A/N : Update-an kedua hari ini. Glace harus buru-buru karena adik Glace yang pelit itu. Salahkan juga guru geografi yang kasih tugas super banyak. Makasih yang udah baca dan review. Jangan lupa untuk review lagi! And Enjoy!
.
Saint Seiya's Beauty and The Beast
Chapter six
.
Pada tengah malam, Shun membuka pintu kamarnya untuk melihat keadaan sekitar. Dia berjalan perlahan saat yakin lorong itu aman. Tapi kemudian dia mendengar suara.
Melihat kesana kemari, dia tidak bisa melihat seorang pun disana, tapi suara percakapan itu masih terdengar. Shun melihat ke arah jendela dan melihat tiga cahaya di balik gorden dan mendekatinya.
Dia membuka penutup jendela itu dan melihat sebuah tempat lilin dan sebuah pembersih debu berbulu hitam-putih berbicara perlahan sambil menikmati keindahan malam. Angin berhembus pelan, membuat api di kepala dan tangan Aiolos sedikit mengecil.
Aiolos lah yang pertama kali menyadari Shun berada disana. "Oh hi, Shun."
"Hi," balas Shun ragu. Pandangannya jatuh pada kemoceng di sebelah Aiolos.
Mengerti arti tatapan itu, Aiolos pun memperkenalkan si pembersih debu. "Ini Aiolia, adikku."
"Adikmu?"
Aiolos mengangguk. "Dia adikku. Sifat kami jauh berbeda. Dia jauh lebih bersemangat, keras kepala, dan tidak bisa mengontrol emosinya. Tapi, dia sebenarnya baik."
Aiolia ingin membantah semua perkataan kakaknya itu, tapi dia menyadari sesuatu. Kakaknya ingin Shun bisa mengetahui sifat tuan mereka yang sebenarnya: penampilan luarnya dingin, tapi jauh di dalam dia sangat baik.
Shun baru saja akan mengatakan sesuatu saat perutnya berbunyi, membuat wajahnya memerah karena malu. Kelakuannya benar-benar tidak terlihat seperti perempuan.
Aiolos dan Aiolia tertawa kecil. "Apa kamu lapar?" Shun mengangguk. "Kalau begitu ikuti aku ke dapur."
Wanita muda berambut hijau itu pun mengikuti kedua kakak-beradik itu. Mereka masih bercakap-cakap, tapi Shun tidak bisa mendengarnya.
Di dapur, Mu mendorong Kiki untuk masuk ke lemari cangkir untuk tidur. Disisi lain ruangan itu, Aldebaran, si kompor menggerutu karena makanan yang ia buat terbuang percuma.
"Aldebaran, jangan berisik. Apa kamu ingin membangunkan para cangkir? Terakhir kali mereka terbangun dan menangis sangat kencang hingga membangunkan tuan, kamu tahu apa yang terjadi, kan?"
Aldebaran terdiam setelah itu. "Jadi, apa yang harus kita lakukan dengan makanan yang sudah susah payah kubuat?" Tanyanya pada Saga selaku kepala pelayan.
"Apa yang bisa kita lakukan selain membuangnya? Aku tidak tahu kenapa dia sangat keras kepala dan tidak mau makan." Saga melempar kain lap yang ada di tangannya ke tempat pencucian.
"Kita tidak bisa menyalahkannya, Saga. Dia baru saja kehilangan semuanya hari ini dan sifat tuan sama sekali tidak membantu. Kalau dia terus seperti itu, dia tidak akan pernah bisa melepas kutukan ini," jawab Mu. Saga hanya bisa menganggukkan kepalanya setuju.
Pintu dapur terbuka perlahan, memperlihatkan Shun, Aiolos, dan Aiolia. "Senang bisa melihat Anda disini, nama saya Saga dan saya kepala pelayan disini," kata Saga yang sedikit membungkukkan tubuhnya untuk memperkenalkan diri pada Shun. "Jadi apa yang kalian lakukan disini?"
"Shun lapar. Apa kalian masih memiliki makanan atau kalian sudah membuang semuanya?" Tanya Aiolos.
Aldebaran dan Mu menjawab pertanyaan itu dengan senang dan bersemangat. "Tentu saja ada." Mu memerintahkan piring-piring untuk keluar dan meletakkan beberapa makanan disana.
Saga diam di tempat. "Ingat apa yang tuan katakan? Kita tidak ingin membuatnya marah."
"Saga, kalau dia kelaparan lalu mati. Siapa yang akan melepaskan kutukannya?" Mu berbisik pada Saga dan si kepala pelayan pun setuju dengan berat hati. Mu memberikan piring-piring itu pada Shun yang sudah duduk di kursi meja makan dapur. "Semoga kamu menyukainya. Aldebaran yang memasak makanan ini adalah koki terbaik yang pernah ada."
Shun menyantap makanan itu. "Ini enak sekali." Dengan cepat dia menghabiskan makanan pada piringnya dan melihat si koki. "Aldebaran."
"Ya?"
"Apa kamu mau mengajariku memasak? Umm.. Kakakku sangat berbakat dalam hal memasak dan tidak pernah membiarkanku masuk ke dapur.. Dan sebagai seorang wanita aku.."
"Tentu saja, dengan senang hati," jawab Aldebaran. Dia sangat senang melihat wanita muda di hadapannya sangat menyukai masakannya dan memintanya untuk mengajarinya memasak.
"Benarkah? Terima kasih," jawab Shun dengan senyuman yang benar-benar tulus. Pelayan-pelayan yang ada disana juga tersenyum karena aura yang di pancarkan olehnya. Tapi semuanya terdiam dan masuk ke zona panik saat mendengar perkataan Shun selanjutnya. "Sebenarnya apa yang membuat mansion ini di kutuk?"
"Di-dikutuk? Siapa yang mengatakan kalau tempat ini dikutuk?" Tanya Saga panik. "Ba-bagaimana—"
"Bagaimana caranya aku bisa tahu tempat ini dikutuk? Itu tidak sulit," jawab Shun. "Saga si jam yang bisa berbicara, Aiolos si tempat lilin yang bisa berbicara, Aiolia si pembersih debu yang bisa berbicara, Mu si teko yang bisa berbicara dan yang lainnya. Hmm.. Bolehkah aku mendapat tour tentang tempat ini?"
"Tentu saja, kenapa tidak?" Tanya Aiolos, dia melihat ke arah Saga yang sama sekali tidak setuju dengan hal itu.
"Sebagai kepala pelayan di mansion ini, kamu pasti tahu tempat apa saja yang ada dan bisa membawaku kesana," kata Shun yang merasa Saga tidak akan mengijinkannya.
"Tentu saja aku mengetahui semua tempat di mansion ini, tapi aku tidak bisa."
Shun yang masih duduk di kursinya melihat ke bawah dan terlihat sedih. "Aku akan tinggal disini selamanya, tapi aku tidak boleh mengetahui apapun tentang tempat ini?"
"... Baiklah-baiklah. Kita bisa pergi tour," jawab Saga akhirnya. Dia kaget saat Shun berdiri dan melompat penuh dengan semangat. Pelayan lainnya hanya tertawa dan Saga menyadari kalau dirinya telah di tipu. ".. Kita pergi sekarang."
Saga berjalan keluar dari dapur diikuti oleh Aiolos, Shun, dan Aiolia. "Kamu ikut dengan kami, Aiolia?" Tanya Aiolos pada adiknya.
"Tidak, aku akan ke 'sana'." Lalu Aiolia pergi ke arah sebaliknya.
Setelah melakukan tour yang hampir memakan waktu satu jam dan masih banyak tempat yang belum mereka kunjungi, mereka pun memutuskan untuk mengembalikan Shun ke kamarnya. Mereka terhenti saat Shun yang berjalan di belakang Saga dan Aiolos menaiki tangga yang belum dia naiki selama tour.
Menyadari hal itu, Saga dan Aiolos segera berlari untuk menghentikan langkah wanita muda itu. "Ada apa disana?" Tanya Shun.
"Tidak ada apa-apa. Ini bagian barat yang terisi penuh dengan debu dan barang-barang tua," jawab Saga cepat. Dia berharap setelah mendengarkan penjelasannya Shun tidak tertarik dan memutuskan untuk turun.
Tapi Shun tidak mau. "Jadi ini bagian barat." Dia malah terdengar senang.
"Bagus, Saga." Aiolos memutar bola matanya.
"Umm.. Disana tidak ada apa-apa." Saga mencoba membujuk Shun lagi.
"Kalau memang disana tidak ada apa-apa kenapa dia melarangku? Apa dia menyembunyikan sesuatu?"
"Tidak, dia tidak menyembunyikan apa-apa." Kali ini Aiolos lah yang menjawab.
"Kalau memang dia tidak menyembunyikan sesuatu, dia tidak akan melarangnya." Shun kembali melangkah, melewati dua pelayan kecil itu.
"Bagaimana kalau kita ke ruang tamu? Disana terlihat sangat menyenangkan," kata Saga panik. Shun hanya mengucapkan dia akan melihatnya nanti dan kembali berjalan.
"Mungkin kamu ingin melihat perpustakaan?" Tanya Aiolos, berharap wanita muda itu menyukai buku seperti tuannya.
"Perpustakaan? Kalian memilikinya?" Tanya Shun yang menghentikan kakinya.
Saga tersenyum. "Oh ya! Perpustakaan! Ayo!"
Kedua pelayan itu berjalan pergi dengan argumen kecil di antara mereka sehingga mereka tidak sadar kalau Shun tidak mengikuti mereka.
Sebenarnya Shun ingin melihat perpustakaan mansion ini, tapi rasa penasarannya terhadap bagian barat melebihi keinginan itu. Dia menaiki tangga itu perlahan dan sampai di sebuah lorong yang terlihat normal. Shun yakin sesuatu terjadi pada mansion itu. Dia kembali berjalan menyusuri lorong itu sampai dia terhenti di depan sebuah pintu kayu besar. Setelah bertarung dengan keraguannya, dia mendorong pintu itu dan masuk ke dalam.
"Apa yang kamu lakukan disini?" Sebuah suara membuat Shun melompat kaget, tapi kemudian dia menyadari suara siapa itu.
"Um.. Aiolia.. Aku.."
"Bukankah Hyoga bilang kamu tidak boleh kesini?" Tanya Aiolia, memanggil tuannya dengan nama aslinya. Dia adalah satu-satunya pelayan yang paling berani disini.
"Jadi namanya Hyoga?" Tanya Shun. Kemudian dia melihat keadaan sekitarnya. "Kenapa ruangan ini sangat berantakkan?"
"Karena dia tidak ingin membersihkannya?" Tanya Aiolia. "Sekarang keluarlah, aku tidak akan memberitahunya kalau kamu ada disini."
Tapi Shun tidak mendengarkannya dan malah mendekati benda yang menarik perhatiannya, sebuah mawar menyala yang melayang di dalam kaca penutup. "Apa ini?" Shun membuka kacanya dan meletakkan benda itu ke atas meja.
"Jangan sentuh!" Aiolia mencoba menjauhkan Shun dari sana, tapi dengan tubuh kecilnya dia tidak bisa melakukan apa-apa. Shun hampir saja menyentuh mawar itu kalau seseorang tidak menutup mawanya lagi.
"Aku sudah bilang padamu untuk tidak kesini! Keluar sekarang!" Teriak Hyoga dan Shun mulai melangkah mundur.
"Aku.. Aku.."
"Apa kamu tahu apa yang akan terjadi kalau kamu menyentuhnya? Keluar sekarang!" Hyoga benar-benar marah sekarang. Dia baru saja berencana membiarkan wanita muda itu bebas, tapi mengingat apa yang akan terjadi kalau mawar itu di sentuh membuatnya benar-benar kesal.
Shun mundur beberapa langkah lagi sebelum air mata membasahi pipinya dan berlari keluar dari sana secepat yang ia bisa. Dia berlari melewati Aiolos dan Saga yang bingung.
"Hey! Apa yang kamu lakukan?"
"Janji atau tidak, aku tidak akan tinggal disini." Dia tetap berlari menuju pintu utama mansion itu, membukanya dan pintu itu tertutup dengan keras.
"Tunggu!"
Di bagian barat, Hyoga berdiri di samping meja mawar itu. Dia terlihat sangat depresi di mata Aiolia yang masih berada disana. Aiolia berjalan menuju balkon ruangan itu dan melihat Shun berlari keluar dengan kudanya.
"Dia pergi dengan kudanya." Aiolia berlari masuk untuk memberitahu tuannya. Dia berharap tuannya akan segera bergerak dan menghentikan tahanannya, tapi Hyoga sama sekali tidak bergerak. "Tuan?"
"Kalau dia memang ingin pergi, biarkan saja dia."
.
.
To be continue
