BLEACH © TITE KUBO

Unforgiven Angel

Part #2

.

.


Setelah perawat keluar, kini tersisa Rukia bersama Senna dan temannya di dalam ruang kesehatan. Ruangan yang didominasi warna putih tersebut berkilauan tertimpa warna matahari sore yang mencorong melewati jendela-jendela sekolah. Rukia menatap simpati pada jingga tua di mata Senna, lalu beralih ke bahu belakang gadis itu yang mungkin berwarna lebam berkat bola bisbol.

"Maafkan aku," sesal Rukia segera ia membantu Senna untuk duduk di atas ranjang usai diperiksa.

"Bukan salahmu, uhm—"

"Kuchiki Rukia, itu namaku. Namamu?"

Senna tersenyum simpul, "Kanae Senna." Seraya menoleh, Senna memperkenalkan siswa laki-laki yang berdiri kaku di sebelahnya, "Dia temanku, Ulquiorra Schriffer."

Rukia menunduk kikuk, lalu mengucapkan salam perkenalan. Lelaki itu ramping, berdiri menjulang dengan tatapan tajam ia menyambut salam Rukia. Rambutnya yang sedikit gondrong ia kuncir rapi, rambut hitam yang berpadu kontras dengan warna kulitnya yang putih tampak maskulin di mata Rukia.

"Kau siswa yang menjual bunga mawar tadi, 'kan?"

"Iya—bagaimana keadaanmu, Senna?"

"Aku baik-baik saja. Untung aku tidak sampai amnesia," Senna kemudian terkikik, dengan tak sabar ia membisikkan sesuatu pada Ulquiorra, "Ini dia gadis yang kubilang tadi, mirip sekali denganmu, 'kan?"

Ulquiorra memperhatikan Rukia. Mengundang reaksi tidak suka dari Rukia ketika lelaki itu tanpa berkedip memperhatikannya, seakan dengan begitu Rukia merasa ditelanjangi.

Perkenalan mereka terganggu oleh kedatangan Ichigo yang muncul dari balik pintu ruangan kesehatan. Sontak Rukia berbalik, sebisa mungkin menyembunyikan raut ketakutan di depan Senna dan Ulquiorra.

Ichigo tampak tak mempedulikan kehadiran Rukia di sana. Ia menatap lurus pada Senna. Lalu sebagai permintaan maaf ia membungkuk. Dengan penyesalan yang sungguh-sungguh ia bertanya, "Apa kau baik-baik saja?"

"Seperti yang kaulihat, aku baik-baik saja. Aku tidak tahu kaupunya masalah apa dengan Kuchiki-san, tapi apa yang kaulakukan tadi itu sangat berbahaya. Beruntung aku ada di sana dan melindunginya." Tak sabar Senna menyemprot Ichigo lagi, "Kukira kau ini laki-laki yang baik."

Kerutan di dahi Ichigo menghilang, dilihat lagi wajah Senna dengan raut penasaran.

"Bukan 'kah, kau gadis yang kuberi boneka beruang itu?"

"Benar!" mendadak Senna berubah salah tingkah, ia terlalu antusias dengan Ichigo yang masih mengingat wajahnya.

"Aku sungguh minta maaf, Senna."

Tu-tunggu, Senna berbinar-binar ketika namanya disebut oleh Ichigo. "Kau tahu namaku?" tanyanya kemudian.

"Ya, aku mendengar percakapan kalian tadi."

"Huh! Tukang menguping!"

Ulquiorra membisu di tengah obrolan Senna dan Ichigo. Sekilas ia melirik pada wajah Rukia yang menekuk, jelas terlihat dari mata Ulquiorra kalau bibir gadis itu memucat.

.

.

Sejak insiden di festival itu terjadi, Ichigo dan Senna menjadi dekat. Mereka berteman, saling bertegur sapa dan menunjukkan perhatian. Ichigo dengan terang-terangan memperlihatkan ketertarikannya akan sifat periang Senna, begitu juga Senna yang dengan antusias selalu menambah intensitas pertemuan mereka sesering mungkin.

Senna sering mengunjungi Ichigo di sekolah, berhubung mereka berbeda sekolah. Pun Ichigo yang biasa menemui Senna di sekolahnya. Berkat kehadiran Senna, Ichigo perlahan mengabaikan kebenciannya pada Rukia. Walaupun tidak sepenuhnya, namun beberapa bulan ini, Rukia merasa ada yang berbeda dengan sikap Ichigo.

Di balik itu, entah mengapa ada hal yang mengusik hati Rukia lebih dari sikap jahil Ichigo padanya. Kekosongan muncul di benaknya. Ada kecemburuan di sudut hatinya. Kenapa? Bukannya, Ichigo begitu membencinya? Mereka bukan sepasang kekekasih yang harus mencemburui? Tetapi—sikap sinis, perlakukan buruk dari Ichigo seolah bagi Rukia adalah bentuk perhatian yang berbeda.

Dari jendela kelas, Rukia melihat kehangatan yang diumbar Ichigo pada Senna. Senna menemui Ichigo di sekolah saat jam pulang sekolah. Barangkali mereka akan berkencan? Dada Rukia berdebar. Rasa iri muncul setiap kali ia membayangkan itu.

Rukia membenturkan kepala di atas meja, sembari merutuki perasaan yang begitu tidak tahu malunya mengendap di hatinya.

.

.

"Teman kencanmu manis juga."

Komentar Ggio berhasil menarik seulas senyuman dari Ichigo, "Aku tahu."

"Hohoho. Kurosaki Ichigo tersenyum!"

Merasa diolok-olok oleh Ggio, Ichigo memukul kepala temannya di tengah koridor sekolah. Mereka tengah berjalan menuju kelas.

"Kau bahkan melupakan mainanmu," Ishida mencoba menyindir.

"Berhenti mengatakan mainan! Aku tidak tertarik lagi menjahatinya, Senna bilang dia tidak suka aku—"

"Waw! Berkat Senna kau jadi sebaik ini."

Ichigo menyeringai kecil, "Meskipun begitu aku tetap membencinya."

Ggio tergelak. Tertawa lagi dengan memamerkan gigi-ginya yang rapi. Otaknya berputar, menawarkan ide pada Ichigo yang akhir-akhir ini kehabisan ide untuk menjahati Kuchiki Rukia.

"Bagaimana kalau Kuchiki Rukia jadi mainanku?"

Sontak Ichigo menoleh pada Ggio. Dengan mata memicing ia mencari penjelasan dari maksud pertanyaan Ggio yang tiba-tiba. "Sudah kubilang dia bukan mainanku! Terserah kau mau apakan dia, jangan menanyakan pertanyaan yang tidak berhak kujawab, Ggio Vega," seraya menarik napas, Ichigo mempercepat langkah. Meninggalkan Ggio yang kini tengah tersenyum licik.

Ishida menyoroti Ggio dengan tatapan serius, "Apa yang mau kaulakukan?"

"Hanya permainan kecil. Sejak dulu aku penasaran bagaimana rasanya perempuan yang dibenci Ichigo."

"Rasa? Apa maksudmu?" Ishida kian penasaran, menggiring Ggio agar mau menceritakan ide apa yang disimpan di otak playboy seperti Ggio.

"Sudahlah, Ishida. Ini rahasiaku."

Cemas dengan niatan buruk yang muncul dari Ggio, Ishida menarik bahu Ggio dengan kerutan dahi yang mendalam. "Kau tidak akan berbuat kriminal, 'kan?" pertanyaan bernada menyudutkan tersebut seketika mencekik kewarasan Ggio.

"Permainan kecil. Aku ingin gadis itu juga menunjukkan ketakutannya padaku. Lagipula, ini bukan perbuatan kriminal."

Ggio menghindari Ishida dengan berlalu cepat menuju kelas. Sementara itu Ishida tercenung dengan pikiran negatifnya, mencoba menebak dan menenangkan pada diri sendiri bahwa Ggio tidak akan melakukan hal berbahaya pada gadis malang seperti Rukia.

.

Hari itu usai pelajaran olahraga, Rukia sebagai petugas piket membawa alat-alat olah raga untuk dikembalikan ke dalam gudang. Dibantu oleh dua petugas piket yang lain, mereka menyusun perlengkapan olah raga yang baru saja digunakan.

Beberapa menit berlalu, pekerjaan mereka selesai. Namun, karena Rukia kebagian menyapu lantai di gudang, alhasil ia dibiarkan bekerja sendiri di sana sementara kedua temannya tadi beristirahat lebih dulu.

Gudang sekolah terletak di sekitar kebun sekolah. Ruangan dengan luas empat kali enam meter tersebut tampak sepi. Bahkan sampai membangunkan rasa takut tak beralasan dalam diri Rukia.

Ketika Rukia hampir menyelesaikan tugasnya. Mendadak suara pintu mengalihkan perhatian Rukia pada pintu yang sudah tertutup.

Dengan raut kekhawatiran, Rukia memandang seseorang yang kini sudah berada di dalam gudang dengan menahan handle pintu agar tetap tertutup.

"Ka-kau—" firasat buruk menyerang gadis itu. Wajahnya pias mencoba menghilangkan rasa takutnya yang berlebihan.

.

"Dimana Ggio?"

Ishida menghampiri Ichigo yang tengah mengganti seragam olahraga di ruang loker. "Bukannya tadi bersamamu," Ichigo menjawab sekenanya seraya mengunci kembali loker.

"Tidak."

"Ha! Mungkin dia sedang bersama pacar ke sebelasnya," masih dengan sikap santainya Ichigo berjalan gontai meninggalkan ruang loker, sedangkan Ishida memandang cemas pada punggung Ichigo yang mulai menjauh.

Firasatnya buruk. Ishida ingat apa yang kemarin Ggio sampaikan. Permainan kecil? Buru-buru ia menyamai langkah Ichigo yang sudah berada di luar ruangan.

"Apa kau melihat Kuchiki-san?"

Ichigo mendesah, merasa jengah ketika nama Kuchiki Rukia ia dengar dari mulut sepupunya itu. "Tidak! Meski aku melihat wujudnya, tetap saja aku merasa tidak melihat—" ucapan Ichigo terputus ketika tiba-tiba saja Ishida berlari menuju kelas mereka, "Hei, Ishida!"

Merasa ada yang aneh dengan Ishida, Ichigo mengikutinya.

"Tidak ada," gumam Ishida menyimpan khawatir. "Kau melihat Kuchiki-san?" kembali ia bertanya, menuntut jawaban dari salah seorang anggota kelas mereka.

"Oh, tadi Kuchiki-san ada di gudang."

Ichigo yang sudah berdiri di samping Ishida hanya diam memperhatikan, kenapa sepupunya itu terlihat gusar? "Kenapa kau mencari perempuan itu?" tanyanya sarkatis.

"Ggio—dia, akan melakukan sesuatu pada mainanmu itu. Aku tidak tahu apa yang disimpan di dalam otaknya. Tapi, kita harus mencari Ggio. Perasaanku tidak enak, Ichigo."

Penjelasan Ishida akhirnya memancing kesadaran Ichigo. Sambil ikut berlari, ia menyusul Ishida. Apa—apa yang mau dilakukan Ggio?

.

Rukia meronta. Mencoba melepaskan satu genggaman Ggio pada kedua lengannya. Tubuhnya tersandar di dinding, terperangkap oleh tubuh Ggio. Sedangkan mulutnya tertutup rapat oleh satu genggaman lagi dari tangan Ggio yang berhasil menutupi nyaris seluruh wajah Rukia.

"Bodoh. Seharusnya kau lebih waspada, Kuchiki-san."

Mulut Rukia terbungkam. Dadanya naik turun mencoba bernapas dari hidung sedapat mungkin.

"Bukankah kau tidak pernah melawan saat Ichigo menjahatimu. Jadi sekarang, diamlah, aku hanya ingin menciummu kok."

Tidak! Rukia sama sekali terkurung. Saat Ggio menggeser genggamannya pada dagu Rukia, sekejap bibir gadis itu telah dicium Ggio. Rukia dicium paksa tanpa diberi waktu untuk menarik napas.

Brak.

Keasyikan Ggio diganggu. Ia menghentikan aksinya, memindai sudut matanya pada sosok Ishida yang berhamburan masuk dengan mendobrak pintu gudang.

"Astaga, Ggio!" segera Ishida memisahkan tubuh kecil Rukia yang lemas dari rengkuhan Ggio, merangkul pundak Rukia dengan begitu protektif. "Kau benar-benar tidak waras," tambahnya seraya membawa Rukia pergi.

Ggio membatu. Mengamati bagaimana lemahnya tubuh Rukia gara-gara perbuatan yang dia lakukan barusan. Sungguh, Ggio tidak berniat buruk. Dia hanya mencoba mencium, karena perempuan biasanya tidak akan menolak dia.

Sinar mata Rukia memudar. Dahinya curam melekuk, menyimpan ketakutan yang besar. Ketika dipapah Ishida, ia menangkap bayangan Kurosaki Ichigo yang kini berdiri diam di depan pintu gudang. Mata mereka bertemu.

Ichigo melihat sudut bibir Rukia yang terluka. Itu—sepertinya bekas ciuman paksa Ggio.

Rukia dengan kemarahan tersimpan, memandangi Ichigo dengan air mata yang sudah menggenang.

Mata Ichigo benar-benar bertemu pandang dengan Rukia. Bagai sebilah pedang, Ichigo merasa disayat-sayat oleh tatapan perempuan yang sejak dulu ia benci itu. Duka yang besar seakan ia tanam kembali di hati Rukia.

Tetapi, seiring langkah Rukia menjauh, Ichigo merasakan sesuatu yang lain. Sesuatu yang tertinggal dari gadis itu, membumbung tinggi di dalam diri Ichigo.

Ishida sendiri menghakimi Ichigo dengan tatapan tajam. Dia berharap suatu saat Ichigo menyadari kesalahannya pada gadis ini.

Masih dalam kebekuan. Ichigo menatap dingin pada Ggio. Bola matanya seakan ingin keluar dari rongga dengan semua kekurangajaran Ggio pada perempuan itu. Ya, dia memang membenci Rukia, tetapi tak pernah terpikirkan bagi Ichigo untuk melecehkannya.

"Dasar, Ishida sialan. Padahal aku baru saja bermain sebentar."

Seakan ada rantai di leher, Ichigo merasa tercekik dengan ucapan seenaknya Ggio barusan.

Bruk.

Dalam sekali pukulan. Ggio roboh, jatuh terlentang.

"Manusia rendah? !" sembur Ichigo dengan kemarahan tinggi.

Tak terima dengan makian itu, Ggio segera berdiri, berniat membalas Ichigo dengan pukulan yang sama. Namun, niatnya diurungkan ketika rasa bersalah muncul di hati Ggio. Dia menyesal.

"Sebelum menilai orang, bercerminlah dulu, Ichigo. Aku memang menjahatinya, tapi di sini tak ada orang, setidaknya dia tidak dipermalukan di muka umum seperti yang kaulakukan selama ini padanya."

"Aku—memang membencinya. Benci sekali. Tapi, Ggio, sekalipun aku tidak pernah berpikir menyentuhnya seperti apa yang kaulakukan tadi!"

"Sama saja," Ggio mendengus lalu meneruskan kembali kata-katanya. "Lagipula aku tidak berbuat lebih, kawan. Hanya dicium, tidak ada lagi. Gadis itu saja yang berlagak suci. Ichigo, Ichigo, harusnya kau mentraktirku karena berhasil menakuti Kuchiki Rukia."

.

Dua hari Rukia tidak masuk sekolah. Ia terbaring di kamar dengan tubuh lunglai, tak ada semangat untuk menjalani hari-harinya. Itu semua karena perlakuan tak senonoh yang dilakukan teman Ichigo padanya beberapa waktu lalu di gudang. Rukia meringkuk di ranjang dengan selimut tergulung di tubuhnya seperti kepompong.

Berulang kali Rukia menyentuh bibirnya yang perih. Ggio merobek bibir kecil itu dengan giginya yang taring.

"Rukia, mau sampai kapan kau terbaring terus?"

Hisana membuka tirai jendela kamar Rukia. Membuat kamar itu diisi penuh oleh sinar pagi.

"Bangunlah, Rukia. Kau harus sarapan."

Sebenarnya Rukia sudah terbangun, tetapi suasana hatinya benar-benar sedang buruk. Dua hari ini ia beralasan sakit, menghindari semua yang berkaitan dengan urusan sekolah. Untungnya, sang kakak bisa mengerti dan membiarkan Rukia beristirahat untuk beberapa hari.

.

"Sudah dua hari Kuchiki-san tidak hadir, dan itu karena perbuatanmu."

Dicermahi begitu oleh Ishida, Ggio mendesis bosan. Ia mengorek-ngorek telinganya—bersikap tak terjadi apapun.

"Aku akan minta maaf kalau dia sudah masuk sekolah," janjinya pada Ishida. Ishida tak merespons, ia berpaling pada Ichigo yang duduk diam di bangkunya.

Bagi Ichigo, waktu seolah menyihir. Dari bangkunya—ia mengawasi bangku dimana Kuchiki Rukia biasa memperhatikan penjelasan para sensei.

Mereka duduk di barisan yang sama, hanya saja Ichigo berada di blok pinggir dinding sebelah kanan sedangkan Rukia di blok pinggir kiri.

Gadis itu sedang tidak ada di bangkunya. Kosong. Ketidakhadiran Rukia bahkan tampak jauh lebih menyiksa daripada saat dimana gadis itu hadir. Ichigo tiba-tiba menjadi gelisah.

Kelas yang ramai seakan berganti sepi. Ichigo merasa ruangan itu menggelap, lalu secara berkala jantungnya berdegup tak normal.

Seakan-akan menjadi bagian dari dimensi gelapnya, Ichigo meletakkan kepala di meja, menyembunyikan wajahnya di balik lengannya yang kokoh. Matanya terpejam, menikmati kegelapan yang ia ciptakan sendiri.

Ia tersiksa oleh desakan tak tertahankan untuk keluar dari situasi ini. Ia berharap bisa menemukan lentera, dan bergegas mencari jalan kebebasan.

Dalam kegelapannya, Ichigo merasa sesuatu tengah dibisikkan dalam hatinya, 'pernahkan kaulihat wajah Kuchiki Rukia yang biasa kau takut-takuti dengan ancamanmu?' Ichigo bergeming di tempatnya, terdiam dalam lamunan.

Dan dia merasa seakan-akan sesuatu lebih dahulu teraduk-aduk di dalam dirinya, dan lalu disembunyikan. Napasnya menyesak dan tersengal—seperti ada beban yang menimpa punggungnya.

Dadanya berdebar, menyakitkan. Hingga jemarinya mencari-cari dimana letak syaraf yang bisa membuat jantungnya segelisah ini. Beriringan dengan angin yang begitu asing menyelinap ke dalam dirinya.

Demi kelegaan, ia menarik napas dalam-dalam. Namun, sesaat kemudian, Ichigo kembali cemas. Matanya terbuka perlahan ketika tanpa sadar bibirnya menyimpul membisikkan nama, 'Rukia.' Terasa asing dan intim, nama itu seperti beban yang beratnya meningkat dengan luar biasa membuat sekujur rongga dadanya bergetar tanpa sebab.

.

Setelah bosan meringkuk di dalam rumah. Rukia kembali memberanikan diri untuk pergi ke sekolah. Dengan mengenakan sweater abu-abu dan masker penutup mulut, ia berpura-pura tengah menderita flu.

Dia menelusuri koridor sekolah, melewati berpasang-pasang mata para siswa yang merasa heran dengan penampilannya hari ini. Langkahnya berhenti ketika seseorang berseru menyebutkan namanya.

"Kuchiki-san!" Ishida mempercepat langkah, hingga ia sudah berada di samping Rukia.

"Ishida-kun?"

"Kau—" seraya menatap penuh prihatin, Ishida berkomentar, "terlihat sangat sehat."

Rukia mengulum senyum, "Ya… ahh, aku lupa mengucapkan terima kasih padamu."

"Sudah, jangan diingat lagi. Kau harus melupakannya."

"Baik."

Sambil melanjutkan langkah menuju kelas. Ishida lagi-lagi menghentikan langkah Rukia. Ia bermaksud menyentuh bahu Rukia, Rukia terkejut lalu secara refleks ia menepis tangan lelaki itu dengan kasar.

"Maafkan aku, Ishida-kun!" sontak perhatian orang yang berlalu lalang menatap pada Ishida dan Rukia.

"Ti-tidak, aku yang salah. Maaf ya."

Ishida kebingungan. Dilihatnya bahu Rukia menjadi gemetaran. Apa kejadian di gudang itu, sudah membuat Rukia trauma?

"Kuchiki-san, bisa kau ikut denganku sebentar?"

Lama Rukia tertunduk akhirnya ia mendongak, menatap wajahnya dari pantulan lensa kacamata Ishida. "Kemana?" dahi Rukia berkedut, batinnya menolak. Tetapi—lelaki ini sudah menolongnya, ia tidak berhak menolak permintaan Ishida jika itu bukan permintaan yang merugikan.

"Ke kebun sekolah."

.

"Ada yang ingin minta maaf padamu."

Rukia meningkatkan kewaspadaan. Matanya nanar, menyembunyikan rasa takut yang tiba-tiba saja memenuhi isi kepalanya. Dari balik dinding, Ggio muncul sembari melempar senyum kikuk.

Panik menguasai Rukia. Ia bergerak mundur beberapa langkah, menjaga jarak sejauh yang bisa ia lakukan. Tidak—Rukia tidak mau berlama-lama di tempat ini.

Ketika Ishida berniat menenangkan Rukia, gadis itu sudah berlari menjauh. Menghilang di balik tikungan koridor sekolah lalu kembali ke kelas.

"Ke-kenapa dengannya? Aku 'kan mau minta maaf," gerutu Ggio tanpa rasa bersalah.

"Masih bertanya 'kenapa'? Dia pantas bersikap seperti itu padamu."

Ditinggalkannya Ggio yang termangu. Ishida menyesal sudah berusaha menjadi mediator antara Ggio dan Rukia. Seharusnya perbuatan temannya itu memang tidak perlu dimaafkan.

.

Ichigo hampir terlonjak ketika dari pintu kelas ia melihat Rukia. Tubuh gadis itu tertutup rapat oleh sweater begitupun bibirnya—bersembunyi di balik masker. Gara-gara Ggio, dua hari ini Ichigo terus memikirkan Rukia.

Dia mencemaskan gadis itu? Namun pemikiran tersebut segera ia buang. Ichigo hanya merasa kasihan, ia bersimpati dengan apa yang dilakukan Ggio pada Rukia karena ia mempunyai adik perempuan. Bersimpati? Lagi-lagi Ichigo menyangkal, bagaimana mungkin ia bersimpati pada perempuan sialan itu? Cih!

Ggio dan Ishida menghampiri Ichigo. Jam pelajaran belum dimulai, ketika mereka membicarakan kejadian yang baru saja menimpa Ggio.

Sambil mengulurkan tangan Ggio mengaku salah pada Ichigo. "Terima kasih sudah memukulku kemarin, sampai-sampai ibuku mengira aku dipukul preman," singgungnya lagi, berharap Ichigo mau kembali bergurau.

"Sudahlah. Kurasa perempuan murahan layak menerima—" cepat Ichigo mengerem kata-kata kasarnya, ketika Ishida memelototinya dengan pandangan tidak suka.

"Aku sudah menyerah menasihatimu, Kurosaki."

Ishida sontak berdiri, menghindari percakapan yang selalu dihiasi dengan kebencian Ichigo pada Rukia. Dia mulai muak berada di sekitar Ichigo.

.

.

.

Semester pertama di kelas tiga semakin merenggangkan hubungan Ichigo dengan sepupunya, Uryuu Ishida. Sempurna sudah. Dengan begitu berkembang pula kebenciannya pada Rukia.

Semua terjadi karena gadis itu.

Setelah dua tahun berada di kelas yang sama, akhirnya Ichigo dan Rukia terpisah kelas. Seolah mendapatkan udara segar, Rukia bernapas lega.

Namun, ironisnya—perasaan lega itu berganti menjadi dimensi hampa. Entah sejak kapan, sikap jahat Ichigo itu memicu perasaan asing yang berbeda. Rukia tidak pernah membalas Ichigo dengan kebencian yang sama.

Sangat disayangkan, tahun ini ia akan mendapatkan kedamaian dari kelas yang berbeda. Tanpa Kurosaki Ichigo, ia bisa berjalan mantap, benar 'kan?

"Kuchiki-san! Senangnya kita bisa satu kelas!"

Inoue Orihime segera memilih bangku di belakang Rukia.

.

Perpustakan ramai pengunjung. Termasuk Ichigo yang membaca dengan seksama judul buku di setiap deretan rak.

Di sudut tempatnya berdiri, Ichigo mendapati Rukia tengah mencoba meraih buku yang letaknya cukup tinggi. Tak pernah sedikitpun terbersit keinginan Ichigo untuk membantu gadis yang tinggi badannya mungkin kurang dari satu setengah meter.

"Dia benar-benar pendek," oloknya seraya tersenyum mengejek.

Boro-boro mau membantu, Ichigo malah melempar buku ditangannya hingga mengenai lengan Rukia yang terjulur di atas rak.

"Aw!"

"Kena!" Ichigo kegirangan, seraya mengacuhkan rasa sakit Rukia, ia berlalu pergi.

Rukia menghela napas. Menahan lengannya yang mulai membiru. Buku setebal lima ratus halaman yang terkapar di lantai itu menjadi senjata ampuh Ichigo untuk membuat tangan Rukia keseleo. Barangkali dalam beberapa waktu ia tidak bisa menulis menggunakan tangan kanannya.

.

.

.

"Apa ini kencan pertamamu, Ichigo-kun?"

Senna menggamit lengan Ichigo, melewati wahana di sekitar taman bermain.

"Tidak. Dulu Inoue juga pernah mengajakku berkencan."

"Oh! Gadis primadona di sekolahmu itu?"

"Iya."

"Wah wah, hebat juga kau!"

Minggu mewarnai hubungan Senna dan Ichigo yang kian dekat. Hingga ke tahap kencan, Senna terus mencoba menarik perhatian Ichigo.

Harapannya begitu besar, supaya Ichigo mau mengaku cinta. Namun sampai sekarang, lelaki berambut oranye itu tak mengucapkan dengan jelas perasaannya. Padahal selama ini Ichigo sering menunjukkan perhatian untuknya.

Lingkaran yang mengurung Ichigo dan Rukia juga tidak bisa diabaikan. Seolah ada rantai yang menggiring Ichigo ke tempat Rukia, ataupun sebaliknya. Seperti di minggu cerah ini. Rencana kencan Ichigo terusik ketika sosok Rukia muncul di sekitar taman bermain.

Rukia dan saudara perempuannya sedang berdiri di sana. Mereka menjual bunga. Seketika darah Ichigo naik ke ubun-ubun, wajahnya memerah. Wanita itu? Wanita yang dulu memaksa ayahnya untuk masuk ke dalam kobaran api demi menyelamatkan Rukia.

Sorot mata Ichigo berubah gelap. Darahnya mendidih. Senna mencoba mencari tahu sesuatu yang menyebabkan Ichigo menjadi aneh.

Tampak Kuchiki Rukia bersama seseorang yang mirip dengan Rukia tengah berada di salah satu stan toko bunga.

Tanpa sadar Ichigo berjalan mendekati Rukia.

"Ichigo-kun, kau kenapa?"

Ichigo menahan Senna untuk tidak mengikuti, " Tunggu di sini. Aku ingin menyapa pembunuh ayahku."

"Dia—gadis yang waktu itu."

Senna menurut. Ia diam memperhatikan dari jauh.

.

"Lama tidak bertemu."

Hisana beradu pandang pada mata sinis Ichigo. Begitu pula Rukia yang tidak bisa menyembunyikan kepanikannya atas kemunculan tiba-tiba Ichigo di stan toko mereka.

"Kau, putra dari dokter Isshin 'kah?" Hisana mengingat warna oranye yang dulu dimiliki Ichigo kecil.

"Berani sekali kau menyebut nama ayahku."

Tersentak dengan kata-kata Ichigo, Hisana segera meminta maaf, "Maaf."

"Berapa harga bunga ini?" sekumpulan bunga krishan Ichigo ambil, lalu ia mengeluarkan beberapa lembar uang untuk membayarnya.

Dengan senyum tulus, Hisana berucap lembut, "Ambillah untukmu. Berikan pada pacar manismu di sana."

"Ini bukan untuknya, kok."

Rukia yang sedari tadi membisu, tak mampu berkata apapun. Ketika dalam hitungan detik, Ichigo melempari tubuh kakaknya dengan bunga-bunga krishan.

"A-apa yang kaulakukan?" Hisana menahan malu, ia melirik pada keterpakuan adiknya. Menatap Rukia dengan tatapan heran.

Bukan 'kah adiknya itu bilang, kalau putra dokter Isshin sudah memaafkan mereka? Tetapi apa maksudnya ini?

"Aku menaburkan bunga pada orang yang seharusnya dulu sudah mati."

Kebisuan Rukia mendadak lenyap, seiring kemarahannya yang memuncak. Dia sungguh tidak bisa menerima semua yang dilakukan lelaki itu pada kakaknya. Hatinya ikut tersulut kemarahan yang besar.

Puas dengan yang dilakukannya, Ichigo memunggungi Hisana kemudian berlalu pergi. Namun, sebelum itu terjadi, punggungnya mendadak tertimpan sesuatu. Ketika berbalik, ia melihat Rukia berdiri di belakangnya dengan mata berkobar. Gadis itu melemparnya dengan keranjang bunga berisi mawar merah.

Sakitnya menembus hingga ke tulang rusuk. Ahh sial! Ichigo mendecak, dan tanpa peringatan ia mengambil keranjang yang tergeletak di kakinya lalu melemparnya kembali kea rah Rukia.

"Berani sekali kau!" Ichigo menghardik.

Refleks Hisana bergerak maju, merengkuh tubuh Rukia, melindungi adiknya dari serangan Ichigo. Melihat itu Ichigo menghentikan gerakannya, ia melempar keranjang di tangannya ke sembarang arah hingga membentur tanah.

Senna terperangah. Dia kehilangan kata-kata ketika tadi Ichigo seolah berubah menjadi monster. Tak pernah terbayangkan oleh Senna, kalau Ichigo bisa sejahat itu. Selama bersama Ichigo, lelaki itu selalu memperlakukan orang lain dengan sangat baik, tetapi—adegan barusan sungguh sangat kekanak-kanakan.

.

.

Liburan musim panas akan tiba. Sekolah-sekolah meliburkan para siswa dari kegiatan belajar selama musin panas berlangsung. Masa dimana para siswa mengistirahatkan diri mereka dari rutinitas sekolah yang padat. Meskipun begitu, para sensei tidak mau membiarkan siswa-siswa mereka terlalu santai, mereka biasanya akan memberi tugas rumah selama musim berlibur.

"Nah, anak-anak! Selamat berlibur!"

Ochi-sensei meninggalkan kelas. Setelahnya kelas menjadi heboh, membicarakan banyak hal mungkin bisa mereka lakukan selama menghabiskan waktu liburan di musim panas.

Rukia membereskan tas. Ia segera meninggalkan ruang kelas. Tidak peduli apapun yang dibicarakan teman-temannya mengenai liburan, bagi Rukia musim panas adalah musim dimana tragedi itu terjadi. Hari dimana ia dan kakaknya diam-diam akan memanjatkan do'a untuk dokter Isshin.

Tepatnya di pertengahan bulan Juli.

Bersamaan dengan perayaan ulang tahun Ichigo, keluarga Kurosaki juga memperingati hari kematian sang ayah.

.

Bersambung

.

Sampai jumpa di part #3, ya! Terima kasih banyak reviewnya :)