariknya. "Bukan jalan itu, yang ini. Aku yakin."

Kuda itu pun terpaksa mengikuti keinginan tuannya dan berjalan memasuki jalan menyeramkan itu. Setiap langkah yang mereka ambil, semakin gelap dan menyeramkan jalan yang mereka lalui itu. Kudanya berhenti saat mendengar lolongan serigala. Serigala-serigala itu muncul dan kuda itu pun segera berlari kencang. Dia berhenti saat mencapai tebing dan menengok kebelakang. Ikki menarik nafas lega saat serigala itu tidak ada.

"Mungkin kita harus kembali ke persimpangan itu lagi," kata Ikki pada kudanya. Mereka berbalik, tapi serigala-serigala itu muncul lagi. Kuda yang kaget berdiri pada kedua kaki belakangnya, membuat Ikki jatuh sebelum dia berlari pergi. "Tunggu!"

Kuda itu tetap berlari dan para serigala mengikutinya. Ikki pun berdiri karena tidak ada pilihan lain selain berjalan dari sana. Tidak lama setelah itu ia kembali mendengar lolongan serigala dan berlari saat melihat banyak serigala berada disana.

Ikki tersandung akar pohon dan terguling. Dia mengangkat wajahnya dan melihat sebuah pintu gerbang yang berada di depan sebuah mansion yang gelap dan cukup menakutkan.

.

.

To be continue..

.

.

A/N : Chapter 1! Sesuai janji Glace minggu lalu, chapter ini pun di post hari minggu ini. Glace buat Shun jadi cewek disini karena Glace belum yakin buat pairing boyxboy. Tidak apa-apa kan? *pundung di pojokan*

Karena minggu ini Glace libur, Glace akan coba update lebih cepat lagi. Doa kan saja Glace tidak sibuk dengan PR yang cukup menumpuk. Glace juga masih menunggu kalian-kalian yang ingin memberi ide untuk Haunted House. Ja, mata na. ^^/