BLEACH © TITE KUBO
Unforgiven Angel
Part #04
.
.
"Jadi, kau baru saja dirampok?"
"Benar. Kasumioji-san."
Ichigo menatap balik pada pria uzur yang duduk di hadapannya. Meyakinkan pada pemilik rumah bahwa ia tidak berbohong dengan situasi yang dialaminya hingga ia bisa tersesat di tempat asing seperti ini dan dengan kebetulan ia bertemu Kuchiki Rukia.
"Makanlah," pria beruban tersebut kemudian mempersilakan Ichigo untuk menghabiskan makan malam yang disajikan khusus untuknya, "Setelah itu silakan beristirahat di kamarmu."
"Terima kasih banyak, Kasumioji-san!"
Tentu saja. Hanya kata-kata itu yang bisa ia ucapkan untuk kebaikan keluarga Kasumioji. Kemudian dengan lahap ia menikmati hidangan makan malam.
Usai menghabiskan makan malam, pelayan segera membereskan sisa makanan Ichigo. Sebenarnya Ichigo ingin membantu, namun si pelayan melarang seorang tamu untuk membantunya. Akhirnya dengan sungkan, Ichigo keluar dari ruang makan. Meninggalkan para pelayan dengan pekerjaan yang memang harus mereka selesaikan.
Shoji terbuka lalu dengan langkah mantap dan perut kenyang, Ichigo hendak kembali ke bilik kamar. Namun langkah gontainya berhenti ketika Rurichiyo mencegatnya. Meminta Ichigo untuk bicara sebentar dengannya.
"Bisa kita bicara sebentar," pinta gadis cilik itu penuh harap.
Tertegun dengan permintaan itu. Ichigo mengerutkan kening. Urusan seperti apa yang membuat gadis kecil itu mau bicara dengannya. "Tentu saja," Ichigo mengiyakan sabagai rasa hormat atas pertolongan keluarga Kasumioji kali ini. Sekalipun permintaan dari Rurichiyo lebih terlihat seperti perintah.
"Aku tahu mengenai dirimu, Kurosaki-san."
Ichigo mendengus, "Dari gadis itu?"
Rurichiyo mengangguk.
Mereka duduk bersebelahan di depan teras ruang makan. Tampak seperti kakak adik yang tengah menikmati obrolan sehabis makan malam.
"Kenapa kau membenci Rukia?"
Spontan Ichigo memicingkan mata. Tidak suka dengan topik yang berkaitan dengan Kuchiki Rukia, itu sungguh membuang waktu berharganya.
"Itu bukan urusanmu, Adik Kecil. Tidurlah."
"Dia gadis yang baik. Kenapa kau membencinya?" Rurichiyo bersiap dengan sikap memaksanya, ia harus mendengar alasan kenapa lelaki berambut oranye itu bisa membenci sahabat baiknya.
"Kurasa temanmu itu tahu alasannya. Jadi tanyakan saja padanya."
"Dia tidak mau bercerita apapun. Atau—dia tidak tahu alasan kau membencinya."
"Pembohong. Kecil-kecil sudah pintar berbohong."
Rurichiyo mendesah. Ya—ia memang sudah berbohong. Rukia memang sudah menceritakan masa lalu yang membuat Ichigo suka menjahatinya. Tetapi itu tidak secara detil, ia ingin lelaki ini sendirilah yang mengungkapkan rasa bencinya pada Rukia.
Ichigo akan beranjak dari tatami ketika Rurichiyo mengembungkan pipi lalu meneriakinya. "Kau mana boleh bersikap buruk padanya! Rukia-chan selalu menangis, setiap hari aku bisa melihat luka dari matanya. Apa kau tidak tahu betapa dendammu sudah membebaninya? Menyakitinya—"
"Ya ampun," Ichigo menghela napas, kali ini kekesalannya terlihat jelas, "sebanyak apa cerita yang kaudengar darinya? Aku tidak menyangka dia bicara begitu banyak pada gadis kecil sepertimu."
"Suatu hari kau pasti menyesal."
Seraya mengangkat kedua bahu sebagai jawaban 'terserah' Ichigo benar-benar kembali ke kamarnya. Kebenciannya pada Rukia lagi-lagi bertambah. Ia sama sekali tidak menyangka gadis itu mengumbar cerita pribadinya pada orang lain, apalagi pada anak kecil yang seusia dengan adiknya itu.
.
.
Matahari menembus ke setiap ventilasi ruangan mansion. Dinding-dinding kertas di setiap bilik kamar memancarkan sinar, menerangi para penghuninya. Embun-embun sudah menjatuhkan diri mereka dari ujung kelopak dedaunan hingga menyentuh tanah. Bersamaan dengan cicitan burung, seperti alarm alam, mereka membangunkan manusia dari keterlelapan sementara.
Bangkit dari futon nyamannya, Ichigo membereskan tempat tidurnya tersebut sebelum nanti ia harus bergegas kembali ke kota. Ohh, dia tidak butuh mandi agar bisa segera pulang. Ichigo menggaruk-garuk rambutnya yang memang gatal. Lagipula aroma badannya—Ichigo mengendusi beberapa bagian tubuhnya—ti, tidak terlalu bau. Itu dustanya pada diri sendiri.
"Ah, terserah. Yang penting aku harus pulang hari ini juga."
Tekadnya agar cepat-cepat pulang lagi-lagi dicemoohi oleh kenyataan pahit. Dia tidak punya uang untuk bisa membeli tiket kereta ataupun kendaraan lain yang bisa membawanya pulang! Jengkel dengan pikiran itu, Ichigo mengusap wajahnya. Kepalanya mendadak pusing. Tidak tahu apa yang bisa ia lakukan nanti jika ia harus berjalan dari desa ini hingga ke kota.
Terpekur sejenak akhirnya suatu ide melintas dari otaknya, "Aha! aku harus meminjam telepon mansion ini lalu menelepon—" otaknya berhenti dalam keadaan koma, siapa yang harus dia telepon? Dia tidak menghapal semua nomor telepon keluarganya, apalagi teman-temannya.
Ichigo membatu. Ia kehabisan akal.
Bodohnya aku ini… Ichigo merutuki kebodohannya. Ia memukul-mukul kepalanya sendiri seraya menggeser shoji hingga terbuka, meloloskan sinar matahari dari sekat-sekat yang membatasi dinding kamar. Ia menghentikan kegiatan memukul-mukul kepala ketika dari kamar sebelahnya, ia melihat Rukia juga keluar dari kamar.
Rukia sudah tampil bersih dengan kaos oblong putih dan celana sepanjang lutut berwarna biru.
Buru-buru Ichigo memalingkan muka. Tidak rela mengotori matanya dengan menatapi Kuchiki Rukia berlama-lama. Rukia pun begitu, ia lekas berlalu melewati Ichigo. Tanpa berbalik ia segera menemui Rurichiyo untuk menemaninya berkeliling desa.
Apa kau tidak tahu betapa dendammu sudah membebaninya?
Perkataan Rurichiyo semalam terngiang di telinga Ichigo. Ia memandangi punggung kecil Rukia yang perlahan menghilang. Jauh dari relung hatinya, Ichigo mengakui kesalahannya karena sering menjahati gadis itu. Namun selain cara itu, ia tidak tahu dengan siapa lagi ia harus melampiaskan kemarahannya. Cuma wajah gadis itu yang selalu muncul di pikirannya ketika kekecewaannya akan kematian sang ayah muncul.
Ichigo tidak pernah merasa apa yang ia lakukan bisa mencelakai gadis itu. Ia tidak pernah bersikap keterlaluan saat mengerjai Kuchiki Rukia. Dia menghukum gadis itu dengan cara yang cukup pantas.
Tapi—kejadian Ggio mencium Rukia waktu itu. Entah mengapa justru melukai harga dirinya. Tidak ada yang boleh menghukum Kuchiki Rukia kecuali ia sendiri.
Memikirkan itu membuatnya lelah. Ichigo termenung sebentar, memandangi matahari yang terus menyiram tubuhnya hingga menembus ke bagian terdalam tubuhnya. Begitu juga bagian hatinya, terasa hangat.
.
Karena tidak tahan dengan kulitnya yang lengket. Ichigo memutuskan untuk mandi lebih dulu sebelum berpamitan pulang. Ia berencana akan meminjam uang pada keluarga Kasumioji, lalu kembali lagi ke sini untuk mengembalikan uangnya. Cara yang rumit namu ia tidak bisa memikirkan cara lain selain dari cara seperti itu.
Ichigo merasa lebih segar sekarang. Walaupun tidak bisa dipungkiri, kalau pakaiannya yang tak diganti masih mengganggu indera penciumannya.
"Pakai bajuku saja, Kurosaki-san. Kau pasti akan merasa lebih baik."
Nasihat Szayel terdengar santun. Ichigo tersenyum miring, menolak halus niat baik pria berambut semerah bunga sakura itu, "Terima kasih. Kau sudah cukup baik meminjamkan uang untukku. Akan kukembalikan jika aku kembali kemari."
"Oh tentu saja. Kami menunggu kedatanganmu lagi. Tapi—" sedikit terkekeh jahil, Szayel melanjutkan ucapannya, "—tidak dengan borgol dan lakban hitam."
Ichigo tersenyum miris.
"Kenapa kau tidak pulang bersama Rukia-chan saja, sih?" Rurichiyo menekan emosi Ichigo dengan pertanyaan itu, beranggapan bahwa Rukia dan Ichigo adalah teman baik.
"Kau tahu, bersamanya bisa membuatku celaka."
Sindiran Ichigo terdengar oleh Rukia yang tengah bermain dengan anjing peliharaan keluarga Kasumioji. Diam-diam gadis itu memandangi Ichigo yang bersiap akan meninggalkan mansion. Saat akan melirik ke direksi dimana Ichigo sedang berbicara dengan kakak beradik Kasumioji, tak dinyana mata mereka bertemu.
Guk!
Gonggongan anjing kecil itu berhasil melepaskan waktu yang sempat berhenti antara Ichigo dan Rukia. Si anjing menjauhi Rukia, ketika melihat sosok tuannya—Rurichiyo—berdiri tak jauh darinya. Sambil menggonggong seakan-akan memanggil Rurichiyo, dengan lincah anjing tersebut berlari cepat lalu tanpa sengaja menabrak tangga yang kebetulan masih terpasang di depan teras mansion. Tangga itu tadi digunakan oleh salah seorang pelayan untuk membetulkan genting yang rusak.
Jika diperhatikan dari sudut pandangnya. Maka ujung tangga itu pasti akan mengenai Ichigo yang berdiri tepat di bawah ujung tangga atau mungkin Szayel dan Rurichiyo juga.
Menyadari apa yang akan terjadi jika tangga tersebut sampai terjatuh. Refleks Rukia berlari, berusaha menahan gerakan tangga.
"Rurichiyo, minggir!"
Bruk.
Ketiga orang tersebut sontak berlindung di bawah atap teras. Na'asnya justru lengan Rukia nyaris patah karena berhasil menahan tangga dari pangkalnya hingga tak terjatuh.
Guk! Guk!
"Rukia-chan, Rukia, kau baik-baik saja?" segera Rurichiyo dan Szayel menghampiri Rukia.
"Dasar anjing bodoh! Kau hampir mencelakainya," Szayel menepuk kepala anjingnya dengan gemas, mengomel seolah si anjing mengerti bahasa manusia.
Ichigo terkejut. Matanya tertumbuk pada gerak tubuh Rukia yang tengah menahan sakit.
Dalam sekejap kehadirannya dilupakan oleh Szayel dan Rurichiyo. Ia tercenung untuk beberapa saat, ia tidak bisa bersikap seperti kakak beradik tadi yang mencemaskan keadaan gadis itu.
Szayel memapah tubuh Rukia. Sementara itu, Rurichiyo yang menyadari keterpakuan Ichigo menghampiri lelaki itu, "Hati-hati di jalan ya, si pembenci Rukia. Jangan sampai kau dirampok lagi."
Tertohok dengan panggilan 'si pembenci Rukia' Ichigo menggertakkan gigi seraya memejamkan mata. Sejak bertemu kemarin, Rurichiyo bisa menyebut namanya dengan benar. Lalu sebutan 'si pembenci Rukia'—sejauh mana Rukia menceritakan keburukannya pada gadis kecil itu. Benar-benar kebencian menumpuk.
.
.
.
Musim panas berakhir. Begitu pun masa liburan para siswa. Rukia bersiap-siap mengepak buku-bukunya, terutama tugas sekolah yang akan dikumpulkan hari ini.
Dia akan kembali menemui saat-saat buruknya ketika menerima tatapan benci Ichigo. Atau dijauhi teman-teman karena gossip pembawa sial yang disebarkan Ichigo. Juga Ggio Vega yang berhasil merebut ciuman pertamanya. Kewaspadaannya meningkat setiap kali ia berpapasan dengan Ichigo, namun ketakutannya berubah dua kali lipat jika ia melihat Ichigo sedang berbicara dengan Ggio.
Rukia gemetaran. Diluar dugaan, semua yang dilakukan Ichigo hanya menyisakan trauma. Rukia berpikir kalau Ichigo-lah dalang dari apa yang dilakukan Ggio padanya. Karena itu dia tidak mau melaporkan kasus kemarin pada sekolah demi Ichigo, tapi laki-laki itu masih saja membencinya.
"Berhenti melamun, Rukia. Nanti kau terlambat."
Hisana menghancurkan lamunan adiknya. Mengembalikan Rukia pada kenyataan kalau ia masih akan berada dalam satu lingkaran dengan Ichigo. Paling tidak, masih ada satu semester lagi sebelum nanti mereka akan lulus dari SMA.
.
"Apa yang kaulakukan pada Senna? !"
Suara gaduh terdengar dari ruang kelas. Dari celah siswa-siswa yang berkumpul, Rukia mengenali siapa seseorang yang sedang berteriak itu. Tampak Ichigo tengah mencengkram kerah leher Ggio, bersiap dengan tinjunya.
Melalui Ishida, Ichigo mendengar apa yang dilakukan Ggio pada Senna ketika liburan musim panas kemarin mereka lama tidak bertemu. Pantas Senna tidak pernah menghubunginya saat liburan.
"Dia bilang dia menyukaiku. Karena itu aku tidak bisa menahan diri."
"Kau!"
Satu pukulan kembali melayang di pipi Ggio. Ishida terdiam saja, ia tidak akan melerai perkelahian antara kedua temannya. Saat menikmati kemarahan Ichigo pada Ggio, Ishida menangkap bayangan Rukia yang menonton dari balik tubuh para siswa.
Ini bukan pertama kalinya Ggio merebut perempuan yang menyukai Ichigo. Entah iri atau memang suatu ketidaksengajaan, Ggio selalu bisa mengambil hati perempuan-perempuan itu agar berpaling.
Dengan bengis Ichigo berhasil mematahkan hidung Ggio. Hanya dengan cara itu ia bisa memaafkan Ggio, walau kesalahan yang sama mungkin akan dilakukan Ggio lagi. Hatinya luar biasa panas ketika mendengar kabar dari Ishida kalau Senna dan Ggio sudah bermalam bersama.
Menjijikkan. Tidak bisa diampuni.
Jerit histeris para siswa yang menonton perkelahian mereka terdengar kembali. Ochi-sensei akhirnya segera datang kemudian melerai Ichigo dan Ggio. Ichigo terlihat baik-baik saja, tak ada lebam apapun di wajahnya. Sementara itu, Ggio, wajahnya babak belur dipukuli Ichigo.
"Kalian berdua! Ikut ibu ke kantor!"
Ishida mendekati Rukia yang berdiri kaku di dekat pintu kelas.
"Ini hal biasa. Tidak usah mencemaskan Ichigo."
Bisikan Ishida membuat warna merah muda berkumpul di kedua pipi Rukia. Bukan karena Ishida menyebutkan nama Ichigo, tetapi karena Ishida menghembuskan napas di telinganya hingga ia merasa geli dengan perlakuan itu.
Ichigo dan Ggio digiring Ochi-sensei. Membawa keduanya ke ruang guru. "Dimana teman kalian yang satu lagi? Dia harus jadi saksi atas kejadian ini," tuntut Ochi-sensei seraya menoleh ke belakang mencari Ishida Uryuu. Terlihat dari jauh Ishida sedang berbicara dengan Rukia, tanpa sengaja Ichigo melihat keakraban antara Ishida dan Rukia. Mereka sepertinya berteman dekat.
"Ishida!"
Teriakan Ochi-sensei membuat buluk kuduk Ishida berdiri seketika.
.
Otak Ichigo sudah tegang sejak tadi pagi. Pengkhianatan Ggio juga kedekatan Ishida dan Rukia. Kenapa Ishida mendekati Rukia? Pertanyaan itu memancing rasa penasarannya, bukannya Ishida menyukai Inoue Orihime? Ichigo berniat menanyakan itu pada Ishida. Ia melirik pada bangku Ishida, teman berkacamatanya itu tengah menyimpan buku-buku—bersiap untuk istirahat siang.
Diam-diam dari belakang tempat duduk Ishida, Ichigo memergoki wajah Ishida yang tampak tenang sedang memperhatikan seseorang dari sudut jendela kelas.
"Siapa yang kaulihat?"
Kuchiki Rukia dan Inoue Orihime berjalan bersama di tengah lapangan. Kedua gadis itu akan ke perpustakaan.
Ishida menoleh pada si penanya. "Menurutmu, siapa yang kulihat?" Ishida balik bertanya, matanya berputar merasa bosan.
"Entahlah, aku tidak tahu."
Ichigo mengambil kursi di depan bangku Ishida. Kemudian mendudukinya.
"Katakan padaku. Sejauh mana hubunganmu dengan Kuchiki Rukia?"
Mendengar itu, Ishida tertawa. Ia merasa begitu geli ketika Ichigo menyebutkan nama 'Kuchiki Rukia' sebab itu pertama kalinya lchigo menyebutkan nama Rukia dengan benar.
"Itu bukan hal penting yang harus kaubahas, Ichigo. Tadi pagi kaumemukul Ggio gara-gara Senna, sekarang apalagi—kau mengintimidasi ku karena berteman dengan Kuchiki?"
"Aku hanya penasaran."
"Ini konyol," Ishida menyimpan tawanya, "Tidak seharusnya kautertarik dengan urusan perempuan. Itu bukan gaya seorang Kurosaki Ichigo." Ishida menepuk bahu kanan Ichigo, sebelum kemudian ia meninggalkan lelaki berambut oranye itu membisu untuk beberapa detik.
Dalam hati, Ichigo membenarkan ucapan Ishida. Dia terlalu gegabah. Lepas kendali hanya karena perempuan seperti Senna. Toh, bukan salah Ggio jika gadis itu menyukainya. Dan Ishida, Ichigo tidak berhak melarang sepupunya itu untuk berteman dengan siapapun, termasuk berkencan dengan perempuan yang ia benci.
Lama kelamaan, rasa benci yang Ichigo simpan menjadi berbeda.
.
.
.
Hari berlalu cepat. Sampai tanpa disadari, hari ini adalah upacara kelulusan Ichigo dan Rukia. Keduanya menatap awan dari tempat masing-masing. Memperhatikan gerakan awan yang seolah tengah bertepuk tangan untuk kelulusan mereka.
Di tengah lapangan hijau dan di bawah langit biru, kepala sekolah menyampaikan rasa suka citanya pada seluruh siswa.
"Selamat untuk kalian, siswa-siswaku! Semoga masa depan kalian bisa secerah langit hari ini!"
"Yeaah!"
Sambutan meriah bergema di seluruh seantero sekolah.
Seukir senyuman terulas di bibir Rukia. Tatapan Ichigo seolah melompat, tertumbuk pada senyum merekah gadis itu. Ia mencuri pandang dari tempat berdirinya yang berada di barisan belakang. Selintas kebenciannya tersapu angin.
Seakan ada angin yang menuntunnya, Rukia menoleh ke barisan belakang. Membawa mata keunguannya beradu pandang dengan Ichigo. Dalam sekejap ketakutannya pun menghilang.
"Kuchiki-san," Rukia terkejut ketika dari belakang, Inoue menyentuh pundaknya. "Ochi-sensei memanggilmu," mendadak hati gadis itu menjadi tak nyaman.
"Ada apa memangnya?"
"Aku tidak tahu. Sepertinya sangat penting."
Rukia segera keluar dari barisan. Melangkah cepat ke tempat Ochi-sensei yang sedang menunggunya di gerbang sekolah.
.
.
Toko bunga milik Kuchiki itu masih di kelilingi api ketika Rukia bersama Ochi-sensei sudah berada di sana. Api melahap dengan cepat semua yang berada di sekitarnya, gerakannya berlipat-lipat jauh lebih cepat dibandingkan gerakan para pemadam kebakaran.
Rukia merasa napasnya menghilang. Toko berserta rumahnya hangus terbakar, membuat tubuhnya keras bagaikan batu. Ochi-sensei merangkul bahu Rukia, menahan gadis itu agar tetap berdiri tegar.
Suara bising alarm pemadam kebakaran terus menjerit. Pun orang-orang yang berada di sana tidak mampu menahan mulut mereka untuk berhenti berteriak.
Larut dengan keterkejutannya. Rukia hampir melupakan keberadaan saudara perempuannya.
"Di-dimana Nee-san?" matanya memandang pada api yang berkobar-kobar, berharap pertanyaannya dijawab oleh seseorang.
Ochi-sensei menatap Rukia penuh prihatin. Ia tahu jawaban dari pertanyaan itu, tapi ia yakin Rukia tidak akan suka dengan jawaban yang akan diberikannya.
"Petugas pemadam bilang, tadi ada seorang perempuan yang masih berada di dalam toko bunga."
"Nee-san?"
"Belum bisa dipastikan, apa itu saudaramu atau bukan."
"Nee-san…"
"Berdo'a saja kalau itu bukan saudaramu, Nak."
"Nee-san!"
"Ada seorang wanita terjebak api di dalam toko. Dia—" ucapan salah seorang petugas pemadam kebakaran kian membawa Rukia pada spekulasi terburuknya.
"Nee-san!"
Rukia mengamuk dalam pelukan Ochi-sensei. Dia memanggil-manggil kakaknya seperti orang gila.
"Nee-san!"
"Tenanglah, Kuchiki."
"Tidak—tidak—kakakku ada di dalam sana. Nee-san!"
"Bersabarlah sebentar."
"Nee-san!"
Lutut gadis itu melemas. Ia ingin berlari melewati api itu untuk menyelamatkan kakaknya. Tapi tidak bisa, bahkan untuk berdiri saja, ia tidak mampu.
.
.
"Wah, kalung dokter, cantik sekali!"
"Benarkah? Ini rancangan pertama isteriku, loh," seorang dokter berjanggut rapi sedang memeriksa gadis kecil yang beberapa hari ini menjadi pasiennya.
"Oh… boleh aku meminjamnya?"
"Tentu saja. Tapi nanti kau harus mengembalikannya, janji."
Rukia kecil berhasil membujuk dokter Isshin untuk meminjamkan kalung berbandul malaikat. Sudah beberapa hari ini, Rukia dirawat di rumah sakit karena menderita demam tinggi. Di bawah pengawasan dokter Isshin, ia akhirnya merasa lebih baik.
"Ayah!" Isshin menoleh pada putranya yang kini berdiri di muka pintu, menerjang si dokter dengan sebuah pelukan hangat.
"Oh, Ichigo!"
Dengan gemas sang ayah memeluk balik putranya. Diikuti Masaki yang kini mendekati keduanya, "Kami kemari membawakan bekal."
"Rukia-chan, ayo kukenalkan pada putraku. Kau bisa berteman dengannya."
.
Keluarga Kurosaki yang bahagia. Semua orang pasti akan iri pada mereka.
Tetapi kebahagiaan mereka terembus api. Menghilang seperti abu-abu itu.
.
"Kebakaran!"
Orang-orang di dalam rumah sakit berduyun-duyun menyelamatkan diri. Dokter Isshin berhasil keluar dari rumah sakit menyelamatkan dirinya, isterinya yang tengah mengandung dan putra kebanggannya.
"Rukia!"
Seorang wanita berambut hitam mencari-cari keberadaan adiknya. Ia meninggalkan adiknya beberapa saat untuk menyelesaikan administrasi. Dan ketika alarm kebakaran terdengar, ia berlari keluar tanpa tahu bahwa adiknya yang bernama Rukia masih tertinggal di dalam rumah sakit.
"Kuchiki-san, apa yang terjadi?"
"Dokter, Rukia… Rukia. Adikku masih di dalam," Hisana merengek ketakutan. Ia menatap nanar pada sang dokter, "Kumohon cari dia, dokter."
"Tunggu sebentar, Kuchiki-san. Mungkin Rukia sudah keluar."
"Tidak! Aku yakin dia masih di dalam!"
Masaki menggigit bibirnya, menatap empati pada wajah cemas Hisana.
Hisana baru saja akan menerobos masuk ke kobaran api, seandainya saja dokter Isshin tidak segera menahan pundaknya.
"Jangan gegabah, Kuchiki-san!"
"Aku harus menolong adikku!"
Dokter Isshin memandangi isteri dan putranya, seolah meminta persetujuan. Sedikit ragu, Masaki akhirnya menganggukkan kepala.
"Ayah," Ichigo kecil hanya bisa memandang sedih punggung ayahnya yang kini sudah menerobos si jago merah.
.
Ingatan buruk sudah menorehkan luka bagi Ichigo. Juga rasa bersalah bagi Rukia.
.
"Rukia-chan! Apa yang kaulakukan? Cepat keluar dari sini!"
Dokter Isshin menemukan Rukia kecil sedang meringkuk ketakutan di bawah ranjang rumah sakit. Wajah gadis kecil itu memucat.
"Dokter!" ia menangis, meraih tubuh dokter Isshin sembari berusaha mendapatkan perlindungan dari tubuh kokoh itu. "Aku hampir saja menghilangkan kalungmu, beruntung aku bisa menemukannya," ketakutan di wajah Rukia segera lenyap, kemudian berganti senyum cerah di tengah kepungan api.
"Kalau begitu, ayo kita keluar dari sini."
"Uhm!"
Dokter Isshin lekas melepas jasnya, lalu memakaikannya pada tubuh kecil Rukia. Ia menggendong tubuh gadis cilik itu, melindunginya dari jilatan api yang kian merajalela. Sementara dokter Isshin tidak menyadari kalau punggungnya sendiri sudah menjadi kayu bakar.
"Rukia!"
Hisana segera meraih tubuh adiknya dari perlindungan dokter Isshin.
Namun, belum sempat ucapan terima kasih tersampaikan. Dokter Isshin jatuh tertelungkup.
.
"Ayah," Ichigo mendengungkan nama ayahnya dalam tidurnya yang gelisah.
Rasa bersalah mengepungnya dalam sekejap. Setelah tadi sore ia mendapatkan kabar kalau saudara perempuan Kuchiki Rukia tewas terbakar. Wanita yang dulu ia lontarkan sumpah, sekarang benar-benar mati. Ichigo gemetaran, ia tidak menduga jika ucapan yang menyimpan dendam itu sungguh terjadi. Apa karena ucapannya, kakak Rukia tewas? Ichigo tidak bisa tidur, merasa bersalah—membuat matanya terus terjaga.
Rasa bersalah menjalari sekujur tubuhnya. Karma yang ia tunggu sudah terwujud, tetapi kenapa Ichigo harus malah menyesal?
.
.
.
Upacara pemakaman telah usai, ketika tiba-tiba saja hujan turun. Para pelayat satu per satu meninggalkan area makam. Tetangga, teman-teman, dan—keluarga? Tidak. Rukia tidak punya kerabat keluarga lagi, ia hanya punya kakaknya, dan sekarang—kakaknya sudah terkubur. Tertimbun tanah basah.
Gaun hitamnya kotor karena tanah. Ia tidak bisa berdiri, bahkan untuk sekedar berpaling dari pusara sang kakak saja ia tidak bisa. Tubuhnya membeku, membatu bagai es.
"Kuchiki-san. Ayo kita pulang," Inoue yang sudah bersahabat baik dengan Rukia membujuk gadis itu untuk pulang.
Namun usaha Inoue gagal. Karena Rukia telah tenggelam dalam euporia kesedihannya.
"Kau bisa sakit, Kuchiki-san. Ayo pulang."
"Pergilah, Inoue. Aku masih ingin di sini," Rukia membalas dengan suaranya yang lemah.
Inoue tidak bisa memaksa lagi. Gadis molek itu mendesah pasrah, membiarkan Rukia meratapi raga kakaknya yang berada di bawah gundukan tanah. Bukan, sebetulnya raga Hisana sudah hangus terbakar. Di dalam makam itu hanya tertinggal tulang-tulang dan abu-abunya.
Ketika berbalik, Inoue mendapati Ishida yang juga masih berdiri menunggu Rukia.
Sebagai ungkapan pasrah, ia hanya mengangkat kedua bahunya pertanda menyerah.
Saat ini, tersisa Rukia yang basah diguyur gerimis.
Dan—Ichigo yang berdiri jauh memandanginya, hingga tak seorangpun mengetahui kehadirannya di upacara pemakaman.
Kebenciannya terkubur bersama duka Rukia. Untuk pertama kalinya, ia bersimpati pada gadis itu.
.
Bersambung
.
Terima kasih banyak untuk minna-san yang menulis di kolom review. Sebisa mungkin, saya akan segera menyelesaikan part #05 untuk kalian :)
.
