Disclaimer : Saint Seiya punya Masami Kurumada-sensei dan Beauty and The Beast punya Disney.
Warning : OOCness.
.
Saint Seiya's Beauty and The Beast
Chapter 2
.
Suara lolongan serigala terdengar mendekat, Ikki segera berlari menuju gerbang mansion itu. Dia mendorong pintu besi itu, tapi pintu itu tidak mau terbuka. Ikki menghentikan aktifitasnya itu dan tiba-tiba saja pintunya terbuka hingga Ikki yang menyandarkan punggungnya pada pintu itu terhjatuh kebelakang, masuk ke dalam mansion itu. Dia melihat kumpulan serigala itu mendekat dan mendorong pintu itu dengan kakinya sebelum masuk ke dalam mansion itu dengan ragu.
Pintu bangunan mansion itu terbuka dan dia pun berjalan masuk. "Halo? Apa ada orang?" Tanyanya di dalam bangunan gelap yang sunyi itu. Dia mendengar beberapa suara kecil di sana tapi menyimpulkan itu hanya imajinasinya saja.
"Diam saja dan mungkin dia akan pergi."
"Tapi!"
"Shh.. Tuan akan-"
"Halo? Maaf kalau aku masuk tanpa permisi, tapi bolehkah aku bermalam disini? Kudaku hilang dan hujan turun cukup deras," katanya dengan sedikit ragu dan gemetar.
Di atas sebuah meja kayu berwarna coklat tua terdapat sebuah tempat lilin dan jam. Lilin itu melihat jam di sebelahnya. "Saga, berbaik hatilah padanya," kata lilin itu dengan suara yang cukup keras.
"Shh!" Jam itu, Saga, menutup mulut lilin itu dengan tangannya. Si lilin tidak suka dan mendekatkan tangannya dengan api yang menyala pada tangan Saga.
"Ow!" Saga melompat kebelakang dan mengibas-ngibaskan tangannya yang terbakar di udara agar api itu padam. Si lilin tersenyum dan menjawab pertanyaan Ikki. "Tentu saja, tuan. Silahkan."
"Siapa itu?" Tanya Ikki yang cukup kaget dan mengambil lilin di atas meja itu.
"Disini."
"Dimana?" Ikki bertanya seraya melihat ke kanan dan ke kirinya, kemudian dia merasa ada yang menyentuh tangannya. Dia melihat lilin itu lebih dekat dan melihat lilin itu tersenyum.
"Halo," kata si lilin. Ikki yang kaget langsung melepaskan lilin itu dari tangannya. Si lilin terjatuh ke lantai dan sedikit merintih kesakitan. Tedengar suara lain dari meja kayu itu. "Bagus, Aiolos. Sekarang apa yang harus kita lakukan?"
Ikki melihat jam itu tidak percaya lalu mengambilnya, mengamatinya dengan membalik-balik jam itu. "Jam yang bisa berbicara?"
"Ya, aku bisa berbicara. Sekarang turunkan aku," kata sang jam lalu dia pun di turunkan oleh Ikki. Sesaat kemudian pemuda berambut biru gelap itu bersin karena kedinginan.
Aiolos terlihat cemas. "Bagaimana kalau kamu masuk dan hangatkan dirimu? Mari, ikuti aku."
Mereka berdua pun berjalan masuk ke dalam sebuah ruangan dengan jam bernama Saga yang mencoba menghentikan mereka dengan berbagai cara, termasuk menarik jubah Ikki.
Aiolos mempersilahkan Ikki duduk di sebuah kursi yang tepat berada di depan perapian. "Tidak, jangan kursi itu!" Teriak Saga, tapi tidak ada yang mendengarnya.
Sebuah bantal kaki berlari kencang ke arah Ikki dan berhenti di salah satu lengan kursi. Ikki mengelusnya sebelum benda itu memposisikan dirinya di bawah kaki Ikki. Sebuah tempat penggantung coat memberikan selimut pada Ikki.
Ikki hanya terdiam dan menarik selimut itu agar bisa menghangatkan tubuhnya.
"Ini semua sudah cukup! Aku yang mengatur semuanya disini dan kalian harus mendengarkanku!" Teriak Saga yang tak lama kemudian di tabrak oleh sebuah kereta dorong dengan sebuah teko dan cangkir di atasnya.
"Apa Anda ingin secangkir teh, tuan?" Tanya si teko pada Ikki yang mengangguk dan menerima cangkir yang melompat ke arahnya.
"Tidak ada teh, Mu, Kiki. Tidak ada!" Kata Saga dan tentu saja di abaikan.
"Sebenarnya apa yang terjadi disini?" Tanya Ikki bingung setelah menghabiskan teh pada cangkir itu. "Kenapa kalian bisa berbicara dan bergerak sendiri?"
Ikki tidak mendapatkan jawaban yang ia ingin ketahui karena pintu ruangan itu terbuka dengan keras. Angin kencang memadamkan api yang ada pada Aiolos dan perapian. Saga berlari dan bersembunyi di bawah karpet merah ruangan itu. Kiki bersembunyi di belakang Mu. Tubuh Ikki mulai bergetar saat mendengar sebuah suara kencang yang ia tidak tahu dari mana.
"Ada orang asing disini," kata sebuah suara berat yang terdengar sangat mengerikan. Ikki mencoba mencari apa yang berbicara dengan cara memalingkan wajahnya kesana kemari, tapi dia tidak bisa menemukan apa-apa.
"Tu-tuan, biar saya je-" Aiolos baru saja akan menjelaskan sebelum sebuah tatapan dingin dilemparkan padanya dan dia hanya bisa terdiam. Dia tahu apa arti tatapan itu.
Saga keluar dari tempat persembunyiannya. "Tuan, ini semua bukan salah saya. Ini semua salah Aiolos." Dia menunjuk Aiolos yang sedikit menatapnya tajam. "Saya sudah melarangnya, tapi-"
Lagi-lagi tatapan dingin dari makhluk itu membuat semuanya terdiam. Ikki memutar kepalanya ke kiri dan hampir terjatuh saat melihat sebuah makhluk besar, berbulu, dengan tatapan yang tidak bisa ia artikan, dan taring.
"Siapa kamu dan apa yang kamu lakukan disini?" Tanya makhluk besar itu. Dia tidak suka saat daerah pribadinya di masuki oleh orang lain. Dia lebih suka sendirian.
"A-aku tersesat di hutan dan a-"
"Kehadiranmu tidak di terima disini," katanya. Dia menangkap Ikki yang mencoba untuk berlari pergi dari sana dan mengangkatnya.
"A-aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya membutuhkan tempat untuk bermalam."
Si Beast berjalan menaiki tangga di mansion itu dan melemparkan Ikki masuk ke dalam sebuah ruangan di dalam menara yang cukup tinggi. "Disinilah kamu akan tinggal."
"Aku sudah bilang padamu jangan biarkan dia masuk, Aiolos," kata Saga pada Aiolos. Mu menghela nafas dan berbicara, "Saga benar, kita tidak boleh membiarkan dia masuk tadi. Tuan kita benar-benar tidak ingin di ganggu oleh orang asing beberapa tahun belakangan ini."
"Apa yang kamu harapkan setelah semua yang terjadi, Mu?" Tanya Saga.
"Aku tahu," jawab Mu lalu melihat ke arah cangkir kecil. "Ayo, Kiki. Saatnya kamu mandi."
"Mandi? Lagi? Tapi aku sudah mandi hari ini," jawab cangkir kecil itu malas.
"Kamu baru saja di pakai untuk minum, Kiki. Jadi kamu kotor," jawab Mu dan Kiki menghela nafas. "Baiklah."
Kereta dorong yang membawa mereka berdua pun bergerak dan masuk ke dalam dapur. Meninggalkan Aiolos dan Saga sendirian disana. "Aku akan berbicara dengan tuan kita," kata Aiolos karena tidak tahan dengan kesunyian yang ada. Dia masuk ke dalam ruangan Beast dan mendekatinya. "Tuan," panggilnya perlahan.
"Ada apa?" Aiolos merasa di sapa oleh sebuah kulkas karena dia merasa sekitarnya sangat dingin.
"Saya membiarkannya masuk karena dia tersesat dan hujan mulai turun dengan deras, tuan."
"Lalu kenapa? Aku tidak membiarkan penyihir itu masuk dan aku tidak pernah membiarkan seorang pun masuk," jawab Beast.
"Karena itulah kita tidak pernah bisa memecahkan kutukan itu." Aiolos menghela nafas lalu berbicara lagi karena tidak ada jawaban dari tuannya. "Mungkin dia orang yang bisa melepaskan kutukan ini, Tuan."
"Dia itu laki-laki, Aiolos dan aku sudah menyerah soal itu. Tidak ada seorang pun yang akan mencintai Beast seperti aku."
"Tapi itu tidak adil bagi kami, pelayan-pelayanmu, tuan. Kami juga di kutuk. Jangan menyerah dan terus mencoba, tuan. Kami akan selalu menudukung tuan. Anda juga tidak ingin seperti ini selamanya, 'kan?" Aiolos mencoba membuat tuannya itu mengerti, tapi Beast itu sama sekali tidak terpengaruh.
"Keluar," kata Beast dengan nada rendahnya yang cukup menakutkan.
Aiolos melakukan apa yang di perintahkan oleh tuannya itu. Dia keluar dari ruangan besar yang gelap itu dan menutup pintunya. Dia tahu, apa yang menyebabkan tuannya menjadi sangat dingin seperti itu dan menutup dirinya, tapi dia tidak tahu bagaimana cara mengembalikannya menjadi seperti ia saat masih kecil dulu. Anak kecil yang selalu tersenyum manis dan bermain dengan riang di halaman rumahnya.
.
.
To be continue..
.
.
A/N : Ternyata Glace ga bisa update cepat karena sibuk dengan PS dan cerita Glace yang dibantu oleh teman Glace, Riri. Tapi tetap di update dalam waktu satu minggu *seneng* walaupun selesainya hari Sabtu malam. Maaf buat ke OOCan mereka, Glace ga bisa buat mereka in character dan Hyoga (Beast) pun jadi aneh macam itu. Gomen *bungkuk-bungkuk*. Kalau memang ada masukan untuk chapter ini, Glace akan terima dengan senang hati dan edit (mungkin chapter lain juga). Makasih karena udah baca dan jangan lupa review nyaaaa.. ^^
Edit! Makasih Riri Hikari udah kasih tau yang salah. ^^
