Disclaimer : Saint Seiya punya Masami Kurumada-sensei, Beauty and The Beast punya Disney.

Warning : OOCness


.

Saint Seiya's Beauty and The Beast

Chapter 4

.


Seiya terduduk lemas di sebuah kursi di bar miliknya karena penolakkan yang baru saja ia terima dari Shun siang tadi. Jabu berusaha menghiburnya, tapi pemuda berambut coklat itu terlihat benar-benar tidak bersemangat dan tidak ingin di ganggu. Terlihat dari usahanya menjauh dari Jabu dengan memutar kursinya ke arah lain setiap Jabu berdiri di hadapannya.

Akhirnya dia mengalah karena Jabu sama sekali tidak menunjukkan kalau dia akan menyerah. "Kenapa dia menolakku? Semua perempuan disini ingin memilikiku dan semua laki-laki ingin menjadi sepertiku. Ada apa dengannya? Kenapa dia berbeda dari yang lainnya?" Tanya Seiya pada Jabu.

"Bukankah itu bagus kalau dia berbeda dari yang lainnya?" Tanya Jabu, meneguk minumannya dan mengelap mulutnya dari sisa minuman itu dengan lengan pakaiannya.

"Ya memang, tapi kenapa dia tidak bisa seperti yang lain? Menginginkanku?" Seiya hampis saja menarik rambutnya karena kesal dan frustasi, tapi dia tidak ingin mengambil resiko rambut indah yang menjadi aset besarnya hilang. "Aku hanya ingin dia menjadi milikku. Kenapa sangat sulit?"

Jabu tidak menjawab, dia hanya mendengarkan sahabatnya dan memperhatikan perapian yang menyala di hadapan mereka. Kedua orang itu terdiam sampai..

"Aku akan membuatnya menjadi milikku bagaimana pun caranya!" Kata Seiya berapi-api, berdiri dari posisi duduknya dan menunjukan kepalan tangannya ke depan.

"Selamat berjuang kalau begitu. Aku yakin kamu bisa," jawab Jabu, menepuk bahu Seiya tanda dia mendukung dan menyemangati keputusannya. "Walaupun sulit."

"Sulit tapi tidak mustahil," kata Seiya yang kemudian menyeringai. "Aku akan terus berusaha mendapatkannya bagaimana pun caranya."

Tiba-tiba saja pintu bar itu terbuka dengan keras. Semua mata tertuju pada orang yang membuka pintu dan ternyata orang itu adalah Ikki, si koki gila.

"Tolong! Kalian harus menolongku!" Teriaknya panik. Dia berlari kesana kemari dan mengguncangkan bahu-bahu orang sampai mereka terjatuh. "Dia tertangkap!"

"Tunggu dulu, Ikki. Siapa yang di tangkap?" Tanya Seiya yang berjalan mendekati pemuda yang sedikit lebih tinggi darinya itu bersama Jabu.

"Shun.. Shun di tangkap dan di masukan ke dalam menara!"

"Dan siapa yang menangkapnya?"

"Beast! Monster itu sangat besar!" Teriak Ikki dan semua orang yang berada di dalam bar itu tertawa kencang, tidak percaya padanya. "Dia sangat besar dan menakutkan. Tolong bantu aku menyelamatkan Shun."

Seiya menepuk kedua tangannya dan dua orang besar datang lalu menyeret Ikki keluar.

"Aku tidak bohong! Shun benar-benar di tangkap oleh Beast dan aku meminta bantuan kalian untuk menyelamatkannya."

"Baiklah-baiklah, kami akan menolongmu," jawab Seiya dan semuanya kembali tertawa.

"Benarkah?" Tapi Ikki di lempar keluar dari bar itu ke atas tumpukan salju di luar. Dia bangkit dan melihat sekitarnya. "Tidak adakah orang yang ingin membantuku?"

Di dalam bar, semuanya masih mentertawakan orang yang baru saja mereka usir. Jabu baru saja ingin mengatakan sesuatu saat mendengar Seiya mengulang-ulang perkataan yang sama, "Koki gila Ikki."

"Ada apa, Seiya? Tertular penyakit gila Ikki?" Tanya Jabu, mendorong Seiya dengan siku tangannya. "Apa yang kamu pikirkan?"

"Tidak, aku baru saja mendapatkan ide yang sangat bagus." Seiya menyeringai dan Jabu menjadi sedikit takut, tapi itu tidak menghentikannya dari rasa penasaran. "Biarku beritahu."

Jabu mendekatkan telinganya pada Seiya.

Di Mansion, Shun berbaring dengan perutnya di atas kasur dan membenamkan wajahnya di atas bantal. Air mata membasahi bantal itu sejak beberapa menit yang lalu. Pintu kamarnya di ketuk, dia pun bangkit dan mengelap wajahnya dengan tisu yang tersedia di kamar itu.

"Siapa disana?" Tanya Shun dengan suara yang sedikit bergetar karena menangis.

"Aku Mu, pelayan Tuanku." Shun berdiri dan berjalan untuk membukakan pintu kamarnya. Dia melihat kesana kemari tapi tidak bisa menemukan seorang pun disana. Shun cukup kaget saat melihat ke bawah dan melihat sebuah teko, cangkir, dan tempat gula. "Anda ingin meminum teh?"

Gadis berambut hijau itu mundur beberapa langkah karena kaget, membuat punggungnya menabrak sebuah benda besar yang tertawa geli.

"Hati-hati," kata suara itu.

Shun melompat maju dan berbalik untuk melihat siapa itu, "Ka-kalian.. Ba-bagaimana mungkin?"

"Beginilah kami," jawab lemari pakaian itu. Mu menuangkan teh pada Kiki dan anak laki-laki yang merupakan cangkir itu mendekati Shun dengan cepat.

"Kiki, jangan terlalu cepat atau kamu akan menumpahkan tehnya ke lantai. Kamu tidak ingin mendengar teriakan Aiolia karena harus membersihkan lantai, 'kan?" Tanya Mu.

Perkataan itu membuat Kiki memperlambat langkahnya. "Tidak, dia menyeramkan."

Shun mengangkat Kiki dan meneguk tehnya. "Terima kasih tehnya," katanya seraya tersenyum dan meletakan Kiki ke lantai dan cangkir itu pergi mendekati tuannya.

"Kamu telah melakukan hal yang sangat hebat," kata Mu dan lemari pakaian itu mengangguk setuju. "Semuanya memikirkan hal yang sama."

Shun menundukan kepalanya, tiba-tiba saja ia merasa karpet merah yang melapisi lantai kamar barunya itu menarik. "Ta-tapi.. Aku kehilangan kakakku, keluargaku satu-satunya, mimpiku.. Semuanya."

"Tenang saja, semuanya akan menjadi jauh lebih baik pada akhirnya," jawab Mu mencoba menenangkan gadis manis itu. "Permisi, aku harus membantu persiapan makan malam."

"Sampai nanti," kata Kiki yang mengikuti Mu keluar dari ruangan itu.

Shun menghela nafas sebelum kembali melihat ke lemari pakaiannya. "Namaku Aphrodite, aku yang selalu merancangkan pakaian untuk tuanku." Shun mengangguk dan Aphrodite melanjutkan, "Aku akan memilihkan pakaianmu untuk malam nanti."

Aphrodite membuka pintu lemari berwarna Aqua itu dan beberapa lalat keluar dari dalam sana. "Ups! Benar-benar memalukan. Sudah lama sekali tuan tidak memiliki tamu jadi aku tidak mempunya kesempatan untuk membukanya." Setelah itu Aphrodite memberikan sebuah gaun panjang berwarna ungu muda pada Shun. "Ini dia."

"Terima kasih, tapi aku tidak akan makan malam," kata Shun dan Aphrodite terlihat sangat kaget.

"Ti-tidak akan makan malam?"

"Iya, aku tidak akan makan malam."

Aphrodite baru saja akan mengatakan hal lain saat Saga masuk ke kamar itu. "Ehm.. Makan malam sudah siap, mari ikuti saya."

"Umm.. Saga, dia memutuskan untuk tidak ikut makan malam," kata Aphrodite dengan nada yang sedikit takut.

"Apa? Tapi kamu harus, kalau tidak tuan pasti.."

"Aku tidak akan makan malam bersamanya," jawab Shun keras kepala, membuat Saga tidak memiliki pilihan lain selain pergi dari ruangan itu dan menemui tuannya yang sudah menunggu di ruang makan mansion besar itu.

Shun tidak peduli, dia sedang tidak napsu makan dan semua itu karena dia berada di mansion besar ini, jauh dari kakaknya dan buku-buku yang ia sayangi. Dia tidak suka disini karena makhluk menyeramkan itu, tapi dia sudah berjanji untuk menggantikan kakaknya tinggal disini.

Bukan berarti dia menyalahkan Ikki karena hal itu.

.

.

To be continue..

.

.

A/N : Udah lama banget ya Glace ga update. Salahkan Mid dan adik yang pelit. Maaf buat chapter yang pendek setelah sekian lama. Glace akan coba update besok karena libur UN. Ganbatte kalian-kalian yang kelas 12! Makasih karena udah baca dan jangan lupa untuk review...