A/N : Gomeeeeeeeen.. Glace baru update sekarang! Glace sibuk sama tugas, ulangan,dan lain sebagainya di sekolah, juga kabur ke fandom lain #alasan. Chapter selanjutnya mungkin akan di update minggu depan kalau Glace bisa dan ga males. Sekali lagi gomeeeeen. Glace juga lagi mencoba buat bikin per chapternya lebih panjang, tapi sepertinya masih belum bisa. Di chapter selanjutnya mungkin hehe.
Makasih buat yang udah baca dan review! Jangan lupa review-nya lagi ya! #Plak
Disclaimer : Saint Seiya punya Masami Kurumada-sensei dan Beauty and The Beast punya Disney.
Sebelumnya :
"Janji atau tidak, aku tidak akan tinggal disini." Dia tetap berlari menuju pintu utama mansion itu, membukanya dan pintu itu tertutup dengan keras.
"Tunggu!"
Di bagian barat, Hyoga berdiri di samping meja mawar itu. Dia terlihat sangat depresi di mata Aiolia yang masih berada disana. Aiolia berjalan menuju balkon ruangan itu dan melihat Shun berlari keluar dengan kudanya.
"Dia pergi dengan kudanya." Aiolia berlari masuk untuk memberitahu tuannya. Dia berharap tuannya akan segera bergerak dan menghentikan tahanannya, tapi Hyoga sama sekali tidak bergerak. "Tuan?"
"Kalau dia memang ingin pergi, biarkan saja dia."
.
Saint Seiya's Beauty and The Beast
Chapter Seven
.
Aiolia keluar dari ruangan tuannya untuk memberikan privasi, dia juga tidak bisa membersihkan ruangan itu kalau Hyoga ada disana. Dia baru saja akan berbelok menuruni tangga saat sebuah bayangan melewatinya dengan cepat. Dari besarnya bayangan dan kecepatannya, bayangan itu adalah milik Hyoga.
Dia tidak tahu apa yang terjadi, tapi dia yakin sesuatu yang buruk terjadi pada Shun. Hyoga pasti melihat cermin itu lagi tadi, pikir Aiolia.
Hyoga berlari dengan kecepatan penuh. Setelah Aiolia keluar dari ruangannya, dia meminta cermin itu menunjukkan dimana Shun dan memperlihatkan gadis berambut hijau itu sedang mempertahankan diri dan kudanya dari kumpulan serigala yang mengelilingi mereka. Merasa dia bertanggung jawab atas hal itu, dia segera berlari meninggalkan mansionnya menuju wanita muda itu berada.
Pohon demi pohon ia lalui, langit sangat gelap saat itu hingga ia sulit melihat, tapi itu tidak menghentikannya untuk bisa menemui Shun. Lolongan serigala terdengar dan dia yakin dia sudah tidak jauh. Dia sampai disana tepat saat seekor serigala melompat ke arah Shun dan kudanya. Dengan cepat dia mendorong serigala itu.
Shun membuka matanya dan melihat Beast berdiri di depannya, menolongnya dari serigala-serigala itu. Satu demi satu serigala itu melompat ke arah si Beast dan satu demi satu serigala itu terlempar ke tanah keras di bawahnya. Kejadian itu terus terjadi secara berulang-ulang sampai akhirnya para serigala pergi dari sana.
Hyoga menoleh ke arah Shun, melihat ekspresi takutnya sebelum dia jatuh ke tanah dan kehilangan kesadarannya. Shun melihat Hyoga dan menyadari beberapa luka yang ada pada tubuh sang Beast. Shun berulang kali melihat ke arah Beast dan jalan yang akan mengantarkannya pulang. Dia ingin pulang kembali pada kakaknya, tapi dia tidak mungkin membiarkan penyelamatnya begitu saja disini.
Shun menghela nafas sebelum akhirnya membantu Hyoga yang tidak sadarkan diri ke atas kudanya dan kembali ke Mansion.
Saat Hyoga membuka matanya, dia sudah berada di atas kursinya yang berhadapan dengan perapian di Mansionnya. Pintu ruangan itu terbuka, Hyoga melihat Shun masuk bersama beberapa pelayannya. Kuda Shun tertidur di dekat perapian.
"Kamu sudah sadar?" Tanya Shun seraya berjalan mendekati Hyoga. Dia meletakkan baskom yang ia bawa tadi di lantai dan menarik tangan Hyoga yang terluka. "Aku akan mengobatinya. Jadi, jangan banyak bergerak."
Hyoga tidak peduli dengan itu, perhatiannya malah tertuju pada kuda milik Shun. "Kenapa kuda itu ada disini?"
"Karena di luar dingin dan dia sudah membantuku untuk menyelamatkanmu," jawab Shun. Lalu dia menuangkan air panas dari teko Mu ke dalam baskom, mencelupkan kain yang ia pegang ke dalam sana dan bersiap mengobati luka sang Beast yang sibuk menjilati lukanya sendiri. "Ugh! Lukanya tidak akan sembuh dengan cara itu. Biar aku obati!"
Shun menyentuh luka Hyoga dengan kain basah itu, membuat si Beast menggeram karena sakit. Hyoga menarik lengannya dari Shun, tapi gadis berambut hijau itu menariknya kembali dan berniat membersihkan luka itu lagi.
"Sakit!" Teriak Hyoga kali ini. Pelayan-pelayannya mundur beberapa langkah, tapi Shun tetap berada di tempatnya dengan tenang.
"Itu tidak akan begitu sakit kalau kamu tidak bergerak," jawab Shun.
"Ini tidak akan terjadi kalau kamu tidak pergi dari sini!"
"Aku tidak akan pergi dari sini kalau kamu tidak membuatku takut!" Terjadilah adu mulut di antara kedua orang itu.
"Kalau kamu tidak pergi ke bagian Barat, aku tidak akan berteriak seperti itu padamu!"
"Kamu harus mengontrol emosimu!" Shun berteriak. Hyoga tidak bisa mengatakan apa-apa lagi setelah itu dan Shun kembali berusaha mengobati luka Hyoga. "Terima kasih. Kamu sudah menyelamatkanku dan kudaku."
Hyoga terdiam sesaat sebelum berbicara dengan nada yang jauh lebih lembut dari biasanya. "Kembali."
"Oh ya. Namaku Shun."
"Hyoga," balas si Beast. Setelah Shun selesai membersihkan lukanya, Hyoga berdiri. "Sudah saatnya untuk tidur."
"Baiklah." Shun berjalan mendekati kudanya. "Bangun. Kamu boleh tidur di kamarku malam ini karena di luar dingin dan kamu sudah membantuku tadi. Selamat malam, Hyoga."
"Selamat malam, Shun." Hyoga berjalan ke bagian Barat dan Shun ke kamarnya.
Di kamarnya, Shun di sambut oleh Aphrodite yang bertanya-tanya tentang kuda dan ijin dari tuannya. Setelah berbicara mengenai hal itu, Aphrodite mempersilahkan Shun yang terlihat sangat lelah untuk tidur.
Malam itu di kota, Seiya dan Jabu duduk di dua buah kursi yang berhadapan dengan pria tua berambut putih yang menyentuh punggungnya. Pakaiannya berwarna ungu tua dan terlihat mahal.
"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya pria tua itu pada Seiya. Tangannya bergerak untuk menghitung lembaran uang yang baru saja ia terima dari tamunya.
"Ada seseorang yang sangat aku inginkan di kota ini. Tapi, tidak seperti para gadis lainnya yang sangat menginginkanku, dia selalu menolakku," jelas Seiya dan Jabu tertawa sebelum mendapat pukulan dari temannya tepat di kepala. "Aku ingin mendapatkannya bagaimana pun caranya. Dia memiliki seorang kakak laki-laki yang bernama Ikki."
"Ya, dia tiba-tiba saja masuk ke dalam bar dan berteriak tentang monster yang menangkap adiknya," kata Jabu.
Pria tua di hadapan mereka tampak tidak tertarik. "Jadi apa yang kalian inginkan dariku, Ikki tidak berbahaya. Orang yang berada di tempatku itu adalah orang-orang berbahaya sehingga mereka di tangkap."
"Aku tahu itu." Seiya menghela nafas. "Shun sangat menyayangi kakaknya dan dia akan melakukan apa saja untuk mencegah kakaknya itu masuk ke tempat dimana orang-orang yang tak segan untuk melukai orang lain berada. Termasuk menikahiku."
"Jadi itu apa yang kamu inginkan? Kamu ingin aku memasukan Ikki ke sana sampai Shun ingin menikahimu?" Tanya pria tua itu dan Seiya mengangguk yakin. "Baiklah, aku akan melakukannya."
Di rumah Ikki dan Shun, pemuda berambut biru tua itu sudah berhenti berharap kalau warga kota itu akan membantunya. Oleh karena itu, dia memutuskan untuk menyelamatkan adiknya sendirian.
Dia keluar dari rumahnya dan mulai berjalan dengan sebuah lentera kecil di tengah hujan salju malam itu. Dia berjalan memasuki hutan gelap di hadapannya saat Seiya, Jabu, dan pria tua yang mereka temui itu datang ke rumahnya.
Seiya mengetuk pintu rumah kedua kakak beradik itu, tapi tidak ada yang menjawab. Rumah itu kosong. Tidak ada seorang pun disana. Jabu mentertawakan usaha Seiya yang sia-sia dan mendapat tugas untuk berjaga di sekitar rumah itu sebagai balasan.
Keesokkan paginya, Shun bermain dengan riang bersama kudanya dan seekor anjing yang di kutuk menjadi bantal kaki di halaman Mansion itu. Dia tidak sadar kalau ada tiga orang yang memperhatikannya dari balkon lantai dua Mansion itu: Hyoga, Saga, dan Aiolos.
Saat melihat sekitarnya, Saga melihat Hyoga memegang lukanya yang sudah di perban oleh Shun kemarin malam. Aiolos juga menyadarinya dan mengetahui ekspresi tuannya itu. Dia sedang jatuh cinta.
"Tuan, apa kamu menyukainya?" Tanya sang tempat lilin perlahan, tidak ingin menyinggung perasaan tuannya itu. Dia sudah pernah menjadi sasaran kemarahan sang Beast dan itu tidak menyenangkan. "Shun adalah gadis yang baik. Dia pasti bisa melepaskan kutukan itu."
"Kalau pun aku menyukainya, dia tidak menyukaiku. Gadis cantik seperti Shun tidak akan pernah menyukai Beast sepertiku," kata Hyoga. Kepalanya tertunduk dan dia pun berbalik untuk masuk ke dalam kamarnya lagi, menyembunyikan dirinya yang seperti monster dari dunia. "Aku sudah menyerah."
"Tuan, kelopak bunga mawar itu sebentar lagi akan habis dan saat itu terjadi semua yang berada di dalam Mansion ini akan tetap berada dalam wujud seperti ini. Saya tidak bermaksud lancang, tapi yang mengalami ini bukan Anda sendirian," kata Aiolos pada sosok Hyoga yang berhenti di depan pintu kacanya. "Apa yang dapat menghancurkan kutukan ini sudah ada di depan Anda."
Hyoga kembali melihat Shun yang bermain dengan riang bersama kudanya dari atas pundaknya. Dia sangat ingin bisa kembali menjadi manusia, dia tahu kutukan itu mungkin bisa di lepaskan oleh Shun, tapi dia takut.. Takut kalau kejadian itu akan terulang lagi, dia tidak ingin mengalami hal yang sama seperti hari itu.
Malam itu Shun duduk di dekat perapian bersama dengan Aiolos, Saga, Mu, Kiki, dan juga Aiolia. Mereka hanya menatap perapian yang menyalah dan menghangatkan tubuh mereka di tengah musim dingin itu. Shun yang terlihat sedikit bosan akhirnya mengajak mereka berbicara.
"Jadi.. Apa yang membuat Mansion ini di kutuk?" Tanyanya.
Semua pelayan -kecuali Kiki- saling bertatapan, menanyakan apa mereka harus memberitahu Shun tentang apa yang sebenarnya terjadi disana. Akhirnya mereka berempat mengangguk dan Aiolos memulai karena Saga memaksanya.
Hyoga kecil berlari masuk ke dalam Mansionya setelah hari yang panjang dan melelahkan di kota. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan kedua orang tuanya yang tidak bisa ikut karena urusan bisnis dengan teman baiknya, juga ayah dari teman baik Hyoga.
"Aneh," pikir anak laki-laki berambut pirang itu saat ia berlari di lorong untuk menuju ruang kerja ayah dan ibunya yang sangat sepi. Biasanya beberapa pelayan akan sibuk membersihkan perabotan karena ayahnya sangat menyukai kebersihan dan tidak akan membiarkan barang antiknya berdebu walaupun setitik. "Papa! Mama! Paman!"
Tidak ada jawaban selain sebuah gerakan tiba-tiba yang menghasilkan suara orang membentur sesuatu dengan keras, di susul dengan suara pecahan. Hyoga cemas, berlari lebih cepat dari sebelumnya. Seorang pria berambut biru tua panjang yang merupakan pelayan pribadi Hyoga mengikutinya dari belakang karena dia juga cemas.
Hyoga membuka pintu ruang kerja ayahnya dan sangat terkejut saat melihat apa yang ada di depan matanya. Kedua orang tuanya terbaring kaku di lantai, darah menodai pakaian, rambut, tubuh, juga lantai yang dilapisi karpet. Beberapa langkah dari tubuh mereka, berdiri seorang pria tinggi berambut biru tua pendek yang memegang sebuah pisau yang juga ternoda darah di tangan kanannya.
"Pa..man..?"
Jendela di buka dan pria yang merupakan sahabat baik keluarga mereka itu menghilang, meninggalkan ruangan dan pisau yang di penuhi oleh darah.
.
.
To be continue..
