BLEACH © TITE KUBO

Unforgiven Angel

Part #03

.

.


Seandainya bisa, aku ingin menukar apapun yang kumiliki demi pengampunan dosa.

Demi maafmu…

Di belakang catatan buku pelajarannya, Rukia menggambar sebuah wortel. Bukan hal aneh jika gadis itu sangat suka menandai buku-bukunya dengan gambar sebuah wortel.

Alasan yang ia sembunyikan karena dia menyukai wortel.

Menyukai—yang mengherankan adalah justru kebiasaan Rukia yang tidak mau makan sayuran buah berwarna oranye itu, bukan 'kah dia menyukai wortel? Kenapa dia malah tidak mau memakannya? Rukia mengulum senyum sembari mewarnai wortel yang baru saja ia gambar. Perasaannya tidak bisa dicegah, perasaan yang ia punya untuk Ichigo tidak bisa dihapus lagi.

Ini sudah minggu ke dua liburan musim panas.

Jangkrik bersama kawanannya bernyanyi dari tempat persembunyian, menikmati musim untuk mereka. Cuaca panas menyurutkan niat Rukia untuk menemani kakaknya menemui agen bunga. Sehingga, ia lebih memilih tinggal di rumah, menyembunyikan dirinya di dalam kamar dan menyalakan kipas listrik.

Rukia menumpukkan buku yang baru saja ia gambari dan di situ tugas dari senseinya juga sudah diselesaikan. Masih dua tugas laporan dan tugas mengarang yang belum ia kerjakan.

Seraya mendorong kursi belajarnya, ia berdiri melirik pada jam dinding yang menunjukkan pukul dua siang. Lalu bergulir pada kalender di dekatnya.

Besok. Hari peringatan kematian dokter Isshin.

Ia menghela napas berat. Ingatan itu kembali melukai hatinya.

.

Kurosaki Masaki memasuki rumah yang selama sebulan ini belum ia kunjungi. Padahal putra sulungnya membutuhkan perhatiannya setiap saat, tapi ia malah pergi kemanapun yang ia inginkan. Ichigo sendiri tidak cengeng, ia mana pernah merengek pada sang ibu untuk tinggal dan memperhatikannya tiap waktu.

"Ichigo!"

Sepatu haknya ia lepas, menggantinya dengan sandal rumah yang biasa ia gunakan. Sambil menyerukan nama putranya, wanita berusia hampir setengah abad itu meletakkan koper dan oleh-olehnya di kursi ruang keluarga.

Nihil.

Masaki tidak menemukan keberadaan anaknya di dalam rumah. Dan satu-satunya yang bisa ia lakukan untuk menemukan Ichigo adalah dengan menelepon putranya itu. Ohh, salahkan dia yang tidak memberi kabar pada anaknya kalau hari ini ia akan pulang.

.

Hisana merapikan rerumputan di sekitar tanah pemakaman dokter Isshin. Sebuket lili putih ia letakkan di atas gundukan makam itu sebelum kemudian ia mengatup kedua tangannya untuk mendo'akan si dokter penolong.

Peringatan kematian dokter Isshin besok, namun Hisana bertekad untuk datang ke sini sekarang dikarenakan ia berniat membersihkan pemakaman itu sebelum keluarga Kurosaki datang. Setidaknya mereka tidak perlu membersihkan lagi karena sudah dibersihkan.

"Gadis kecil yang dulu kau selamatkan, sekarang sudah dewasa. Kumohon berkati kami dari surga, dokter."

Angin menghembuskan segala yang ada di sekelilingnya. Termasuk rambut oranye yang kini tengah menahan langkahnya di balik pohon.

Ichigo memperhatikan semua yang dilakukan Hisana sejak tadi.

Sebetulnya ia ingin menemui Hisana dan kembali meluapkan kemarahan yang masih berkobar di hatinya.

Namun—tatapan itu. Tatapan Rukia di gudang waktu itu entah mengapa mampu mencengkram kakinya agar tak melangkah menemui Hisana. Juga—kemarahan gadis itu ketika di taman bermain, mengapa semua terasa berbeda? Kenapa hanya karena tatapan itu, ia menjadi gentar? Pertanyaan itu Ichigo telan untuknya sendiri.

Ponsel Ichigo berdering keras.

"I-ibu," desisnya menyadari kalau di layar ponselnya tertera nomor sang ibu, dan Ichigo semakin salah tingkah ketika Hisana sudah menoleh ke arahnya.

"Iya, Ibu…"

"Kau dimana, sayang? Ibu sudah pulang, tapi kau tidak ada di rumah."

"Aku di rumah temanku. Sebentar lagi aku akan pulang."

"Kalau begitu cepatlah pulang. Ibu tunggu."

Sambungan seluler pun terputus.

Mengembalikan Ichigo pada Hisana yang diam memperhatikannya.

"Hai, Kurosaki-san. Kita bertemu lagi."

Ichigo hanya berwajah datar. Ia ingat perlakuan buruknya pada wanita ini.

"Kau ingin mengunjungi pemakaman ayahmu? Bukannya besok—"

"Apa bedanya? Besok ataupun hari ini, sama saja. Setiap hari—apa kautahu? Kami selalu berkabung."

Hisana tidak berani membalas tatapan Ichigo yang sudah seperti neraka. "Rupanya, kau masih menyimpan dendam," ucapnya lirih namun berhasil mengusik kesabaran Ichigo.

"Ya! Aku bahkan tidak tahu bagaimana caranya menghilangkan dendam pada kau dan adikmu?" seraya hendak berlalu pergi, Ichigo mengatakan, "Ahh—aku baru saja menemukan caranya."

Segera Hisana mendongak pada Ichigo. Ia seolah mendapatkan angin segar dari ucapan putra dokter Isshin tersebut.

"Kecuali jika kau mati."

Setelah mengatakan itu, ia benar-benar meninggalkan Hisana. Niatnya untuk berziarah ke makam ayahnya sirna.

.

.

"Bagaimana kalau besok kau ikut ibu?"

Sambil duduk menyantap sup buatan ibunya. Ichigo melirik tajam pada Masaki, ibunya itu menyebalkan! Baru saja pulang ke rumah, sekarang mau pergi lagi? Sebagai jawaban pasrah, Ichigo hanya menghela napas.

"Memangnya ibu mau kemana lagi, sih?" gerutunya menyimpan kesal.

"Ke Jerman," sang ibu tanpa rasa bersalah kembali menceritakan jadwal kerja pada putranya. "Perhiasan yang baru ibu rancang akan dipromosikan di sana," jelas ibunya bersemangat.

"Apa ibu tidak lelah? Bekerja terus."

"Kalau kau ikut, rasa lelah ibu pasti hilang. Ayo, sayang. Kau 'kan sedang libur."

Ichigo mendesah pasrah, "Baiklah. Tapi aku tidak mau mengekori ibu ke acara pesta. Di sana aku mau berlibur dengan caraku sendiri."

"Ca-caramu sendiri?" Masaki tertawa, mengingat bagaimana dulu ia selalu memaksa Ichigo untuk ikut ke setiap acara yang ia datangi. Pargelaran seni, pameran perhiasan, peragaan busana, kegiatan sosial, pesta perusahaan—anak itu pada dasarnya penurut, tapi sekarang Ichigo-nya sudah dewasa, mana mungkin ia mau mengekori ibunya setiap waktu.

Masaki mengganti tawanya dengan senyum keibuan.

Besok. Putranya itu berulang tahun. Dia sudah sedewasa ini.

Tetapi sampai usia ini, Ichigo tidak pernah mau merayakan ulang tahunnya. Masaki memahami alasan putranya itu. Dia sangat mengerti.

Menyadari itu membuat Masaki terharu.

Dalam diam Masaki memandangi putranya yang sedang makan. Putra yang ia besarkan tanpa kehadiran sang suami sekarang telah dewasa. 'Aku berhasil membesarkannya sendirian, Isshin. Anak-anak kita sudah dewasa,' andai tidak ada Ichigo di sana, mungkin Masaki sudah meneteskan buliran air matanya yang menggenang.

"Sebelum pergi, kita harus ke pemakaman ayahmu dulu ya," bujuk Masaki sembari menuangkan jus jeruk untuk Ichigo.

"Aku tidak ikut. Ibu saja sendirian."

Cuaca hangat di malam hari itu mendadak berubah dingin.

.

Langit biru seolah menjadi kelabu di mata Masaki. Kerinduannya memuncak, kerinduan yang tak pernah tersembuh sekalipun ia telah memegang batu nisan suaminya.

Kerinduan yang ia rasakan begitu menyakitkan. Merindukan seseorang yang sudah mati, sungguh sangat menyiksa. Namun sebagai seorang ibu ia berkewajiban untuk bersikap tegar di hadapan anak-anaknya.

Pemakaman suaminya terlihat bersih.

Ia tersenyum kecil, pikirannya melayang pada Ichigo, "Pasti kemarin putramu yang membersihkannya," gumamnya pada batu nisan bertuliskan Kurosaki Isshin. "Memang sudah kebiasaannya. Berpura-pura tidak mau menemaniku kemari, padahal dia sudah datang kemari lebih dulu," Masaki kemudian memanjatkan do'a sebelum matahari kian terik.

Usai berdo'a, tanpa membuang waktu, Masaki segera meninggalkan area pemakaman.

Empat jam lagi pesawatnya akan berangkat.

Bersama Ichigo, ia akan membawa putranya yang pemurung itu pergi jalan-jalan menghabiskan liburan. Semalam ia juga membujuk kedua putri kembarnya untuk ikut, dan dengan riang mereka mengiyakan ajakannya.

Masaki berusaha memperjelas pandangan ketika sesosok gadis belia berjalan ke arahnya. Dara berusia belasan tahun itu mengingatkannya pada seseorang—berambut hitam legam dengan mata keunguan, tapi, Masaki tidak bisa mengingatnya. Mereka berpapasan. Sepertinya gadis asing tadi akan mengunjungi makam kelurganya di sini.

.

Ibuku tersayang. Ada tugas yang harus kuselesaikan dengan Ishida. Aku akan menyusul ke Jerman setelah semuanya selesai. Pesankan saja tiket untukku, oke?

Pesan singkat tersebut dikirim Ichigo. Ia tidak mau mendengar ceramah panjang ibunya jika ia menelepon, jadi cara mudahnya, ia mengirim pesan.

"Kalau tidak kuhubungi, pasti kau sudah berangkat ke Jerman," Ishida menggerutu seraya mengerjakan tugas kelompok yang memang harus mereka kerjakan bersama.

"Jangan ngomel terus, Ishida. Kita harus menyelesaikannya hari ini juga."

Ishida terdiam. Ia membetulkan bingkai kacamatanya yang sempat melorot.

Bip.

Selang tiga puluh menit, sebuah pesan muncul di layar ponsel Ichigo.

Pesawatmu berangkat pukul delapan, malam ini. Cepat selesaikan tugasmu dan jangan sampai terlambat. Ibu dan adik-adikmu menunggu di Jerman. Kami menyayangimu, Ichigo.

Segera Ichigo mengerjakan tugas kelompok bersama Ishida. Sekarang baru pukul sepuluh pagi, masih tersisa banyak waktu untuk menyelesaikannya.

.

"Benar, kau tidak keberatan mengajak Rukia ke desamu?"

Rurichiyo meraih lengan Rukia lalu melayangkan senyum pada Hisana. "Tidak, Nee-san. Aku senang Rukia-chan mau menemaniku ke sana," Hisana kemudian menyentuh rambut Rurichiyo dan Rukia dengan lembut. "Jaga diri kalian baik-baik," matanya beralih pada adiknya, "Dan kau, Rukia, jangan merepotkan orang-orang di sana. Mengerti?"

"Aku mengerti, Nee."

Saat Rukia menerima penawarannya untuk berlibur ke desa asalnya, Rurichiyo gembira sekali. Di sana mungkin justru Rukia yang akan direpotkan. Rurichiyo bahkan sangat membutuhkan kehadiran teman seperti Rukia, ketika nanti ia benar-benar akan dijodohkan oleh keluarga besarnya.

Kemarin Rurichiyo sudah menjelaskan mati-matian pada Rukia, tetapi, Rukia malah menertawakannya. Menganggap tradisi perjodohan mereka konyol. Bayangkan saja, usia Rurichiyo belum genap sebelas tahun dan sekarang gadis sekecil itu mau dijodohkan? Rukia sangat ingin melihat, siapa anak laki-laki yang beruntung mendapatkan gadis secantik Rurichiyo?

Mereka tidak menceritakan alasan yang sebenarnya pergi ke desa pada Hisana, Rukia menahan dirinya untuk merahasiakan ini, nanti—setelah pulang dari desa, barulah ia akan bercerita banyak pada sang kakak.

.

Tiba di stasiun kereta, Rukia dan Rurichiyo tidak menunggu lama. Keduanya lekas memasuki kereta lalu mencari nomor tempat duduk lewat tiket yang sudah dibeli. Ketika telah menemukan kursinya, mereka duduk di sana, menikmati kenyamanan pelayanan kereta di kelas VVIP.

Rukia sama sekali tidak menyangka dia berada di sekeliling orang-orang kaya. Ia melirik pada Rurichiyo yang sudah memejamkan mata sembari bersandar di kursinya. Anak ini, jangan-jangan dia ini putri konglomerat atau putri dari kalangan birokrat atau aristokrat.

Dan yang lebih ganjil lagi. Anak sekecil ini, mempunyai prilaku anggun dan berwibawa, bahkan lebih dewasa dari Rukia sendiri. Rukia menciut, merasa rendah diri.

"Ehm, Rurichiyo-chan. Sejak berteman, kau belum memberitahuku mengenai margamu."

"Jadi?"

Rukia menyoroti mata Rurichiyo yang sebiru langit, "Apa margamu?" Dia sungguh penasaran.

"Kasumioji Rurichiyo."

"Oh," itu respons singkat yang diberi Rukia. Namun berhasil mengundang tawa keras dari Rurichiyo.

Rurichiyo menertawai keluguan Rukia. Biasanya orang lain akan bertingkah seolah ia sedang melihat hantu, atau paling tidak berteriak histeris saat mendengar nama keluarganya. Sebaliknya, Rukia malah bersikap setenang air di kutub.

Kereta sudah berjalan sejak sepuluh menit lalu. Butuh dua puluh menit lagi agar sampai ke desa. Demi memanfaatkan waktu, Rurichiyo menggunakan waktu luang mereka dengan topik yang lain. Dan mungkin, ini topik sensitif untuk Rukia.

"Boleh kubilang sesuatu padamu, Rukia-chan?"

"Bilang saja."

Dengan perlahan Rurichiyo memegang rantai kalung yang tersembunyi di balik kerah bajunya. Itu kalung berbandul malaikat cupid yang dititipkan Rukia.

"Aku tidak bisa menjamin kalau kalung ini akan selalu kusimpan. Jika suatu waktu aku sedang marah padamu, mungkin aku akan membuang kalung ini." Seraya mengelus bandul berukiran malaikat tersebut dengan ibu jarinya, Rurichiyo kembali meneruskan, "Atau jika suatu waktu terjadi sesuatu lalu kalung ini menghilang, aku—tidak mau menggantinya."

"Tidak masalah."

"Sebetulnya ini membingungkan. Seharusnya kau memberi kalung ini untukku bukan menitipkannya padaku," rutuk Rurichiyo dengan bibir sewotnya, "Benda berharga tapi malah kautitipkan pada orang lain. Itu sangat aneh, Rukia-chan."

"Harapan. Aku melihat harapan cerah jika kalung itu berada di tangan orang lain."

Rurichiyo menghembuskan napas kemudian berkata, "Dokter itu pasti memaafkanmu."

"Aku tahu."

"Dan si pembencimu itu juga, suatu hari pasti akan memaafkanmu."

Rukia terkikik, baginya mempercayai itu sama seperti meyakini Kuchiki Hisana mau menikah lagi. "Kalau itu aku tidak tahu," ia memelankan suara seraya tersenyum pahit.

.

.

.

Kebun botani yang luasnya berhektar-hektar terbentang indah di bawah siraman terik matahari. Koleksi pepohonan dan bebungaan tertata rapi, berbaris di sepanjang jalan yang Rukia lewati. Dari sudut pandangnya, ia melihat sebuah mansion klasik berdiri di tengah kepungan pohon-pohon hijau.

"Apa itu rumahmu?"

"Bukan, itu rumah orang tuaku."

Seakan-akan nyawanya ditarik paksa dari ubun-ubun, Rukia membatu.

.

"Taksi!"

Tergesa-gesa Ichigo berlari ke tepi jalan mendekati taksi. Pakaian seadanya ia bawa di dalam sebuah tas ransel yang terpasang di punggungnya.

Pikiran praktisnya memutuskan untuk tidak membawa baju terlampau banyak sekalipun ia akan berlibur sampai musim panas berakhir, karena di sana ia hanya butuh kartu ATM milik ibunya untuk membeli segala sesuatu yang ia butuhkan.

Di dalam taksi ia mengawasi pemandangan yang mulai beranjak malam.

Matahari nyaris tenggelam ketika taksinya melewati jembatan layang di sekitar pusat kota. Tepian langit telah diarsir dengan warna matahari memerah berpadu langit biru keunguan. Hanya saja, hatinya tidak tentram walaupun disuguhi pemandangan seindah itu.

Ada gejolak berbeda ketika warna biru-keunguan terpantul dari matanya, sesuatu yang membekas di benaknya sekalipun ia tidak mau mengakuinya benar-benar mengganggu ketenangan. Sesuatu yang sangat ingin ia lihat dari warna itu. Apa? Apa yang ingin ia lihat? Tanpa sadar, Ichigo menggaruk rambutnya. Warna itu sudah membuatnya frustasi.

Hah! Tu-tunggu? Ichigo menoleh ke belakang, ke kanan dan ke kiri. Melihat ke segala arah.

Kebingungan dengan arah jalan menuju bandara. Ichigo bukan sekali ini menempuh perjalanan lima belas menit ke bandara. Ia ingat dengan jelas arah jalannya. Tetapi, supir taksi tersebut malah memilih arah jalan yang salah.

"Maaf, Pak. Apa kau tidak salah jalan? Ini bukan arah menuju bandara," protes Ichigo meminta perhatian supir taksi yang tampak serius dengan kemudinya.

Si supir taksi hanya diam, tak menjawab.

Mereka telah berada di luar kawasan kota, si supir taksi bertubuh tambun pun menghentikan laju mobilnya.

Kawasan itu tampak sepi, hanya beberapa kendaraan berlalu lalang. Ichigo mulai curiga ketika di depan sana seorang lelaki bertubuh tinggi dengan mantel menutupi seluruh tubuhnya di cuaca sepanas ini tengah melambaikan tangan pada si supir taksi.

Tampak seorang pria berusia sekitar empat puluh tahunan yang berdiri di tepi jalan itu mendekati taksi yang ia tumpangi.

Ketenangan Ichigo terusik, apalagi tanpa peringatan dan disangka-sangka, pria yang menghentikan taksinya tadi segera masuk ke dalam mobil lalu menyergap Ichigo.

Melalui lengannya yang kuat, pria tersebut buru-buru membelenggu kedua pergelangan Ichigo dengan sebuah borgol kemudian mulut Ichigo ditutupnya dengan lakban hitam.

Dari kaca pengemudi, Ichigo bisa melihat sebuah senyuman licik terukir di bibir si supir. Astaga! Ichigo tidak bisa melakukan apapun sekarang. Tubuhnya terkunci! Barulah ia menyadari kalau dirinya sudah menjadi korban penculikan, a-atau yang lebih parah lagi, ini perampokan .

Dengan kuat, Ichigo berusaha melepaskan diri.

"Tenanglah bocah, kau akan kami bebaskan setelah kau memberi semua yang kaupunyai sekarang," suara rendah pria berusia empat puluh tahun—yang berhasil mengekang Ichigo tersebut menggertak.

Sebetulnya Ichigo tak gentar, namun, saat sebuah benda tajam menyentuh urat lehernya, Ichigo membeku. Suhu badannya mungkin sudah sedingin es. Bibirnya memucat, membuat lidahnya keluh tak mampu mengatakan apapun pada seseorang yang sedang mengacungkan senjata tepat di jakunnya yang menonjol. Demi Tuhan! Siapapun tidak akan mengharapkan situasi semerikan ini!

Kali ini taksi berplat hitam tersebut menepi di kawasan—ah, entahlah—Ichigo tidak tahu dimana dia berada sekarang. Sepertinya di luar kawasan kota, daerah terpencil. Ichigo melirik arloji tangannya yang menunjukkan pukul enam lebih empat puluh menit.

Matahari sudah tenggelam sepenuhnya dan ia menghabiskan waktu lebih dari setengah jam di dalam taksi, mata coklat Ichigo bergerak liar mencoba menebak lokasi mereka sekarang.

Namun hasilnya nol. Ia terdampar di daerah asing bersama dua orang perampok.

Lupakan soal jadwal keberangkatan pesawat, yang terpenting ia harus pulang dalam keadaan selamat.

Ichigo memandangi mata hitam si perampok bertubuh tinggi kurus. Berharap kedua perampok tersebut mengatakan apa mau mereka lalu melepaskannya.

"Akan kucongkel matamu kalau kau berani menatapku seperti itu, Anak Kecil," ancam si perampok tinggi kurus dengan mata melotot. Segera Ichigo menutup matanya sebelum ujung runcing pisau menyentuh korneanya.

Si supir taksi menghela napas lalu menenangkan temannya, "Cepat ambil semua yang ia punya, Bodoh. Lalu bebaskan dia."

Dalam hati Ichigo, ia bersyukur. Paling tidak ia akan dibebaskan nanti.

"Baik, Bos!"

Jujur saja. Saat melihat kepatuhan si perampok berwajah jelek itu, Ichigo sempat ingin tertawa.

Si perampok bertubuh kurus langsung merebut tas ransel Ichigo tanpa memeriksa isi. Ia dengan percaya diri memasang ransel tersebut ke punggungnya sendiri. Sedangkan si supir bertubuh tambun menggeledah kedua saku celana panjang Ichigo yang ternyata tersimpan dompet dan ponsel.

"Wah, ternyata kau bocah kaya," desis si supir taksi ketika di dompet Ichigo, ia menemukan beberapa lembar uang yang tidak sedikit nominalnya.

"Benarkah, Bos?! Bagaimana kalau dia kita culik, lalu minta uang tebusan pada keluarganya?"

Bletak!

Kepala si perampok bertubuh kurus segera dihadiahi pukulan kecil dari bosnya. Bagi si bos, itu hanyalah ide buruk yang akan memperpanjang daftar kriminalitas mereka.

"Kita ini perampok, Bodoh! Bukan penculik!"

Setelah mengambil satu per satu harta benda yang dimiliki Ichigo. Kedua perampok tersebut segera melepaskan korbannya. Mereka membebaskan Ichigo di kawasan yang dikelilingi rumput-rumput ilalang tinggi.

"Sampai jumpa, Bocah Kaya! Jangan lupakan wajah kami ya ahahah!"

Taksi itu melesat pergi. Meninggalkan Ichigo di jalanan setapak tak beraspal, jauh dari jalan raya.

Malangnya lagi mereka meninggalkan Ichigo masih dengan borgol yang membelenggu kedua tangan dan lakban hitam menutup mulut.

Wuzz.

Angin musim panas di malam hari berhembus. Meniup rerumputan dan rumput oranye di kepala Ichigo turut melayang menahan suhu dingin.

Pemuda itu terpaku menatap langit. Mencari tahu apa yang bisa ia lakukan sendirian di tengah padang rumput!

Ahh, sial. Ichigo menggeram frustasi.

Dengan kedua tangannya yang diborgol, ia membuka lakban di mulut. Ichigo mendesis kesakitan. Lakban itu berhasil menimbulkan bekas kemerahan di sekitar pipinya.

Cuma pakaian yang melekat di tubuhnya yang tertinggal. Sekarang ia harus mencari jalan untuk mencapai ke jalan raya dan mencari bantuan atau ia bisa menemukan rumah penduduk agar bisa bermalam untuk malam ini saja.

Semoga tidak ada binatang buas di sini. Ichigo membatin.

Kesal dengan apa yang menimpanya. Seraya meraup wajahnya dengan kedua telapak tangan, Ichigo menjerit histeris.

"Arghh! Sial! Bagaimana aku bisa pulaaaang? !"

Sejenak Ichigo tercenung. Pikirannya buntu. Sedikit demi sedikit tenaganya terkuras karena lelah. Ibu dan adik-adiknya pasti mencemaskannya. Memikirkan itu, Ichigo kembali berjalan seraya mencari-cari arah jalan.

Jaket merah yang ia kenakan menyala terang di kegelapan malam.

Dari jauh Ichigo melihat sinar terang benderang. Sinar lampu yang menerangi sebuah mansion.

.

Perkebunan mawar tertutupi warna gelap. Namun, lambat laun langkah Rukia terlatih berkat bimbingan bulan yang mulai berkilauan. Matanya bisa melihat dengan jernih ketika satu per satu bintang menampakan diri.

Sekonyong-konyong gerombolan kunang-kunang terbit dari balik rerumputan. Sinar-sinar mereka kembali membantu penglihatan Rukia.

"Oh, Tuhan. Ini menakjubkan!"

Dengan hati-hati gadis itu berjalan mendekat. Ia lupa pada Rurichiyo yang kini tengah berada di rumah kaca bersama penjaganya.

Mulut Rukia menganga, belum reda dengan ketakjuban di depan matanya.

Kunang-kunang itu semakin banyak. Memenuhi perkebunan mawar dengan sumber cahaya mereka. Takut mengusik ketenangan gerombolan kunang-kunang, Rukia tak mau bergerak lagi. Bahkan untuk berteriak memanggil Rurichiyo saja ia tidak mau.

"Biarkan ini menjadi hadiah untukku saja," senyumnya merekah. Ia tidak ingin membagi pemandangan seindah ini pada siapapun. Dasar, serakah.

Kesenangan Rukia diganggu.

Senyumnya menghilang begitu cepat. Berganti dengan keterkejutan yang sering ia perlihatkan pada seseorang. Jantungnya berdebar kencang. Gerakan nadinya bergerak di atas normal. Tulang persendiannya seolah akan terputus.

Matanya yang biru keunguan terbelalak. Ia bagai melihat hantu di tengah hutan mawar.

Bukan hanya Rukia yang terkejut, Ichigo juga memberikan reaksi yang sama.

"Kau…"

Serempak keduanya mengatakan itu. Namun tentu saja dengan intonasi yang berbeda.

.

Tidak salah lagi.

Penampilan laki-laki ini persis yang Rukia ceritakan selama ini padanya. Rurichiyo mengamati detil fisik Kurosaki Ichigo. Mata birunya memicing seperti ingin memangsa buah jeruk yang tumbuh rimbun di atas kepala lelaki itu.

Berambut oranye. Mata coklat. Tubuh tinggi. Secara normal, Ichigo memang keren. Sebelum mengatakan apa yang ada di pikirannya, Rurichiyo melirik pada Rukia. Melihat sinyal canggung di antara mereka, Rurichiyo akhirnya mengatakan keputusannya.

"Maaf, Tuan. Kami tidak bisa membantu seorang buronan."

Bukan Rurichiyo yang berbicara. Semua orang yang berkumpul di halaman mansion menoleh pada seorang laki-laki dengan warna rambut nyentrik—merah muda.

"Ya! Benar!" dengan senang, Rurichiyo memasang senyum lima jari pada kakaknya itu.

Rukia mendesah, matanya mendelik pada Rurichiyo. Kemudian beralih pada borgol yang membelenggu kedua pergelangan tangan Ichigo.

"Dia bukan buronan, dia te—" Rukia memprotes, suara yang tadinya meninggi berubah rendah, "te-temanku."

"Sejak kapan aku jadi temanmu? !" sembur Ichigo seraya menatap sinis pada Rukia. Dia tidak suka memohon dengan memaksa, apalagi Rukia membantu memohon untuknya. Cih. Kalau memang orang-orang ini tidak mau membantunya untuk memberi tempat menginap, tidak apa-apa. Dia bisa mencari tempat yang lain.

"Baiklah. Kalau begitu silakan pergi."

Sambil mengusir, Szayel Kasumioji tersenyum. Senyum menakutkan.

Didukung oleh adiknya yang bersedekap dengan tatapan mengintimidasi, "Biar kuberi tahu ya. Kau harus melewati hutan botani seluas delapan puluh hektar untuk menemukan rumah penduduk."

"Tidak masalah."

"Hati-hati, di sekitar hutan pinus banyak beruang berkeliaran."

Mendadak pundak Ichigo gemetaran.

Melihat itu, Rukia tersenyum simpul. Senyum kecil. Tipis sekali—nyaris tak terlihat. Hanya saja, Rurichiyo yang bermata jeli bisa melihat senyum gadis itu.

"Akan kuhabisi beruang-beruang itu untuk makan malamku!"

Seandainya saja ia dan Ichigo berteman, Rukia ingin sekali memukul kepala idiot lelaki itu. Dasar keras kepala. Sudah jelas ketakutan, masih saja berlagak berani.

"Kalau diperhatikan. Beruang-beruang itu pasti akan lebih dulu mencakar matamu," dengan diplomatis dan sedikit malas, Szayel menambah ketakutan Ichigo.

"Kenapa memangnya?"

Bukan cuma Ichigo yang tidak bisa mengabaikan kata-kata Szayel, tetapi Rukia dan Rurichiyo juga menatap penasaran. Ada tanda tanya besar di dahi kedua gadis itu.

"Beruang-beruang itu akan berpikir kalau kau menyimpan madu di matamu."

Rurichiyo mengerucutkan bibir, "Aih nii-sama ini ada-ada saja!"

Hebatnya, Ichigo mempercayai semua ucapan kakak beradik itu. Otaknya begitu tegang, memikirkan banyak cara.

"Oh, ayolah adik kecil. Kakak besar. Izinkan aku menginap satu malam saja di sini."

Nah itu baru sikap yang benar. Ichigo mengenyahkan gengsinya. Untuk kali ini saja ia memohon agar bisa meneruskan hidup.

Kecemasan Rukia raib. Ketika Szayel dan Rurichiyo akhirnya mengizinkan Ichigo untuk menginap satu malam di mansion. Ia berjanji akan mengucapkan terima kasih pada kedua kakak beradik itu.

.

"Ini kamarmu."

Sepetak bilik dari mansion disediakan untuk Ichigo bermalam.

"Terima kasih," Ichigo menunduk pada pelayan yang mengantarnya ke bilik kamar. "Terima kasih juga sudah berhasil membuka borgolku," lanjutnya tersenyum tulus.

"Sama-sama, Tuan."

Setelah pintu shoji tertutup kembali. Ichigo sendirian di dalam bilik kamar. Kamarnya bergaya tradisional dengan peralatan tidur sederhana. Hanya futon dan sebuah bantal. Selain sebuah lukisan kaligrafi terpajang, dinding-dinding kamar terlihat polos dari hiasan-hiasan.

Termenung di dalam kamar tidak membuat rasa lelah Ichigo lenyap. Ia harus tidur supaya besok tubuhnya kembali segar.

Ichigo baru saja akan membentangkan futon, ketika seseorang mengetuk pintu shoji.

Darahnya lagi-lagi mendidih mengetahui siapa yang sudah mengusik waktu istirahatnya.

Rukia mengenakan piyama biru bermotif dandelion. Ia bersikap seolah tak terjadi apapun antara ia dan Ichigo.

"Rurichiyo-chan mengajakmu makan malam."

Emosi Ichigo tertahan. "Aku tidak lapar," balasnya dengan wajah angkuh.

Kruuuk.

Malangnya, perut Ichigo tidak bisa berbohong.

"Sebaiknya kaumakan, sebelum mati kelaparan," Rukia berucap dingin kemudian berlalu pergi sebelum Ichigo sempat menolak ajakan makan itu lagi. Ia memilih untuk kembali ke bilik kamarnya yang kebetulan berada tepat di sebelah bilik kamar Ichigo.

Ichigo menepuk jengkel dahinya. Lalu tepukannya turun ke perut yang baru saja bernyanyi di depan perempuan yang ia benci.

.

Bersambung

.

Tepat sekali! Beberapa reviewer yang bilang kalau Ichigo pasti bakal jatuh cinta. Sayangnya, bukan cuma jatuh cinta tapi dia kita bikin cinta mati sama Rukia, sampai crazi-crazi'an dah kalau tak ada Rukia. Tunggu part #04 nya, ya :) terima kasih banyak sudah mereview.