Disclaimer : Masami Kurumada-sensei dan Walt Disney.
Chapter Eight :
Sebelumnya (masih flashback):
Hyoga membuka pintu ruang kerja ayahnya dan sangat terkejut saat melihat apa yang ada di depan matanya. Kedua orang tuanya terbaring kaku di lantai, darah menodai pakaian, rambut, tubuh, juga lantai yang dilapisi karpet. Beberapa langkah dari tubuh mereka, berdiri seorang pria tinggi berambut biru tua pendek yang memegang sebuah pisau yang juga ternoda darah di tangan kanannya.
"Pa..man..?"
Jendela di buka dan pria yang merupakan sahabat baik keluarga mereka itu menghilang, meninggalkan ruangan dan pisau yang di penuhi oleh darah.
.
Saint Seiya's Beauty and The Beast
Chapter Eight
.
Saga yang berada di belakang Hyoga segera menutup mata tuan mudanya dengan tangannya, dia tidak mungkin membiarkan seorang anak kecil melihat pemandangan seperti itu tepat di depan matanya. Kedua orang tuanya tergeletak tak bernyawa dan berlumuran darah.
Hyoga menarik paksa tangannya, membuatnya terlepas, dan dia segera berlari ke sebelah papa dan mamanya. "Kenapa? Kenapa paman tega melakukan ini pada mereka? Apa salah mereka?" Tanyanya dengan suara yang bergetar. Matanya panas dan air mata menuruni pipinya dan jatuh ke atas karpet, bercampur dengan darah orang tuanya. "Tangkap dia.. Jangan biarkan dia lolos!"
Itulah hari terakhir Saga melihat Hyoga mengeluarkan air matanya dan memperlihatkan kesedihan.
Tahun demi tahun berlalu, Hyoga tumbuh menjadi seorang pemuda yang dingin dan tidak pernah mempercayai siapapun kecuali dirinya sendiri. Dia menjadi seperti itu bukan hanya karena kematian orang tuanya, tapi juga pengkhianatan oleh para pelayan dan orang-orang yang ia percayai lainnya.
Tidak jarang ia mengusir orang yang berkunjung ke mansionnya karena mereka merencanakan sesuatu yang melibatkan pengkhianatan atau pengambilan hartanya. Dia lelah dengan semua itu hingga akhirnya dia melarang semua orang untuk mengunjunginya. Para pelayan pun hanya boleh keluar dari mansion bila memiliki sesuatu urusan yang mendesak.
Tetapi, semua itu benar-benar berubah saat natal tiba.
Para pelayan menyiapkan diri untuk pesta natal, menghias seluruh mansion dengan pernak pernik natal yang cantik dan indah, menyisir salju yang menumpuk, dan koki mempersiapkan makanan yang banyak dan lezat. Mereka pun memanggil Hyoga untuk merayakan bersama mereka, tapi bel berbunyi dan tuan muda itu lah yang memutuskan untuk membuka pintu untuk melihat siapa yang berani mengunjunginya.
Seorang wanita tua berdiri di depan pintunya, tubuhnya di tutupi oleh sebuah jubah hitam lusuh yang terlihat sudah tidak layak pakai dan dia mengigil. Di tangannya terdapat satu keranjang penuh dengan bunga mawar merah.
"Tuan, ijinkanlah saya bermalam disini. Hari sudah malam dan dingin. Sebagai bayarannya saya akan memberikan setangkai mawar indah ini pada Anda," katanya seraya menarik satu tangkai bunga mawar dari kerajangnya.
Hyoga melipat kedua tangannya di depan dadanya dan menatap wanita tua itu dengan tatapan dingin yang sudah menghias wajahnya selama beberapa tahun. "Untuk apa aku mengijinkanmu bermalam di mansionku? Aku tidak tahu siapa kau dan apa yang sebenarnya kamu inginkan," jawabnya. "Sekarang pergilah! Tidak akan ada orang yang akan menerima seseorang yang sangat buruk rupa!"
Cahaya terang menyelimuti wanita tua itu, membuat Hyoga menyipitkan matanya, dan juga melindungi matanya dengan lengan. Dalam sekejap, wanita tua itu berubah menjadi seorang wanita muda yang cantik dengan rambut ungu panjang dan gaun putih panjang yang bahkan menutupi kakinya. "Rupa tidak penting jika orang itu memiliki hati yang baik, Hyoga. Kebaikan sudah lenyap dari dalam hatimu dan menjadi penuh dengan kebencian, tidak ada kasih."
"Darimana kamu mengetahui namaku? Siapa kamu sebenarnya?" Tanya Hyoga kaget, dia mundur beberapa langkah dari wanita yang menggunakan sihir itu. "Bagaimana mungkin aku tidak penuh dengan kebencian setelah apa yang telah terjadi dalam hidupku?"
"Kamu tidak perlu tahu siapa aku," jawab wanita itu. Mawar merah yang ia ambil dari keranjang tadi masih berada di tangannya. "Meskipun begitu, kamu tidak perlu membenci semua orang dan membuat mereka menjauh darimu. Aku akan menghukummu." Wanita itu mengayunkan tongkatnya, mengakibatkan cahaya menyelimuti tubuh Hyoga dan saat cahaya itu menghilang Hyoga sudah tidak ada disana melainkan seekor makhluk besar yang menyeramkan.
"Apa yang kamu lakukan padaku?" Tanya sang beast seraya melihat lengannya yang sekarang penuh dengan bulu panjang berwarna coklat. "Ubah aku kembali!"
"Kutukan yang aku berikan padamu tidak dapat di tarik kembali," katanya tenang seraya memberikan bunga mawar yang ada di tangannya pada pemuda yang sudah berubah itu. "Satu-satunya cara agar kamu dan seisi mansionmu dapat kembali menjadi normal adalah dengan menyukai seseorang dan dia juga membalas perasaanmu. Kamu mempunyai waktu sampai semua kelopak bunga mawar ini layu yaitu pada ulang tahunmu yang ke dua puluh satu." Lalu dia memberikan sebuah cermin bundar dengan pegangan. "Kamu dapat melihat dunia luar dengan cermin ini."
"Siapakah yang akan jatuh cinta pada seorang beast? Bagaimana mungkin aku yang sudah melupakan apa itu cinta bisa menyukai seseorang?"
Lalu wanita bergaun putih itu hilang tanpa bekas.
Shun yang mendengarkan cerita dari sang pelayan Hyoga membuka mulutnya tidak percaya, dia tidak tahu kalau ternyata beast yang selalu bersikap dingin dan kasar adalah seorang anak laki-laki manis yang berubah karena tragedi dan pengkhianatan. Dia pikir Hyoga memang bersikap jelek sejak awal sehingga ia di ubah.
"Itulah apa yang terjadi pada tuan kami dan ulang tahunnya yang kedua puluh satu semakin mendekat," kata Saga yang kepalanya tertunduk lemas. "Kami memang tidak ingin terus berada dalam keadaan seperti ini, tapi kami lebih peduli pada tuan Hyoga yang tidak pernah bisa tersenyum lagi. Dia membutuhkan kebahagiaan setelah apa yang telah menimpanya selama bertahun-tahun."
Shun menganggukan kepalanya, seakan meyakinkan dirinya sendiri. "Baiklah, kita akan membuat Hyoga kembali menjadi dirinya yang dulu dan aku butuh bantuan kalian."
Tiba-tiba saja terdengar geraman dari bagian barat, mereka segera berlari menaiki tangga dan masuk ke dalam kamar beast yang gelap dan berantakan. Shun langsung berlari kesebelahnya, mengguncangkan tubuh beast agar dapat membangunkannya dari mimpi buruk yang mungkin ia dapatkan saat itu.
Saga, Aiolos, Aiolia, dan Mu terlihat cemas dengan keadaan tuannya. Setiap malam dia hampir selalu memiliki mimpi buruk yang membuatnya berteriak dan pada akhirnya menghancurkan barang-barang yang memang sudah hancur sejak beberapa tahun yang lalu.
"Hyoga! Bangun!"
Setelah mencoba membangunkan Hyoga beberapa menit, akhirnya dia membuka matanya dan melihat sekitarnya. "Apa yang kalian lakukan disini?" Tanyanya setelah menyadari kehadiran Shun dan para pelayan di ruangannya, kemudian duduk di atas kasurnya.
"Kamu berteriak tadi dan kami cemas," jawab Shun dengan wajah cemasnya. "Kamu baik-baik saja?"
Hyoga mengangguk. "Aku baik-baik saja, kembali lah ke kamar kalian."
Semua pun pergi dari kamar Hyoga seperti apa yang di perintahkan dan disaat yang lain sudah pergi, Shun berhenti dan bersandar pada pintu kamar Hyoga lalu berbisik pada dirinya sendiri. "Aku akan membantumu, Hyoga, karena mungkin aku..."
.
.
To be continue..
.
.
A/N : Maaf karena Glace baru update sekarang dan pendek banget. Glace sedikit kehilangan minat dan sibuk sama tugas sekolah + ulangan, tapi Glace akan coba buat secepatnya buat chapter selanjutnya. Sekali lagi gomennn..
Makasih buat review dan yang udah baca :)
Gomen ya Kyuu-san hehe
