A/N : Helooo~ Maaf baru update sekarang, Glace bener-bener kehilangan semangat buat nulis dan malah baca terus. Glace juga terobsesi sama yang namanya Vampire jadi lupa sama Beauty and The Beast. 2 Chapters in a day sebagai permintaan maaf. Makasih yang udah baca dan review! Enjoy!
Disclaimer : Masami Kurumada-sensei and Disney.
Warning : OOCness.
.
Saint Seiya's Beauty and The Beast
Chapter five
.
Di ruang makan, Beast duduk di salah satu dari dua kursi yang ada. Dia menatap piring-piring kosong di hadapannya tanpa ekspresi. Aiolos dan Mu yang berada tak jauh dari perapian ruangan itu tidak tahu apa yang ada di pikiran tuan mereka sekarang, tapi mereka yakin dia kesal.
"Dimana dia? Tidak butuh lama untuk turun kesini," kata Beast yang akhirnya kehilangan kesabarannya. Dia berdiri dan mulai berjalan saat Aiolos dan Mu mendekatinya dengan berlari-lari kecil.
"Tuan, saya yakin sebentar lagi dia akan sampai. Tunggulah," kata Aiolos mencoba menenangkan tuannya itu. "Dia baru saja kehilangan segalanya, dia butuh waktu untuk menenangkan dirinya dan menerima semuanya."
Hyoga kembali duduk di kursinya, tangan kanannya ia gunakan untuk bermain dengan beberapa peralatan makan karena bosan. Mu mendekatinya dan berkata, "Mungkin dia yang bisa melepaskan kutukan ini, tuan."
"Kalian memaksaku percaya setiap orang yang datang ke sini adalah si pelepas kutukan, tapi apa? Tidak ada satu orang pun yang berhasil melepaskannya. Tidak ada orang yang akan pernah mencintai seorang Beast. Aku sudah menyerah," jawab Hyoga malas. Dia sudah bosan dengan banyaknya orang yang datang, memberinya harapan palsu dan akhirnya pergi. Shun tidak ada bedanya.
"Tapi tuan tidak bisa menyerah begitu saja. Bagaimana tuan bisa mengabaikan kesempatan untuk mendapatkan kebahagiaan tuan?" Tanya Aiolos mencoba membujuk tuannya agar dia mau berusaha dan kembali ke Hyoga yang dulu. Hyoga yang selalu ceria dan berlari kesana kemari, bermain dengan kedua orang tuanya di halaman rumahnya, bermandikan cahaya matahari yang hangat. Tapi kemudian dia sadar kalau Hyoga sudah bukan anak kecil lagi. Aiolos, Mu, dan semua pelayan lainnya selalu ingin Hyoga kembali seperti dulu karena kemalangan ini sudah terjadi sejak ia remaja dan satu-satunya saat dia bahagia adalah saat dia kecil.
"Dia berbeda. Dia menggantikan tempat kakaknya padahal dia tahu kalau tuan adalah seorang-"
"Beast." Mu tidak sempat menyelesaikan perkataannya karena Hyoga memotongnya. Kemudian dia melihat kedua pelayannya itu dan akhirnya menyerah. "Baiklah-baiklah, akan kucoba. Tapi, ini adalah yang terakhir."
"Tenang saja, Tuan. Kami akan selalu berada di belakangmu," jawab Aiolos tersenyum. "Malam ini dia berdua akan saling jatuh cinta dan kita semua akan kembali normal."
Mu dan Beast menghela nafas, berpikir kalau pelayan terbijak disana sudah menjadi gila. Bagaimana bisa mereka jatuh cinta semudah itu? Terlebih lagi dia adalah seorang Beast. "Tidak mungkin secepat itu, Aiolos. Mungkin jatuh cinta itu mudah, tapi kita tidak tahu apa yang akan dia lakukan kalau dia menyadari perasaannya itu."
"Tapi kita tidak punya banyak waktu, Mu. Kelopak mawar dari penyihir ungu itu sudah mulai berjatuhan," peringat Aiolos. Tempat lilin itu kemudian melihat tuannya. Wajah sang Beast datar, tapi matanya menunjukkan perasaan lain. Perasaan yang tidak Aiolos ketahui, Beast terlalu sering menyendiri.
"Itulah kenapa aku menyerah. Tidak mungkin orang sepertinya akan jatuh cinta pada makhluk menyeramkan sepertiku. Apalagi dalam waktu yang singkat." Hyoga mengangkat kedua lengannya, memperlihatkan tubuhnya yang di penuhi dengan bulu coklat tebal dari kepala sampai pada ujung kakinya. "Beast."
"Tuan, jangan menyerah sebelum mencoba. Tuan pasti bisa melewati semuanya dan melepaskan kutukan ini," jawab Aiolos. "Bagaimana kalau tuan mulai merubah sifat tuan yang tidak bersahabat itu?"
"Pertama, tersenyumlah." Mu yang berada tepat di hadapan Hyoga tersenyum. Tuannya mencoba untuk tersenyum, tapi wajahnya menunjukkan kalau seakan wajah itu tidak bisa di gunakan untuk tersenyum. Senyuman itu terasa benar-benar kaku dan tidak terdapat kehangatan yang seharusnya ada.
Aiolos menyadarinya dan menghela nafas -entah sudah berapa kali ia melakukan itu hari ini-. Dia memutuskan untuk membantu si teko. "Bagaimana kalau tuan lebih menggunakan perasaan?"
Hyoga mencoba dan mengalami kesulitan karena tersenyum adalah aktifitas yang sudah tidak pernah ia lakukan selama bertahun-tahun. Siapa yang akan tersenyum setelah wajah tampannya di ubah menjadi sangat menyeramkan dan bahkan buruk rupa?
Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya Hyoga bisa mendapatkan sedikit senyuman yang tidak di paksakan. Mu dan Aiolos tersenyum padanya sebelum mengerutkan dahi mereka.
"Sekarang tuan tidak boleh bersikap terlalu dingin dan kontrol emosi tuan." Dibalik topeng dingin yang Hyoga pakai, dia bisa meledak saat segala sesuatunya tidak berjalan sesuai dengan apa yang ia inginkan atau kehilangan kesabarannya. Walaupun itu jarang terjadi.
"Aku tahu."
Perhatian ketiga orang itu teralih saat mendengar pintu besar ruangan itu terbuka. Aiolos dan Mu menantikan dengan penuh harap, tapi jam Saga lah yang muncul.
Saga terlihat sangat gugup. Dia berjalan beberapa langkah ke depan, memainkan tangan tanpa jarinya dan melihat ke lantai. "Selamat malam." Mu, Aiolos, dan Beast melihat pintu kayu itu, menunggu orang lain yang akan masuk, tapi tidak ada seorang pun disana.
"Ada apa? Dimana dia?" Tanya Mu bingung.
Saga masih berada dalam posisi tadi dan menjawab dengan gugup, "Um.. Dia.." Kepala pelayan itu menarik nafas dalam sebelum melanjutkan, "Dia bilang.. Dia.. Dia tidak mau."
"APA?" Hyoga berteriak dan berlari menembus pintu yang Saga masuki tadi. Penantian dan usahanya untuk terlihat lebih bersahabat terbuang percuma. Dia terus berlari menaiki tangga, mengabaikan teriakan pelayan-pelayannya yang mengikuti. Dia berteriak saat sampai di depan kamar Shun. "Aku bilang kamu harus makan malam bersamaku!"
Ketiga pelayan yang juga berada disana berhenti, mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan sekarang setelah sang tuan berhenti. Mereka memang ingin menghentikan teriakan yang jelas menakuti sang wanita muda, tapi tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk melawan sang tuan.
"Aku tidak lapar," jawab Shun dari dalam kamarnya.
Hyoga pun menjadi lebih kesal dari sebelumnya. "Keluar sekarang atau aku akan.." Tampak berpikir sebelum mengatakan, "Menghancurkan pintu ini!"
"Tidak, aku tidak mau." Shun terdengar sangat keras kepala. "Terima kasih karena sudah menahan kakakku dan tidak ingin membiarkannya pergi. Dan sekarang kamu memaksaku untuk menggantikannya."
"Memaksamu? Siapa yang memaksamu? Kamu yang menawarkan diri untuk menggantikannya. Kamu yang memaksaku!" Hyoga masih berteriak. Ketiga pelayannya hanya bisa menggelengkan kepala.
"Aku melakukan itu hanya untuk orang yang penting untukku. Aku memang berjanji akan tinggal disini selamanya, tapi bukan berarti aku harus mendengarkanmu," jawab Shun.
Aiolos berhasil medapatkan perhatian tuannya yang sudah lelah berteriak dan berkata, "Tuan, saya rasa berteriak tidak akan menyelesaikan apa-apa. Coba menjadi lebih lembut seperti sebelumnya."
Hyoga mengalihkan matanya kembali pada pintu kamar Shun dan memutuskan untuk mengikuti apa yang pelayannya sarankan. Dia mengetuk pintu kamar itu perlahan sebelum berbicara dengan suara lembut dan tenang. Suara yang membuat ketiga pelayannya tidak percaya. "Maukah kamu makan malam bersamaku?"
"Tidak."
"Ayolah. Kamu harus makan."
"Aku tidak lapar!"
Lagi-lagi kesabaran si Beast mulai menipis. Suara lembutnya tidak dapat di temukan pada kalimat selanjutnya. "Kamu tidak bisa diam disana selamanya!"
"Tentu saja aku bisa!"
"Kalau begitu diam saja disana!" Beast kembali menatap ketiga pelayannya. "Dia tidak akan makan kalau dia tidak makan bersamaku!" Kemudian dia berlari ke lorong lain dengan cepat, membuka pintu kamarnya dan menutup pintunya dengan kencang sampai beberapa bagian langit-langit mansion besar itu menjatuhi pelayannya.
Mu mengela nafas lelah. Saga berbicara, "Sudah kubilang ini bukan ide bagus. Aiolos, diam disini dan beritahu aku kalau terjadi sesuatu."
Si tempat lilin berdiri tegak di depan pintu kamar dan menaikkan tangan kanannya seperti memberi hormat pada Saga. Mu dan Saga kembali ke dapur untuk membersihkan makanan yang tidak akan disentuh malam itu.
Beast yang sudah masuk ke kamarnya yang gelap mulai menjatuhkan barang-barang yang ada. Sampai akhirnya dia sampai di sebuah meja bundar di depan pintu balkon dengan sebuah kaca penutup yang berisi setangkai mawar menyala, di samping kaca penutup itu terdapat sebuah cermin oval dengan pegangan.
"Dia ingin aku memohon? Hah! Aku tidak akan pernah melakukannya," kata Hyoga pada dirinya sendiri kemudian mengambil cermin itu. "Perlihatkan dia."
Bayangannya berubah menjadi Shun yang sedang berbicara dengan Aphrodite. "Kamu tahu, kenapa tidak memberikan kesempatan untuk mengenalnya?" Tanya lemari pakaian itu pada Shun. Hyoga hanya melihat cermin itu dalam diam, dia ingin mendengar apa jawaban Shun.
"Kenapa aku harus mengenalnya? Mengenal orang yang telah menghancurkan hidupku?" Tanya Shun keras kepala dan terlihat sedih. Entah kenapa lemari pakaian itu juga menunjukan rasa sedih.
Mendengar jawab Shun, dia menurunkan tangan yang memegang cermin itu kesisinya dan melihat bulan purnama yang terlihat jelas dari tempatnya berdiri sekarang. "Aku tahu membiarkannya berada disini adalah kesalahan besar. Kenapa aku mempercayai Aiolos kalau dia adalah orang yang akan melepaskan kutukannya?" Hyoga kembali mengangkat cermin yang memperlihatkan pantulannya, memperlihatkan matanya yang menunjukkan kesedihan. "Dia tidak mungkin melihatku sebagai apa-apa tapi monster. Lagipula bukannya aku tidak mau seorang pun masuk ke dalam hidupku dan akhirnya aku akan di tinggalkan begitu saja?"
Hyoga meletakkan kembali cermin itu ke atas meja dan memperhatikan mawar menyala itu. Satu kelopaknya jatuh, bertemu dengan empat saudaranya di atas permukaan meja putih itu. "Lebih baik aku membiarkannya pergi, membiarkan mawar itu layu sepenuhnya agar aku tidak akan pernah kembali ke wujud manusiaku dan mati sebagai seorang Beast."
.
.
.
To be continue..
