Disclaimer : Saint Seiya punya Masami Kurumada-sensei, Beauty and The Beast punya Disney.

Warning : OOCness


.

Saint Seiya's Beauty and The Beast

Chapter 3

.


Di kota, Seiya memperhatikan rumah Shun dan Ikki dari balik semak-semak bersama Jabu. Di belakangnya terdapat persiapan acara pernikahan yang sudah tersusun rapi dan beberapa warga yang akan melihat jalannya acara.

"Aku akan melamar Shun sekarang. Kamu tahu 'kan apa yang harus kamu lakukan saat aku keluar dengannya nanti?" Tanya Seiya pada Jabu.

Mereka berdua keluar dari semak-semak itu dan Jabu meganyunkan tongkatnya di depan pemusik. "Seperti ini, 'kan?" Tanya pemuda berambut dirty blonde itu semangat.

Seiya memukul kepala Jabu sehingga suara musik itu berhenti. Kemudian dia menatap warga-warga itu dan berkata, "Terima kasih sudah datang ke acara pernikahanku. Sekarang aku hanya perlu melamar Shun."

Para orang tua tertawa dan gadis-gadis yang ada disana menangis sedih karena harapan mereka untuk memiliki pemuda yang paling hebat dan katanya tertampan disana sudah hilang.

Di dalam rumah, Shun sedang membaca buku yang ia dapatkan dari toko buku. Dia mendengar pintu rumahnya di ketuk dan segera berjalan mendekati pintu. Shun mengintip dari lubang pada pintunya dan melihat Seiya. Pintu pun di buka dengan terpaksa.

"Selamat siang, Seiya. Kejutan yang sangat menyenangkan," kata Shun dengan senyumnya yang cukup di paksakan. Dia memang gadis yang terkenal dengan kecantikan dan kebaikannya, tapi itu bukan berarti dia tidak bisa merasa terganggu. "Apa yang bisa aku lakukan untukmu?"

"Kamu tahu, semua orang ingin berada di posisimu sekarang ini," jawab Seiya yang berjalan mendekati Shun yang berjalan menjauh dari pemuda itu.

"Posisiku? Kenapa?" Tanya Shun bingung. Dia merasa semua orang membencinya karena dia adik dari seseorang yang mereka bilang gila.

Seiya menarik kursi yang Shun duduki tadi dan duduk disana, meletakkan kakinya di atas meja. "Aku kesini untuk melamarmu."

"A-Apa? Melamarku?" Tanya gadis berambut hijau itu kaget. Dia tidak menyukai Seiya, apalagi mau menjadi istrinya. Jawabannya jelas tidak.

"Ya, aku ingin kamu menjadi istriku. Harusnya kamu merasa tersanjung untuk bisa mendapatkan aku sebagai suamimu," jawab Seiya yang melepaskan sepatunya sehingga kaki dengan kaos kaki berlubangnya terlihat.

"Um.. Aku tidak tahu, Seiya." Shun berjalan menjauh, tapi Seiya mengikutinya sampai Shun menabrakkan punggungnya dengan pintu depan rumahnya. "Ke-kenapa kamu tidak mencari orang lain saja?"

"Karena kamu adalah gadis tercantik di kota ini," jawab Seiya, mendekatkan wajahnya pada Shun. Gadis beriris hijau itu hanya bisa memalingkan wajahnya dan meraih pegangan pintu dengan tangan kirinya.

"Tapi aku tidak pantas untukmu," kata Shun, memutar gagang pintu itu. Pintu itu terbuka karena berat Seiya, tapi Shun berhasil menghindar sehingga Seiya terjatuh dan masuk ke dalam kolam lumpur. Shun juga tidak lupa melemparkan sepatu pemuda itu sebelum menutup rapat dan mengunci pintunya.

Jabu yang tidak tahu apa-apa tentang kejadian itu, menggerakan tongkatnya untuk memulai memainkan alat-alat musik, tapi sesaat kemudian semuanya terdiam karena melihat Seiya ada di kolam lumpur.

"Apa yang terjadi padamu, Seiya?" Tanya Jabu yang membantunya keluar dari kolam itu.

"Kalau kamu berani tertawa, aku akan membunuhmu." Hanya itu yang Seiya katakan sebelum menerima tangan Jabu. Dia bisa mendengar suara kesal dan senang yang gadis-gadis berikan, tapi dia tidak peduli.

"Kenapa kamu tidak mencari orang lain saja, Seiya? Banyak yang menyukaimu dan kamu hanya tinggal menunjuk salah satu dari mereka," kata Jabu.

"Tidak, aku akan menikahi Shun. Dia milikku dan tidak ada orang lain yang bisa mengambilnya," jawab Seiya yang berjalan pergi, meninggalkan Jabu sendiri.

Shun mengintip dari jendela rumahnya dan menarik nafas lega saat ia tidak menemukan siapa pun di luar rumah. "Bagaimana mungkin aku menikahi orang seperti dia?" Tanya Shun pada dirinya sendiri lalu mulai melakukan pekerjaan rumah seperti biasanya.

Setelah menyelesaikan semuanya, dia berdiri di tengah padang rumput yang tak jauh dari rumahnya. "Aku harap nii-san sampai disana dengan selamat," kata Shun. "Aku berharap hidupku bisa seperti di dongeng."

Tiba-tiba saja dia mendengar suara kuda dan melihat kudanya berlari ke arahnya. Shun menghentikan kuda itu dan panik karena tidak bisa menemukan kakaknya. "A-ada apa? Dimana nii-san? Tolong tunjukkan aku dimana terakhir kali kamu melihatnya."

Shun menenangkan kuda itu lalu naik ke punggungnya. Kudanya pun mengantarnya ke depan sebuah pintu gerbang besar dengan mansion gelap dan menakutkan di dalamnya.

"Nii-san ada disini?" Tanya Shun, turun dari kudanya dan melihat topi Ikki berada di dalam sana. Dia mendorong gerbang yang sedikit terbuka itu dan masuk ke dalam untuk mengambil topi itu. "Ini topi nii-san! Nii-san!"

Dia berlari masuk ke dalam mansion itu dan mulai menyusuri segala bagiannya. Disisi lain mansion itu, Aiolos menyilangkan kedua tangannya di depan dada karena Saga menceramahinya sambil berjalan kesana dan kemari.

"Harusnya kamu tidak melakukan itu, Los. Aku 'kan sudah bilang padamu," kata Saga yang masih kesal dengan apa yang terjadi tadi.

"Aku hanya menjalankan tugasku di rumah ini, Saga."

"Kamu tidak perlu melakukan tugas itu lagi karena tuan kita sudah tidak ingin di kunjungi oleh siapa pun," jawab Saga dan Aiolos memutar bola matanya.

"Aku hanya berharap dia yang akan melepaskan kutukan itu," jawab Aiolos tidak mau disalahkan seperti itu.

"Semuanya juga berharap seperti itu, termasuk aku, tapi dia itu laki-laki, Aiolos." Saga sedikit menekankan nama sahabatnya itu. "Tuan kita itu normal walaupun dia sangat berubah."

"Apa ada orang disini?" Shun menaiki tangga menuju lantai 2 saat mereka berbicara. "Nii-san? Nii-san ada disini?"

Di dapur, Kiki melompat-lompat ke arah tuannya dengan senang. "Tuan Mu, aku melihat seorang perempuan masuk ke Mansion," katanya semangat.

"Kiki, tidak bagus membuat semua orang berharap. Sekarang masuk ke sana karena kamu akan dicuci," kata Mu seraya mendorong Kiki ke dalam ember besi.

"Aku tidak berbohong, tuan."

Tiba-tiba saja sebuah sapu berlari ke arah mereka dan berteriak. "Seorang perempuan datang kesini," katanya senang sebelum pergi ke arah lain.

"Benarkan apa yang kubilang," kata Kiki dengan senyum kemenangan di wajahnya. Mu masih terlihat dengan ekspresi shocknya.

Di suatu ruangan di lantai 2, Aiolos dan Saga mendengar suara Shun. Aiolos melompat turun dari meja dengan ekspresi senang. "Kamu dengar itu? Itu suara perempuan."

"Tentu saja aku mendengarnya, baka."

"Dia.. Pasti dia yang akan menlepaskan kutukannya," kata Aiolos sebelum berlari menuju sumber suara. Saga mengikutinya dari belakang. Mereka mendorong pintu kayu yang menuju menara dan segera berlari.

Mendengar suara, Shun pun berbalik dan melihat sebuah pintu kayu terbuka. Dia berjalan dan menaiki tangga yang berada di balik pintu itu. "Halo? Aku sedang mencari seseorang."

Dia melanjutkan perjalanannya sampai dia melihat beberapa pintu kayu di depannya. "Apa ada orang disini?" Tanya Shun.

"Halo?" Sebuah suara familiar terdengar dan Shun mengambil obor dan langsung berlari ke depan salah satu pintu. Dia melihat kakaknya yang tampak sangat kedinginan. "Bagaimana kamu bisa menemukanku, Shun?"

"Nii-san, tanganmu sangat dingin seperti es," kata Shun yang memegang tangan kakaknya dari lubang dengan jeruji besi yang menghalangi. Tentu saja tangan kakaknya dingin, Ikki selalu menghabiskan waktunya di dalam dapur mereka dengan kompor yang menyala. "Aku akan mengeluarkan nii-san dari sini."

"Tidak, Shun. Kamu harus segera pergi dari sini," jawab Ikki panik.

"Siapa yang telah melakukan ini pada nii-san?" Tanya Shun yang melihat sebuah ketakutan pada mata kakaknya yang biasanya sangat berani.

"Kita tidak punya banyak waktu untuk ini, Shun. Kamu harus segera pergi dari sini," jawab pemuda berambut biru itu dan Shun menggelengkan kepalanya kencang.

"Aku tidak akan meninggalkan nii-san disini, nii-san adalah satu-satunya keluarga yang aku punya," kata Shun dan tiba-tiba saja sebuah tangan besar menarik bahunya hingga pegangan pada obor itu terlepas dan membuat cahaya bulan dari lubang atap menara itu menjadi satu-satunya sumber cahaya.

"Apa yang kamu lakukan disini?" Tanya suara yang tidak pernah Shun dengar sebelumnya. Pegangan pada bahunya di lepas dan dia langsung mundur sampai mengenai pintu dimana kakaknya terkurung.

"Siapa kamu?"

"Aku pemilik mansion ini. Apa yang kamu lakukan disini?" Tanya suara itu lagi.

"Aku kesini untuk mencari kakakku. Dia tidak bisa berada di tempat dingin untuk waktu yang lama. Aku mohon keluarkan dia," mohon Shun, tapi dia tidak bisa membuat hati sang Beast tergerak.

"Aku tidak peduli. Kalau memang keadaannya seperti itu, dia tidak seharusnya masuk ke sini," jawab si Beast.

"Di luar hujan, dia hanya ke sini untuk menghindari itu!" Shun berteriak. Ikki menarik tangan Shun, berharap dia berhenti agar monster yang menangkapnya itu tidak menyakiti adiknya.

"Aku tidak peduli!"

"Dia bisa mati, tolong keluarkan dia. Aku akan melakukan apa pun." Lagi-lagi Shun memohon, tapi si Beast tetap mengeraskan hatinya.

"Tidak ada yang bisa kamu lakukan. Dia tawananku," jawab Beast, berbalik dan bersiap pergi dari sana.

Shun berpikir. "Tidak, pasti ada hal yang bisa aku lakukan. Tunggu!" Teriakkan itu berhasil membuat si Beast berhenti dan kembali melihat gadis itu. "Aku akan menggantikannya!"

"Kamu mau menggantikannya?"

"Shun, tidak! Kamu tidak boleh melakukan itu!" Teriak Ikki. Shun melihat kakaknya dan kemudian kembali melihat si Beast. "Shun! Kamu tidak tahu apa yang kamu lakukan!"

"Kalau aku melakukannya, kamu akan melepaskannya?" Tanya Shun dan si Beast mengangguk.

"Ya, tapi kamu harus berjanji untuk tinggal disini selamanya," jawab si Beast. Shun berpikir sejenak sebelum kembali melihat si Beast dan berkata," Tunjukkan dirimu!"

Si Beast menghela nafas sebelum masuk ke tempat yang di terangi oleh cahaya bulan. Setelah melihat sosok besar si Beast, Shun memegang erat tangan Ikki dan melihat pemuda berambut biru itu dengan tatapan yakin.

"Tidak, Shun. Aku tidak akan membiarkanmu melakukan ini!" Teriak Ikki. Shun melepaskan pegangannya dan berjalan mendekati si Beast.

"Aku berjanji."

"Baiklah." Si Beast membuka pintu ruangan itu dan Ikki berlari ke arah Shun. Gadis itu pun memeluk kakaknya.

"Shun, tolong jangan lakukan ini! Kamu masih sangat muda, masih banyak hal yang ingin kamu lakukan," kata Ikki dan tiba-tiba saja si Beast menangkatnya dan membawanya keluar dari menara itu. Mengabaikan semua teriakkan Shun.

"Bawa dia ke kota," kata si Beast setelah melempar Ikki masuk ke dalam sebuah kereta kayu.

Shun melihat itu dari jendela menara dan mulai menangis. Si Beast kembali ke atas dan Aiolos memanggilnya.

"Tuan, karena dia akan tinggal disini untuk jangka waktu yang lama, kenapa tuan tidak memberikan tempat yang lebih nyaman dari pada menara ini?" Tanya Aiolos dengan senyuman gugupnya.

"Untuk apa?" Tanya si Beast lalu mengabaikan Aiolos untuk melihat keadaan Shun. Dia cukup kaget melihat Shun menangis di dekat jendela ruangan Ikki tadi.

"Kamu bahkan tidak membiarkan aku mengucapkan salam perpisahan padanya. Aku tidak akan pernah melihatnya lagi dan dia satu-satunya keluarga yang aku miliki," kata Shun dengan suaranya yang bergetar karena menangis.

Si Beast tidak tahu apa yang terjadi padanya saat itu. Dia merasa bersalah dan akhirnya berbicara, "Aku akan menunjukkan kamarmu."

Shun melihatnya dengan tatapan tidak percaya. "Tapi.. Aku pikir.."

"Kamu ingin tinggal disini?"

"Tidak," jawab Shun cepat.

"Kalau begitu ikuti aku," katanya lalu mengambil Aiolos untuk menerangi jalannya. Mereka berjalan dalam diam melewati patung-patung di lorong gelap mansion itu.

Aiolos yang tidak menyukai keheninggan itu pun berbicara pada tuannya. "Katakan sesuatu padanya."

"Untuk apa?" Tanya si Beast dengan nada datarnya, tapi akhirnya dia menyerah karena Aiolos terus menatapnya. "A.. Aku harap kamu suka disini."

Si Beast kembali melihat Aiolos yang masih menatapnya, bahkan tidak berkedip sekali pun. "Umm.. Ini adalah rumahmu sekarang, jadi kamu bisa pergi kemana pun yang kamu suka," katanya dan kemudian dia teringat sesuatu yang sangat penting. "Kecuali bagian barat."

"Apa yang ada di bagian barat?" Tanya Shun dengan nada keingin tahuan yang besar.

"Kamu tidak boleh kesana," jawab Beast dengan nada yang sangat dingin. Shun terdiam dan mereka kembali berjalan. Akhirnya Beast berhenti di sebuah pintu dan membukanya. "Kalau kamu membutuhkan sesuatu, pelayanku akan membantumu."

Shun masuk ke dalam kamar itu. Aiolos berbisik pada si Beast. "Undang dia untuk makan malam."

Dengan terpaksa dan nada yang ia coba buat agar dia terkesan peduli dan tidak dingin, si Beast pun berkata. "Kamu akan makan malam bersamaku." Karena tidak ada jawaban dari gadis itu dia pun menjadi sedikit kesal. "Itu perintah bukan permintaan."

Pintu di tutup dengan kencang dan Shun berlari ke tempat tidur yang berada di ruangan itu. Di luar, si Beast bersandar pada dinding di sebelah kamar itu. Apa yang sebenarnya aku lakukan? Kenapa aku membiarkan dia masuk ke sini? Bukannya kamu sudah tidak ingin itu terulang, Hyoga?

.

.

To be continue..

A/N : Glace update hari ini sebagai ganti karena ternyata masih sempet sebelum sekolah lagi. Kalau bisa chapter selanjutnya akan di update minggu depan. Makasih udah baca dan don't forget to review. Glace ga dapet review lagi. *pundung*