BLEACH © TITE KUBO

Unforgiven Angel

Part #05

.

.


Sungguh hari berdebu yang mengerikan. Apapun yang ditinggalkan panas mentari yang tersapu angin, dicairkan dan digerus oleh sisa air mata kesedihan Rukia. Sesudah petang lenyap, ketika cahaya lampu-lampu listrik mulai mengkilau, Rukia tersadar akan kegelapan yang baru saja ia lalui.

Lama menunggu, akhirnya unit apartement yang dihuni Inoue Orihime sudah bersih.

Setelah tadi Inoue membutuhkan waktu lima belas menit untuk bersih-bersih, sementara Rukia menunggu di luar. Gadis bermarga Inoue itu akhirnya berhasil membujuk Rukia untuk tinggal di tempatnya.

"Maaf ya, Kuchiki-san. Membuatmu menunggu."

Rukia menatap lurus pada gerakan Inoue yang sibuk. Wajahnya tidak bisa menyiratkan emosi apapun kecuali kesedihan yang mendalam. Garis matanya lurus dengan bola mata yang kosong, Rukia memandangi isi rumah Inoue.

Tanpa sungkan karena telah diperkenankan masuk oleh si pemilik apartement, Rukia terpaku pada foto berfigura yang terpajang di sudut meja hias. Itu potret dua bersaudara Inoue, "Kalian sangat mirip." Gumamannya terdengar Inoue, hingga membuat gadis itu lekas mendekati Rukia.

"Dia kakak laki-lakiku. Sudah meninggal enam tahun lalu."

Selintas kelopak mata Rukia bergetar. Matanya teduh memandangi Inoue. "Maaf," ia meminta maaf, menyesal karena sudah menyinggung masa lalu kelamnya.

"Tidak apa! Duduklah, akan kusiapkan sesuatu untukmu. Apa kau ingin segelas cokelat hangat?"

"Boleh."

Inoue hidup mandiri di tempat sekecil ini. Meneruskan hidup tanpa kerabat keluarga, hanya berbekal sisa tabungan sang kakak dan uang asuransi yang diserahkan padanya. Temannya itu bisa hidup sendirian, kenapa ia tidak bisa? Rukia menghela napas panjang. Kesedihan belum reda di matanya. Tenaganya belum pulih sama sekali.

Rumahnya hangus terbakar bersama toko bunganya. Hanya tertinggal kemalangan yang mengekorinya. Bahkan sekarang, ia hanya memiliki satu pakaian yang dikenakan. Rukia memejamkan mata. Demi apapun, jiwanya hampir terguncang karena musibah ini.

"Aku dan nee-san juga sangat mirip. Orang-orang bahkan akan mengira kami kembar," Rukia tertawa kikuk. Ia mendesah berusaha melepaskan beban di pundaknya, "Lucu sekali, padahal nee-san lebih cantik dariku."

Mug berisi cokelat hangat tersaji di meja. Asapnya mengepul, bergerak halus di atas lingkaran mug. Aromanya harum menggelitik indera penciuman Rukia.

"Sejak kecil aku hidup bersamanya dan dia satu-satunya orang yang menyayangiku. Parfumnya sudah seperti oksigen bagiku. Dulu setiap kali kami bertengkar, dia pasti akan merayuku dengan membelikanku eskrim coklat. Jika bertengkar, dialah yang lebih dulu mendekat dan meminta maaf, sekalipun aku yang bersalah."

Bibir Rukia bergetar. Ia menggigit bibirnya menahan isakan agar tak lolos dari bibirnya, namun percuma saja, ia harus menangis sekarang. "Dia tidak pantas menerima karma," gerutu Rukia seraya menghapus jejakan air mata di pipinya, "Harusnya aku yang dihukum, bukan nee-san."

Inoue yang tidak tahan dengan rasa bersalah Rukia segera memeluk gadis itu.

Malam itu menjadi malam tersulit bagi Rukia. Malam dimana untuk pertama kalinya ia tidak bisa lagi melihat Hisana.

.

.

.

Hari-hari semenjak kematian Hisana membawa Rukia ke dalam jurang kesedihan yang semakin dalam. Ia mungkin merasakan apa yang dulu Ichigo rasakan ketika dokter Isshin tewas tertelan api. Sekarang, berkat Inoue, ia bisa bertahan. Gadis yang dulu sering membuntutinya ternyata menjadi sahabat baiknya.

Rukia duduk di beranda mengamati Inoue yang sedang menjemur pakaian mereka.

"Kemarin aku kehilangan saudaraku, tapi sekarang, aku mendapatkan sahabat sebaik dirimu."

Inoue berbalik, mengembuskan napasnya dengan lega. "Ini sudah satu minggu berlalu, Kuchiki-san. Nikmati kehidupanmu."

"Aku menikmatinya, kok! Berkat Inoue Orihime akan kulepaskan semua bebanku. Lihatlah!" Rukia berdiri di beranda, ia menatap langit kemudian menghirup dalam-dalam udara yang bergerak di sekitarnya, "Ohh segarnya udara di sini!"

"Kau sangat pintar membuat orang lain sayang padamu, Kuchiki-san."

"Itu tidak benar, karena—" masih ada orang yang membenciku, keluh batinnya merasa tertohok.

Mata Rukia membulat ketika tiba-tiba saja ia menemukan sosok Kurosaki Ichigo tengah berdiri memperhatikannya dari balik tembok yang memagari gedung apartement.

"Ada apa?" Inoue mengalihkan pandangan pada arah tatapan Rukia. "Kurosaki-kun?" ucapnya dengan suara rendah.

"Apa yang dilakukannya di sana? Apa dia datang kemari untuk mengutukku?"

Ketakutan menyelubungi tubuh Rukia. Kehadiran lelaki itu di sana sungguh membuatnya mendadak depresi. Wujud Ichigo sudah menjelma bagai malaikat kematian bagi Rukia. Pundaknya bergetar, ia merasa gila setiap kali mata coklat lelaki itu menatapinya dengan tajam.

"Tenanglah, Kuchiki-san. Aku akan menemuinya."

"Tidak!" Rukia lekas menahan pergelangan tangan Inoue, ia tidak mau kehilangan siapapun lagi, "Dia akan mengutukmu juga, Inoue."

Lengan Inoue dicengkram kuat oleh Rukia. Ia tidak bisa pergi menemui Kurosaki, menanyai apa yang diinginkan pria itu dengan mengintai apartementnya.

Kondisi mental Rukia masih dalam keadaan buruk. Ia membayangkan banyak hal negatif setelah kematian Hisana. Dan nama Kurosaki Ichigo, menjadi satu-satunya nama yang ada di daftar hitam Kuchiki Rukia. Orang yang harus ia jauhi.

.

.

Ichigo berbaring di ranjang dengan lengan yang menutupi matanya. Napasnya tersengal menahan sesak, sementara degup jantungnya berdetak terlalu keras. Dia marah pada gadis itu! Marah karena Kuchiki Rukia menyembunyikan diri terlalu lama darinya. Padahal banyak hal yang ingin dikatakannya. Ichigo tidak bisa begini terus, ia tidak ingin hidup lebih lama bersama dendam.

Dia—ingin berbaikan.

Sebelum pergi untuk melanjutkan pendidikan di Seiretei.

Dia—ingin minta maaf.

Tapi sayangnya, sampai sekarang ia belum berani menemui Rukia. Dia memperlihatkan diri di sekitar gedung apartemen itu berharap supaya Kuchiki Rukia datang menemuinya lalu meminta maaf.

"Sebenarnya siapa yang salah di sini? Aku atau dia? !" Ichigo frustasi, kemunculan gadis itu di dalam pikiran sudah membuatnya frustasi akhir-akhir ini.

'Padahal aku tidak sungguh-sungguh menginginkan kakaknya mati. Kenapa kau membalikkan keadaan? Membuatku jauh merasa lebih bersalah!'

Tanpa sadar Ichigo memukul-mukul kepalanya sendiri dengan tinju. Kebiasaan yang akan ia lakukan setiap kali ia merasa kebodohannya sudah seperti seekor keledai.

Ichigo mendadak bangkit dari tidur. Ini masih sore, ia belum bisa menutup matanya agar bisa tertidur nyenyak.

Bayangan Kuchiki Rukia tidak bisa dihilangkan dengan mudah dalam benaknya. Entah itu kebencian ataupun rasa bersalah, semua hanya menjadi ingatan buram.

Kesal dengan pikirannya yang berputar-putar tak jelas membuat jemari-jemari Ichigo bergerak menggaruk-garuk bagian dadanya yang terasa panas. Ia tidak bisa menghentikan debaran jantungnya yang terus bertalu cepat tanpa sebab.

Sekali saja ia berharap bisa bicara dengan gadis itu. Sekali saja.

Otaknya tidak bisa berpikir jernih. Ichigo bergerak mondar-mandir di dalam kamarnya seraya menggigit-gigit gemas kuku ibu jarinya yang tak bersalah. Tenaganya berkumpul di ujung-ujung jarinya yang beku.

"Kenapa denganku? Kenapa aku tidak bisa berhenti memikirkannya?" Ichigo merasa dia akan gila dengan semua ini.

Kuchiki Rukia—dia tidak seperti dirinya yang masih memiliki keluarga. Gadis itu tidak punya siapapun kecuali kakak perempuannya. Mengapa ia harus mencemaskan gadis yang selama ini ia benci? Ichigo sudah melempar boomerang, hingga senjata itu akan berbalik membunuh dirinya sendiri.

Dia mengabaikan rasa lelah. Ichigo tergopo-gopo meninggalkan kamar, memaksa kakinya berjalan lebih cepat menuju Kuchiki Rukia. Dorongan untuk menemui Rukia terasa begitu kuat. Ia tidak bisa menahan diri dengan desakan asing yang selalu muncul setiap kali ia memikirkan kemalangan gadis itu.

Mungkin, ia merasa kasihan dengan Rukia.

Atau… ia masih ingin menjadikan Rukia sebagai mainannya.

.

Tangga di sebuah gedung apartement terdengar gaduh. Ichigo menapakinya dengan begitu kasar, ia bahkan langsung melewati dua anak tangga sekaligus setiap kali melangkah.

Di sinilah unit apartementnya.

Ichigo menarik napas dalam. Mengatur deru napasnya yang kepayahan karena terlalu bersemangat.

"Seharusnya kau senang karena aku sendiri yang mendatangimu. Kau harus minta maaf padaku, dengan begitu aku bisa hidup tenang."

Usai bicara pada dirinya sendiri. Ichigo mengetuk pintu apartement di hadapannya.

Satu kali. Dua kali. Ia belum mendapatkan sahutan dari penghuni di dalamnya. Baru sampai ke ketukan ke tigalah seseorang yang berada di dalam bersuara.

"Siapa?"

Itu bukan suara feminin Inoue. Itu suara Rukia yang masih terdengar parau.

Ichigo tidak menyahut. Ia benar-benar gugup.

"Inoue, apa itu kau?" Rukia hendak membuka pintu, sebelum akhirnya ia mengurungkan niatnya ketika melalui celah pintu sosok Kurosaki Ichigo berdiri di muka pintu.

Bam!

Syok dengan perlakuan tiba-tiba dari Rukia, Ichigo terpancing emosi.

"Bukan pintunya! Kau, cepat bukan pintunya!"

Astaga, Ichigo. Apa begini caramu ingin berbaikan dengan Rukia? Kalau begitu lupakan niat awalmu menemui Rukia. Ichigo tertegun sejenak, kemudian kembali mendesak Rukia untuk membuka pintu dengan cara yang lebih santun.

"Kita harus bicara. Aku—ingin bicara denganmu."

.

Rukia menutup kedua telinganya erat-erat. Berusaha mengenyahkan sejauh mungkin suara Ichigo dari frekuensi pendengaran. Lelaki itu adalah monster. Monster yang berhasil menghancurkan kehidupannya.

"Rukia-chan, ayo kukenalkan pada putraku. Kau bisa berteman dengannya."

"Dokter…" luka Rukia terbuka lagi ketika tanpa sadar ia menyebutkan kata 'dokter' mengingatkannya pada sosok malaikat penolongnya.

Dulu, dia dan putra dokter Isshin pernah berjabat tangan. Sebagai salam perkenalan. Mereka saling melayangkan senyum polos. Satu kali di masa kanak-kanak, ia dan putra dokter Isshin pernah menjadi teman. Sudah sangat lama.

Hanya dengan menghadapi Kurosaki Ichigo, ia bisa menghormati kebaikan dokter Isshin.

Pintu perlahan terbuka. Ragu-ragu Rukia menampakkan dirinya dari pintu yang semula tertutup. Emosi dan ketakutannya semakin stabil, ketika dengan mantap ia membawa dirinya tepat di hadapan putra sulung keluarga Kurosaki itu.

"Kamar apartement Inoue terlalu sempit. Sebaiknya kita bicara di luar saja."

Dengan bersikap dingin, Rukia berjalan melewati bahu Ichigo. Matanya menolak untuk memandang langsung ke wajah Ichigo yang tegang.

Rukia berjalan mendahului Ichigo yang mengikutinya dari belakang. Gadis itu sebisa mungkin berusaha menyembunyikan ketakutannya pada Ichigo, dengan menjaga jarak sejauh beberapa langkahlah ia bisa bersikap lebih tenang.

Dalam kewaspadaan yang semakin menipis, Rukia mengepalkan kedua tangannya yang mendadak bergetar. Pergelangan kakinya terasa kram, dan ahh, Rukia mulai berkeringat.

"Kita bicara di sini saja," Ichigo menghentikan langkah Rukia yang baru berada di undakan tangga pertama. Sedangkan ia sendiri mendekati Rukia kemudian berhenti tepat di belakang punggung gadis itu.

Merasa terancam dengan kehadiran Ichigo di dekatnya, Rukia refleks menuruni dua undakan lagi sehingga ia dan Ichigo terpisah oleh tiga undakan tangga.

"Ka-kalau begitu bicaralah."

Ichigo mendengus jengkel, "Aku tidak bisa bicara kalau kau terus memunggungiku!"

Lagi-lagi kemarahan Ichigo berhasil menambah ketakutan Rukia.

"Kumohon jangan berteriak. Aku bisa mendengarkan semua ucapanmu, meski tidak menatap matamu. Jadi silakan bicara saja."

"Baiklah," apartement masih sepi penghuni, Ichigo tidak mau membuang waktu dengan mengajak gadis itu bicara di luar gedung, jadi jauh lebih efektif jika mereka bicara di sini. "Kau sudah kumaafkan, Kuchiki Rukia," Ichigo berujar sombong.

"Apa?" Rukia tercenung sebelum kemudian ia tertawa kecil.

"Biar kuperjelas. Selama ini aku membencimu karena kau adalah orang yang menyebabkan ayahku meninggal. Kakakmu juga," Ichigo memperlembut suaranya lalu berkata lagi. "Sebenarnya ingatan buruk itu sudah kubuang, tapi—saat aku bertemu denganmu lagi di tahun pertama kita SMA, rasa benci dan kemarahanku kembali muncul. Karena itu, aku tidak bisa berhenti untuk menjahatimu setiap kali melihatmu. Aku perlu mengatakan ini hanya agar aku merasa lega. Kau jangan salah paham, aku… tak pernah sekalipun mengharapkan kematian kalian."

"Manusia memang selalu begitu, Kurosaki-san. Menyesal. Merasa bersalah. Dua hal itu akan mereka terima setelah melakukan dosa. Kemudian minta maaf, setelah itu semuanya selesai. Kau, pasti sangat puas dengan kematian kakakku, hm?"

"Aku tidak pernah mengharapkan kematian siapapun."

"Jadi, untuk apa kau datang menemuiku dan mengatakan semua ini?" tantang Rukia, meski dengan suara parau, ia butuh pengakuan Ichigo. "Menyesal atau merasa bersalah?" tekannya seraya tersenyum sinis.

"Tidak untuk keduanya. Aku menemuimu hanya untuk meringankan bebanmu dengan memberikan maaf. Harusnya kau gembira!"

Bergembira?

Dada Rukia mendadak kesakitan. Kepalanya pusing bagai dihantam batu.

Tubuh mungilnya limbung, nyaris terjatuh jika saja Ichigo tidak menahan lengannnya.

"Hei, apa kau baik-baik saja?" tepat di depan mata ungunya, Rukia melihat wajah panik Ichigo.

Hal itu terang saja mengagetkan Rukia, dengan kasar ia mendorong tubuh Ichigo untuk menjauh darinya.

"Singkirkan tanganmu!"

Bukannya malah berhasil mendorong tubuh besar Ichigo, Rukia justru terdorong ke belakang hingga dalam sekejap kakinya terpeleset dan terjatuh hingga ke bagian anak tangga terbawah.

Bruk!

Ichigo terbelalak. Jantungnya seakan berhenti berdetak menyaksikan kejadian tersebut.

"Kuchiki!"

Lekas ia melompat menuruni tangga. Diraihnya kepala Rukia yang mengeluarkan darah seraya mengguncang-guncang tangannya yang lunglai tanpa daya.

"Kuchiki Rukia!"

Gadis itu pingsan.

Nadinya melemah dan raut wajahnya memucat, membuat Ichigo luar biasa panik.

.

.

Bahan-bahan untuk memasak sup sudah berada di dalam kantong belanjaan Inoue. Hampir dua jam ia meninggalkan Rukia sendirian di apartement untuk berbelanja sore. Ia sangat senang bisa tinggal bersama Rukia, wanita berperawakan kecil itu tak disangka sangat lihai dalam urusan dapur. Inoue merasa tertolong. Apalagi ia sendiri tidak pandai memasak, makanan yang dimasaknya tak sebanding dengan buatan Rukia.

"Kuchiki-san, aku sudah kembali!"

Inoue mengganti alasnya dengan sandal rumah. Dengan riang ia membawa kantong belanja menuju dapur sembari menyerukan nama Rukia lagi, "Kuchiki-san!"

Berulangkali dipanggil, namun tidak ada sahutan apapun dari Rukia.

"Kuchiki-san?" Inoue mengabaikan belanjaannya, ia segera ke kamar tidur memeriksa apakah Rukia sedang tertidur karena kelelahan. Tidak ada, kamarnya kosong. Kemudian Inoue berlari-lari kecil melewati toilet yang pintunya terbuka—artinya tak ada Rukia di sana—lalu menuju balkon apartement, dan ia juga tak menemukan Rukia di sana.

"Ohh, tidak. Kemana perginya Kuchiki-san?"

Inoue bergegas keluar apartement. Ia mencari-cari di sekitar lorong apartement dan mengetuki pintu beberapa tetangga yang tinggal di lantai yang sama. Namun hasilnya nihil, Rukia sedang tidak ada di apartement. Langkahnya ia percepat ketika menuruni tangga, lalu berlarian menyusuri gang di sekitar apartement, berharap dengan begitu ia bisa menemukan Rukia yang mungkin saja tengah berjalan-jalan menghirup udara di luar.

Karena tak menemukan Rukia. Inoue kembali ke apartementnya dengan punggung membungkuk lesu. Sebaiknya dia menunggu di apartement saja. Mungkin Rukia sedang pergi ke suatu tempat, dan akan pulang beberapa jam lagi.

.

.

"Bagaimana keadaannya, dokter?"

Dengan perasaan hati yang diliputi kecemasan Ichigo menghadang langkah pria berpakaian putih itu.

"Gadis itu," si dokter berpikir keras. "Kita akan tahu apa yang terjadi padanya setelah nanti dia siuman."

"Apa kondisinya buruk?"

"Kondisinya baik, tapi kami memerlukan pemeriksaan lebih lanjut. Jadi, silakan Anda menghubungi keluarganya untuk melakukan proses administrasi lebih dulu."

"Keluarga—" Ichigo terdiam, ia tidak tahu apapun mengenai keluarga Kuchiki. Paling tidak yang ia ketahui bahwa Kuchiki Rukia sudah kehilangan satu-satunya keluarga. Merasa bertanggung jawab dengan semua yang terjadi pada Rukia, ide nekat melintas di otak kusutnya. "Saya, saya keluarganya, Dok," dustanya dengan suara yang lugas.

"Kalau begitu silakan Anda ke bagian administrasi, permisi."

Ichigo tercenung sejenak, ia menatap prihatin pada pintu ruang rawat Rukia yang telah tertutup. Batinnya menolak untuk meninggalkan pintu itu barang sejengkal pun. Kemudian dengan berat hati, ia bergegas ke lobi rumah sakit untuk melakukan prosedur administrasi.

Seorang perawat menyodorkan lembaran formulir yang harus diisi Ichigo. Kebohongannya kembali terulang, ketika si perawat menanyakan hubungan antara ia dan pasien.

Saudara.

Demi meloloskan sebuah lembaran formulir ini, ia merekayasa hubungan mereka.

Mata Ichigo seperti tersengat cahaya terik ketika memperhatikan baris demi baris huruf dalam formulir yang akan ia isi.

Nama. Tentu saja ia bisa mengisinya.

Ichigo menggores penanya dengan menuliskan nama lengkap Rukia.

"Ku—" tunggu dulu, ia sudah berbohong mengatakan pada perawat kalau Rukia adalah adiknya, jadi dengan seenaknya Ichigo mengganti marga gadis itu menjadi sama dengannya.

"Kurosaki Rukia."

Setelah pengisian nama dan jenis kelamin. Ichigo meremas pulpen di genggamannya dengan resah.

Formulir ini berisi mengenai biodata pasien. Biodata seorang Kuchiki Rukia. Bagaimana mungkin ia bisa mengisinya? Ia tidak tahu apapun mengenai Rukia, bahkan untuk sekedar mengisi usia gadis itu saja itu tidak bisa menebak.

Putus asa dengan kebodohannya, Ichigo akhirnya membujuk si perawat untuk tidak memperumit prosedur administrasi. Sambil menyelipkan beberapa lembar uang di atas formulir, ia meminta tolong pada perawat untuk segera menyelesaikan proses administrasinya tanpa perlu mengisi biodata lain kecuali nama sang pasien. Beruntung si perawat tanpa berkomentar lagi lekas menyambut uang dari Ichigo sembari menyunggingkan sebuah senyuman.

Terpaku pada detik jam yang berputar lambat ke pukul tujuh. Mencubit kewarasan Ichigo bahwa ia telah melewati ayunan senja. Ia meraup wajahnya dengan kedua telapak tangan, melepaskan ketegangan yang beberapa saat lalu menguasai gerak jantungnya. Dan Ichigo berharap, kalau semua yang terjadi tadi cuma mimpi belaka.

.

.

Ketika sedang memasang sepatu sport, ponsel milik Ishida bergetar dari balik saku hoodinya. Sebuah panggilan dari Inoue cepat-cepat ia sambut dengan satu tangannya yang bebas.

"Hallo, Ishida-kun!"

Ishida menjauhkan ponselnya dari telinga, saat suara Inoue menggelegar di ujung gendang pendengarannya.

"Ada apa, Inoue? Sebentar lagi aku akan ke sana."

"Kuchiki-san, Ishida. Kuchiki-san sampai sekarang belum kembali!"

"Tenanglah. Memang tadi dia tidak bilang mau pergi kemana?"

"Tidak!" Inoue memekik tak sabar, "Kalau dia bilang, aku tidak akan sekhawatir ini!"

"Kau sudah menghubungi ponselnya?"

"Dia tidak punya ponsel, Ishida," kali ini Inoue menggeram. Sekarang ia berubah dari wanita ceriwis menjadi nenek-nenek galak. "Ah, Kurosaki-kun! Mungkin ada hubungannya dengan dia. Tolong kau ke rumah Kurosaki-kun, tanyakan apa dia bertemu dengan Kuchiki."

Mungkin dari cara bicaranya melalui ponsel, Ishida tampak tenang. Namun, Inoue tidak tahu jika sekarang dahi Ishida mengernyit dalam. Lagi-lagi Kurosaki Ichigo.

.

.

Sinar lampu rumah terlalu suram. Sunyi senyap menguasai dunianya ketika ia telah menutup pagar yang membatasi rumahnya dengan lingkungan luar. Kaki Ichigo dengan gontai menuntunnya ke pintu. Ia sempat memeriksa dengan seksama langit bermega hitam, mencari sebuah bayangan di atas sana.

Dalam khayalnya, corak kelabu rembulan tampak dalam bentuk jelas telah menyerupai garis tubuh maupun wajah Kuchiki Rukia. Ia membayangkan itu melalui langit hatinya yang kini kabur bagai visualisasi hitam putih sebuah proyektor.

Menyesal atau merasa bersalah?

Langkah Ichigo memberat ketika kakinya telah melangkah masuk.

Yang jelas, dia harus bertanggung jawab jika terjadi sesuatu pada gadis itu.

Dunianya semakin mengecil ketika ia berada di dalam kamar. Ichigo membanting punggungnya hingga beradu dengan ranjang, sejenak ia berbaring di sana, memaksa matanya untuk terpejam sebentar.

Dia tidak berniat menghubungi Inoue untuk mengatakan dimana Rukia sekarang. Dia juga tidak mau menghubungi kedua temannya, yang kemungkinan akan melaporkan kejadian ini pada ibunya. Sembari menaruh lengannya di atas dahi, Ichigo merenung, menenangkan dirinya dalam ruang lingkup yang aneh.

Ia merasa melihat senyum ayahnya. Garis senyum yang dilukis ayahnya ketika dulu, sebelum ayahnya menerobos masuk ke dalam kobaran api untuk menyelamatkan seseorang.

Menyelamatkan Kuchiki Rukia.

Jika dia berada di posisi yang sama seperti ayahnya. Apakah—apa dia bisa melakukan pengorbanan sebesar itu? Senyum bijak ayahnya perlahan mengabur, kemudian kembali membekas di langit hatinya yang kelabu.

Kesadaran Ichigo bangkit saat suara ketukan pintu menembus alam mimpinya.

Dan ketika ia melewati jendela-jendela rumahnya yang belum tertutup tirai. Ichigo kembali memandang ke langit sejenak. Seberkas sinar bulan menguak mega, menyusup mengintip bumi di bawah. Jauh tampak lebih ranum dari sebelumnya.

Pintu dibuka. Dalam pola tumpang-tindih, antara bayangan dan cahaya, Ichigo melihat Ishida Uryuu tengah berdiri di muka pintu dengan raut wajah yang sukar ditebak.

"Ishida?"

Ishida tak merespons tanda tanya besar yang muncul di dahi Ichigo. Ia melewati begitu saja si pemilik rumah, kemudian bergerak masuk, mencari-cari seseorang yang mungkin saja sedang Ichigo simpan di dalam rumah.

"Hei, apa yang kaulakukan? ! Kenapa kau dengan sembarangan menerobos masuk ke rumah orang? !"

"Bukankah tadi aku sudah mengetuk pintu?" Ishida tidak mempedulikan protes sepupunya, ia berjalan kesana kemari, melintasi setiap ruangan demi menemukan seseorang.

Sambil mengibaskan kedua tangannya tanda menyerah, Ichigo mengekori langkah Ishida.

"Apa yang kaucari?" Ichigo mulai kebingungan.

"Kuchiki Rukia. Apa kau bertemu dengannya? Inoue bilang, gadis itu belum kembali ke rumah sejak tadi."

Dahi Ichigo berkedut. Alisnya nyaris menyatu, ia tengah berpikir keras mencari jawaban yang pas untuk pertanyaan Ishida.

"Aku tidak bertemu dengannya. Lagipula, untuk apa kau repot-repot mencari Kuchiki Rukia?"

"Gadis malang dan dia sendirian. Aku mencemaskannya, karena dia teman satu sekolah kita."

Ichigo meniliki mata kebiruan Ishida yang berbinar gusar, "Kau tertarik pada gadis itu, ya?"

"Tidak."

"Hanya teman satu sekolah, jadi untuk apa kaupikirkan. Dia bukan keluargamu atau pacarmu, Ishida. Tidak perlu berwajah susah seperti itu. Lagipula, kenapa kaumencarinya di rumahku? Tidak mungkin 'kan kau berpikir kalau aku—menyembunyikan dia?"

"Kau benar."

Merasa perasaannya telah ditelanjangi, Ishida menyembunyikan kecemasannya dengan menatap dingin Ichigo.

"Tolong hubungi aku jika kau bertemu dengannya," ucap Ishida tanpa menunjukkan kekesalan, ia kemudian melangkah keluar meninggalkan Ichigo yang tersenyum sinis.

.

.

Beberapa saat lalu Ichigo menerima telepon dari rumah sakit. Mereka mengabarkan bahwa Kuchiki Rukia—tidak, tidak lagi, saat ini ia harus berperan sebagai saudara Rukia. Gadis itu sudah sadarkan diri. Langkahnya dipacu lebih cepat ketika ia telah melewati lantai dasar, kemudian lengkahnya diperlambat ketika ruang rawat Rukia mulai terlihat.

Semangatnya memudar. Dia tidak tahu harus bersikap seperti apa pada gadis malang itu, Ichigo meringis, mengingat bagaimana ia telah melakukan banyak kesalahan bahkan memanipulasi data-datanya.

Masih dengan jaket yang ia gunakan tadi. Ichigo menyimpan telapak tangannya yang dipenuhi keringat dingin di dalam saku jaket. Kegugupan yang menyerang tidak bisa ia hindarkan. Bayangan Kuchiki Rukia akan memaki lalu mengusirnya di depan perawat dan dokter, tampak begitu mengerikan.

Ah, hadapi saja.

Usai berperang dengan batinnya. Ichigo melangkah mantap menuju kamar pasien. Tiba-tiba saja ia merasa kamar rawat Rukia menjelma menjadi ujung kutub yang dingin.

Seketika ia berhenti, saat dokter yang merawat Rukia keluar dari kamar rawat sang pasien. Lekas, lelaki berambut oranye tersebut berlarian mendekati si dokter.

"Apa dia baik-baik saja, dokter?"

Dokter itu meneliti kecemasan di mata Ichigo. Memandang simpati pada wajah muda lelaki di depannya.

"Sebaiknya Anda memastikan sendiri keadaan saudara Anda."

Ichigo terpekur. Dia belum siap bertemu gadis itu.

"Ti-tidak perlu, Dok. Saya ingin mendengar penjelasan dokter dulu," dia tak terlalu pintar berakting. Ichigo berusaha mengendalikan kelopak matanya yang bergetar.

"Kalau begitu, mari, kita bicara di ruangan saya."

Dengan patuh, Ichigo mengikuti langkah pria paruh baya yang umurnya mungkin sudah lebih dari setengah abad. Diselubungi jas putih, khas penampilan seorang dokter. Punggung lebar yang sedikit layu karena faktor usia, juga… ahh, melihat dokter, selalu membawa ingatan Ichigo pada sosok ayahnya.

"Silakan duduk, Nak."

Sadar dirinya diminta untuk duduk, Ichigo mengangguk kemudian menggeser kursi dan duduk disana dengan teratur.

"Jelaskan pada saya, bagaimana kondisinya, Dok?"

"Sebelum itu. Saya ingin tahu, dimana orangtua kalian?

Astaga… Ichigo kebingungan. "Mereka—um, ayah kami sudah meninggal. Dan ibuku, dia ada di luar negeri."

"Kalau begitu ini jadi tanggung jawab Anda sendiri."

"Tentu saja," Ichigo mengiyakan dengan cepat, ia mulai lelah berbohong, "Saya siap mendengarkan penjelasan apapun mengenai kondisi adik saya."

"Adik Anda, mengalami—amnesia."

Ichigo tertegun, seolah tersengat oleh aliran listrik berdaya kuat. "Memangnya separah apa luka di kepala gad—eh, adik saya?" ia merasa linglung, ini benar-benar pertanda buruk.

"Ada benturan keras menghantam syaraf otaknya, juga, di hatinya."

"Hati?"

"Ya, berdasarkan diagnosa kami sementara. Kemungkinan adik Anda mengalami retrograde amnesia. Ada semacam trauma yang sangat ingin ia lupakan sampai membuatnya mengalami stress akut. Ditambah lagi kejadian jatuh dari tangga. Itulah mengapa beberapa saat setelah kejadian, ia mengalami koma."

"Retrograde amnesia…" luka semacam apa yang membuat hati gadis itu sakit dan mengalami trauma. Ichigo berdecak, jengkel dengan penjelasan sang dokter yang terdengar rumit.

Mengerti dengan ketidaktahuan Ichigo tentang istilah yang digunakan, dokter tersebut pun kembali menerangkan.

"Adik anda tidak mampu mengingat semua kejadian di masa lalu. Identitas, bahkan kehidupannya sebelum terjadinya amnesia, daya ingatnya saat ini belum bisa menjangkau itu semua. Apalagi beberapa kejadian yang membuatnya trauma, itulah yang menghalangi dirinya untuk mengingat semua kejadian sebelumya," si dokter tersebut berdehem ketika memperhatikan tatapan Ichigo yang terasa kosong, "Tapi, Anda tidak perlu khawatir. Amnesia ini bisa bersifat sementara jika kita melakukan perawatan dan membantunya untuk mengingat satu persatu memori yang hilang."

Penjelasan panjang dokter bermarga Ukitake itu akhirnya membuat Ichigo tersenyum hambar.

.

Bersambung

.

Minna-san sungguh mengagetkan saya dengan menghujani banyak review :) Terima kasih banyak yaaa!